FREKUENSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS PADA MURID SEKOLAH DASAR KELURAHAN TAROK KURANJI PADANG
SKRIPSI
Diajukan Sebagai salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (Strata 1)
ASTRY WINDA NIM. 05010093
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2016
FREKUENSI SOIL TRANSMITTED HELMINTSH PADA MURID SEKOLAH DASAR NEGERI KELURAHAN TAROK KURANJI PADANG
Astry Winda, Jasmi, Gustina Indriati
Program Studi Pendidikan Biologi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat
e-mail: [email protected] ABSTRACT
Parasite infection caused by soil transmitted helmintsh is still the health problems in the slums area with have bad sanititation. In the rural areas worm STH is generally infect the children, especially for children in elementary school, because with they age, the children active playing on the ground and maybe can contaminated by feces. SDN 34 Kuranji, SDN 41 Kuranji Padang is place with having tropical climate and suitable for development STH. This research was conducted by during may 2016 at SDN KelurahanTarok Kuranji Padang. Method for this research is using descriptive method. Population in this research are the student of SDN Kelurahan Tarok Kuranji Padang with 97 student. This Research using total sampling for the sample method and have 73 student from 97 student. Feces examination was doing in STKIP Laboratory PGRI Sumatera Barat with direct observation. Based on the result of research for student SDN KelurahanTarok Kuranji Padang, Frequency of STH infection is 66,7%.
Key word: STH, Helminth
PENDAHULUAN
Soil Transmitted Helminths (STH) adalah suatu kelompok parasit nematoda yang menyebabkan infeksi pada manusia melalui kontak dengan telur parasit atau larva yang berkembang di dalam tanah yang hangat dan lembab pada negara-negara tropis dan subtropis di dunia. STH bersifat endemis pada keenam area WHO dan mempengaruhi lebih dari 2 milyar orang di seluruh dunia. Dari seluruh anak-anak yang membutuhkan penatalaksanaan, tiga perempat terdapat di negara-negara area Asia Tenggara dan Afrika, sekitar seperempat terdapat di area Pasifik Barat, Mediterania Timur, dan Amerika. Hanya 4 juta anak-anak (atau kurang dari 1%) terdapat di negara-negara area Eropa (WHO,2012a). STH yang paling sering ditemui di dunia meliputi Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk), cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale). (Gandahusada, 2004).
Penyakit cacing merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia walaupun tidak menyebabkan kematian tetapi menggerogoti kesehatan tubuh manusia sehingga berakibat menurunnya kondisi gizi dan kesehatan masyarakat.
Infeksi STH pada manusia dapat menyebabkan gangguan pada jaringan dan organ tubuh, di mana parasit tersebut hidup dan mengambil nutrisi dari dalam tubuh manusia. Pada keadaan kronis, infeksi STH mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan intelektual anak- anak. Selain itu, infeksi STH juga diperkirakan berdampak negatif terhadap kemampuan kognitif, mempengaruhi prestasi belajar di sekolah, di mana akan mempengaruhi produktivitas ekonomi masa depan (Bethony et al., 2006; Müller et al., 2011).
SD Negeri 34 kuranji, SD Negeri 41 Kuranji Padang merupakan daerah daratan yang memiliki iklim tropis dengan temperatur 22 0C – 31,7 0C, cocok untuk perkembangan Soil Transmitted Helminths.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru yang mengajar di ketiga sekolah tersebut, anak – anak yang sekolah di SD Negeri 34 kuranji, SD Negeri 41 Kuranji Padang bukan hanya dari lingkungan daerah Kuranji, tetapi terdiri dari berbagai desa atau kelurahan, banyak dari anak – anak yang kurang mampu dari segi ekonomi dan tidak mampu membayar uang sekolah. Dalam proses belajar mengajar guru juga mengatakan kebanyakan anak – anak mengantuk dalam kelas sewaktu mengikuti pelajaran. Pada jam istirahat mereka bermain tidak memakai alas kaki serta jajan disembarang tempat.
Fasilitas sekolah sudah ada, tetapi menjaga kebersihan fasilitas masih kurang seperti MCK dibiarkan begitu saja dalam keadaan kotor setelah buang air besar, sampah dibuang disembarang tempat seperti samping- samping sekolah, dan parit yang alirannya tidak lancar, sehingga kalau hujan sering kali meluap.
BAHAN DAN METODE
Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Juli 2016 dan bertempat di Sekolah Dasar Negeri Kelurahan Tarok Kuranji Padang. Pemeriksaan sampel tinja dilakukan di Laboratorium Zoologi Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat.
Alat yang diperlukan untuk penelitian ini adalah kaca benda, kaca penutup, botol sampel bervolume 25 ml sebanyak jumlah sampel yang diteliti, spatula, plastik selotip, kertas label, tissu, pensil, pena, buku catatan, mikroskop binokuler, pipet tetes sedangkan bahan yang diperlukan adalah tinja pagi yang akan diperiksa dan formalin 4%.
Populasi penelitian adalah anak- anak Sekolah Dasar Negeri Kelurahan Tarok Kuranji Padang dari tiga sekolah terdapat jumlah siswa keseluruhan 90 orang. SD N 34 Kuranji kelas III sebanyak 23 orang, kelas IV sebanyak 23 orang. SD N 41 Kuranji kelas III berjumlah 23 orang dan kelas IV berjumlah 21 orang. pengambilan sampel dilakukan secara total sampling dari sekolah tersebut. Penelitian menggunakan Metode Deskriptif, yaitu dengan memeriksa tinja pada Murid SDN Kelurahan Tarok Kuranji Padang. Pemeriksaan sampel tinja di lakukan Di Laboratorium Zoologi Program
Studi Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat dengan metode langsung.
HASIL
Dari hasil penelitian tentang Frekuensi Soil Transmitted Helmints Pada Murid Sekolah Dasar Negeri Keruhan Tarok Kuranji Padang dapat dilihat pada Tabel 1 :
.
Tabel 1: Frekuensi Soil Transmitted Helminths Pada Murid Sekolah Dasar Negeri Kelurahan Tarok Kuranji Padang
PEMBAHASAN
Tingginya Frekuensi STH Pada Murid Sekolah Dasar Negeri Kelurahan Tarok Kuranji Padang yaitu dengan rata – rata 66,7 % disebabkan oleh banyaknya tanah yang terkontaminasi oleh STH, dan faktor lingkungan dan kebersihan individu yang buruk, kurangnya fasilitas MCK dalam keluarga, juga kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.
Menurut Gandahusada (2004) kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja disekitar halaman rumah, dibawah pohon, ditempat mencuci, di tempat pembuangan sampah, makan tanpa cuci tangan dan bermain-main ditanah disekitar rumah maka anak akan terus menerus mendapat infeksi (Sutanto et al.,).
Tingginya infeksi Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura ini disebabkan oleh banyaknya tanah yang tercemar oleh tinja yang mengandung telur dari cacing tersebut. Menurut Gandahusada (2004) menyatakan telur Ascaris lumbricoides yang matang dalam tanah dapat bertahan hidup beberapa tahun, khususnya telur Ascaris lumbricoides Selain keadaan tanah dan iklim yang sesuai, jumlah telur yang banyak dapat bertahan hidup No Spesies STH
Jumlah siswa yang terinfeksi
Rata -rata SDN 41 SDN 34
III IV III IV 1 Ascaris
lumbricoide s
44,4 45 37,5 36,84 40,9
2 Trichuris trichiura
33,3 35 18,75 15,78 25,7 Total 77,7 80 56,25 52,62 66,7
sampai menjadi bentuk infektif, juga disebabkan kebiasaan masyarakat setempat.
Menurut sutanto et al., (2008) jumlah telur yang dihasilkan seekor cacing betina Ascaris lumbricoides 200.000 butir perhari, Trichuris trichiura 5000 perhari.
Selain suhu yang sesuai untuk berkembangnya telur menjadi bentuk infektif pada daerah 280C, juga disebabkan kebiasaan masyarakat setempat yang masih memanfaatkan parit, semak – semak disekitar perkarangan rumah untuk buang air besar. Hal ini terjadi karena mereka masih ada yang belum memiliki sarana MCK yang memadai.
Dari tingkatan infeksi yang peneliti lakukan ternyata spesies Ascaris lumbricoides adalah yang paling banyak ditemukan dengan persentase 40,9 % kerena peneliti banyak menemukan telur dan larva cacing Ascaris lumbricoides pada kedua Sekolah Dasar Negeri Kelurahan Tarok Kuranji Padang. Sedangkan infeksi spesies Trichuris trichiura adalah dengan persentase 25,7 %, seperti yang kita ketahui antara spesies Ascaris lumbricoides dengan Trichuris trichuira siklus hidup, stadium telur yang sama di tanah dan cara infeksi pada manusia yang sama yaitu dengan tertelan telur infeksi. Infeksi cacing Ascaris lumbricoides sering bersamaan dengan infeksi cacing Trichuris trichuira. Cacing Ascaris lumbricoides merupakan parasit yang sering ditemukan di daerah beriklim tropis, tetapi lebih ditemukan didaerah iklim dingin yang mempunyai keadaan tanah yang lembab dengan sanitasi yang buruk (Gandahusada, 2004). Sedangkan telur cacing tambang tidak ditemukan kemungkinan lingkungan untuk proses perkembangan larva cacing tambang tidak cocok, dan juga cacing tambang memiliki siklus hidup yang pendek serta tempat perkembangbiakan larva cacing tambang yang baik di tanah yang gembur (pasir,humus) (Gandahusada, 2004).
Pencegahan penularan terutama dengan menekankan perbaikan perilaku yang berupa kebiasaan mencuci tangan, menjaga kebersihan pribadi, menggunakan alas kaki, tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman terutama pada sayuran, dan perbaikan sanitasi lingkungan terutama jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan, pengobatan massal untuk
mempertibangkan kemungkinan kekambuhan (Widoyono, 2011).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian pada murid Sekolah Dasar Negeri Kelurahan Tarok Kuranji Padang dapat diambil kesimpulan bahwa frekuensi STH sebesar 66,7 %, untuk infeksi cacing Ascaris lumbricoides 40,9 % lebih tinggi dari Trichuris trichiura dengan Prevalensi 25,7
%.
DAFTAR PUSTAKA
Brown, H. W. 1979].. Basic Clinical Paracitology (Dasar Parasitologi Klinis). Edisi III.
Gramedia. Jakarta
Gandahusada, S.,Ilahude, H. D. dan Pribadi, W. 2004. Parasitologi Kedokteran. Edisi Ke Tiga.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.
Sutanto, L, Ismid, I. S.,Sjarifuddin, P. K.
Dan Sungkar, S. 2008.
Parasitologi Kedokteran.
Edisi Ke Empat. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.
Widoyono, 2011. Penyakit Tropis Epidemiologis Penularan
Pencegahan dan
Pemberantasannya. Erlangga:
Semarang.