Kajian Analisis Proyeksi Al Qur'an Tentang Filsafat Bahasa pada. Tafsir Imâm Fakhr Al Din Al Râzî). Disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Agama (M.Ag) di bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Pandangan Imam Fakhr al Din al Razi sebagai seorang mufassir dan ahli filsafat yang menganut iman Asy'ariat menjadi pembahasan utama dalam skripsi ini mengenai pandangan Al-Qur'an tentang bahasa dan hubungannya dengan ilmu tafsir.
Imam al Razi dengan tegas dan jelas mampu melakukan dialektika dan membantah pandangan salah tentang bahasa dan keberadaan Al-Qur'an sebagai kalam Allah. 12 Yusuf Rahman, “Teori Hermeneutik Nasr Hamid Abu Zayd: Kajian Analitik atas Metodenya Menafsirkan Al-Qur'an” (Master's Tesis 2 Institute of Islamic Studies McGill University Kanada, 2001) Halaman 33. 13 Andrew Rippin, The Qur 'ān sebagai Sastra: Bahaya, Perangkap dan Prospek, Buletin British Society for Middle Eastern Studies, halaman 39 dalam Tesis Yusuf Rahman.
14 Andrew Rippin, Pendekatan Sejarah Penafsiran Al-Qur'an (Oxford: Clarendon Press, 1988) hal. 3-4. Sebagai seorang muslim, Al-Qur’an merupakan rujukan epistemologis yang memberikan petunjuk kebenaran tentang Tuhan, agama, kehidupan, nilai-nilai, dan lain sebagainya.
PERMASALAHAN
IDENTIFIKASI MASALAH
Penekanan pada jaringan hubungan suatu ayat dengan ayat lain yang biasa digunakan dalam penafsiran kini dipersempit dengan menekankan pada jaringan kata dalam ungkapan ayat-ayat Al-Qur'an. Kenyataan ini semakin menunjukkan bahwa objektivitas penafsiran Al-Qur’an dapat terpenuhi dan makna kata-kata tidak terpengaruh oleh logika eksternal, relativisme sejarah atau prasangka kepentingan penafsir, sehingga makna kata-kata atau kata-kata dalam Al-Qur’an dapat terpenuhi. ayat-ayat Al-Qur'an memiliki seluruh gagasan tentang Tuhan sebagai firman-Nya yang diwahyukan. Penelitian ini sangat penting, untuk menjawab pandangan Al-Qur'an sendiri mengenai sekularisasi bahasa yang mulai tampak dalam perspektif para penafsir Al-Qur'an di dunia modern, apalagi postmodern.
Sejarah kontekstual dunia dimana Al-Qur'an hadir kepada seorang bernama Muhammad di dunia Arab bahkan di seluruh dunia kepada banyak orang dari berbagai bangsa dan bahasa non-Arab. Faktanya, Al-Qur'an diturunkan sebagai Lafzan wa ma'naan, dari Allah kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Agama menambah permasalahan kehidupan di dunia Barat, karena agama Kristen sebagai agama mengandung permasalahan seperti yang pernah dikatakan Adian Husaini dalam bukunya Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal yaitu, Permasalahan pada teks Alkitab, masalah. dengan teologi Kristen, ditambah trauma sejarah pada masa dominasi Kristen.
Terkait dengan penelitian disertasi ini, permasalahan pada teks Alkitab adalah keaslian dan orisinalitasnya dipertanyakan. Ditemukan banyak kontradiksi antara satu pasal dengan pasal lainnya. Permasalahan kesenjangan antara bahasa modern dengan bahasa teks Alkitab, cara berpikir para penulis teks Alkitab dan cara berpikir masyarakat Kristen modern berbeda. Permasalahan yang juga ada dan dapat dikaji dalam konteks tesis ini adalah, sebagaimana diyakini sebagian ulama, bahwa Al-Qur'an dapat ditafsirkan dengan makna yang berbeda-beda.
Permasalahan ini menunjukkan bahwa penafsiran Al-Qur’an terkesan sewenang-wenang dan sepihak.
PEMBATASAN MASALAH
Persoalan-persoalan tersebut pada akhirnya menimbulkan permasalahan lebih lanjut, yaitu sebagaimana penulis kemukakan dalam latar belakang tesis ini, bahwa dunia teks dianggap sebagai representasi dari dunia mitos dan bahwa dunia saat ini adalah dunia ilmu pengetahuan. Bagaimana Al-Quran mengkonstruksi dan memandang bahasa, dalam hal ini menurut tafsir Imam Fakhr Al Dîn al Râzî?”
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah: Tujuan penelitian ini adalah
Penelitian ini juga bertujuan untuk menjelaskan bagaimana petunjuk Allah mengenai hakikat bahasa diturunkan melalui para penafsir Al-Qur'an. Penelitian ini juga bertujuan untuk menemukan konstruksi yang benar mengenai ilmu tafsir, serta pengetahuan ilmiah tentang tafsir itu sendiri. Penelitian ini juga memperkuat pandangan Ibnu Faris yang mengatakan bahwa bahasa adalah Tauqifi.
Penelitian ini juga mendukung pandangan Syed Muhammad Naquib al Att bahwa bahasa sangat penting karena dapat menegaskan atau menghancurkan pengetahuan. Penelitian ini juga bertujuan untuk menolak relativisme penafsiran dan kesewenang-wenangan bahasa terhadap makna.
KAJIAN PUSTAKA
Pendekatan sastera Al Khūli meletakkan Al Qur'an sebagai karya terbesar dalam bahasa Arab dan meninggalkan jejak sastera yang paling hebat. Sebagai kitab sastera yang teragung, al-Quran menurutnya perlu dikaji terlebih dahulu dengan perspektif sastera, sebelum dengan perspektif agama 18. Kerana penghantar dalam konteks al-Quran tidak boleh dijadikan objek keilmuan. belajar tidak, ia adalah Tuhan, adalah wajar bahawa pengenalan saintifik untuk kajian teks Al-Quran adalah realiti dan budaya.
Jika dalam proses pembentukan formatnya Al-Qur’an terhenti hingga wafatnya Nabi Muhammad SAW, maka Al-Qur’an dalam proses pembentukan teks tersebut terus berinteraksi dengannya. Teks Al-Qur'an dapat ditafsirkan secara luas dan kaya tergantung pada konteks sosial budaya dan hermeneutika (struktur nilai dan kesadaran) pembacanya. Salah satu seni mengungkapkan makna yang diungkapkan dalam beberapa ayat Al-Qur'an adalah dengan menggunakan isti'ârah (metafora).
Menurutnya, sikap terhadap teks Alquran seperti ini membawa umat Islam pada stagnasi intelektual dan keringnya wacana pemikiran keagamaan. Penafsiran teks Al-Qur'an harus kontekstual sehingga mampu menjawab permasalahan masyarakat saat ini. Korelasi makna ini menjelaskan bahwa jenis Al-Qur’an tidak pernah berhubungan dengan aktivitas tutur antar manusia.
Ahmad Faqih Hasyim berkesimpulan bahwa Al-Quran dicerminkan sebagai satu bahasa, dimana bahasa apapun, termasuk bahasa Arab, dengan sendirinya tidak akan mampu mewakili kehendak Tuhan. Sementara itu, bahasa Arab yang menjadi ciri khas Islam fase awal, khususnya pada masa para rasul dan khalifah, didominasi oleh bahasa Al-Qur'an dan hadis. Dominasi keduanya menyebabkan para penyair Arab berusaha meniru uslub-uslub yang diciptakan Al-Qur'an.
Dari berbagai penelitian dan kajian tersebut, penulis melihat belum ada yang mengkaji filsafat bahasa dari apa yang disampaikan ayat-ayat Al-Qur’an tentang bagaimana makna hadir dalam bahasa.
METODOLOGI PENELITIAN
SISTEMATIKA PENULISAN
Bab kedua adalah Pengertian dan Konsep Filsafat, Ilmu Pengetahuan, Agama dan Bahasa di Dunia Barat yang berisi pembahasan dimulai dari Worldview atau pandangan dunia di Barat kemudian dampaknya terhadap ilmu pengetahuan pada umumnya dan pandangan terhadap bahasa pada khususnya. Bab ini juga akan menjelaskan pemikiran para Filsuf Barat mengenai bahasa dan makna. Bab ini juga akan menjelaskan bagaimana umat Islam liberal menyerap filsafat bahasa melalui hermeneutika dan kemudian menerapkannya dalam upaya sekularisasi dan liberalisasi penafsiran Al-Qur'an.
Hal ini untuk menggambarkan bahwa pembahasan filosofis tentang segala sesuatu, dalam hal ini tentang hakikat bahasa, bersifat tuntas karena berpedoman pada tuntunan wahyu. Bab empat merupakan eksplorasi filosofis deskriptif proyeksi filsafat bahasa dalam Al-Qur'ān menurut tafsir Imam Fakhr Al Din Al Razi. Kajian filsafat bahasa dalam penelitian ini dari dua sudut pandang, yaitu antara Barat yang mempunyai permasalahan mendasar dari pandangan dunia sekulernya dengan Islam yang ditetapkan sebagai salah satu pandangan hidup atau worldview yang bersumber dari wahyu, menunjukkan perbedaan yang tajam. .
Hal ini diperkuat dengan apa yang dikatakan oleh seorang filosof akhir zaman modern yaitu Foucault yang menyatakan bahwa pandangan Barat tentang kematian Tuhan berdampak pada bahasa. Tesis ini menegaskan adanya kekeliruan mengenai hubungan antara hakikat firman Allah dengan Al-Qur'an yang diturunkan dan berbentuk bahasa. Kesalahpahaman terhadap masalah ini menyebabkan tidak mampu membedakan antara mendengarkan perkataan orang yang berbicara tanpa perantara dan mendengarkan perkataan orang yang menyampaikannya serta pandangan bahwa huruf dan suara yang digunakan Allah dalam wahyu adalah sesuatu yang kuno.
Mengenai hal ini Imam Al Razi sebagai Asya'irah yaitu mazhab aqidah ahl sunnal wa al jama'ah menolak pandangan karamiyah, mu'tazilah dan sebagian hanabilah. Untuk menjawab rumusan masalah pada Bab I telah disebutkan dan dijelaskan oleh Imam Fakhr al Din al Razi mengenai pembagian bahasa, yaitu bahasa mutawatir dan bahasa yang diperoleh dari perseorangan. Adapun bahasa yang sampai kepada kita tanpa mutawatir, itulah yang menimbulkan prasangka terhadap penggunaan dan keadaannya.
Diantara temuan penting dalam penelitian skripsi ini dan tanggapan terhadap rumusan masalah berikut ini, Imam Al Razi menekankan penggunaan teori derivasi atau isytiqaq sebagai metode untuk menemukan makna.
SARAN
Andrew Rippin, The Qur'ān as Literature: Perils, Pitfalls and Prospects, British Society for Middle East Studies Bulletin Andrew Rippin, Pristopi k zgodovini razlage. Bernard G Weiss, »Srednjeveška muslimanska razprava o izvoru jezika« dalam Zeitschrift der Deutschen Morgenländischen Gesellschaft 124/1. Card Breaten, History of Hermeneutics (Philadelphia: From Press, 1966) Deborah K.W Modrak, Aristotles Theory of Language and Meaning (New . York: Cambridge University Press, 2001).
Frederick Copleston S.J, A History of Philosophy: Vol VII Modern Philosophy, Part I Fichte to Hegel (New York: Image Books, 1965). Frederick Copleston S.J, A History of Philosophy: Vol V Modern Philosophy: The British Philosophers, Part I: Hobbes to Paley (New York: Image Books, 1965). Helmut Heit, Western identity, barbarians and the legacy of Greek Universalism, European Heritage-The Journal of The International Society for the Study of European Ideas, Routledge Vol.10 No.7 (2005).
John Marenbon, The Emergence of Medieval Latin Philosophy dalam Robert Pasnau, ed, The Cambridge History of Medieval Philosophy, vol.1, edisi revisi (United Kingdom: Cambridge University Press, 2014). John Locke, An Essay Concerning Human Understanding, Dalam Great Books of the Western World vol. Martin Heidegger, Prolegomena: History of the Concept of Time, diterjemahkan with Theodore Kisiel (Bloomington: Indiana University Press, 1985).
Peter L. Berger, The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics (Washington: Ethics and Public Policy Center,1999). Peter Adamson and Alexander Key, “Philosophy of Language in the Medieval Arabic Tradition” by Margaret Cameron and Robert J Stainton, ed., New Essays on the History of Philosophy of Language (Oxford: Oxford University Press, 2015). Richard Tarnas, The Passion of the Western Mind: Understanding the Ideas That Have Shaped Our Worldview (New York: Ballantine Books, 1993).
Kuhn: The Structure of Scientific Revolutions, dalam Journal of the history of the Behavior Sciences, vëll 2. Syed Muhammad Naquib al Attas, Prolegomena to Metaphysics of Islam: an Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Malajzi: UTM Press , 2014). Werner Jaeger, Theology of The Early Greek Philosophers: The Gifford Lectures 1936 di transliterasi untuk Ceramah-Gifford Lectures dari manuskrip Jerman oleh Edward S Robinson (Londër: Oxford University Press, 1967).