Artikel ini menggunakan kitab Ibnu H{ibba>n h}adi@th untuk membandingkannya dengan Sunan Ibnu Ma>jah. Perbandingan persentase jumlah H}adi@th pada Sunan Ibnu Ma>jah dan S{ah}i>h} Ibnu H{ibba>n. Ibnu Ma>jah menyebutkan 131 h}adi@th, sedangkan Ibnu H{ibba>n hanya menyebutkan 55 h}adi@th, atau kurang dari separuh yang dilakukan Ibnu Ma>jah.
Sebaliknya, dalam beberapa perbincangan lain, jumlah h}adi@th-h}adi@th yang terdapat dalam S{ah}i>h} Ibn H{ibba>n adalah lebih banyak daripada yang terdapat dalam Sunan Ibn Ma. didapati > ya Perbincangan tentang solat misalnya, terdapat 1455 h}adi@th dalam S{ah}i>h} Ibn H{ibba>n, manakala dalam Sunan Ibn Ma>jah hanya terdapat 766 h}adi. @th ialah. Perbincangan tentang jihad, terdapat 409 h}adi@th dalam S{ah}i>h} Ibn H{ibba>n, dan hanya 129 h}adi@th dalam Sunan Ibn Ma>jah.
Perbandingan jumlah H}adi@th pada setiap pembahasan pada S{ah}i>h} Ibnu H{ibba>nd dan Sunan Ibnu Ma>jah. Berdasarkan analisis dan perbandingan di atas terlihat bahwa dari segi isi pembahasan dan komposisi h}adi@th per Pembahasan antara kitab Sunan Ibnu Ma>jah dan S{ah}i>h Ibnu H{ibba>n, keduanya mempunyai kesamaan hampir di semua pembahasan. Perbedaan lainnya dikemukakan oleh Ibnu H{ibba>n dalam kitab sahihnya yang menjelaskan beberapa had}adi@th yang terkesan saling bertentangan, sedangkan Ibnu Ma>jah tidak.
LVQO
Penilaian ini mungkin akan bertambah nilainya jika memperhatikan beberapa pembahasan dalam S{ah}i>h} Ibnu H{ibba>n yang tidak terdapat dalam Sunan Ibnu Ma>jah, seperti pembahasan memulai sesuatu dengan hamdalah, wahyu, permulaan. penciptaan, tafsir dan sihir. Lebih dalam lagi, S{ah}i>h} Ibnu H}ibba>n tidak hanya “bermain” di wilayah fiqh saja, namun memasuki wilayah yang lebih awal, yakni wilayah us}u>li>. Dalil yang dapat dikemukakan adalah hadis@th tentang larangan menunaikan hajat menghadap kiblat dan perintah menghadap ke timur atau barat.4 2 Dalam konteks ini, Ibnu H{ibba>n menjelaskan bahwa perkataan dari Rasulullah sharriqu> aw gharribu>merupakan pengucapan perintah yang digunakan hanya sesuai dengan keumuman perintah tersebut dalam beberapa keadaan yaitu di tempat yang tidak tertutup, karena menurutnya hadi@th diselesaikan oleh dua hal-hal.
Pertama, dengan riwayat Ibnu ‘Umar yang menjelaskan bahwa Rasulullah mengabulkan keinginannya di rumah H{afsah dengan posisi menghadap kiblat. Kedua, dengan ijma', yaitu orang yang arah kiblatnya ke timur atau barat dilarang menghadap ke arah tersebut atau membelakanginya. 4 3 Berbeda dengan Ibnu Ma>jah yang tidak berkomentar mengenai hal ini. urusan. Misalnya saja ketika tampak adanya pertentangan dalam riwayat Hudhayfah dan al-Mughi>rah bin Syu'bah yang menyebutkan bahwa Rasulullah “berhajat” dalam posisi berdiri, dan riwayat ‘A<’ ishah, Umar dan Jabir, yang menolak melakukannya.
Dalam hal ini Ibnu Ma>jah hanya menyebutkan gelar yang berbeda tanpa ada penyelesaian apa pun, untuk dua riwayat h}adi@th yaitu H{udhayfah dan al-Mughi>rah ia diberi gelar "ba>b ma> ja>' .a> fi al-bawl qa>'iman" (bab hadi@th tentang kencing dalam posisi berdiri), kemudian untuk ha}adi@th yang ketiga yang bertentangan dengan dua riwayat sebelumnya ia bergelar "ba>b fi al - bawl qa >'idan" (h}adi@th bab tentang buang air kecil dalam posisi duduk). Sementara itu, Ibnu H{ibba>n menyatakan dengan jelas di awal pembahasannya - sebelum memulai h}adi@th disertakan - dengan judulnya “dzikir al-zajr. H}adi@th nomor 305 dan 306 menceritakan dia melakukan keinginannya dengan posisi berdiri, h}adi@th nomor 307 membantah 'Aisyah, dan h}adi@th nomor 308-309 adalah larangan buang air kecil dalam posisi berdiri posisi posisi.
Q[;LBQm+L7
Sunan Ibn Ma>jah dan S{ah}i>h} Ibn H}ibba>n dalam Roh Penyucian H}adi@th. Berdasarkan pencarian kedua-dua kitab tersebut (kedua-duanya disahkan oleh al-Alba>ni>), terdapat sejumlah h}adi@th yang lemah dalam semua perbincangan atau tema yang terdapat dalam Sunan Ibn Ma>jah. Iaitu, secara kuantitatif jumlah bilangan h}adi@th- h}adi@th status lemah yang terdapat dalam S{ah}i>h} Ibn H{ibba>n tidak.
Artinya berdasarkan persentase yang tergambar pada tabel, Sunan Ibnu Ma>jah mempunyai persentase h}adi@th yang berstatus daif dan hasan lebih besar dibandingkan S{ah}i>h} Ibnu H{ibba>n. Sebaliknya S{ah}i>h} Ibnu H{ibba>n mempunyai persentase h}adi@th yang berstatus sahih lebih besar dibandingkan Sunan Ibnu Ma>jah. H}adi@th-h}adi@th zawa>'id yang terdapat dalam Sunan Ibnu Ma>jah telah dipisahkan dalam kumpulan h}adi@th karya Shiha>b al-Di>n al-Bu>s } iri>.
Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu Ma>jah setidaknya mempunyai andil yang cukup besar dalam h}adi@th-h}adi@thzawa>'idnya, yaitu lebih dari 35%. Nomor H}adi@th-h}adi@thZawa>id Ibnu Ma>jah dan H}adi@th Daifnya. Perbandingan H}adi@th Zawaid Ibnu Ma>jah dan Ibnu H{ibba>n Sunan Ibnu Ma>jah S{ah}i>h} Ibnu H{ibba>n.
Namun mengenai jumlah h}adi@th yang dianggap daif, Sunan Ibnu Ma>jah memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan S{ah}i>h} Ibn H}ibba>n yaitu 660 h}adi@ th dibandingkan 226 jam }adi@th. Sedangkan riwayat Ibnu H{ibba>n mencapai 159 hadi@th atau sekitar 12%. lihat grafik 7.). Hal ini menunjukkan bahwa kisah h}adi@th-h}adi@th Ibnu Ma>jah dan Ibnu H{ibba>n atau Sunan Ibnu Ma>jah dan S{ah}i>h} Ibnu H{ibba>n adalah yang dijadikan referensi oleh Ibnu H{ajar, tidak ada perbedaan yang berarti, hanya mengenai
Ini menunjukkan bahawa h}adi@th-h}adi@th riwayat Ibn Ma>jah dan Ibn H{ibba>n atau Sunan Ibn Ma>jahdan S{ah}i>h} Ibn H{ibba>n, yang menggunakan sebagai rujukan Ibn Hajar tidak ada perbezaan yang ketara, hanya dari segi istilah sahaja. Jumlah H}adi@th Riwayat Ibn Ma>jah dan Ibn H{ibba>n dalam kitab Bulu>gh al-Mara>m. Kajian ini juga menunjukkan bahawa sejumlah h}adi@th lemah yang diriwayatkan oleh Ibn Ma>jah yang dirujuk oleh Ibn Hajar tidak diriwayatkan oleh Ibn H{ibba>n dalam kitab h}adi@thnya yang sahih. 62.
Ibn Hibban on h}adi@th-h}adi@th riwayat Ibn Ma>jah, yang dijadikan rujukan oleh Ibn H{ajar ini, sudah pasti menambah nilai riwayat Ibn H{ibba >n on Ibn. Ma>jah .
O O Q L+QM'E*)(\NO LML
H}adi@th nomor 11 misalnya, lokasi tokonya ada di salah satu perawi bernama 'Abd al-Rah}ma>n ibn Zayd ibn Aslam al-Adawi> (182 H). Abu Dawud, al-Nasa>'i> dan Abu Zur'ah menilai daif tersebut, Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa 'Abdul-Rah}ma>n ibn Zayd meriwayatkan hadits tersebut. adi @th munkar adalah h}adi@th nomor 11, bahkan seperti dikutip al-Bukha>ri>. Sedangkan h}adi@th nomor 46, lokasi kisahnya ada pada salah seorang perawi yang bernama Selameh al-Leythi>.
Perbandingan di atas juga membuktikan bahwa meskipun Ibnu Ma>jah secara kuantitatif lebih baik dibandingkan Ibnu H{ibba>n, namun nampaknya ada sejumlah hadis dalam sejarah Ibnu Ma>jah yang dianggap lemah oleh Ibnu H. {ibba>n dirinya sendiri. Hal ini tidak terjadi dalam h}adi@th-h}adi@th riwayat Ibnu H{ibba>n, sehingga Ibnu Ma>jah secara umum tidak lebih baik dari Ibnu H{ibba>n, dan terdapat 'a sejumlah riwayat h}adi@th Ibnu Ma>jah yang diriwayatkan}h}i>h}oleh Ibnu H{ibba>n, baik oleh Ibnu H{ibba>n sendiri maupun bersama ulama h}adi@th lainnya . Artinya, dominasi fiqh jauh lebih memberikan tekanan bahkan kepada tokoh hadis sebesar Ibnu H{ajar al-'Asqala>ni>.
Oleh karena itu, keenam kitab h}adi@th dalam struktur al-Kutub al-Sittah dapat dilihat dalam kerangka fiqh. Ibnu H{ibba>n mempunyai kandungan yang tidak dimiliki oleh Sunan Ibnu Ma>jah, karena menurut isi yang dikandungnya, S{ah}i>h} Ibnu H{ibba>n dapat dikategorikan sebagai kitab hadi@th yang disebut ja>mi' sebagai kitab hadi@th al-Bukha>ri> dan Muslim. Dalam konteks semangat bersuci h}adi@th yang dimulai pada abad ke-3 H., meskipun baik Sunan Ibnu Ma>jah maupun S{ah}i>h} Ibnu H{ibba>n sama-sama memberikan kontribusi kecil, S { ah}i>h} Ibnu H{ibba>n lebih banyak menyumbang kumpulan hadis sahih@th yang dikandungnya dibandingkan Sunan Ibnu Ma>jah.
Ibnu H{ibba>n mempunyai himpunan h}adi@th-h}adi@thzawa>'id dengan total h}adi@th sebesar 2467 h}adi@th dengan 242 h}adi@th daif di dalamnya dibandingkan Ibnu Ma >jah berjumlah 1551 h}adi@th dengan 660 h}adi@th daif di dalamnya. Kedua, tingkat referensi terhadap h}adi@th-h}adi@th riwayat Ibnu H{ibba>n yang digunakan dalam kitab h}adi@th-fiqh atau fiqh-h}adi@th yang berjudul Bulu>gh al -Mara>m min Adillat al-Ah}ka>m oleh Ibnu H{ajar al-. Meskipun Ibnu Ma>jah lebih unggul dari Ibnu H{ibba>n secara kuantitas, namun sejumlah haddi@ths yang diriwayatkan oleh Ibnu Ma>jah dianggap lemah oleh Ibnu H{ibba>n sendiri.
Hal ini tidak terjadi dalam h}adi@th-h}adi@th riwayat Ibnu H{ibba>n, sehingga Ibnu Ma>jah secara umum tidak lebih baik dari Ibnu H{ibba>n, dan terdapat 'a sejumlah riwayat h}adi@th Ibnu Ma>jah yang}h}i>h} diriwayatkan oleh Ibnu H{ibba>n, baik oleh Ibnu H{ibba>n sendiri maupun bersama ulama h}adi@th lainnya. Tas}h}i>h} Ibnu H{ibba>n pada h}adi@th-h}adi@th sejarah Ibnu Ma>jah yang dijadikan referensi oleh Ibnu H{ibba> tentu saja memberikan nilai tambah bagi Ibnu Riwayat H{ibba >n di atas Ibnu Ma>jah.