Filsafat Manusia Menurut Pandangan Tokoh Dunia Hanif Ridho Rosyidin
220401110200 1.
Jean-Paul Sartre adalah seorang filsuf eksistensialis terkenal yang mengembangkan ide- idenya di bidang filsafat manusia. Menurut Sartre, filsafat manusia adalah disiplin yang mempelajari keberadaan manusia dan hubungannya dengan dunia, serta makna dan tujuan hidup manusia. Dalam pandangan Sartre, manusia bebas dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya, dan mereka harus memilih sendiri makna dan tujuan hidupnya. (Ahmad, 2009),Martin Heidegger adalah seorang filsuf kontinental yang mengembangkan pemahaman filsafat manusia yang sangat berpengaruh. Menurut Heidegger, filsafat manusia adalah upaya untuk memahami makna keberadaan manusia di dunia dan hubungan manusia dengan dunia itu sendiri. Dalam pandangan Heidegger, manusia adalah makhluk kosmopolitan, dan pemahaman yang benar tentang keberadaan manusia hanya dapat dicapai melalui pengalaman manusia yang otentik.
(Tjahyadi, 2016) (Wahid, 2022),Friedrich Nietzsche adalah seorang filsuf kontinental yang juga sangat mempengaruhi filsafat manusia. Menurut Nietzsche, filsafat manusia adalah upaya untuk memahami sifat manusia dan membebaskan manusia dari pemikiran yang membatasi potensi manusia. Menurut Nietzsche, manusia harus berkembang untuk mencapai kesempurnaan dan menciptakan makna dalam kehidupannya sendiri. (Misnal, 2016)
2.
Michel Foucault adalah seorang filsuf Prancis yang sangat berpengaruh dalam bidang filsafat manusia. Menurut Foucault, filsafat manusia adalah suatu upaya untuk memahami bagaimana kekuasaan beroperasi dalam masyarakat dan bagaimana masyarakat membangun pengetahuan dan kebenaran. Foucault berpendapat bahwa pengetahuan dan kebenaran tidaklah objektif, melainkan dipengaruhi oleh kekuasaan dan struktur sosial yang ada di dalam masyarakat.Dalam pandangan Foucault, kekuasaan adalah sesuatu yang melekat pada setiap struktur sosial, termasuk dalam pengetahuan dan kebenaran. Kekuasaan memengaruhi cara orang berpikir dan bertindak, serta membatasi apa yang dianggap sebagai kebenaran atau pengetahuan yang valid. Oleh karena itu, filsafat manusia menurut Foucault harus mempertanyakan dan menantang struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat, serta mempertanyakan apa yang dianggap sebagai pengetahuan atau kebenaran.Dengan demikian, Foucault menawarkan pandangan yang kritis terhadap filsafat manusia, yang mengajak kita untuk mempertanyakan dan menantang struktur sosial yang ada dalam masyarakat dan mencari cara untuk membangun pengetahuan dan kebenaran yang lebih inklusif dan berkeadilan (Syafiuddin, 2018).Simone de Beauvoir adalah seorang filsuf feminis Prancis yang memainkan peran penting dalam pengembangan teori feminisme pada abad ke-20. Menurut Beauvoir, filsafat manusia adalah suatu upaya untuk memahami hakikat manusia, khususnya dalam konteks perbedaan gender.Dalam pandangan Beauvoir, manusia tidak lahir sebagai pria atau wanita, tetapi dipandang sebagai manusia yang bebas untuk mengembangkan diri mereka sendiri. Namun, masyarakat memandang manusia berdasarkan perbedaan gender, dan membatasi kemampuan
manusia untuk berkembang dan mengekspresikan diri mereka sendiri sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Hal ini menyebabkan wanita seringkali diperlakukan secara tidak adil dalam masyarakat.Beauvoir berpendapat bahwa filsafat manusia harus mempertanyakan struktur sosial yang membedakan manusia berdasarkan gender dan menuntut kesetaraan gender.
Beauvoir juga menekankan bahwa hakikat manusia harus dilihat secara holistik, dan tidak boleh dipandang hanya dari perspektif pria atau wanita saja.Dengan demikian, Beauvoir menawarkan pandangan yang kritis terhadap filsafat manusia yang mengajak kita untuk mempertanyakan dan menantang stereotip gender yang ada dalam masyarakat dan mencari cara untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan adil bagi semua manusia.(Nugroho & Mahadewi, 2019) 3.
Berdasarkan definisi yang telah dijelaskan oleh beberapa tokoh, dapat disimpulkan bahwa filsafat manusia adalah cabang filsafat yang berfokus pada memahami hakikat manusia dan keberadaannya dalam dunia. Filsafat manusia mencoba untuk memahami eksistensi manusia dari berbagai sudut pandang, termasuk pandangan sosial, budaya, dan gender.Para tokoh filsafat manusia juga menekankan pentingnya kritis dalam memahami hakikat manusia. Mereka menantang struktur sosial dan kekuasaan yang ada dalam masyarakat, serta mempertanyakan apa yang dianggap sebagai kebenaran atau pengetahuan yang valid.dalam hal ini, filsafat manusia tidak hanya membahas hakikat manusia secara abstrak, tetapi juga mencoba untuk mempertanyakan, memperbaiki, dan mencari cara untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif bagi semua manusia, tanpa memandang perbedaan gender, etnis, atau sosial.
4.
Filsafat manusia memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda menurut beberapa tokoh. Beberapa ciri yang dapat dijelaskan adalah sebagai berikut:Fokus pada Hakikat Manusia: Filsafat manusia berfokus pada memahami hakikat manusia dan keberadaannya dalam dunia. Menurut tokoh- tokoh seperti Jean-Paul Sartre dan Martin Heidegger, manusia adalah makhluk yang unik dan memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.(Wahid, 2022)(Ahmad, 2009)Kritis Terhadap Kebenaran: Filsafat manusia menantang apa yang dianggap sebagai kebenaran atau pengetahuan yang valid. Michel Foucault berpendapat bahwa pengetahuan dan kebenaran tidaklah objektif, melainkan dipengaruhi oleh kekuasaan dan struktur sosial yang ada di dalam masyarakat.(Simon et al., 2022),Menantang Struktur Sosial: Filsafat manusia menantang struktur sosial dan kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Simone de Beauvoir dan Friedrich Nietzsche menekankan pentingnya mempertanyakan stereotip gender dan moralitas yang dipaksakan oleh masyarakat.(Handayani, 2015)(Misnal, 2016),Inklusif dan Berkeadilan:
Filsafat manusia mencari cara untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif bagi semua manusia, tanpa memandang perbedaan gender, etnis, atau sosial. Emmanuel Levinas dan Martin Buber menekankan pentingnya memahami orang lain sebagai individu yang unik dan menghormati hak mereka untuk berkembang.(Sobon, 2018)(Hadis Badewi, 2016) Relasi Antarmanusia Dalam Nilai-Nilai Budaya Bugis: Perspektif Filsafat Dialogis Martin Buber,Dengan ciri-ciri tersebut, filsafat manusia menawarkan pandangan yang kritis dan inklusif terhadap hakikat manusia dan masyarakat. Filosofi manusia berupaya memahami manusia dari
berbagai sudut pandang, dan menantang segala bentuk diskriminasi atau ketidakadilan yang ada di dalam masyarakat
5.
Filsafat manusia memiliki perbedaan dengan ilmu lainnya. Ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi atau psikologi, mempelajari manusia dalam konteks sosial dan psikologis, sementara filsafat manusia berfokus pada memahami hakikat manusia secara lebih fundamental.Berikut beberapa perbedaan antara filsafat manusia dengan ilmu-ilmu lainnya:Metode: Filsafat manusia tidak bergantung pada metode ilmiah yang sistematis dan empiris seperti yang digunakan dalam ilmu-ilmu sosial. Filsafat manusia lebih condong pada analisis yang berdasarkan pada pemikiran, diskusi, dan refleksi filosofis.Pendekatan: Filsafat manusia berusaha memahami hakikat manusia dari sudut pandang yang lebih luas dan holistik, sementara ilmu-ilmu sosial lebih memfokuskan pada aspek-aspek spesifik seperti psikologi, antropologi, atau ekonomi.,Tujuan: Filsafat manusia bertujuan untuk memahami makna keberadaan manusia dan mencari nilai-nilai universal, sementara ilmu-ilmu sosial lebih bertujuan untuk menjelaskan fenomena sosial dan memberikan solusi praktis untuk masalah-masalah sosial.Spekulatif: Filsafat manusia lebih condong pada spekulasi atau refleksi teoritis, sementara ilmu-ilmu sosial lebih berorientasi pada metode empiris dan bukti-bukti yang diperoleh melalui observasi dan pengujian.Dalam hal ini, filsafat manusia memiliki peran yang unik dalam memahami hakikat manusia dan keberadaannya dalam dunia, dan berbeda dengan ilmu-ilmu sosial lainnya yang memiliki pendekatan yang lebih spesifik dan terfokus pada masalah-masalah sosial.(Aryati, 2018)
6.
Perspektif ilmu psikologi melihat manusia dari sudut pandang psikologis, yang mencakup aspek-aspek seperti perilaku, kognisi, dan emosi. Berikut adalah pandangan manusia dalam perspektif ilmu psikologi dari beberapa tokoh terkenal:Menurut Sigmund Freud, manusia memiliki dua sisi: kesadaran dan ketidaksadaran. Ketidaksadaran mencakup pikiran, perasaan, dan hasrat yang tidak disadari, yang seringkali mempengaruhi perilaku manusia tanpa disadari.
Freud juga menekankan pentingnya tahap perkembangan dalam kehidupan manusia, seperti tahap oral, anal, dan genital, yang dapat mempengaruhi kepribadian dan perilaku manusia dewasa.(Sutikna, 2016)Abraham Maslow mengembangkan teori tentang hierarki kebutuhan manusia, yang terdiri dari lima level, mulai dari kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal hingga kebutuhan yang lebih tinggi seperti aktualisasi diri. Menurut Maslow, manusia memiliki potensi untuk mencapai kebahagiaan dan kepuasan penuh melalui aktualisasi diri, dan tugas psikolog adalah membantu manusia mencapai potensi tertingginya.(Masbur, 2015).Dengan perspektif psikologis, manusia dipandang sebagai makhluk yang kompleks, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis dan sosial. Berbagai teori dan pandangan ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana manusia berpikir, merasa, dan bertindak, dan memberikan dasar untuk pengembangan pendekatan dan intervensi psikologis yang lebih efektif untuk membantu manusia mencapai potensinya.
7.
Carl Rogers mengembangkan teori konseling yang menekankan pentingnya penghormatan, empati, dan kesetaraan dalam hubungan antara konselor dan klien. Menurut Rogers, manusia memiliki potensi untuk menjadi pribadi yang utuh dan berkembang secara positif, tetapi kadang-kadang terhalang oleh pengalaman buruk dan lingkungan yang tidak mendukung.(Murniarti, 2020),B.F. Skinner: Skinner adalah salah satu tokoh terkemuka dalam behaviorisme, yang memandang perilaku sebagai hasil dari pengalaman dan pembelajaran.
Menurut Skinner, manusia dapat diprogram untuk belajar perilaku baru melalui penguatan dan penghukuman, dan konsep kondisioning dapat diterapkan dalam berbagai situasi, termasuk dalam pendidikan dan perilaku manusia.(Muthmainnah, 2018)
8.
Dalam perspektif ilmu psikologi, para tokoh tersebut memberikan definisi tentang manusia yang berbeda-beda, namun secara keseluruhan mereka sepakat bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks dan memiliki potensi untuk berkembang secara positif.Sigmund Freud menekankan pentingnya peran ketidaksadaran dan tahap perkembangan dalam mempengaruhi perilaku manusia. Abraham Maslow memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kebutuhan hierarkis dan potensi untuk mencapai aktualisasi diri. Carl Rogers menekankan pentingnya hubungan konselor-klien yang berdasarkan penghormatan, empati, dan kesetaraan.
Sedangkan B.F. Skinner memandang perilaku manusia sebagai hasil dari pembelajaran dan pengalaman.Dari definisi-definisi ini, dapat diambil kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks dan tidak bisa dipahami secara sederhana. Perilaku dan kepribadian manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ketidaksadaran, kebutuhan, pengalaman, lingkungan, dan hubungan sosial. Namun, manusia juga memiliki potensi untuk berkembang secara positif dan mencapai kebahagiaan dan kepuasan hidup yang penuh. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih dalam tentang manusia dan pengembangan pendekatan dan intervensi psikologis yang tepat dapat membantu manusia mencapai potensinya
9.
Plato memandang manusia sebagai makhluk yang terdiri dari dua unsur, yaitu tubuh dan jiwa. Jiwa adalah unsur yang lebih penting dan abadi, sedangkan tubuh bersifat sementara dan terbatas. Menurut Plato, manusia memiliki kemampuan untuk mencapai kebenaran dan kebijaksanaan melalui introspeksi dan refleksi diri.(Azhar, 1999).Menurut Aristotle, manusia adalah makhluk rasional yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Ia juga memandang manusia sebagai makhluk yang sosial dan politik, yang berarti bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan hubungan sosial dan politik untuk hidup dengan baik.(Said, 2019).Rene Descartes memandang manusia sebagai makhluk yang terdiri dari dua unsur, yaitu jasad dan pikiran. Ia berpendapat bahwa pikiran atau akal manusia adalah unsur yang paling penting dan membedakan manusia dari makhluk lainnya. Descartes juga memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis dan rasional.(Khaeroni, 2014),Immanuel Kant memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki akal budi atau
kemampuan untuk memahami dan membedakan antara benar dan salah. Ia juga berpendapat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mencapai kebahagiaan dan kepuasan hidup melalui tindakan moral dan etis yang benar.(Asdi, 2007),Friedrich Nietzsche memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk mencapai kebebasan dan kemerdekaan, tetapi seringkali dibatasi oleh nilai-nilai moral dan agama yang dibentuk oleh masyarakat. Ia juga memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak untuk berkuasa dan mencapai keunggulan atas orang lain.(Misnal, 2016).Dari pandangan-pandangan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks dan memiliki banyak sifat dan potensi. Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir rasional, mencapai kebenaran dan kebijaksanaan, hidup secara sosial dan politik, mencapai kebahagiaan dan kepuasan hidup, serta mencapai kebebasan dan kemerdekaan. Namun, manusia juga terkadang dibatasi oleh nilai-nilai moral dan agama, serta keinginan untuk berkuasa dan mencapai keunggulan atas orang lain.
10.
Dalam prespektif Islam, pandangan manusia didasarkan pada keyakinan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan tujuan tertentu. Manusia memiliki keistimewaan dibandingkan dengan makhluk lainnya karena memiliki akal atau pikiran yang memungkinkannya untuk memahami kehendak Allah dan memahami dunia di sekitarnya.
Beberapa ciri-ciri pandangan manusia dalam prespektif Islam antara lain:Manusia sebagai khalifah Allah: Manusia dalam pandangan Islam adalah khalifah Allah di bumi yang bertugas untuk memelihara dan mengelola dunia dengan sebaik-baiknya, Manusia sebagai makhluk sosial: Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan hubungan antarindividu dalam kehidupannya. Manusia juga memiliki kewajiban untuk membantu dan memperhatikan orang lain serta bekerja sama dalam mencapai kebaikan,Manusia sebagai hamba Allah: Manusia adalah hamba Allah yang memiliki kewajiban untuk beribadah kepada-Nya dan mengikuti ajaran-Nya dengan benar,Manusia sebagai makhluk berakal: Manusia adalah makhluk yang dianugerahi akal dan kecerdasan untuk memahami kehendak Allah dan memahami dunia di sekitarnya.Manusia sebagai makhluk bertanggung jawab: Manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara lingkungan serta menjalankan tugas-tugas yang telah ditentukan oleh Allah SWT.Dalam pandangan Islam, manusia memiliki potensi untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan dalam hidupnya, namun terkadang terhalang oleh nafsu, godaan, dan keinginan yang tidak baik. Oleh karena itu, manusia perlu terus meningkatkan diri dan memperbaiki keadaan dalam hidupnya agar mencapai kesuksesan dan mendapatkan keridhaan Allah SWT.
(Khasinah, 2013)(Amin, 2021)
11.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, A. (2009). Agama dalam Kerangka Pikir Ateisme Jean-Paul Sartre. Parafrase, 9(2), 36–
42.
Amin, M. (2021). Manusia Dalam Pandangan Islam. Al Urwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam, 1(2), 64–85. http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/tadzkiyyah/article/view/1498 Aryati, A. (2018). MEMAHAMI MANUSIA MELALUI DIMENSI FILSAFAT (Upaya
Memahami Eksistensi Manusia). EL-AFKAR : Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Tafsir Hadis, 7(2), 79. https://doi.org/10.29300/jpkth.v7i2.1602
Asdi, E. D. (2007). Imperatif Kategoris dalam Filsafat Moral Immanuel Kant. Jurnal Filsafat, 1(1), 11.
Azhar, M. (1999). Filsafat Plato : Tentang Idea , Hermeneutika dan Internet. Idea, 5, 76.
http://thesis.umy.ac.id/datapubliknonthesis/PNLT750.pdf
Hadis Badewi, M. (2016). Relasi Antarmanusia Dalam Nilai-Nilai Budaya Bugis: Perspektif Filsafat Dialogis Martin Buber. Jurnal Filsafat, 25(1), 75. https://doi.org/10.22146/jf.12615 Khaeroni, C. (2014). Relevansinya Terhadap. Epistemologi Rasionalisme Rene Descartes Dan
Relevansinya Terhadap Pendidikan Islam, 2(2), 183–198.
Khasinah, S. (2013). Hakikat Manusia Menurut Pandangan Islam Dan Barat. Jurnal Ilmiah Didaktika, 13(2), 296–317. https://doi.org/10.22373/jid.v13i2.480
Masbur, M. (2015). Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Perspektif Abraham Maslow (1908- 1970) (Analisis Filosofis). JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling, 1(1), 29.
https://doi.org/10.22373/je.v1i1.316
Misnal, M. (2016). Pengaruh Filsafat Nietzsche Terhadap Perkembangan Filsafat Barat Kontemporer. Jurnal Filsafat, 21(2), 134–146.
Murniarti, E. (2020). Pengertian, Prinsip, Bentuk Metode Dan Aplikasinya dari Teori Belajar dari Pendekatan Konstruktivisme dan Teori Belajar Person-Centered Carl Rogers. Jurnal Universitas Kristen Indonesia, 6(1), 1–15.
Muthmainnah, L. (2018). Problem Dalam Asumsi Psikologi Behavioris (Sebuah Telaah Filsafat Ilmu). Jurnal Filsafat, 27(2), 168. https://doi.org/10.22146/jf.32801
Nugroho, N. P. L. M. P. W. B., & Mahadewi, N. M. A. S. (2019). Feminisme Eksistensial
Simone de Beauvoir: Perjuangan Perempuan di Ranah Domestik. Jurnal Ilmiah Sosiologi (SOROT), 1(2), 1–13. https://ojs.unud.ac.id/index.php/sorot/article/view/51955
Said, A. (2019). Filsafat Politik Al-Farabi. Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, 1(1), 63–78. https://doi.org/10.24042/ijitp.v1i1.4097
Simon, U., Hendrawan, D., & Yuniarto, A. (2022). Subjek Pasca Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Filsafat Politik Michel Foucault. Jurnal Filsafat, 32(1), 139.
https://doi.org/10.22146/jf.69153
Sobon, K. (2018). Etika Tanggung Jawab Emmanuel Levinas. Jurnal Filsafat, 28(1), 47.
https://doi.org/10.22146/jf.31281
Sutikna, N. (2016). Ideologi Manusia Menurut Erich Fromm (Perpaduan Psikoanalisis Sigmund Freud Dan Kritik Sosial Karl Marx). Jurnal Filsafat, 18(2), 205–222.
https://journal.ugm.ac.id/wisdom/article/view/3525
Syafiuddin, A. (2018). Michel Foucault. Refleksi: Jurnal Filsafat Dan Pemikiran Islam, 18(2), 141. https://doi.org/10.14421/ref.2018.1802-02
Tjahyadi, S. (2016). Manusia Dan Historisitasnya Menurut Martin Heidegger. Jurnal Filsafat, 18(1), 51–63.
Wahid, L. A. (2022). Filsafat Eksistensialisme Martin Heidegger dan Pendidikan Perspektif Eksistensialisme. Pandawa, 4(1), 1–13.
https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/pandawa/article/view/1403