Pada penelitian mengenai persepsi perawat terhadap perilaku Caring pada pasien kanker, perawat yang mempunyai persepsi Care yang baik adalah yang berhubungan dengan pemberian terapi pada pasien (Astarini et al., 2020). Salah satu instrumen yang dikembangkan berdasarkan teori Caring Swanson adalah Caring Assessment for Care Givers (CACG). Tiga proses lainnya, kebersamaan, melakukan dan memberdayakan merupakan tindakan atau cara perilaku kepedulian.
Instrumen ini digunakan untuk mengukur perilaku Caring berdasarkan persepsi perawat, dimana perawat menentukan apakah asuhan keperawatan yang diberikannya lebih berorientasi pada tugas atau menunjukkan perilaku keperawatan Caring. Perilaku peduli ditemukan meningkat setelah orientasi, diskusi dan pelatihan tentang perilaku peduli (Goncalves et al., 2016). Penelitian menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kepedulian perawat, item pertanyaan CBI dianggap tepat dalam mengukur perilaku kepedulian perawat, sehingga membantu memastikan keakuratan pengumpulan data (Yau et al., 2019).
Penilaian Perilaku Caring (CBA) memiliki 63 item yang dibangun berdasarkan teori kepedulian Watson yang dikembangkan oleh Cronin dan Harrison untuk menilai perilaku kepedulian perawat dari persepsi pasien. CBA digunakan dalam penelitian yang mengukur persepsi perawat terhadap perilaku merawat pasien geriatri di Nigeria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CBA dapat digunakan untuk mengukur perilaku merawat perawat berdasarkan persepsi pasien (Odeyinka, 2016). Pengukuran perilaku pengasuhan dengan menggunakan alat CAT didasarkan pada persepsi pasien kanker yang dipulangkan setelah operasi.
Akansel dkk (2020) menggunakan CDI untuk mengetahui perilaku perawatan berdasarkan persepsi perawat.Berdasarkan penelitian tersebut ditemukan bahwa perubahan prioritas dalam pemberian asuhan keperawatan dapat terjadi sesuai persepsi perawat dan pasien serta dapat dapat dipertimbangkan. .
Perilaku Caring Perawat di IGD
Akansel et al (2020) menggunakan CDI untuk mengetahui perilaku Caring berdasarkan persepsi perawat. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa perubahan prioritas dalam pemberian asuhan keperawatan dapat terjadi sesuai persepsi perawat dan pasien serta dapat diperhitungkan. . & Lukmanulhakim, 2019). Namun kenyataannya perawat di rumah sakit maupun di IGD lebih fokus pada pendelegasian tugas dokter dibandingkan tugas perawatan (Anggoro et al., 2019). Enns (2016) menyimpulkan dalam penelitian kualitatif yang dilakukan pada perawat yang bekerja di IGD bahwa perilaku merawat perawat IGD dipengaruhi oleh masalah kepegawaian, keterbatasan waktu, shift kerja dan kurangnya perawatan diri.
Oluma dan Abadiga (2020) menyatakan bahwa perilaku kepedulian perawat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain karakteristik perawat, pendidikan, stres kerja, lingkungan kerja, dan kepuasan kerja. Beberapa penelitian yang mengukur perilaku kepedulian perawat yang bekerja di UGD menunjukkan hasil yang beragam. Penelitian yang dilakukan oleh Baringbing (2019) pada salah satu rumah sakit di Palangkaraya menyatakan bahwa perilaku perawatan perawat IGD menurut persepsi pasien sebagian besar berada pada kategori kurang baik.
Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Hidayanto dkk (2021) yang mengukur perilaku Caring dengan menggunakan skala Gadar Caring (GCS) menunjukkan bahwa perilaku Caring perawat berada pada kategori cukup. Sedangkan Surbakti dkk (2019) dalam penelitiannya menggunakan analisis tulang ikan untuk mengidentifikasi permasalahan, menyatakan bahwa perilaku perawatan di IGD belum dilaksanakan secara maksimal. Shalaby dkk (2019) dalam penelitiannya mengenai perilaku Caring perawat IGD menemukan bahwa perilaku Caring disampaikan hanya melalui teori pada saat pendidikan, namun belum ada pedoman dari rumah sakit yang mengintegrasikan teori Caring dengan praktik keperawatan.
Kompleksnya situasi di IGD dapat mempengaruhi perilaku keperawatan perawat, namun faktor lain juga dapat mempengaruhinya. Faktor internal yang mempengaruhi perilaku keperawatan perawat seperti karakteristik demografi perawat, efikasi keperawatan, kecerdasan emosional dan spiritual. Karakteristik pasien pada area kritis seperti ketidakstabilan kondisi, penggunaan peralatan medis dan kebutuhan perawatan yang kompleks, tidak hanya dukungan fisik tetapi juga emosional, sosial dan spiritual, menyebabkan pasien merasa stres, terisolasi dan tidak berdaya.
Kondisi seperti ini membuat tuntutan perilaku Caring perawat di IGD semakin tinggi (Lukmanulhakim et al., 2019). Kurangnya perilaku Caring di IGD akan menurunkan kepuasan pasien dan keluarga terhadap pelayanan keperawatan yang tentunya akan mempengaruhi kualitas pelayanan keperawatan dan rumah sakit (Yarnita & Gasril, 2020b).
Faktor-Faktor Internal yang Berhubungan terhadap Perilaku Caring Perawat
Semakin tinggi pendidikan perawat maka semakin tinggi pula produktivitas kerja yang ditunjukkan dengan perilaku Caring perawat tersebut. Berbeda dengan Anggoro dkk (2018), penelitian yang dilakukan terhadap perawat di salah satu rumah sakit di Kendal menunjukkan bahwa pendidikan tidak berdampak terhadap perilaku Caring perawat. Hal ini bertolak belakang dengan beberapa penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara pendidikan dengan perilaku Caring perawat.
Orang yang bekerja lebih lama akan meningkatkan produktivitas; faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan perilaku Caring perawat (Anggoro et al., 2019). Hal ini berbeda dengan yang dikemukakan Aty et al (2020) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara status perkawinan dengan perilaku perawatan (Aty et al., 2020). Putra dkk (2021) menyatakan dalam penelitiannya bahwa gaji merupakan salah satu variabel kepuasan kerja yang mempengaruhi perilaku Caring perawat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik demografi berdampak terhadap perilaku Caring perawat (Karo et al., 2020). Semakin tinggi efisiensi Caring perawat maka semakin tinggi pula perilaku Caring perawat dalam merawat pasien (Lukmanulhakim et al., 2019). Berbagai literatur mendukung pernyataan bahwa kecerdasan emosional berdampak pada perilaku Caring perawat (Snowden et al., 2018).
Kemampuan untuk tetap tenang dan berempati, bahkan terhadap pasien yang mengalami masalah, akan mempengaruhi perilaku Caring seseorang (Nightingale et al., 2018). Mengelola emosi juga ditemukan menjadi bagian penting dari perilaku kepedulian (Nightingale et al., 2018). Penelitian menunjukkan bahwa perawat dengan tingkat pemahaman spiritual yang tinggi memberikan pelayanan spiritual kepada pasien yang dirawatnya. Kompetensi spiritual terbukti mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku Caring perawat (Soriano GP et al., 2019).
Penelitian mengenai faktor budaya yang dilakukan oleh Prihandhani dkk (2015) menunjukkan bahwa faktor budaya organisasi mempunyai pengaruh terhadap perilaku Caring perawat dan sistem penghargaan merupakan faktor yang paling berpengaruh. Kurangnya perilaku Caring yang dilakukan perawat kemungkinan disebabkan karena perawat mengalami stres berat atau kelelahan. Dengan kata lain stres kerja akan mempengaruhi kinerja perawat termasuk perilaku Caring (Tusnia et al., 2017).
Riza (2015) dalam penelitiannya menyatakan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan perilaku Caring perawat. Putri Insyira (2018) menyatakan bahwa stres kerja perawat mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku Caring di lingkungan rumah sakit. Hal ini dapat menjadi penyemangat bagi perawat untuk selalu menunjukkan perilaku peduli terhadap pasien (Sofiatun et al., 2022).
Pada penelitian yang dilakukan Putra dkk ditemukan bahwa kepuasan kerja berpengaruh terhadap perilaku Caring perawat.
Kerangka Teori