• Tidak ada hasil yang ditemukan

FORMULASI PASTA GIGI DARI KATEKIN TERPURIFIKASI DAN UJI AKTIVITAS

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "FORMULASI PASTA GIGI DARI KATEKIN TERPURIFIKASI DAN UJI AKTIVITAS "

Copied!
91
0
0

Teks penuh

Formulasi pasta gigi dari katekin murni dan uji aktivitas antibakteri Streptococcus mutans", yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana di Universitas Perintis Indonesia. Dalam pembuatan pasta gigi herbal katekin murni, dibuat 4 formula dengan konsentrasi katekin murni masing-masing 0,2% dan 0,2%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan formula pasta gigi katekin murni dan mengetahui pengaruh aktivitas antibakteri Streptococcus mutans terhadap katekin murni. formula pasta gigi dagu.

Dapat disimpulkan bahwa dalam pembuatan sediaan pasta gigi, semua pasta gigi katekin murni telah terbukti memiliki kualitas fisik pasta gigi dan memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans.

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang
  • Rumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Manfaat Penelitian

Bahan kimia aktif yang biasa terkandung dalam pasta gigi adalah triclosan dan fluoride (Strassler, 2013). Pasta gigi yang beredar di pasaran mengandung fluoride yang berfungsi sebagai pencegah karies gigi. Berdasarkan uraian di atas, peneliti memformulasi pasta gigi dengan bahan aktif katekin gambir (Uncaria gambir [Roxb.]) yang dimurnikan <90% dan diuji aktivitas antibakterinya terhadap Streptococcus mutans.

Dapat menghasilkan sediaan berupa pasta gigi dari katekin murni yang aktif melawan bakteri Streptococcus mutans.

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Gambir (Uncaria gambir [Roxb.])

  • Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Gambir (Uncaria gambir
  • Tinjauan Kimia Gambir (Uncaria gambir [Roxb.])
  • Tinjauan Farmakologi Gambir (Uncaria gambir [Roxb.])

Diantara keempat sentra produksi gambir tersebut, Provinsi Sumatera Barat merupakan sentra produksi gambir terbesar yaitu memasok sekitar 90% dari total produksi gambir nasional (Said, et al., 2009). Saat ini tanaman gambir yang tumbuh secara alami dapat dijumpai di Kepulauan Riau, Pantai Timur Sumatera, Indragiri, Bangka, Belitung, Sumatera Barat, Kalimantan Barat (Nuryeti, et al., 1995). Katekin dalam keadaan murni memberikan rasa manis, berbentuk kristal, berwarna putih hingga kekuningan, sedangkan tanin memiliki rasa astringen, berwarna coklat kemerahan hingga hitam (Muchtar, et al., 2010).

Katekin merupakan senyawa polifenol yang tidak stabil bila disimpan terlalu lama, mudah teroksidasi oleh cahaya dan panas (Yeni, et al., 2017).

Tinjauan Farmasetik Pasta Gigi

  • Definisi Pasta Gigi
  • Komponen Pasta Gigi

Pasta gigi yang ideal harus memiliki daya pembersih yang cukup untuk menghilangkan partikel atau noda dan membuat permukaan gigi menjadi berkilau. Pasta gigi yang disukai biasanya lembut, homogen, mengkilat, bebas gelembung udara dan berwarna menarik. Pemanis buatan, termasuk sakarin, sering ditambahkan ke pasta gigi untuk rasa yang lebih enak.

Sensasi ini biasanya disebabkan oleh rasa dan kandungan detergen pada pasta gigi yang menyebabkan iritasi ringan pada mukosa mulut.

Preformulasi Sediaan Pasta Gigi

14 Karboksimetilselulosa Natrium adalah garam natrium dari polikarboksimetilselulosa eter, mengandung tidak kurang dari 6,5% dan tidak lebih dari 9,5%. Kelarutan mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloid; tidak larut dalam etanol, eter dan pelarut organik lainnya (Kemenkes RI, 2020). Kalsium karbonat yang dikeringkan pada suhu 200° selama 4 jam mengandung setara kalsium tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 100,5%.

Kelarutan praktis tidak larut dalam air; kelarutan dalam air meningkat dengan adanya sejumlah kecil garam amonium atau karbon dioksida; adanya alkali hidroksida mengurangi kelarutan; Kelarutan larut dengan air dan etanol; tidak larut dalam kloroform, dalam eter, dalam minyak lemak dan minyak atsiri. Natrium sakarinat mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% mg C7H4NNaO3S yang dihitung berdasarkan anhidrat.

Methylparabens banyak digunakan sebagai pengawet antimikroba dalam makanan, kosmetik dan formulasi farmasi. Kelarutan mudah larut dalam air, dalam benzena dan karbon tetraklorida; Mudah larut dalam etanol dan eter. Identifikasi Spektrum serapan inframerah zat kering dan terdispersi dalam minyak mineral P hanya menunjukkan panjang gelombang maksimum yang sama dengan Methylparaben BPFI (Departemen Kesehatan RI, 2020).

Kelarutan Sangat sedikit larut dalam air; larut dalam air mendidih; Mudah larut dalam etanol dan eter. Kelarutan tidak larut dalam air dan dalam propilen glikol; Mudah larut dalam etanol, dalam kloroform dan dalam eter.

Gambar 4. Struktur Kimia Kalsium Karbonat
Gambar 4. Struktur Kimia Kalsium Karbonat

Karies Gigi

  • Klasifikasi Streptococcus mutans
  • Morfologi Streptococcus mutans
  • Metode Pengujian Aktivitas Antibakteri
    • Metode Difusi
    • Metode Dilusi

Cawan berisi zat antimikroba diletakkan pada media agar yang ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi ke dalam media agar. Metode ini digunakan untuk memperkirakan MIC (Minimum Inhibitory Concentration) atau KHM (Minimum Inhibitory Concentration), yaitu konsentrasi minimum suatu agen antimikroba untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Dalam metode ini, strip plastik yang mengandung agen antimikroba dengan kadar terendah dan tertinggi digunakan dan ditempatkan pada permukaan media agar yang ditanami mikroorganisme.

26 dilakukan pada area bening yang dihasilkan, menunjukkan bahwa agen antimikroba menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar. Pada metode trench plate, sampel uji berupa zat antimikroba ditempatkan dalam parit yang dibuat dengan memotong media agar dalam cawan Petri di tengahnya secara memanjang, dan mikroba uji (maksimal 6 jenis) disebarkan ke dalam parit yang berisi zat antimikroba tersebut. Dalam metode Cup-plate, mirip dengan metode difusi cakram, sumur dibuat dalam media agar yang ditanami mikroorganisme dan agen antimikroba diuji dalam sumur ini.

Dalam metode teknik Gradient-plate, konsentrasi agen antimikroba dalam media agar bervariasi secara teoritis dari 10 sampai maksimum. Nutrisi dua kemudian dituangkan dan diinkubasi selama 24 jam agar agen antimikroba menyebar dan mengeringkan permukaan media. Metode yang digunakan adalah membuat rangkaian pengenceran zat antimikroba dalam media cair yang ditambahkan mikroba uji.

Larutan uji untuk agen antimikroba pada konsentrasi terkecil yang tampak bening tanpa pertumbuhan mikroba uji disebut sebagai MIC. Keuntungan dari metode ini adalah satu konsentrasi antimikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa mikroba uji.

Gambar 11. Bakteri Streptococcus mutans
Gambar 11. Bakteri Streptococcus mutans

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Metode penelitian

  • Alat
  • Bahan

Pelaksanaan Penelitian

  • Pengambilan Bakteri
  • Pemeriksaan Katekin Gambir (Uncaria gambir [Roxb.])
  • Pemeriksaan Bahan Tambahan
  • Formulasi Pasta Gigi Katekin Terpurifikasi
  • Pembuatan Pasta Gigi Katekin Terpurifikasi
  • Evaluasi Pasta Gigi Katekin Terpurifikasi
  • Uji Aktivitas Antibakteri dengan Metode Difusi
  • Pengujian Aktivitas Antibakteri Katekin Gambir dan Pasta Gigi
  • Analisis Data

Kemudian dituangkan ke dalam kertas saring yang telah dikeringkan di dalam oven dan diketahui beratnya. Keringkan kertas saring dalam oven pada suhu 105°C selama 2 jam, dinginkan dalam desikator dan timbang (Badan Standarisasi Nasional, 1992). Residu pada kertas saring dikeringkan dalam oven pada suhu 105°C selama 3 jam, didinginkan dalam desikator dan ditimbang (Badan Standarisasi Nasional, 2006).

Kemudian kalsium karbonat digerus, ditambahkan catechin murni 90% yang telah dilarutkan dalam air panas dan dihaluskan, kemudian ditambahkan gliserin hingga homogen (ukur II). Uji stabilitas fisik pasta gigi meliputi pengamatan organoleptik, homogenitas, viskositas, pH, tinggi busa dan uji stabilitas. Kontrol tinggi busa dilakukan dengan cara: Masukkan 1 g basis pasta gigi ke dalam gelas kimia 100 mL, tambahkan 10 mL air suling.

Persyaratan kualitas busa yang tinggi dalam sediaan pasta gigi tidak boleh melebihi 15 cm (National Agency of Standards, 1995). Angka yang menunjukkan kekentalan pada alat tersebut adalah kekentalan pasta gigi yang kemudian dilihat pada grafik kekentalan Stormer (Lachman, 1994). Pengujian dilakukan dengan cara menjatuhkan 0,05 mL sampel ke dalam disk, kemudian diinkubasi dalam cawan petri selama 24 jam pada suhu 370C.

Dibuat suspensi Streptococcus mutans yang telah diinokulasi dalam NaCl 0,9%, kemudian ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 0,5 ml MHA. Data hasil uji aktivitas antibakteri gambir dalam sediaan pasta gigi diolah secara statistik menggunakan one way analysis of variance (ANOVA).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

  • Pemeriksaan Katekin Terpurifikasi
  • Pemeriksaan Bahan Tambahan
  • Evaluasi Sediaan Pasta Gigi Dari Katekin Terpurifikasi Dan
  • Pemeriksaan Aktivitas Bakteri Katekin Gambir dan Pasta Gigi Katekin

Pemeriksaan bahan tambahan natrium karboksimetil selulosa, kalsium karbonat, gliserin, natrium sakarin, metilparaben, propilparaben, natrium lauril sulfat, BHT, oleum menthae piperitae, dalam pembuatan pasta gigi yang meliputi pemeriksaan deskripsi (bentuk, bau, warna, rasa dan rasa), kelarutan, menurut persyaratan Republik Indonesia, kelarutan, menurut pH, 020) dan Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi ke-6 (Rowe, et al., 20 09). Pemeriksaan organoleptik sediaan pasta gigi katekin murni dilakukan secara objektif meliputi warna, tekstur dan aroma selama enam minggu, diperoleh hasil organoleptik F0 berupa pasta gigi berwarna putih, lembut dan kental, aroma mint; Pasta gigi F1 lembut, lembut dan kental, berbau seperti mint; Pasta gigi F2 berwarna kuning kecokelatan, lembut dan kental, berbau seperti mint; Pasta gigi F3 berwarna kuning kecokelatan, lembut dan kental, berbau seperti mint. Hasil pemeriksaan homogenitas pasta gigi katekin murni menunjukkan hasil pasta gigi yang homogen (Lampiran 5, Tabel 17).

Studi stabilitas sediaan pasta gigi katekin murni dalam 6 siklus 12 hari menggunakan metode tes Cycling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan pasta gigi sedikit terpisah dan tidak terjadi perubahan fisik selama enam siklus pada suhu 4°C dan 40°C (Lampiran 5, Tabel 21 dan Tabel 22). Hasil pengujian aktivitas antibakteri katekin gambir dan pasta gigi katekin murni terhadap bakteri Streptococcus mutans dengan menggunakan metode sumur diperoleh nilai rata-rata diameter hambat yang diperoleh dari hasil F0=.

Pembahasan

Tujuan adanya konsentrasi purifikasi katekin dalam berbagai formulasi pasta gigi adalah untuk melihat pengaruh terhadap sifat fisik dan stabilitas sediaan pasta gigi. Pemeriksaan homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pasta gigi katekin murni terdistribusi dengan baik atau tidak. Hasil uji pH yang diperoleh adalah 7-8, menunjukkan bahwa semua formula pasta gigi memenuhi persyaratan kualitas pH sediaan pasta 4,5-10,5 tidak mengiritasi mukosa rongga mulut (Badan Standar Nasional, 1995).

Berdasarkan hasil uji pH, semakin tinggi konsentrasi katekin maka semakin rendah pH pasta gigi tersebut. Hasil uji pH pasta gigi katekin murni menunjukkan bahwa pasta gigi memenuhi syarat sehingga tidak mengiritasi mukosa rongga mulut. 45 Berdasarkan pemeriksaan uji tinggi busa menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi katekin murni yang digunakan dalam pasta gigi, semakin sedikit busa yang dihasilkan, semakin rendah konsentrasi katekin murni yang digunakan, semakin banyak busa yang dihasilkan.

Berdasarkan uji viskositas diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi katekin murni yang digunakan dalam pasta gigi maka semakin tinggi pula viskositas pasta gigi yang dihasilkan. Hal ini mungkin disebabkan oleh peningkatan konsentrasi katekin yang dimurnikan dalam pasta gigi yang menyebabkan penurunan jumlah air dalam pasta gigi. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat perbedaan yaitu sediaan pasta gigi sedikit terpisah dari katekin yang telah dimurnikan dan terjadi perubahan fisik selama 6 siklus pada suhu 4 ºC dan 40 ºC.

Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan pada sediaan pasta gigi dengan katekin murni menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans dengan diameter penghambatan F0 ±18,68 mm, F1 ±21,03 mm, F2 ±22,76 mm, F3 ±23,21 mm. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa perbedaan antara katekin murni dan pasta gigi dengan katekin murni menghasilkan perbedaan daya hambat yang signifikan, ditunjukkan pada Tabel 28.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Uji aktivitas antibakteri Pasta Gigi Ekstrak Biji Pinang (Areca catechu) terhadap Streptococcus mutans dan Staphylococcus aureus. Uji daya antibakteri ekstrak daun salam (Eugenia polyantha Weight) dalam pasta gigi terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Perbandingan jumlah ion kromium (Cr) dan nikel (Ni) yang dilepaskan dari kawat ortodontik stainless steel saat merendam komposisi bahan pasta gigi yang berbeda.

Uji aktivitas ekstrak etanol gambir (Uncaria gambir Roxb.) terhadap penyembuhan luka bakar pada kulit punggung mencit putih (Mus musculus) jantan. Uji Aktivitas Anti Inflamasi Isolat Gambir Catechin (Uncaria gambir Roxb) Terhadap Benudema Terinduksi Karagenan pada Tikus Putih Jantan Sparaguedawley. Uji aktivitas antibakteri katekin (+)-Gambir (Uncaria gambir Roxb.) terhadap beberapa jenis bakteri Gram negatif dan mekanismenya.

Buatlah sumuran (lubang) pada media MHA dengan menggunakan mata bor berdiameter 6 mm dan piringan berdiameter 6 mm - Masukkan pasta gigi dengan.

Gambar  12.  Sertifikat  Analisis  Identifikasi  Katekin  Gambir  (Uncaria  gambir  [Roxb.]) Terpurifikasi
Gambar 12. Sertifikat Analisis Identifikasi Katekin Gambir (Uncaria gambir [Roxb.]) Terpurifikasi

Gambar

Gambar 11. Bakteri Streptococcus mutans
Gambar  12.  Sertifikat  Analisis  Identifikasi  Katekin  Gambir  (Uncaria  gambir  [Roxb.]) Terpurifikasi
Tabel 2. Pemeriksaan Katekin Gambir (Uncaria gambir [Roxb.]) Terpurifikasi
Tabel 7. Hasil Pemeriksaan Na.CMC
+7

Referensi

Dokumen terkait

Nigella sativa merupakan obat yang mujarab dan sering dikemas dengan bentuk yang variatif, seperti minyak esensial, pasta, serbuk, dalam bentuk ekstrak, dan telah diindikasikan sebagi