HUBUNGAN PSIKOLOGI DAN GAYA HIDUP DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA RAWAT JALAN DI PTPN X RSU. Harwiyandi Ningsih.
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
- Manfaat Penelitian
- Manfaat Teoritis
- Manfaat Praktis
Mengidentifikasi karakteristik individu (usia dan jenis kelamin), psikologis (stres, depresi), gaya hidup (konsumsi kopi, konsumsi rokok, aktivitas fisik) pada pasien penyakit jantung koroner di RS Klinik Jember. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi RS Klinik Jember untuk meningkatkan motivasi kelangsungan hidup pasien penyakit jantung koroner di RS Klinik Jember.
TINJAUAN PUSTAKA
Penyakit Jantung Koroner
- Pengertian Penyakit Jantung Koroner
- Epidemiologi Penyakit Jantung Koroner
- Etiologi Penyakit Jantung Koroner
- Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner
- Manifestasi Klinis
- Gejala Penyakit Jantung Koroner
- Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner
- Pencegahan penyakit jantung koroner
Penelitian Zahrawardani et al., (2013), menetapkan bahwa hasil penelitian terhadap 128 sampel penelitian menunjukkan bahwa 21 pasien berusia <45 tahun, 8 pasien (38,1%) tidak menderita penyakit jantung koroner dan 13 pasien (61,9%). ) menderita penyakit jantung koroner, dari 107 pasien yang berusia ≥ 45 tahun terdapat 17 pasien (15,9%) yang tidak menderita penyakit jantung koroner dan 90 pasien (84,1%) menderita penyakit jantung koroner. Usia merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner, bertambahnya usia seseorang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner (PJK). Pirngadi Medan diketahui terdapat 28 orang yang menderita penyakit jantung koroner dan mengalami hipertensi (40,0%), sedangkan terdapat 16 orang (22,9%) yang tidak menderita penyakit jantung koroner tetapi mengalami hipertensi (p-value<0 ) .05) (Nababan D, 2008).
Orang gemuk lebih sering menderita penyakit jantung koroner dibandingkan orang dengan berat badan normal (Wijaya, 2013). Risiko penyakit jantung koroner meningkat pada seseorang yang minum enam cangkir kopi atau lebih sehari. Pencegahan primer merupakan langkah awal dalam mencegah terjadinya penyakit jantung koroner sebelum seseorang terkena penyakit jantung koroner.
Pencegahan tersier adalah pencegahan melalui rehabilitasi jantung yang ditujukan pada pasien penyakit jantung koroner (Kaplan (1991), dalam Nababan, 2008).
Psikologis
Studi lain menunjukkan bahwa beberapa orang, yaitu mereka yang depresi dan terisolasi secara sosial, atau mereka yang kurang mendapat dukungan sosial yang berkualitas, berisiko tinggi terkena penyakit jantung koroner (Lippi et al., 2009). Hubungan ini tetap signifikan setelah penyesuaian terhadap kebiasaan merokok, penyalahgunaan alkohol, dan konsumsi kopi (Ford et al., 1998). Sebuah meta-analisis dari 28 studi yang melibatkan 80.000 subjek menemukan bahwa depresi berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, khususnya infark miokard akut (RR = 1,6) (Van der Kooy et al., 2003).
Mekanisme stres yang menyebabkan terjadinya penyakit jantung koroner adalah sebagai berikut, yaitu terdapat hubungan antara stres dengan kelainan metabolisme lemak dalam tubuh (Gray, dalam Sudayasa dkk., 2014). Stres juga dapat meningkatkan faktor van Willebrand dan fibrinogen sehingga menjadi faktor predisposisi terbentuknya aterosklerotik penyebab penyakit jantung koroner (Sargowo D., 2013). Hal ini dibuktikan dengan penelitian Sudayas et al., (2014) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara stres dengan penyakit jantung koroner dilihat dari batas bawah (LL=2,353) dan batas atas (UL=16,598) tidak ada. . menyertakan nilai 1.
Hasil OR = 6,250 menunjukkan bahwa seseorang yang mengalami stres mempunyai risiko terkena penyakit jantung koroner 6,250 kali lipat dibandingkan seseorang yang tidak stres.
Gaya Hidup
Risiko penyakit jantung koroner meningkat pada mereka yang minum enam cangkir kopi atau lebih sehari. Tuminah S dan Riyadina W (2014), menyatakan bahwa hubungan kebiasaan konsumsi kopi dengan penyakit stroke dan jantung koroner masih menjadi perdebatan apakah bersifat prediktif atau protektif. Hasil meta-analisis yang dilakukan Kim et al., (2012) terhadap 9 studi kohort mengenai konsumsi kopi dan risiko stroke dan penyakit jantung koroner menunjukkan bahwa masyarakat Eropa meningkatkan konsumsi kopinya.
Gardener H et al., (2013), menyatakan bahwa konsumsi kopi berhubungan dengan semua penyebab kematian yaitu stroke dan penyakit jantung koroner serta kanker. Konsumsi kopi 4 cangkir atau lebih per hari melindungi terhadap kematian akibat stroke dan penyakit jantung koroner dibandingkan dengan konsumsi kopi kurang dari satu cangkir per hari HR=0.57 (95% CI. Sofi et al., (2007) melakukan meta- analisis 13 studi kasus-kontrol dan 10 studi kohort mengenai konsumsi kopi dan risiko penyakit jantung koroner.
Faktor penyakit jantung koroner lainnya adalah kurangnya aktivitas fisik, Kaplan (1992), mengatakan aktivitas fisik sedentary dapat menyebabkan serangan jantung seperti tidak melakukan latihan fisik secara teratur dan akibat kurang istirahat.
Teori The Web of Causation (Jaring-jaring Sebab Akibat)
Faktor lainnya adalah obesitas, dimana kurangnya aktivitas fisik juga menjadi penyebab terjadinya penyakit jantung koroner (Azwar, 1998).
Matriks Penelitian Terdahulu
Hubungan umur dengan kebiasaan merokok pada pasien penyakit jantung koroner di poliklinik penyakit dalam RS MHP Palembang tahun 2012. Kontrol kasus Terdapat hubungan antara umur >55 tahun, kebiasaan merokok dengan PJK (p-value=0,005), risiko PJK meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia dan merokok OR=14,795) dibandingkan dengan responden yang lebih tua. Faktor risiko PJK secara cross sectional adalah hipertensi, gangguan jiwa emosional, diabetes melitus, stroke, usia ≥ 40 tahun, kebiasaan merokok, wanita, tingkat pendidikan rendah.
Penelitian Temuan Penelitian Faktor risiko penyakit jantung koroner yang dominan di Indonesia adalah hipertensi, gangguan mental emosional dan diabetes melitus. Cross-sectional Hasil penelitian ini mempunyai korelasi yang signifikan dengan kejadian penyakit jantung, termasuk usia. Jenis kelamin, genetik, usia, stres dan tingkat hipertensi sebagai faktor risiko penyakit jantung koroner.
Variabel bebas: jenis kelamin, genetik, usia, tingkat stres dan hipertensi Variabel terikat: penyakit jantung koroner.
Kerangka Teori
Kerangka Konsep
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi penyakit jantung koroner adalah orang yang berusia di atas 50 tahun berisiko menderita penyakit jantung karena perubahan perilaku atau kurangnya aktivitas fisik yang berkaitan dengan usia dan pengendapan akibat penebalan jaringan lemak yang menyebabkan kekakuan otot. . Aktivitas fisik yang terlalu berat juga dapat meningkatkan kebutuhan oksigen ke jantung sehingga menyebabkan serangan jantung. Aktivitas fisik yang berat seperti bersendawa, bekerja di bawah tekanan sehingga tidak dapat mengeluarkan hormon endokrin dan menyebabkan serangan jantung.
Depresi erat kaitannya dengan hiperglikemia dan meningkatkan risiko komplikasi diabetes melitus dan penyakit jantung. Racun dalam rokok menyebabkan penyempitan pembuluh darah jantung, sedangkan kopi dapat memberikan efek akut pada tekanan darah, salah satu penyebab serangan jantung. Kopi mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan karena kopi dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, sirkulasi katekolamin, kekakuan arteri dan vasodilatasi endotel, hipertensi dan peningkatan konsentrasi kolesterol plasma.
Kopi mengandung kafein, pengaruh kafein terhadap jantung dan pembuluh darah sangat kompleks dan bervariasi sesuai dengan jumlah kafein yang diminum.
Hipotesis
Terdapat hubungan psikologis (stres, depresi) dengan penyakit jantung koroner pada pasien rawat jalan di RSU PTPN X Jember Klinik. Terdapat hubungan antara gaya hidup (konsumsi kopi, konsumsi rokok, aktivitas fisik) dengan penyakit jantung koroner pada pasien rawat jalan di RSU PTPN X Jember Klinik.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Tempat dan Waktu Penelitian
- Tempat Penelitian
- Waktu Penelitian
Penentuan Populasi dan Sampel
- Populasi
- Sampel dan Besar Sampel
Sampel kasusnya adalah pasien rawat jalan jantung yang menderita penyakit jantung koroner selama dua tahun terakhir di RSUD PTPN X Jember Klinik dan memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi. Sampel kontrol terdiri dari pasien rawat jalan yang menjalani pemeriksaan jantung rawat jalan namun tidak terdiagnosis penyakit jantung koroner di RSUD PTPN X Jember Klinik. Sampel yang diambil sebagai sampel kontrol harus mempunyai karakteristik individu yang sama dengan sampel kasus untuk menghindari bias.
Pasien PJK yang sedang menjalani pengobatan selama dua tahun terakhir di poliklinik rawat jalan RSU PTPN X Jember Klinik dan bersedia dijadikan subjek penelitian. Dalam perhitungan ukuran sampel, besar sampel dihitung dengan menggunakan uji hipotesis dua proporsi (Sastroasmoro dan Ismael, 2014). Sastroasmoro dan Ismael (2011), menyatakan bahwa untuk memprediksi penurunan responden perlu dilakukan koreksi besar sampel dengan rumus sebagai berikut.
Pengambilan sampel awal dimulai dari nomor urut 1, kemudian nomor urut 4, 7, 10 dan seterusnya hingga diperoleh jumlah sampel yang dibutuhkan.
Variabel dan Definisi Operasional
- Variabel Penelitian
- Definisi Operasional
Pada saat pengambilan sampel dengan jumlah tertentu namun pasien tidak ditemukan di tempat, sehingga pasien yang hadir pada saat itu diambil sebagai pengganti pasien. Definisi operasional merupakan uraian mengenai definisi variabel yang bersangkutan, atau mengenai apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan (Notoadmodjo, 2010). Definisi operasional adalah definisi yang diberikan kepada suatu variabel dengan memberikan makna atau menetapkan kegiatan atau menyediakan suatu operasi yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut (Nazir, 2005).
Aktivitas fisik Segala aktivitas fisik yang dilakukan seseorang kurang lebih 10 tahun yang lalu berupa pekerjaan rutin sehari-hari dengan frekuensi dan waktu tertentu, dengan menggunakan IPAQ (International Stress) Reaksi tubuh, biologis dan psikologis, ketika menerima ancaman atau tekanan dari luar (tidak sakit) yang dialami seseorang dalam 10 tahun terakhir Jumlah rokok yang dihisap pasien sebelum terdiagnosis penyakit jantung koroner dalam 10 tahun terakhir.
Depresi Gangguan perasaan atau mood berkepanjangan terhadap kondisi mental seseorang yang dialami 7 tahun lalu sebelum terdiagnosis penyakit jantung koroner, dengan ditandai munculnya perasaan tidak berdaya, kehilangan harapan dan disertai perasaan sedih (nyeri).
Data dan Sumber Data
Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Instrumen Pengumpulan Data
Teknik Penyajian dan Analisis Data
- Teknik Penyajian Data
- Analisis Data
Validitas dan Realibilitas Instrumen
- Validitas
- Reliabilitas
Etika Penelitian
Alur Penelitian
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien penyakit jantung koroner di RS Pelni Jakarta. Analisis faktor risiko penyakit jantung koroner pada wanita lanjut usia di RSUPN Dr. Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya penyakit jantung koroner pada pasien di Rumah Sakit Islam Malahayati Medan.
Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner pada orang dewasa di RS Haji Jakarta. Analisis faktor risiko merokok, stres dan riwayat keluarga berhubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner. Hubungan konsumsi kopi dengan stroke atau penyakit jantung koroner (studi kohort data dasar faktor risiko PTM).
Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK) Pada Lansia Yang Berobat Jalan Di RSUD Langsa Tahun 2014. Hubungan Faktor Resiko Dengan Penyakit Jantung Koroner Di Poliklinik Jantung RSUD Waled. Faktor gaya hidup dan stres yang berisiko terjadinya penyakit jantung koroner pada pasien rawat jalan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
- Distribusi Kejadian Penyakit Jantung Koroner pada Pasien
- Hubungan Psikologis (Stress dan Depresi) terhadap Kejadian
- Hubungan Gaya Hidup (Konsumsi Kopi, Konsumsi Rokok,
Pembahasan
- Karakteristik Individu
- Gaya Hidup Responden
Keterbatasan penelitian
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Gambaran karakteristik individu pada penderita penyakit jantung koroner terbanyak adalah variabel usia pada usia 56-65 tahun, variabel jenis kelamin terbanyak pada wanita, variabel genetik terbanyak pada responden yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung koroner. Terdapat hubungan psikologis antara stres dan depresi terhadap penyakit jantung koroner pada pasien rawat jalan di Klinik RSU PTPN X Jember. Tidak terdapat hubungan antara konsumsi kopi, konsumsi rokok dengan penyakit jantung koroner, namun terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan penyakit jantung koroner pada pasien rawat jalan di Klinik RSU PTPN X Jember.
Saran
Hubungan paparan asap rokok dan pola makan dengan kejadian penyakit jantung koroner pada wanita usia subur. Analisis faktor risiko penyakit jantung koroner pada pasien unit perawatan intensif jantung di RS A. Wahab Sjahranie Samarinda. Faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner di Puskesmas Dulalowo Kecamatan Kota Tengah Kota Gorontalo.
Hubungan umur dengan kebiasaan merokok pada pasien penyakit jantung koroner di poliklinik penyakit dalam RS MH Palembang Tahun 2012. Pengaruh lingkar pinggul dan lingkar pinggul terhadap kejadian penyakit jantung koroner di RSUD Dr. Soebandi. Aktivitas fisik dan rasio kolesterol (HDL) pada pasien penyakit jantung koroner di poliklinik jantung RSUD Moewardi Surakarta.
Hubungan Faktor Lingkungan dan Perilaku dengan Penyakit Jantung Koroner (Studi Kasus di RS X Kota Semarang. Hubungan Asupan Serat, Lemak, Aktivitas Fisik dan Kadar LDL pada Penderita Jantung Koroner di RSUD Dr. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara psikologis analisis faktor dan gaya hidup dengan penyakit jantung koroner pada pasien rawat jalan di RSU PTPN X Jember Klinik.