ISSN: 2548-1762 | E-ISSN: 2548-1754.
Open Access at: http://ojs.uho.ac.id/index.php/holrev/
Halu Oleo Law Review is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.
Hubungan Asas dan Norma Hukum Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan
Iswan Agustian1, Mutiara Suci Maharani 2
1. Faculty of Law Lampung University, Indonesia E-mail: [email protected]
2. Faculty of Law Lampung University. Indonesia E-mail: [email protected] ARTICLE INFO ABSTRACT
Keywords:
Principle NormLegislation
Legal principles and norms are two things that are interconnected.
Principles are a reference part of legal norms in forming legislation, however the two cannot be equated. This research aims to determine the extent of the relationship between principles and legal norms in forming statutory regulations. This paper uses a normative juridical research method, namely by placing law as a building system of norms. The principles in the formation of statutory regulations must reflect the form of good statutory regulations so as not to deviate from the ideals of rechtsidee law that have been mutually agreed upon.
INFO ARTIKEL ABSTRAK Kata kunci:
Asas Norma
Perundang-Undangan
Asas dan norma hukum merupakan dua hal yan saling berhubungan.
Asas menjadi acuan bagian norma hukum dalam membentuk suatu peraturan perundang-undangan, kendati demikian keduanya tidak dapat disamakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara asas dengan norma hukum dalam membentuk peraturan perundang-undangan. Tulisan ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif, yaitu dengan menempatkan hukum sebagai suatu bangunan sistem norma. Asas- asas dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan bentuk peraturan perundang-undangan yang baik agar agar tidak melenceng dari cita-cita hukum rechtsidee yang telah disepakati bersama.
1. Latar Belakang
Norma menjadi ukuran yang melandasi batasan seseorang berinteraksi dengan
sesamanya, norma sendiri berasal dalam bahasa Indonesia umumnya disebut kaidah.
Kehidupan masyarakat akan selalu berdampingan dengan norma yang ada, kita mengenal beberapa norma diantaranya norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma hukum.
Kita mengenal asas hukum sebagai landasan kaidah hukum yang fundamental, Paul Scholten berpendapat bahwa asas adalah pikiran-pikiran dasar, yang terdapat di dalam dan di belakang sistem hukum masing-masing yang dirumuskan dalam aturan-aturan perundang-undangan dengan putusan-putusan hakim.1
Asas hukum ditetapkan oleh lembaga yang berwenang sebagai norma hukum, terlihat pada Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan Pasal 5 dan Pasal 6. Asas hukum dan norma hukum acapkali dianggap sama, padahal keduanya berbeda dan tidak dapat digabungkan menjadi suatu norma hukum. Norma hukum sifatnya heteronom, dimana hukum tersebut datangnya dari luar diri seseorang yang merupakan paksaan dari luar sehingga norma tersebut dapat diikuti dengan sanksi. Norma hukum juga memiliki isi yang lebih konkret dan dapat diterapkan secara langsung. Berbeda dengan asas hukum yang kerjanya secara tidak langsung yaitu dengan menjalankan pengaruh pada interpretasi terhadap aturan hukum. Norma hukum atau dalam bentuk konkretnya adalah aturan-aturan hukum terbentuk dari pertimbangan asas-asas hukum yang ada. Menurut Maria Farida, ketika suatu asas pembentukan peraturan perundang- undangan dijadikan sebagai norma hukum, akan berakibat adanya sanksi apabila asas-asas tersebut tidak dilaksanakan2. Maka dari itu, asas hukum tidak dapat digunakan secara langsung sebagai rumusan Pasal-pasal yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan, melakinkan menjadi landasan bagi rumusan pasal- pasal tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas, timbul pertanyaan bagaimanakah suatu asas dapat berpengaruh pada norma dalam bentuk konkret yaitu aturan-aturan hukum dalam peraturan perundang-undangan, maka para penulis mengangkat judul “Hubungan Asas dan Norma Hukum Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan?”.
1 J.J.H. Bruggink, 1999, Refleksi Tentang Hukum (alih bahasa : B. Arief Sidharta), Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm. 119.
2 Maria Farida Indrati S, 2007, Ilmu Perundang-Undangan I, Kanisius, Yogyakarta, hlm 265.
2. Metode Penelitian
Para penulis menggunakan pendekatan penelitian yuridis normatif, yaitu dengan menempatkan hukum sebagai suatu bangunan sistem norma. Sistem norma sendiri mencangkup asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundang-undangan, dan doktrin. Penelitian yuridis normatif meneliti kaidah atau aturan hukum sebagai suatu bangunan sistem yang terkait dengan peristiwa hukum tertentu. Variabel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu buku-buku, literatur, jurnal, dan peraturan perundang-undangan. Pengumpulan data sekunder dilakukan menggunakan metode pendekatan literatur. Pengumpulan variable dilakukan dengan cara penelusuran, pengumpulan, dan studi dokumen secara konvensional seperti membaca, melihat, mendengarkan, maupun dengan teknologi informasi (media internet).
3. Pembahasan
1. Bagaimanakah Hubungan Asas dengan Norma Hukum Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan?
Pembentukan peraturan perundang-undangan bertujuan untuk membentuk suatu peraturan perundang-undangan yang baik. Pembentukan peraturan perundang- undangan yang baik dapat meliputi beberapa hal yaitu bagaimana kejelasan tujuan, kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat dan kesesuaian antara jenis, hierarki serta materi muatan yang dapat dilaksanakan dan kedayagunaan serta kehasilgunaan, kejelasan rumusan dan keterbukaan. Di samping itu materi muatan yang dimuat dalam peraturan perundang-undangan harus mencerminkan asas pengayoman, kemanusiaan dan kebangsaan serta kekeluargaan, kenusantaraan, bhinneka tunggal ika, keadilan serta kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, ketertiban dan kepastian hukum serta keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.
Asas-asas dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan bentuk peraturan perundang-undangan yang baik. Jika itu diterapkan ke dalam suatu peraturan perundang-undangan, maka akan terbentuk suatu peraturan perundang- undangan yang baik yang sesuai dengan asas-asas yang sudah tercantum di dalam undang-undang tanpa meninggalkan prinsip-prinsip keadilan. Asas merupakan dasar atau landasan dalam menentukan sikap dan perilaku. Asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan dasar pijak bagi pembentukan peraturan perundang- undangan dan penentu kebijakan dalam membentuk peraturan perundang-undangan.
Semua asas-asas harus terdapat dalam diri penentu kebijakan yang akan membentuk peraturan perundang-undangan. Di dalam pembentukan peraturan perundang- undangan tentunya membutuhkan asas atau dasar dalam membentuk suatu peraturan perundang-undangan.3
3 Ferry Irawan Febriansyah, “konsep pembentukan peraturan perundang undangan di Indonesia,” Jurnal Perspektif, vol.21, No.3 (September 2016): 222
Asas merupakan norma yang harus terwujud dalam peraturan perundang-undangan dan yang berlaku memaksa. Pentingnya asas-asas hukum dalam pembentukan peraturan perundang-ndangan menurut Paul Scholten sebagaimana disitir oleh A. Hamid S.
Attamimi, ialah untuk dapat melihat benang merah dari sistem hukum positif yang ditelusuri dan diteliti. Asas-asas hukum ini juga dapat dijadikan patokan bagi pembentuk peraturan perundang-undangan agar tidak melenceng dari cita hukum (rechtsidee) yang telah disepakati bersama. Namun, secara teoritikal asas-asas hukum bukanlah aturan hukum (rechtsregel), sebab asas-asas hukum tidak dapat diterapkan secara langsung terhadap suatu peristiwa konkret dengan menganggapnya sebagai bagian dari norma hukum. Meskipun demikian, asas-asas hukum tetap diperlukan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, sebab hukum tidak dapat dimengerti karena asas-asas hukum. 4
Asas hukum sebagai suatu sarana yang membuat hukum hidup, tumbuh dan berkembang. Dengan adanya asas hukum, menyebabkan hukum tidak sekedar kumpulan peraturan, karena asas itu mengandung nilai-nilai dan tuntutan-tuntutan etis. Sementara B. Arief Sidharta menyebut bahwa asas hukum lebih merupakan nilai, sebagai nilai maka fungsi asas hukum, adalah: (1) sebagai norma kritis untuk menilai kualitas dari aturan hukum yang seharusnya merupakan penjabaran nilai tersebut dan (2) sebagai sarana bantu untuk mengintepretasikan aturan yang bersangkutan yaitu untuk menetapkan ruang lingkup wilayah penerapan ketentuan undang-undang yang bersangkutan.5 Dalam praktik terdapat norma-norma hukum, yang tidak dapat ditelusuri bagaimana bunyinya asas yang mendasarinya. Salah satu contoh yang dapat dikemukakan adalah norma hukum positif dalam bidang lalu lintas, yang menyuruh pemakai jalan umum mempergunakan bagian kiri dari jalan itu. Untuk norma itu sulit dicarikan asasnya, tetapi jika menjadi asas maka norma hukum itu sendirilah yang berfungsi sebagai asas.6 Untuk menghindari pembentukan peraturan perundang-undangan yang memiliki kecenderungan memihak dan menguntungkan pihak/kelompok berkuasa, dan untuk menghindari pembentukan peraturan perundang-undangan yang represif dan mengancam kebebasan warga negara, serta untuk menjamin efektif berlakunya suatu undang-undang maka pembentuk undang-undang harus memerhatikan dan mempedomani prinsip-prinsip atau asas-asas tertentu dalam membentuk peraturan perundang-undangan.
Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini terdapat kecenderungan untuk meletakkan asas-asas hukum atau asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan tersebut di dalam pasal-pasal awal, atau dalam Bab Ketentuan Umum, seperti dirumuskan dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011
4 I Gde Pantja Astawa dan Suprin Na’a, 2012, Dinamika Hukum dan Ilmu Perundang-Undangan di Indonesia, Bandung, hlm 81-82.
5 Otong Rosadi, Hukum Kodrat, Pancasila Dan Asas Hukum Dalam Pembentukan Hukum di Indonesia, Dalam Jurnal Dinamika Hukum Vol.10, No 3 (2010) hlm: 285.
6 Putera Astomo, 2018, Ilmu Perundang-Undangan: Teori dan Praktik di Indonesia, Depok, Rajawali Pers, hlm. 88.
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Hal tersebut seperti dijelaskan pada latar belakang dimana dalam ketentuan Pasal 5 dan Pasal 6 asas hukum telah ditetapkan menjadi suatu rumusan norma hukum. Apabila hal tersebut dilakukan, maka hal itu tidak sesuai dengan pendapat Paul Scholten di atas yang menyatakan bahwa sebuah asas hukum (rechtbeginsel) bukanlah sebuah aturan hukum (rechtsregel).7 Untuk dikatakan sebagai aturan hukum, sebuah asas hukum adalah terlalu umum. Atau dengan perkataan lain bahwa peraturan perundang-undangan tersebut sudah menjadikan suatu asas hukum atau asas pembentukan peraturan perundang-undangan menjadi suatu norma hukum. Sebagai suatu norma hukum hal tersebut akan berakibat adanya suatu sanksi apabila asas-asas tersebut tidak dipenuhi atau tidak dilaksanakan. Oleh karena itu, dalam pembentukan peraturan perundangundangan tidak lagi menjadikan suatu asas hukum atau asas pembentukan peraturan perundang-undangan sebagai norma hukum dalam peraturan perundang-undangan yang akan dibentuk.
2. Konsep Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia Konsep pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan rencana dalam pembentukan hukum. Pada hakekatnya hukum adalah suatu penilaian akal-budi yang berakar dalam hati nurani manusia tentang keadilan yang berhubungkan dengan perilaku manusia dan kondisi kehidupan manusia. Pemikiran tentang keadilan memunculkan penilaian bahwa dalam situasi kemasyarakatan tertentu, orang pada umumnya berperilaku dengan cara tertentu, karena hal itu adil atau memenuhi rasa keadilan.8 Perwujudan nilai-nilai norma hukum dalam masyarakat mulai terbentuk melalui aturan perundang-undangan dan aturan perundang-undangan yang dibentuk harus memenuhi rasa keadilan. Menurut Sajipto Rahardjo, dalam proses pembuatan rancangan undang-undang harus memperhatikan peran dari asas hukum. Sistem hukum termasuk peraturan perundang-undangan yang dibangun tanpa asas hukum hanya akan berupa tumpukan undang-undang. Asas hukum memberikan arah yang dibutuhkan. Pada waktu-waktu yang akan datang, masalah dan bidang yang diatur pasti semakin bertambah. Maka pada waktu hukum atau undang-undang dikembangkan, asas hukum memberikan petunjuk dengan cara bagaimana dan ke arah mana sistem tersebut akan dikembangkan.9 Salah satu hal yang penting dalam sebuah pemerintahan, baik dalam tingkat nasional maupun daerah adalah bagaimana pembentukan produk hukumnya yang sangat diperlukan karena diperlukan untuk merespon kepentingan masyarakat.
Dalam membentuk hukum, diperlukan pedoman sehingga produk hukum yang diterbitkan nantinya akan kuat demi hukum dan dapat diimplementasikan di kemudian hari. Berawal dengan dibentuknya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang kemudian disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
7 Rokilah, Sulasno, Penerapan asas hukum dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, hal. 186 8 Bernard Arief Sidharta, Ilmu Hukum Indonesia, FH Unika Parahyangan, Bandung, 2010, h. 88.
9 Sajipto Rahardjo, Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2006, hlm. 140.
undangan dan diundangkan pada tanggal 12 Agustus 2011, maka setiap pembentukan produk hukum mempunyai dasar dan pedoman. Pembentukan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan tersebut merupakan pelaksanaan perintah Pasal 22 A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.10 Dasar pembentukan peraturan perundang-undangan muncul dari prinsip dan nilai yang diambil dari Pancasila sebagai Staatfundamentalnorm bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia harus mengedepankan supremasi hukum guna terwujudnya keadilan. Keadilan dalam kaitannya dengan pembentukan peraturan perundang- undangan tidak dapat dipisahkan karena tujuan dari hukum itu sendiri untuk memberikan keadilan. Dalam pembentukan suatu peraturan perundang-undangan yang baik harus memenuhi beberapa konsep. Konsep pembentukan peraturan perundang- undangan harus sesuai dengan konsep negara hukum Pancasila yaitu merealisasikan prinsip-prinsip keadilan berupa nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila ke dalam norma hukum, penjelasan tentang konsep tersebut mengharuskan nilai-nilai Pancasila yang mengandung kebenaran tentang keadilan harus direalisasikan ke dalam norma hukum yang menghasilkan kepastian, keadilan, dan manfaat. Kepastian hukum akan berdiri seimbang dengan keadilan karena kepastian hukum sudah mengadopsi nilai-nilai kebenaran tentang keadilan Pancasila. Oleh sebab itu, distribusi manfaat akan tercapai sesuai dengan cita hukum bangsa Indonesia.
Konsep pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik harus sesuai dengan asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh undang-undang. Pembentukan peraturan perundang-undangan sudah menjadi kewajiban dalam pembentukannya untuk menggunakan asas-asas peraturan perundang-undangan agar peraturan perundang-undangan yang dibentuk mempunyai kepastian yang memiliki keadilan dan manfaat bagi orang banyak. Asas-asas peraturan perundang-undangan merupakan landasan bagi terbentuknya peraturan perundang- undangan yang baik, jika suatu peraturan perundang-undangan dibentuk dengan mengindahkan asas-asas peraturan perundang-undangan tersebut, maka peraturan perundang-undangan tidak akan memberikan tujuan hukum yang baik, tidak memberikan keadilan dan manfaat bagi orang banyak. Pembentukan peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga yang kredibel yang dipilih secara demokrasi oleh rakyat Indonesia. Lembaga kredibel ini meliputi pemegang kekuasaan yang mempunyai kewenangan untuk membentuk peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan modal demokrasi, maka konsep pembentukan perundang-undangan dibentuk oleh pemegang kekuasaan yang sah, yang dipilih oleh rakyat, dan dengan mandat yang sah dari rakyat memiliki kewenangan untuk membentuk peraturan perundang-undangan, sehingga peraturan perundang-undangan yang dibentuk memiliki kekuatan hukum yang sah yang diakui oleh seluruh masyarakat dalam memberikan kepastian, keadilan, dan manfaat.
10 Rokilah, Sulasno, Op.Cit., hal. 226
4. Kesimpulan
Pembentukan peraturan perundang-undangan bertujuan untuk membentuk suatu peraturan perundang-undangan yang baik. Asas-asas dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan bentuk peraturan perundang-undangan yang baik. Asas merupakan norma yang harus terwujud dalam peraturan perundang- undangan dan yang berlaku memaksa. Asas-asas hukum ini juga dapat dijadikan patokan bagi pembentuk peraturan perundang-undangan agar tidak melenceng dari cita hukum rechtsidee yang telah disepakati bersama.
Asas hukum sebagai suatu sarana yang membuat hukum hidup, tumbuh dan berkembang. Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini terdapat kecenderungan untuk meletakkan asas-asas hukum atau asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan tersebut di dalam pasal-pasal awal, atau dalam Bab Ketentuan Umum, seperti dirumuskan dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Oleh karena itu, dalam pembentukan peraturan perundangundangan tidak lagi menjadikan suatu asas hukum atau asas pembentukan peraturan perundang-undangan sebagai norma hukum dalam peraturan perundang-undangan yang akan dibentuk. Konsep pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan rencana dalam pembentukan hukum. Dalam membentuk hukum, diperlukan pedoman sehingga produk hukum yang diterbitkan nantinya akan kuat demi hukum dan dapat diimplementasikan di kemudian hari. Dasar pembentukan peraturan perundang-undangan muncul dari prinsip dan nilai yang diambil dari Pancasila sebagai Staatfundamentalnorm bangsa Indonesia. Konsep pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik harus sesuai dengan asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh undang-undang.
Daftar Pustaka
Bruggink, J.J.H. Refleksi Tentang Hukum (alih bahasa : B. Arief Sidharta). Bandung: Citra Aditya Bakti: 1999.
Indrati, Maria Farida, Ilmu Perundang-Undangan I, Yogyakarta: Kanisius:2007.
Astawa,I Gde Pantja dan Suprin Na’a. Dinamika Hukum dan Ilmu Perundang-Undangan di Indonesia, Bandung: 2012.
Febriansyah, Ferry Irawan. “konsep pembentukan peraturan perundang undangan di Indonesia,” Jurnal Perspektif, vol.21 No.3 (September 2016): 222.
Rosadi, Otong. “Hukum Kodrat, Pancasila Dan Asas Hukum Dalam Pembentukan Hukum di Indonesia, “ Jurnal Dinamika Hukum Vol.10, No 3 (2010) hlm: 285.
Astomo, Putera. Ilmu Perundang-Undangan: Teori dan Praktik di Indonesia, Depok:
Rajawali Pers: 2018.
Rokilah, Sulasno,” Penerapan asas hukum dalam pembentukan peraturan perundang- undangan,” Jurnal Ajudikasi, Vol. 5 No.2 (2021) hal: 186.
Sidharta, Bernard Arief. Ilmu Hukum Indonesia. Bandung: FH Unika Parahyangan, 2010.
Rahardjo, Sajipto. Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas:
2006.
Peraturan Perundang-Undangan:
UndangUndang-Undang Nomor 12 Tahun 20011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomo 5234)