Dengan tekad, keyakinan, dan ketabahan saya, saya mencapai sebagian impian saya, dengan segala keterbatasan saya, bakat saya, pikiran saya. Terima kasih atas doa dan dukungannya, aku bisa meraih cita-citaku dan suatu saat nanti menjadi tanggung jawabku untuk menjaga orang tua dan saudara-saudaraku yang aku sayangi.
DAFTAR LAMPIRAN
HUBUNGAN KETEPATAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) DAN POLA ASUH DENGAN STATUS
MIRANDA FITRI ANISA
KATA PENGANTAR
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Status gizi dipengaruhi oleh : Ketepatan pemberian makanan tambahan, pola orang tua, pola pendidikan higienis terhadap perubahan status gizi balita. Survei dilakukan di Desa Pauh Timur yang berdampak pada salah satu wilayah kerja Puskesmas Pauh Pariaman dengan 13 balita dengan berat badan kurang. Hasil wawancara terhadap ibu dari 10 balita kurus yang mendapat kuesioner. 7 ibu mempunyai pengetahuan dan pola asuh yang kurang, kesesuaian pemberian makanan pendamping ASI (PMT) yang kurang.
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
- Tujuan umum
- Tujuan Khusus
Diketahui ada hubungan antara ketepatan pemberian makanan tambahan dengan status gizi balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2020. Diketahui ada hubungan pola asuh orang tua dan status gizi balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2020.
Manfaat Penelitian
- Bagi Peneliti
- Bagi Institusi Kesehatan
- Bagi Masyarakat
Diketahui hubungan pola asuh psikososial dengan status gizi balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2020.
Ruang Lingkup Penelitian
Status Gizi
- Defenisi Status Gizi
- Penilaian Status Gizi
- Penilaian status gizi secara langsung
- Penilaian status Gizi secara tidak langsung
- Penilaian Status Gizi secara Antropometri
- Jenis Parameter Status Gizi Anak Balita
- Umur
- Berat Badan
Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penilaian langsung dan tidak langsung (Supariasa dkk, 2001). Parameter antropometri menjadi dasar dalam menilai status gizi, indeks antropometri yang sering digunakan adalah berat badan menurut umur (WW/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut panjang badan (WW/TB).
Faktor –faktor yang Mempengaruhi Status Gizi
- Pengetahuan Ibu
- Perkerjaan Ibu
- Pola Asuh Ibu
- Pola Asuh Makan
- Pola Asuh Psikososial
- Pola Asuh Bersih
- Penyakit Infeksi
- Pemberian ASI Ekslusif
Pola asuh yang buruk akan mempengaruhi sikap dan perilaku anak, dan kurangnya perhatian terhadap anak akan menimbulkan perilaku menyimpang, misalnya anak menjadi ceroboh dan tidak terkendali. Peran orang tua sangat penting dalam tumbuh kembang anak, orang tua dituntut mempunyai pengetahuan yang cukup untuk mengasuh dan memenuhi kebutuhan anaknya dengan baik. Selain itu, parenting adalah proses pemenuhan kebutuhan anak, pengawasan terhadap perkembangan anak. tumbuh kembang. Pemberian makanan tambahan pada balita sangat baik untuk membantu ibu mengatasi kekurangan asupan gizi pada balita kurus, pemberian makanan tambahan yang tidak sesuai berarti status gizinya tidak membaik.
Status gizi balita harus terjamin cukup, dan ibu harus mengetahui cara memberikan makanan tambahan dan berapa banyak yang harus diberikan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Pola pengasuhan orang tua dalam memberikan makanan pada anak antara lain memberikan makanan sesuai umur, kepekaan ibu mengetahui waktu makan, upaya ibu dalam meningkatkan nafsu makan anak, menciptakan lingkungan makan yang baik, hangat dan nyaman (Arendodo, dkk 2011) . Sebaiknya juga tidak memberikan makanan satu kali sehari sampai anak sudah makan dan tidak mempermasalahkan kecukupan nutrisi dalam makanan tersebut. seluruh tubuh (Emiralda, 2011).
Prinsip pemberian makanan pada balita dimaksudkan untuk mencukupi zat gizi yang dibutuhkan bayi, jumlah zat gizi terutama energi dan protein yang harus dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan tubuh balita.Kebutuhan yang diperoleh dengan MP-ASI adalah 250 kalori dan 6 kalori. gram protein (Pangan dan Gizi Nasional Widyakarya (2012). Pola asuh bersih adalah tindakan/usaha orang tua dalam mengendalikan faktor makanan pada anak untuk meningkatkan kebersihan peralatan yang dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan pada anak (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2016).Infeksi akut akan menyebabkan berkurangnya nafsu makan dan toleransi terhadap makanan.Makanan yang terkontaminasi akan menyebabkan tumbuhnya bakteri pada makanan akibat kuman penyakit sehingga akan menimbulkan gangguan pada penyerapan zat gizi dalam tubuh (Witjanarka, 2006 ).
Hubungan Ketepatan Pemberian Makanan Tambahan, Pola Asuh Makan, Pola Asuh Psikososial, dan Pola Asuh Bersih
- Ketepatan Pemberian Makanan Tambahan dengan Status Gizi Anak Balita
- Hubungan Pola Asuh Makan dengan Status Gizi Anak Balita
- Hubungan pola asuh pisikososial dengan status gizi balita
- Hubungan Pola Asuh Bersih Dengan Status Gizi Balita
Pemberian makanan tambahan pada balita sangat baik untuk membantu ibu mengatasi kekurangan asupan gizi pada balita kurus. Pemberian makanan tambahan yang tidak tepat berarti status gizinya tidak meningkat, karena jarangnya ibu memberikan makanan tambahan pada balita sehingga tidak mengikuti aturan yang diberikan pada balita. Status gizi balita harus terpenuhi dengan baik: ibu harus mengetahui cara memberikan makanan tambahan dan berapa banyak yang harus diberikan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Food parenting sebagai praktik pengasuhan yang diterapkan ibu kepada anak berkaitan dengan praktik dan situasi makan.
Selain pola asuh pola makan, status kesehatan balita juga dipengaruhi oleh pola asuh kesehatan ibu, yang secara tidak langsung akan mempengaruhi status gizi balita.Dalam tumbuh kembang anak, peran ibu sangat dominan. dalam pengasuhan dan pendidikan anak agar tumbuh dan berkembang menjadi anak yang berkualitas.Pola pemberian makanan orang tua pada balita berkaitan dengan kebiasaan makan yang sudah ditanamkan sejak awal perkembangan manusia (Adriani Merryana, dkk. 2013). Penelitian Lubis (2008) menunjukkan bahwa terdapat hubungan pola asuh orang tua dengan status gizi balita berdasarkan waktu yang tersedia pada ibu. Lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam proses tumbuh kembang anak. Peran orang tua dalam membantu proses tumbuh kembang anak adalah melalui kebersihan diri dan kebersihan lingkungan yang sehat dan bersih. Kondisinya bersih, rapi dan teratur.
Kondisi lingkungan harus benar-benar diperhatikan agar tidak membahayakan kesehatan anak. Hal yang sangat perlu diperhatikan dalam rumah dan lingkungan sekitar adalah air bersih, tempat makan, peralatan dapur dan kebersihan lingkungan rumah Bunda yang buruk. Kebersihan akan mengakibatkan anak terkena penyakit diare dan cacingan, oleh karena itu penting untuk menjaga kebersihan lingkungan untuk tumbuh kembang anak agar anak dapat bereksplorasi dengan lingkungan sekitar (Widaninggar, 2003). Sugianti Elya Penyediaan makanan. Pemilihan lokasi penelitian selain balita bertujuan untuk meningkatkan status mempertimbangkan gizi balita di daerah ini.
Kerangka Teori
Kerangka Konsep
Status Gizi Skala Kondisi Fisik 1. Gizi buruk ordinal pada anak balita yang <-2 SD.
Hipotesis
Desain Penelitian
Tempat dan Waktu
Populasi dan Sampel
- Populasi
- Sampel
- Cara Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak dari populasi.
Intrument Penelitian
Cara Pengukuran Variabel
Teknis Dan Cara Pengumpulan Data
- Data Primer
- Data Sekunder
Pengolahan Data
Analisa Data
- Univariat
- Bivariat
Gambaran Umum lokasi Penelitian
- Kondisi Geografis
- Demografi
Karakteristik Responden
- Umur Responden (Ibu)
- Perkerjaan Responden (Ibu)
- Pendidikan Responden (Ibu)
- Umur Balita
Dari tabel diatas terlihat sebagian besar responden mempunyai pendidikan menengah yaitu sebanyak 16 orang atau 42,1%. Dari tabel 2.2 di atas terlihat balita usia 25-36 bulan terdapat 84,2% atau sebanyak 32 balita.
Analisa Univariat
- Gambaran Ketepatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
- Gambaran Pola Asuh Bersih
- Gambaran Pola Asuh Makan
- Gambaran Pola Asuh Psikososial
- Gambaran Status Gizi
Distribusi frekuensi responden berdasarkan pola pemberian makan pada bayi dengan berat badan kurang di wilayah kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman. Distribusi frekuensi responden berdasarkan pola asuh psikososial balita ringkih di wilayah kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman tahun 2020. Puskesmas Pauh Kota Pariaman tahun 2020.
Analisa Bivariat
- Hubungan Ketepatan pemberian makanan tamabahan dengan Status Gizi Balita Kurus di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman
- Hubungan Pola Asuh bersih dengan Status Gizi Balita Kurus di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2020 Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2020
- Hubungan Pola Asuh Makan dengan Status Gizi Balita Kurus di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2020 Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2020
- Hubungan Pola Asuh Psikososial dengan Status Gizi Balita Kurus di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2020 Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2020
Distribusi frekuensi pola asuh bersih dengan status gizi balita kurus di wilayah kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman. Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 4.11 di atas terlihat bahwa prevalensi status gizi balita gizi baik dengan pola pengasuhan baik bersih adalah (60,0%). Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh p-value = 0,001 (p<0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh higienis dengan status gizi balita underweight.
Distribusi frekuensi pola makan pada orang tua dengan status gizi balita kurus di wilayah kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman. Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 4.12 di atas dapat diketahui prevalensi status gizi balita gizi baik dengan pola pengasuhan baik adalah (61,9%). Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh p-value = 0,005 (p<0,05) artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan status gizi balita underweight.
Distribusi frekuensi pola asuh psikososial dengan status gizi anak kurus di wilayah kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman. Berdasarkan hasil analisis bivariat pada Tabel 4.13 di atas terlihat bahwa prevalensi status gizi bayi gizi baik dengan pola pengasuhan psikososial baik adalah (65,0%). Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,002 (p < 0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh psikososial dengan status gizi bayi underweight.
PEMBAHASAN
- Keterbatasan Penelitian
- Analisa Univariat
- Gambaran status gizi (BB/U) di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman
- Gambaran Tingkat Ketepatan Pemberian Makanan Tambahan(PMT)
- Gambaran Pola Asuh ibu Balita Kurus di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2020
- Analisa Bivariat
- Hubungan Ketepatan Pemberian Makanan Tambahan dengan Status Gizi Balita (BB/U)
- Hubungan Pola Asuh Hygine dengan Status Gizi Balita Kurus di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2020
- Kesimpulan
Tabel 4.3.5 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu mengenai status gizi dengan status gizi balita. Hasil survei menunjukkan lebih dari separuh responden yang status gizi balitanya masuk dalam kategori status gizi baik dengan pola asuh psikososial baik sebanyak 13 orang (65,5%). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa status gizi balita pada kategori gizi baik lebih tinggi pada ketepatan pemberian makanan tambahan yang tepat (56,5%) dibandingkan dengan ketepatan pemberian makanan yang tidak tepat sebanyak (13,3). %).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara ketepatan pemberian makanan tambahan (PMT) dengan status gizi balita gizi kurang. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh higienis dengan status gizi balita gizi kurang. Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa status gizi balita pada kategori gizi baik lebih tinggi dengan pola makan yang baik (61,9%) dibandingkan dengan pola asuh kurang higienis (11,8%).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan status gizi balita gizi kurang. Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa status gizi anak kecil pada kategori gizi baik lebih tinggi dengan pola asuh psikososial baik (65,0%) dibandingkan dengan pola asuh kurang higienis (11,1%). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh psikososial dengan status gizi balita gizi kurang.
DAFTAR PUSTAKA
Merryana Adriani1, Vita Kartika2. 2011. Pola makan orang tua pada anak kecil dengan status gizi kurang di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Kalimantan Tengah, 2011. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. Mustapa Yusna. Notoamodjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan Jakarta: Reneka Cipta Noviyana, 2016. Pola pengasuhan orang tua kaitannya dengan status gizi anak usia dini di desa.
Roesli U. 2008. Inisiasi Menyusui Dini Ditambah ASI Eksklusif Jakarta: Pustaka Bunda Roesli U. 2008. Inisiasi Menyusu Dini Ditambah ASI Eksklusif Jakarta: Pustaka Bunda Sediaoetama, Achmad Djaeni. 2010. Ilmu Gizi Bagi Pelajar dan Profesi. Suhendri, Ucu, 2009. Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi anak dibawah 5 tahun (balita) di Puskesmas Sepatan Kabupaten Tangerang Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Jakarta, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Suwije, E2011. Hubungan pola asuh orang tua dengan status gizi balita di Kabupaten Blora. www.google.com. (diakses 14 Desember 2012).
Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita di Kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur Jurnal Gizi Klinik Indonesia;1(3):92-4. Saya yang bertanda di bawah ini, mahasiswi Program Studi S1 Gizi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pionir Padang. Akan melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Ketepatan Pemberian Makanan Pendamping ASI (PMT) dan Pola Asuhan Orang Tua dengan Status Gizi Balita Kurus di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Pariaman Tahun 2020”.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERINTIS PADANG LEMBAR KONSULTASI/BIMBINGAN SKRIPSI
KETEPATAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN
Apakah Anda memberikan anak Anda menu seimbang seperti (nasi, lauk pauk, sayur, buah, dan susu) setiap hari? Apakah Anda memberikan anak Anda makanan yang mengandung protein (ikan, ayam, telur, tahu, susu) setiap hari? 6 Apakah anak anda menghabiskan semua makanan di piring/mangkuk setiap kali ia makan? Waktu makan.