PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Batasan Masalah
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
Manfaat Penelitian
- Bagi Peneliti
- Bagi Institusi
- Bagi Masyarakat
TINJAUAN PUSTAKA
- Hipertensi
- Definisi Hipertensi
- Klasifikasi Hipertensi
- Faktor Resiko Hipertensi
- Patofisiologi Hipertensi
- Penatalaksanaan Hipertensi
- Komplikasi Hipertensi
- Elektrolit
- Natrium
- Gangguan Keseimbangan Natrium
- Gangguan Keseimbangan Natrium
- Penyebab Hiponatremia
- Penyebab Hipernatremia
- Pemeriksaan Elektrolit
- Metode Elektrolit Analyzer
- Metode dan Prinsip Pemeriksaan
- Elektrolit ISE (Ion Selektive Elektrode)
Hipertensi arteri, juga disebut tekanan darah tinggi, didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik (SBP) yang berkelanjutan sebesar 140 mm Hg atau lebih dan tekanan darah diastolik (TDD) sebesar 90 mm Hg atau lebih. Hipertensi ini dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti volume plasma darah dan aktivitas hormon yang mengatur volume dan tekanan darah. Tekanan darah diastolik berhubungan dengan tekanan arteri saat jantung berelaksasi di antara detak jantung.
Berat badan merupakan faktor penentu tekanan darah pada sebagian besar kelompok etnis di segala usia. Insiden hipertensi meningkat pada mereka yang berusia lebih dari 60 tahun yang memiliki tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. e) Jenis Kelamin. Perubahan patologis yang mengubah ambang tekanan di mana ginjal mengeluarkan garam dan udara mengubah tekanan darah sistemik.
Melalui aktivitas sistem saraf simpatik, angiotensin II dan III juga menghambat sekresi natrium yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Kelebihan aldosteron menyebabkan ginjal menahan natrium dan udara, meningkatkan volume darah, dan meningkatkan tekanan darah. Kortisol meningkatkan tekanan darah melalui simpanan natrium ginjal, kadar angiotensin II, dan reaktivitas vaskular terhadap norepinefrin.
Secara umum, pada orang berusia di atas 50 tahun, tekanan darah sistolik (TDS) lebih erat kaitannya dengan faktor risiko kardiovaskular daripada tekanan darah diastolik (TDD). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemicu kerusakan organ tersebut dapat merupakan akibat langsung dari peningkatan tekanan darah pada organ tersebut atau penyebab tidak langsung, antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor angiotensin II, stres oksidatif. Penyimpangan retina yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi adalah neuropati optik iskemik, atau kerusakan saraf optik karena aliran darah yang buruk.
Di dalam tubuh, jumlah total anion dan kation adalah sama, sehingga muatan total pada tubuh adalah netral. Fungsi elektrolit dalam sel antara lain memperlancar proses metabolisme, berperan dalam kerja otot dan saraf yang memerlukan perubahan beban, serta ikut menjaga homeostatis cairan dalam tubuh. Keseimbangan elektrolit dalam tubuh tergantung pada homeostasis cairan, seperti pengaturan penyerapan, distribusi, dan sekresi cairan dan zat terlarutnya.
Hiponatremia dikatakan terjadi bila konsentrasi natrium dalam tubuh beberapa miliekuivalen atau lebih atau di bawah nilai normal (135-145 mEq/L), dan hipernatremia terjadi bila konsentrasi natrium plasma melebihi nilai normal > 135-145 mEq/L . Pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu pemeriksaan penunjang untuk penentuan kadar elektrolit dalam tubuh manusia dengan berbagai metode pemeriksaan (R.A Sacher & Mcpherson R.A, 2002).
METODE PENELITIAN
- Jenis dan Desain Penelitian
- Waktu dan Tempat Penelitian
- Waktu Penelitian
- Tempat Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Populasi Penelitian
- Sampel Penelitian
- Persiapan Penelitian
- Persiapan Alat
- Persiapan Bahan/Reagensia
- Prosedur Penelitian
- Prosedur Pengambilan Darah Vena
- Prosedur Mendapatkan Serum
- Prosedur Pemeriksaan Kadar Elektrolit (natrium)
- Prosedur yang digunakan dalam metode ISE
- Pengolahan dan Analisa Data
Data hasil pemeriksaan kadar elektrolit pada pasien hipertensi diolah secara manual dalam bentuk tabel kemudian dianalisis menggunakan uji frekuensi. Penelitian observasional dengan desain cross-sectional dilakukan dengan judul Deskripsi hasil penelitian kadar natrium pada pasien hipertensi di RSUD dr. Berdasarkan Tabel 4.1.1 frekuensi penderita hipertensi yang terkontrol kadar natriumnya lebih banyak pada laki-laki yaitu sebanyak 18 pasien (60%), sedangkan pada perempuan sebanyak 12 pasien (40%).
Berdasarkan tabel 4.1.3 di atas terlihat bahwa distribusi frekuensi pemeriksaan kadar natrium pada pasien hipertensi di dr. Muhammad Zein Painan, dapat dilihat pada penelitian ini, pertama pada tabel 4.1.3 pemeriksaan kadar natrium meningkat sebanyak 25 orang (83%). Menurut Kee (1996) dan Chris (2010), kadar natrium darah normal adalah 135-145 mmol/L, dan pada penelitian ini rata-rata kadar natrium dalam serum melebihi batas kadar normal.
Beberapa pasien hipertensi mungkin memiliki riwayat kolesterol dan penyakit ginjal selain tekanan darah tinggi dan kadar natrium yang lebih tinggi dari normal. Sedangkan pasien hipertensi dengan riwayat penyakit ginjal (kerusakan ginjal) natrium yang diserap diangkut ke ginjal oleh aliran darah. Di sini, natrium disaring dan dikembalikan ke darah dalam jumlah yang cukup untuk menjaga kadar natrium darah.
Ketika ginjal rusak, ginjal tidak dapat menyaring natrium, yang dapat meningkatkan kadar natrium dalam darah, dan ketika kadar natrium dalam darah meningkat, natrium akan menyumbat aliran darah, sehingga diameter pembuluh darah akan menyempit. dan menyebabkan tekanan darah tinggi. Dari hasil penelitian gambaran kadar natrium pada pasien hipertensi, didapatkan 25 pasien yang memiliki kadar natrium serum di atas normal yaitu >145 mmol/L. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 30 sampel pasien dengan review hasil pemeriksaan kadar natrium pada pasien hipertensi oleh dr.
Distribusi frekuensi penderita hipertensi yang dilakukan pemeriksaan kadar natrium sebagian besar adalah laki-laki, berjumlah 18 subjek (60%). Distribusi frekuensi pada pasien hipertensi yang mengontrol kadar natrium lebih besar pada lansia usia 56-65 tahun. Hasil pemeriksaan kadar natrium pada pasien hipertensi berdasarkan klasifikasi hipertensi paling banyak pada kelompok hipertensi ringan dengan frekuensi 17 subjek dan paling sedikit pada kelompok hipertensi berat dengan frekuensi 2 subjek.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
- Karakteristik Subjek Penelitian
Muhammad Zein Painan Dilihat dari kelompok umur, lanjut usia lebih banyak menderita pada kelompok umur 56-65 tahun. Muhammad Zein Painan, hasil lebih banyak yaitu abnormal dengan frekuensi 25 orang dengan rate 83,3%, sedangkan hasil normal dengan frekuensi 5 orang dengan rate 16,7%.
Pembahasan
Semakin tinggi jumlah natrium dalam tubuh maka semakin tinggi pula volume plasma, curah jantung dan tekanan darah, hal ini menyebabkan natrium mempunyai hubungan yang proporsional dengan timbulnya hipertensi (Irza, 2009). Pada Tabel 4.1.1 terlihat bahwa berdasarkan distribusi frekuensi hubungan seks, penderita hipertensi terbanyak adalah laki-laki sebanyak 18 pasien (60%), sedangkan perempuan sebanyak 12 pasien (40%). Jenis kelamin mempengaruhi perkembangan penyakit tidak menular, seperti hipertensi, dimana laki-laki memiliki tekanan darah sistolik dan diastolik yang lebih tinggi daripada perempuan.
Menurut ketiga penelitian tersebut, jenis kelamin laki-laki lebih berisiko mengalami peningkatan tekanan darah, karena pada jenis kelamin laki-laki tidak terdapat hormon seperti yang terdapat pada jenis kelamin perempuan seperti hormon estrogen, sehingga laki-laki tidak memiliki perlindungan terhadap penyakit tersebut. tidak hipertensi dan komplikasinya. Dari penjelasan mengenai kelompok umur di atas dapat dilihat pada Tabel 4.1.2 Distribusi frekuensi di RSUD dr. Meski peningkatan tekanan darah merupakan bagian normal dari proses penuaan, namun kondisi ini harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan penyakit lain yang lebih serius atau kerusakan pada organ vital lainnya.
Menunjukkan hasil terbanyak pada kelompok hipertensi ringan dengan frekuensi 17 orang, hal ini dikarenakan penderita hipertensi ringan mampu mengontrol dan mengatasi kondisi yang dapat menimbulkan stress dalam kehidupan sehari-hari, sehingga penderita hipertensi ringan jarang memiliki gejala awal mengalami stress seperti menjadi cepat bersemangat, cemas, tidak sabar, mudah tersinggung dan sulit untuk beristirahat. Sedangkan kelompok hipertensi berat dengan frekuensi 2 orang, hal ini disebabkan pada kelompok hipertensi berat memiliki riwayat keluarga hipertensi dan menderita hipertensi selama 3-4 tahun. Pada penderita hipertensi berat dan ringan untuk mengontrol dan memantau kondisi yang dapat menimbulkan stress dalam kehidupan sehari-hari.
Perbedaan kadar ureum, natrium, kalium dan klorida sebelum dan sesudah hemodialisis pada pasien penyakit ginjal kronis. Hubungan kadar klorida dengan tekanan darah pada remaja di Kecamatan Bolangitang Barat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Kadar Na+, K+, Cl- dan total kalsium serum darah serta hubungannya dengan tekanan darah pada pasien hipertensi.
Gambaran kadar elektrolit darah pada pasien stroke hemoragik dengan penurunan kesadaran yang dirawat di Bagian Neurologi RS Anutapura Palu tahun 2017.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
Hipertensi pada penduduk usia produktif di Desa Rendang Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem periode Oktober 2013.