• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keywords : Local Government Performance, Education, Poverty (2)2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penilian kinerja pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Talaud di bidang pendidikan dan penanggulangan kemiskinan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Keywords : Local Government Performance, Education, Poverty (2)2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penilian kinerja pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Talaud di bidang pendidikan dan penanggulangan kemiskinan"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

1 Assessment Of The Performance Of Local Governments In Eduction And Poverty Management

(Study on Talaud Island) Oleh :

Gressye Junita Malutu [email protected]

Advistor :

Dr. Mohamad Khoiru Rusydi, SE.,M.Ak.,Ak

Accounting Department, Faculty of Economics and Business, Universitas BrawijayaJl. MT.

Haryono 165, Malang 65145, Indonesia

ABSTRACT

The objective of this study is to assess the performance of local government on increasing education and reducing poverty on Talaud Island Regency. The method and measuring instrument used is a qualitative descriptive approach. A tool to measure the financial performance of local governments in managing regional finances using financial ratio analysis to the APBD. The analysis of these financial ratios is for the effectiveness of realizing regional revenue, the independence of regional governments, the efficiency of regional finances in allocating spent expenditures, the harmony of local governments to prioritize regional expenditure allocations. The data collection technique used was the Talaud Islands Regency Government. Education and Countermeasures poverty In the Talaud Islands district using data from the Education Office, Social Service and the Central Statistics Agency. The results of this study indicate that the performance of the Talaud Islands Regency government is still not optimal in allocating financial funds, education in the Talaud Islands Regency has increased from year to year, and the poverty rate of Talaud Islands Regency during 2016-2018 has decreased.

Keywords : Local Government Performance, Education, Poverty

(2)

2 ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penilian kinerja pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Talaud di bidang pendidikan dan penanggulangan kemiskinan. Metode dan alat ukur yang digunakan adalah jenis pendekatan deskriptif kualitatif. Alat untuk mengukur kinerja keuangan pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerah dengan menggunakan analisis rasio keuangan terhadap APBD.

Analisis rasio keuangan tersebut untuk efektifitas merealisasi pendapatan daerah, kemandirian pemerintah daerah, efisiensi keuangan daerah dalam mengalokasikan pengeluaran yang dibelanjakan, keserasian pemerintah daerah untuk memprioritaskan alokasi belanja daerah. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Talaud. Data yang di analisis berupa Laporan Raelisasi APBD Tahun 2016-2018. Pendidikan dan Penanggulangan Kemiskina Pada kabupaten Kepulauan Talaud dengan menggunakan data dari Dinas Pendidikan, Dinas Sosial dan Badan Pusat Statistika. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud masih belum optimal dalam mengalokasikan dana keuangan, Pendidikan di Kabupaten Kepulauan Talaud mengalami Peningkatan dari tahun ke tahun, dan tingkat kemiskinan Kabupaten Kepulauan Talaud selama tahun 2016-2018 mengalmi penurunan.

Kata Kunci : Kinerja Pemerintah, Pendidikan, Kemiskinan

(3)

3 PENDAHULUAN

Sebagaimana yang terdapat dalam Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan masyakarat setempat dalam Sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Asas Otonomi adalah prinsip dasar penyelenggaraan pemerintah daerah berdasarkan otonomi daerah. Desentralisasi adalah penyerahan urusan pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom berdasarkan asa otonomi. Daerah otonom selanjutnya disebut daerah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas – batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakasa sendiri dan aspirasi masyarakat dalam Sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan penjelasan tersebut, wajar bila otonomi daerah memiliki arti sebagaimana mendekatkan kebijakan dengan aspirasi masyarakat di tingkat daerah. Dengan kata lain, aspirasi masyarakat akan mudah ditangkap dan dikonversikan oleh pembuat kebijakan menjadi sebuah kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat.

Terdapat pula wewenang dan tanggung jawab pemerintah daerah untuk secara aktif dan langsung mengupayakan penanggulangan

kemiskinan dan pengangguran daerah serta peranan pembangunan daerah dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan publik dan daya saing daerah yang semakin penting. Dengan adanya pembanguan daerah bertujuan untuk dapat meningkatkan partisipasi dari penduduk dalam segala proses kegiatan pembangunan. Agar dapat mencapai tujuan tersebut pemerintah perlu melakukan upaya meningkatkan kualitas penduduk sebagai sumber daya, baik dalam aspek fisik (kesehatan), aspek intelektual (pendidikan), dan aspek kesejahteraan ekonomi (berdaya beli).

Mega (2011), dalam membiayai kegiatan tugas pembangunan daerah yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menggambarkan kinerja pemerintah daerah dalam membiayai kegiatan tugas pembangunan. APBD merupakan instrument kebijakan bagi pemerintah daerah yang baik untuk penilaian secara internal maupun yang berkaitan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang meningkatkan pendidikan dalam pengentasan kemiskinan.

Mardiasmo (2002:169), penelitian ini menggunakan analisis rasio keuangan sebagai alat analisis kinerja keuangan secara luas yang telah diterapkan pada lembaga perusahaan yang bersifat komersial, sedangkan pada lembaga publik khususnya pemerintah kabupaten masih

(4)

4 sangat terbatas sehingga secara teoritis belum

ada kesepakatan yang bulat mengenai nama dan kaidah pengukurannya. Dalam pengelolaan keuangan daerah yang transparan, jujur, demokratis, efektiv, efisien, dan akuntabel, maka analisis rasio keuangan terhadap pendapatan belanja daerah perlu dilaksanakan.

Halim (2007), menyatakan bahwa ada beberapa rasio yang dapat digunakan dalam penelitian untuk menganalisis kinerja keuangan yang bersumber dari APBD antara lain: Rasio Kemandirian, Rasio Efektivitas, Rasio Efisiensi, Rasio Keserasian, dan Rasio Pertumbuhan.

Rasio Kemandirian untuk menilai tingkat kemandirian keuangan daerah dalam membiayai penyelenggaraan otonomi daerah. Rasio Efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam mencapai target pendapatan daerah. Rasio Keserasian untuk mengetahui bagaimana pengalokasikan dana belanja daerah pada belanja aparatur daerah dan belanja palayanan publik. Rasio Pertumbuhan untuk mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan kinerja sebelumnya.

Selain dengan Rasio Keuangan penulis juga tertarik untuk melakukan penelitian terhadap pengelolaan keuangan di Kabupaten Kepulaun Talaud dengan memfokuskan penelitian pada

dinas pendidikan, dengan menggunakan metode Public Expenditure Tracking Survey atau Survei Penelusuran Belanja Publik (PETS) merupakan salah satu dari sekian banyak alat akuntabilitas publik yang pernah dipraktikkan di banyak negara.

Belva (2019), Pendidikan di Indonesia ada 50 juta pelajar artinya Indonesia adalah negara dengan sistem pendidikan terbesar ke 4 di negara dunia. Namun sistem pendidikan Indonesia merupakan salah satu yang paling tertinggal di dunia. Rangking tahun 2012 menunjukan bahwa sistem pendidikan di Indonesia diukur dari tiga score mata pelajaran science, mathematics, dan reading menempati urutan kedua terbawa di dunia dan banyak yang menganggap bahwa pendidikan hal tertinggal hanya pada daerah tertentu saja. Tapi penelitian dari Harvard University, untuk setara dengan negara – negara maju (OECD) anak – anak di Jakarta masih membutuhkan 128 tahun untuk mengejar ketertinggalan. Sedangkan Menurut Prof. H. Madmud Yunus dan Martinus Jan

(5)

5 Langeveld mengatakan pendidikan adalah suatu

usaha yang dengan sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak yang bertujuan meningkatkan ilmu pengetahuan, jasmani dan akhlak sehingga secara perlahan bisa mengantarkan anak kepada tujuan dan cita- cita yang paling tinggi, agar anak tersebut memperoleh kehidupan yang bahagia dan apa yang dilakukannya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, dan negara.

Kualitas suatu bangsa dalam mengurangi kemiskinan tersebut ditandai dan diukur dari kemajuan pendidikannya. Dengan ini diharapkan dapat mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan dan dapat memberikan upaya yang dapat dilakukan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud dalam memperbaiki kinerja keuangan untuk mengatasi kemiskinan.

Data Badan Pusat Statistika Kabupaten Kepulauan Talaud Tahun 2018, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Kepulauan Talaud pada persentase penduduk miskin di

Tahun 2018 adalah sebasar 9,50% mengalami penurunan dibandingkan Tahun 2017. Garis kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Talaud pada Tahun 2018 adalah sebesar Rp 265.839,00 yang merupakan batas minimum pendapatan untuk di kategorikan sebagai penduduk tidak miskin. Ini menunjukkan jumlah penduduk di Kabupaten Kepulauan Talaud menurun sekitar 1,05% dari Tahun 2017. Meskipun jumlah penduduk miskin di Kabupaten Kepulauan Talaud menurun tetapi masih belum berhasil mencapai sasaran pembangunan Kabupaten Kepulauan Talaud yaitu tingkat kemiskinan 8%

- 10%. Maka diperlukan pengukuran kinerja suatu organisasi termasuk di sektor pubilk untuk peningkatan kualitas kinerja instansi pemerintah, khususnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Salah satu alat ukur yang dapat digunakan untuk menganalisis kinerja pemerintah dalam mengelola kuangan daerah adalah dengan melakukan Analisis Rasio Keuangan terhadap APBD yang telah ditetapkan dan dilaksanakan.

(6)

6 TINJAUAN PUSTAKA

Akuntansi Sektor Publik

Halim (2014:251), menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan sektor publik adalah pemerintah dan unit-unit organisasinya, yaitu unit-unit yang dikelola oleh pemerintah dan berkaitan dengan hajat hidup orang banyak atau pelayanan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Sedangkan Bastian (2007), menyatakan bahwa sektor publik dapat diartikan dari berbagai disiplin ilmu yang umumnya berbeda satu dengan yang lain.

Perbedaan sudut pandang politik, administrasi publik, sosiologi, hukum dan ekonomi sering mengakibatkan tumpang tindi batasan.

Pengertian diatas dapat disimpulkan Akuntansi Sektor Publik adalah Akuntansi terkait informasi keuangan untuk mengelola urusan-urusan yang berkaitan dengan publik dalam rangka memenuhi kebutuhan dan hak politik yang dapat di pertanggungjawabkan dalam menggunakan benda-benda ekonomi yang langkah dan alternatif pengunaan.

Prinsip Sistem Akuntansi Sektor Publik Bastian (2007), persyaratan Akuntansi Sektor Publik telah ditentukan dalam A manual for Government Accounting dan United National Organization (PBB) sebagai berikut : 1. Sistem Akuntansi membantu proses

pemeriksaan dan penyajian informasi yang akan diperiksa.

2. Sistem Akuntansi seharusnya selaras dengan pengawasan administratif terhadap dana, kegiatan, manajemen program, pemeriksaan internal dan penilaian kinerja.

3. Sistem Akuntansi dirancang untuk memenuhi persyaratan Perundang-undang dasar, undang-undang, dan peraturan lainnya.

4. Sistem Akuntansi seharusnya selaras dengan klasifikasi anggaran sehingga fungsi penganggaran dan Akuntansi saling melengkapi dan teritegrasi.

5. Rekening dikaitkan dengan jelas pada objek, tujuan penerimaan, tujuan pengeluaran, dan

(7)

7 pejabat penanggung jawaban jika terjadi

penyimpangan.

Variasi Akuntansi Sektor Publik 1. Akuntansi Dana

Sumber daya keuangan berupa dana yang disediakan untuk digunakan oleh organisasi nirlaba atau institusi pemerintah biasanya mempunyai keterbatasan penggunaan dalam arti, dana-dana tersebut dibatasi penggunaannya untuk tujuan atau aktivitas tertentu yang kadang merupakan syarat dari pihak ekstrenal yang merupakan penyedia dana

2. Akuntansi Anggaran

Akuntansi anggaran mengacu pada praktik yang dilakukan oleh banyak organisasi sektor publik khususnya pemerintah dalam upaya menyajikan akun-akun operasinya dengan format yang sama dengan anggarannya. Tujuan praktik adalah untuk menekankan peranan anggaran dalam siklus perencanaan, pengendalian, dan pertanggungjawaban.

3. Akuntansi Komitmen

Akuntansi komitmen mengakui transaksi ketika organisasi telah memiliki komitmen untuk melaksanakan transaksi tersebut. Ini berarti transaksi tidak diakui ketika ada penerimaan atau pengeluaran kas, juga bukan pada saat faktur diterima atau dikirimkan, namun pada saat yang lebih awal, yaitu pada pesanan dibuat dan diterima.

Basis Akuntansi Sektor Publik A.Basis Kas

a. Menunjukkan ketaatan pada batas anggaran belanja dan pada peraturan lainnya.

b. Menghasilkan laporan yang kurang komprehensif bagi pengambil keputusan.

c. Transaksi keuangan diakui pada saat uang diterima atau dibayarkan.

d. Mengukur aliran sumber kas.

B.Basis Modifikasi Kas

a. Arus kas pada awal periode pelaporan yang telah di pertanggungjawabkan pada periode sebelumnya dikurangkan dari aliran kas pada periode saat ini.

(8)

8 b. Pembukuan masih dibuka pada akhir periode

dengan ditambah suatu jangka waktu tertentu setelah tahun buku.

c. Penerimaan kas dan pengeluaran kas yang terjadi selama periode perpanjangan tersebut berasal dari transaksi sebelumnya diakui sebagai pendapata dan pengeluaran dari tahun fiskal sebelumnya.

C.Basis Akrual

Basis akrual mengakui dan mencatat transaksi atau kejadian keuangan pada saat terjadi atau pada saat perolehan. Elemen dasar akrual adalah aktiva, kewajiban, pendapatan, dan biaya. Akuntansi dasar akrual berfokus pada pengukuran sumber daya ekonomis dan perubahan sumber daya pada suatu entitas.

D.Basis Modifikasi Akrual

Basis modifikasi akrual mengakui transaksi pada saat kejadian transaksi tersebut. Pada basis modifikasi akrual, aktiva berwujud dibebankan pada saat pembelian elemen yang diakui adalah aktiva, keuangan, kewajiban utang atau aktiva keuangan netto, pendapatan, dan pengeluaran

modifikasi akrual. Kelemahannya adalah tidak dapat memberikan pelayanan jasa publik.

Beberapa karakteristik dari basis modifikasi akrual yaitu :

a. Asset fisik dibiayakan pada saat pembelian.

b. Seluruh asset dan kewajiban lainnya diakui seperti dasar akrual.

c. Transaksi diakui pada saat transaksi terjadi.

Tingkat Pendidikan

Berdasarkan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (1) menjelaskan Pengertian Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Sedangkan pada pasal 1 ayat (2) Pendidikan Nasional adalah Pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntunan perubahan zaman.

(9)

9 Fungsi dan Tujuan Pendidikan

Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional berdasarkan Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS adalah bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, tujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak Mulia, Cakap, Kreatif, Mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab

Pengertian Kemisikinan

Kemiskinan adalah sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan pada sejumlah atau golongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang rendah ini secara langsung.

Nampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral dan rasa harga diri mereka yang tergolong sebagai orang miskin (Suparlan,2004:315).

Kemiskinan menurut Bappenas (2004) adalah kondisi dimana seorang atau

sekelompok, laki-laki dan perempuan, yang tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermatabat. Hak-hak dasar manusia tersebut meliputi, terpenuhinya kebutuhan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam, dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan social politik.

Kriteria Kemisikinan

Pemerintah menggunakan acuan dari BPS tentang 14 (empat belas) kriteria keluarga miskin, yaitu:

1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang.

2. Jenis lantai bangunan tempat tinggal tersebut dari tanah/bamboo/kayu murahan.

3. Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bamboo/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.

(10)

10 4. Tidak memiliki fasilitas buang air

besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain.

5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.

6. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindungi/sungai/air hujan.

7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah.

8. Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu.

9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.

10.Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari.

11.Tidak sanggup mambayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik.

12.Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 0,5 ha.

Buruh tani, nelayan, buruh banguanan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600.000 per bulan.

13.Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga, tidak sekolah/tidak tamat SD/hanya SD.

14.Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah di jual dengan nilai Rp500.000, seperti sepeda motor (kredit/non kredit), emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

Pengaruh Realisasi APBD terhadap Kemiskinan Masyarakat

APBD adalah salah satu kebijakan pemerintah daerah yang didalamnya selain mencakup sumber-sumber pendapatan daerah tetapi juga berbagai pengeluaran pemerintah termasuk belanja bidang pendidikan, dan bidang kesehatan. Pengeluaran pemerintah memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi alokasi dan fungsi distribusi yang salah satu fungsinya yaitu alokasi untuk memenuhi permintaan masyarakat terhadap tersedianya kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan yang dipenuhi oleh swasta.

Mardiasmo (2002), menyatakan bahwa dalam era otonomi, pemerintah daerah harus semakin mendekatkan diri pada berbagai

(11)

11 pelayanan dasar masyarakat. Oleh karena itu,

alokasi belanja modal memegang peranan penting guna peningkatan pelayanan. Sejalan dengan peningkatan pelayanan (yang ditujukkan dengan peningkatan belanja modal) diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembangunan manusia yang diharapkan.

Kinerja Keuangan Pemerintah

Bastian (2001:329), kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi. Secara umum dapat juga dikatakan bahwa kinerja merupakan prestasi yang dapat dicapai oleh organisasi dalam periode tertentu.

Menurut Inpres No 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, menjelaskan pengertian kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, visi, dan organisasi.

Pengukuran Kinerja

Mohamad Mahsun (2006: 25), secara umum istilah kinerja digunakan untuk menyebut prestasi atau tingkat keberhasilan individu maupun kelompok individu. Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi. Kinerja bisa diketahui hanya jika individu atau kelompok individu tersebut mempunyai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan.

Manfaat Pengukuran Kinerja Sektor Publik Bastian (2007:275), menyebutkan beberapa manfaat pengukuran kinerja baik untuk internal maupun ekstrenal organisasi sektor publik, yaitu:

1. Memastikan pemahaman para pelaksana akun ukuran yang digunakan untuk pencapaian kinerja.

2. Memastikan tercapainya rencana kinerja yang telah disepakati.

3. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kinerja dan membandingkannya dengan

(12)

12 rencana kerja serta melakukan tindakan

untuk memperbaiki kinerja.

4. Memberikan penghargaan dan hukuman yang obyektif atas prestasi pelaksana yang telah diukur sesuai dengan sistem pengkuran kinerja yang telah di sepakati.

5. Menjadi alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam upaya memperbaiki kinerja organisasi.

6. Mengidentifikasikan apakah kepuasan sudah terpenuhi.

7. Membantu memahami proses kegiatan instansi pemerintah.

8. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara obyektif.

9. Menunjukkan peningkatan perlu dilakukan.

10. Mengungkapkan permasalahan yang terjadi.

Analisis Kinerja Keuangan Pada APBD Analisis rasio keuangan pada APBD dilakukan dengan membandingka hasil yang dicapai dari suatu periode dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga dapat diketahui

kecendurungan yang terjadi. Selain itu dapat dilakukan dengan cara membandingkan dengan rasio keuangan yang dimiliki suatu pemerintah daerah tertentu dengan rasio keuangan daerah lain yang terdekat ataupun potensi daerah relatif sama untuk dilihat bagaimana posisi keuangan pemerintah daerah tersebut terhadap pemerintah daerah lainnya.

Manurut Halim (2007:232) ada beberapa rasio yang dapat digunakan untuk mengukur akuntabilitas pemerintah daerah diuraikan sebagai berikut :

1. Rasio Kemandirian Daerah

Rasio kemandarian menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan, pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah. Kemandirian keuangan daerah ditunjukkan oleh besar kecilnya pendapatan asli daerah dibandingkan dengan total pendapatan daerah.

(13)

13 Pendapatam Asli Daerah

! " # $ 100%

Sebagai pedoman dalam melihat pola hubungan dengan kemampuan keuangan daerah dapat dilihat pada Tabel 2.1 sebagai berikut :

Tabel 2.1

Pola Hubungan dan Tingkat Kemandirian Daerah

Kemampuan Daerah

Kemandirian (%)

Pola Hubungan Rendah

Sekali 0 - 25 Instruktif Rendah 25 - 50 Konsultatif Sedang 50 - 75 partisipatif Tinggi 75 - 100 Delegatif 2. Rasio Efektivitas PAD

Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan pendapatan asli daerah yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi rill daerah, Halim (2007:234), yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

() * +

,"

, -- ," . 100%

Semakin tinggi rasio efektivitas menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik. Sesuai dengan keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900.327 Tahun 1996 dalam Melisa Anastasia (2012:82) tentang pedoman penilain dan kinerja keuangan, maka kriteria efektivitas kinerja keuangan dapat dilihat pada Tabel 2,2 sebagai berikut :

Tabel 2.2

Kriteria Efektifitas Kinerja Keuangan\

Efektivitas (%) Kriteria Diatas 100 Sangat efektiv

90 – 100 Efektiv

80 – 90 Cukup Efektiv

60 - 80 Kurang Efektiv Dibawah 60 Tidak Efektiv 3. Rasio Efisiensi Keuangan Daerah

Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara total realisasi pengeluaran (belanja daerah) dengan realisasi pendapatan yang diterima, Halim (2007:234). Semakin kecil rasio efisiensi berarti kinerja pemerintah daerah semakin baik. Untuk

(14)

14 itu pemerintah daerah perlu menghitung secara

cermat berapa besarnya biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan seluruh pendapatannya yang diterimanya sehingga dapat diketahui apakah kegiatan pemungutan pendapatannya tersebut efisien atau tidak.

Menurut Halim (2007:234) rumusan untuk menghitung tingkat efisiensi penerimaan pendapatan asli daerah adalah sebagai berikut :

()

/ 0 " #

! " # . 100%

Tabel 2.3

Kriteria Efisiensi Kinerja Keuangan Efisiensi (%) Kriteria

Diatas 100 Tidak Efisien 90 – 100 Kurang efisien

80 – 90 Cukup Efisien

60 - 80 Efisien

Dibawah 60 Sangat Efesien 4. Rasio Keserasian

Rasio keserasian menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja tidak langsung daerah dan

belanja langsung secara optimal (Halim, 2007:235). Semakin tinggi persentase dana yang dialokasikan untuk belanja tidak langsung daerah berarti persentase belanja langsung yang digunakan untuk menyediakan sarana prasarana ekonomi masyarakat cenderung semakin kecil.

Belum ada patokan yang pasti berapa besarnya rasio belanja tidak langsung daerah maupun belanja langsung terhadap belanja daerah yang ideal, karena sangat dipengaruhi oleh dinamisasi kegiatan pembangunan dan besarnya kebutuhan investasi yang diperlukan untuk mencapai pertumbuhan yang ditargetkan. Rasio keserasian diformulasikan sebagai berikut :

/ 0 * 1 - 2 -

/ 0 * 1 - 2 -

/ 0 " # . 100%

Rasio Belanja Langsung

:;<=> ?@>=AB= C=ADEFAD

:;<=> ?@>=AB= G=@H=I . 100%

5. Rasio Pertumbuhan

Halim (2001:272), mengemukakan rasio pertumbuhan digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan

(15)

15 keberhasilannya yang telah dicapai dari periode

ke periode berikutnya, yang dapat dihitung dengan formula sebagai berikut :

Rasio Pertumbuhan

#2 * A K #2 * A

#2 *ALM . 100%

Dalam menganalisis rasio pertumbuhan pendapatan perlu mempertimbangkan kontribusi komponen pendapatan, sehingga dapat diketahui kontribusi utama pendapatan.

Komponen dari pendapatan adalah pendapatan asli daerah (PAD), dana perimbangan dan lain- lain pendapatan yang sah. Dalam pelaksanaan otonomi daerah yang memiliki peranan penting dalam mempengaruhi pertumbuhan pendapatan daerah adalah besarnya pertumbuhan PAD.

Semakin besar kontribusi PAD menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang baik dan sebaliknya.

Kinerja Pelaksanaan APBD

Dasar hukum pengelolaan keuangan termasuk Pengelolaan Pendapatan Daerah sebagai landasan utama kebijakan umum pemerintah ialah :

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Perencanaan Nasional.

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

6. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah.

7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan daerah.

Public Expenditure Tracking Survey atau survey penelusuran belanja publik (PETS)

Odah (2014) Public Expenditure Tracking survey (PETS) merupakan salah satu dari sekian banyak alat akuntabilitas publik yang pernah dipraktikkan di banyak negara. Public Expenditure Tracking Survey adalah alat /metodologi yang digunakan untuk melacak aliran sumber daya publik (termasuk SDM, keuangan, atau benda/in-kind) dari struktur pemerintah paling atas hingga ke tingkat penyedia layanan (misalkan puskesmas).

Keunggulan dari metode ini yaitu mampu

(16)

16 memetakan aliran sumberdaya/keuangan dari

tingkat tertinggi hingga terendah. Metode PETS ini sebenarnya sangat bermanfaat sebagai langkah awal menginisiasi akuntabilitas publik, dimana masyarakat akan tahu apakah dalam program-program pemerintah terdapat kebocoran anggaran yang bisa ditindaklanjuti kemudian. Akan tetapi, hal ini menjadi cukup sulit dilakukan karena meskipun di Indonesia telah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, pada pelaksanaannya dokumen- dokumen anggaran yang seharusnya terbuka untuk publik masih sulit didapatkan atau bahkan masyarakat tidak mengetahui sama sekali program pembangunan yang ada di wilayahnya.

Birokrasi yang berbelit-belit, OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang sulit ditemui, dan sistem arsip yang kurang baik menyebabkan data sulit diperoleh.

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan deskriptif kualitatif. Tujuan penulis menggunakan metode ini dengan tujuan menyajikan data yang berhubungan dengan situasi yang terjadi, sikap dan pandangan yang menggejalah di masyarakat, hubungan antar variable, pertentangan dua kondisi atau lebih, pengaruh terhadap suatu kondisi, perbedaan

antar fakta. Penelitian ini terbatas pada perhitungan dengan target Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja pada dinas-dinas tertentu seperti dinas pendidikan, dinas sosial dan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud.

Selanjutnya dari hasil perhitungan besaran dan persentase tersebut, penulis menggunakan pemikiran logis untuk mengetahui dan memecahkan masalah yang diteliti dengan memaparkan data yang diperoleh dari pengamatan lapangan dan pengamatan kepustakaan. kemudian dianalisis dan diinterprestasikan untuk dapat memberikan kesimpulan.

Data yang diperoleh dari peneliti baik penelitian kepustakaan maupun penelitian yang dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif, yaitu mengumpulkan dan menyeleksi data yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti kemudian dideskirpsikan sehingga menghasilkan gambaran yang sesuai dengan keadaan sebenarnya. Analisis data penelitian ini juga terdiri dari deskripsi rinci tentang kinerja keuangan pemerintah, tingkat pendidikan, dan tingkat kemiskinan di kabupaten Kepulauan Talaud. Analisis ini juga dapat digunakan untuk mengetahui sudah sejauh mana pelaksanaan kinerja keuangan sebagai wujud pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara untuk mewujudkan transparansi dan

(17)

17 akuntabilitas pengelolaan keuangan Pemrintah

Kabupaten Kepulauan Talaud.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan kabupaten perbatasan yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Kabupaten Kepulauan Talaud beribu kotakan di kecamatan Melongguane, dengan luas lautnya sekitar 37.800 km dengan luas wilayah daratan 1.251,02 km dan berpotensi dari segi kelautan dan perikanan dari kabupaten lain di Sulawesi utara. pemekaran dari kabupaten sangihe (pada saat itu masih kebupaten kepulauan sangihe talaud), berdasarkan undang-udang No. 8 Tahun 2002. Terdapat tiga pulau utama di Kabupaten Kepulauan Talaud, yaitu Pulau Karakelang, Pulau Salibabu, Pulau Kabaruan. Kabupaten Kepulauan Taluad memiliki perbatasan yang mana sebelah utara berbatasan dengan Republik Filipina (P .Mindanau), sebelah timut berbatasan dengan Laut Pasifik, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Kepulaun Sangihe, dan sebelah barat berbatasan dengan laut Sulawesi.

Sumber daya manusia di Kabupaten Kepulaun Talaud merupakan potensi untuk dapat menggerakkan pembangunan daerah.

Namun sebaliknya menjadi permasalahan apabilah kualitas sumber daya manusia masih

rendah. Jumlah penduduk yang besar dengan kualitas sumber daya manusia yang tinggi akan sangan mendukung pemerintah dalam pencapaian kesejahteraan masyarakat. Adapun jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Talaud pada tahun 2016-2018 :

Tabel 4.1

Penduduk Kabupaten Kepulauan Talaud Tahun 2016-2018 (jiwa)

Data diolah Tahun 2019 : Badan Pusat Statistika

Berdasarkan pada tabel 4.1 Jumlah penduduk di Kabupaten Kepulauan Talaud dari Tahun 2016-2018 mengalami pertambahan jumlah penduduk tiap tahunnya. Badan Pusat Statistika telah melakukan proyeksi penduduk berdasarkan hasil sensus penduduk Tahun 2010 yang menghasilkan informasi bahwa jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Talaud Tahun 2018 sebanyak 90,678 jiwa.

(18)

18 Analisi Kemandirian Keuangan Daearah

(Otonomi Fiskal)

Tabel 4.2.

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud

Tahun Anggaran 2016-2018

Sumber : APBD Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, dat diolah (2020)

Penelitian ini juga mengindikasikan bahwa PAD berperan penting dalam meningkatkan kemandirian kuangan daerah. Menurut Dwirandra (2008), dalam kaitannya dengan pemberian otonomi kepada daerah dalam merencanakan, menggali, mengelola dan menggunakan keuangan daerah sesuai dengan kondisi daerah. Pendapatan asli daerah (PAD) dapat dipandang sebagai salah satu indikator untuk mengurangi ketergantungan pemerintah kabupaten kepada pemerintah pusat yang pada prinsipnya semakin besar PAD dalam APBD akan menunjukkan semakin kecil ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat dan provinsi.

Namun apabila pendapatan daerah yang berlebihan dan tak terkontrol dalam pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah, maka akan berdampak rugi bagi masyarakat sekitar dan dunia usaha, yang akan menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan kesejahteraan masyarakat akan melemah karena adanya faktor pemungutan pajak yang tinggi yang dibebankan pada masyarakat. Sehingga pemerintah daerah harus lebih berhati-hati dalam pengambilan keputusan agar tidak berdampak pada masyarakat setempat.

, dengan adanya pola kerjasama dan kemitraan swasta dan masyarakat yang saling menguntungkan. Penetapan target PAD berdasarkan perhitungan potensi rill yang berkembang di masyarakat dengan memperhatikan keadaan sosial ekonomi masyarakat.

(19)

19 Analisis Tingkat Efektivitas PAD

Tabel 4.3.

Perhitungan Rasio Efektivitas Pendapat Asli Daerah (PAD) Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud Tahun Anggaran 2016-

2018

Sumber : APBD Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, dat diolah (2020)

Berdasarkan Tabel 4.3. dapat diketahui bahwa rasio efektivitas PAD Tahun Anggaran 2016 sampai dengan Tahun 2018 secara berturut-turut adalah sebesar 120,64

%, 44,50%, dan 68,80% dimana realisasi total PAD Tahun Anggaran 2016 berada diatas Anggaran PAD yang telah ditetapkan.

Hal ini disebabkan Tahun 2016 realisasi lain-lain PAD yang jauh berada diatas Anggaran yang ditetapkan dan Tahun Anggaran 2017 sampai berada dibawah Anggaran PAD yang telah ditetapkan. Sesuai dengan rasio interval pedoman penilaian dan kinerja keuangan maka tingkat efektivitas

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud untuk Tahun Anggaran 2016 sangat efektiv, karena berada pada interval diatas 100%

pada Tahun Anggaran 2017 dan 2018 tingkat efektivitas PAD Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud kurang efektiv, karena pada interval 60-80%

Namun peningkatan PAD yang diupayakan dari pajak dan retribusi daerah, dengan ini tidak menambah beban bagi masyarakat.

Permasalahan utama dalam upaya peningkatan pendapatan daerah di Kabupaten Kepulauan Talaud adalah pertumbuhan dan perkembangan dunia usaha. Dengan harapan secara bertahap pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan, dengan adanya pola kerjasama dan kemitraan swasta dan masyarakat yang saling menguntungkan. Penetapan target PAD berdasarkan perhitungan potensi rill yang berkembang di masyarakat dengan memperhatikan keadaan sosial ekonomi masyarakat.

(20)

20 Analisis Tingkat Efisiensi Keuangan Daerah

Tabel 4.4

Rasio Efeisiensi Belanja Daerah Terhadap Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2016-

2018

Sumber : APBD Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, dat diolah (2020)

Dari Tabel 4.4 diketahui bahwa rasio efisiensi belanja daerah terhadap pendapatan daerah Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud pada Tahun 2016 adalah sebesar 104,56%, Tahun 2017 adalah sebesar 101,42%, dan Tahun 2018 adalah sebesar 98,46% atau sesuai dengan tabel 4.4 Tahun 2017 dan 2018 tergolong masih efisien.

Peneliti menyimpulkan, bahwa pemilihan kebijakan pembiayaan daerah yang berorientasi pada pendapatan daerah yang lebih tinggi daripada pendapatan belanja daerah akan menciptakan kebijakan pembiayaan yang surplus. Sebaliknya, belanja daerah yang lebih besar dibandingkan dengan pendapatan daerah menunjukkan kebijakan pembiayaan daerah

yang benefit. Namun dalam teori keuangan publik mengekspektasikan hubungan terbalik (tidak searah) antara pembiayaan surplus (positif, pendapatan > belanja), maka kesejahteraan masyarakat menurun. Sebaliknya, pembiayaan defisit (negatif, pendapatan <

belanja), maka kesejahteraan masyarakat meningkat.

Analsisi Rasio Keserasian Belanja Daerah Tabel 4.5

Rasio Keserasian Belanja Daerah Tahun 2016- 2018

Sumber : APBD Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, dat diolah (2020)

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa total belanja tidak langsung terhadap total belanja daerah Kabupaten Kepulauan Talaud pada Tahun Anggaran 2016 sebesar 52,90%, Tahun Anggaran 2017 47,76%, dan pada Tahun Anggaran 2018 sebesar 62,95%, sehingga rasio total belanja tidak langsung terhadap total

(21)

21 belanja daerah Pemerintah Kabupaten

Kepulauan Talaud untuk Tahun Anggaran 2016-2018 sebesar 54,53%. Total belanja langsung terhadap total belanja daerah pada Tahun Anggaran 2016 sebesar 47,10%, Tahun Anggaran 2017 sebesar 52,23%, dan Tahun Anggaran 2018 sebesar 37,04%,.

Memperlihatkan rasio alokasi belanja tidak langsung lebih besar dari belanja langsung.

Menurut Titin (2012:6) Belanja Langsusng digunakan oleh pemerintah daerah untuk membiayai program dan kegiatan yang telah dituangkan dalam peraturan daerah. Belanja Langsung diharapkan mempunyai proposi lebih tinggi dibandingkan dengan belanja tidak langsung, karena belanja langsung lebih mengarahkan pada program kegiatan yang telah dipilih dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja pemerintah dan kesejahteraan masyarakat.

Analisis Pertumbuhan Belanja Daerah Tabel 4.6

Rasio Pertumbuhan Belanja Tidak Langsung Tahun 2016-2018

Sumber : APBD Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, dat diolah (2020)

Tabel 4.7

Perhitungan Rasio Pertumbuhan Belanja Langsung Tahun 2016-2018

Sumber : APBD Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, dat diolah (2020)

Berdasarkan tabel diatas Tahun 2016-2018 belanja tidak langsung mangalami kenaikkan.

Hal ini disebabkan adanya peningkatan yang tinggi dalam pembelanjaan pegawai.

Pemebelanjaan pegawai dilakukan untuk mendukung program–program yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kinerja.

Seharusnya Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud memperhatikan pelayanan kepada masyarakat yang dapat dinikmati

(22)

22 langsung oleh publik. Sebagai daerah di negara

berkembang peran pemerintah daerah untuk memacu pelaksanaaan pembangunan seharunya relatif besar, namun rasio belanja langsung yang masih relatif kecil perlu ditingkatkan sesuai kebutuhan pembangunan dan memangkas anggaran yang tidak terlalu berdampak pada kesejahteraan masyarakat setempat atau setidaknya pertumbuhan belanja tidak langsung dan belanja langsung setara dalam mengeluarkan anggaran, dengan begitu akan terjadi pertumbuhan biaya belanja daerah yang efektiv.

Analisis Belanja Sektor Pendidikan

Landasan tentang Sistem Pendidikan Nasioanl di Kabupaten Kepulauan Talaud merumuskan beberapa misi pembangunan diantaranya mewujudkan peningkatan kesempatan kerja, meningkatkan kualitas pelayanan, serta mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas agar tercipta kesejahteraaan masyarakat. Peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam bidang pendidikan dapat tercapai dengan pelaksanaan

belanja pendidikan. Berdasarkan pengukuran tingkat efiktivitas anggaran belanja Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Talaud didasarkan pada Laporan Anggaran Program dan Kegiatan Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Talaud Tahun 2016-2018, yang kemudian diklasifikasikan kembali sesuai dengan evaluasi .

Taraf Pendidikan

Gambar 4.1 Angka Partisipasi sekolah

Sumber : BPS Kabupaten Kepulauan Talaud, data diolah (2020)

(23)

23 Gambar 4.2

Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) menurut jenjang pendidikan di Kabupaten Kepulauan Talaud.

Sumber : BPS Kabupaten Kepulauan Talaud, data diolah (2020)

Angka Partisipasi Sekolah menujukkan pada usia 7-24 Tahun berdasarkan pada jenis kelamin dan kelompok umur (laki-laki dan wanita) menunjukkan data yang tidak pernah bersekolah 1,43, yang masih sekolah 70,45, dan tidak sekolah 28,11. Sedangkan untuk Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan persentase lebih banyak terdapat pada jenjang pendidika dasar (SD) dengan total 95,04 dan terendah terdapat pada jenjang Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan total 70,54. Dari hasil diatas menunjukkan Angka

Partipasi murni pada jenjang SMA adalah yang terendah.

Pencapaian Kinerja Pemerintah Dalam Pendidikan

Grafik 4.1

Program Kegiatan Pemerintah dalam pendidikan

Sumber : Laporan Anggaran Kegiatan dinas pendidikan, data diolah (2020)

Dari seluruh Program/kegiatan yang dianggarkan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, dapat di simpulkan dari ketiga sasaran program besar diatas yaitu, program peningkatan sarana dan prasarana, program wajib belajar dasar sembilan tahun, dan

sarana dan

prasarana wajib belajar 9

tahun

peningkatan mutu dan tenaga kerja 98.01 97.36

95.78 96.92

55.01

91.41 98.88

55.3

99.92

Tahun 2016 Tahun 2017 tahun 2018

(24)

24 program peningkatan mutu dan tenaga pendidik.

Pada Tahun 2018 program-program peningkatan mutu dan tenaga pendidik anggaran yang dikeluarkan sudah terealisasi sebesar 99,92% dibandingkan kedua program lainnya.

Seharusnya Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud lebih banyak mengeluarkan biaya belanja di program pendidikan wajib belajar 9 tahun, fasilitas buku gratis, fasilitas seragam dan transportasi bus sekolah gratis bagi anak–anak untuk jarak tempu dari rumah ke sekolah terbilang jauh. Karna salah satu faktor menunjukan bahwa, APM dan APS lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu kemiskinan, yang dapat menyebabkan anak dan orang tuanya memiliki insentif lebih untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup dibandingkan bersekolah. dari hasil diatas menunjukkan bahwa belanja pada dinas pendidikan di katakana kurang efektiv pada program yang mengarah pada kapasitas

sejahteraan masyarakat dalam memperoleh pendidikan.

Grambar 4.3

Garis Kemiskinan dan Penduduk Miskin di Kabupaten Kepulauan Talaud

Gambar 4.3 merupakan gambaran garis kemiskinan dan penduduk di Kabupaten Kepulauan Talaud. Persentase penduduk miskin di Kabupate Kepulauan Talaud pada Tahun 2018 adalah sebesar 9,50 mengalami penurunan dibandingkan dengan Tahun lalu. Garis kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Talaud pada Tahun 2018 adalah Rp 265.893,00 yang merupakan batas minimum pendapatan untuk dikategori sebagai penduduk tidak miskin.

(25)

25 Pencapaian Kinerja Pemerintah dalam

Kemiskinan

Pencapaian kinerja Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud berdasarkan hasil pengukuran, evaluasi dan analisis akuntabilitas kinerja, pengukuran capaian kinerja mencakup Pengukuran Kinerja Kegiatan (PKK), Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS) yang merupakan tingkat pencapaian target dari masing-masing indikator kinerja yang ditetapkan sebagaimana dituangkan dalam Dokumen Rencana Kerja Tahunan. Evaluasi dan Analisis Akuntabilitas dilaksanakan dengan cara melakukan analisis berkaitan dengan pencapaian kinerja dalam rangka keberhasilan pelaksanaan tugas secara keseluruhan.

Tabel 4.16

Hubungan Kinerja Keuangan Dan Kinerja Manfaat Bagi Masyarakat Miskin

Sumber : Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, data diolah (2020)

Tabel 4.16 (Lanjutan)

Hubungan Kinerja Keuangan Dan Kinerja Manfaat Bagi Masyarakat Miskin

Sumber : Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, data diolah (2020)

(26)

26 Tabel 4.16 (Lanjutan)

Hubungan Kinerja Keuangan Dan Kinerja Manfaat Bagi Masyarakat Miskin

Sumber : Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, data diolah (2020)

Dari Penelitian ini peneliti mengemukakan dari seluruh program/kegiatan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, meskipun program yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat akan mengurangi kemiskinan secara langsung, namun pada dasarnya faktor pendapat ajak dan retribusi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud yang tinggi akan sangat menyulitkan masyarakat.

Dengan menggeserkan pendapatan pajak dan pengalihan kebijakan kepada masyarakat yang lebih rendah membawa masyarakat diatas garis kemiskinan. Karena pendapatan daerah dari

hasil pajak dan retribusi yang tinggi akan membawa penurunan kemiskinan yang rendah.

Sedangkan pengeluaran belanja yang lebih tinggi terhadap program kesejahteraan masyarakat, akan menurunkan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi. Kesejahteraan sosial yang tinggi akan dapat mengurangi kemiskinan. Semakin tinggi belanja langsung yang dikeluarkan oleh pemerintah, samakin rendah juga tingkat kemiskinan dari daerah tersebut. Karena dalam teori keuangan publik mengekspektasikan hubungan terbalik (tidak searah) antara pembiayaan surplus (positif, pendapatan > belanja), maka kesejahteraan masyarakat menurun. Sebaliknya, pembiayaan defisit (negatif, pendapatan < belanja), maka kesejahteraan masyarakat meningkat. Oleh sebab itu Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud harus bisa memberikan kebijakan- kebijakan yang tidak membebani masyarakat setempat. Kebijakan yang terarah dengan baik akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan

(27)

27 SDM yang lebih baik dan akan membawa pada

pertumbuhan daerah yang efektiv.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan, dimana terdapat kedua faktor Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud masih belum bisa optimal dalam mengalokasikan dan merealisasikan dana, seperti dalam pembahasan diatas, pada program pendidikan seharusnya pemerintah mengutamakan program wajib belajar 9 tahun, karena dengan begitu masyarakat dapat menerima pelayanan pendidikan secara gratis tanpa perlu terbebani dengan biaya sekolah, biaya buku, dan biaya iuran sekolah dan akan meningkatkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) dan Angka Partisipasi Murni (APM) sehingga pendidikan di Kabupaten Kepulauan Talaud akan mengalami peningkatan kemajuan kualitas pendidikan, sedangkan pada tingkat kemiskinan meskipun terdapat program- program yang berorientasi pada kesejahteraan

masyarakat, namun ternyata tidak sesuai dengan hasil lapangan dikarenakan sebagian masyarakat tidak mendapatkan manfaat dari program tersebut salah satu programnya yaitu program rumah tak layak huni (RTLH) dimana hanya beberapa kepala keluarga atau masyarakat yang dipilih saja yang menerima bantuan dari program (RTLH). Dari penjelasan diatas, seharusnya dengan adanya pemerataan anggaran dana pada peningkatan program pendidikan dan program kesejahteraan masyarakat yang baik maka akan tercipta suatu pembangunan daerah dan sumber daya manusia yang efektiv dan berkualitas dengan begitu akan menurunkan angka kemiskinan pada daerah Kabupaten Kepulauan Talaud.

SARAN

Saran dari peneliti untuk Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud yaitu perlu adanya penatahan kembali permasalahan keuangan daerah dengan konsisten pada prinsip-prinsip tata kelolah pemerintah yang baik dan meningkatkan lagi efektivitas program/kegiatan yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat, seperti pada

(28)

28 pendidikan dan kesejahteraan masyarakat,

karena apabila masyarakat mendapatkan akses pendidikan yang mudah, maka potensi untuk sumber daya manusia akan meningkat dan dengan adanya pemerataan bantuan program/kegiatan pemerintah, masyarakat dapat menikmati langsung manfaat dari hasil kinerja dan pencapaian pemerintah, dengan begitu dana anggaran yang dikeluarkan pemerintah akan terealisasi dengan baik dalam pembangunan daerah untuk kesejahteraan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Antari, S., & Sedana, P. (2018). Pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Belanja Modal Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Skripsi Universitas Udayana Bali .

BAPPENAS. (2019). Analisis Wilayah Dengan Kemiskinan Tertinggi. Dipetik

September 18, 2019, dari Situs Resmi BAPPENAS:

https://www.bappenas.go.id

Badan Pusat Statistika [BPS]. 2016. Statistika Kabupaten Kepulauan Talaud 2016.

Badan Pusat Statistika Kabupaten Kepulauan Talaud.

Badan Pusat Statistika [BPS]. 2017. Statistika Kabupaten Kepulauan Talaud 2017.

Badan Pusat Statistika Kabupaten Kepulauan Talaud.

Badan Pusat Statistika [BPS]. 2018. Statistika Kabupaten Kepulauan Talaud 2018.

Badan Pusat Statistika Kabupaten Kepulauan Talaud.

Bastian, I. (2007). Sistem Akutansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.

Belva, A. (2019). Ketertinggalan Pendidikan Indonesia. Dipetik Agsutus 6, 2019, dari kompas: www.kompas.com

Berlian. N (2011). Faktor-Faktor Yang Terkait Dengan Rendahnya Pencapaian Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun.

Jurnal Pendidikan dan Budaya, Vol 17, No 1.

Darinsya, Y (2014). Efektivitas Penggunaan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) Dalam Program Pengentasan Kemiskinan Di Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Tahun 2010-2012. Jurnal FISIP Universitas Riau.

Golgola, Ledy (2015). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyerapan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud. Jurnal FEB Universitas Sam Ratulangi Manado.

(29)

29 Halim, A. (2007). Akutansi Sektor Publik :

Akutansi Keuangan Daerah. Jakarta:

Salemba Empat.

Haryanto. (2012). Dipetik 7 21, 2019, dari belajarpsikologi.com:

http://belajarpsikologi. com/pengertian- pendidikan-menurut-ahli/

Haryanto. (2012). Kemiskinan dan

Permasalahan di Pedesaan. Dipetik Juli 21, 2019, dari

haryharyanto.wordpress.com:

http://haryharyanto.wordpress.com Indra, B. (2001). Akutansi Sektor Publik : Suatu

Pengantar. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Irwanto. M (2014). Evaluasi Keberhasilan Kinerja Keuangan Daerah dan Pelayanan Publik pada Sektor Pendidikan Dan Kesehatan Di Provinsi Jawa Timur Tahun 2008-2010. Jurnal FEB Universitas Brawijaya Malang.

Mahsun, M. (2006). Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: BPFE.

Mardiasmo. (2002). Otonomi dan Manajemen Keuangan Dearah. Yogyakarta: Andi.

Martini, N.(2016). Eksplorasi Nilai-Nilai Pendidikan Karaketer Di Sekolah Dasar.

Jurnal Psikologi Ilmiah, 8(1)

Moleong. (2004). Metode Penelitian Kualitatif.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nugroho, S. (2009). Analisis Kinerja Keuangan Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri Dan Kabupaten Karanganyar Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah.

Skripsi Universitas Muhamadiyah Surakarta.

Pratidina , M. (2012). Kinerja Keuangan Pemerintah Serta Tingkat Pendidikan, Tingkat Kesehatan, dan Tingkat

Kemiskinan Di Kabupaten Blitar Tahun 2008-2010. Skripsi Universitas

Brawijaya Malang.

Republik Indonesia. 2007. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007.

Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006.

Pengelolaan Keuangan Daerah. Menteri Dalam Negeri. Jakarta.

Republik Indonesia. 2003. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Sistem pendidikan Nasional.

Sekertariat Negara. Jakarta.

Republik Indonesia. 2014. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014. Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Sekertariat Negara.

Jakarta.

(30)

30 Republik Indonesia. 2019. Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2019. Pengelolaan Keuangan Daerah. Sekertariat Negara. Jakarta.

Republik Indonesia. 2006. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006. Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Sekertariat Negara. Jakarta.

Republik Indonesia. 2003. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003. Keuangan Negara. Sekertariat Negara. Jakarta.

Republik Indonesia. 2004. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004. Pemerintah Daerah. Sekertariat Negara. Jakarta.

Republik Indonesia. 2016. Peraturan Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud Nomor 14 Tahun 2016. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud Tahun 2017. Pemkab. Kabupaten Kepulauan Talaud.

Safriansyah, R., & Masyarafah, H. (2013).

Public Expenditure Analysis and Capacity Strangthening Program.

Skripsi Biannual International

Conference on Aceh and Indian Ocean Studies Banda Aceh.

Suhariyanto. (2018). Standar Garis Kemiskinan Indonesia di Atas Bank Dunia. Dipetik September 18, 2019, dari Situs Resmi Kumparn Bisnis: https://kumparan.com Widianto. B (2019). Analisis Belanja Publik

Untuk Penanggulangan Kemiskinan Di kabupaten Brebes. Buku Paduan.

Cetakan Pertema Tim Nasioanl Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.

Wongindaan , M. (2016). Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud. Skripsi Universitas Samratulangi Manado.

Gambar

Gambar 4.1   Angka Partisipasi sekolah
Gambar  4.3  merupakan  gambaran  garis  kemiskinan  dan  penduduk  di  Kabupaten  Kepulauan Talaud
Tabel 4.16 (Lanjutan)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian saat ini menggunakan skala auditor sebagai proksi dari variabel kualitas audit, Net Profit Margin untuk rasio profitabilitas, dan Quick Ratio untuk

Hasil regresi linier berganda pada rasio aktivitas menunjukkan bahwa rasio aktivitas berpengaruh signifikan terhadap Investment Opportunity Set.Hasil ini sejalan

Haryono 165, Malang Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kompetensi auditor yang diproksikan dengan pengalaman dan pengetahuan auditor, serta pengaruh independensi auditor,

Pada variabel pengeluaran pemerintah sektor kesehatan kesehatanX3 didapat nilai Prob > α 0,05, yakni sebesar 0.592 serta nilai koefisien yang bernilai positif, maka dapat disimpulkan

Meningkatnya kepercayaan kepada pemerintah, kebanggaan nasional, religiositas serta kebahagiaan dan kepuasan akan turut serta meningkatkan tax morale mahasiswa Universitas Brawijaya,

ANALISIS VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENDAPATAN PEDAGANG KAKI LIMA Studi Kasus Pedagang Kaki Lima di Alun-alun Kabupaten Gresik Anis Widyawati Fakultas Ekonomi dan

Rasio Efektivitas Alat rasio keuangan yang digunakan adalah analisis rasio yang dikembangkan berdasarkan data keuangan yang bersumber dari anggaran pendapatan belanja daerah Halim,

Perhitungan Rasio Efektivitas PAD Tahun Anggaran 2014-2017 Sumber data: BKD Kabupaten Hulu Sungai Selatan diolah Berdasarkan perhitungan pada tabel diatas dapat diketahui bahwa