Fakultas Psikologi Diserahkan Kepada:
Universitas Kristen Maranatha Pdt. Yohanes Bambang Muljono, M.Th
Bandung
Wawasan Iman Kristen PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
Disusun Oleh : Gilbert Christian
2030123
Kelas B
Diserahkan pada tanggal
28 Januari 2021
UAS Essay
1. Pendekatan Karikatif yatiu secara langsung dengan jangka waktu yang dekat, tidak mengubah substansial. Dengan cara memberikan kebutuhan pokok yang dibutuhkan.
Pendekatan Reformatif yaitu memberikan fasilitas dan keterampilan- keterampilan (skill) tertentu bagi kelompok yang dibantu (mandiri). Dengan memberikan pelatihan, pembinaan dan pendampingan.
Pendekatan Transformatif yaitu menyangkut wilayah (RT, RW), tidak berfokus pada individu tetapi pada kelompok. Dengan melakukan pengembangan dan pemberdayaan para anggota masyarakat.
2. Janda tersebut memberikan seluruh kepunyaannya untuk Tuhan dengan segenap hati meskipun keadaannya cukup sulit, tetapi dia memberikannya dengan tulus hati, oleh karena itu kita harus memiliki sifat seperti janda tersebut. Penikhros dipakai untuk menunjuk orang yang sangat miskin atau berkekurangan tetapi masih dapat mencari nafkah dan mempersembahkan nafkahnya untuk Tuhan. Hal yang patut dicontoh dari sifat janda ini yaitu kemurahan hati dan cintanya yang berkobar-kobar kepada Allah.
3. Christ against Culture
Model sikap iman yang setia kepada Kristus sehingga tidak memberikan ruang terhadap keberadaan budaya. Gereja menolak karena menganggap otoritas Kristus diperhadapkan dengan kuasa dunia. Dalam hal ini gereja bersifat menghakimi dan menghukum serta tidak berkompromi dengan nilai budaya.
Christ of Culture
Model sikap iman yang mengadaptasi nilai-nilai budaya secara terbuka dan tanpa disaring. Di dalam hal ini Kristus dipahami sebagai Sang Pencerah, Guru Agung, dan seorang pribadi yang menggerakkan manusia ke dalam pencapaian kebijaksanaan, penyempurna moral dan damai.
Christ Above Culture
Modal sikap iman yang menyadari keunggulan/ superioritas Kristus sehingga budaya yang nilai-nilainya berada di bawah Kristus. Relasi gereja dan budaya ditempatkan secara atas-bawah. Budaya ditundukkan, dianggap sebagai realitas yang rendah dan lemah (inferior).
Christ and Culture in Paradox Position
Model sikap iman yang bersifat dualistic antara Allah yang penuh anugerah dengan manusia yang berdosa. Di dalam pengertian ini budaya tidak terlepas dari keberdosaan. Sikap manusia dalam relasi dengan budaya berada di antara anugerah Allah dan keberdosaan manusia.
Christ as Transformer of Culture.
Model sikap iman yang menyadari bahwa pada hakikatnya semua nilai budaya berada di bawah penghakiman Allah. Budaya juga berada di bawah pemerintahan
Allah yang berdaulat. Umat dipanggil agar dapat membaharui hal-hal yang telah dirusak oleh dosa.
4. Spiritualitas bertarak adalah suatu keyakinan dan pola hidup yang harus diejawntahkan dengan cara penyangkalan diri, pengekangan keinginan/ nafsu, pengabdian, dan pengorbanan sebagai tanda kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesame manusia. Penyangkalan diri adalah tanda dan syarat orang yang mau mengikut Yesus. Karena dnegan melakukan penyangkalan diri, maka makna kerja dihayati sebagai sesuatu yang serba serius, tekun, ulet, jujur, dan rajin.
5. sikap aksestisme yang terarah ke luar dunia yaitu kehidupan yang mengarah ke sorga yang disebut sebagai other worldly asceticism. Orang-orang yang memiliki pekerjaan yang biasa/ sekuler dianggap belum memiliki tingkat rohanu yang mulia. Sehingga para anggota biara sejak dahulu sangat rajin dalam bekerja, hal- hal yang berbau rohani dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan yang biasa atau sekuler. Hal ini hanya dapat mempengaruhi di lingkungan biara saja dan hanya berhasil membangun sikap positif terhadap makna kerja dan materi yang sangat terbatas. Hal ini tidak berhasil dalam menanamkan pengaruh kepada masyarakat luas.
Sikap aksestisme yang terarah ke dalam dunia, sikap dasarnya masih sama dnegan yang sebelumnya yaitu tekun, disiplin diri, dan menolak godaan kenikmatan. Hal ini tidak mengarahkan lagi kepada kehidupan sorga, tetapi mengarahkan kepada kehidupan masa kini. Orang disebut beriman kepada Allah, jika kehidupannya di masa kini ditandai dnegan tanggung jawab yang penuh terhadap seluruh pekerjaan yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
6. Penatalayan adalah setiap umat manusia yang khusunya umat percaya yang memiliki panggilan dan pengutusan sebagai seorang penatalayan. Makna EnTheopreneurship adalah seorang penatalayan yang mampu mengelola tugas yang dipercayakan (dikaruniakan) Allah dengan kualitas rohani yang tinggi (spiritualitas) yang diwujudkan dalam karakter yang ulet dan dapat dipercaya serta terbuka pada pengertian dan hikmat Allah yang diwujudkan dalam kualitas keahlian yang prima, sehingga menghasilakn perubahan dan pembaruan (transformative) bagi dunia skitarnya khususnya memperjuangkan sesame yang lemah dan tertindas. Penatalayan kasih-karunia Allah merupakan wujud dari model EnTheopreneurship.
7. Allah turut bekerja di dalam segala sesusatu. Ia adalah Tuhan yang menggerakkan, menginspirasi dan memakai orang-orang terpilih untuk dapat melakukan berbagai penemuan dimulai dari Revolusi Industri 1.0 sampai dengan Revolusi Industri 4.0. Untuk selanjutnya Allah akan terus bekerja dnegan kuasaNya untuk menghadirkan suatu dunia yang baru.
8. Revolusi Industri 1.0
Adanya penemuan mesin pada 1776 oleh James Watt sehingga manusia tidak perlu menggunakan tenaga otot, tenaga air, dan tenaga angin untuk memproduksi barang.
Revolusi Industri 2.0
Penemuan teknologi listrik yang mampu membuat suatu sistem bekerja lebih efisien. Proses produksi dapat dikembangkan melalui sistem ban berjalan (conveyor belt). Teknologi ini kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari yaitu contohnya rumah, alat masak nasi, dan lain sebagainya
Revolusi Industri 3.0
Ditemukan teknologi komputer dan robot. Teknologi ini sangat membantu pada masa ini karena memudahkan kita dalam mengerjakan tugas-tugas maupun pekerjaan dimana saja, terutama pada saat pandemic saat ini
Revolusi Industri 4.0
Ditemukan teknologi digital revolution, model dan kecanggihan computer semakin cerdas. Internet of things, teknologi fisik ini mampu menciptakan 1001 sensor baru untuk melakukan semua tugas yang diprogram tanpa mengenal waktu dan tempat. Hal ini kita gunakan saaat ini yaitu handphone yang kita gunakan sudah memiliki kecerdasan yang semakin baik dengan adanya Artificial Intelegence.
9. Eksklusivisme merupakan sikap agama-agama yang cenderung menutup diri dan mengklaim agamanya sendiri yang paling bener dan mengkafirkan/ menistakan agama lain. Merasa dirinya yang paling eksklusif, menekankan aspek absolutism dalam keyakinan/ kepercayaan yang dimiliki oleh suatu agama. Biasanya melakukan pendekatan dengan superior-inferior.
Pluralisme memiliki pemikiran yaitu pengalaman religious sebagai sesuatu yang sifatnya sengat eksistensial dan batiniah. Pada hakikatnya semua agama mengarah kepada Tuhan yang satu dan sama.
Inklusivisme merupakan sikap keagamaan yang tetap mengakui keunikan agama/
imannya tetapi mereka bersedia dengan tulus menunjukkan sikap penghormatan kepada agama lainnya. Dalam pengertian ini menunjukkan bahwa menghargai ajaran agama lain. Sehingga memiliki kasih yang berlimpah dan tidak anti untuk bersosialisasi terhadap agama lain.
10. Pendekatan intratekstualitas yaitu pendekatan secara esensial, berbeda dengan pendekatan ekstratektualitas. Arti ekstratelekstualitas secara umum yaitu pronomina/ kata ganti yang menggantikan nomina yang terdapat di luar wacana.
Misal Allah dan Kristus di dalam iman Kristen adalah intratekstualitas.
Gambaran dan teologi tentang Yesus Kristus dalam iman Kristen (Kristologi) berbeda dengan ajaran agama Islam tentang Nabi Isa (Isalogi). Sehingga kita
harus dapat menghormati dan menghargai tentang ajaran agama lain, karena sebenarnya kita menyembah Tuhan yang sama hanya dengan cara dan penyebutan yang berbeda.