Usia kawin pertama (AGE) atau pernikahan dini pada anak perempuan dibawah 17 tahun di Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone pada tahun 2014 mencapai 59,37. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merasa tertarik untuk meneliti fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat, sehingga peneliti memilih judul penelitian; “Fenomena Janda Remaja (Studi Kasus Masyarakat Lappariaja Kabupaten Bone)”.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
1 Tahun 1974 Pasal 1, perkawinan adalah penyatuan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam KUH Perdata, perkawinan adalah suatu hubungan hukum antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk waktu yang lama. Menurut Wiryono, perkawinan adalah hidup bersama antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang memenuhi syarat-syarat tertentu (Wiryono, 1978:15).
Menurut Abdul Jumali, perkawinan adalah suatu ikatan jasmani dan rohani antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang hidup bersama dalam suatu rumah tangga dan meneruskan keturunannya sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Pernikahan menurut hukum Katolik adalah ikatan seumur hidup antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri yang terjadi atas persetujuan kedua belah pihak yang tidak dapat ditarik kembali. Sedangkan menurut umat Protestan, pernikahan adalah ikatan seumur hidup antara seorang pria dan seorang wanita, yang mempunyai janji berdasarkan cinta gereja.
Perkawinan Usia Dini
Dengan penjelasan di atas, maka perkawinan muda dapat diartikan sebagai ikatan batin dan jasmani antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri pada usia muda/remaja. Namun pada praktiknya, di masyarakat saat ini masih banyak orang yang menikah di usia muda atau di bawah umur. Biasanya pernikahan muda dilakukan antara pasangan muda yang rata-rata berusia antara 16-20 tahun.
Di Mamasa sendiri, khususnya di Desa Sapan, Kecamatan Pana, Kabupaten Mamasa, sudah banyak masyarakat yang menikah di usia muda. Beberapa orang yang menikah di usia muda dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mendorongnya untuk menikah di usia muda atau di bawah umur. Dan setelah melihat uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa perkawinan muda adalah perkawinan remaja ditinjau dari usianya, masih belum cukup umur atau matang untuk membentuk sebuah keluarga.
Keluarga dan Masyarakat
Keluarga Inti dan Keluarga Besar
Oleh karena itu, sebelum memasuki perkawinan atau kehidupan berkeluarga, hendaknya remaja terlebih dahulu mempersiapkan diri sedemikian rupa agar keluarga yang akan dibentuknya tidak terlalu banyak mengalami permasalahan yang berujung pada perceraian. Dan pada dasarnya setiap pasangan remaja yang ingin menikah harus siap secara fisik/finansial dan juga mental dalam artian mempunyai sikap yang matang untuk melihat makna pernikahan itu sendiri agar keluarga yang mereka bangun adalah keluarga yang berkecukupan. . Jika kita nyatakan keluarga kecil adalah keluarga yang jumlah anaknya tidak harus sedikit atau sedikit, maka dapat kita nyatakan bahwa keluarga besar bukanlah keluarga yang mempunyai anak yang banyak atau banyak.
Sedangkan keluarga besar adalah kesatuan keluarga yang mencakup lebih dari satu generasi dan lingkungan keluarga yang lebih luas dari sekedar ayah, ibu, dan anak. Emile Durkheim menyebut keluarga perkawinan ini sebagai “keluarga perkawinan”, yaitu inti dari pasangan suami istri dan keturunannya yang dikelilingi oleh lapisan keluarga yang cukup jauh. Struktur keluarga lainnya adalah “consanguine”, yaitu keluarga inti dari keluarga sedarah, yang juga mencakup keluarga periferal dari suami dan istri.
Ciri-ciri Keluarga
Sebagai tempat berlakunya sosialisasi primer, di mana kanak-kanak dididik untuk memahami dan mematuhi peraturan dan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai tempat berlindung, agar kehidupan berkembang dengan tertib dan damai, sehingga manusia dapat hidup dengan aman (soekanto:85). Dari hubungan cinta, persaudaraan, persahabatan, keakraban, pengenalan, pandangan umum tentang nilai timbul.
Melalui interaksi sosial dalam keluarga, anak mempelajari pola perilaku, sikap, kepercayaan, cita-cita dan nilai-nilai dalam masyarakat untuk mengembangkan kepribadiannya.
Keluarga sebagai inti masyarakat
Sesuai dengan pandangan di atas, Ramayulis menyatakan bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, karena merupakan unit pertama dalam masyarakat tempat berlangsungnya proses sosialisasi dan perkembangan individu. Keluarga merupakan institusi terkuat yang dimiliki manusia dan satu-satunya institusi tertua di dunia. Di kalangan masyarakat eksimo kutub misalnya, lembaga keluarga merupakan satu-satunya lembaga, tidak ada lembaga lain, tidak ada kepala suku, tidak ada pendeta atau paramedis, dan tidak ada pekerjaan spesialis.
Berdasarkan petunjuk tersebut maka keluarga adalah inti masyarakat atau keluarga adalah jantungnya masyarakat, karena segala kebutuhan masyarakat bermula dan dilaksanakan dari keluarga. Keluarga merupakan kelompok primer, kelompok primer adalah kelompok yang memungkinkan kita mengenal orang lain sebagai individu secara intim. Kelompok primer dapat menangani suatu pekerjaan, namun penilaiannya didasarkan pada kualitas hubungan, bukan efisiensi dalam menyelesaikan pekerjaan.
Sistem Perceraian
Perceraian merupakan puncak dari solusi perkawinan yang buruk dan terjadi ketika suami istri tidak dapat lagi menemukan cara penyelesaian masalah yang dapat memuaskan kedua belah pihak. Banyak perkawinan yang tidak membawa kebahagiaan, namun tidak berakhir dengan perceraian karena perkawinan tersebut didasari oleh agama, moral, keadaan ekonomi dan sebab-sebab lainnya. Namun banyak juga perkawinan yang berakhir dengan perceraian dan pembatalan, baik secara sah maupun sembunyi-sembunyi, dan ada juga kasus dimana salah satu (istri/suami) meninggalkan keluarga.
Meski tidak ada ayat dalam Alquran yang memerintahkan atau mengharamkan perceraian, namun artinya boleh, namun perceraian merupakan perbuatan yang tidak disukai Nabi.
Kajian Teori
- Teori Struktural Fungsional
- Teori konflik
- Teori Modernisasi
- Teori Interaksionis
Perbedaan peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga secara tradisional disebabkan oleh perbedaan fisik di antara keduanya. Ayah merupakan salah satu bagian dari struktur, jika ayah meninggal maka beberapa fungsi dalam keluarga akan terganggu. Teori konflik keluarga memandang konflik sebagai konsekuensi normal dan alami dari interaksi manusia.
Berdasarkan pandangan tersebut, dalam studi keluarga yang menggunakan teori konflik, penekanannya diberikan pada manajemen konflik dan distribusi kekuasaan dan sumber daya dalam keluarga. Perbedaan psikologis antara orang tua dan anak tercermin dari perbedaan orang tua dalam keluarga dalam hal mencapai sesuatu. Dengan cara ini terjadi komunikasi antara orang tua dan anak yang memungkinkan terjadinya modifikasi perilaku semua pihak yang terlibat.
Kerangka Pikir
- Data skunder
Dari perspektif interaktif, 'realitas' tidak hanya harus terlihat oleh mata, namun juga 'apa yang terjadi dalam pikiran'. Karena di usia ini Anda sudah mampu secara lahir dan batin atau siap mengemban tanggung jawab rumah tangga sebagai suami istri. Di masyarakat Lappariaja Kabupaten Bone banyak terjadi kasus perceraian, hal ini dikarenakan masyarakat menikah pada usia muda sehingga di masyarakat ada yang namanya janda.
Penelitian ini merupakan bentuk penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan deskriptif, dengan tujuan untuk menggambarkan suatu keadaan atau fakta secara cermat dan mendalam. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone dengan alasan lokasi tersebut sangat cocok untuk dijadikan tujuan penelitian karena banyak terdapat janda di bawah umur. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari laporan instansi yang terkait dengan penelitian ini yaitu Kantor Kementerian Agama. Sumber dapat berupa buku, jurnal, dan statistik yang berkaitan dengan penelitian ini.
Subyek Penelitian
Tekhnik Pengumpulan data
- Observasi
- Wawancara
- Dokumentasi
Analisis Data
Tekhnik Pengabsahan Data
Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data sekunder yang dilakukan dengan cara mengekstraksi data dari hasil penelitian, termasuk buku dan data yang relevan. Jika hasil pengujian memberikan data yang berbeda, maka dilakukan beberapa kali untuk mencapai hasil yang diharapkan. Jarak antara Desa Waekecce'e dengan kantor kecamatan cukup jauh, sekitar 10 hingga 12 kilometer dari desa ke kelurahan.
Kondisi Sosial Ekonomi dan Pendidikan Masyarakat Desa Waekecce'e Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone. Berdasarkan hasil penelitian di Desa Waekecce'e Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone, jika dilihat dari segi sosial, mata pencaharian masyarakat rata-rata adalah petani dan pedagang.
Pemahaman Masyarakat Terhadap Pernikahan Usia Dini
- Faktor Penyebab Pernikahan Usia Dini (PUS)
- Dampak pernikahan Usia Dini
- Cara mengatasi maraknya Penemona Janda Dibawah Umur
- Usaha yang Dilakukan masyarakat Lappariaja Kabupaten Bone dalam Menghindari perkawinan Usia DiniMenghindari perkawinan Usia Dini
- Pandangan Masyarakat Terhadap perkawinan usia dini dan janda dibawah umurdibawah umur
Sehingga dalam rumah tangganya biasanya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan hingga berujung pada perceraian yang menyebabkan bertambahnya jumlah janda di bawah umur. Secara khusus, penulis mewawancarai 7 orang informan yang menikah pada usia dini dan menjadi janda di bawah umur. Karena orang tua takut anaknya akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan yang akan menimbulkan rasa malu bagi keluarga ketika anaknya keluar rumah, maka orang tua memutuskan untuk menikahkan anaknya di usia muda tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi yaitu menjanda di bawah umur.
Kondisi perekonomian yang tidak stabil dapat menimbulkan permasalahan yang berujung pada perceraian sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah janda di bawah umur. Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa terjadinya janda di bawah umur juga disebabkan oleh beberapa faktor yaitu. Bagi pasangan yang menikah dini dan janda di bawah umur, hubungan dengan orang tua dan tetangga adalah hal yang wajar, sama seperti orang yang menikah pada umumnya.
PENUTUP
KESIMPULAN
Jika hal ini bisa dilakukan dengan baik, maka fenomena janda di bawah umur juga akan berkurang di wilayah Lappariaja maupun di daerah atau kota lain. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi pernikahan dini pada masyarakat Lappariaja adalah melalui keluarga yang mendidik dan menanamkan nilai-nilai baik pada anak sejak dini, serta memberikan bimbingan dan pengawasan agar anak tidak terjerumus dalam perbuatan tidak bermoral yang dapat berujung pada berbagai hal negatif.
SARAN
Sebaiknya orang tua lebih memperhatikan anaknya yang sudah mempunyai teman, agar tidak ketinggalan pendidikan. Dengan mengikuti kegiatan sosial di komunitas Lappariaja seperti Karang Taruna dan Masjid Remaja untuk remaja. Dapat membantu pengetahuan dan juga menjadi penghambat remaja untuk melakukan aktivitas yang dapat berdampak negatif.
Untuk menyalurkan hobi dan kegiatan rekreasional, agar keinginan menikah pada usia muda ditunda hingga usia yang sesuai hukum perkawinan, sehingga tidak mengakibatkan anak menjadi janda.