Makalah
Hakikat Fitrah Manusia dan Hakikat Potensi Rohani Manusia Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“ Filsafat Pendidikan Islam “ Dosen Pengampu : Prof. Dr. KH. Akhyak, M.Ag
Oleh Kelompok 1 : 1. Erina MIfta Alvira 126209202068 2. Farid Ma’ruf 126209202070 3. Lisa Wulandari 126209201034
JURUSAN TADRIS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) TULUNGAGUNG
TAHUN AJARAN 2020
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena telah memberikan ridho dan karunia pada penulis untuk menyelesaikan makalah ini. Tak lupa pula penulis haturkan sholawat serta salam kepada junjungan nabi agung Rosulullah Muhammad SAW. Atas rahmat serta hidayah Allah SWT penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Pengertian, Ruang Lingkup,Objek, Metode, serta Peranan Filsafat Pendidikan Islam ” secara tepat waktu.
Sehubungan dengan selesai nya makalah ini maka kami mengucapkan terimakasih kepada :
1. Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag selaku Rektor IAIN Tulungagung
2. Dr. Dwi Astuti Wahyu Nur Hayati,S.S.,M.Pd. selaku ketua jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial
3. Bapak Prof. Dr. KH. Akhyak, M.Ag selaku dosen pengampuh mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam yang telah memberikan pengarahan sehingga penulisan makalah ini bisa diselesaikan.
4. Semua pihak yang telah membantu terselesaikan nya penulisan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan saran dan kritikan pembaca untuk menjadikan makalah ini lebih baik kedepan nya. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua terutama bagi penulis dan pembaca, sekian yang dapat saya sampaikan.
Wassalamualaikum wb.wb
Tulungagung, 26 Oktober 2020
Penulis
DAFTAR ISI HALAMAN
JUDUL...
KATA PENGANTAR...
DAFTAR ISI...
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...
B. Rumusan Masalah...
C. Tujuan ………...
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat Pendidikan Islam...
B. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam...
C. Objek Filsafat Pendidikan Islam...
D. Metode Filsafat Pendidikan Islam...
E. Peranan Filsafat Pendidikan Islam ...
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan...
DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Manusia diciptakan Allah dalam struktur yang paling baik diantara makhluk Allah yang lain. Struktur manusia terdiri atas unsur jasmaniah (fisiologis) dan rohaniah (psikologis). Dalam unsur ini Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan, dalam psikologi disebut potensialitas atau disposisi1. Yang menurut pandangan Islam dinamakan “Fitrah”.
Fitrah pada manusia yang disebut potensi, secara edukatif akan berkembang baik manakala terjadi persentuhan dengan dunia luar diridalam bentuk interaksi positif. Akumulasi perkembangan potensi- potensi menjadi sebuah bentuk kepribadian tertentu berlangsung menurut falsafah pandangan hidup dan nilai-nilai yang dihadirkan dalam proses pengembangannya,dan ia akan menjadi seperti yang dikehendaki oleh dasar dan tujuan dari sistem pendidikan tersebut.
Falsafah pandangan hidup dan nilai-nilai yang diperlukan diperlukan untuk itu dapat diketahui dengan memahami tujuan penciptaan dan tujuan hidup manusia.Pendidikan Islam sebagai upaya untuk menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka (QS. 66. Al-Tahrim: 6), bertujuan untuk menciptakan manusia yang dalam kapasitas dan kualitasnya mampu
Menurut kodratnya, “Manusia membutuhkan agama dalam kehidupan pribadi dan komunalnya, sebab pada saat keabadian terlintas dipikirannya, ia pasti terbentur dengan alam yang lain.”Karena itu, sejak awal, Islam telah “...menandaskan bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia.” Tujuan penciptaan manusia adalahuntuk melakukan ibadahkepada Allah (QS. 51.
Al-Zariyat: 56) dalam arti yang seluas-luasnya dalam rangka pelaksanaan amanah yang telah disepakati menurut syahadat.
lebih baik memahami dan lebih sempurna dalam menyembah Allah swt. Menurut ketentuan yang telah diwahyukan oleh Alla swt
Dimana hal ini apabila dikaitkan dengan pendidikan akan menjadi salah faktor
yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan pendidikan.
Proses pendidikan seharusnya berlangsung terus menerus seumur hidup, dalam rangka memantapkan pola pikir, mengatur, membentuk, mengembangkan, memelihara dan melestarikan peradaban manusia sebagai mahluk yang berakal.
Walaupun pendidikan merupakan sebuah upaya bimbingan, pengarahan dan pengembangan terhadap manusia, namun perlu diperhatikan bahwa pendidikan itu tidak boleh memaksakan kehendak yang bertentangan dengan kemampuan dasar (fitrah) manusia untuk dibentuk menjadi manusia yang lain. Akan tetapi pendidikan pada hakikatnya hanya merupakan sebuah bimbingan dan pengarahan terhadap manusia sesuai dengan kemampuan dasar masing-masing individu.
B. Rumusan Masalah
1.Pengertian Hakikat Fitrah Manusia ?
2.Pengertian Hakikat Fitrah Manusia dalam analisis QS. Arum ayat 30?
3.Hakikat Potensi Rohani Manusia?
4.Cara memahami potensi ruhaniah Manusia?
5.Cara Mengembangkan Potensi Ruhaniah Manusia?
C. Tujuan
1. Dapat mengetahui Pengertian Hakikat Fitrah Manusia
2. Dapat mengetahui Pengertian Hakikat Fitrah Manusia dalam analisis QS. Arum ayat 30 3. Dapat mengetahui Hakikat Potensi Rohani Manusia
4. Dapat mengetahui Cara memahami potensi ruhaniah Manusia
5. Dapat mengetahui Cara Mengembangkan Potensi Ruhaniah Manusia
BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Hakikat Fitrah Manusia
Allah telah menciptakan semua makhluknya berdasarkan fitrahnya. Tetapi fitrah Allah untuk manusia, berupa potensi dan kreativitas yang dapat dibangun dan membangun, yang memiliki kemungkinan berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya jauh melampaui kemampuan fisiknya. Pengertian fitrah sangat beragam. Meskipun demikian, kalau potensi dan kreativitas tersebut tidak dibangun dan tidak dikembangkan, niscaya ia kurang bermakna dalam kehidupan.
Oleh karena itu potensi dan kreativitas manusia perlu dibangun dan Allah telah menciptakan semua makhluknya berdasarkan fitrahnya. Tetapi fitrah Allah untuk manusia, berupa potensi dan kreativitas yang dapat dibangun dan membangun, yang memiliki kemungkinan berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya jauh melampaui kemampuan fisiknya. Pengertian fitrah sangat beragam. Meskipun demikian, kalau potensi dan kreativitas tersebut tidak dibangun dan tidak dikembangkan, niscaya ia kurang bermakna dalamkehidupan.
Oleh karena itu potensi dan kreativitas manusia perlu dibangun dan dikembangkan.
Makna fitrah yang berarti penciptaan merupakan makna yang lazim dipakai dalam penciptaan manusia, baik penciptaan fisik (al-jism), maupun fsikis (an-nafs). Pemaknaan penciptaan pada kata fitrah biasanya disejajarkan dengan kata al-'amr, al-bad', al-ja'l, al-khalq, al-shum'u, dan al- nasy'. Semua term tersebut secara umum memiliki makna yang sama yakni penciptaan. Akan tetapi untuk menggeneralisasi proses penciptaan manusia menurut para ahli lebih tepat digunakan kata fitrah. Di samping cakupannya luas, yang mencakup semua term di atas, fitrah juga menunjukan kekhasan penciptaan manusia, baik penciptaan pisik, psikis, maupun psiko-pisik.
2.Pengertian Hakikat Fitrah Manusia dalam analisis QS. Arum ayat 30
Dari sekian banyak ayat al-Quran yang berbicara tentang fitrah, diantaranya adalah Qs. Al-Rum ayat 30. Dari penjelasan tersebut, tentang pemaknaan konsep fitrah, terdapat beberapa pemaknaan fitrah yang ditemukan, baik dalam pemahaman secara umum, pengertian secara tafisri, maupun sunnah.
Berikut adalah beberapa hal yang berkaitan dengan konsep fitrah menurut pengetian umum, tafsir maupun pengertian menurut sunah adalah sebagai berikut:
1. Fitrah Berarti Agama
Fitrah bermakna agama maksudnya bahwa agama Islam ini berkesesuaian dengan kejadian manusia, sedang kejadian itu tidak berubah. Kalau sekiranya manusia itu kita biarkan dengan pikiranya yang waras, niscaya ia akan sampai juga pada agama Islam. Akan tetapi karena manusia itu terpengaruh oleh faktor eksogen, adat istiadat dan pergaulannya, maka ia menjadi menjauh dari agama Islam
2. Fitrah Berarti Mengakui ke-Esa-an Allah
Manusia diciptakan Allah memiliki naluri beragama, yaitu beragama tauhid. Mereka tidak beragama tauhid hanya dipengaruhi oleh lingkungan. Maka tegasnya manusia menurut fitrahnya beragama tauhid.
Sebagaimana telah dikemukakan pada bab sebelumnya, bahwa jiwa tauhid adalah jiwa yang selaras dengan rasio manusia. Karena sejak di alam immateri, manusia telah mengikat janji dengan Tuhannya, bahwa dirinya telah mengakui Allah sebagai Tuhannya. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam konsensus Allah dengan ruh. Konsensus itu bermula dari pertanyaan yang diajukan Allah kepada ruh, bukankah Aku ini Tuhanmu? Kemudian para ruh menjawab, Tentu Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi.
3. Fitrah Berarti Cenderung pada Kebenaran
Secara fitri manusia memang cenderung dan mencari sera menerima kebenaran, walaupun kebenaran tesebut hanya bersemanyam dalam hati kecilnya (hati sanubarinya), akan tetapi karena pelbagai faktor eksogen, manusia tidak menerikan kebenaran tesebut
4. Fitrah Berarti Ikhlas atau Suci
Menurut Abu Ja'far, manusia ketika dilahirkan membawa atau dilengkapi dengan berbagai sifat yang melekat pada dirinya. Salah satu diantaranya adalah, kemurnian atau keikhlasan dalam menjalankan amalan atau aktivitas
5. Fitrah Berati Potensi Dasar Manusia
Pemaknaan fitrah sebagai petensi dasar manusia dikembangkan oleh para filosof yang mengikuti aliran empirisme dan para ahli fiqih (fuqaha)
Dari sekian arti fitrah pada uraian di atas, meskipun beragam dan sangat mendasar,
namun kebanyakan masih mengandung pengertian yang umum. Sedangkan pengertian yang lebih mendekati dengan yang dimaksud dalam Qs. al-Rum ayat 30, menurut hemat penulis adalah ketentuan Allah. Maksudnya adalah, ketentuan Allah kepada para Nabinya yang wajib diikuti.
3.Hakikat Potensi Rohani Manusia
Manusia adalah makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok. Adapun macam-macam potensi rohani manusia diantaranya :
1. Al-Qalb
Menurut Abu Hamid Al-ghazali, Qalb mempunyai dua pengertian. Pengertian pertama adalah hati jasmani (al-Qalb al-Jasmani) atau daging sanubari (al-Lahm al-sanubari), daging khusus yang berbentuk jantung pisang yang terletak di dalam rongga dada sebelah kiri dan berisi darah hitam kental. Qalb dalam arti ini erat hubungannya dengan ilmu kedokteran, dan tidak banyak menyangkut maksud-maksud agama dan kemanusiaan, karena hewan dan orang mati pun mempunyai qalb seperti ini. Sedangkan qalb dalam arti kedua adalah sebagai luthf rabbani ruhiy (bersifat spiritual). Al-Qalb merupakan alat untuk mengetahui hakikat sesuatu.
Dengan hati, seorang dapat melihat sesuatu sesuai dengan kenyataannya (hakikatnya). Ada beberapa orang yang dibukakan hatinya oleh Allah dengan beraneka ragam pengetahuan tantang hakikat sesuatu. Diantaranya adalah :
a. Pengetahuan tentang ketercelaan dunia, kedahsyatan tipuan dunia beserta kesementaraanya.
Seseorang dapat menyaksikan dunia bagaimana kondisidan sifat yang sebenarnya. Namun dalam kenyataan, banyak manusia melihat dunia hanya dari sisi lahiriahnya saja, mereka tidak mampu mengetahui kondisi dan sifat dunia yang sebenarnya, sebagaimana firman Allah SWT ;
نَولُفِاغَ مْهُ ةِرَخِآلْا نِعَ مْهُوَ ايَنْدُّلْا ةِايَحَلْا نِمِ ارَهُاظَ نَومُلُعْيَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (Qs. Al-Rum: 7)
b. Pengetahuan tentang rekadaya dan jenis gangguan setan.
c. Pengetahuan tentang tingkatan ahl al-taqwa, derajat ahl al-ilm, kemulian akhlak, kabaikan pergaulan dengan sesama mkahluk, kesabaran kerena tersakiti orang lain, kedermawanan harta,
perhatian dengan orang lain dengan mengalahkan diri sendiri, rasa takut pada neraka, perlawanan terhadap setan, perlawanan terhadap hawa nafsu, senantiasa mengikuti rasul dan para sahabat dan berpegang teguh pada al-sunnah (tradisi nabi). Dalam kenyataan, banyak orang mukmin yang tidak suka mengikuti sunnah. Yang sunnah dinilai bid’ah dan yang sesungguhnya bid’ah malah dinilai sunnah. Yang sudah dicela yang bid’ah malah dipuja-puja. Hal ini disebabkan seseorang telah tertutup sebagian hatinya untuk melihat sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
d. Pengetahuan tentang kebesaran nikmat-nikmat Allah, keleluasaan pemberianNya, kebesaran kesabaranNya dan ampunNya dan keluasan Rahmatnya.
e. Penyaksian terhadap af’al rububiyah (perbuatan-perbuatan Allah) seperti menyaksikan bukti kekuasaan Allah dalam segala hal dan keindahan ciptaanNya.
f. Pengetahuan tentang betapa keaguangan Allah dan betapa kehinaan kekuasaan makhluk dihadapan kekuasaan Allah. Karena pengetahuanya, seorang benar-benar mengagungkan Allah bukan mengagung-agungkan makhluk.
g. Kesadaran akan taufiq (pertolongan)Allah untuk beribadah, manisnya ma’rifat dan mahabbah serta kesadaraan akan penjagaan Allah dari kesatuan dan kekufuran.
h. Menyaksikan keesaan Allah, sehingga, ia tidak melihat selain Allah, ia meqidaman, kesempurnaan dan kekekalan Allah serta kebaruan dan kesirnan makhluk.
Sedangkan menurut Abu Abdillah ibn Ali Al-Hakim al-Tirmidzi, al-qalb mempunyai empat lapisan sebagai berikut:
a. Al-shadr
Al-shadr merupakan lapisan al-qalb yang paling luar. Ia merupakan tempat cahaya islam sekaligus sebagai tempat menyimpan ilmu yang bersumber dari pendengaran maupun pemberiataan. Ilmu ini bisa bertahan di dalam al-shadr setelah di hafalkan dan membutuhkan kesungguhan. Ilmu yang telah masuk ke dalam al-shadr juga bisa terlupakan. Ciri jenis ilmu ini adalah bisa diungkapkan, dibaca, diriwayatkan, dan dijelaskan melalui lisan.
Sifat al-shadr adalah lapang dan sempit. Sesuai dengan kadar kebodohan dan kemarahan, al- shadr menjadi sempit, jika al-shadr terpenuhi dengan kebenaran maka sempit dengan kebatilan.
Terkait dengan cahaya islam, Allah berfirman“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melampangkan dadanya untuk (memeluk agama) islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seoalh-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang yang tidak beriman (QS: al-An’am: 125)
b. Al-Qalb
Al-qalb merupakan lapisan kedua yang terletak di dalam al-shadr. Al-qalb ini sebagai tempat cahaya iman. Keadaaan al-qalb bisa khusu’,taqwa, mahabbah, ridla, yakin, khauf, sabar,qana’ah, tenang, bergetar dan sebagainya. Di antara sifatnya adalah a’ma (buta).
c. Al-fuad
Al-fuad merupakan lapisan al-qalb ketiga yang terletak di dalam al-qalb. Ia tempat cahaya ma’rifat.
d. Al-Lub
Al-Lub merupakan lapisan yang paling dalam dari al-qalb. Al-Lub sndiri berarti intisari dari sesuatu. Ia merupak tempat cahaya tauhid. Cahaya ini merupakan cahaya yang paling sempurna.
Tauhid merupakan rahasia hidayah Allah pada hambanya. Allah SWT berfirman “ (Al-Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengnya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil perjalanan” (Qs. Ibrahim: 52)
2. Al-Aql
Ada beberapa pengertian tentang aql. Pertama, aql adalah potensi yang siap menerima pengetahuan teoritis. Kedua, aql adalah pengetahuan tentang kemungkinan sesuatu yang mungkin dan kemuhalan sesuatu yang mustahil yang muncul pada anak usia tamyis, seperti pengetahuan bahwa dua itu lebih banyak dari pada satu dan kemustahilan seseorang dalam waktu yang bersamaan berada di dua tempat. Ketiga, aql adalah pengetahuan yang di peroleh melalui pengalaman empirik dalam berbagai kondisi. Keempat, aql adalah potensi untuk mengetahui akibat esuatu dan memukul syahwat yang mendorong pada kelezatan sesaat. Dengan demikian orang yang berakal adalah orang yang didalam melakukan atau tidak melakukan perbuatan
didasarkan pada akibat yang akan muncul, bukan didasarkan pada syahwat yang mendatangkan kelezatan sesaat.
Aql yang pertama merupakan asal dan kedua merupakan cabang dari yang pertama, sedangkan aql yang ketiga dan yang keempat merupakan usaha.
Orang yang menggunakan akalnya akan mencegah dirinya agar tidak terjerumus kedalam kenikmatan sesaat yang membawa penderitaaan yang lebih lama. Orang yang berakal akan memilih kenikmatan yang lama disbanding kenikmatan sementara. Kenikmatan dunia adalah kenikmatan sementara. Bagi orang yang berakal, dunia tidak boleh menghalangi kebahagiaan akhirat yang lebih lama durasinya.
Di dalam al-Qur’an, kata aql dalam bentuk kata benda tidak ditemukan yang ditemukan dalam al-Qur’an adalah kata kerjanya yaitu ya’qilun, ta’qilun dan seterusnya. Aqala (fi’il madli, kata kerja lampau) berarti menahan atau mengikat. Dengan demikian al-‘Aqlu (isim fa’il) berarti orang yang menahan atau mengikat nafsunya sehingga nafsunya terkendali karena diikat atau ditahan. Sedangkan orang yang tidak mempunyai aql tidak mengikat nafsunya sehingga nafsunya liar tak terkendali. Itulah sebabnya orang berakal kadang disebut dengan uli al-nuha (yang mempunyai daya cegah) dan terkadang disebut dengan dzi hijr (yang mempunyai kesabaran).
Hanya orang sabar saja yang mau mengendalikan nafsunya.
3. Al-Ruh
Ar ruh secara bahasa memiliki beberapa kemungkinan makna, diantaranya:
خفنلا (tiupan), سفنلا(jiwa),ناسنالا هب شيعي ىذلا (sesuatu yang menghidupkan), سفنلا(nafas), wahyu, nubuwah, Jibril, dan Isa AS. Dalam kamus berbahasa Inggris ditemukan makna ruh sebagai berikut: breath of life, soul, spirit, gun barrel. Kata Ruh berdekatan maknanya dalam istilah Barat dengan spirit, atau aspek jiwa yang bersifat non individual, yakni intellectatau nous11. Al Qur’an menggunakan istilah ruh untuk beberapa makna, diantaranya: 1) malaikat (Jibril) sebagaimana dipahami dalam ayat:افص ةكئ لملاو حورلا موقي موي (hari ketika para malaikat dan Jibril berbaris di hadapan Allah), 2) wahyu, seperti pada ayat:نماحور كيلا انيحوا كلذكو انرما (demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dari urusan Kami), dan sebagainya. Dari keterangan di atas, maka Ruh secara bahasa dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menimbulkan
gejala-gejala hidup. Al Qur’an, kenabian, Jibril, dan nabi Isa pun disebut dengan ruh karena kesemuanya menyebabkan kehidupan budaya. Dengan demikian ruh memiliki dua konotasi : 1) ruh biologis, pembangkit gejala hidup organis biologis (fisika-kimia), dan
2) ruh budaya, pembangkit kehidupan sosial budaya.
Sedangkan menurut terminologi Adalah hakikat dari manusia yang dengannya manusia dapat hidup dan mengetahui segala sesuatu yang bersifat spiritual. Ia adalah zat murni yang tinggi, hidup, dan hakekatnya berbeda dengan tubuh. Ruh adalah daya yang terdapat dalam qolbu untuk mengetahui eksistensi Tuhan. Semua manusia memiliki ruh sebagai potensi untuk mengetahui dan merasakan keberadaan Tuhan, namun tidak semua manusia dapat memfungsionalkan potensi ruh tersebut.
Pengertian ruh menurut ahli hakekat berbeda dengan ahli sunnah (syari’ah). Ahlu sunnah menganggap bahwa ruh adalah kehidupan, sedangkan ahlul hakekat berpendapat bahwa ruh adalah essensi/ substansi ketuhanan yang diletakkan dalam jasad. Ruh merupakan sumber kehidupan dan sumber moral yang baik. Ia merupakan sesuatu yang halus, bersih, dan bebas dari pengaruh hawa nafsu.
Menurut Al Ghazali ruh ada dua macam: 1) ruh hayawani, yaitu substansi halus yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Ruh inilah yang berpadu dengan jism menjadi satu kesatuan yang disebut manusia, ia dapat meninggalkan badan sementara ketika manusia tidur, dan dapat meninggalkannya selamanya sehingga terjadi kematian; 2) nafs natiqah, yaitu substansi halus dalam diri manusia yang memungkinkannya untuk mengetahui hakekat. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ruh adalah daya jiwa yang terdapat dalam qolb yang berfungsi untuk mengarahkan manusia agar dapat merasakan secara pasti keberadaan Tuhan seolah-olah ia melihat Nya. Kesadaran akan keberadaan Tuhan tersebut mendorong hati untuk mencintai Tuhan.
4. Al- Nafs
Kata al-nafs mempunyai dua arti. Pertama, al-nafs berarti totalitas diri manusia. Sehingga jika di sebut “nafsaka (dirimu)”. Maka berati dirimu secara keseluruhan, bukan tangan, bukan kaki,
bukan pikiran tetapi keseluruhan dirimu yang membedakan dengan orang lain. Al-nafs dalam arti ini mendapat berbagai julukan sesuai dengan kondisinya. Jika al-nafs dalam menghadapi syahwat dengan tenang maka dijuluki al-nafs al-muthmainnah. Jika al-nafs dalam menghadapi syahwat dengan tidaktenang tetapi lebih cenderung mengikutinya tanpa kendali, maka di beri julukan al-nafs al-ammarah. Al-nafs al-ammarah bisa menjadi al-nafs al-muthmainnah manakala seseorang terbebas dari akhlak yang tercela.
Jika al-nafs dalam menghadapi syahwat dengan setengah-setengah antara menolak dan menerima tetapi lebih cenderung mencela diri sendiri ketika melakukan syahwat maka diberi julukan al- nafs al-lawwamah. Sebagian ulama mengatakan bahwa al-nafsu al-lawwamah termasuk nafsu yang baik karena dia senantiasa mencela diri sendiri meskipun sudah bersungguh-sungguh untuk melaksanakan ketaatan.
Kedua, al-nasf menurut para shufi adalah pusat munculnya akhlak tercela. Mereka cenderung mengartikan al-nasf dengan konotasi negatif. Itulah sebabnya nafsu wajib diperangi (mujahadah al-nafs).
Menurut al-Ghozali nafsu diartikan “Perpaduan kekuatan marah (gadlab) dan syahwat dalam diri manusia”. Kekuatan gadlab pada awal nya tentu untuk sesuatu yang poitif seperti untuk mempertahankan diri, mempertahankan agama dan sebagainya. Dengan adanya gadlab itulah jihad diperintahkan dan kehormatan diri terjaga. Dengan kekuatan marah seseorang dapat menumpas kedholiman dan kemungkaran. Namun ketika gadlab tidak terkendali maka yang terjadi adalah kehancuran akhlak dan sifat tercela.
Demikian juga dengan syahwat (syahwat seks) perkembangbiakan manusia tetap berjalan, perpaduan antara pria dan wanita yang membentuk satu keluarga bisa terjadi sehingga akan terbentuk komunitas sosial. Dengan syahwat (makan dan minum), muamalah mencari rizki dapat berjalan, bisa dibayangkan tidak ada syahwat makan, minum, dan sebagainya tentu roda perekonomian tidak mungkin berjalan.
Untuk mengendalikan syahwat dan ghadlab, Allah telah membuat kekuatan pengendali baik eksternal maupun internal. Secara eksternal Allah membuat aturan syariat untuk mengendalikan derasnya laju syahwat dan ghadlab. Allah memperbolehkan seseorang menyalurkan syahwat seksnya sesuai dengan aturan syariat. Demikian juga Allah, menghalalkan syahwat makan dan
minum asal sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan. Sedangkan secara internal, Allah telah memasang aqal dalam diri manusia agar manusia itu bisa mengendalikan derasnya laju syahwat. Itulah Allah melarang keras usaha-usaha maupun tindakan-tindakan yang menyebabkan akal tidak berfungsi.
Syari’at melarang seseorang yang sengaja tidak menyalurkan syahwatnya. Rasulullah saw melarang umatnya berpuasa terus menerus tidak pernah libur berpuasa. Puasa ada batasan- batasan waktu yang tgelah ditentukan oleh syari’at.Oleh karena itu meskipunpuasa itu baik, namun seseorang tidak diperbolehkan melakukan puasa tanpa batasan waktu. Puasa sunnah yang terbaik menurut syari’at adalah puasa Dawud yakni sehari puasa sehari libur. Demikian juga seseorang dilarang membujang untuk selamanya.
4.Cara memahami potensi ruhaniah Manusia
Sebenarnya kita semua tanpa terkecuali mempunyai banyak sekali yang bisa di kembangkan.
Namun sedikit dari kita yang tau bagaimana cara untuk mengenal dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Berikut beberapa cara untuk mengenali potensi diri antara lain :
1. Kenali diri sendiri
Buat daftar pertanyaan dan jawab dengan jujur. Misalnya : Apa yang membuat anda bahagia?
Apa yang anda inginkan dalam hidup ini? Apa kelebihan dan kekuatan anda? Apa kelemahan dan kekurangan anda?
2. Tentukan tujuan hidup
Tentukan tujuan hidup anda untuk jangka pendek maupun jangka panjang sesuai kemampuan dan kompetensi anda.
3. Kenali motivasi hidup
Setiap manusia mempunyai motivasi tersendiri untuk mencapai tujuan hidupnya. Apa yang bisa mencambuk anda untuk membangun kekuatan dan dukungan moril sehingga menghasilkan karya terbaik.
4. Hilangkan negatif thingking
Jangan menyalahkan orang lain dalam menghadapi hambatan. Evaluasi langkah anda, kemudian melangkah lagi.
5. Jangan mengadili diri sendiri
Jika menghadapi hambatan dan kegagalan untuk mencapai tujuan jangan menyesal dan mengadili diri sendiri berlarut-larut. Jadikan kegagalan sebagai pengalaman dan bahan pelajaran yang berharga untuk maju.
6. Bertanya kepada orang yang terdekat
Misalnya orang tua, kakak-adik, saudara, keluarga, atau teman. Terkadang kita tidak menyadari potensi yang kita miliki karena itu diperlukan orang lain untuk menyadarkan kita.
7. Banyak membaca, melihat dan merasakan
Dengan begitu akan banyak informasi dan pengetahuan yang bertambah. Bacaan dan tontonan yang kita sukai itu bisa jadi adalah sebuah potensi.
5.Cara Mengembangkan Potensi Ruhaniah Manusia
Setelah benar-benar memahami apa sebenarnya potensi diri yang anda miliki, maka langkah selanjutnya yang harus diketahui adalah bagaimana cara mengembangkan potensi diri anda sendiri. Dalam hal cara mengembangkan potensi diri disini yang perlu ditekankan terdiri dari beberapa langkah penting. Diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Harus diawali dengan niat
2. Harus berpikir positif dalam setiap hal 3. Harus memiliki komitmen
4. Jangan menganggap remeh orang lain
5. Menerima saran, kritik dan masukan yang bersifat membangun dari orang lain 6. Konsisten terhadap apa yag kita lakukan
7. Yakinlah bahwa kita pasti bisa
Dari beberapa poin cara mengembangkan diri diatas yang paling utama sekali harus dilakukan adalah poin pertama, yaitu mengawali pengembangan potensi diri tersebut dengan niat yang tulus. Dengan adanya niatan tulus, maka akan tercipta pikiran positif yang akan membuat anda memiliki komitmen yang kuat untuk mencapai tujuan dari potensi anda.
Sesuatu hal yang dilakukan tentu tidak akan berbuah hasil manis jika dilakukan tanpa adanya konsistensi, maka dalam hal ini yang paling utama yang harus anda ingat adalah konsisten. Bila anda mengerjakan sesuatu hanya dalam beberapa hari atau bulan saja, maka tentu hasil dari potensi diri yang anda kerjakan belum terlihat, maka cobalah untuk tetap konsisten, dan yakin dan percayalah bahwa apa yang anda cita-citakan akan segera terwujud.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Fitrah dalam konteks surat al-Rûm ayat 30 berkedudukan sebagai potensi dasar yang dimiliki oleh manusia. Fitrah manusia cenderung bersifat ganda, artinya fitrah bisa mendorong timbulnya perbuatan baik, dan juga bisa mendorong perbuatan jelek, karena di dalam fitrah itu sendiri terdapat potensi rohani lainnya seperti nafsu. Kecenderungan perubahan suatu fitrah sangat bergantung kepada faktor yang mempengaruhi dari lingkungan di luarnya. Apabila manusia sejak kecil sudah berinteraksi dengan lingkungan yang baik, maka jaminan kehidupan yang lebih baik akan dimiliki manusia. Namun sebaliknya, apabila manusia sejak kecil sudah berinteraksi dengan lingkungan yang buruk, maka kepribadian dan perilaku manusia tersebut akan menjadi buruk kelak.
.
3.2 Saran
Dengan adanya niatan tulus, maka akan tercipta pikiran positif yang akan membuat anda memiliki komitmen yang kuat untuk mencapai tujuan dari potensi anda. Sesuatu hal yang dilakukan tentu tidak akan berbuah hasil manis jika dilakukan tanpa adanya konsistensi, maka dalam hal ini yang paling utama yang harus anda ingat adalah konsisten. Bila anda mengerjakan sesuatu hanya dalam beberapa hari atau bulan saja, maka tentu hasil dari potensi diri yang anda kerjakan belum terlihat, maka cobalah untuk tetap konsisten, dan yakin dan percayalah bahwa apa yang anda cita-citakan akan segera terwujud.
DAFTAR PUSTAKA
http://satuilmukita.blogspot.com/2016/12/makalah-inovasi-pendidikan.html?m=1 http://kelompok2badpend11.wordpress.com/refleksi-materi/konsep-inovasi-pendidikan/
http://file.upi.edu./Direktori/DUAL-MODES/INOVASI_PENDIDIKAN/Modul_1- konsep_Dasar_Inovasi_Pendidikan.pdf