• Tidak ada hasil yang ditemukan

FORMULASI KRIM ANTIBAKTERI EKSTRAK AKAR ALANG

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "FORMULASI KRIM ANTIBAKTERI EKSTRAK AKAR ALANG"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

Judul skripsi: Formulasi krim antibakteri ekstrak akar alang-alang berbentuk silinder L. dengan variasi kombinasi span 80 dan tween 80 sebagai emulsifier. FORMULASI EKSTRAK Akar ALANG-ALANG (Imperta cylindrica L.) DENGAN KOMBINASI SPAN 80 DAN TWEEN 80.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Berdasarkan penelitian Mulyadi (2017), sampel akar tabung yang dimaserasi selama tiga hari dengan etanol 70% dan diuji dengan metode difusi cakram kertas menghasilkan konsentrasi hambat minimal 8% dengan diameter 0,03 cm pada Pseudomonas aeruginosa konsentrasi 7%. dengan diameter 0,03 cm pada bakteri Escherichia coli, konsentrasi 10% dengan diameter 0,09 cm pada bakteri Staphylococcus aureus dan konsentrasi 8% dengan diameter 0,1 cm pada bakteri Bacillus subtilis. Pada penelitian ini akar alang-alang (Imperata cylindrica L.) diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 70% selama tiga hari.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian .1 Umum

Manfaat Penelitian

Alang-alang (Imperata cylindrica L) .1 Klasifikasi Tumbuhan

Metabolit sekunder akar alang-alang yang digunakan sebagai antibakteri adalah flavonoid, saponin dan tanin. Tekanan darah diastolik juga menurun setelah meminum ramuan akar alang-alang sebesar mm Hg, di bawah denyut diastolik yang sebelumnya normal.

Gambar 2.3 Struktur Kimia Asam Galat dan Asam Elegat 2) Tanin Terkondensasi
Gambar 2.3 Struktur Kimia Asam Galat dan Asam Elegat 2) Tanin Terkondensasi

Ekstraksi

Perkolasi adalah ekstraksi menggunakan perkolator dengan pelarut baru sampai habis (ekstraksi penuh) yang umumnya diselesaikan pada suhu kamar. Soxhlet adalah metode ekstraksi pelarut yang selalu baru dan menggunakan peralatan yang luar biasa.

Kulit

Bagian perifer kulit, yang terdiri dari epitel skuamosa bertingkat yang jelas berasal dari ektoderm, dikenal sebagai epidermis. Lapisan yang terdiri dari lemak dan jaringan ikat yang kaya akan pembuluh darah dan saraf dikenal sebagai hipodermis atau jaringan subkutan.

Gambar 2.5 Lapisan-lapisan epidermis kulit tebal 2. Dermis
Gambar 2.5 Lapisan-lapisan epidermis kulit tebal 2. Dermis

Antibakteri

Dermis juga berperan sebagai pengatur suhu kulit melalui pembuluh dangkal dan reseptor saraf yang berfungsi sebagai sensasi kontak (Han, 2016). Secara umum, senyawa antibakteri bekerja dengan cara merusak dinding sel, mengubah permeabilitas membran, mengganggu sintesis protein, dan menghambat aktivitas enzim (Pelczar dan Chan, 2008). Dinding sel Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dapat dirusak oleh alkaloid, fenol dan flavonoid (Septiani et al., 2017).

Senyawa antibakteri dapat bersifat bakterisida dan bakteriostatik tergantung pada konsentrasi yang digunakan dimana semakin tinggi konsentrasi suatu zat antibiotik maka semakin cepat mikroorganisme dibunuh dan pertumbuhannya terhambat (Pelczar dan Chan, 2008).

Simplisia

Menurut Pharmacopoeia Edisi VI, setil alkohol berbentuk pecahan halus berwarna putih, butiran atau kubus, berwarna putih, dengan bau khas yang lemah dan rasa yang lemah. Cetyl alkohol tidak larut dalam air, tetapi larut dalam etanol dan dalam eter dan kelarutannya meningkat dengan meningkatnya suhu. Nipasol adalah bubuk tidak berwarna dan tidak berbau dengan sifat kelarutan yang sangat baik yang sulit larut dalam air, sulit larut dalam air mendidih, efektif larut dalam etanol dan eter. Uji daya lekat merupakan uji untuk mengetahui daya lekat suatu sediaan krim dengan cara menimbang 0,5 gram krim, kemudian meletakkannya di atas piring kaca lalu menimbang 250 gram selama 5 menit.

Uji daya sebar adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui daya sebar suatu sediaan krim dengan menimbang 0,5 gram krim dan meletakkannya dalam cawan petri secara terbalik.

Kerangka Konseptual

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, peneliti akan melakukan penelitian pembuatan sediaan krim antibakteri dari ekstrak etanolik akar alang-alang yang memenuhi uji sifat fisik krim. Setelah mendapatkan ekstrak etanol akar alang-alang, dilakukan skrining fitokimia menggunakan pereaksi kimia dan kromatografi lapis tipis untuk mengetahui adanya flavonoid, saponin, dan tanin. Stabil jika krim memiliki bau dan warna yang sama dengan alang-alang dan teksturnya seperti krim, homogen, melekat kurang dari 4 detik, menyebar pada kisaran 5-7 cm, memiliki kisaran pH 4,5-6,5, dan memiliki kisaran viskositas cps.

Sedangkan krim dikatakan tidak stabil jika hasil uji sifat fisik krim tidak memenuhi syarat pada masing-masing pengujian.

Hipotesis

Selanjutnya ekstrak hasil uji skrining fitokimia diolah menjadi sediaan krim dalam tiga formula berbeda konsentrasi span 80 dan tween 89. Kemudian diuji sifat fisik krim untuk ketiga formula tersebut dengan dua pilihan yaitu stabil dan tidak stabil.

Waktu Dan Tempat .1 Waktu Penelitian

Desain Penelitian

Variabel

Variabel yang berhubungan dengan penelitian ini adalah mutu fisik sediaan krim (warna, aroma dan tekstur), pH, homogenitas, daya lekat, daya sebar dan viskositas. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah beban yang digunakan pada uji adhesi dan uji daya sebar.

Populasi, Sampel dan Teknik Sampling .1 Populasi

Alat dan Bahan .1 Alat

Definisi Operasional

Warna sediaan sama dengan zat aktif, aroma harus sama dengan aroma zat aktif karena tidak ada tambahan perasa, dan kenampakan harus sesuai standar sediaan krim. Uji daya sebar merupakan uji yang dilakukan dengan menempelkan sampel pada pelat kaca dan menambahkan beban. Adhesi test adalah pengujian yang dilakukan dengan mencatat waktu saat beban ditambahkan pada pelat kaca yang diolesi sampel.

Prosedur Penelitian

Terbentuknya warna hitam kehijauan menunjukkan adanya komposisi tanin yang positif pada ekstrak akar alang-alang (Aryani et al., 2020). Identifikasi senyawa flavonoid pada ekstrak akar alang-alang menggunakan lempeng silika sebagai fasa diam dan metanol sebagai fasa gerak: kloroform (9 : 1) dengan kenampakan amoniak. Identifikasi tanin pada ekstrak akar alang-alang menggunakan lempeng silika sebagai fase diam dan metanol:air sebagai fase gerak (6 : 4) dengan tampilan noda FeCl35%.

Identifikasi senyawa saponin pada ekstrak akar alang-alang menggunakan fase diam silika dan fase gerak kloroform.

Tabel 4.1 Formulasi Krim Ekstrak Akar Alang-alang
Tabel 4.1 Formulasi Krim Ekstrak Akar Alang-alang

Analisis Data

Timbang masing-masing 0,5 gram formula krim dan letakkan dalam cawan Petri terbalik, diamkan selama 1 menit dan isi setiap 1 menit 50 gram sampai beban mencapai 250 gram. Timbang masing-masing formula krim sebanyak 30 gram ke dalam panci berisi minyak 30 gram, kemudian spindel dipasang dan rotor dihidupkan, kecepatan spindel diset 0,5 rpm berturut-turut.

Skema Kerja

Determinasi Tumbuhan Alang-alang (Imperata cylindrica L.)

Hasil Pengolahan Simplisia Akar Alang-alang

Berdasarkan hasil pengolahan simplisia akar tabung diperoleh berat kering 500 gram dengan nilai rendemen 17,54%.

Standarisasi Simplisia dan Ekstrak Akar Alang-alang

Hasil pemeriksaan organoleptik ekstrak akar alang-alang kental, berwarna hitam, tidak berbau dengan rasa pahit. Hasil penentuan kandungan ekstrak akar alang-alang menunjukkan bahwa terdapat senyawa yang larut dalam air lebih banyak dibandingkan etanol. Dari hasil tabel di atas nilai susut kering simplisia akar tebu sebesar 5,89%, yang menunjukkan bahwa simplisia akar tebu memenuhi syarat yaitu tidak lebih dari 10% (BPPK Depkes RI, 2008).

Pengecekan tingkat keasaman simplisia akar alang-alang dilakukan dengan menggunakan pH meter yang sebelumnya telah dikalibrasi menggunakan larutan kalibrasi pH 7.

Tabel 5.2 Identitas Simplisia dan Ekstrak Akar Alang-Alang
Tabel 5.2 Identitas Simplisia dan Ekstrak Akar Alang-Alang

Ekstraksi Simplisia Akar Alang-alang (Imperata cylindrica L.)

Hasil pemeriksaan keasaman simplisia akar alang-alang adalah 5,9 pada percobaan pertama, 6 pada percobaan kedua dan 5,9 pada percobaan ketiga, sehingga jika rata-rata nilai keasaman larutan simplisia akar alang 1% adalah 5.9. Gravitasi spesifik diperlukan untuk membandingkan massa jenis suatu zat dengan massa jenis air berupa nilai massa per satuan volume.

Hasil Skrining Fitokimia dengan Pereaksi Kimia

Skrining fitokimia menggunakan pereaksi kimia pada ekstrak akar Imperata cylindrica L. menunjukkan adanya kandungan flavonoid, tanin dan saponin. Pada uji flavonoid, perubahan warna menjadi merah disebabkan benzopiron pada struktur flavonoid mereduksi inti saat panas, dimana penambahan HCl menyebabkan reaksi oksidasi-reduksi antara logam Mg yang berperan dalam mereduksi senyawa flavonoid (Mukhrianite al., 2019). Sedangkan warna hijau kehitaman pada uji tanin disebabkan oleh terbentuknya kompleks senyawa tanin dan ion Fe3+.

Pada uji saponin ekstrak dinyatakan positif mengandung saponin yang ditandai dengan terbentuknya buih yang stabil setelah dikocok.

Tabel 5.5 Hasil Skrining Fitokimia dengan Pereaksi Kimia
Tabel 5.5 Hasil Skrining Fitokimia dengan Pereaksi Kimia

Hasil Skrining Fitokimia dengan Kromatografi Lapis Tipis

Pada uji tanin digunakan fase gerak berupa metanol:air (6:4) dengan penampakan pewarnaan FeCl3 5% pada sinar UV 366 nm, menghasilkan warna biru yang menandakan bahwa ekstrak etanol alang- akar alang positif mengandung senyawa tanin. Pada pengujian senyawa flavonoid jarak bercak 6,4 cm dan jarak pelarut 7,5 cm. Pada pengujian senyawa tanin jarak bercak 3,7 cm dan jarak pelarut 6 cm.

Pada pengujian senyawa saponin jarak bercak 6,3 cm dan jarak pelarut 7,3 cm.

Hasil Evaluasi Sifat Fisik Krim Antibakteri Ekstrak Akar Alang-alang (Imperata cylindrica L.)

Hasil pengamatan organoleptik dilakukan secara subyektif, dimana dari hari produksi sampai minggu kedua formula 1, formula 2 dan formula 3 menunjukkan karakteristik yang sama yaitu warna coklat muda dengan bau tidak sensitif dan ringan. , tekstur tidak lengket saat diaplikasikan pada kulit yang menunjukkan bahwa ketiga formula stabil secara organoleptik selama penyimpanan 2 minggu. Hasil uji homogenitas masing-masing formula selama 2 minggu penyimpanan menunjukkan hasil yang homogen karena tidak ditemukan granul pada krim saat dioleskan pada object glass dari minggu ke 0 sampai minggu ke 2. Dari ketiga formulasi hanya formula 3, dari minggu ke 0 sampai minggu ke 2 nilai pH masih berada dalam kisaran pH kulit yaitu 4,5 pada minggu ke 0, 4,7 pada minggu ke 1, dan 5 pada minggu ke 2.

Meskipun pH ketiga formulasi meningkat selama 2 minggu penyimpanan, dari ketiga formulasi tersebut hanya formula 3 dari minggu 0 sampai minggu 2 yang masih berada pada kisaran pH kulit 4,5 pada minggu 0, 4,7 pada minggu 1 dan minggu 5 pada minggu 2.

Tabel 5.7 Hasil Uji Organoleptis pada Krim
Tabel 5.7 Hasil Uji Organoleptis pada Krim

Minggu 1 Minggu 2

Uji daya sebar pada krim bertujuan untuk mengetahui kemampuan krim menyebar saat diaplikasikan pada kulit (Voight, 1994). Dari ketiga formulasi tersebut, hanya formulasi 1 yang tidak memiliki daya sebar yang baik, dimana pada pengujian minggu ke-2 formulasi 1 memiliki daya sebar yang lebih besar dari nilai daya sebar krim standar yaitu 7,36 cm. Hasil uji daya sebar ketiga formulasi menunjukkan variasi yang homogen dengan nilai signifikansi 0,5 (p > 0,05) sehingga dapat dilanjutkan ke uji Satu.

Meskipun ketiga formula menunjukkan peningkatan daya sebar selama 2 minggu penyimpanan, namun dari ketiga formulasi hanya Formula 1 yang tidak memiliki daya sebar yang baik, sedangkan pada pengujian minggu ke-2 Formulasi 1 memiliki daya sebar yang lebih besar dibandingkan dengan nilai daya sebar krim standar sebesar 7,36. cc.

Minggu 1 Minggu 2 F1

Hasil uji daya lekat krim antibakteri ekstrak etanol akar ilalang untuk masing-masing formulasi ditunjukkan pada Tabel 5.11. Walaupun ketiga formula tersebut memiliki nilai daya lekat yang berbeda pada penyimpanan 2 minggu, daya lekat setiap formula krim masih dalam batas normal daya lekat krim pada kulit dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada setiap formula berdasarkan uji statistik. Hasil uji daya lekat krim antibakteri ekstrak etanol akar ilalang untuk masing-masing formulasi ditunjukkan pada Tabel 5.12.

Walaupun ketiga formula tersebut mengalami peningkatan viskositas selama penyimpanan 2 minggu, namun viskositas masing-masing formula masih dalam kisaran normal dan tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik.

Tabel 5.12 Hasil Uji Viskositas pada Krim
Tabel 5.12 Hasil Uji Viskositas pada Krim

PENUTUPPENUTUP

Kesimpulan

Saran

Isolasi bakteri endofit daun Imperata cylindrica (Imperata cylindrica) dan potensi metabolit sekundernya sebagai antibakteri. Diakses Juni 2021, dari www.iucngisd.org/gisd/pdf.php?sc=. 2014. Pengaruh alang-alang (Imperata cylindrica (L.) P. Beauv) terhadap penurunan tekanan darah. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% Duan Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (Ait.) Hassk.) terhadap pertumbuhan bakteri Vibrio cholerae secara in vitro.

Rebusan rimpang alang-alang (Imperata cylindrica L.) memberikan efek diuretik pada mencit (Mus musculus) dalam waktu 90 menit. Skrining fitokimia, antioksidan dan potensi antikanker Imperata cylindrica (L.) Raeusch terhadap human breast cancer cell line (MCF-7) inter. Infeksi Staphylococcus aureus: Epidemiologi, Patofisiologi, Manifestasi Klinis, dan Manajemen Mikrobiologi Klinik. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhii dan Shigella dysenteriae.

Gambar

Gambar 2.1 Tumbuhan Alang-alang (Data Base, 2015) 2.1.2 Sinonim Tumbuhan
Gambar 2.3 Struktur Kimia Asam Galat dan Asam Elegat 2) Tanin Terkondensasi
Gambar 2.4 Struktur Kimia Senyawa Tanin Terkondensasi Menurut Makkar (1991), senyawa tanin memiliki aksi antibakteri dengan sistem yang berfungsi membingkai campuran kompleks dengan protein melalui ikatan hidrogen sehingga protein akan terdenaturasi dan pe
Gambar 2.5 Lapisan-lapisan epidermis kulit tebal 2. Dermis
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada Tabel 1 juga memperlihatkan golongan senyawa flavonoid dan saponin terdeteksi dalam ekstrak etanol, tetapi tidak terdeteksi dalam ekstrak etil asetat maupun