• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gangguan Sistem Endokrin: Diabetes Melitus

N/A
N/A
Nesya Silvia Pramesti

Academic year: 2025

Membagikan "Gangguan Sistem Endokrin: Diabetes Melitus"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PAPER

GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah 2

Dosen Pengampu: Chandra Bagus Ropyanto S.Kp., M.Kep., Ns.Sp.KMB

Disusun oleh : Kelompok 1

Farik Satria Manggala 22020121130081 Fisca Meita Lutfiandini 22020121130097 Hawwin Nuzula Mahya 22020121140182 Laela Nur Rohmah 22020121140172 Nesya Silvia Pramesti 22020121130105 RA Annisya Amelia D 22020121140188 Rima Stefani 22020121120018 Salma Tri Hartanti 22020121120027 Tri Anisa Hartini 22020121130087 Lusiana Seriana Angka 22020123187010

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO 2023

(2)

A. Gangguan Pada Sistem Endokrin : Diabetes Melitus

Sistem endokrin merupakan sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang bersirkulasi di tubuh dan setiap hormonnya bekerja secara spesifik terhadap organ atau jaringan tertentu, salah satunya adalah hormon insulin yang diproduksi oleh sel beta kelenjar pankreas. Hormon insulin merupakan hormon utama yang memegang regulasi glukosa dalam darah (Arifin, Z., & Utami, K., 2022).

Sistem endokrin berperan penting dalam mempertahankan dan mengatur fungsi-fungsi tubuh, seperti metabolisme, homeostatik ionik, tumbuh kembang, dan reaksi terhadap cedera atau stres. Apabila terjadi gangguan atau stres, sistem endokrin akan terpacu untuk mempertahankan kehidupan melalui sistem yang berantai.

Mekanisme utama yang berperan pada proses tersebut adalah sumbu (aksis) hipotalamus → hipofisis → adrenal. Sehingga terdapat dua mekanisme untuk penyakit pada sistem endokrin, yaitu gangguan yang menyebabkan perubahan kadar hormon dan gangguan yang terjadi pada reseptor.

Penyakit pada sistem endokrin dapat dijelaskan melalui aktivitas metabolik dari hormon-hormon yang terlibat. Penyakit pada sistem endokrin ini dapat muncul akibat adanya kekurangan atau kelebihan pada produksi hormon. Sebagai contoh, beberapa bentuk diabetes melitus tipe 2 terjadi akibat dari berkurangnya kepekaan jaringan perifer terhadap kerja insulin yang disebabkan karena berkurangnya jumlah atau afinitas reseptor insulin.

Diabetes Melitus sendiri merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia kronis akibat gangguan kerja insulin, sekresi insulin, maupun keduanya. Penyakit ini dibedakan menjadi 2 tipe yaitu Diabetes Melitus tipe 1 dan Diabetes Melitus tipe 2

1. Diabetes Melitus Tipe 1

Diabetes Mellitus (DM) tipe 1 atau yang dulu dikenal dengan nama Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) merupakan penyakit yang terjadi sebagai akibat proses autoimun yang menyerang sel β pankreas sehingga menyebabkan berkurangnya jumlah produksi hormon insulin. Bila kerusakan sel beta pankreas telah mencapai 80-90% maka gejala DM mulai muncul. Tipe ini merupakan kondisi di mana hormon insulin tidak bekerja sebagaimana fungsinya sehingga penderita menjadi ketergantungan terhadap insulin.

(3)

Pada penderita DM tipe 1 akan mengalami poliuria (air kencing keluar banyak) dan polydipsia (rasa haus yang berlebih) yang disebabkan karena osmolalitas serum yang tinggi akibat kadar glukosa serum yang meningkat. Penderita DM tipe 1 juga akan mengalami anoreksia dan polifagia (rasa lapar yang berlebih) yang terjadi karena glukosuria yang menyebabkan keseimbangan kalori negatif.

Penderita DM tipe 1 akan mengalami keletihan (rasa cepat lelah) dan kelemahan yang disebabkan akibat penggunaan glukosa oleh sel yang menurun. Selain itu, pada kulit pasien DM tipe 1 juga akan mengalami kering, lesi kulit atau luka yang lambat sembuhnya, dan rasa gatal pada kulit.

2. Diabetes Melitus Tipe 2

Berbeda dengan DM tipe 1, tipe ini merupakan kondisi resistensi insulin dan defisiensi insulin yang kondisi umumnya ditandai dengan adanya hiperglikemia. DM tipe 2 ini merupakan kondisi umum yang paling banyak ditemui di masyarakat dengan 80% dari 90% kasus DM merupakan pasien dengan DM tipe 2. Kondisi resistensi insulin pada penderita DM tipe 2 ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti obesitas, kurang olahraga, peningkatan diet tinggi lemak dan kurang sehat, usia, dan faktor genetik (Prawitasari, 2019).

DM tipe 2 ini mengakibatkan penderita mengalami gangguan penyerapan glukosa pada sel otot dan lemak, penekanan produksi glukosa di hati tidak sempurna, dan kegagalan pengambilan trigliserida oleh lemak. Untuk mengatasinya, pankreas akan meningkatkan jumlah sekresi insulin, selanjutnya mempercepat produksi glukosa endogen atau glukosa puasa terganggu. Kondisi resistensi ini mengakibatkan hiperinsulinemia setidaknya di tahap awal dan pertengahan penyakit, resistensi insulin hati mendorong terjadinya hiperglikemia (Prawitasari, 2019).

B. Gangguan Sistem Endokrin Berhubungan dengan Aktivitas Istirahat dan Tidur.

Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi.

Menurut Vanes (2009) tidur merupakan periode istirahat yang berlangsung secara berkala melalui beberapa tahap mulai dari adanya penurunan kesadaran sampai dengan tidak adanya aktivitas. Tidur berfungsi untuk mempertahankan status kesehatan yang optimal melalui periode istirahat untuk menyimpan dan menyiapkan energi untuk kegiatan berikutnya. Aktivitas fisik yang kurang mempengaruhi penggunaan glukosa sebagai sumber energi sehingga mengakibatkan kadar glukosa darah tetap tinggi dalam

(4)

sirkulasi. Aktivitas fisik dapat membantu penderita diabetes melitus mencapai berbagai tujuan termasuk peningkatan kebugaran kardiorespirasi, meningkatkan pengontrolan kondisi glikemik, menurunkan resistensi terhadap insulin, meningkatkan profil lipid, menurunkan tekanan darah, dan menurunkan berat badan (sigal et al., 2018)

Tidur adalah suatu keadaan tidak sadar yang dialami seseorang yang dapat dibangunkan kembali dengan indera atau rangsangan yang cukup. Setiap individu membutuhkan jumlah yang berbeda untuk tidur. Tanpa jumlah tidur yang cukup, kemampuan untuk berkonsentrasi, membuat keputusan, dan berpartisipasi dalam aktivitas harian akan menurun, dan meningkatkan iritabilitas. Durasi dan kualitas tidur beragam diantara orang-orang dari semua kelompok usia. Pada orang dewasa cukup tidur selama 6-8 jam sehari, bergantung pada kebiasaan yang membekas semasa perkembangan menjelang dewasa.

Manusia dapat mengembangkan aktivitasnya sesuai dengan kualitas tidur yang dialaminya. Dengan siklus tidur-bangun itu maka manusia dapat memelihara kesegarannya, kebutuhan dan metabolisme seluruh tubuh sepanjang usianya, namun pada pasien penderita diabetes mellitus, umumnya mengeluh sering berkemih, merasa haus, merasa lapar, rasa gatal-gatal pada kulit, dan keluhan fisik lainnya seperti mual, pusing dan lain-lain. Gejala klinis tersebut, dapat menyebabkan penderita penyakit diabetes mellitus tentu dapat mengganggu aktivitas istirahat dan tidurnya. Terjadinya gangguan tidur akan berdampak pada meningkatnya frekuensi terbangun, sulit tertidur kembali, ketidakpuasan tidur yang akhirnya mengakibatkan penurunan kualitas tidur.

Disamping itu, kurang tidur selama periode yang lama dapat menyebabkan semakin buruk penyakit yang ada, serta berdampak pada lamanya proses penyembuhan.

Terdapat beberapa faktor gangguan tidur yang dapat mempengaruhi kualitas tidur pada penderita Diabetes Mellitus yaitu, faktor fisik, psikososial, dan lingkungan.

1. Faktor Fisik

Pada faktor ini penderita penyakit diabetes melitus dapat menyebabkan gangguan tidur pada penderita Diabetes Mellitus meliputi nokturia (berkemih pada malam hari), sering merasa haus, sering merasa lapar, , kesemutan dan kram pada kaki, nyeri dan ketidaknyamanan fisik. Seseorang yang berulang kali terbangun untuk berkemih dapat menyebabkan sulit untuk kembali istirahat dan tidurnya. Aktivitas fisik yang kurang mempengaruhi penggunaan glukosa sebagai sumber energi sehingga mengakibatkan kadar glukosa darah tetap tinggi dalam sirkulasi. Aktivitas fisik dapat membantu penderita diabetes

(5)

melitus mencapai berbagai tujuan termasuk peningkatan kebugaran kardiorespirasi, meningkatkan pengontrolan kondisi glikemik, menurunkan resistensi terhadap insulin, meningkatkan profil lipid, menurunkan tekanan darah, dan menurunkan berat badan (sigal et al., 2018).

2. Faktor Psikososial

Faktor psikososial seseorang dapat menyebabkan gangguan tidur pada setiap individu seperti stres, perasaan cemas dan depresi Pada seseorang yang stress karena penyakit yang sedang dialaminya dapat mempengaruhi kemampuan untuk tidur. Stres yang berlanjut dapat menyebabkan kebiasaan tidur semakin memburuk.

3. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan juga bisa mempengaruhi seseorang untuk tidur dan dapat menyebabkan gangguan tidur pada setiap individu seperti suara/kebisingan, ventilasi yang baik, ruang dan tempat tidur yang nyaman, cahaya/lampu yang terlalu terang, dan suhu yang terlalu panas/terlalu dingin serta bau yang tidak nyaman. Suara dapat mempengaruhi tidur, tingkat suara yang diperlukan untuk membangunkan orang tergantung pada tahap tidur. Suara yang rendah lebih sering membangunkan seseorang dari tidur tahap 1, sementara suara yang keras membangunkan orang pada tahap tidur 3 dan 4. Level suara pada percakapan yang normal sekitar 50 dB.

C. Aktivitas yang Dapat Dilakukan Pada Pasien Dengan Diabetes Melitus

Pada pasien DM khususnya tipe 2, untuk mendapatkan proses metabolisme glukosa normal, selain diperlukan mekanisme serta dinamika sekresi yang normal, dibutuhkan pula aksi insulin yang berlangsung normal. Masalah yang mendasarinya bukan kekurangan insulin tetapi rendahnya sensitivitas atau tingginya resistensi jaringan tubuh terhadap insulin. Pengambilan glukosa oleh jaringan otot pada keadaan istirahat membutuhkan insulin, hingga disebut sebagai jaringan insulin dependent.

Sedang pada saat otot aktif, walau terjadi peningkatan kebutuhan glukosa, tapi kadar insulin tidak meningkat. Otot berkontraksi meningkatkan penyerapan glukosa darah.

Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan pada pasien diabetes berdasarkan beberapa video:

1. 3 Components for Diabetes (FAR) oleh Dr. Mohan, didapati beberapa informasi:

(6)

Tips untuk olahraga secara sederhana

a. Setting mindset yang benar mengenai olahraga b. Konsisten dan lakukan olahraga secara reguler c. Tentukan seberapa banyak melakukan olahraga d. Tentukan olahraga apa yang akan dilakukan

WHO menganjurkan untuk berolahraga 150 menit per minggunya. Misalnya jalan kaki 30 menit selama 5 hari dalam seminggu sudah cukup untuk memenuhi standar. Tetapi tidak cukup untuk mengurangi kadar gula darah. Untuk mengatasi kadar gula darah dan berat badan diperlukan jalan kaki 60 menit dalam 6 hari perminggu. Harus dilakukan secara regular agar tubuh tidak merasakan sakit.

Jangan memaksakan diri, mulailah dengan berjalan perlahan selama 20 menit. Jika memaksakan diri justru olahraga akan membuat tubuh sakit. Juga jangan membandingkan kemampuan diri dengan orang lain karena setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda. Semakin memaksakan kemampuan diri justru akan semakin menurun manfaat yang didapatkan, Justru dapat berdampak buruk seperti mencederai pergelangan kaki, otot, lutut, atau menekan jantung terlalu banyak. Hal tersebut terjadi karena asam laktat diproduksi, sehingga nyeri terasa. Lakukan secara berkesinambungan selama 21 hari agar olahraga menjadi gaya hidup.

Prinsip Olahraga FAR

a. Fleksibilitas lutut, bahu, leher agar tidak mudah cedera b. Aerobik seperti berjalan, jogging, berenang

c. Resistance Training (ketahanan otot)

Dalam artikel Sc et al (2016) didapati hasil setelah intervensi selama 3 bulan terdapat penurunan tingkat glukosa Berenang (0,75%), bersepeda (0,77%). berjalan adalah (0,85%) dan yoga (0,92%). Berjalan dan yoga lebih signifikan dibandingkan dengan berenang dan bersepeda. Bersepeda dan berenang adalah olahraga berdampak lebih rendah karena air mendukung saat berenang; dan selama bersepeda berat badan ditopang oleh jok dan stang.

2. Exercise Guidelines for Type 2 Diabetes, didapat beberapa informasi

a. Aktivitas aerobik dimulai dari 2-3 sesi aktivitas aerobik yang berfokus pada keberlanjutan gerak. Buat goal 30 menit aktivitas olahraga/hari/minggu

(7)

b. Tingkatkan goal menjadi 60 menit/hari/minggu jika memiliki target untuk mengurangi berat badan

c. Untuk latihan ketahanan lakukan 10-12 multiple-joint exercise, sebanyak 2-3 kali perminggu seperti squat, push up, lunges, lakukan 2-3 set dengan 8-12 kali repetisi

d. Stretching atau peregangan dilakukan 10-30 detik di setiap gerakan 3. Olahraga Untuk Penderita Diabetes yang Paling Tepat.

Manfaatnya adalah untuk mengontrol gula darah dan mengontrol agar tidak terjadi peningkatan yang tidak diinginkan. Jenis olahraga berupa aerobik/kardio: jalan cepat, jogging, bersepeda, berenang dan olahraga yang bersifat meningkatkan denyut nadi seperti meningkatkan kekuatan otot, squat, lunges, sit up, push up.

Frekuensi: 3-5 kali seminggu, intensitas ringan hingga sedang. Hindari lari dan lompat dan loncat. Durasi minimal 30 menit, jika ketahanan tubuh terbangun tingkatkan menjadi 1 jam. Pastikan gula darah tidak terlalu tinggi maupun rendah.

Periksa GDS sebelum olahraga, jika <100 terlalu rendah, sebaiknya potong roti atau makan permen, >250 terlalu tinggi, minum obat secara teratur.

4. Senam Kaki DM

a. Tujuan: menguatkan otot kaki pasien DM sehingga sirkulasi darah pada bagian kaki lancar dan meningkatkan fungsi otot, sehingga risiko pasien terkena luka pada bagian kaki dapat diperkecil

b. Alat: kursi dan koran c. Tahapan:

1) fase orientasi

2) dudukkan pasien di kursi, duduk tegak, kaki menyentuh lantai

3) letakkan tumit di lantai, jari-jari kaki diluruskan ke atas dan dibengkokan ke bawah seperti cakar ayam, lakukan 10 kali

4) letakkan tumit di lantai, jari-jari letakkan di lantai, dengan tumit kaki di atas, dilakukan bersamaan kaki kanan dan kiri, lakukan 10 kali

5) tumit kaki letakkan di lantai, ujung kaki diangkat ke atas, buat gerakan memutar pada pergelangan kaki, lakukan 10 kali

6) tumit diangkat, gerakan memutar pada pergelangan kaki, lakukan 10 kali 7) mengangkat salah satu lutut kaki, diluruskan, gerakkan jari-jari kedepan,

lakukan bergantian kiri dan kanan, lakukan 10 kali

(8)

8) luruskan salah satu kaki diatas lantai, angkat kaki dan gerakkan ujung jari kaki ke arah wajah, lalu turunkan bergantian, lakukan 10 kali

9) angkat kedua kaki bersama-sama, luruskan, gerakkan pergelangan kaki ke depan dan ke belakang, lakukan 10 kali

10) luruskan salah satu kaki dan angkat, putar pergelangan kaki, bayangkan kaki menuliskan angka 0-9 secara bergantian menggunakan pergelangan kaki.

11) letakkan sehelai koran bekas di bawah kaki pasien dan minta pasien meremas koran dengan kaki sehingga bentuk koran menjadi seperti bola 12) minta pasien lebarkan koran yang diremas menjadi lembaran untuh

dengan menggunakan kaki 13) robek koran menjadi 2 bagian

14) robek-robek 1 bagian koran menjadi bagian kecil

15) pindahkan robekan kecil koran ke atas koran yang masih utuh, perhatikan posisi duduk pasien agar tidak terjungkal

16) bungkus robekan koran menjadi seperti bola 17) fase terminasi

Dalam Nuraeni (2019) senam kaki dapat mempengaruhi penurunan kadar glukosa darah karena senam kaki membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki, memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otot - otot dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis, otot paha, dan juga mengatasi keterbatasan pergerakan sendi (Ibrahim dalam Nuraen, 2019). Senam kaki dapat dilakukan sekitar 15-30 menit serta tidak memerlukan peralatan yang rumit (kursi dan sehelai koran bekas).

Minimal gerakan senam kaki dilakukan 3 (tiga) kali seminggu, namun akan lebih baik jika dilakukan setiap hari. Melakukan senam kaki secara teratur dapat membantu pasien diabetes mellitus mengatur kadar glukosa darahnya dalam rentang normal dan stabil. Mekanisme perubahan (penurunan) kadar glukosa darah setelah melakukan senam kaki disebabkan oleh perubahan metabolik yang dipengaruhi oleh lama latihan, berat latihan, tingkatan kadar insulin plasma, kadar gula darah, kadar keton, dan imbangan cairan tubuh. Pada saat senam kaki tubuh memerlukan energi, sehingga pada otot yang tadinya tidak aktif menjadi aktif, karena terjadi peningkatan kebutuhan glukosa.

(9)

Selaras dengan video 1-3, latihan aktivitas fisik yang sesuai dapat membantu pasien DM, dikarenakan pada aktivitas fisik khususnya latihan jasmani menyebabkan peningkatan aliran darah, menyebabkan lebih banyak jala-jala kapiler terbuka hingga lebih banyak tersedia reseptor insulin dan reseptor menjadi lebih aktif. Selain mengurangi risiko, aktivitas fisik akan memberikan pengaruh yang baik pada lemak tubuh, tekanan darah arteri, sensitivitas barorefleks, vasodilatasi pembuluh yang endothelium dependent, aliran darah pada kulit, hasil perbandingan antara denyut jantung dan tekanan darah (baik saat istirahat maupun aktif), hipertrigliseridemia dan fibrinolisis. Angka kesakitan dan kematian pada diabetes yang aktif, 50% lebih rendah dibanding mereka yang santai.

Beberapa aktivitas fisik yang dapat dilakukan adalah:

1. Peregangan dan latihan fleksibilitas selama 10 menit, lalu berjalan kaki selama 30 menit dengan kenaikan intensitas maksimum denyut jantung 60%, kemudian peregangan dalam posisi duduk selama 10 menit minimal 3-4 kali dalam seminggu. Aktivitas fisik ini harus dilakukan secara rutin agar HbA1c juga tetap dalam batas normal → selaras dengan video 1,2,3

2. High-Intensity Interval Training (HIIT) treadmill (5 × (3 menit pada 70%

cadangan detak jantung (HRR) + 3 menit pada 30% HRR) yang terkontrol efektif dan aman pada pasien paruh baya ((Mendes et al., 2019))

3. Berjalan di atas treadmill selama 20 menit setelah makan malam, dengan cadangan detak jantung 40%. Penurunan glukosa yang signifikan dalam lonjakan glukosa 2-jam postprandial ( 2,7±1,4 mmol/L) (Li et al., 2018)

4. Yoga

Yoga menggabungkan gerakan tubuh yang membangun kelenturan, kekuatan, dan keseimbangan. Hal ini karena yoga adalah salah satu olahraga yang dapat membantu mengelola stres.Melakukan latihan yoga kapan pun sesuai dengan kondisi kesehatannya, dan tetap mengikuti arahan dari tenaga ahli atau profesional.

5. Bersepeda

Bersepeda merupakan bentuk latihan yang dapat membantu menguatkan jantung dan meningkatkan fungsi paru-paru.Selain itu, olahraga ini juga

(10)

meningkatkan aliran darah ke kaki dan membakar kalori untuk menjaga berat badan.

6. Berenang

Berenang sangat bagus untuk diabetesi karena dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dan membantu mengelola kadar gula darah.Selain itu, aktivitas fisik ini juga bisa meningkatkan sensitivitas insulin dan dapat berkontribusi pada penurunan berat badan atau mempertahankan berat badan yang sehat.

Berenang juga bermanfaat melatih pernapasan. Melalui olahraga ini, diabetesi bisa meningkatkan kapasitas paru-paru serta latihan mengontrol pernapasan.

Selain untuk pernapasan, renang juga bermanfaat bagi yang mengalami gejala diabetes seperti kesemutan atau mati rasa pada bagian kaki. Begitupun dengan yang mengalami komplikasi gangguan saraf akibat penyakit diabetes yang ditandai dengan kesemutan, nyeri, atau mati rasa.

Renang juga bermanfaat membantu menurunkan tingkat stres dan menurunkan kadar kolesterol. Olahraga ini akan merangsang enzim yang membantu mengeluarkan kolesterol jahat (LDL) dari darah ke hati. Kemudian, kolesterol diubah menjadi empedu untuk proses pencernaan atau dikeluarkan dari tubuh.

7. Tidur atau istirahat cukup. Gangguan tidur dapat mempengaruhi terjadinya resistensi insulin dan penyakit diabetes melitus tipe 2 baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung gangguan tidur mempengaruhi terjadinya resistensi insulin terkait dengan adanya gangguan pada komponen pengaturan glukosa sedangkan secara tidak langsung berhubungan dengan perubahan nafsu makan yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan berat badan dan obesitas dimana obesitas merupakan salah satu faktor resiko terjadinya resistensi insulin dan diabetes melitus.

8. Senam diabetes

Senam memfokuskan penyesuaian gerakan fisik dengan irama yang diperdengarkan. Olahraga jenis ini baik untuk orang diabetes.Pentingnya latihan aerobik yang diawali pemanasan, regular, konsisten serta sesuai kemampuan diri akan sangat membantu pasien DM untuk mengatasi kadar gula darah.

Senam diabetes dapat membantu melancarkan sirkulasi darah. Sirkulasi darah yang lancar dapat meningkatkan metabolisme dalam tubuh sehingga membantu

(11)

penyerapan hormon insulin. Insulin adalah hormon yang berfungsi membantu penyerapan glukosa ke dalam sel-sel tubuh untuk mengendalikan gula darah.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z., & Utami, K. (2022). Modul Asuhan Keperawatan pada Gangguan Sistem Endokrin (Aplikasi 3S). Penerbit NEM. hal 1.

Dwitasari, A. (2023, Juni 27). Retrieved from

HelloSehat: https://hellosehat.com/diabetes/olahraga-untuk-penderita-diabetes/

Gustimigo, Z. P. (2015). Kualitas Tidur Penderita Diabetes Melitus. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, 4(8), 133–138.

Li, Z., Hu, Y., Yan, R., Zhang, D., Li, H., Li, F., Su, X., & Ma, J. (2018). Twenty minute moderate-intensity postdinner exercise reduces the postprandial glucose response in Chinese patients with type 2 diabetes. Medical Science Monitor, 24, 7170–7177.

https://doi.org/10.12659/MSM.910827

Lisiswanti, R., & Cordita, R. N. (2016). Aktivitas fisik dalam menurunkan kadar glukosa darah pada diabetes melitus tipe 2. Jurnal Majority, 5(3), 140-144.

Marzel, R. (2020). Terapi pada DM Tipe 1. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 3(1), 51- 62. https://doi.org/10.37287/jppp.v3i1.297

Mendes, R., Sousa, N., Themudo-Barata, J. L., & Reis, V. M. (2019). Highintensity interval training versus moderate-intensity continuous training in middle-aged and older patients with type 2 diabetes: A randomized controlled crossover trial of the acute effects of treadmill walking on glycemic control. International Journal of Environmental Research and Public Health, 16(21), 1– 14.

Prawitasari, D. S. (2019). Diabetes melitus dan antioksidan. KELUWIH: Jurnal Kesehatan Dan Kedokteran, 1(1), 48-52.

Setiawan, Meddy. (2021). Sistem endokrin dan diabetes mellitus. Malang: UMMPress.

Sumah, D. F. (2019). Hubungan Kualitas Tidur dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD dr. M. Haulussy Ambon. Jurnal Biosainstek, 1(01), 56-60. https://doi.org/10.52046/biosainstek.v1i01.216

(13)

LAMPIRAN Tautan Video

a. 3 Components of Execrcise for Diabetes |FAR| Dr. V Mohan : https://youtu.be/s2x4JTa-vpc?si=EBjycSQXTqFnlcy0

b. Exercise Guidelines for Type 2 Diabetes:

https://youtu.be/XNOpr85adac?si=7nYG2Emr3O7aBq5u

c. Olahraga Untuk Penderita Diabetes yang Paling Tepat | Hidup Sehat tvOne https://youtu.be/f2BXeJovyAg?si=5pdse9B2ccKa8A5e

d. Senam Kaki Diabetes Melitus - Nursing UMY

https://youtu.be/zTzCOt_Vkt8?si=cMgPPxhc0T2r6h49

Referensi

Dokumen terkait

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn.D DENGAN MASALAH UTAMA GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN : DIABETES MELLITUS PADA Ny.S DI DESA RINGIN HARJO, GUMPANG,

Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara kadar glukosa darah sewaktu dengan gangguan fungsi kognitif pada pasien diabetes melitus tipe 2.. Kata kunci: diabetes

Sistem endokrin adalah suatu sistem dalam tubuh manusia yang bertugas untuk melakukan sekresi (memproduksi) hormon yang berfungsi untuk mengatur seluruh kegiatan

Diabetes insipidus dan diabetes mellitus keduanya merupakan gangguan pada sistem endokrin, karena masing-masing ditandai dengan kekurangan hormon, yang terakhir ini juga

Sistem endokrin dan sistem saraf bekerja sama secara kooperatif untuk mengatur aktivitas dalam tubuh manusia, dengan cara menghasilkan hormon yang akan mempengaruhi

Diabetes melitus merupakan penyakit endokrin akibat defek dalam sekresi dan kerja insulin atau keduanya sehingga terjadi defisiensi insulin dimana tubuh mengeluarkan terlalu

Pengertian Sistem Endokrin pada Manusia dan Fungsinya Serta Kelainan dan Gangguan pad Sistem Endokrin

Sistem endokrin adalah organ yang menghasilkan hormon yang didistribusikan ke seluruh tubuh melalui pembuluh