Perlindungan hukum atas penggunaan merek “Geprek Bensu” yang sedang dalam proses pendaftaran” yang dikembangkan untuk memenuhi salah satu syarat penyelesaian Program Studi Ilmu Hukum dan perolehan gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum, Universitas Jember. Apakah penggunaan merek “Geprek Bensu” yang didaftarkan oleh pihak lain merupakan pelanggaran terhadap hak merek? Apa akibat hukum bagi pihak lain dalam penggunaan merek “Geprek Bensu” yang masih dalam proses pendaftaran.
Upaya apa yang dapat dilakukan oleh pemohon merek “Geprek Bensu” untuk melindungi merek yang masih dalam proses pendaftaran.
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
- Metode Penelitian
- Tipe Penelitian
- Pendekatan Penelitian
- Bahan Hukum
- Analisis Bahan Hukum
Sistem konstitutif lebih menjamin kepastian hukum daripada sistem deklaratif, hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Dapat dipastikan pemegang merek yang bersangkutan tidak berhak atas merek 5 Merek dapat dikatakan telah diberi merek oleh pemohon apabila telah melalui tata cara menurut sistem yang digunakan dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Memahami dan menganalisis upaya penyelesaian yang dapat dilakukan oleh pemohon merek “Geprek Bensu” untuk melindungi merek yang masih dalam proses pendaftaran.
UU No. 20 Tahun 2016 tentang Merek Dagang dan Indikasi Geografis Pasal 21 ayat 3 menyebutkan, “Permohonan ditolak apabila diajukan oleh pemohon dengan itikad buruk.” Merek dagang yang tidak terdaftar, dapat dipastikan pemilik merek yang bersangkutan tidak mempunyai hak atas merek tersebut. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek Dagang dan Indikasi Geografis memberikan batasan yang tegas mengenai kriteria merek yang tidak dapat didaftarkan.
Merek yang tidak dapat didaftarkan karena unsur-unsurnya mengandung informasi atau berkaitan dengan barang atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya. Ada beberapa tahapan dalam tata cara pendaftaran merek yang akan digunakan untuk mendaftarkan merek menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 252. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5953) Jakarta.
TINJAUAN PUSTAKA
Perlindungan Hukum
Mengingat banyaknya kepentingan dalam masyarakat, maka bukan tidak mungkin akan terjadi konflik atau benturan antar manusia karena kepentingan mereka saling bertentangan. Pedoman, tolok ukur atau standar tingkah laku atau tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat ini disebut norma atau aturan sosial. Adanya aturan sosial ini diharapkan dapat menghindari konflik dalam masyarakat dan melindungi kepentingan manusia.
Kedua ialah kaedah dengan aspek kehidupan sesama manusia yang terbahagi kepada kesantunan atau kaedah adat dan kaedah perundangan 20. Kaedah sosial, kesopanan, akhlak dan agama tidak cukup untuk menjamin ketenteraman dalam masyarakat kerana tidak ada ancaman yang tidak dianggap paksaan luaran. . Oleh itu, perlunya norma undang-undang yang mempunyai sifat memaksa untuk melindungi kepentingan orang dalam kehidupan sosial mereka dalam masyarakat.
Pada hakekatnya, negara hukum adalah perumusan pendapat atau keyakinan tentang bagaimana seharusnya atau seharusnya seseorang berperilaku. Perlindungan hukum adalah perlindungan kepentingan individu atau kelompok atas dasar aturan hukum atau norma hukum dan hal ini sesuai dengan fungsi hukum sebagai pelindung kepentingan manusia. Dalam mencapai tujuannya, hukum mempunyai kewajiban untuk membagi hak dan kewajiban di antara individu-individu dalam masyarakat.
Hukum Kekayaan Intelektual
- Pengertian Hukum Kekayaan Intelektual
- Ruang Lingkup Hukum Kekayaan Intelektual
Selanjutnya pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Undang-undang Merek Tahun 1885, Undang-undang Paten tahun 1910 dan Undang-undang Hak Cipta tahun 1912. Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda telah menjadi anggota Konvensi Paris atau Paris Convention for the Protection. Properti Industri sejak 1888, anggota Konvensi Madrid dari tahun 1893 hingga 1936, dan anggota Konvensi Berne untuk Perlindungan Literasi dan Karya Seni sejak 1914.26. Ruang lingkup HKI secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama, yaitu hak cipta dan hak milik industri.
Kategori hak cipta meliputi ilmu pengetahuan, seni dan sastra seperti karya tulis, karya seni, karya lisan, karya audio, karya sinematik dan lain-lain. Sedangkan hak kekayaan industri meliputi bidang teknologi dan desain seperti hak merek dagang, paten, desain industri, desain sirkuit terpadu, rahasia dagang dan perlindungan varietas tanaman. Penggolongan hak kekayaan intelektual ke dalam hak cipta dan hak kekayaan industri diperlukan karena adanya perbedaan sifat kreasi dan inovasi.
Perlindungan suatu ciptaan bersifat otomatis, artinya suatu ciptaan secara otomatis diakui oleh negara sejak pertama kali ciptaan itu muncul di dunia nyata, sekalipun ciptaan itu tidak diterbitkan dan tidak didaftarkan. Sedangkan Hak Kekayaan Industri (Paten, Merek Dagang, Desain Industri, DTLST, PVP, kecuali Rahasia Dagang) ditentukan berdasarkan pihak yang terlebih dahulu mendaftarkan hasil karyanya ke instansi yang berwenang (Ditjen HKI) dan berhasil disetujui.
Merek
- Pengertian Merek
- Jenis – jenis Merek
- Manfaat dan Fungsi Merek
Merek dagang adalah suatu tanda (tanda) untuk membedakan barang atau jasa sejenis yang dihasilkan atau dipasarkan oleh seseorang atau sekelompok orang atau badan hukum dengan barang atau jasa sejenis yang diproduksi oleh orang lain, yang mempunyai daya pembeda sebagai jaminan mutu dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa. Merek dagang adalah merek yang digunakan pada produk berupa barang yang dipasarkan oleh satu orang atau beberapa orang secara bersama-sama atau oleh badan hukum untuk membedakannya dengan barang sejenis lainnya. Merek Jasa adalah Merek yang digunakan pada produk berupa jasa yang dipasarkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau oleh badan hukum untuk membedakannya dengan jasa sejenis lainnya.
Dalam jasa, yang dimaksud dengan Merek Bersama (Shared Mark) adalah Merek yang digunakan pada barang dan jasa dengan ciri yang sama yang diperdagangkan bersama oleh beberapa orang atau beberapa badan hukum untuk membedakannya dengan barang atau jasa lain yang sejenis. Golongan barang atau jasa adalah sekelompok jenis barang atau jasa yang mempunyai kesamaan sifat, cara produksi dan tujuan penggunaan. Pada prinsipnya permohonan pendaftaran suatu barang atau jasa tertentu hanya dapat diajukan untuk satu golongan barang atau jasa, tetapi dalam hal diperlukan pendaftaran lebih dari satu golongan, maka permohonan pendaftaran harus diajukan untuk setiap golongan yang dikehendaki. menjadi .
Untuk pendaftaran merek dalam kondisi demikian, permohonan pendaftaran merek untuk setiap kelas harus secara jelas menyebutkan jenis barang atau jasa yang dikehendaki dalam kelas yang bersangkutan. Sebagai acuan golongan barang atau jasa, hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1993 tentang golongan barang atau jasa untuk Pendaftaran Merek, yaitu ada 34 golongan barang dan 8 golongan jasa. Dengan arti kata merek dan benda yang dilindunginya, merek digunakan untuk membedakan barang atau produksi suatu perusahaan dengan barang atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan lain yang sejenis.
Pendaftaran Merek
- Sitem Pendaftaran Merek di Indonesia
- Merek yang dapat didaftarkan
- Merek yang tidak dapat didaftarkan
- Prosedur Pendaftaran Merek
Sistem deklaratif memiliki kelemahan yaitu tidak adanya kepastian hukum bagi pemilik merek yang telah mendaftarkan mereknya. Karena keadilan tercipta bagi pemilik merek yang telah mendaftarkan mereknya karena adanya kepastian hukum dan perlindungan hukum bagi pemilik merek yang sah karena telah mendaftarkan mereknya. Bukti demikian tidak ditemukan dalam sistem deklaratif karena pemilik merek yang mendaftarkan mereknya hanya mendapat sertifikat pendaftaran, bukan sertifikat.
Merek yang dapat didaftarkan pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual adalah merek yang memenuhi persyaratan yang diatur dalam peraturan pendaftaran merek sebagaimana tercantum dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, terdapat pada Bab 3 Tentang Permohonan Pendaftaran Merek Bagian Pertama Tentang Persyaratan dan Tata Cara Permohonan Pasal 4 Sampai dengan Pasal 4 Ayat (1) UU No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Dalam putusannya, Mahkamah Agung menilai bahwa tujuan UU No. 20 Tahun 2016 tentang Merek Dagang dan Indikasi Geografis untuk melindungi masyarakat tidak hanya dari barang palsu yang menggunakan merek dagang yang terkenal sebagai barang berkualitas, tetapi juga untuk memberikan perlindungan bagi merek yang memberikan kesan perusahaan yang sama yang barangnya dikenal sebagai barang berkualitas . Merek dagang yang nantinya dapat digunakan sesuai dengan. Untuk menggunakannya, pertama-tama harus dipertimbangkan apakah merek tersebut dapat didaftarkan atau tidak.
Dalam hal ini tidak hanya pemilik merek dagang terdaftar, tetapi juga pemilik merek dagang tidak terdaftar. Syaratnya, pemilik merek yang tidak terdaftar telah menggunakan mereknya sebagai pemakai pertama untuk suatu jenis barang atau jasa yang termasuk golongan.44 Karena hal ini terkait dengan kepercayaan dan kewajaran pemilik merek. Pemilik merek yang tidak terdaftar dan telah menggunakan mereknya selama puluhan tahun, dan tiba-tiba sekarang merek tersebut disalin oleh orang lain dan kemudian diajukan permohonan pendaftaran merek atas namanya, jelas pemilik merek akan menganggap bahwa orang yang melakukan itu beritikad buruk Pasal 16 ayat 1 UU - UU No 20 Tahun 2016 tentang Tanda dan Indikator Geografis, yang pada bagian ini tertulis tentang keberatan.
Namun sebaiknya pihak yang mengajukan permohonan pendaftaran merek mengajukan keberatan, karena keberatan tersebut merupakan masukan atau pertimbangan bagi Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual apakah merek yang diajukan dapat diterima atau tidak. Upaya penyelesaian yang dapat dilakukan oleh pemohon merek “Geprek Bensu” untuk melindungi merek yang masih dalam proses pendaftaran adalah melalui jalur non kontestasi yaitu melalui negosiasi.
PEMBAHASAN
Penggunaan Merek “Geprek Bensu yang sedang dalam Proses
Akibat Hukum Bagi Pihak Lain dalam Penggunaan Merek
Upaya yang dapat Dilakukan Pemohon Merek “Geprek Bensu”
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
Pemerintah seharusnya lebih bertanggung jawab dan memaksimalkan pengawasan dalam pengawasan terhadap pelaku usaha dan masyarakat, khususnya dalam implementasi Undang-Undang Merek dan Indikasi Geografis sebagai bentuk perlindungan hak merek bagi pemilik merek. Pemerintah membuat regulasi yang berfungsi tidak hanya dalam penanganan represif, tetapi juga bersifat preventif agar sosialisasi dapat dilakukan sesuai dengan UU Merek dan Indikasi Geografis. Jika hal ini diabaikan, bukan hanya pemilik usaha yang dirugikan, tetapi konsumen juga akan disesatkan oleh produk palsu.
Pelaku usaha tidak boleh menggunakan merek pihak lain untuk membangun usahanya, karena dapat merugikan banyak pihak, seperti pemilik merek. Dan lebih memahami ketentuan Undang-Undang Merek dan Indikasi Geografis yang berlaku, dan jika ingin menggunakannya harus memiliki izin dari pemilik merek melalui perjanjian merek atau lisensi. R Soeroso, 2013, Pengantar Hukum, Jakarta, Sinar Grafik Satjipto Rahardjo, 2006, Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti.