• Tidak ada hasil yang ditemukan

Home - Open Access Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Home - Open Access Repository"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Badan kesehatan dunia (World Health Organization/ WHO) telah menetapkan bahwa kesehatan merupakan investasi, hak, dan kewajiban bagi manusia. Kutipan tersebut tertuang dalam Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan menetapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang harus diwujudkan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya (Riyadi, 2015).

Pelayanan kesehatan merupakan segala sesuatu yang kita upayakan secara sendiri ataupun secara bersama-sama dalam sebuah organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan baik secara perorangan, keluarga, kelompok, ataupun masyarakat (Azwar, 2010). Mutu pelayanan kesehatan hasil yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan disatu pihak yang dapat menimbulkan kepuasan pada setiap pasien sesuai dengan tingkat kepuasan rata- rata penduduk, serta di pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan (Nusa et al., 2018). Peningkatan efektivitas pelayanan kesehatan terjadi apabila mutu suatu instansi pelayanan kesehatan tetap terjaga dan dikembangkan. Kondisi seperti ini tidak saja bermanfaat bagi pasien dan keluarganya, tetapi juga instasi penyedia pelayanan kesehatan.

Pada dasarnya dalam ajaran Islam telah terdapat sumber yang jelas dengan adanya semangat untuk melakukan tolong menolong (ta’awun) antar sesama manusia, tertuang dalam potongan Qs. Al Maidah : 2

(2)

Artinya: “.... dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa- Nya.”

Pelayanan keperawatan di rumah sakit merupakan salah satu pelayanan utama yang memiliki pengaruh besar terhadap mutu pelayanan dan citra suatu rumah sakit. Perawat memiliki interaksi yang paling luas dengan pasien, karena keterlibatannya pada hampir seluruh aktivitas pelayanan di rumah sakit, penampilan perawat sebagai personil penentu kualitas pelayanan kesehatan. Pada saat ini rumah sakit dituntut memberi pelayanan terbaik kepada pasien terutama dalam peningkatan fasilitas disegala bidang serta jaminan kesehatan (American Nurses Association, 2018).

Pelayanan keperawatan memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan pasien karena perawat memberikan pelayanan keperawatan yang nyata dan berdampak langsung terhadap pasien. Petugas pelayanan harus mampu memberikan pelayanan keperawatan yang maksimal ke semua pasien.

Keberhasilan pelayanan keperawatan sangat ditentukan oleh kinerja para perawat. Oleh karena itu, evaluasi terhadap kinerja perawat perlu dan harus selalu dilaksanakan.

Semangat inilah yang menjadikan dasar adanya jaminan kesehatan pada awalnya. Jika dilihat dari nilai yang tertera dalam Al Qur’an dan As Sunnah, maka nilai dasar dari jaminan sosial memiliki sifat social oriented, yaitu sebuah nilai yang didasarkan pada semangat saling membantu dan saling menolong antar sesama dalam menghadapi musibah.

Caring merupakan esensi dari pelayanan keperawatan yang membedakan keperawatan dari profesi lain. Penyakit harus diobati tetapi kesakitan akan tetap ada, tanpa caring kesehatan tidak dapat dicapai. Caring merupakan

(3)

bentuk kepedulian dan bentuk pertanggung jawaban hubungan antara perawat dan pasien (George, 2011). Pendapat lain dari Watson bahwa caring meliputi komitmen untuk memberikan pelayanan keperawatan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dalam praktiknya, perawat ditantang untuk tidak ragu dalam menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dalam praktik keperawatan (Wayan, 2015).

Di dunia, caring sudah menjadi hal biasa yang dipraktikkan dalam pemberian asuhan keperawatan. (International association of human caring, 2007), menjelaskan bahwa keperawatan selalu meliputi empat konsep yaitu merawat adalah apa yang perawat lakukan, manusia jadi sasaran dari apa yang perawat lakukan, kesehatan tujuannya dan lingkungan tempat dimana perawat merawat. Inti dari semua teori tentang keperawatan memeriksa dan menguraikan empat konsep tersebut untuk memberi penjelasan dan panduan dalam hal merawat. Tetapi sekarang merawat juga didefinisikan sebagai “caring”, yang sudah menjadi konsep paradigma yang kelima (Shoffner, 2008).

Di Indonesia, caring merupakan isu besar dalam profesionalisme keperawatan. Caring merupakan topik yang hangat saat ini untuk di bahas dalam dunia keperawatan karena perawat yang merupakan perilaku caring tetapi caring yang dilakukan perawat masih jauh dari standar dalam praktik keperawatan secara nyata. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Agustina, 2012) yang meneliti pengaruh kualitas caring terhadap tingkat kepuasan pasien dalam praktek keperawatan, hasil penelitiannya menjelasakan bahwa terdapat pengaruh yang positif kualitas caring perawat terhadap tingkat kepuasan pasien yang rawat di rumah sakit, semakin baik kualitas caring maka semakin meningkat kepuasan pasien.

Pentingnya memberikan pelayanan berkualitas yang sesuai dengan harapan masyarakat, karena tidak hanya sekedar melayani, tetapi berarti memahami, mengerti, dan merasakan sehingga penyampaiannya akan

(4)

mengenai hati peserta dan pada akhirnya akan memperkokoh posisi dalam pikiran peserta. Standar pelayanan yang berkualitas tinggi dapat menggunakan metode program relationship retailing yang di dalamnya termasuk desain untuk menarik, memelihara, dan meningkatkan customer relationship.

Pelayanan rumah sakit juga selayaknya menerapkan beberapa etika pelayanan dalam islam untuk menunjang kemajuan program dalam jangka panjang. Diantaranya yaitu pertama, fathanah dapat diartikan sebagai profesionalitas dalam bekerja, kedua shiddiq atau jujur dalam melakukan kegiatan baik pada intern atau ekstern perusahaan. Ketiga, amanah berarti bertanggungjawab menyampaikan dalam setiap kewajiban. Serta keempat, tabligh artinya menyampaikan dengan sabar dan santun.

Kepuasan pasien merupakan hasil dari pelayanan kesehatan yang diterima oleh setiap pasien dan sangat berpengaruh pada status kesehatan.

Kepuasan pasien selalu digunakan sebagai dasar untuk mendukung suatu perubahan sistem layanan kesehatan dari setiap fasilitas kesehatan yang ada untuk menjadi lebih baik lagi (Nusa et al., 2018). Pasien sebagai pengguna jasa rumah sakit, berhak menilai kinerja pelayanan kesehatan yang mereka terima. Bagi pengguna jasa pelayanan kesehatan, dimensi pelayanan kesehatan terkait pada dimensi kehandalan petugas dalam melayani pasien, ketanggapan petugas memenuhi kebutuhan pasien, jaminan atau keamanan yang diberikan petugas pelayanan kesehatan, keprihatinan serta keramah tamahan petugas dalam melayani pasien, dan sarana prasarana yang bersih dan baik yang diberikan oleh petugas kesehatan (Azwar, 2010).

Rumah sakit memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Paradigma baru pelayanan kesehatan mengharuskan rumah sakit memberikan pelayanan

(5)

berkualitas sesuai kebutuhan dan keinginan pasien dengan tetap mengacu pada kode etik profesi. Dalam perkembangan teknologi yang pesat dan persaingan yang semakin ketat, maka rumah sakit dituntut untuk terus melakukan peningkatan kualitas pelayanannya (Depkes RI, 2007).

Rumah sakit merupakan salah satu institusi yang bergerak dibidang pelayanan kesehatan. Rumah sakit lebih mengacu sebagai suatu industri yang bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan dengan melakukan pengelolaan yang berdasar pada manajemen sebagaimana halnya badan usaha. Berdasarkan standar pelayanan minimal (SPM) Rumah Sakit yamg ditetapkan oleh Permenkes, Nomor 129 tahun (2008), dimana standar untuk kepuasan pasien yaitu 90%.

Semakin ketatnya persaingan serta pelanggan yang semakin selektif dan berpengetahuan mengharuskan Rumah Sakit Islam Banjarmasin selaku salah satu penyedia jasa pelayanan kesehatan untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanannya. Untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan, terlebih dahulu harus diketahui apakah pelayanan yang telah diberikan kepada pasien atau pelanggan selama ini telah sesuai dengan harapan pelanggan atau belum. Perilaku perawat merupakan salah satu indikator standar pelayanan keperawatan minimal syariah yang harus dicapai dalam suatu rumah sakit syariah.

Bentuk pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Islam Banjarmasin dengan mengedepankan prinsip syariah ditunjukkan dengan memberikan salam, memutarkan murotal Al-Qur’an setiap pagi di seluruh ruangan, perawat menggunakan pakaian yang tertutup dan sopan sesuai gambaran perawat muslim, membantu pasien ketika ingin beribadah, serta mendoakan pasien tetap semangat dan cepat pulih.

(6)

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan melalui hasil data pengisian kuesioner oleh pasien di Rumah Sakit Islam Banjarmasin didapatkan bahwa pelayanan rumah sakit terhadap pasien tidak signifikan sehingga hasil dari kepuasan pasien dan hasil wawancara tentang pelayanan Islami yang diterima pasien selama ini yang didapatkan tidak stabil dalam waktu beberapa tahun terakhir ini dengan data hasil total nilai rata-rata 79,9 – 83,7 dimana standar kepuasan pasien yaitu 90% yang telah ditetapkan oleh Permenkes, Nomor 129 tahun 2008.

Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan bahwa Rumah Sakit Islam berupaya memberikan pelayanan yang berkualitas sehingga diharapkan mampu meningkatkan kepuasan pasien. Oleh karena itu, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap “hubungan penerapan caring dalam bentuk perilaku Islami perawat dengan kepuasan pasien di Rumah Sakit Islam Banjarmasin”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah penelitian adalah apakah ada hubungan penerapan caring dalam bentuk perilaku Islami perawat dengan kepuasan pasien di Rumah Sakit Islam Banjarmasin ?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini secara umum untuk mengetahui adanya hubungan penerapan caring dalam bentuk perilaku Islami perawat dengan kepuasan pasien di Rumah Sakit Islam Banjarmasin.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian sebagai berikut:

1.3.2.1 Mengidentifikasi penerapan caring dalam bentuk perilaku Islami perawat di Rumah Sakit Islam Banjarmasin.

(7)

1.3.2.2 Mengidentifikasi kepuasan pasien di Rumah Sakit Islam Banjarmasin.

1.3.2.3 Menganalisis hubungan penerapan caring dalam bentuk perilaku Islami Perawat dengan kepuasan pasien di Rumah Sakit Islam Banjarmasin.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti

Sebagai pembelajaran dan pemahaman diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan yang telah diperoleh diperkuliahan, terutama yang berkaitan dengan penelitian ini mengenai penerapan sikap caring dalam bentuk perilaku Islami.

1.4.2 Bagi Masyarakat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi mengenai edukasi pengetahuan serta informasi tentang penerapan caring dalam bentuk perilaku Islami perawat dengan kepuasan pasien.

1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan

Menambah pustaka dan informasi bagi mahasiswa Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin mengenai hubungan penerapan caring dalam bentuk perilaku Islami perawat.

1.4.4 Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dalam pencapaian target pelayanan kesehatan khususnya pada perawat, sehingga didapat perencanaan yang lebih optimal dalam upaya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada

(8)

masyarakat atau pasien, khususnya segala hal yang berkaitan dengan pelayanan Islami.

1.5 Penelitian Terkait

Dalam studi literatur ini, penulis mencantumkan penelitian yang telah dilakukan oleh pihak lain sebagai bahan rujukan dalam mengembangkan materi yang ada dalam penelitian yang dibuat oleh penulis.

Tabel 1.1. Penelitian Terkait

No Peneliti Tahun Judul Variabel Hasil Penelitian 1 Irawan 2015 Hubungan

Komunikasi Perawat dengan Kepuasan Pasien atas Pelayanan Keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit

Muhammadiyah Palembang

Komunikasi perawat dengan kepuasan pasien

Terdapat hubungan antara komunikasi perawat dengan kepuasan klien atas pelayanan keperawatn

2 Fuad 2017 Pengaruh Pelayanan Islami Terhadap Kepuasan Pasien Di Rumah Sakit Umum Daerah

Pelayanan Islami terhadap kepuasan pasien

Terdapat bahwa pelayanan Islami memiliki pengaruh terhadap

(9)

(Rsud) Meuraxa Kota Banda Aceh

kepuasan pasien

3 Fitri Mailani

2017 Hubungan Perilaku Caring Perawat dengan Tingkat

Kepuasan Pasien BPJS di

RSUD DR.

Rasidin Padang

Perilaku caring perawat dengat tingkat kepuasan pasien BPJS

Terdapat hubungan antara perilaku caring perawat dengan tingkat kepuasan pasien 4 Iwan

Setyo Lesmana

2021 Hubungan Caring Perawat Dengan Tingkat Kepuasan Pasien

Caring perawat dengan kepuasan pasien

Terdapat hubungan antara caring perawat dengan tingkat kepuasan pasien

Referensi

Dokumen terkait

CONCLUSION Based on the result of the research then the conclusion are, firstly, constructivism- based learning can improve mathematical high order thinking skills MHOTS such as