• Tidak ada hasil yang ditemukan

GANESHA CIVIC EDUCATION JOURNAL - Ejournal2 Undiksha

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "GANESHA CIVIC EDUCATION JOURNAL - Ejournal2 Undiksha"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

356

GANESHA CIVIC EDUCATION JOURNAL

Volume 4 Issue 2 Oktober 2022 P-ISSN : 2714-7967 E-ISSN : 2722-8304

Universitas Pendidikan Ganesha https://ejournal2.undiksha.ac.id/index.php/GANCEJ

-

TINJAUAN UMUM TENTANG KRIMINOLOGI, KENAKALAN ANAK, BALAPAN LIAR DAN PENANGGULANGAN KENAKALAN

Ni Putu Rai Yuliartini

Universitas Pendidikan Ganesha [email protected]

Info Artikel ________________

Sejarah Artikel:

Disubmit: 1 Agustus 2022 Direvisi: 3 September 2022 Diterima: 1 Oktober 2022 ________________

Keywords

:

Criminology, Juvenile Delinquency, Wild Racing

____________________

Abstrak

___________________________________________________________________

Penanggulangan balapan liar melalui sarana penal merupakan salah satu fungsionalisasi dari kebijakan hukum pidana (penal policy) khususnya pada tahap aplikasi (kebijakan yudikatif) yang dilakukan oleh aparat penegak hukum salah satunya kepolisian. Upaya penanggulangan balapan liar di Kota Singaraja melalui sarana penal lebih menitikberatkan pada sifat represif sesudah balapan liar terjadi yang merupakan upaya penindakan dan penegakan hukum terhadap pelaku balapan liar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Melalui Sarana NonPenal Upaya penanggulangan balapan liar melalui sarana nonpenal lebih menitikberatkan pada sifat pencegahan sebelum balapan liar itu terjadi, yaitu melalui upaya preemtif dan upaya preventif.

Penyelenggaraan upaya preemtif dan preventif tersebut didasarkan atas Rencana Operasi (RENOPS) Patuh dan Simpatik Polres Buleleng. RENOPS Patuh dan Simpatik Polres Buleleng dilaksanakan dengan mengedepankan kegiatan preemtif melalui pendidikan dan penyuluhan lalu lintas, dan tindakan preventif melalui pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli lalu lintas untuk mencegah terjadinya kegiatan yang mengganggu Kamseltibcar Lantas yakni salah satunya adalah balapan liar.

Abstract

___________________________________________________________________

Overcoming illegal racing through penal means is one of the functionalizations of penal policy, especially at the application stage (judicative policy) carried out by law enforcement officials, one of which is the police. Efforts to tackle illegal racing in Singaraja City through penal facilities focus more on the repressive nature after illegal racing occurs which is an effort to prosecute and enforce the law against perpetrators of illegal racing in accordance with applicable laws and regulations. Through Non-Penal Means Efforts to deal with illegal racing through non-penal means are more focused on the nature of prevention before wild racing occurs, namely through pre-emptive efforts and preventive efforts. The implementation of these pre-emptive and preventive efforts is based on the Obedient and Sympathetic Operation Plan (RENOPS) of the Buleleng Police. RENOPS Compliance and Sympathy of the Buleleng Police is carried out by prioritizing pre-emptive activities through traffic education and counseling, and preventive actions through regulation, guarding, escorts and traffic patrols to prevent activities that disturb Traffic Traffic Traffic, one of which is illegal racing.

© 2022 Universitas Pendidikan Ganesha

Alamat korespondensi:

[email protected]

P-ISSN : 2714-7967 E-ISSN : 2722-8304

(2)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -356-365

357 PENDAHULUAN

Teknologi dan industri semakin berkembang pesat, disertai dengan keinginan masyarakat untuk saling mengenal, berinteraksi dan menjalin kerja sama antara sesamanya. Hal tersebut membuat kehidupan masyarakat memiliki keterkaitan dan saling berkomplemen dengan perkembangan teknologi dan industri. Teknologi ini telah membantu umat manusia dalam berinteraksi dengan manusia yang ada pada komunitas lain dengan sangat mudah. Semakin maju dan modern teknologi yang ada pada suatu negara senantiasa akan menimbukan suatu dampak, baik yang secara langsung ataupun yang tidak langsung. Baik dalam artian positif maupun negatif dan akan sangat berpengaruh terhadap setiap sikap, tindakan dan sikap mental setiap anggota masyarakat.

Teknologi ini seakan-akan memberikan dua perspektif atau pandangan. Pada satu sisi memberikan manfaat yang besar bagi manusia dan sebagai pertanda kemajuan masyarakat, namun di sisi lain juga dapat memberikan ruang dalam memperluas perbuatanperbuatan manusia untuk melakukan kejahatan yang melewati ambang batas kewajaran dari nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Adanya dualisme perspektif terhadap perkembangan teknologi, maka salah satu hal yang perlu kita perhatikan adalah efektivitas dari kemajuan teknologi tersebut. Jika didasarkan dari perspektif kriminologi, teknologi bisa dikatakan sebagai faktor kriminogen, yaitu faktor yang menjadi penyebab timbulnya keinginan orang untuk berbuat jahat atau memudahkan terjadinya kejahatan.

Kriminologi itu sendiri adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang seluk beluk kejahatan.

Kejahatan memang merupakan gejala masyarakat yang sangat mengganggu ketenteraman, kedamaian serta ketenangan masyarakat yang seharusnya lenyap dari muka bumi ini. Namun demikian, seperti halnya siang dan malam, perempuan dan laki-laki, maka kejahatan tersebut tetap akan ada sebagai kelengkapan adanya kebaikan, kebajikan, dan sebagainya. Salah satu hasil dari kemajuan teknologi yang telah diciptakan adalah adanya kendaraan bermotor yang dapat membawa manusia dari satu tempat ke tempat lain dengan jarak yang relatif jauh tanpa harus berjalan kaki untuk mencapai tempat tersebut. Kepemilikan kendaraan bermotor menjadi suatu kebutuhan dari sebagaian besar orang sebagai sarana transportasi yang tentunya berguna untuk menunjang mobilitas dan aktivitas seseorang. Menurut Arif Budiarto dan Mahmudah, transportasi adalah pergerakan manusia, barang dan informasi dari suatu tempat ke tempat lain dengan nyaman, aman, murah, cepat dan sesuai.

Kendaraan bermotor yang sering dikendarai oleh sebagian besar masyarakat dalam kehidupan sehari-hari sebagai salah satu sarana transportasi adalah sepeda motor. Pengertian sepeda motor dapat dilihat dari beberapa sumber. Jika didasarkan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, sepeda motor diartikan sebagai sepeda besar yang dijalankan dengan motor. Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 1 angka 20 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dinyatakan bahwa: “Sepeda motor adalah kendaraan bermotor beroda dua dengan atau tanpa rumahrumah dan dengan atau tanpa kereta samping atau kendaraan bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah”. Pengguna sepeda motor dalam mengemudikan atau menggunakan kendaraan bermotor di jalan raya tentunya harus dilengkapi dengan segala surat-surat dan syarat-syarat teknis yang berhubungan dengan persyaratan dalam berlalu lintas di jalan raya. Adapun persyaratannya seperti: pengguna motor harus membawa Surat Izin Mengemudi (SIM), harus membawa Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), harus menggunakan alat pengaman kepala atau helm dan persyaratan- persyaratan teknis lain. Persyaratan dasar dan utama bagi setiap orang atau individu dalam mengendarai kendaraan bermotor secara sah dan tidak melanggar hukum di jalan raya adalah memiliki SIM. Pada ketentuan Pasal 81 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, terdapat syarat yang harus dipenuhi seseorang untuk memiliki SIM, yaitu harus memenuhi persyaratan usia, administratif, kesehatan dan lulus ujian. Dalam ketentuan pasal tersebut juga dinyatakan adanya batasan untuk memiliki atau memperoleh SIM adalah sudah berumur 17 tahun untuk memiliki SIM C dan SIM A. Pihak Kepolisian Republik Indonesia memiliki kewenangan dan kewajiban dalam menciptakan tertib lalu lintas di seluruh wilayah Republik Indonesia. Untuk itu, aparat Kepolisian berhak atau berwenang melakukan berbagai upaya dalam mewujudkan tertib berlalu lintas tersebut, seperti mengadakan inspeksi atau razia di jalan raya untuk memeriksa kelengkapan surat dalam berkendaraan. Akan tetapi dewasa ini seringkali ditemui kasuskasus pelanggaran dalam berlalu lintas, khususnya yang dilakukan oleh anak remaja dengan berbagai macam modus dan kriteria pelanggaran yang dilakukan, salah satunya adalah melakukan balapan liar di jalan raya ataupun berkendara tanpa memiliki SIM.

Pada uraian sebelumnya sudah dijelaskan bahwa segala kemanfaatan dari suatu hal yang berkembang pesat pasti salalu berdampingan dengan hal-hal yang negatif. Salah satu dampak negatif

(3)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -356-365

358

yang dapat ditimbulkan dengan adanya sepeda motor adalah banyaknya anak yang menyalahgunakan penggunaan sepeda motor tersebut untuk keperluan balapan liar di jalan raya.

Balapan liar ini nantinya dapat membahayakan keselamatan diri sendiri maupun keselamatan orang lain. Hal inilah yang menyebabkan sepeda motor sebagai sarana untuk balapan, dikatakan sebagai sisi negatif dari perkembangan teknologi. Apalagi salah satu sasaran yang sangat rentan dari adanya balapan motor liar ini adalah anak terutama anak yang baru memasuki usia remaja. Anak adalah generasi penerus suatu keluarga dan juga sebagai generasi penerus bangsa. Anak sebagai generasi penerus bangsa dan penerus pembangunan sudah sepantasnya dipersiapkan sejak kecil, dan juga hak- hak yang dimiliki oleh anak tersebut harus mendapatkan perlindungan hukum dari negara.

Kenakalan anak ini diambil dari istilah asing, yaitu Juvenile Delinquency yang berarti perilaku jahat (dursila) atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. Salah satu bentuk/wujud kenakalan anak sebagai akibat perkembangan teknologi dan industri adalah penggunaan sarana sepeda motor untuk balapan liar di jalan raya. Balapan liar adalah merupakan kegiatan beradu kecepatan tinggi (yang melebihi batas normal yang ada dalam undang-undang lalu lintas) baik itu sepeda motor ataupun mobil yang tidak sesuai dengan standar nasional ataupun standar perlengkapan, yang dilakukan di atas lintasan umum. Artinya bahwa kegiatan balapan ini dilaksanakan tanpa memiliki izin resmi dan dilakukan bukan pada lintasan balap resmi, melainkan di jalan raya. Fenomena balapan liar sebagai salah satu wujud kenakalan anak, akan menjadi masalah besar apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Balapan liar ini merupakan “perbuatan yang dilarang” dan pengaturannya terdapat dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia. Hal ini diatur dalam Pasal 297 jo Pasal 115 huruf b Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang menyatakan bahwa: setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor berbalapan di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 huruf b dipidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). Kenakalan anak seperti ini banyak kita jumpai di kota-kota besar dan bahkan sudah mulai menjamur di kota- kota kecil yang ada di setiap provinsi.

METODE PENELITIAN

Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian yang berbasis pada penelitian hukum normatif dengan melakukan pendekatan kepustakaan berupa perundang-undangan dan literatur-literatur hukum terkait dengan tindak pidana korupsi dan pendidikan anti korupsi. Penelitian normatif juga dikenal sebagai penelitian yang berbasis kepustakaan atau studi mengenai dokumen.

Penelitian ini merupakan kebalikan dari penelitian empiris (lapangan). Penelitian yang juga merupakan penelitian berlandasakan kepustakaan dengan kata lain studi atas dokumen dengan fokus tujuan pada penelitian menggunakan data sekunder yang terdapat dapat perpustakaan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Melihat kajian kriminologi yang interdisipliner, membuat para ahli hukum memberikan definisi mengenai kriminologi dalam berbagai versi sesuai dengan sudut pandang atau perspektif mereka masing-masing. Di bawah ini penulis mengutip pendapat beberapa ahli mengenai pengertian/definisi dari kriminologi.

1. W.A. Bonger W.A.

Bonger mendefinisikan kriminologi sebagai ilmu yang bertujuan menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya (kriminologi teoritis atau kriminologi murni). Kriminologi teoritis adalah ilmu pengetahuan yang berdasarkan pengalaman, yang seperti ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang sejenis, memperhatikan gejala-gejala dan mencoba menyelidiki sebab-sebab dari gejala tersebut dengan cara-cara yang ada padanya. Menyelidiki sebab- sebab dari gejalagejala kejahatan-kejahatan itu dinamakan etiologi.

2. W.E. Noach

W.E. Noach membagi pengertian kriminologi atas dua kategori, yakni kriminologi dalam arti luas dan kriminologi dalam arti sempit. Kriminologi dalam arti luas mencakup kriminologi dalam arti sempit dan kriminalistik. Dalam arti sempit, kriminologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk penjelmaan, sebab-sebab dan akibat-akibat dari kriminalitas (kejahatan dan perbuatan-perbuatan buruk). Sedangkan kriminalistik merupakan ilmu yang mempelajari kejahatan sebagai masalah teknik, sebagai alat untuk

(4)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -356-365

359

mengadakan pengejaran atau penyelidikan perkara kejahatan secara teknis dengan menggunakan ilmu-ilmu alam kimia dan lain-lain seperti ilmu kedokteran kehakiman (ilmu kedokteran/ orensic), ilmu alam kehakiman antara lain ilmu sidik jari (daktiloskopi) dan ilmu kimia kehakiman antara lain ilmu tentang keracunan (ilmu toksikologi). Masih menurut Noach, kriminologi dalam arti sempit tidak mencakup kriminalistik, sehingga hanya menunjuk pada ilmu yang mempelajari bentukbentuk, sebab-sebab dan akibat-akibat dari kejahatan.

3. Wolfgang, Savitz dan Johnston (dalam The Sociology of Crime and Delinquency)

Kriminologi adalah kumpulan ilmu pengetahuan tentang kejahatan yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan pengertian tentang gejala kejahatan dengan jalan mempelajari dan menganalisis secara ilmiah keterangan-keterangan, keseragamankeseragaman, pola-pola dan faktor-faktor kausal yang berhubungan dengan kejahatan, pelaku kejahatan serta reaksi masyarakat terhadap keduanya.

Kenakalan yang terjadi pada seorang anak, memang menjadi persoalan yang harus diselesaikan atau ditanggulangi oleh orang tuanya, supaya nantinya tidak menjadi suatu kebiasaan yang tidak baik pada diri seorang anak. Kenakalan anak ini, tidak mengenal lapisan sosial dimana anak itu berada, baik dia dari kalangan orang kaya, miskin, keluarga berpendidikan ataupun tidak, kenakalan itu pastinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari si anak. Sekarang yang menjadi persoalan adalah bagaimana caranya menghilangkan kenakalan itu, karena bentuk kenakalan yang dilakukan berbeda-beda oleh setiap anak. Adapun macam dan bentuk-bentuk kenakalan yang dilakukan oleh anak dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain:

1. Kenakalan biasa Adalah suatu bentuk kenakalan anak yang dapat berupa berbohong, pergi keluar rumah tanpa pamit pada orang tuanya, keluyuran, berkelahi dengan teman, membuang sampah sembarangan, membolos dari sekolah dan lain sebagainya;

2. Kenakalan yang menjurus pada tindakan kriminal Adalah suatu bentuk kenakalan anak yang merupakan perbuatan pidana, berupa kejahatan yang meliputi: mencuri, mencopet, menodong, menggugurkan kandungan, memperkosa, membunuh, berjudi, menonton dan mengedarkan film porno, dan lain sebagainya;

3. Kenakalan khusus Adalah kenakalan anak yang diatur dalam Undang-Undang Pidana khusus, seperti kejahatan narkotika, psikotropika, pencucian uang (Money Laundering), kejahatan di internet (Cyber Crime), kejahatan terhadap HAM dan sebagainya.

Penyebab kenakalan anak itu sangatlah kompleks. Semua pihak ikut berkontribusi/berperan terhadap munculnya kenakalan anak, baik secara aktif maupun secara pasif. Menurut Hassan Syamsi Basya, berbagai kajian mutakhir menunjukkan bahwa kenakalan anak sebagian besar disebabkan penderitaan dan perlakuan buruk yang mereka alami pada masa kecil. Secara garis besar, ada beberapa faktor penyebab yang paling mempengaruhi timbulnya kenakalan atau kejahatan anak, yaitu: faktor lingkungan, faktor ekonomi/sosial dan faktor psikologis. Semua faktor-faktor tersebut mendorong seseorang atau anak untuk melakukan perbuatan yang di dalamnya mengandung unsur niat, hasrat, kehendak, dorongan kebutuhan, cita-cita yang kemudian diwujudkan dengan lahirnya perbuatanperbuatan. Jika seorang anak salah mengaplikasikan niat ataupun hasrat mereka, maka akan timbul atau lahir perbuatan yang mengarah pada tindak pidana (kriminalitas). Menurut Romli Atmasasmita, ada 2 (dua) macam motivasi/ penyebab/pendorong terjadinya kenakalan anak, yaitu:

motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah dorongan/penyebab anak melakukan suatu kenakalan yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Jadi di sini tidak diperlukan perangsang dari luar diri si anak untuk melakukan suatu kenakalan. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah dorongan atau pengaruh yang berasal dari luar diri si anak untuk melakukan perbuatan tertentu (yang tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku).

Pencegahan dan penanggulangan terhadap suatu kenakalan tentunya harus dilakukan secara serius oleh aparat penegak hukum yang dalam pelaksanaannya dikerjakan secara terpadu dan tentunya dibantu oleh masyarakat pada umumnya. Dalam melaksanakan tugasnya itu, diperlukan berbagai upaya atau kebijakan untuk menanggulangi kenakalan yang marak terjadi di negara ini.

Upaya yang dilakukan oleh penegak hukum dalam menanggulangi kenakalan itu, tentunya melalui suatu kebijakankebijakan yang dikeluarkan oleh instansi terkait. Kebijakan dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan kenakalan termasuk dalam kebijakan kriminal. Kebijakan kriminal ini tidak terlepas dari kebijakan sosial yang terdiri dari kebijakan atau upaya untuk kesejahteraan sosial dan kebijakan atau upaya untuk perlindungan masyarakat.

(5)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -356-365

360

Secara garis besar, upaya penanggulangan kenakalan ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni lewat jalur “penal” (hukum pidana) dan melalui jalur “nonpenal” (di luar jalur pengadilan). Upaya atau kebijakan yang dirasakan paling strategis untuk dilakukan adalah melalui sarana nonpenal karena lebih bersifat preventif (pencegahan/penangkalan) dan dilakukan sebelum kejahatan terjadi.

Dan jika menggunakan sarana penal untuk menanggulangi kenakalan, maka terdapat banyak keterbatasan karena lebih menitik beratkan pada sifat represif (penindasan/

pemberantasan/penumpasan). Adapun keterbatasan kemampuan hukum pidana (penal) sebagai sarana kebijakan kriminal, adalah sebagai berkut.

1. Berbagai penyebab kenakalan yang begitu kompleks berada di luar jangkauan hukum pidana;

2. Hukum pidana hanya merupakan bagian kecil (subsistem) dari sarana kontrol sosial yang tidak mungkin mengatasi masalah kenakalan sebagai masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan yang sangat kompleks (sebagai masalah sosio-psikologis, sosio-politik, sosio-kultural, dsb);

3. Penggunaan hukum pidana dalam menanggulangi kenakalan hanya merupakan “kurieren am symptom” oleh karena itu, hukum pidana hanya merupakan “pengobatan simptomatik”

dan pengobatan kausatif;

4. Sanksi pidana merupakan “remidium” yang mengandung sifat kontradiktif/paradoksal dan mengandung unsur-unsur serta efek sampingan yang negatif;

5. Sistem pemidanaan bersifat fragmentair dan individu/personal, tidak bersifat struktural/fungsional;

6. Keterbatasan jenis sanksi pidana dan sistem perumusan sanksi pidana yang bersifat kaku dan imperatif;

7. Bekerjanya/berfungsinya hukum pidana memerlukan sarana pendukung yang lebih bervariasi dan lebih menuntut biaya yang tinggi

Berkaitan erat dengan upaya pencegahan dan penanggulangan kenakalan secara umum, maka diperlukan penegakan norma-norma sentral di dalam masyarakat sebagai salah satu politik kriminal yang dilakukan. Karena melaksanakan politik kriminal berarti melakukan pemilihan terhadap alternatif-alternatif yang ada, mana yang paling cocok atau efektif untuk dilaksanakan dalam usaha penanggulangan kenakalan.

Usaha dan kebijakan untuk merumuskan peraturan hukum pidana yang baik pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari tujuan penanggulangan kenakalan. Jadi kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian dari politik kriminal. Dengan perkataan lain, dilihat dari sudut politik kriminal, maka politik hukum pidana identik dengan pengertian “kebijakan penanggulangan kenakalan dengan hukum pidana. Upaya penanggulangan kenakalan melalui kebijakan hukum pidana (penal policy) sebenarnya juga merupakan bagian dari penegakan hukum yang ada di masyarakat. Dimana tujuan dari penegakan hukum ini adalah perlindungan terhadap masyarakat.

Sehingga perlu diketahui di sini bahwa kebijakan penal merupakan bagian dari kebijakan sosial.

Karena kebijakan sosial ini memiliki dua tujuan, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberikan perlindungan kepada masyarakat.

Penanggulangan kenakalan melalui sarana penal, tentunya harus kita lihat beberapa permasalahan utama yang perlu diperhatikan dalam pengambilan suatu kebijakan sebagai suatu usaha penanggulangan kenakalan. Adapun dua masalah utama dalam menggunakan sarana penal ini adalah:

1. perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindak pidana;

2. apa yang sebaiknya digunakan atau dikenakan kepada si pelanggar.

Melihat penjelasan/uraian di atas, maka penggunaan sarana penal masih sangat diperlukan keberadaannya, yaitu untuk mengendalikan dan mengurangi terjadinya tindak pidana. Dan dalam pelaksanaannya harus tetap dilakukan dengan penuh kehati-hatian, selektif, cermat dan manusiawi.

Sehingga apa yang menjadi tujuan dari kebijakan kriminal, yaitu melindungi masyarakat dan terciptanya kesejahteraan masyarakat dapat terwujud.

Kebijakan nonpenal dalam penanggulangan kenakalan merupakan salah satu bagian dari kebijakan kriminal, yaitu suatu usaha yang rasional dalam menanggulangi kejahatan.90 Sarana nonpenal ini pada dasarnya merupakan tindakan preventif, mulai dari pendidikan kode etik sampai dengan pembaharuan hukum perdata dan hukum administrasi. Tujuan utama dari usaha-usaha nonpenal ini adalah memperbaiki kondisi-kondisi sosial tertentu yang secara tidak langsung mempunyai pengaruh preventif terhadap kejahatan. Dengan demikian, dilihat dari sudut politik

(6)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -356-365

361

kriminal, keseluruhan kegiatan preventif yang nonpenal itu sebenarnya mempunyai kedudukan yang sangat strategis memegang kunci yang harus diintensifkan dan diefektifkan.

KESIMPULAN

Penanggulangan balapan liar melalui sarana penal merupakan salah satu fungsionalisasi dari kebijakan hukum pidana (penal policy) khususnya pada tahap aplikasi (kebijakan yudikatif) yang dilakukan oleh aparat penegak hukum salah satunya kepolisian. Upaya penanggulangan balapan liar di Kota Singaraja melalui sarana penal lebih menitikberatkan pada sifat represif sesudah balapan liar terjadi yang merupakan upaya penindakan dan penegakan hukum terhadap pelaku balapan liar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Melalui Sarana NonPenal Upaya penanggulangan balapan liar melalui sarana nonpenal lebih menitikberatkan pada sifat pencegahan sebelum balapan liar itu terjadi, yaitu melalui upaya preemtif dan upaya preventif. Penyelenggaraan upaya preemtif dan preventif tersebut didasarkan atas Rencana Operasi (RENOPS) Patuh dan Simpatik Polres Buleleng. RENOPS Patuh dan Simpatik Polres Buleleng dilaksanakan dengan mengedepankan kegiatan preemtif melalui pendidikan dan penyuluhan lalu lintas, dan tindakan preventif melalui pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli lalu lintas untuk mencegah terjadinya kegiatan yang mengganggu Kamseltibcar Lantas yakni salah satunya adalah balapan liar.

SARAN

Untuk lebih mengekspresikan hobi yang dimiliki oleh anak dalam mengendarai sepeda motornya untuk berbalapan dengan teman-temannya, maka dalam hal ini Pemerintah Daerah (pemda) Buleleng diharapkan dapat mendirikan sirkuit yang sebenarnya untuk lintasan balapan sepeda motor, sehingga anak atau remaja tidak lagi menggunakan jalan umum untuk berbalapan dengan teman-temannya.

DAFTAR PUSTAKA

Ariani, N. M. I., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Terhadap Curanmor yang dilakukan Oleh Anak di Kabupaten Buleleng (Studi Kasus Perkara Nomor: B/346/2016/Reskrim). Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 71-80.

Astuti, N. K. N., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Implementasi Hak Pistole Terhadap Narapidana Kurungan Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Singaraja. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(1), 37-47.

Brata, D. P., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Tinjauan Yuridis Asas Sidang Terbuka Untuk Umum Dalam Penyiaran Proses Persidangan Pidana. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(1), 330-339.

CDM, I. G. A. D. L., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Penjatuhan Sanksi Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pembunuhan (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Singaraja Dalam Perkara NO. 124/PID. B/2019/PN. SGR). Jurnal Komunitas Yustisia, 3(1), 48-58.

Cristiana, N. K. M. Y., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Peran Kepolisian Sebagai Penyidik Dalam Penyelesaian Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Kabupaten Karangasem. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 78-87.

Dwiyanti, K. B. R., Yuliartini, N. P. R., SH, M., Mangku, D. G. S., & SH, L. M. (2019). Sanksi

Pidana Penyalahgunaan Narkotika Dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009

Tentang Narkotika (Studi Putusan Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Oleh

Anggota Tni Atas Nama Pratu Ari Risky Utama). Jurnal Komunitas

Yustisia, 2(1).

(7)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -356-365

362

Hati, A. D. P., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Tinjauan Yuridis Terkait Permohonan Suntik Mati (Euthanasia) Ditinjau Dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 134-144.

Parwati, N. P. E., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Kajian Yuridis Tentang Kewenangan Tembak Di Tempat Oleh Densus 88 Terhadap Tersangka Terorisme Dikaitkan Dengan HAM. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 191-200.

Pratiwi, L. P. P. I., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Pengaturan Terhadap Kedudukan Anak Di Luar Kawin Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(1), 13-24.

Prawiradana, I. B. A., Yuliartini, N. P. R., & Windari, R. A. (2020). Peran Kepolisian Dalam Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Narkotika Di Kabupaten Buleleng. Jurnal Komunitas Yustisia, 1(3), 250-259.

Hartana, H. (2020). Existence And Development Group Companies In The Mining Sector (PT.

Bumi Resources Tbk). Ganesha Law Review, 2(1), 54-69.

Hartana, H. (2019). Initial Public Offering (Ipo) Of Capital Market And Capital Market Companies In Indonesia.Ganesha Law Review, 1(1), 41-54.

Hartana, H. (2016). Hukum Perjanjian (Dalam Perspektif Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara). Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 2(2).

Hartana, H. (2017). Hukum Pertambangan (Kepastian Hukum Terhadap Investasi Sektor Pertambangan Batubara di Daerah). Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 3(1), 50- 81.

Hartana, H. (2022). PENGATURAN PEMBATASAN EKSPANSI PERUSAHAAN GROUP DI SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA DITINJAU DARI UNDANG-

UNDANG NO. 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN

TERBATAS. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 8(1), 233-243.

Hartana, H. (2021). Regulation of Group Company Expansion Restrictions in the Coal Mining Sector Viewed from Indonesian Laws and Regulations. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 7(2), 520-526.

Hartana, H. (2020). IMPLICATION OF GROUP COMPANY EXPANSION TO MONOPOLY PRCTICE AND UNFAIR BUSINESS COMPETITION (Study Case: Coal Mining Industry). Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 6(1), 161-175.

Purwanto, K. A. T., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Implementasi Perlindungan Hukum Terhadap Narapidana Sebagai Saksi Dan Korban Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-B Singaraja. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 113-123.

Putra, A. S., Yuliartini, N. P. R., SH, M., Mangku, D. G. S., & SH, L. M. (2019). Sistem

Pembinaan Terhadap Narapida Narkotika Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB

Singaraja. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(1).

(8)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -356-365

363

Putra, I. P. S. W., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Kebijakan Hukum Tentang Pengaturan Santet Dalam Hukum Pidana Indonesia. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(1), 69-78.

Sanjaya, P. A. H., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Perlindungan Hukum Terhadap Gedung Perwakilan Diplomatik Dalam Perspektif Konvensi Wina 1961 (Studi Kasus Ledakan Bom Pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yang Dilakukan Oleh Arab Saudi Di Yaman). Jurnal Komunitas Yustisia, 2(1), 22-33.

Sant, G. A. N., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Perlindungan Hukum Terhadap Korban Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika di Kabupaten Buleleng. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(3), 71-80.

Yuliartini, N. P. R. (2016). Eksistensi Pidana Pengganti Denda Untuk Korporasi Dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia. Jurnal IKA, 14(1).

Yuliartini, N. P. R. (2019). Kenakalan Anak dalam Fenomena Balapan Liar di Kota Singaraja Dalam Kajian Kriminologi. Jurnal Advokasi, 9(1), 31-43.

Yuliartini, N. P. R. (2019). Legal Protection For Victims Of Criminal Violations (Case Study Of Violence Against Children In Buleleng District). Veteran Law Review, 2(2), 30- 41.

Lindasari, L. E., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Perlindungan Hukum Terhadap Gedung Perwakilan Diplomatik Ditinjau Dari Perspektif Konvensi Wina 1961 (Studi Kasus: Bom Bunuh Diri Di Kabul Afghanistan Dekat Kedutaan Besar Amerika Serikat). Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 8(3), 29-41.

Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Diseminasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Dalam Peningkatan Kesadaran Hukum Masyarakat Di Desa Sidetapa Terkait Urgensi Pencatatan Perkawinan Untuk Memperoleh Akta Perkawinan. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 8(1), 138-155.

Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Penggunaan Media Sosial Secara Bijak Sebagai Penanggulangan Tindak Pidana Hate Speech Pada Mahasiswa Jurusan Hukum Dan Kewarganegaaan Fakultas Hukum Dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Media Ganesha FHIS, 1(1), 57-62.

Santosa, I. K. D., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2021). Pengaturan Asas Oportunitas Dalam Sistem Peradilan Pidana Di Indonesia. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 9(1), 70-80.

Mangku, D. G. S. (2012). Suatu Kajian Umum tentang Penyelesaian Sengketa Internasional Termasuk di Dalam Tubuh ASEAN. Perspektif, 17(3).

Febriana, N. E., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Upaya Perlawanan (Verzet)

Terhadap Putusan Verztek Dalam Perkara No. 604/PDT. G/2016/PN. SGR Di

Pengadilan Negeri Singaraja Kelas 1B. Ganesha Law Review, 2(2), 144-154.

(9)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -356-365

364

Dewi, I. A. P. M., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Penegakan Hukum Terhadap Anak Dalam Pelanggaran Lalu Lintas Yang Menyebabkan Hilangnya Nyawa Orang Lain Di Kota Singaraja. Ganesha Law Review, 2(2), 121-131.

Rosy, K. O., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Peran Mediasi Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Adat Setra Karang Rupit Di Pengadilan Negeri Singaraja Kelas 1B. Ganesha Law Review, 2(2), 155-166.

Dana, G. A. W., Mangku, D. G. S., & Sudiatmaka, K. (2020). Implementasi UU Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Terkait Peredaran CD Musik Bajakan Di Wilayah Kabupaten Buleleng. Ganesha Law Review, 2(2), 109-120.

Mangku, D. G. S. (2021). Roles and Actions That Should Be Taken by The Parties In The War In Concerning Wound and Sick Or Dead During War or After War Under The Geneva Convention 1949. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 7(1), 170-178.

Itasari, E. R. (2015). Memaksimalkan Peran Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia 1976 (TAC) Dalam Penyelesaian Sengketa di ASEAN. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 1(1).

Itasari, E. R. (2020). Border Management Between Indonesia And Malaysia In Increasing The Economy In Both Border Areas. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 6(1), 219- 227.

Sugiadnyana, P. R., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Penyelesaian Sengketa Pulau Batu Puteh Di Selat Johor Antara Singapura Dengan Malaysia Dalam Perspektif Hukum Internasional. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 6(2), 542-559.

Nasip, N., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Implementasi Pasal 14 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemsyarakatan Terkait Hak Narapidana Mendapatkan Remisi Di Lembaga Pemasyasrakatan Kelas II B Singaraja. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 6(2), 560-574.

Sakti, L. S., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Tanggung Jawab Negara Terhadap Pencemaran Lingkungan Laut Akibat Tumpahan Minyak Di Laut Perbatasan Indonesia Dengan Singapura Menurut Hukum Laut Internasional. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(3), 131-140

Anggreni, I. A. K. Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Analisis Yuridis Pertanggungjawaban Pemimpin Negara Terkait Dengan Kejahatan Perang Dan Upaya Mengadili Oleh Mahkamah Pidana Internasional (Studi Kasus Omar Al- Bashir Presiden Sudan). Jurnal Komunitas Yustisia, 2(3), 81-90.

Arianta, K., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Perlindungan Hukum Bagi Kaum Etnis Rohingya Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia Internasional. Jurnal Komunitas Yustisia, 1(1), 93-111.

Daniati, N. P. E., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2021). Status Hukum Tentara Bayaran

Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter

Internasional. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(3), 283-294.

(10)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -356-365

365

GW, R. C., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2021). Pertanggungjawaban Negara Peluncur Atas Kerugian Benda Antariksa Berdasarkan Liability Convention 1972 (Studi Kasus Jatuhnya Pecahan Roket Falcon 9 Di Sumenep). Jurnal Komunitas Yustisia, 4(1), 96-106.

Setiawati, N., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Penyelesaian Sengketa Kepulauan Dalam Perspektif Hukum Internasional (Studi Kasus Sengketa Perebutan Pulau Dokdo antara Jepang-Korea Selatan). Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 241-250.

Utama, I. G. A. A., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2021). Yurisdiksi International Criminal Court (ICC) Dalam Penyelesaian Kasus Rohingnya Dalam Perspektif Hukum Internasional. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(3), 208-219.

Widayanti, I. G. A. S., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Penggunaan Tentara Anak Dalam Konflik Bersenjata Ditinjau Dari Perspektif Hukum Humaniter Internasional (Studi Kasus: Konflik Bersenjata di Sri Lanka). Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 124-133.

Wiratmaja, I. G. N. A., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Penyelesaian Sengketa Maritime Boundary Delimitation Di Laut Karibia Dan Samudera Pasifik Antara Costa Rica Dan Nicaragua Melalui Mahkamah Internasional. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(1), 60-69.

Mangku, D. G. S. (2013). Kasus Pelanggaran Ham Etnis Rohingya: Dalam Perspektif ASEAN. Media Komunikasi FIS, 12(2).

Mangku, D. G. S. (2010). Pelanggaran terhadap Hak Kekebalan Diplomatik (Studi Kasus

Penyadapan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yangon Myanmar

berdasarkan Konvensi Wina 1961). Perspektif, 15(3).

Referensi

Dokumen terkait

Bahkan hal tersebut dibuktikan bahwa pemberian pendidikan anti korupsi baru diberikan pada jenjang pendidikan tinggi sebagaimana diwajibkan pada semua perguruan tinggi dinilai kurang