KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN LAPS- HEURISTIC DAN STRATEGI GIVING QUESTION AND GETTING ANSWER PADA MATERI SEGIEMPAT PESERTA DIDIK KELAS VII
SMPN 1 KANIGORO
SKRIPSI
OLEH ANNI ROSYIDA NPM 216.01.072.045
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2021
i
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN LAPS- HEURISTIC DAN STRATEGI GIVING QUESTION AND GETTING ANSWER PADA MATERI SEGIEMPAT PESERTA DIDIK KELAS VII
SMPN 1 KANIGORO
SKRIPSI Diajukan kepada
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang
Untuk memenuhi sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika
OLEH ANNI ROSYIDA NPM 216.01.072.045
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JANUARI 2021
Abstrak
Tujuan penelitian ini yaitu: (1) untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah peserta didik dengan model LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers dengan yang menggunakan model pembelajaran konvensional; (2) untuk mengetahui manakah yang lebih baik kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers dengan yang menggunakan model pembelajaran konvensional; (3) untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers. Pendekatan yang digunakan yaitu mixed method research jenis sequential explanatory design. Pada penelitian kuantitatif menggunakan desain true experimental. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Terdapat adanya perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik antara kelas yang menggunakan model LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers dengan kelas yang menggunakan model konvesional (Sig = 0,014< 0,05); (2) Kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran LAPS- Heuristic dan strategi giving question and getting answers lebih baik dibandingkan peserta didik dengan menggunakan model konvensional (thitung = > ttabel = 2,00030); (3) Subjek yang telah dipilih pada kelas yang menggunakan model LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers mempunyai pencapaian indikator yang lebih menguasai daripada kelas yang menggunakan model konvensional.
Kata Kunci: Pemecahan Masalah Matematis, Model LAPS-Heuristic, Strategi Giving Question and Getting Answe
Abstract
The objectives of this study are: (1) to determine whether there are differences in the problem solving abilities of students using the LAPS-Heuristic model and the strategy of giving questions and getting answers using conventional learning models; (2) to find out which students have better mathematical problem solving abilities with the LAPS-Heuristic learning model and the strategy of giving questions and getting answers using conventional learning models; (3) to describe the mathematical problem solving abilities of students with the LAPS-Heuristic learning model and the strategy of giving questions and getting answers. The approach used is a mixed method research type of sequential explanatory design.
In quantitative research using true experimental design. The results of this study are as follows: (1) There are differences in students' mathematical problem- solving abilities between classes using the LAPS-Heuristic model and the strategy of giving questions and getting answers and classes using conventional models (Sig = 0.014 <0.05); (2) The ability of students to solve mathematical problems using the LAPS-Heuristic learning model and the strategy of giving questions and getting answers is better than students using conventional models (tcount = 2.53704> ttable = 2,00030); (3) The subjects that have been selected in the class using the LAPS-Heuristic model and the strategy of giving questions and getting answers have more powerful indicators than the class that uses the conventional model.
Keywords: Mathematical Problem Solving, LAPS-Heuristic Model, Giving Question and Getting Answer Strategy
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan berperan penting untuk membangun kualitas peserta didik.
Dengan melalui pendidikan, peserta didik dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Fuad (2005:1) berpendapat bahwa pendidikan ialah usaha manusia yang digunakan untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi yang ada baik dalam rohani ataupun jasmani sesuai dengan nilai sosial budaya yang ada. Oleh karena itu, potensi-potensi yang dimiliki akan menjadikan peserta didik mampu bersaing dengan siapapun.
Dalam sistem pendidikan, matematika sangat dibutuhkan baik untuk kehidupan sehari-hari dan untuk mengatasi adanya pengaruh IPTEK, oleh karena itu matematika harus dibekalkan kepada peserta didik mulai dari sekolah dasar.
Susanto (2016:183) mengatakan bahwa matematika ialah bidang studi yang tersedia di semua jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 37 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa salah satu pelajaran yang harus diajarkan pada jenjang pendidikan dasar dan juga menengah ialah matematika. Standar isi pada satuan pendidikan dasar dan menengah yang ada di dalam undang-undang tersebut juga menyatakan
2
bahwa matematika telah menjadi salah satu mata pelajaran wajib yang diajarkan di lembaga pendidikan formal sejak pendidikan dasar.
Selain itu, matematika merupakan ilmu pasti dan konkrit yang tidak lepas dari angka dan rumus. Artinya, matematika menjadi ilmu real yang dapat
diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari dalam beragam bentuk. Tujuan diajarkan matematika tidak lain agar peserta didik dapat mengembangkan dan mengaplikasikan unsur-unsur matematika (kemampuan mengoperasikan dan mengaplikasikan konsep matematika) ke dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik akan dengan mudah menggunakan matematika jika sudah dapat
mengembangkan dan mengaplikasikan unsur-unsur matematika. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2016, ditetapkan salah satu tujuan dari pembelajaran matematika di sekolah yaitu agar peserta didik mempunyai kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan dalam memahami masalah, merancang model
matematika, menyelesaikan model matematika, serta memberi solusi dengan tepat.
Perihal tersebut dapat menandakan bahwa kemampuan pemecahan masalah adalah kegiatan yang sangat penting untuk dikembangkan dan sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran secara keseluruhan. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Summarno (dalam Hendriana,
2017:43), bahwa pemecahan masalah ialah inti dan proses utama dalam kurikulum matematika atau tujuan umum pembelajaran matematika, bahkan sebagai
3
jantungnya matematika. Pemecahan masalah sebagai tujuan dari pembelajaran dan kemampuan yang wajib dicapai sesudah pembelajaran merupakan kegiatan
mencari jalan keluar atas suatu permasalahan yang tidak dapat langsung
ditemukan penyelesaiannya. Menurut Wardhani (2010:28), pemecahan masalah merupakan suatu proses penerapan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal. Sehingga tujuan pada akhir
pembelajaran ialah dapat menciptakan peserta didik yang mempunyai pengetahuan serta keterampilan guna memecahkan suatu masalah.
Hasil wawancara awal telah dilakukan oleh peneliti dengan Ibu Sulamah S,Pd. selaku guru mata pelajaran matematika kelas VII SMP Negeri 1 Kanigoro dengan menetapkan bahwasannya kriteria ketuntasan minimal dalam
pembelajaran matematika di sekolah ialah 75 dan berdasarkan hasil dari observasi peserta didik masih banyak yang beranggapan bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang sangat sulit jika dibandingkan dengan pembelajaran lain. Pendapat tersebut di perkuat dengan nilai hasil ulangan harian dari materi garis dan sudut yang dilakukan peserta didik yang rata-rata hasilnya masih kurang dari kriteria ketuntuasan minimal. Sebagian besar dari peserta didik merasa sulit dalam mengerjakan pertanyaan-pertanyaan yang berbasis pemecahan masalah dan juga diketahui bahwa model pembelajaran yang diterapkan pada saat proses belajar mengajar masih terpusat oleh guru (teacher centered) yang akhirnya dapat
mengakibatkan peserta didik banyak bergantung dengan apa yang dikatakan guru.
4
Dari hasil uraian yang telah dijelskan, rendahnya kemampuan pemecahan masalah akan menghambat proses dan hasil dari belajar peserta didik. Sehingga cara untuk memfasilitasi agar kemampuan dalam pemecahan masalah matematis meningkat menjadi sangatlah penting dalam proses belajar mengajar. Salah satunya usaha agar dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis adalah dengan cara menerapkan proses pembelajaran dengan peserta didik sebagai pusatnya (student centered) serta menggunakan inovasi
pembelajaran terbaru baik dalam model pembelajaran, metode, pendekatan, strategi, serta media pembelajaran.
Oleh karena itu, salah satu model pembelajaran yang relevan dalam peningkatan kemampuan peserta didik terhadap pemecahan masalah ialah dengan diterapkan model pembelajaran Logan Avenue Problem Solving Heuristic (LAPS- Heuristic). Purba & Sirait (2017:34) berpendapat bahwa dalam model
pembelajaran LAPS-Heuristic, peserta didik diajak untuk menggunakan langkah- langkah dalam proses pemecahan masalah, mampu menganalisis ataupun
membuat dugaan akan kebenaran dalam pemecahan persoalan masalah juga dituntut guna membuat penilaian untuk hasil dari solusinya sendiri. Model pembelajaran LAPS-Heuristic menurut (Ngalimun, 2016) ialah model
pembelajaran yang mengarahkan peserta didik pada proses pemecahan masalah dengan menggunakan kata-kata tanya seperti apa masalahnya, apakah ada alternatif pemecahannya, apa manfaatnya, apa solusinya, dan bagaimana cara terbaik dalam mengerjakannya.
5
Selain model pembelajaran, guru dapat menggunakan berbagai macam strategi untuk meningkatkan pemahaman peserta didik pada proses pembelajaran.
Salah satunya yaitu menerapkan strategi giving question and getting answers.
Strategi ini termasuk penerapan strategi dari pembelajaran konstruktivistik yang melibatkan peserta didik sebagai subyek pada suatu pembelajaran. Sehingga dapat diartikan bahwa peserta didik dapat membangun ilmunya sendiri, dan gurunya hanya sebagai fasilitator (Kurino, 2018:36). Menurut Suprijono (2010:107) strategi ini dirancang untuk peserta didik guna melatih agar mempunyai
ketrampilan dalam menjawab ataupun bertanya soal, karena dasar dari strategi ini ialah metode tanya jawab yang dikolaborasikan dengan beberapa potongan kertas.
Dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi pembelajaran giving question and getting answers ini diharapkan mampu membantu peserta didik dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis pada materi yang diajarkan yaitu segiempat.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis dengan menggunakan Model Pembelajaran LAPS-Heuristic dan Strategi Giving Question and Getting Answers pada Materi Segiempat Peserta Didik Kelas VII SMPN 1 Kanigoro”.
6
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah yang telah dijelaskan, masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah.
1. Apakah terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers dengan yang menggunakan model
pembelajaran konvesional pada materi segiempat kelas VII SMP Negeri 1 Kanigoro?
2. Apakah kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers lebih baik daripada yang menggunakan model pembelajaran
konvesional pada materi segiempat kelas VII SMP Negeri 1 Kanigoro?
3. Bagaimana kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers dengan yang menggunakan model pembelajaran konvesional pada materi segiempat kelas VII SMP Negeri 1 Kanigoro?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kemampuan pemecahan
masalah matematis peserta didik dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic
7
dan strategi giving question and getting answers dengan yang menggunakan model pembelajaran konvesional pada materi segiempat kelas VII SMP Negeri 1 Kanigoro.
2. Untuk mengetahui manakah yang lebih baik kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers dengan yang menggunakan model pembelajaran konvesional pada materi segiempat kelas VII SMP Negeri 1 Kanigoro.
3. Untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving
question and getting answers dengan yang menggunakan model pembelajaran konvesional pada materi segiempat kelas VII SMP Negeri 1 Kanigoro.
1.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan maka hipotesis penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut.
1. Terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers dengan yang menggunakan model pembelajaran konvesional pada materi segiempat kelas VII SMP Negeri 1 Kanigoro.
2. Kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting
8
answers lebih baik dari yang menggunakan model pembelajaran konvesional pada materi segiempat peserta VII SMP Negeri 1 Kanigoro.
1.5 Asumsi
Dalam penelitian ini asumsi dasar yang digunakan peneliti adalah sebagai berikut.
1. Validator dalam penelitian ini adalah seorang yang ahli dibidangnya dan memberikan penilaian yang objektif serta bersungguh-sungguh sehingga hasil validasi menunjukkan validitas yang sebenarnya.
2. Semua peserta didik mengerjakan soal post-test dengan sungguh-sungguh dan sesuai dengan kemampuannya.
3. Faktor-faktor lain selain model dan strategi yang digunakan dengan tujuan guna mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematis dianggap tidak berpengaruh.
1.6 Ruang Lingkup dan Keterbatasan
Supaya penelitian ini lebih terarah dan terfokus, maka pada penelitian ini diperlukan ruang lingkup dan keterbatasan penelitian. Adapun ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini terdiri dari 2 variabel yang di teliti yakni variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebasnya yaitu model pembelajaran LAPS- Heuristic dan strategi giving question and getting answers. Sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan pemecahan masalah matematis.
9
2. Penelitian ini dilaksankan pada dua kelas yakni kelas VII-J SMPN 1
Kanigoro sebagai kelas kontrol dan kelas VII-H SMPN 1 Kanigoro sebagai kelas eksperimen.
3. Materi pembelajaran yang menjadi fokus penelitian adalah bab segiempat di Kelas VII SMPN 1 Kanigoro.
Sedangkan keterbatasan pada penelitian ini adalah fokus mengetahui kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah matematis dengan menggunakan model LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers.
1.7 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai, maka penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat dalam pendidikan baik secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat penelitian ini yakni sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan akan memberikan dampak positif dan kontribusi yang maksimal dalam pembelajaran matematika sehingga
diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers.
2. Manfaat Praktis
10
Secara praktis, manfaat yang diharapkan dari pengalaman ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi Guru
Dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu menjadi inovasi guru dalam proses pembelajaran agar lebih bervariasi pada model
pembelajarannya dan dapat menguatkan guru dalam memunculkan ide-ide kreatif.
b. Bagi peserta didik
Diharapkan mampu melatih dan meningkatkan dalam hal pemecahan masalah matematis dengan diterapkannya model LAPS- Heuristic dan strategi giving question and getting answers pada peserta didik sehingga dalam kegiatan belajarnya menjadi lebih bersemangat.
c. Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi sekolah kepada guru matematika maupun guru mata pelajaran lainnya agar menggunakan model pembelajaran yang lebih variatif sehingga kualitas hasil pembelajaran menjadi lebih maksimal.
d. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan juga pengetahuan bagi peneliti yang berhubungan dengan variasi pendekatan dalam mengajar pembelajaran matematika, dan sebagai persiapan seorang calon pendidik (guru) dimasa depan.
11
1.8 Definisi Istilah
Dalam peneltian ini, penulisan skripsi banyak menggunakan beberapa istilah guna menghindari kemungkinan terjadinya definisi lain dalam istilah yang akan digunakan dan mempermudah peneliti ketika bekerja agar lebih terarah, maka beberapa istilah tersebut dapat didefinisikan sebagai berikut:
1. Masalah matematis adalah suatu pertanyaan yang tidak langsung dapat diselesaikan dengan prosedur yang ada dalam soal matematika sehingga membutuhkan perencanaan yang benar dalam proses penyelesaiannya sebelum menemukan jawabannya.
2. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis ialah kemampuan peserta didik guna menjalani proses mencari solusi dari suatu persoalan matematika sesuai dengan pengetahuan yang telah diperolehnya untuk mendapatkan jalan keluar dari suatu permasalahan matematika. Indikator yang digunakan untuk
mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis yakni yang pertama, memahami masalah (understand the problem). Kedua, merencanakan
pemecahan masalah (devise a plan). Ketiga, melaksanakan perencanaan (carry out the plan). Keempat, memeriksa kembali proses dan hasil ((looking back) 3. Model Pembelajaran LAPS-Heuristic merupakan model pembelajaran yang
berbentuk runtutan dari suatu pertanyaan guna menyelesaikan suatu masalah dengan menentukan alternatif sebagai solusi sehingga dapat ditarik kesimpulan dari masalah tersebut. Adapun sintak model pembelajaran LAPS–Heuristic antara lain. Pertama, memahami masalah. Kedua, merencanakan
12
pemecahannya. Ketiga, menyelesaikan masalah sesuai rencana langkah kedua.
Keempat, memeriksa kembali hasil yang diperoleh.
4. Strategi giving question and getting answer (GQAGA) ialah strategi yang dirancang untuk peserta didik guna melatih agar mempunyai ketrampilan dalam menjawab ataupun bertanya soal, karena dasar dari strategi ini ialah metode tanya jawab yang dikolaborasikan dengan beberapa potong kertas.
Adapun sintak strategi tersebut antara lain. Pertama, membagikan dua buah kartu yakni kartu soal dan kartu jawaban. Kedua, membagi peserta didik ke dalam kelompok kecil. Ketiga, mengerjakan dan menyeleksi kartu soal.
Keempat, meminta kelompok untuk mempresentasikan hasil seleksi kartu soal.
Kelima, mengoreksi kartu soal dengan kartu jawaban. Keenam, menyimpulkan hasil diskusi.
5. Model Pembelajaran Konvesional adalah pembelajaran yang mengharuskan guru lebih mendominasi kelas dengan menyampaikan materi secara langsung dan peserta didik sebagai penerima informasi secara pasif dalam pembelajaran.
6. Materi matematika yang digunakan pada penelitian ini ialah materi segiempat dan termasuk materi SMP Kelas VII. Segiempat merupakan bangun datar yang memiliki empat buah sisi. Pokok dalam pembahasan materi segiempat ini adalah tentang bagaimana memahami masalah segiempat, menyelesaikan masalah segiempat, dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan segiempat. Segiempat yang menjadi objek pada penelitian ini yakni persegi panjang, persegi, jajar genjang, trapesium, layang-layang serta belah ketupat.
125
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai kemampuan pemecahan masalah matematis dengan menggunakan model LAPS- Heuristic dan strategi giving question and getting answer pada materi segiempat kelas VII SMP Negeri 1 Kanigoro diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
1) Terdapat adanya perbedaan kemampuan pemecahan masalah peserta didik antara kelas yang menggunakan model LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers dengan kelas yang menggunakan model konvesional (Sig = 0,014< 0,05).
2) Kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers lebih baik dibandingkan peserta didik dengan menggunakan model konvensional (thitung = > ttabel = 2,00030).
3) Subjek yang telah dipilih berdasarkan data wawancara pada kelas dengan model LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers mampu lebih menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah matematis daripada kelas dengan model konvensional didapatkan data sebagai berikut.
126
a. Subjek berkemampuan tinggi pada kelas dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers mampu mencapai semua indikator dan pada kelas model konvesional mampu mencapai tiga dari empat indikator pemecahan masalah matematis.
b. Subjek berkemampuan sedang pada kelas dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers mampu menguasai tiga dari empat indikator dan pada kelas model konvesional hanya menguasai dua dari tiga indikator pemecahan masalah matematis.
c. Subjek berkemampuan rendah pada kelas dengan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers hanya mampu menguasai dua dari empat indikator dan pada kelas model konvesional hanya bisa mencapai satu dari empat indikator pemecahan masalah matematis.
Dengan demikian diperoleh hasil bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis kelas yang menggunakan model pembelajaran LAPS- Heuristic dan strategi giving question and getting answers lebih baik daripada kelas dengan menggunakan model konvesional serta didapatkan kesimpulan bahwasannya data kualitatif bisa melengkapi, memperkuat, serta mendukung data kuantitatif.
127
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh peneliti di kelas VII SMP Negeri 1 Kanigoro, peneliti memiliki saran-saran sebagai berikut.
1) Bagi Peserta Didik
Proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran LAPS-Heuristic dan strategi giving question and getting answers, peserta didik diharapkan dapat berperan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi, lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapatnya serta lebih mandiri dalam belajar.
2) Bagi Pendidik
Pendidik sebaiknya juga dapat menerapkan model pembelajaran LAPS- Heuristic dan strategi giving question and getting answers pada materi yang lain dengan dibuat model diskusi aktif dalam kegiatan pembelajaran agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan keaktifan peserta didik dalam berdiskusi pada kegiatan pembelajaran berlangsung.
3) Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti yang lain dapat menggunakan model pembelajaran LAPS- Heuristic dan strategi giving question and getting answers pada materi pelajaran matematika atau selain materi segiempat SMP, pada materi pembelajaran selain matematika ataupun pada jenjang pendidikan yang berbeda.
128
DAFTAR RUJUKAN
Abidin, Z dan Walida, S.E. 2019. Interactive E-Module Model of Transformation Geometry Based on Case (Creative, Active, Systematic, Effective) as A Practical and Effective Media to Support Learning Autonomy and
Competence. International Journal of Development Research, Volume 9, Issue 01, pp.25156-25160, 26 Mei 2020. (http://www.journalijdr.com) Arikunto, Suharsimi. 2013. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta As’ari, Abdur Rahman., Tohir, Mohammad., dan Valentino, Erik., Dkk. 2017.
Matematika SMP/MTs Kelas VII Semester 2.Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Cahyono, Tri. 2015. Stastik Uji Normalitas. Purwokerto:Yasamas
Creswell, John W.2016. Research Design (Pendekatan metode kualitatif, kuantitatif dan campuran) Edisi keempat. Yoyakarta: Pustaka Pelajar Departemen Pendidikan Indonesia. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Departemen Pendidikan Indonesia. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Djamarah, Syaiful., dan Zain, Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rineka Cipta
Effendi, Sulaiman., dan Siregar, Syarifah. 2018. Penerapan Strategi Giving Question And Getting Answer Sebagai Upaya Peningkatkan Hasil Belajar Akuntansi, (Online), Vol 1 No 2, (diakses 20 Februari 2020) Fathonah, Ika., dan Sukestiyarno. 2019. Segiempat Konsep dan Aplikasinya.
Semarang: UNNES
Fathurrohman, Muhammad., dan Sulistyorini. 2018. Belajar & pembelajaran.
Yogyakarta:Kalimedia
Fathurrohman, Muhammad. 2018. Pendekatan dan Model Pembelajaran.
Yogyakarta: Kalimedia
129
Fuad, Ihsan.2005.Dasar-dasar Kependidikan.Jakarta: PT Rineka Cipta Hamalik, Oemar. 2015. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara Hawa, Siti. Aisyah, Nyimas., dan Purwoko., Dkk. 2008. Pengembangan
Pembelajaran Matematika SD. Dirjen DIKTI : Kemdiknas Hendriana, H. H., Sumarmo, U., & Rohaeti, E. E., 2017. Hard skills dan
softskills.Penerbit: Refika Aditama Cetakan ke 1Tahun 2017 Original Isfara, Laila., dan Ermawati. 2018. Validitas Instrumen Four-Tier Misconception
Diagnostic Test untuk Materi Fluida Statis, Jurnal: Inovasi Pendidikan Fisika, (Online), Volume 07 No.3. (diakses 1 Maret 2020)
Komarudin. 2016. Analisis Kesalahan Siswa Dalam Pemecahan Masalah
Matematika Pada Materi Peluang Berdasarkan High Order Thinking Dan Pemberian Scaffolding, Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan,
Komunikasi dan Pemikiran Hukum Islam, (Online), Volume VIII, No.1, (diakses 23 Februari 2020)
Kurino, Yeni. 2018. Model Giving Question and Getting Answer Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar, Jurnal Didactical Mathematics, (Online), Vol 1 No 1, (diakses 3 Februari 2020)
Lestari, K. E., dan Yudhanegara, M. R. 2017. Penelitian Pendidikan Matematika.Bandung: PT Refika Aditama.
Moleong, Lexy J. 2016. Metode Penelitian Kualitatif edisi Revisi. Bandung:
Remaja Rosda Karya
Nasution. 2011. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta:
PT. Bumi Aksara.
Ngalimun. 2016. Strategi dan Model Pembelajaran.Yogyakarta: Aswaja Presindo.
Nuansyah, Nanda., Efuansyah., dan Yanto. 2019. Efektivitas Model Pembelajaran Logan Avenue Problem Solving (LAPS)-Heuristik Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa, Jurnal Pendidikan Matematika RAFA (Online), Vol 5(2): 162-172, (diakses 1 Februari 2020)
130
Pemerintah Indonesia. 2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 37 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas
Purba, Oktaviana., dan Sirait, Syahriani. 2017. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dengan Model LAPS-Heuristic di SMA Shafiyyatul Amaliyah. Vol.2. No.1. Jurnal Matematics Paedagogic. Halaman 31-39.
Online (diakses 23 Januari 2020)
Putri, Rahmi., Rahmi., dan Edriati, Sofia. 2017. Pengaruh Strategi Giving Question And Getting Answer Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Smp, Jurnal Pelangi (Online), Vol.10 No. 2. (diakses 1 Februari) Polya, George.1957. How To Solve It : A New Aspect of Mathematic Method.
New York: Doubleday Anchor Books
Prihandoko, A.C. 2006 Memahami Konsep Matematika Secara Benar Dan Menyajikannya Dengan Menarik. Jakarta: Depdiknas
Rosita, Dwi. 2017. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis dan Berpikir Kritis Siswa Menggunakan Model PembelajaranSearch, Solve, Create, and Share (SSCS) Pada Pokok Bahasan Turunan Fungsi Kelas XI MA Nahdlatul.
Runtukahu, Tombokan., dan Kandou, Selpius. 2014. Pembelajaran Matematika Dasar Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Ruseffendi, E.T. 2005. Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan & Bidang Non Eksakta Lainnya. Bandung: Tarsito
Rusman.2012. Model –Model Pembelajaran. Depok : PT Rajagrafindo Persada Sagala, Syaiful. 2017. Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta Sahimin., Nasution, Wahyuddin., dan Sahputra, Edi. 2017. Pengaruh Model
Pembelajaran Dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar PAI Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Kabanjahe Kabupaten Karo, (Online),Vol 1 No 2, (diakses 9 juli 2020)
Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran INOVATIF dalam Kurikulum 2013.Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Silberman, Melvin L. 2009. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif (Alih
131
bahasa: Raisul Muttaqien). rev.ed. Bandung: Nusamedia.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung: PT. Tarsito Bandung Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kombinasi. Bandung: PT. Alfabeta Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung. PT. Alfabeta
Suprijono, A. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Susanto, Ahmad.2016. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Usman, Husaini. 2011.Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta
Wardhani, Sri., Wiworo., Guntoro, Sigit., dan Windro, Hanan. 2010.
Pembelajaran Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Di
SMP.Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika
Wulandari, Yessicha. 2018. Deskripsi Pemahaman Konsep Bangun Datar Oleh Siswakelas Viii Smp Negeri 03 Salatiga Berkemampuan rendah, Maju (Online), Vol 5 No 2, (diakses 3 Februari 2020)
Zaini, Hisyam., Munthe, Bermawy., dan Ayu, Sekar. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani