• Tidak ada hasil yang ditemukan

gambaran stres akademik pada mahasiswa psikologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "gambaran stres akademik pada mahasiswa psikologi"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR

DI AJUKAN OLEH :

TAQWA HASANUDDIN SYAM 4512091029

SKRIPSI

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BOSOWA

2019

(2)

GAMBARAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar Sebagai Persyaratan Memperoleh Gelar

Sarjana Psikologi (S.Psi)

Oleh :

TAQWA HASANUDDIN SYAM 4512091029

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BOSOWA

2019

(3)
(4)

ii

(5)

iii

(6)

HALAMAN MOTTO

“ TABAH DAN SABARLAH AGAR KAMU SUKSES”

“ALM. HJ SITTI DAERAH

JANGAN PERNAH LARI DARI MASALAH YANG ENGKAU DAPAT, SEBAB JIKA ENGKAU LARI MENINGGALKAN MASALAHMU TANPA MENYELESAIKAN KAMU

ADALAH ORANG PENGECUT DAN ITU ADALAH AWAL DARI KEGAGALANMU SELAMANYA. TIDAK AKAN KEMBALI HARI-HARI YANG TELAH BERLALU SYUKURI

APA YANG ENGKAU DAPAT HARI INI KEDEPAN BAKALAN NIKMAT YANG AKAN KAMU DAPAT DARI SANG ILAHI

“AWWA”

iv

(7)

PERSEMBAHAN

SKRIPSI INI SAYA PERSEMBAHKAN UNTUK

1. KEDUA ORANG TUA SAYA

2. SAUDARA-SAUDARI SAYA

3. KEPONAKAN SAYA

4. KELUARGA BESAR SAYA

5. SAHABAT-SAHABAT SAYA

6. TEMAN-TEMAN BEM FAKULTAS PSIKOLOGI

7. TEMAN-TEMAN MAHASISWA PECINTA ALAM

45 Makassar ( Mapala 45 makassar )

8. Rekan- rekan perkumpulan panahan berkuda

indonesia (KPBI)

9. TEMAN-TEMAN UNIT KEGIATAN MAHASISWA

(UKM) UNIVERSITAS BOSOWA

10. ALMAMATER PSIKOLOGI

11. ALMAMATER KAMPUS UNIVERSITAS BOSOWA

v

(8)

ABSTRAK

GAMBARAN STRES AKADEMIK MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR

TAQWA HASANUDDIN SYAM 4512091029

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran stres akademik mahasiswa Psikologi Universitas bosowa Makassar. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kuantitatif deskriptif dengan subjek 266 mahasiswa psikologi universitas bosowa makassar. Dalam penelitian ini alatu ukur yang digunakan berupa skala likert yaitu stres akademik yang di adaptasi dari Lely. Penelitian ini menggunakan bantuan SPSS 22 for windows, dengan menggunakan teknik sampling probability sampling.

Dari hasil penelitian ini stres akademik mahasiswa psikologi universitas bosowa semester 3,5, dan 7 di peroleh responden sebanyak 266

Kata kunci : Stres Akademik

vi

(9)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat, hidayah, kasih sayang, waktu, kekuatan serta kesehatan yang telah diberikan kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Gambaran Stres Akademik Pada Mahasiswa Psikologi Universitas Bosowa Di Kota Makassar”.

Pembuatan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar.

Sedikit cerita dalam penulisan skripsi ini penulis mendapat banyak tantangan serta hambatan, akan tetapi berkat rahmat dari Allah SWT serta doa, bantuan, bimbingan, dorongan, semangat, kritikan dan saran sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik walaupun masih banyak kekurangan dalam penulisannya.

Pada kesempatan ini saya selaku penulis ini mengucapkan terimakasi sebesar-besarnya kepada :

1. Kedua orang tuaku yang tercinta dan tersayang, Ayahanda Syamsul Bahri dan Ibunda ku tercinta Nurlela yang telah tulus memberikan doa, dukungan serta bantuan moril dan materi sehingga saya dapat menyelesaikan studi di Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar.

2. Kepada saudara dan saudari saya, kakak ku Dewi Syulvianita Syam, Arif Setiawan, kakak kuTaufan Arfandi Syam dan kakak kuRezky Anggraeni Syam. Yang memberikan banyak bantuan dalam menyelesaikan studi saya.

3. Keponakan saya Ananda Rasyid Al Farazi dan Ananda Dinara Anandhi Putri Arif yang selalu memberikan keceriaan saat diri merasa lelah.

4. Bapak Musawwir. S.Psi., S.Pd Selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar dan selaku Penasehat Akademik yang memberikan dukungan dalam penyelesaiaan skripsi serta selalu sabar menghadapi saya saat dalam masa-masa kelam di kampus.

5. Bapak Arie Gunawan HZ. M.Psi., Psikolog., Selaku pembimbing I yang telah meluangkan waktu serta materi dalam memberikan bimbingan, pengetahuan, kritik dan saran serta kesabaran dalam membantu saya dalam menyelesaikan skripsi.

6. Ibu Minarni. S.Psi., M.A selaku pembimbing II yang selalu sabar dan ikhlas meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.

7. Pak Jufri selaku mantan staf Fakultas Psikologi yang selalu membantu di saat saya mendapat kesusahan dalam pengurusan berkas-berkas dari awal menjadi mahasiswa baru sehingga sekarang di akhir-akhir melepas status mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar.

vii

(10)

8. Ibu jerni dan ibu ira selaku staf Fakultas Psikologi yang sangat membantu dalam pengurusan berkas-berkas serta selalu sabar dan tabah menghadapi saya selaku mahasiswa yang susah di atur dan tidak tertib dalam administrasi.

9. Serta dosen-dosen fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar, Bapak Andy Budhy Rahmat M.P.si., Psikolog, Bapak Syahrul Alim S.Psi., M.A, ibu Sri Hayati, M.Psi, Psikolog, Ibu Sulasmi Sudirman S.Psi.,M.A, Ibu Hasniar Radde. S.Psi.,M.Si, Serta ibu yang paling semangat memberikan arahan dan menegur saat melakukan kesalahan ibu Titin Florentina P. M.Psi, Psikolog

10. Sahabat-sahabat yang membatu dan selalu ada saat dalam keadaaan susah ataupun senang ( Rizal Anshari Azis. SE, Apriadi Daniela, Akram Irawan, Andika Parnigotan Sinaga, Iqbal Sufiherdin, Harun Dahri, Fatriadi, Rachel)

11. Seluruh adinda-adinda ku yang telah memberika kesempatan dan waktu dalam membantu mengisi skala dan kesediaannya menjadi responden penelitian

12. Terimakasi sebesar-besaarnya kepada saudari Lely Azizah yang telah memberikan izin menggunakan Skala Stres Akademik yang telah dibuat.

13. Kepada Teman-Teman BEM Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar ( Andi Febrianto Nur Alam S.Psi, Marwan Syakir. S.Psi, Firmansyah Syaiful. S.Sos, Syahrul Nur Arafah Parantean, Rahma Dewi. S.Psi, Yunita Sari. S.Psi, Hasti Restu Sapoetra. S.Psi, Fahd Al Hariri, Yardi Yunus. S.Psi, Sri Herda Tulak. S.Psi, Ahsanul Amalia.

S.Psi, Hasny M Syakur S.Psi, Nurul Fadliah. S.Psi, Mutmahinnah.

S.Psi, Rasviandy, Andyna Maharezky, Andi Mita Putry, Ainun Pudjiastami, Ramadhan, Dwi piwanto, Yasser Sabilillah, Nunik Setyowati, Widya Wiratama, Aulia Febriani, Alqadry Alfiansyah, Nanda Arina Manasikana, Nurul Hadjra, Wulandari, Juneta Popy Rubak Allo, Riqqah Muthia Said, Viky, Asrian Basir, Wirawan, magvira Aulia, Andi keumala, Mahathir Muh, Aminuddin suwandi, Jaelani Rumansoreng, Triana Puri, Nurfadila Khumaerah, Wahyuliani Safitri Ibrahim, Rudi Abeng, Syamsurizal Apusing, Zakia Bustam, Naifah Mansyur Patta,A.alifah Nur Sosialita, Rachmadanty Mujah,Nur Indhira, Nur M Azhary, Muhammad Zulkifli, M.Dzikri Marsaoly, Al Aina, Mayang Suci Kesuma, Danu Nurfikri, Komang Arthur, Haefal, Aprianto Danu, Aksar, Ulil Albab, Bella Ramadhanti, Farah Fadhilah, Hasanah Aprilia, Greynecha Djuri, Wulanda Irwan, Rika Rahmadani, Julia Rezky , Adinda Rukman, Hanif, Alfa Rahma,) 14. Seluruh Keluarga Besar MAPALA 45 MAKASSAR ( MAHASISWA PECINTA ALAM ) yang telah memberi dukungan yang sangat berarti selama menjadi mahasiswa di Universitas 45 Makassar.

15. Seluruh Anggota KPBI Celebes (Perkumpulan Panahan Berkuda Indonesia) terima kasih atas dukungan dan binaan selama ini.

16. Seluru Anggota MARC (Makassar Archery Force) yang mendukung dan memberi masukan dalam penyusunan skripsi ini.

(11)

17. Seluruh adinda-adindaku Emperan Surga (haura, tasha, Risa, nadia, ainun, gheovan, hardianty, nadia, nades, nanda, niar, waode, haikal, iwak, caca)

18. Seluruh teman-teman UKM di Universitas Bosowa yang memberikan semangat selama proses belajar di kampus.

19. Serta Barisan para mantan pacar dan semua yang pergi tanpa sempat saya miliki.

20. Dan seluruh pihak-pihak yang tak dicantumkan satu persatu yang telah membantu, mendukung dan mendoakan kelancaran dalam proses penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan masih terdapat banyak kekurangan. Harapan saya skripsi ini dapat memberikan sumbangan pengetahuan serta bermanfaat bagi pembacanya.

Makassar, 8 Oktober 2019

Taqwa Hasanuddin Syam Penulis

(12)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... iI HALAMAN PERNYATAAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR BAGAN ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 8

a. Manfaat Teoritis ... 8

b. Manfaat Praktis ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

A. Stres ... 9

1. Pengertian Stres ... 9

2. Faktor Penyebab Stres ... 11

3. Gejala Stres ... 12 viii

(13)

4. Tahapan Stres ... 14

5. Aspek-aspek Stres ... 15

6. Definisi Stres Akademik ... 17

7. Faktor-faktor Penyebab Stres Akademik ... 18

8. Dampak Stres Akademik ... 21

B. Mahasiswa ... 23

1. Definisi Mahasiswa ... 23

C. Kerangka Konseptual ... 23

D. Bagan Kerangka Pikir ... 24

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

A. Metode Penelitian ... 25

B. Variabel Penelitian ... 25

C. Definisi Konseptual Dan Operasional Variabel penelitian 1. Defenisi Konseptual ... 25

a. Stres Akademik ... 25

2. Defenisi Operasional... 26

D. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian... 27

2. Teknik Pengambilan Sampel ... 27

E. Teknik Pengumpulan Data ... 28

a. Skala Stres Akademik ... 29

F. Uji Instrumen... 30

1. Uji Validtas ... 30

2. Uji Reliabilitas ... 33

G. Teknik Analisis Data ... 34

(14)

H. Jadwal Penelitian ... 35

I. Persiapan Penelitian ... 35

1. Pelaksanaan Penelitian ... 36

2. Pelaksanaan Skoring ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 37

A. Hasil ... 37

1. Analisis Deskriptif ... 37

B. Pembahasan ... 44

BAB V PENUTUP ... 46

A. Kesimpulan ... 46

B. Saran ... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 48

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kriteria Penilaian ... 22

Tabel 3.2 Blue Print Skala Stres Akademik ... 22

Tabel 3.3 Uji Validitas Skala Stres Akademik ... 25

Tabel 3.4 Jadwal Penelitian ... 28

Tabel 4.1 Pedoman Kategorisasi ... 30

Tabel 4.2 Deskripsi Data Penelitian ... 21

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Skor Stres Akademik ... 31

Tabel 4.3 Distribusi Stres Akademik Usia ... 33

Tabel 4.4 Distribusi Jenis Kelamin ... 34

Tabel 4.5 distribusi Semester ... 36

ix

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.4 Diagram Tingkat Stres Akademik ... 39 Gambar 4.6 Diagram Stres Akademik Berdasarkan Kategori Usia ... 40 Gambar 4.8 Diagram Jenis Kelamin Mahasiswa Psikologi Univ. Bosowa .. 41 Gambar 4.10 Diagram Semester Stres Akademik Mahasiswa Psikologi Univ.

Bosowa ... 43

x

(17)

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Bagan Kerangka Pikir

xi

(18)

LAMPIRAN

Lampiran 1. Blue Print Skala Penelitian Lampiran 2. Skala Penelitian

Lampiran 3. Tabulasi Data Penelitian

Lampiran 4. Rangkuman Kategori Responden Lampiran 5. Gambar Diagram

Lampiran 6. Uji Validitas & Uji Reliabilitas

xii

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan hidup manusia, potensi untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan ahlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara. (UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Pasal 1 Ayat 1 Tahun 2003).

Universitas perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan ilmiah dan professional dalam sejumlah disiplin ilmu tertentu. Perguruan tinggi terbuka untuk siapa saja dengan syarat memiliki atau telah menyelesaikan masa studi di SLTA dan memiliki ijazah sebagai bukti administrasi (KBBI).

Mahasiswa adalah salah satu bagian dari civitas akademika pada perguruan tinggi yang merupakan calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Untuk itu diharapkan mahasiswa perlu memiliki cara pandang yang baik, jiwa, kepribadian serta mental yang sehat dan kuat. Selayaknya pula seorang mahasiswa mampu menguasai permasalahan sesulit apapun, mempunyai cara berpikir positif terhadap dirinya, orang lain, mampu mengatasi hambatan maupun tantangan yang dihadapi dan tentunya pantang menyerah pada keadaan yang ada (Kholidah & Alsa, 2012).

1

(20)

Jika ditinjau dari tugas perkembangan, beberapa ahli berpendapat bahwa mahasiswa baru di indonesia berada pada rentang usia 17-18 tahun. Rata-rata usia mahasiswa baru di indonesia berada pada kisaran usia 17-18 tahun.

(http://www.mudu.com), berada pada fase perkembangan remaja akhir (Papalia, Olds & Feldman, 2009). Hadiantono (2006) pun mengakategorisasikan mahasiswa baru berada pada fase perkembangan remaja akhir, yakni berada pada rentang usia 18-21 tahun.

Proses pembelajaran Mahasiswa adalah mengacu pada Tri Dharma Perguruan Tinggi yang merupakan salah satu visi dan misi pada perguruan tinggi. Tri Dharma Perguruan Tinggi terdiri dari tiga poin yakni, pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengambdian kepada Masyarakat.

Stres merupakan respon atau reaksi tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan). Stres digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan interaksi berlebihan yang tidak disukai berupa respon fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap stres. World Health Organization (WHO, 2003).

Menurut selye dalam Asiyah (2014), stres adalah respon non spesifik dari beban terhadap setiap tuntutan yang dibuat atasnya.

Reaksi pertama terhadap setiap jenis stres adalah kecemasan.

Selanjutnya kecemasan itu akan diikuti oleh tahap perlawanan dan

(21)

pengerahan kimiawi dari sistem pertahanan tubuh. Bila ancaman terjadi secara berkepanjangan, maka tubuh akan kehabisan energi untu melawan ancaman itu dan sistem pertahanan tubuh akan berkurang.

Menurut Taylor (2006) stres sebagai pengalaman emosional negatif disertai perubahan reaksi biokimiawi, kognitif, fisiologis dan perilaku yang bertujuan untuk mengubah atau menyesuaikan diri terhadap situasi yang menyebabkan stres.

Kehidupan akademis di perguruan tinggi tidak dapat dipisahkan dari problematika stres yang dialami oleh mahasiswa. Stres yang sering dialami mahasiswa tersebut memiliki banyak penyebab. Bisa dikarenakan penyesuaian dengan lingkungan dan budaya baru, tuntutan akademis, hingga pengerjaan tugas mata kuliah yang diberikan oleh dosen sehingga menjadi pemicu munculnya stres akademik pada mahasiswa.

Marks (2000) mengemukakan bahwa stres merupakan kondisi dimana individu berada dalam situasi yang penuh tekanan sedangkan individu tersebut merasa tidak memampu mengatasi tekanan-tekanan yang dialaminya.

Serafino (1994) menjelaskan bahawa stres merupakan suatu kondisi yang dihasilkan ketika transaksi antar individu dengan lingkungan yang menyebabkan individu tersebut merasakan adanya ketidaksesuaian baik nyata maupun tidak antara tuntutan situasi dan

(22)

sumber-sumber dari sistem biologis, psikologis dan sosial yang terdapat dalam dirinya.

Menurut Asiyah (2014) stres dan emosi memiliki keterikatan, dimana keduanya saling mempengaruhi. Emosi sendiri merupakan hal yang sangat penting dan kompeks dalam diri individu. Stres memiliki banyak jenis, salah satunya adalah stres akademik, Stres akademik biasanya terjadi di lingkungan akademisi. Stres akademik adalah suatu respon yang muncul karena banyaknya tuntutan dan tugas yang harus di kerjakan mahasiswa.

Goodman & Lorey mengemukakan bahwa salah satu pemicu stres akademik justru sering datang dari lingkungan sekolah / Universitas yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan sehat untuk perkembangan fisik dan psikis peserta didik. Bagi sebagian perserta didik, sekolah/Universitas dengan segala elemennya justru menjadi sesuatu yang menakutkan. Elemen- elemen yang dimaksud antara lain kurikulum yang dirasa terlalu berat, cara mengajar guru/dosen yang menekan atau merendahkan, lingkungan pergaulan sebaya yang tidak sehat, serta beban tugas yang banyak dan waktu pengumpulan tugas yang sangat sedikit.

Menurut Misra (2000), mahasiswa cendrung mengalami stres berkaitan dengan perkuliahan, manajemen waktu, kesehatan dan self-imposed. Faktor penyebab stres akademik, diantranya persiapan belajar untuk ujian, tingkat persaingan, dan pencapaian standar nilai yang memuaskan. Selain itu, kegiatan beban akademik, masalah

(23)

keuangan, perubahan gaya hidup dan perkembangan konsep diri juga penyumbang bagi penyebab terjadinya stres akademi.

Menurut Rakhmawati (2014), penyebab stres akademik merupakan hal yang normal terjadi karena merupakan bagian perkembangan diri seperti menyesuaikan diri dengan tatanan sosial baru, mendapat peran dan tanggung jawab baru sebagai mahasiswa, mempunyai beban belajar dan konsep-konsep pendidikan yang berbeda dengan masa sekoloah sebelumnya.

Menurut Govaerst & Gregore (2004) stress yang paling umum dialami oleh mahasiswa merupakan stres akademik. Stres akademik dapat diartikan ssebagian suatu keadaan individu mengalami tekanan hasil persepsi dan penilaian tentang stressor akademik, yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan di perguruan tinggi.

Jika dikaitkan dengan psikolgi perkembangan mahasiswa yang berada pada masa remaja akhir stres yang dihadapi berapa kesulitan akademik (stres dalam mengola waktu belajar/ strategi belajar dan cemas menghadapi ujian serta nilai yang kurang memuaskan), konflik dengan teman sebaya, konflik dengan tenaga pengajar (guru/dosen) dan konflik dengan orang tua (Smith, 1993).

Stres di bidang akademik muncul ketika harapan untuk pencapaian prestasi akademik meningkat, baik dari orang tua, dosen ataupun teman sebaya dan harapan tersebut tidak sesuai dengan kemampuannya (Shahmohammadi, 2011).

(24)

Semakin dewasa, tantangan hidup dan tanggung jawab makin berat. Tidak terkecuali semuanya dimulai saat kita memasuki fase mahasiswa apalagi mahasiswa semester akhir yang dikejar-kejar pertanyaan, “Kapan lulus?”. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh National College Health Assesment di tahun 2014, sebanyak 33% mahasiswa yang menjalani survey, mengalami depresi selama kurang lebih setahun belakangan. Akibat depresi ini, mereka jadi kesulitan fokus belajar dan mengerjakan tugas karena terlalu mengkhawatirkan hal-hal kecil di hidup mereka.

(idntimes, 2018)

Kebanyakan mahasiswa disibukkan dengan berbagai hal selain urusan kuliahnya, misalnya 1.

menentukan prioritas kurang tepat atau agak sulit di jalankan 2. Dihadapkan akan kompetisi yang berat dari pengalaman sebelumnya. 3. Tidak dapat menyelesaikan tugas kuliah yang berat. 4. Memiliki aktivitas diluar urusan akademik Sehingga hal-hal itu akhirnya menimbulkan stress pada mereka.

(Merdeka.com, 2013)

Cara yang ditempuh mahasiswa yang mengalami stres tersebut pun berbeda-beda. Beberapa dari mereka memilih hang out dan refreshing untuk menghilangkan kepenatannya.

Ada juga yang mencoba menyemangati diri sendiri dengan mendengarkan musik atau menonton video yang memotivasi untuk semangat menjaani proses perkuliahan, sebagaimana seorang mahasiswa dan mahasiswa lain mengatasi stres sangat berkaitan dengan koping stresnya.

(25)

Berdasarkan fenomena yang terjadi di lapangan, hal tersebut sesuai dengan pengertian stres akdemik itu sendiri.

Tekanan yang tersebut dalam pengertian stres akademik bisa berasal dati tekanan internal maupun eksternal. Ketika hal tersebut terjadi , maka overload tersebut akan mengakibatkan terjadinya distress dalam bentuk kelelahan fisik atau mental, daya tahan tubuh menurun, dan emosi yang mudah meleedak-ledak. Stres yang berkepanjangan yang dialami oleh individu dapat mengakibatkan penurunan kemampuan untuk beradaptasi terhadap stres (Potter, 2005).

Dari pemaparan yang telah disebutkan, yang berkaitan dengan fenomena stres akademik di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa fakultas psikologi, maka peneliti mencoba melakukan penelitian tentang Gambaran Stres Akademik Pada Mahasiswa Psikologi Universitas Bosowa Makassar dimana dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan penelitian dan survei untuk melihat seberapa kecenderungan tingkat stres akademik yang terjadi pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Bososwa Makassar.

B. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini rumusan masalah yang ingin di jawab adalah bagaimana kecenderungan tingkat stres akademik pada mahasiswa psikologi universitas bosowa di kota Makassar.

(26)

C. Tujuan Penelitian

Mengetahui kecenderungan tingkat stres akademik yang dialami pada mahasiswa psikologi Universitas Bosowa di kota Makassar.

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini di harapkan bermanfaat secara teoritis maupun praktis terhadap pembacanya, yakni ;

1. Manfaat teoritis

a. Penelitian ini diharapkan menambah luaskan wawasan dari aspek ilmu psikologi dan dapat memberikan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang psikologi pendidikan.

b. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dalam proses pembelajar peserta didik dan tenaga pengajar.

2. Manfaat praktis

a. Sebagai bahan dasar untuk penelitian selanjutnya yang bergerak dalam dunia pendidikan.

b. Sebagai bahan evaluasi dalam proses mengembangkan dunia akademis dan organisasi di Universitas Bosowa.

c. Penelitian ini berguna untuk membatu mahasiswa dalam mengantisipasi, memanajemen dan menangani stres akademik yang akan datang.

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Stres

1. Pengertian Stres

Stres dikemukakan oleh beberapa para ahli dalam setiap disiplin ilmu dengan versinya masing-masing mulai dari ilmu biologi, psikologis hingga ilmu-ilmu sosial seperti antropologi dan sosiologi. Namun dalam berbagai definisi stres tersebut pada dasarnya Antara satu definisi dengan definisi lainnya terdapat inti persamaannya (Aldwin, 2007).

Hans Seyle (Desmita, 2009) memaparkan bahwa membagi stress menjadi tiga bentuk yakni, distress, eustress dan neustres.

Distress diasosiasikan sebagai respon terhadap stress yang bersifat tidak memuaskan dan merusak pada keseimbangan fungsi tubuh individu. Sedangkan eustress merupakan respons terhadap stres yang bersifat memuaskan yang dapat membangkitkan fungsi optimal tubuh, baik fungsi fisik ataupun fungsi psikis individu, sedangkan neustres mengacu pada respon stres individu yang bersifat netral, yang tidak memeberi akibat begatif ataupun positif, namun menyebabkan tubuh berda dalam fungsi internal yang mantap, tetap berada dalam keadaan homeostatis (Desmita, 2009).

Beradasarkan dari uraian yang diatas dapat disimpulkan bahwa stres merupakan kodisi interaksi individu dengan lingkungan yang menjadi stressor baginya dan dapat

9

(28)

menimbulkan tidak bentuk stres yakni; distress, eustress, dan neustres yang berdampak positif ataupun negative bagi seseorang yang mengalaminya.

Stres bisa diartikan sebagai suatu dampak perubahan sosial dan akibat dari suatu proses medernisasi yang biasanya diikuti oleh perkembangan teknologi, perubahan tatanan hidup, serta kompetisi antar individu yang semakin berat (Asiyah, 2014).

Serafino (1994) menjelaskan bahwa stres merupakan suatu kondisi yang dihasilkan ketika transaksi Antara individu dengan lingkungan yang menyebabkan individu tersebut merasakan adanya ketidaksesuaian baik nyata maupun tidak anatara tuntutan situasi dan sumber-sumber dari system biologi, psikologis dan sosial yang terdapat dalam dirinya. Shafer (2000) mengertikan stres sebagai gangguan pikiran dan tubuh dalam merespon tuntutan-tuntutan.

Menurut Lazarus (1976), stres merupakan keadaan psikologis individu yang disebabkan karena individu dihadapkan pada situasi internal atau eksternal.

Sedangkan Baum (1990) mendeskripsikan stres sebagai pengalaman emosional negaatif disertai perubahan reaksi biokimia, fisiologis, kognitif, dan perilaku yang bertujuan untuk mengubah atau menyesuaikan diri terhadap situasi yang menyebabkan stres.

Dari kesimpulan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa stres merupakan pengalaman emosional negative menghasilkan

(29)

respon perubahan fisiologis kognitif dan perilaku badan dimana individu tersebut merasakan ketidaksesuaian antara tuntutan situasi dan sumber dari sisitem biologis, psikologis dan sosial.

2. Faktor Penyebab Stres

Aisyah (2014) menyebutkan bahwa keadaan yang menyebabkan stres di sebut stressor, Aisyah menyebutkan bahwa stressor dibagi menjadi tiga, yaitu ;

a. Stressor fisik yang merupakan stressor atau sumber yang berasal dari fisik seseorang. Seperti keadaan yang panas, dingin, infeksi, ataupun rasa nyeri yang dirasakan tubuh.

b. Stressor psikologis yang berarti sumber stress berasal dari keadaan psikis seseorang. Seperti keadaaan rasa takut, khawatir, cemas, marah, dan kesepian.

c. Stressor sosial budaya yang bersumber dari kultur atau budaya yang menjadi latar belakang kehidupan seseorang seperti, perceraian, perselisihan dan pengangguran.

Santrock (2003) menyebutkan stres disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu ;

a. Beban yang terlalu berat

Beban yang terlalu berat menyebabkan perasaan tidak berdaya, tidak memiliki harapan yang disebabkan oleh stres akibat pekerjaan yang sangat berat dan akan membuat penderitanya merasa kelelahan fisik dan emosional.

b. Faktor Kepribadian

(30)

Tipe kepribadian A merupakan tipe yang cenderung untuk mengalami stres, dengan karakteristik kepribadian yang memiliki perasaan kompetetif, yang sangat berlebihan, kemauan yang keras, tidak sabar, mudah marah, dan sifat bermusuhan.

c. Faktor Kognitif

Sesuatu yang menimbulkan stres tergantung bagaimana individu menilai dan menginterprestasikan suatu kejadian secara kognitif. Penilian secara kognitif adalah istilah yang digunakan oleh Lazarus untuk menggambarkan interpretasi individu terhadap kejadian-kejadian dalam hidup mereka sebagai sesuatu yang berbahaya, mengancam atau menantang dan keyakinan mereka dalam menghadapi kejadian tersebut dengan efektif.

3. Gejala Stres

Goliszek (2005) membagi gejala stres menjadi tiga kategori yakni sebagai berikut;

a. Gejala fisik

Sakit kepala, nyeri otot, sakit punggung, rasa lemah, gangguan pencernaan, rasa mual, sakit perut nafsu makan hilang atau selalu ingin makan, jantung berdebar-debar.

b. Gejala emosi

Depresi, panik, khawatir, jenuh, sering menangis, marah, mimpi buruk, gelisah terhadap hal-hal kecil dan sikap agresif yang tidak normal

(31)

c. Gejala perilaku

Dahi berkerut, menggigit kuku, merokok secara berlebihan.

Asiyah (2014) menyebutkan bahwa gejala-gejala yang menandai adanya stres dapat dilihat dari indikasi sebagai berikut;

a. Gejala fisik

Gejala fisik berupa rasa lelah, susah tidur, nyeri kepala, otot kaku dan tegang terutama pada leher/tengkuk, bahu dan punggung bawah, berdebar-debar, nyeri dada, napas pendek, gangguan lambung dan pencernaan mual, gemetar, tangan dan kaki terasa dingin, wajah terasa panas, berkeringat , sering flu dan menstruasi terganggu.

b. Gejala mental

Gejala mental berupa berkurangnya konsentrasi dan daya ingat, ragu-ragu, bingung, pikiran penuh atau kosong, kehilangan rasa humor.

c. Gejala emosi

Gejala emosi dapat berupa cemas, depresi, putus asa, mudah marah, ketakutan, frustasi, tiba-tiba menangis, phobia, rendah diri, merasa tak berdaya, menarik diri dari pergaulan dan menghindari kegiatan yang sebelumnya disenangi.

(32)

d. Gejala perilaku

Gejala perilaku berupa mondar-mandir, gelisah, mengigit kuku, menggerak-gerakkan anggota badan atau jari, perubahan pola makan, merokok, minum-minuman keras, menangis, berteriak, mengumpat bahkan melempar barang atau memukul.

4. Tahapan Stres

Amberg dalam Hawari (2001) membagi beberapa tahapan- tahapan stres, yakni;

a. Stres tahap I

Merupakan tahapan stres yang paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan semangat yang besar dalam bekerja, pengelihatan tajam tidak sebagaimana biasanya, merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, disertai ada gugup yang berlebihan, merasa senang dengan pekerjaan tersebut dan semakin bertambah semngat, tanpa menyadari cadangan energi dihabiskan.

b. Stres tahap II

Pada tahap ini dampak stres yang semula

“menyenangkan” mulai menghilang dan menimbukan keluhan yang disebabkan karena kurang beristirahat.

Keluhan yang sering terjadi merasa lelah ketika bangun pagi, sering mengeluh perut tidak nyaman, detak jantung

(33)

lebih keras dari biasanya, otot-otot punggun dan tengkuk terasa tegang dan tidak bisa santai.

c. Stres tahap III

Merupakan keadaan yang akan terjadi apabila seseorang tetap memaksakan dirinya dalam pekerjaan tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap II.

Keluhan-keluhan pada tahap ini seperti gangguan usus dan lambung yang semakin nyata, ketegangan otot-otot perasaan ketdaktenangan dan ketegangan emosional yang semakin meningkat, gangguan pola tidur (insomnia), koordinasi tubuh terganggu.

5. Aspek- aspek Stres

Aspek-aspek stres menurut sarafino dan timothy (2012) ada dua, yaitu.

a. Aspek Biologis

Stres yang muncul karena dihadapkan pada kondidi atau situasi yang mengancam atau berbahaya, maka menimbulkan reaksi fisiologis dari tubuh, seperti detak jantung yang meningkat atau gemetaran.

b. Aspek Psikososial

Stres yang muncul karena pengaruh keadaan lingkungan.

Stressor akan menghasilkan perubahan-perubahan psikologis dan juga sosial induvidu, perubahan-perubahan tersebut antara lain (Sarafino & Timothy,2012):

(34)

1. Kognitif

Kondisi individu yang mengalami level stres yang tinggi cenderung mempengaruhi gangguan daya ingat, perhatian dan konsentrasi. Kebisingan dapat menjadi stressor, yang mana dapat menjadi kronis bagi indvidu yang tinggal di ligkungan bising seperti di tepi jalan raya 2. Emosi

Kondisi stres dapat menganggu kestabilan emosi individu. Individu yang mengalami stres akan menunjukkan gejala mudah marah, kecemasan yang berlebihan terhadap segala sesuatu, merasa sedih dan depresi. Sehingga individu merasa ketakutan termasuk ketidak nyamanan psikologis sehingga individu merasa terancam

3. Gejala perilaku sosial

Kondisi stres dapat memepengaruhi tingkah laku sehari-hari yang cenderung negative sehingga menimbulkan masalah dalam hubungan interpersonal serta cenderung bermusuhan dengan orang lain.

Berdasarkan dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek penting dari stres adalah bagaimana reaksi individu terhadap stres yang dialaminya. Reaksi umum terhadap stres meliputi reaksi psikologis emosi, kognitif dan perilaku sosial.

(35)

6. Definisi Stres Akademik

Gadzella & Masten (2005) mengemukakan bahwa memandang stress akademik sebagai persepsi seseorang terhadap stressor akademik dan bagaimana reaksi mereka yang terdiri dari reaksi fisik, emosi, perilaku dan kognitif terhadap stressor tersebut.

Menurut Desmita (2009) stres akademik adalah ketegangan emosional yang muncul dari peristiwa-peristiwa kehidupan di sekolah dan perasaan terancamnya keselamata atau harga diri siswa, sehingga memunculkan reaksi-reaksi fisik, psikologis dan tingkah laku yang berdampak pada penyesuaian psikologi dan prestasi akademik.

Stres akademik muncul dari hasil interaksi antara guru dan siswa, kecemasan pada hasil belajar yang didapatkan, ujian atau tes yang akan dihadapi, proses belajar dalam kelompok, pengaruh teman sebaya dalam belajar, kemampuan memanajemen waktu, dan persepsi siswa tentang kemampuan belajar yang akan mempengaruhi kinerja akademik (Lin & Chen, 2009).

Olejnik danHolschuh (2007) stres akademik adalah suatu respon yang muncul kerena terlalu banyaknya tuntutan dan tugas yang harus dikerjakan siswa. Stres akademik adalah stres yang muncul karena adanya tekanan-tekanan untuk menunjukkan prestasi dan keunggulan dalam kondisi persaingan akademik

(36)

yang semakin meningkat sehingga mereka semakin terbebani oleh berbagai tuntutan dan tekanan

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa stres akademik adalah suatu kondisi atau keadaan dimana ada ketidaksesuaian antara lingkungan dengan sumber daya aktual yang dimiliki pelajar sehingga mereka semakin terbebani oleh berbagai tekanan dan tuntutan.

7. Faktor-faktor Penyebab Stres Akademik

Alvin (2007) mengemukakan bahwa stres akademik diakibatkan oleh dua faktor yaitu eksternal dan internal.

a. Faktor internal yaitu : 1. Pola pikir

Individu yang berpikir bahwa mereka tidak dapat menegendalikan situasi mereka cenderung mengalami stres yang lebih besar. Semakin besar kendali yang seseorang pikirkan maka semakin kecil kemungkinan stres yang dialami seseorang

2. Kepribadian

Kepribadian seseorang dapat menentukan tingkat toleransinya terhadap stres. Tingkat stres yang optimis biasanya lebih kecil dibandingkan dengan seseorang yang sifatnya pesimis

3. Keyakinan

Keyakinan terhadap diri memainkan peranan penting dalam menginterprestasikan situasi-situasi disekitar

(37)

individu. Penilian yang diyakini seseorang, dapat mengubah cara berfikirnya terhadap suatu hal bahkan dalam jangka panjang dan dapat membawa stres secara psilokogis

b. Faktor Eksternal yaitu;

1. Proses belajar

Kurikulum dan sistem pendidikan telah ditambah bobotnya dengan standar yang lebih tinggi. Akibatnya persaingan semakin ketat, waktu belajar bertambah dan beban pelajaran yang semakin berlipat. Walaupun beberapa asumsi tersebut penting bagi perkembangan pendidikan dalam Negara, tetapi tidak dapat menutup mata bahwa hal tersebut menjadikan tingkat stres yang dihadapi mahasiswa meningkat pula.

2. Kegiatan yang dilakukan dengan waktu terbatas

Kegiatan yang mahasiswa sukai seperti olah raga, berpetualang di alam bebas serta bermain dengan teman sebanya, akan tetapi waktu yang mereka miiki terbatas karena kegiatan akademik yakni mengerjakan tugas kadang kala membuat mahasiswa merasa lelah dan merasa malas.

3. Tekanan untuk memperoleh prestasi

Mahasiswa sangat ditekankan bersaing untuk memperoleh prestasi yang tinggi dalam tiap bidang pelajaran dari hasil evaluasi peniliaanya akademik.

(38)

Tekanan datang dari berbagai macam misalnya dari pembimbing, dosen, teman sebaya bahkan orang tua.

Calagus (2011) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa faktor penyebab stres yang dialami mahasiswa antara lain, yaitu;

a. stres yang berhubungan dengan pendaftaran dan penerimaan perkuliahan dimana mahasiswa harus mengikut prosedur pendaftaran, mengambil atau menambahkan mata pelajaran dan validasi mata pelajaran.

b. Stres yang berkaitan dengan mata pelajaran, diantaranya mempersiapkan ujian, melewati ujian tertulis, melewati ujian lisan, lulus dalam ujian praktek, partisipasi dalam diskusi kelas, melakukan penelitian, menyelesaikan tugas dan berpartisipasi dalam kegiatan penyuluhan.

c. Stres yang berhubungan dengan metode pengajaran dosen, penyesuaian dengan dosen yang memperlakukan mahasiswanya dengan tidak adil, permasalahan dengan dosen.

d. Stres yang berasal dari teman sekelas, diantaranya adanya perdebatan dengan teman sekelas, teman sekelas yang suka menganggu, serta tingkah laku teman sekelas.

e. Stres yang behubungan dengan jadwal perkuliahan, yakni kehadiran mengikuti perkuliahan, waktu kosong

(39)

yang terlalu banyak, partisipasi dalam kegiatan ekstrakulikuler, menghadiri pertemuan organisasi dan menghadiri kegiatan kampus.

f. Stres yang berhubungan dengan ruang kelas, yakni kelas yang sangan penuh, pencahayaan yang buruk, kelas yang kotor, kelas yang bising dan gangguan dari dalam kelas dan luar kelas

g. Stres yang berhubungan dengan keuangan, yakni penganggaran keuangan, pengeluaran yang tidak terduga dan penghematan uang untuk rencana-rencana.

h. Stres yang berkaitan dengan harapan. Yakni khawatir terhadap masa depan dan mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah, harapan dari orang tua, harapan kerabat, harapan dosen dan menangani harapan diri.

8. Dampak Stres Akademik

Beberapa penelitian mengindintifikasi bahwa, meskipun berada pada tingkatan sedang kecemasan yang merupakan akibat dari stres, dapat meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan kinerja individu, pada tingkat tinggi kecemasan dapat bersifat maladaptive dan dapat berkontribusi terhadap beebagai masalah psikososial pada pelajaran. Tingkat yang terlalu tinggi dari kecemasan merupakan salah satu faktor yang penting munculnya gangguan kecemasan yaitu separation anxiety disorder, overanxious disorders, dan avoidant disorder, Kiselica (Desmita, 2009).

(40)

Stres yang tinggi akan menenujukkan lebih banyak probem tingkah laku, tidak disukai oleh orang disekitar, konsep diri yang buruk, serta sikap terhadap prestasi akademis yang rendah Kiselica (Desmita, 2009). Sejalan dengan hal demikian, diperkirakan 10% hingga 30 % mahasiswa mengalami stres akademik, mengalami penurunan prestasi belajar Jhonson (Desmita, 2009). Fiminian dan Cross (1987), juga menyakatan bahwa stress yang tinggi di sekolah lebih memungkinkan untuk menentang dan berbicara di belang guru, membuat keributan dan kelucuan di dalam kelas, serta mengalami sakit kepala dan sakit perut.

Berdasarkan dari kutipan-kutipan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, stress pada tingkatan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan perilaku maladaptive dan kecenderungan akan gangguan kecemasan dalam diri individu. Selain itu stres juga dapat menyebabkan penurunan prestasi akademik dan munculnya problem tingkah laku pada siswa.

B. Mahasiswa

1. Definisi Mahasiswa

Mahasiswa adalah seseorang yang belajar di perguruan tinggi, di dalam struktur pendidikan di Indonesia mahasiswa memegang status pendidikan tertinggi diantara yang lain (KBBI) Mahasiswa adalah seseorang yang sedang dalam proses menimba ilmu ataupun belajar dan terdaftar sedang menjalani

(41)

pendidikan pada salah satu bentuk perguruan tinggi yang terdiri dari akademik, politeknik, sekolah tinggi, institusi dan universitas (Hartija, 2012).

Mahasiswa dapat didefinisikan sebagai individu yang sedang menuntut ilmu ditinggkat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta atau lembaga lain yang setingkat dengan perguruan tinggi. Mahasiswa dinilai memiliki tingkat intelektualis yang tinggi, kecerdasan dalam berpikir dan kerencanaan dalam bertindak. Berpikir kritis dan bertindak dengan cepat dan tepat merupakan sifat yang cenderung melekat pada diri sebagian besar mahasiswa (Siswoyo, 2007).

Mahasiswa dalap tahap perkembangannya digolongkan sebagai remaja akhir dan dewasa awal, yaitu usia 18-21 tahun dan 22-24 tahun, pada usia tersebut mahasiswa mengalami masa peralihan dari remaja akhir ke dewasa awal. (Monk et. Al., 2001).

C. Kerangka Konseptual

Berdasarkan dari uraian di atas, Serafino dan Timothy (2012) menjelaskan bahwa stres merupakan suatu kondisi yang dihasilkan ketika transaksi Antara individu dengan lingkungan yang menyebabkan individu tersebut merasakan adanya ketidaksesuaian baik nyata maupun tidak. Meliputi aspek-aspek stres antara lain adalah aspek biologis (reaksi fisiologis dari tubuh), aspek psikososial yang didalamnya terdapat aspek kognisi, emosi dan perilaku sosial.

(42)

Sehingga apabila individu merasakan stres akademik dapat menurunkan prestasi akademik, hubungan yang kurang baik sesama mahasiswa dan pesimis dalam menyelesaikan studi.

D. BAGAN KERANGKA PIKIR

Gambar 2.1 Bagan kerangka pikir Mahasiswa

Psikologi Bosowa

Stres Akademik Mahasiswa

Penurunan Prestasi Akademik Penurunan Percaya

Diri

Sulit Mengambil Keputusan

(43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitaif, metode kuantitatif menggunakan data berupa angka-angka. Metode kuantitatif digunakan untuk meneliti populasi atau sampel, pengumplan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatis dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang digunakan (Sugiyono, 2014).

B. Variabel Penelitian

Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasih tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014). Hatch & Farhadi (dalam Sugiyono, 2014) menyatakan bahwa, secara teoritis variabel dapat di definisikan sebagai atribut seseorang atau obyek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain.

C. Definisi Konseptual dan Operasional Variabel Penelitian 1. Definisi konseptual

a. Stres Akademik

Serafino (1994) mengemukakan suatu kondisi yang dihasilkan ketika transaksi antara individu dengan lingkungan yang menyebabkan individu tersebut merasakan adanya

25

(44)

ketidaksesuaian baik nyata maupun tidak antara tuntutan situasi dan sumber-sumber dari sytem biologis, psikologis dan sosial yang terdapa dalam dirinya.

2. Definisi Operasional

Stres akademik merupakan suatu keadaan hasil interaksi individu dengan lingkungan pendidikan yang menjadi stressor akademik bagi individu yang dapat berdampak pada penyesuaian psikologi dan prestasi akademik individu. Stres akademik biasanya akan muncul ketika mahasiswa berinteraksi dengan lingkungan pendidikan yang meliputi institusi pendidikan, kurikulum, pengajar serta metode ujian dan penilian.

Tingkat stres pada responden dilihat dari respon individu terhadap keadaan sekarang yang sedang melanjutkan studi.

Adapun yang peneliti gunakan sebagai pedoman pengkuran meliputi aspek-aspek stres, yakni; a). gangguan kognitif dengan indikator sulit berkonsentrasi mudah lupa, dan susah mengambil keputusan. b). gangguan perilaku yang meliputi rasa malas dan penundaan pekerjaan, menurunnya produktivitas, kecenderungan berperilaku ceroboh. c). gangguan psikologis dengan indicator kecemasan dan kebingungan, muda tersinggung, perasaan frustasi dan rasa marah, perasaan terasingkan, kebosanan dan mengerjakan tugas yang berlebihan, hilangnya spontanitas dan kreativitas, serta menurunnya rasa percaya diri.

(45)

D. Populasi dan Teknik Pengambilan Sample Penelitian 1. Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2014). Berdasarkan dari data observasi dan wawancara peneliti di temukan fenomena kecenderungan stres akademik yang di alami mahasiswa Psikologi Universitas Bosowa Makassar.

2. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sample, untuk menentukan sampel yang digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan.

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling karena populasi pengambilan sampel berdasarkan seleksi khusus, peneliti membuat kriteria tertetu siapa saja yang dijadikan responden. sugiono (2001) menyatakan sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka penelitia dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi

(46)

itu, untuk sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).

Maka dalam penelitian ini penentuan sampel dari populasi menggunakan tabel krejci dengan taraf kesalahan 5% untuk menjadi sampel penelitian. Maka dari jumlah populasi mahasiswa psikologi universitas bosowa 556 sampel dibulatkan menjadi 266 sampel . Berdasarkan sampel dalam penelitian ini, kriteria subjek yang akan dijadikan wilayah generalisasi yaitu:

1. Mahasiswa Psikologi Universitas Bosowa, yaitu (2018, 2017, dan 2016)

2. Berusia antara 18 – 22 tahun

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian menggunakan skala. Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pegukuran menghasilkan data kuantitatif (Sugiyono,2014).

Jenis penskalaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penskalaan Likert. Budaji (2013) menggunakan beberapa butir pernyataan-pernyataan untuk mengukur perilaku individu dengan merespon titik pilihan pada setiap butir pernyataan, yaitu: sangat setuju (ss), setuju(s), tidak memutuskan (n), tidak setuju (st), sangat tidak setuju (sts). Namun model skala Likert pada penelitian ini hanya menggunakan empat alternatif jawaban dengan menghilangkan alternatif jawaban ragu-ragu atau tidak memutuskan

(47)

(n) untuk mencegah pendapat netral dari subjek penelitian. Skala dipisahkan menjadi pernyataan favorable dan unfavorable.

Tabel 3.1 Kriteria Penilaian

Jawaban Favourable Jawaban Unfavourable

SS (Sangat Setuju) 5 SS (Sangat Setuju) 1

S (Setuju) 4 S (Setuju) 2

N (Netral) 3 N (Netral) 3

TS (Tidak Setuju) 2 TS (Tidak Setuju) 4

STS (Sangat Tidak Setuju) 1 STS (Sangat Tidak Setuju) 5

a. Skala stress akademik

Skala stres akademik ini disusun berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Sarafino dan timothy (2012) dengan melihat aspek-aspek yang ada pada stres diantaranya aspek emosi, biologis, kognitif dan perilaku.

Tabel 3.2 Blue Print Skala Stres Akademik

Aspek Indikator No. Item Jumlah

Aitem Favo Unfavo

Emosi

Mudah tersinggung

Gilisah ketika menghadapi ujian

1

2 2

Biologis Mudah lelah 3 1

(48)

Kognitif

Berfikir negatif Prestasi menurun Kehilangan harapan Merasa diri tidak berguna Sulit mengambil keputusan

4

7,8

5 6 9

6

Perilaku

Gugup

Suka berbohong Sering membolos Tidak disiplin

Tidak peduli mata kuliah Suka menggerutu Takut bertemu dosen

10 11 13,14

15 16 18,19 21,22

12

17 20 23

14

Total aitem 23

F. Uji Instrumen 1. Uji Validitas

Validitas adalah ketepatan dan kecermatan instrumen dalam menjalankan fungsi ukurnya. Untuk mengetahui apakah skala mampu menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya, diperlukan suatu proses pengujian validitas.

Pengukuran dikatakan mempunya validitas yang tinggi apabila menghasilkan data yang secara akurat memberikan gambaran mengenai variabel yang akan di ukur. Apabila tes menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran, maka

(49)

dikatakan sebagai pengukuran yang memiliki validitas rendah (Azwar,2012).

Sebelum melakukan pengambilan data menggunakan alat tes yang telah dibuat, alat tes tersebut harus diuji apakah dapat dipercaya dan bisa mengukur apa yang ingin diukur. Untuk itu alat tes diuji menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas.

Untuk mengetahui apakah skala mampu menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya, diperlukan suatu proses pengujian validitas. Aitem-aitem yang telah diseleksi berdasarkan koefisien aitem total akan mendukung relabilitas skala, namun hal itu tidak berarti bahwa skalanya dinyatakan valid dengan sendirinya (Azwar, 2012).

Sugiyono (2010) mengemukakan bahwa validitas adalah menunjukkan derajatketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti. Uji validitas dilakukan untuk mengukur pernyataan yang ada dalam skala. Validitas suatu data tercapai apabila pernyataan tersebut mampu mengungkapkan apa yang akan diungkapkan.

Untuk mengetahui apakah skala mampu menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya, diperlukan suatu proses pengujian validitas. Aitem-aitem yang telah diseleksi berdasarkan koefisien aitem total akan mendukung relabilitas skala, namun hal itu tidak berarti bahwa skalanya dinyatakan valid dengan sendirinya (Azwar, 2012).

(50)

Skala stres akademik terdiri dari 23 aitem. Setelah dilakukan uji validitas dengan menggukan Spss 22 diperoleh ada 20 aitem yang dinyakatan jika r > r tabel maka aitem dinyakatan valid.

Tabel 3.3 Uji Validitas Skala Stres Akademik No Item r Hitung r Tabel Keterangan

Aitem 1 0.229 0.1203 Valid

Aitem 2 0.506 0.1203 Valid

Aitem 3 0.188 0.1203 Valid

Aitem 4 -0.297 0.1203 Tidak Valid

Aitem 5 0.406 0.1203 Valid

Aitem 6 0.186 0.1203 Valid

Aitem 7 -0.188 0.1203 Tidak Valid

Aitem 8 0.414 0.1203 Valid

Aitem 9 -0.18 0.1203 Tidak Valid

Aitem 10 0.36 0.1203 Valid

Aitem 11 0.633 0.1203 Valid

Aitem 12 0.463 0.1203 Valid

Aitem 13 0.695 0.1203 Valid

Aitem 14 0.64 0.1203 Valid

Aitem 15 0.536 0.1203 Valid

Aitem 16 0.681 0.1203 Valid

Aitem 17 0.588 0.1203 Valid

Aitem 18 0.528 0.1203 Valid

(51)

Aitem 19 0.573 0.1203 Valid

Aitem 20 0.448 0.1203 Valid

Aitem 21 0.484 0.1203 Valid

Aitem 22 0.588 0.1203 Valid

Aitem 23 0.398 0.1203 Valid

Berdasarkan hasil Uji Validitas diatas dapat disimpulkan bahwa dari 23 item terdapat 20 item valid yaitu aitem 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22, dan 23. Dan terdapat 3 item tidak valid yaitu aitem 4,7 dan 9.

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas mengacu kepada keterpercayaan atau konsistensi hasil ukur, yang mengandung makna seberapa tinggi kecermatan pengukuran. Reliabilitas dinyatakan dengan koefisien reliabilitas (rxx’) yang angkanya berada dalam rentang 0 sampai 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 maka dinyatakan semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya jika semakin rendah koefisien reliabilitas mendekati angka 0, maka dinyatakan semakin rendah reliabilitasnya (Azwar, 2014). Teknik pengukuran reliabilitas alat ukur menggunakan teknik alpha cronbach’s pada SPSS 22 for windows.

(52)

Nilai Tingkat Realibilitas

Nilai Cronbach Alpha Kategori

0,00 - 0,20 Sangan Rendah

0,21 – 0,40 Agak Rendah

0,41 – 0,60 Cukup Tinggi

0,61 – 0,80 Tinggi

0,81 – 1,00 Sangat Tinggi

Reliability Statistics Cronbach's

Alpha

N of Items

.823 20

Berdasarkan hasil uji reliabilitas variable Stres akademik dengan jumlah aitem 20 diperoleh signifikan 0,823. Dan hasil yang diperoleh menunjukan bahwa nilai signifikan 0,823>0.5 sehingga data yang diperoleh reliable

G. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji statistik deskriptif sebagai teknik analisis data. Statistik deskriptif adalah teknik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau menggeneralisasi (Sugiyono 2017).

(53)

H. Jadwal Penelitian

Adapun jadwal atau perancangan untuk untuk penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.4 Jadwal Penelitian

Kegiatan

Bulan Agustus

2019

September 2019

Oktober 2019 Minggu ke Minggu ke Minggu ke 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Pengumpulan data

Pengolahan data

Penyusunan Proposal dan konsultasi

I. PERSIAPAN PENELITIAN

Persiapan utama peneliti sebelum mengambil data di lapangan, yaitu perizinan yang dilakukan peneliti karena menggunakan skala terpakai kepada pembuat skala yang akan dipakai peneliti.

Pengujian validitas menggunakan SPSS 22 for windows dan reliabilitas menggunakan SPSS 22 for windows skala stres akademik yang terdiri 23 aitem, terdapat 3 aitem yang gugur atau dinyatakan tidak valid, sehingga aitem yang valid 20 aitem.

(54)

1. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian menggunakan gambaran stres akademik pada mahasiswa psikologi Universitas Bosowa Makassar, dilaksanakan dengan mengambil sampel penelitian 266 responden. Penentuan jumlah sampel ini menggunakan teknik sampling purposive sampling, yaitu merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan khusus sehingga layak dijakdikan sampel penelitian. (sugiyono, 2014).

Pelaksanaan penelitian berlangsung selama kurang lebih 2 minggu yaitu pada tanggal 28 Agustus 2019. Penyebaran skala dilakukan secara digital melalui goggle form ke beberapa mahasiswa psikologi Universitas Bosowa Makassar.

2. Pelaksanaan Skoring

Pemberian skor pada skala stres akademik dengan pilihan jawaban yang dipilih responden.Nilai-nilai tiap aitem 1-5 dengan favorable dan unfavorable. Skala yang telah diberikan nilai tiap aitemnya kemudian di jumlahkan skor tiap responden dalam skala yang telah dijawab. Setelah itu disusun tabulasi data untuk mencari koefisien validitas menggunakan bantuan SPSS 22 for windows.

(55)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL

1. Analisis Deskriptif

Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif yang bertujuan menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa maksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2012).

Hasil olahan analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan program SPSS 22 for windows. Untuk mengetahui Gambaran stres akademik pada mahasiswa psikologi universitas Bosowa Makassar peneliti menggunakan lima kategorisasi yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Adapun norma kategorisasi yang digunakan menurut (Azwar, 2012), yaitu :

Tabel 4.1

Pedoman Kategorisasi

Norma Kategorisasi yang di gunakan dalam penelitian

Frekuensi Kategori

X<34 sangat rendah

35<X<42 rendah

43 sedang

445.58 tinggi

59<X sangat tinggi

37

(56)

Tabel 4.2

Deskriptif Data Penelitian

Pada Perhitungan data penelitian Gambaran stres akademik pada mahasiswa psikologi universitas bosowa makassar, diperoleh skor minimal 23 dan skor maksimal 73 dengan standar deviasi sebesar 8,198.

Data empirik pada perhitungan variabel Gambaran stres akademik pada mahasiswa psikologi universitas bosowa makassar.

Table 4.3

Distribusi Frekuensi skor Stres Akademik Mahasiswa psikologi universitas bosowa berdasarkan kategori

Skor Frekuensi Persen(%) Kategori

X<34 20 7,5 Sangat rendah

35<X<42 55 20,7 Rendah

43 14 5,3 Sedang

445.58 154 59,4 Tinggi

59<X 19 7,1 Sangat tinggi

Total 266 100,0

Variabel N Mean Skor SD

Min Max

Gambaran stres akademik pada mahasiswa psikologi

universitas bosowa makassar

266 46.67 23 73 8.198

(57)

Pada tabel distribusi frekuensi stres akademik di atas dapat di jelaskan bahwa kategori sangat rendah memiliki skor X<34, kategori rendah memiliki skor 35<X<42, kategori sedang memiliki skor 43, kategori tinggi memiliki skor 445.58, dan untuk kategori sangat tinggi memiliki skor 59<X. Berdasarkan kategori skor tersebut, maka diperoleh subyek yang memberikan penilaian terhadap variabel stres akademik sebanyak 20 responden (7,5%) yang memiliki kategori sangat rendah, 55 responden (20,7%) yang memiliki kategori rendah, 14 responden (5,3%) yang memiliki kategori sedang, 158 responden (59,4%) yang memiliki kategori tinggi, 19 responden (7,1%) yang memiliki kategori sangat tinggi.

Gambar 4.4 Diagram Tingkat Stres Akademik

Berdasarkan diagram diatas diperoleh hasil stres akademik pada mahasiswa psikologi universitas Bosowa Makassar berada di kategori tinggi dengan presentase 59,4% dengan jumlah subyek sebanyak 158 orang.

(58)

Gambar 4.3 kategorisasi Stres Akademik Berdasarkan Usia Pada demografi usia, responden dikategorikan menjadi 2 kategori, yaitu usia 18-21 tahun, 22-25 tahun dan Adapun frekuensi data pada masing-masing kategori dapat dilihat pada tabel berikut:

Pada tabel distribusi usia atas dapat di jelaskan bahwa kategori 2 maka diperoleh subyek yang memberikan penilaian usia sebanyak 18- 21 tahun 248 responden (93,2%), Usia 22-25 tahun 18 responden (6,8%)

Gambar 4.6 Diagram Stres Akademik Berdasarkan Kategori Usia

Gambar 4.4 kategorisasi Jenis Kelamin Frequenc

y Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid 18-21 248 93.2 93.2 93.2

22-25 18 6.8 6.8 100.0

Total 266 100.0 100.0

(59)

Pada demografi Jenis responden dikategorikan menjadi 2 kategori, yaitu Laki- laki dan Adapun frekuensi data pada masing-masing kategori dapat dilihat pada tabel berikut:

Berdasarkan data diatas, maka dibuatlah kategorisasi jenis kelamin mahasiswa psikologi universitas bosowa makassar. Ada lima kategorisasi di masing-masing jenis kelamin yaitu, sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Adapun stres akademik berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat di di diagram berikut:

Gambar 4.8 Diagram jenis kelamin mahasiswa psikologi universitas bosowa makassar

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid

Laki-Laki 47 17.7 17.7 17.7

Perempuan 219 82.3 82.3 100.0

Total 266 100.0 100.0

(60)

Adapun data untuk kategorisasi jenis kelamin diperoleh sejumlah 17,7% untuk jenis kelamin laki-laki, sedangkan untuk jenis kelamin perempuan diperoleh 82,3%.

Tabel 4.5 kategorisasi Semester stres akademik Mahasiswa Psikologi universitas bosowa makassar

Pada kategorisasi semester responden dikategorikan menjadi 3 kategori, yaitu Semester 3, Semester 5 dan Semester 7. Adapun frekuensi data pada masing-masing kategori dapat dilihat pada tabel berikut

Adapun data untuk kategorisasi semester diperoleh sejumlah 266 untuk semester 3 sebanyak 128 responden (48,1%), Semester 5 100 responden (37,6%) dan semester 7 sebanyak 38 Responden (14,3).

Semester

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Semester3 128 48.1 48.1 48.1

Semester5 100 37.6 37.6 85.7

Semester7 38 14.3 14.3 100.0

Total 266 100.0 100.0

(61)

Gambar 4.10 Diagram Semester stres akademik mahasiswa psikologi universitas bosowa

B. PEMBAHASAN

Hasil kategorisasi data deskriptif yang diperoleh pada skala stres akademik menunjukan hasil bahwa subjek dalam penelitian ini yang berjumlah 266 orang mahasiswa psikologi universitas bosowa makassar dimana yang dijadikan sampel penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2016, 2017, dan 2018. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat kecenderungan tingkat stres yang dilihat dari kesusaian subjek dengan indikator-indikator stres dalam skala.

Menurut Shafer (2000), stres merupakan gangguan dari pikiran dan tubuh dalam merespon tuntutan-tuntutan. Menurut Santrock (2003), salah satu yang dapat menyebabkan stres adalah beban yang terlalu berat. Beban yang terlalu berat menyebabkan perasaan yang tidak berdaya, tidak memiliki harapan yang disebabkan oleh stres akibat beban yang sangat berat dan akan membuat penderita merasa

(62)

kelelahan secara fisik dan emosional. Dari beberapa teori tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tekanan dan tuntutan maka semakin tinggi pula kecenderungan tingkat stres yang dialami mahasiswa. Olejnik dan Holschuh (2007) menggambarkan stres akademik adalah suatu respon yang muncul karena terlalu banyaknya tuntutan dan tugas yang harus dikerjakan siswa. Stres akademik muncul karena adanya tekanan- tekanan untuk menunjukkan prestasi dan keunggulan dalam kondisi persaingan akademik yang semakin meningkat sehingga mereka semakin terbebani oleh berbagai tekanan dan tuntutan Alvin (2007).

Sedangkan menurut Gusniati (2000), stres akademik yang dialami siswa merupakan hasil persepsi yang subjektif terhadap adanya ketidaksesuaian antara tuntutan lingkungan dengan sumber daya aktual yang dimiliki siswa.

Berdasarkan dari penelitian diatas responden sangat rendah sebanyak 20 responden (7,5%), kategori rendah sebanyak 55 responden (20,7%) kategori sedang sebanyak 14 responden (5,3%), kategori tinggi sebanyak 158 responden (59,4%), dan kategori sangat tinggi sebanyak 19 responden (71%). Berdasarkan kategori dapat dilihat bahwa presentase stres akademik paling tinggi adalah presentase sebesar 59,4% dengan jumlah responden sebanyak 158 orang yang berarti mengalami stres akademik yang tinggi. Stres akademik yang tinggi berdasarkan kategorisasi jenis kelamin, tingkat stres yang tinggi dialami oleh perempuan (82,3%) sedangkan diliat kategorisasi berdasarkan semester, tingkat stres akademik yang tinggi terjadi di semester 3 (37,6%).

(63)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai “Gambaran Stres Akademik Pada Mahasiswa Psikologi Universitas Bosowa Makassar” yang dilakukan melalui penyebaran skala digital dengan menggunakan google form dari 276 responden, maka dapat disimpulkan yaitu:

1. Gambaran berdasarkan stres akademik pada mahasiswa psikologi universitas Bosowa Makassar menunjukkan tingkat stres akademik yang sangat rendah sebanyak (7,5%) mahasiswa dengan stres akademik yang rendah sebanyak (20,7%), mahasiswa yang mengalami tingkat stres akademik yang sedang sebanyak (5,3%),mahasiswa yang mengalami tingkat stres tinggi sebanyak (59,4%), sedangkan mahasiswa yang mengalami tingkat stres yang sangat tinggi sebanyak (7,1%)

2. Stres akademik Mahasiswa psikologi universitas bosowa berdasarkan kategori semester angkatan 2018 cenderung mengalami tingkat stres yang tinggi, disebabkan oleh tuntutan tugas yang meningkat serta adanya kegiatan yang diikuti diluar dari wilayah akademisi, terlihat dari pengamatan observasi serta beberapa hasil dari wawancara, disusul oleh angkatan 2017 yang mengalami tingkat stres akademik yang sedang, sedangkan angkatan 2016 tingkatan stres yang di alami saat ini rendah.

46

(64)

3. Stres akademik mahasiswa psikologi universitas bosowa di tinjau dari jenis kelamin, mahasiswa psikologi universitas bosowa laki-laki mengalami tingkat stres akademik rendah sedangkan stres akademik yang di alami perempuan tinggi,akan tetapi populasi di fakultas psikologi universitas bosowa mayoritas berjenis kelamin perempuan.

B. SARAN

Adapun saran yang diajukan oleh peneliti yaitu sebagai bahan pertimbangan sebagai berikut :

1. Bagi mahasiswa psikologi universitas bosowa diharapkan lebih lebih mampu memanajemen waktunya dalam berkegiatan baik di

lingkungan kampus ataupun diluar kampus

2. Bagi mahsiswa psikologi universitas bosowa agar kiranya dapat mampu beradaptasi dengan tuntutan-tuntutan tugas yang berat, sebab tuntutan-tuntutan-tuntutan di dunia kerja lebih berat lagi di bandingkan di dunia kampus.

3. Mahasiswa psikologi universitas bosowa diharapkan mampu mengimbangi antara organisasi ataupun akademik.

Gambar

Gambar 4.4 Diagram Tingkat Stres Akademik ...........................................
Gambar 2.1  Bagan kerangka pikir Mahasiswa
Tabel 3.1 Kriteria Penilaian
Tabel 3.3 Uji Validitas Skala Stres Akademik  No Item  r Hitung  r Tabel  Keterangan
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Tabel 1. Blue Print Kecerdasan Emosi ... Blue Print Stres Akademik ... Daftar Mata Kuliah Praktikum Fakultas Psikologi UMS ... Sebaran Aitem Skala Kecerdasan Emosi ... Sebaran

Penelitian ini dapat berguna bagi Fakultas Psikologi karena memberikan informasi tentang stres akademik yang dialami oleh mahasiswa tahun pertama dan melakukan

Fenomena yang terjadi adalah mahasiswa tidak begitu yakin dengan kemampuan yang dimiliki sehingga menyebabkan stres akademik dalam mencapai tujuan perkuliahannya.. Penelitian

Penelitian terdahulu mengenai hubungan antara variabel dukungan sosial dan stres akademik pada mahasiswa baru fakultas psikologi UIN Malang Angkatan 2015 dilakukan oleh

Setiap dimensi dari stres akademik yaitu stres terkait tekanan untuk berhasil dalam studi (PTP), stres terkait persepsi terhadap beban akademik (POW), stres

Stres akademik pada mahasiswa lebih rendah setelah diberi terapi musik dengan teknik Music and Imagery dibandingkan dengan stres akademik pada mahasiswa sebelum diberi

PERBEDAAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG MENGERJAKAN SKRIPSI DITINJAU DARI STATUS KEPEMILIKAN HEWAN PIARAAN SKRIPSI Diajukan kepada Program Studi Sarjana Psikologi Fakultas

HUBUNGAN ANTARA REGULASI DIRI DALAM BELAJAR DENGAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI PROGRAM STUDI SARJANA PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK