• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

144

Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia

Nova Rini1

1Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta

Corresponding Author E-mail address: [email protected]

ABSTRACT

Conventional interest-based monetary policy has yet to be effective in overcoming monetary problems. So, this article is to discuss how to apply qard al hasan as one of the sharia monetary instruments in Indonesia. The method used is literature study. The results of the analysis and discussion show that Qard al Hasan's Monetary Policy can be implemented in Indonesia. This is because Qard al Hasan is very in accordance with the Qur'an and Hadith and the implementation of Qard al Hasan-based monetary policy can not only stabilize prices and inflation, but also can increase national production or GDP and reduce the number of poor people. Bank Indonesia as the executor of Monetary Policy can apply the Qard al Hasan system, because Bank Indonesia has started to create a database of community groups that have Micro, Small and Medium Enterprises, so that the implementation of Qard al Hasan in Indonesia can be implemented.

Keywords: Qard al Hasan, Monetary Policy, Welfare

INTRODUCTION

Inflasi merupakan salah satu masalah utama dalam perekonomian suatu negara, karena inflasi yang tinggi memberikan dampak negative bagi kesejahteraan masyarakat. Kebijakan- kebijakan yang dilakukan selama ini hanya pada menaikkan atau menurunkan tingkat suku

(2)

145 Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia bunga. Namun, inflasi khususnya di Indonesia belum bisa dikendalikan oleh pemerintah.

Kebijakan menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga termasuk dalam kebijakan moneter khususnya di Indonesia. Sementara di Indonesia juga mulai berkembang perbankan syariah yang tidak menerapkan tingkat suku bunga dalam operasional bank. Sehingga, kondisi yang bertentangan tersebut memerlukan kebijakan moneter yang dapat dilaksanakan oleh perbankan syariah (Acharya dkk., 2011; Al-Jarhy, 1981; Hassan, 2013; Pratomo dkk., 2023).

Kebijakan moneter merupakan instrumen yang sangat penting bagi bank sentral dalam rangka terjadinya full employment dan kestabilan harga (Ben Jedidia & Hamza, 2014). Sistem konvensional menggunakan sistem bunga, bank sentral menggunakan tingkat suku bunga bank dan intrumen-instrumen moneter lainnya. Sistem ekonomi Islam, menggunakan sistem yang tidak berhubungan dengan tingkat suku bunga (Selim, 2019). Negara-negara zona euro telah menerapkan kebijakan moneter bebas bunga (Interest Free Monetary Policy/IFMP) sejak tahun 2018. Beberapa negara organisasi untuk kerjasama ekonomi dan pembangunan (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) seperti Jepang, Denmark, Swedia dan Swiss bahkan melangkah lebih jauh dan mengikuti suku bunga negatif bank sentral, sementara negara OECD lain mengejar positif suku bunga bank (Bidabad dkk., 2011). Keputusan untuk mengikuti IFMP adalah perkembangan baru untuk negara-negara zona euro ini ditambah lima anggota OECD terkemuka lainnya, yang sebagian besar adalah negara-negara kapitalis maju (Selim & Hassan, 2019).

Setiap negara memiliki berbagai macam instrumen moneter khususnya instrumen moneter syariah. Termasuk juga pada negara muslim, maupun negara dengan sistem moneter ganda. Pada masa sebelum diberlakukannya syariat Islam sistem perbankan di Sudan (Karim, 2007), Bank Sentral Sudan (BOS) sangat tergantung pada instrumen-instrumen langsung seperti tingkat suku bunga, plafon kredit (credit ceiling), ketentuan rasio likuiditas (statutora liquidity ratio), dan tingkat diskonto (Bindseil, 2004; Central Bank of Sudan, 2006). Pada awalnya instrumen-instrumen tersebut sangat efektif karena perekonomian Sudan yang mempunyai karakteristik yaitu sistem finansial yang non-kompretitif, pasar model primer dan sekunder yang belum berkembang, serta kelangkaan modal. Namun karena instrumen-instrumen langsung tersebut mengakibatkan distorsi dari lokasi sumber daya bank, interferensi terhadap mekanisme harga, pembatasan kredit, serta mislokasi dan distorsi dari kompetisi akibat penerapan batasan-batasan pada manajemen aset bank. Pada akhirnya, BOS lebih memilih untuk memakai instrumen-instrumen tidak langsung seperti RR dan OMO (Bayuni &

(3)

146 Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia Srisusilawati, 2018). Setelah diperkenalkannya syariah Islam di Sudan pada tahun 1984, BOS mengeluarkan arahan dan perintah kepada seluruh bank yang beroperasi di Sudan agar menjalankan prinsip-prinsip perbankan yang sesuai dengan syariat Islam dalam aktivitas kesehariannya (Chapra, 1996; Gudarzi Farahani & Dastan, 2013). Efek kebijakan tersebut, BOS dihadapkan pada permasalahan subsitusi instrumen moneter konvensional dengan instrumen moneter yang sesuai dengan syariat Islam untuk dapat mempertahankan perannya sebagai pengawas dan pemberi arahan bagi bank-bank, melakukan ekspansi atau kontraksi penawaran uang atau kredit, dan mengimplementasikan kebijakan moneter, serta sekaligus menjaga kepentingan publik (Fahmy, 2006).

Instrumen moneter syariah yang digunakan oleh Sudan dalam Ascarya (2015) adalah Central Bank Musharaka Certificates (CMCs); Goverment Musharaka Certificates (GMCs);

Goverment Investment Certificates (GICs); dan Foreign Exchange. Selain itu, instrumen moneter syariah yang digunakan oleh negara dengan sistem moneter ganda yaitu Pakistan dan Malaysia dalam operasional bank sentralnya, sebagai berikut: Mudharaba Certificate;

Participation Term Certificate (PTCs); Certificate of Musharika (COMs), dan Term Finance Certificate (TFCs) (Goodhart, 2015; Husin, 2013).

Penerapan moneter syariah di Malaysia menurut (Ascarya, 2015) berupa penggunaan ba’i al ‘inah (jual beli dengan janji akan membelinya kembali) yang diperbolehkan. Penggunaan akad ba’i al inah mendorong semakin banyaknya instrumen yang digunakan. Instrumen moneter syariah yang digunakan Bank Sentral Malaysia adalah sebagai berikut Government Investment Issues-I, Malaysian Islamic Treasury Bills, Bank Negara Negotiable Notes-I, Cagamas Papers, Commercial Papers-I, Negotiable Debt Certificate-I, Negotiable Instrumen of Deposits-I, Sell and Buy Back Agreements (Repo-i), Foreign Exchange dan Promissory FX Contract-i. Penerapan kebijakan moneter di Indonesia dibuat untuk mempengaruhi jumlah uang beredar. Bank Indonesia menggunakan beberapa Instrumen pengendalian moneter baik langsung maupun tidak langsung. Instrumen pengendalian moneter langsung dari Bank Indonesia, adalah penurunan nilai uang dan kredit langsung. Instrumen pengendalian moneter tidak langsung dari Bank Indonesia berupa giro wajib minimum, fasilitas diskonto (tingkat suku bunga), operasi pasar terbuka (OPT), Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FASBI) dan imbauan moral (Husen Sobana, 2018; Kasim & Khalid, 2016).

Operasi pasar terbuka meliputi tindakan menjual dan membeli surat-surat berharga oleh bank sentral (Nopirin, 2000). Instrumen yang digunakan dalam operasi pasar terbuka di

(4)

147 Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia Indonesia, yaitu Sertifikat Bank Indonesia (SBI); Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS);

Surat Berharga Pasar Uang (SBPU); Reverse Repo – Sertifikat Bank Syariah Negara (RR- SBSN); Sertifikat Deposito; Commercial Paper; Call Money; Wesel dan Promes; Repurchase Agreement; Bill of Exchange; dan Banker’s acceptance.

Perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia, menjadi keunggulan tersendiri bagi sistem perekonomian Indonesia. Sebagai otoritas moneter tertinggi Bank Indonesia telah menetapkan beberapa instrumen pengendalian moneter syariah yang mengontrol keberlangsungan industri perbankan syariah. Beberapa instrumen yang ditetapkan merupakan instrumen yang memiliki fungsi sama seperti pada sistem perbankan konvensional. Akan tetapi kebijakan-kebijakannya ditetapkan sesuai dengan ketentuan syariah.

Hasil penelitian Bayuni dan Srisusilawati (2018) mengenai kontribusi instrumen moneter syariah terhadap pengendalian inflasi di Indonesia menunjukkan bahwa instrumen-instrumen moneter syariah di Indonesia masih relatif lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan instrumen moneter syariah di negara-negara dengan sistem moneter ganda lainnya. Penelitian sebelumnya mengenai instrument moneter syariah di Indonesia fokus pada modifikasi instrument moneter konvensional seperti yang dilakukan oleh Kayed, (2012). Penelitian yang dilakukan oleh Sukmana & Kholid, (2013) hanya fokus pada pengembangan instrumen giro wajib minimum yang diterapkan Bank Indonesia kepada Bank Umum Syariah dalam mengendalikan inflasi. Majid & Hasin (2014) dalam penelitiannya mengenai penawaran instrument-instrumen moneter syariah yang bisa dilaksanakan di Indonesia. (Belemqeddem, 1993) menawarkan instrumen moneter Islam yang merupakan hasil kombinasi akad-akad dalam transaksi ekonomi Islam. Instrumen tersebut, adalah kontrak wakalah wa ijarah, kontrak musharakah mutanaqisah wa ijarah; dan kontrak wa ijarah. Beberapa riset sebelumnya menunjukkan bahwa instrument moneter syariah yang ditawarkan maupun yang sudah dilaksanakan belum ada dalam bentuk qard al hasan. Selim (2015) melakukan penelitian mengenai efektifitas penerapan qard al hasan sebagai instrument moneter syariah. Berdasarkan uraian sebelumnya, maka perumusan masalah yang dibahas dalam artikel ini mengenai bagaimana penerapan qard al hasan sebagai salah satu instrument moneter syariah di Indonesia.

RESEARCH METHOD

Metode yang digunakan untuk melakukan analisa dan pembahasan dalam artikel ini adalah kualitatif. Metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur mengenai model qard al

(5)

148 Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia hasan sebagai salah satu instrumen kebijakan moneter Islam. Literatur yang menjadi dasar analisa tulisan ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Selim tahun 2019 yang berjudul

The effectiveness of Qard-al-Hasan (interest free loan) as a tool of monetary policy”.

RESULTS & DISCUSSION

Analisa Selim (2019) mengenai aplikasi qard al hasan sebagai instrumen moneter syariah adalah Bank Sentral menerbitkan surat-surat qard al hasan mirip dengan treasury bills. Namun surat berharga ini tidak menerapkan bunga, hanya biaya administrasi transaksi qard al hasan.

Bank Sentral akan menggunakan qard al hasan sebagai alat penting kebijakan moneter. Bank Sentral akan mengidentifikasi kelompok populasi miskin atau lebih spesifik, mengidentifikasi orang-orang di bawah garis kemiskinan dan menentukan persyaratan dana per orang (Sukmana

& Kholid, 2013).

Selim (2019) menyatakan bahwa dana perorang harus mencukupi, sehingga ia dapat memecahkan belenggu kemiskinan. Anggaplah, para ahli memperkirakan bahwa dana awal 100.000 miliar dolar akan membantu seseorang untuk naik di atas garis kemiskinan. Spesialis Keuangan Islam/Bankir akan membantunya membimbing untuk menggunakan dana tersebut sedemikian rupa sehingga orang tersebut tidak hanya akan memenuhi persyaratan saat ini untuk kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, pakaian, perawatan kesehatan dan pendidikan tetapi juga akan bekerja mengeluarkan rencana sehingga ia akan menghasilkan arus kas terus menerus melalui bisnis atau usaha halal sedemikian rupa sehingga ia akan mandiri dalam jangka panjang dan pada saat yang sama, akan dapat melunasi jumlah qard al hasan dengan rencana angsuran yang murah hati dan fleksibel tanpa bunga atau biaya layanan apa pun. Untuk kenyamanan, surat-surat tersebut dapat diterbitkan dalam denominasi billion dolar 1000. Siapa pun yang akan menerima dokumen atau cek semacam itu akan membawanya ke bank mana pun dan bank itu, atas nama Bank Sentral akan membuka rekening untuk klien ini dan menyetor cek qard al hasan. Bank ini pada akhirnya akan mengumpulkan dana tersebut dari bank sentral.

Model yang disampaikan oleh Selim (2019) di atas menunjukkan bahwa dana qard al hasan merupakan dana dari bank sentral. Dana tersebut diserahkan kepada bank umum yang akan mendistribusikan kepada kelompok masyarakat miskin. Dana qard al hasan tidak saja untuk mencukupi kebutuhan dasar masyarakat, namun juga membantu masyarakat kelompok miskin keluar dari kemiskinan. Dana qard al hasan bukan merupakan dana hibah, dana tersebut merupakan dana pinjaman yang harus dikembalikan, namun tidak ada tambahan biaya apapun

(6)

149 Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia seperti bunga, sehingga kelompok masyarakat miskin tidak terbebani untuk membayar kembali qard al hasan tersebut kepada bank sentral melalui bank umum. Model ini menunjukkan bahwa instrument qard al hasan memberi dampak pada pengurangan kelompok masyarakat miskin.

Hasil analisa Selim (2019)bahwa adanya dampak kebijakan moneter berbasis qard al hasan pada keseimbangan makroekonomi. Selim (2019) memperkenalkan model pengeluaran agregat-pengeluaran agregat (AE-AO) dan menguji semua efek berantai dari EMP dengan menggunakan qard al hasan. Pengeluaran agregat (AE) ekonomi dapat didefinisikan sebagai jumlah pengeluaran konsumsi (C), pengeluaran Investasi Bruto (Ig), pengeluaran Pemerintah (G) dan Ekspor (X) dikurangi Impor (M) atau ekspor neto (Xn = X - M). Unsur qard al hasan menurut Selim (2019) menjadi bagian dari persamaan investasi bruto (Ig) seperti persamaan berikut : Ig = Ia - rR + aQH + hY r <0; a> 0; h> 0

Dimana Ig = Pengeluaran Investasi Bruto, Ia = Pengeluaran Investasi Otonom, R = Tingkat bunga, a = Perubahan dalam pengeluaran investasi yang dihasilkan dari perubahan Qard al Hasan, dan a> 0, h = Kecenderungan marjinal untuk berinvestasi. Sementara persamaan ekonomi yang menunjukkan keseimbangan ekonomi makro setelah penerapan qard al hasan, adalah sebagai berikut :

Y = φA

Dimana φ = 1/ (1 + bz + m - b - h - m - x - n A= Ca + Ia - rR +aQH + Ga + Xa – Ma

Dimana Ca = Autonomous Consumption, Ia = Autonomous Investment spending, R = Rate of interest, a = Change in investment spending resulting from the change in Qard al Hasan, Ga

= Autonomous government spending, Xa = Autonomous Export, dan Ma = Autonomous Import.

Persamaan tersebut menunjukkan keseimbangan makroekonomi. Berdasarkan persamaan tersebut, Selim (2019) memeriksa bagaimana kebijakan moneter berbasis qard al hasan akan berdampak pada GDP riil, lapangan kerja, stabilitas harga, sisi penawaran dan aliran dana.

Seseorang dapat mempertanyakan kelayakan dan validitas kebijakan moneter berbasis qard al hasan. Bagaimana mungkin bank sentral akan memberikan pinjaman dengan tingkat bunga nol? Jawabannya sederhana, ada banyak bank sentral dari negara-negara kapitalis maju, terutama negara-negara zona euro dan beberapa anggota negara-negara OECD yang telah mengejar kebijakan moneter bebas bunga untuk periode yang signifikan. Tabel 1 menunjukkan bahwa 23 negara dalam kelompok 1 mengejar suku bunga bank nol atau negatif atau suku bunga bank sentral, dekat dengan kebijakan moneter berbasis qard al hasan untuk periode rata-rata

(7)

150 Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia sekitar 1,26 tahun, dan kinerja mereka pada tingkat inflasi lebih baik daripada negara-negara di mana positif kebijakan moneter konvensional berbasis suku bunga diikuti. Tingkat inflasi di negara-negara grup 2 adalah 0,96 persen lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara grup 1 (Selim, 2019).

Tabel 1. Daftar Negara Kebijakan Moneter Bebas Bunga

Bank-bank sentral dari berbagai negara mulai meminjamkan kepada bank komersial, dan lembaga keuangan lainnya tanpa membebankan bunga, dan banyak lainnya bahkan membebankan suku bunga negatif. Jika seseorang berasumsi bahwa qard al hasan diberikan tanpa bunga, maka dapat mempertimbangkan pinjaman tersebut mungkin paling dekat dengan qard al hasan atau pinjaman tanpa bunga. Di masa lalu, para bankir sentral biasa berargumen

(8)

151 Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia bahwa kebijakan moneter yang ekspansif akan mengarah pada inflasi, tetapi hari ini argumen- argumen itu terbukti salah. Pada tabel i, negara-negara di grup 1 mengejar pinjaman bebas bunga atau suku bunga bank nol atau negatif, rata-rata tingkat inflasi mereka, tidak lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara grup 2 yang mengejar kebijakan moneter positif berbasis bunga (Selim, 2013, 2015).

Jika grup 1 yang tertera pada tabel 1, di mana 23 negara dapat berhasil mengikuti hampir dengan kebijakan moneter berbasis qard al hasan dan masih mempertahankan tingkat inflasi yang relatif rendah, maka tidak boleh ada keraguan bahwa kebijakan moneter berbasis qard al hasan benar-benar dapat merevitalisasi ekonomi dan pada saat yang sama dapat mempertahankan tingkat inflasi yang dapat diterima. Namun, menurut Selim (2019) jika suku bunga bank nol, itu belum tentu kebijakan moneter berbasis qard al hasan karena berbagai alasan karena bank sentral dapat mengejar suku bunga bank bebas atau bahkan suku bunga bank negatif tetapi lembaga keuangan, mungkin masih membebankan suku bunga positif dan suku bunga mereka dapat sampai 28,8 persen untuk pinjaman kartu master dan tarif lebih tinggi untuk mereka yang paling membutuhkan kredit tetapi mereka tidak memenuhi syarat karena skor kredit mereka yang buruk. Akibatnya, suku bunga nol bank memberikan peluang bagi bank komersial untuk meningkatkan laba mereka (Jung & Ryu, 2017). Misalnya, setiap kali tingkat bunga bank turun, keuntungan bank komersial akan semakin tinggi. Kedua, bahkan jika suku bunga bank nol dan jika saluran kebijakan moneter masih tetap bank-bank besar konvensional, lembaga keuangan dan bukan orang miskin, melarat, yatim piatu dan yang membutuhkan, maka suku bunga bank nol seperti itu tidak akan menghasilkan manfaat maksimal. Namun, kebijakan moneter berbasis nol bunga masih lebih baik daripada kebijakan moneter ketat berbasis bunga positif.

Uraian di atas menunjukkan bahwa sistem qard al hasan sudah diterapkan pada bank sentral di beberapa negara yang non muslim dalam bentuk suku bunga sebesar 0 persen. Namun kebijakan moneter suku bunga 0 persen tersebut belum menyentuh kelompok masyarakat miskin, karena kebijakan moneter hanya untuk bank komersial dan lembaga keuangan. Berbeda dengan qard al hasan, dimana qard al hasan untuk kelompok masyarakat miskin yang memiliki akses yang sangat kecil pada sistem keuangan. Sehingga, kebijakan moneter berbasis qard al hasan dapat menstabilkan inflasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hasil analisa yang dilakukan Selim (2019) mengenai qard al hasan menjadi salah satu instrument moneter yang dapat mengurangi kemiskinan, peningkatan produksi dan kestabilan

(9)

152 Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia harga dapat juga diterapkan di Indonesia. Saat ini Bank Sentral Indonesia yaitu Bank Indonesia sudah banyak melakukan kerjasama dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah maupun kerjasama langsung dengan kelompok UMKM. Kerjasama yang terbentuk hanya memberi bantuan konsultasi dan pengadaan teknis dalam mempermudah kelompok UMKM dalam mengakses lembaga keuangan. Pemberian modal lamgsung dari Bank Indonesia kepada UMKM belum dilaksanakan. Sehingga, dengan kondisi ini maka sistem qard al hasan untuk kebijakan moneter di Indonesia bisa dilaksanakan. Sehingga kebijakan moneter yang dilakukan berbasis qard al hasan efektif dalam tercapainya tujuan kebijakan moneter.

CONCLUSION

Hasil dari pembahasan terkait aspek qard al hasan dalam instrumen moneter syariah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa kebijakan moneter berbasis qard al hasan dapat dilaksanakan di Indonesia. Hal ini karena qard al hasan sudah sangat sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits dan penerapan kebijakan moneter berbasis qard al hasan tidak saja dapat menstabilkan harga dan inflasi, namun juga dapat meningkatkan produksi nasional atau GDP dan berkurangnya jumlah masyarakat yang miskin. Bank Indonesia sebagai pelaksana kebijakan moneter bisa menerapkan sistem qard al hasan, karena Bank Indonesia sudah mulai membuat database kelompok masyarakat yang memiliki Usaha Mikro Kecil Menengah, sehingga penerapan qard al hasan di Indonesia bisa dilaksanakan.

REFERENCES

Acharya, V. V., Shin, H. S., & Yorulmazer, T. (2011). Crisis resolution and bank liquidity. The Review of Financial Studies, 24(6), 2166–2205.

Al-Jarhy, M. (1981). Towards development of a monetary and financial Islamic system:

Structure and application. Islamic Economics Institute, King Abdul-Aziz University, Jeddah, 5.

Ascarya. (2015). Akad Dan Produk Bank Syariah. Rajawali Press.

Bayuni, E. M., & Srisusilawati, P. (2018). Kontribusi Instrumen Moneter Syariah Terhadap Pengendalian Inflasi Di Indonesia. AMWALUNA: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah, 2(1), 18–38.

(10)

153 Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia Belemqeddem. (1993). Awqaf Meknes Fi’Ahd Moulay Ismail. Moroccan Ministry of Waqf and

Islamic Affairs.

Ben Jedidia, K., & Hamza, H. (2014). Profits and losses sharing paradigm in Islamic banks:

Constraints or solutions for liquidity management? Journal of Islamic Economics, Banking and Finance, 113(3279), 1–17.

Bidabad, B., Hassan, A., Sami, B. A. M., & Allahyarifard, M. (2011). Interest-Free bonds and Central banking monetary instruments. International Journal of Economics and Finance, 3(3), 234–241.

Bindseil, U. (2004). Monetary policy implementation: Theory, past, and present. OUP Oxford.

Central Bank of Sudan. (2006). Central Bank of Sudan, Experience of Sudan under Islamic Banking and Financial Institutions: Management Plan of Monetary and Financial Policy (in Arabic) [Annual Report]. Central Bank of Sudan.

Chapra, M. U. (1996). Monetary management in an Islamic economy. Islamic economic studies, 4(1).

Fahmy, H. K. (2006). Monetary policy tools used by Central banks under islamic economy.

Islamic Institute for Research and Training, Jeddah, 63.

Goodhart, C. (2015). Why monetary policy has been comparatively ineffective? The Manchester School, 83, 20–29.

Gudarzi Farahani, Y., & Dastan, M. (2013). Analysis of Islamic banks’ financing and economic growth: A panel cointegration approach. International Journal of Islamic and Middle Eastern Finance and Management, 6(2), 156–172.

Hassan, M. K. (2013). Ethical principles of Islamic financial institutions. Journal of Economic Cooperation and Development, 34(1), 63–90.

Husen Sobana, H. D. (2018). Manajemen Keuangan Syariah.

Husin, M. M. (2013). Efficiency of monetary policy transmission mechanism via profit rate channel for Islamic banks in Malaysia. Journal of Contemporary Issues in Business Research, 2(2), 44–55.

Jung, C., & Ryu, J. E. (2017). Why has US monetary policy become ineffective lately? Applied Economics Letters, 24(13), 956–960.

Karim, A. (2007). Ekonomi Makro Islami (Edisi Kedua). Rajawali Pers.

(11)

154 Qard Al Hasan: Instrumen Moneter Syariah Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia Kasim, N. N. M., & Khalid, F. (2016). Choosing the right learning management system (LMS)

for the higher education institution context: A systematic review. International Journal of Emerging Technologies in Learning, 11(6).

Kayed, R. N. (2012). The entrepreneurial role of profit‐and‐loss sharing modes of finance:

Theory and practice. International Journal of Islamic and Middle Eastern Finance and Management, 5(3), 203–228.

Khan, M. S., & Mirakhor, A. (1989). The financial system and monetary policy in an Islamic economy. Journal of King Abdulaziz University: Islamic Economics, 1(1).

Majid, M. S. A., & Hasin, Z. (2014). Islamic banks and monetary transmission mechanism in Malaysia. Journal of Economic Cooperation and Development, 35(2), 137–166.

Nopirin. (2000). Ekonomi Moneter. BPFE – Yogyakarta.

Pratomo, W., Rusydiana, A., Riani, R., Lubis, R., Marlina, L., Putra, P., & Nurismalatri, N.

(2023). Does Renewable Energy Consumption a Driver for Economic Growth? Panel Data Analysis in Selected OIC Countries. International Journal of Energy Economics and Policy, 13(6), 573–580. https://doi.org/10.32479/ijeep.14955

Selim, M. (2013). Eliminating interest costs in financing trade deficits by pursuing and maintaining fully convertible domestic currency. Journal of Islamic Economics, Banking and Finance, 9(2), 131–150.

Selim, M. (2015). Effectiveness of Sukuk as a tool of monetary policy. Journal of Islamic Economics, Banking and Finance, 113(3142), 1–14.

Selim, M. (2019). The effectiveness of Qard-al-Hasan (interest free loan) as a tool of monetary policy. International Journal of Islamic and Middle Eastern Finance and Management, 12(1), 130–151.

Selim, M., & Hassan, M. K. (2019). Interest-free monetary policy and its impact on inflation and unemployment rates. ISRA International Journal of Islamic Finance, 11(1), 46–61.

https://doi.org/10.1108/IJIF-06-2018-0065

Sukmana, R., & Kholid, M. (2013). An assessment of liquidity policies with respect to Islamic and conventional banks: A case study of Indonesia. Qualitative Research in Financial Markets, 5(2), 126–138. https://doi.org/10.1108/QRFM-09-2011-0023

Referensi

Dokumen terkait

Hasan dan Program Islamic Corporate Social Responsibility dalam Meningkatkan Kesejahteraan Sosial ” penelitian ini di lakukan di BNI Syariah Kantor Cabang

Dalam fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) 6 , menyatakan bahwa salah satu bentuk instrumen investasi pada pasar modal (konvensional) adalah obligasi yang selama ini

Penelitian ini akan menganalisis pengaruh instrumen moneter konvensional dan syariah terhadap penyaluran dana pada sektor pertanian dengan menggunakan teori mekanisme

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan Qordhul Hasan sebagai implementasi dari program Coorporate Social Responsibility dalam Pemberdayaan masyarakat sekitar BRI

Penelitian ini akan menganalisis pengaruh instrumen moneter konvensional dan syariah terhadap penyaluran dana pada sektor pertanian dengan menggunakan teori mekanisme