HASIL ANALISIS
Berdasarkan hasil grafik diatas dapat diketahui bahwa sebanyak dari 58 responden berpartisipasi dalam pengisian kuisioner ini, dimana sebanyak 12 orang atau 22,2%
merupakan mahasiswa humas semester 3, sebanyak 10 orang atau 18,5% merupakan mahasiswa humas semester 1, dan sebanyak 32 orang atau 59,3% merupakan mahasiswa humas semester 5.
Berdasarkan hasil grafik di atas, dapat diketahui bahwa sebanyak 39 orang atau 72,2%
mahasiswa setiap hari melewati speed bump atau polisi tidur, sedangkan 11 orang atau 20,4%
melewati polisi tidur 2 – 3 kali dalam seminggu, sebanyak 3 orang atau 5,6% jarang atau tidak pernah melewati polisi tidur, dan 1 orang atau 1,9% hanya sekali melewati polisi tidur.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa sering bahkan hampir setiap hari melewati speed bump atau polisi tidur.
Berdasarkan hasil grafik di atas, terlihat bahwa mayoritas sebanyak 28 orang atau 51,9%
mahasiswa humas merasa cukup efektif dengan adanya speed bump dalam menanggulangi kecepatan kendaraan di area kampus, sebanyak 14 orang atau 25,9% mahasiswa merasa kurang efektif, sedangkan 7 orang atau 13% mahasiswa merasa tidak tidak efektif sama sekali, dan 5 orang atau 9,3% mahasiswa merasa sangat efektif dengan adanya speed bump.
Kesimpulannya, sebagian besar mahasiswa humas merasa dengan adanya speed bump atau polisi tidur ini dapat membantu mengurangi kecepatan kendaraan di area kampus.
Berdasarkan hasil grafik di atas, bahwa sebanyak 28 orang atau 51,9% responden merasa tidak nyaman saat melewati speed bump atau polisi tidur, sementara sebanyak 17 orang atau 31,5% mahasiswa merasa sangat tidak nyaman saat melewati speed bump, hal ini
menyatakan bahwa keberadaan speed bump di area kampus sangat menggangu mahasiswa yang melintasi speed bump. Meskipun demikian, terdapat 9 orang atau 16,7% responden merasa nyaman saat melintasi speed bump. Analisis ini menunjukkan bahwa sebagian besar
merasa tidak nyaman saat melewati polisi tidur dengan melihat mayoritas responden terbanyak yang memilih hal tersebut.
Berdasarkan hasil grafik di atas, terlihat bahwa mayoritas sebanyak 26 orang atau 48,1%
mahasiswa tidak pernah mengalami kerusakan pada kendaraan akibat terlalu sering melewati speed bump, sementara itu sebanyak 18 orang atau 33,3% mahasiswa pernah mengalami kerusakan kendaraan akibat terlalu sering melewati speed bump,sedangkan sebanyak 5 orang atau 9,3% mahasiswa lebih dari 2 kali mengalami kerusakaan, dan sebanyak 5 orang lainnya atau 9,3% mahasiswa merasa merasa tidak yakin akan hal tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meskipun sebagian besar mahasiswa merasa speed bump yang ada dikampus ini dapat merusak kendaraan yang mereka pakai.
Berdasarkan hasil grafik di atas, terlihat mayoritas responden sebanyak 46 orang atau 85,2%
mahasiswa merasa bahwa speed bump yang ada di kampus terlalu banyak, sementara itu, sebanyak 6 orang atau 11,1% merasa cukup dengan jumlah speed bump. Namun, 1 orang atau 1,9% tidak menyadari jumlah speed bump yang terlalu banyak, dan adapun 1 orang lainnya atau 1,9% responden merasa terlalu sedikit dengan jumlah speed bump yang ada
dikampus. Maka dapat disimpulkan bahwa, speed bump yang ada dikampus terlalu banyak untuk dilewati kendaraan mahasiswa.
Berdasarkan hasil grafik di atas, dapat dilihat bahwa sebanyak 35 orang atau 64,8%
responden merasa bahwa penempatan speed bump dikampus ini kurang tepat, sedangkan sebanyak 15 orang atau 27,8% menyatakan bahwa penempatan speed bump dikampus ini cukup tepat. Namun, sebanyak 3 orang atau 5,6% responden merasa bahwa penempatan speed bump dikampus ini tidak tepat sama sekali, adapun mahasiswa 1 orang atau 1,9%
merasa sangat tepat dengan penempatan speed bump ini. Maka dapat disimpulkan bahwa penempatan speed bump ini kurang tepat bagi kebanyakan mahasiswa karena terlalu banyaknya speed bump yang dipasang di area kampus.
Berdasarkan hasil grafik di atas, terlihat bahwa sebanyak 30 orang atau 55,6% responden merasa setuju bahwa pemasangan speed bump ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan di kampus, sementara 12 orang atau 22,2%, menyatakan bahwa kurang setuju, adapun 6 orang atau 11,1% responden merasa tidak setuju, dan 6 orang lainnya atau 11,1% merasa tidak yakin akan hal tersebut. Kesimpulannya, bahwa kebanyakan mahasiswa merasa aman dengan adanya speed bump ini dan dapat mencegah adanya kecelakaan akibat orang yang membawa kendaraan segara ugal – ugalan di area kampus.
Berdasarkan hasil grafik di atas, terlihat bahwa mayoritas sebanyak 33 atau 61,1% responden merasa adanya penurunan terhadap waktu perjalanan didalam kampus, sementara sebanyak 18 orang atau 33,3%, menyatakan bahwa tidak adanya perubahan. Meskipun demikian, 3,7 % atau 2 orang lainnya tidak yakin dengan perubahan waktu perjalanan, dan 1 orang lainnya atau 1,9% mengalami peningkatan dalam perjalanan didalam kampus. Kesimpulannya bahwa dengan adanya speed bump di dalam kampus ini menjadikan perjalanan mahasiswa berubah dan menjadi lebih lambat karena adanya speed bump sehingga mahasiswa yang memakai kendaraan harus pelan – pelan saat berkendara didalam kampus.
Berdasarkan hasil grafik di atas, terlihat bahwa sebanyak 36 orang atau 66,7% responden merasa setuju bahwa dengan adanya speed bump ini membantu mengatasi pengendara motor yang kebut – kebutan didalam kampus, sementara itu sebanyak 15 orang atau 27,8%,
menyatakan bahwa kurang setuju, dan adapun 2 orang atau 3,7% responden merasa tidak setuju akan hal tersebut, sedangkan 1 responden lainnya atau 1,9% tidak yakin.
Kesimpulannya, mayoritas responden setuju dengan hal tersebut karena dapat mencegah pengendara yang kebut – kebutan didalam kampus sehingga pejalan kaki dapat lebih aman berjalan di area kampus.
Berdasarkan hasil grafik di atas, terlihat bahwa sebanyak 21 orang atau 38,9% mahasiswa merasa bahwa pemasangan speed bump memberikan kontribusi positif terhadap ,
semkeamanan pejalan kaki, sementara itu 16 orang atau 29,6%, menyatakan tidak yakin, dan 7 orang lainnya atau 13% mahasiswa merasa tidak ada pandangan akan hal tersebut.
Kesimpulannya, meskipun sebagian besar mahasiswa merasa setuju dengan kontribusi yang positif, namun perlu diperhatikan lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang
menyebabkan rasa ketidak pedulian mahasiswa lainnya terhadap hal tersebut.
KESIMPULAN SECARA MENYELURUH
Berdasarkan hasil kuisioner yang dilakukan terhadap 54 responden mahasiswa humas, dapat disimpulkan beberapa temuan utama:
1. Profil Responden
- Mayoritas responden merupakan mahasiswa humas semester 5 (59,3%), diikuti oleh mahasiswa humas semester 3 (22,2%) dan semester 1 (18,5%).
2. Frekuensi Melewati Speed Bump
- Sebagian besar responden (72,2%) melewati speed bump setiap hari, menunjukkan bahwa mahasiswa sering melintasi area kampus yang dilengkapi dengan polisi tidur.
3. Efektivitas Speed Bump
- Sebagian besar mahasiswa (51,9%) merasa bahwa speed bump cukup efektif dalam menanggulangi kecepatan kendaraan di area kampus, menandakan adanya dukungan terhadap peran speed bump untuk meningkatkan keselamatan.
4. Kenyamanan Melewati Speed Bump
- Mayoritas responden (64,8%) merasa tidak nyaman saat melewati speed bump,
menunjukkan dampak negatif terhadap pengalaman mahasiswa yang melintasi area tersebut.
5. Kerusakan Kendaraan
- Sebagian besar responden (48,1%) tidak pernah mengalami kerusakan pada kendaraan akibat melewati speed bump, namun sejumlah responden (33,3%) pernah mengalami
kerusakan, menunjukkan adanya konsekuensi negatif terkait dengan keberadaan speed bump.
6. Jumlah dan Penempatan Speed Bump
- Mayoritas responden (85,2%) merasa bahwa jumlah speed bump di kampus terlalu banyak, dan sebagian besar (55,6%) merasa penempatannya kurang tepat.
7. Tujuan Pemasangan Speed Bump
- Sebagian besar responden (61,1%) merasa bahwa pemasangan speed bump bertujuan meningkatkan keselamatan di kampus, namun sejumlah responden (33,3%) merasa tidak ada perubahan atau tidak setuju.
8. Dampak terhadap Waktu Perjalanan
- Mayoritas responden (61,1%) merasa ada penurunan waktu perjalanan di dalam kampus akibat adanya speed bump.
9. Fungsi Pencegahan Speeding
- Mayoritas responden (66,7%) setuju bahwa speed bump membantu mengatasi pengendara motor yang melaju kencang di dalam kampus.
10. Kontribusi terhadap Keamanan Pejalan Kaki
- Sebagian besar responden (38,9%) merasa bahwa pemasangan speed bump memberikan kontribusi positif terhadap keamanan pejalan kaki, namun sejumlah responden tidak yakin atau tidak memiliki pandangan (29,6%).
Tingginya Partisipasi Mahasiswa:
Dari hasil kuisioner, terlihat bahwa partisipasi mahasiswa dalam mengisi kuisioner cukup tinggi, dengan 54 responden yang aktif berpartisipasi. Hal ini menunjukkan ketertarikan dan keterlibatan mahasiswa dalam memberikan masukan terkait topik yang dibahas, dalam hal ini mengenai speed bump di area kampus.
Manfaat yang Dirasakan:
Mayoritas mahasiswa merasa bahwa speed bump memberikan manfaat dalam menanggulangi kecepatan kendaraan di area kampus (72,2%) dan meningkatkan keselamatan (61,1%).
Sebagian besar juga merasa bahwa speed bump dapat membantu mengatasi pengendara motor yang kebut-kebutan (66,7%). Ini menunjukkan adanya persepsi positif terkait dengan manfaat speed bump dalam konteks keamanan di kampus.
Varian Respon Terhadap Kualitas Presentasi:
Terdapat variasi respon terhadap kualitas presentasi dari mahasiswa. Beberapa poin yang memunculkan varian respons antara lain:
Sebagian besar merasa cukup efektif dengan adanya speed bump (51,9%), sementara sebagian lainnya merasa kurang efektif (25,9%) atau tidak efektif sama sekali (13%).
Mayoritas merasa tidak nyaman saat melewati speed bump (64,8%), menunjukkan adanya ketidaknyamanan yang cukup signifikan.
Sebagian besar responden merasa jumlah speed bump terlalu banyak (85,2%) dan penempatannya kurang tepat (55,6%), menunjukkan ketidakpuasan terhadap desain dan penataan speed bump.
Simpulan
Partisipasi yang tinggi menunjukkan kepentingan mahasiswa terhadap isu yang dibahas.
Meskipun ada pandangan positif terhadap manfaat speed bump, varian respons terhadap efektivitas, kenyamanan, dan desain speed bump menunjukkan bahwa perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut untuk memahami perspektif mahasiswa secara menyeluruh. Diperlukan langkah-langkah yang tepat untuk menjaga keseimbangan antara tujuan keselamatan dan kenyamanan mobilitas mahasiswa di dalam kampus.
SARAN
Berdasarkan hasil kuisioner yang telah dilakukan, berikut saran-saran yang dapat
dipertimbangkan untuk meningkatkan pengalaman mahasiswa terkait dengan keberadaan speed bump di area kampus:
1. Evaluasi Desain dan Penempatan
- Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap desain dan penempatan speed bump.
Memastikan bahwa jumlahnya tidak terlalu banyak dan penempatannya tepat agar tidak mengganggu kelancaran lalu lintas dan kenyamanan mahasiswa.
2. Komunikasi Efektif
- Melakukan komunikasi efektif terkait tujuan pemasangan speed bump kepada mahasiswa.
Menyampaikan informasi mengenai pentingnya speed bump untuk meningkatkan keselamatan di kampus sehingga mahasiswa dapat lebih memahami manfaatnya.
3. Alternatif Keamanan Lalu Lintas
- Menyediakan alternatif keamanan lalu lintas yang dapat diterapkan selain speed bump, seperti marka jalan yang jelas, rambu lalu lintas yang baik, atau pengaturan lalu lintas yang efisien untuk menjaga keselamatan tanpa memberikan dampak yang signifikan terhadap kenyamanan.
4. Perbaikan Infrastruktur
- Jika memungkinkan, mempertimbangkan perbaikan infrastruktur jalan di area kampus untuk mengurangi kebutuhan akan speed bump. Peningkatan kualitas jalan dapat membantu menjaga keamanan tanpa mengorbankan kenyamanan.
5. Partisipasi Mahasiswa dalam Pengambilan Keputusan
- Melibatkan mahasiswa dalam proses pengambilan keputusan terkait desain dan
implementasi infrastruktur lalu lintas, seperti speed bump. Dengan demikian, keputusan yang diambil dapat mencerminkan kebutuhan dan preferensi mahasiswa.
6. Pemeliharaan Rutin
- Melakukan pemeliharaan rutin terhadap speed bump yang ada untuk memastikan bahwa kondisinya baik dan tidak menimbulkan kerusakan pada kendaraan mahasiswa.
7. Penelitian Lanjutan
- Melakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami persepsi dan preferensi mahasiswa terkait dengan solusi pengendalian kecepatan di area kampus. Dengan pemahaman yang lebih mendalam, dapat dihasilkan kebijakan yang lebih efektif.