• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Kepuasan Pasien Pasca Operasi Katarak

N/A
N/A
100 FARIHA

Academic year: 2024

Membagikan " Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Kepuasan Pasien Pasca Operasi Katarak"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN KEPUASAN PASIEN PASCA OPERASI

KATARAK

Proposal Skripsi

Disusun untuk memenuhi Sebagian persyaratan Pendidikan Tahap Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang

Disususn Oleh:

MUHAMMAD IBRAHIM AZIZ H2A018085

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2024

(2)

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN KEPUASAN PASIEN PASCA OPERASI

KATARAK

Proposal Skripsi

Disusun untuk memenuhi Sebagian persyaratan Pendidikan Tahap Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang

Disususn Oleh:

MUHAMMAD IBRAHIM AZIZ H2A018085

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2024

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN

Telah disetujui oleh dosen pembimbing, proposal skripsi dari :

Nama : Muhammad Ibrahim Aziz

NIM : H2A018085

Fakultas : Kedokteran Umum

Universitas : Universitas Muhammadiyah Semarang Tingkat : Pendidikan Tahap Akademik

Judul : HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN

KEPUASAN PASIEN PASCA OPERASI KATARAK Pembimbing : 1. dr. Wahju Ratna M, Sp.M

2. dr. Andra Novitasari, M.Pd

Diajukan untuk memenuhi Sebagian persyaratan Pendidikan Tahap Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang

Semarang, Maret 2024

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

dr. Wahju Ratna M, Sp.M dr. Andra Novitasari, M.Pd

NIK. 28.6.1026.135 NIK. 28.6.1026.363

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN KEPUASAN PASIEN PASCA

OPERASI KATARAK

Disusun Oleh:

Muhammad Ibrahim Aziz H2A018085

Telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Proposal Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang pada tanggal Maret 2024 dan telah

diperbaiki sesuai dengan saran-saran yang diberikan.

Semarang, 2024 Tim Penguji

dr. Swasty, Sp.M (.………. )

dr. Wahju Ratna M, Sp.M (………)

dr. Andra Novitasari, M.Pd (………)

Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan Pendidikan Tahap Akademik

Semarang, Maret 2024 dr. Yanuarita Tursinawati M.Si.Med

NIK. 28.6.1046.280

Ketua Tahap Pendidikan Akademik

HALAMAN PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan dibawah ini:

Nama : Muhammad Ibrahim Aziz

NIM : H2A018085

(5)

Menyatakan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul “Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Kepuasan Pasien Pasca Operasi Katarak ” benar- benar karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam skripsi tersebut telah diberi tanda sitasi dan dituliskan dalam daftar Pustaka. Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang saya peroleh dari skripsi tersebut

Semarang, Maret 2024 Yang membuat pernyataan Muhammad Ibrahim Aziz

(6)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN...ii

HALAMAN PENGESAHAN...iii

HALAMAN PERNYATAAN...iv

DAFTAR ISI...v

DAFTAR TABEL...vii

DAFTAR GAMBAR...viii

DAFTAR SINGKATAN...ix

DAFTAR LAMPIRAN...x

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...3

1.3 Tujuan Penelitian...3

1.3.1 Tujuan Umum...3

1.3.2 Tujuan Khusus...3

1.4 Manfaat Penelitian...4

1.3.3 Manfaat Teoritis...4

1.3.4 Manfaat Praktis...4

1.5 Tabel keaslian...4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...7

2.1 Tinjauan Pustaka...7

2.1.1 Katarak...7

2.1.1.1 Definisi...7

2.1.1.2 Klasifikasi...7

2.1.1.3 Patofisiologi...10

2.1.1.4 Etiologi dan Faktor Risiko...11

2.1.1.5 Keluhan dan Gejala...12

2.1.1.6 Komplikasi...12

2.1.1.7 Tatalaksana...13

2.1.2 Kepuasan Pasien...14

2.1.2.1 Definisi Pasien...14

2.1.2.2 Definisi Kepuasan Pasien...14

(7)

2.1.2.3 Faktor-Faktor Kepuasan Pasien...15

2.1.2.4 Indikator Kepuasan Pasien...16

2.1.3 Komunikasi Terapeutik...18

2.1.3.1 Definisi Komunikasi Terapeutik...18

2.1.3.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik...18

2.1.3.3 Teknik Komunikasi Terapeutik...19

2.2 Kerangka Teori...21

2.3 Kerangka Konsep...22

2.4 Hipotesis Penelitian...22

BAB III METODE PENELITIAN...23

3.1 Ruang Lingkup Penelitian...23

3.1.1 Ruang Lingkup Keilmuan...23

3.1.2 Ruang Lingkup Waktu dan Tempat...23

3.2 Jenis Penelitian...23

3.3 Populasi dan Sampel...23

3.3.1 Populasi Penelitian...23

3.3.2 Sampel Penelitian...23

3.3.3 Teknik Sampling...24

3.3.4 Estimasi Besar Sampel...24

3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional...24

3.4.1 Variabel Penelitian...24

3.4.2 Definisi Operasional...24

3.5 Teknik Pengumpulan Data...26

3.6 Alur Penelitian...27

3.7 Pengolahan dan Analisis Data...28

3.7.1 Pengolahan Data...28

3.7.2 Analisis Data...28

3.8 Jadwal Penelitian...29

3.9 Etika Penelitian...29

DAFTAR PUSTAKA...30

(8)

DAFTAR TAB

Tabel 1. 1 Keaslian Penelitian...4Y Tabel 2. 1 Perbedaan Stadium Katarak Senilis 1

Tabel 3. 1 Definisi Operasional...25 Tabel 3. 2 Coding...28 Tabel 3. 3 Jadwal penelitian...29

(9)

DAFTAR GAMBA

Gambar 2. 1 Kerangka Teori...21 Gambar 2. 2 Kerangka Konsep...22Y Gambar 3. 1 Alur Penelitian...27

(10)

DAFTAR SINGKATAN

RAAB : Rapid Assessment of Avoidable Blindes WHO : World Health Organization

Kemenkes : Kementrian Kesehatan

RI : Republik Indonesia

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Informed Consent...33 LAMPIRAN 2 Kuesioner Komunikasi Terapeutik...34 LAMPIRAN 3 Kuesioner Kepuasan Pasien...37

(12)

3.1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Mata adalah salah satu indra yang penting bagi manusia. Karena melalui mata, manusia menyerap berbagai informasi visual yang nantinya digunakan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Namun gangguan pada indera ini banyak terjadi baik dengan gejala ringan maupun dengan gejala berat bahkan hingga menyebabkan kebutaan.(1)

Secara anatomis mata memiliki struktur seperti lensa mata. Lensa mata ini merupakan struktur globular transparan yang terletak dibelakang iris didepan badan kaca. Bagian depan ditutupi kapsul anterior dan belakang kapsul posterior. Dibagian dalam kapsul terdapat korteks dan nucleus. Posisi lensa dipengaruhi oleh zonula zinnii yang melekat pada prosesus siliaris. Fungsi dari lensa yaitu refraksi dan akomodasi. Fungsi refraksi adalah bagian optik bola mata untuk memfokuskan sinar ke bintik kuning. Fungsi akomodasi adalah dengan kontraksi otot-otot siliaris, ketegangan zonula zinnii berkurang sehingga lensa lebih cembung untuk melihat objek dekat. (2,3)

Katarak merupakan suatu kondisi dimana lensa mengalami kekeruhan yang berakibat terhalangnya cahaya dari luar untuk masuk kedalam bola mata. Katarak juga menjadi peyebab yang paling sering menimbulkan kebutaan di seluruh dunia yang dapat diatasi dengan operasi. Timbulnya kejadian katarak diperikirakan akibat proses multifaktor, yang berasal dari faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intristik seperti jenis kelamin dan umur, sedangkan faktor ektrinsik seperti diabetes mellitus (DM), kekurangan nutrisi, penggunaan obat, rokok, alkohol, sinar matahari dan ruda paksa pada bola mata, terjadi secara akumulatif pada common biochemical molecular pathway sehingga menggangu kejernihan lensa.

(13)

Namun, dari banyak kejadian katarak, sebagian besar timbul pada usia tua sebagai akibat dari paparan kumulatif terhadap pengaruh lingkungan dan faktor lainnya. World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah orang yang mengidap gangguan penglihatan di seluruh dunia pada tahun 2010 adalah 285 juta orang dan 39 juta orang diantaranya menderita kebutaan. Dan katarak menjadi penyebab gangguan penglihatan terbanyak di seluruh dunia kedua (33%) setelah gangguan refraksi yang tidak terkoreksi (42%).(3–6)

Di Indonesia, khususnya pada lansia, katarak masih menjadi masalah kesehatan mata. Hal ini dikarenakan lansia adalah salah satu proses daur hidup manusia yang tidak dapat dihindarkan, dimana tubuh dan jaringan dalam tubuh mengalami penurunan fungsinya. Berdasarkan hasil survei kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindes (RAAB) tahun 2014- 2016 yang dilakukan oleh Persatuan dokter spesialis mata (Perdami) dan Badan Litbangkes Kementrian Kesehatan di 15 provinsi ( Sumatera Barat, Sumatera utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Sulawes Selatan, Maluku, dan Papua Barat ) diketahui angka kebutaan mencapai 3% dan katarak merupakan penyebab kebutaan tertinggi (81%) (1)

Kepuasan menurut kamus Bahasa Indonesia adalah puas, merasa senang, dari hasil suatu perihal, tindakan atau pelayanan. Dari penjelasan ini dapat didefinisikan bahwa kepuasan adalah perasaan senang atau puas yang didapatkan seseorang dari suatu tindakan atau sesuatu yang berhasil dicapai dengan apa yang diharapkannya. Sementara itu penilaian antara kepuasan dan ketidakpuasan adalah suatu hubungan interaksi antara harapan yang ingin dicapai dan hasil yang sudah didapatkan setelah memakai jasa atau pelayanan yang telah diberikan. (7)

Tingkat kepuasan pasien adalah perasaan senang atau puas seseorang yang muncul oleh suatu pelayanan atau tindakan yang diberikan kepada pasien dan hasilnya dapat dilihat dari hasil yang telah diterima oleh pasien.

(14)

Hal ini juga dapat dipengaruhi beberapa faktor antara lain tangibles (bukti fisiki), reliability (kompeten/keandalan), responsiveness (ketanggapan komunikasi), emphaty (empati) dan assurance (jaminan).(8,9)

Komunikasi terapuetik komunikasi yang mempunyai tujuan spesifik yaitu mencapai tujuan untuk kesembuhan. Komunikasi terapeutik dilakukan berdasarkan rencana pengobatan yang dibuat. Komunikasi terapeutik dilakukan oleh orang-orang yang spesifik, yaitu praktisi profesional ( dokter, perawat, bidan) dengan klien / pasien yang memerlukan bantuan,(10)

Berdasarkan hasil penelitian Tingkat Kepuasan Pasien Setelah Operasi Katarak di Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin, didapatkan hasil tingkat kepuasan pasien yang telah operasi katarak yang dilakukan terhadap 46 responden di Poliklinik Mata RSUZA Banda Aceh didapatkan pasien yang merasa sangat puas mencapai frekuensi 21 subjek dengan nilai presentase 45,7%, pasien yang merasa puas dengan frekuensi 20 subjek dengan nilai presentase 43,3%, pasien tidak puas dengan frekuensi 5 subjek dengan nilai presentase 10,9%.(11)

Oleh karena masih sedikitnya data tentang hubungan komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien pasca operasi katarak, maka kali ini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian kepuasan pasien pasca operasi katarak.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Kepuasan Pasien Pasca Operasi Katarak?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Menganalisis Hubungan Komunikasi Terapeutik oleh dokter dengan Kepuasan Pasien Pasca Operasi Katarak

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mendeskripsikan kepuasan pasien pasca operasi katarak b. Mendeskripsikan komunikasi terapeutik

(15)

c. Mengetahui tingkat kemauan pasien akan operasi katarak 1.4 Manfaat Penelitian

1.3.3 Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini, diharapkan dapat memberikan tambahan informasi mengenai hubungan komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien pasca operasi katarak.

1.3.4 Manfaat Praktis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi wawasan dan informasi bagi masyarakat terkait hubungan komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien pasca operasi katarak.

1.5 Tabel keaslian

Tabel 1. 1 Keaslian Penelitian

Nama peneliti, Tahun

Judul penelitian

Metode Hasil penelitian Perbedaan

Desky Katijah Maulida, Basri Saiful, Imran (2017)(11)

Tingkat Kepuasan Pasien Setelah Operasi Katarak di Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin

penelitian deskritif analitik dengan desain cross sectional untuk melihat tingakat kepuasan pasien yang telah melakukan operasi katarak

Dari hasil penelitian yang dilakukan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa mayoritas pasien yang merasa puas lebih tinggi dibandingan pasien tidak merasa puas setelah menjalani operasi katarak di RSUZA Banda Aceh.

Tahun dan tempat pengambilan sampel,

Wasfi Ehab I,

Pai P, Abd- Elsayed, Alaa A (2008)(12)

Patient satisfaction with cataract surgery

melakukan studi retrospektif dengan 150 responden di Barrow general hospital, uk dengan survey sampel post kuesioner dalam jangka waktu 4 bulan.

Kepuasan pasien adalah hasil kesehatan yang penting memahami baik domain kepuasan serta kepentingan relatif mereka untuk pasien

diperlukan untuk

meningkatkan kualitas perawatan pasien secara keseluruhan. Bertemu dengan dokter, menyajikan

Tahun dan tempat pengambilan sampel,

(16)

semua informasi yang relevan dan memberi informasi tercetak adalah faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kepuasan pasien terhadap operasi katarak

Shakil Sidra, Kazi Umer, Qazi Asif M, Memon Muhammad Saleh, Memon Fateh, Khan Hina, Tariq Anas (2019)(13)

Patient satisfaction after cataract surgery using visual functioning questionnaire

Setelah persetujuan etis, dilakukan studi cross-sectional

menggunakan teknik non-probability

convenience sampling.

Pasien katarak pasca operasi antara 18-75 tahun dari kedua jenis kelamin dimasukkan dan pasien yang enggan untuk berpartisipasi,

<18 tahun atau di atas 75 dikeluarkan. SPSS versi 20 digunakan untuk analisis data.

Penilaian kuesioner NEI VFQ-25 telah dilakukan. Uji chi- square diterapkan antara kelompok pasien dengan atau tanpa kacamata menggunakan ketajaman visual jauh dan dekat menjaga nilai p ≤0,05 sebagai signifikan

Usia rata-rata dari 100 pasien adalah 58,56±9,63 tahun, 78 pasien adalah ibu rumah tangga. Peningkatan yang signifikan dalam ketajaman visual dilaporkan dengan penglihatan jauh atau dekat dengan atau tanpa kacamata setelah operasi katarak (nilai p <0,01).

Kesulitan pasien dalam khawatir dengan penglihatan mata, membaca koran, membaca barang dengan baik dari dekat, membaca rambu-rambu jalan, memiliki masalah dalam mengunjungi orang lain, pergi ke bioskop / pertunjukan, merasa kurang berprestasi, memiliki daya tahan yang terbatas dan membutuhkan bantuan orang lain untuk memesan untuk melakukan tugas visual dikaitkan secara

independen dengan

penurunan ketajaman visual dan gangguan penglihatan.

Tahun dan tempat pengambilan sampel,

(17)

Dari ketiga artikel diatas, penelitian yang akan peneliti ambil memiliki beberapa perbedaan pada periode tahun penelitian, metode, besar sampel, instrumen dan lokasi penelitian. Pada penelitian ini untuk variabel bebasnya adalah komunikasi terapeutik dan untuk variabel terikatnya adalah kepuasan pasien. Pada penelitian ini akan dilakukan menggunakan deskriptif korelasi dan cross sectional terhadap Hubungan Komunikasi Terapeutik Dokter dengan Kepuasan Pasien Pasca Operasi Katarak di wilayah kerja Rumah Sakit Roemani dan untuk instrument disini peneliti menggunakan kuesioner baku yang telah digunakan pada penelitian sebelumnya.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Katarak

2.1.1.1 Definisi

Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies, Inggris Cataract, dan latin cataracta yang berarti air terjun.

Katarak merupakan suatu kejadian dimana lensa pada mata mengalami kekeruhan. Kekeruhan yang terjadi pada lensa mata ini dapat diakibatkan karena beberapa faktor seperti faktor usia, kelainan kongenital, gangguan tumbuh kembang, trauma pada mata, penyakit metabolik, komplikasi dari penyakit mata menahun, dan paparan sinar radiasi.(4,5)

Karena kekeruhan pada lensa inilah yang nantinya pada proses cahaya masuk ke mata terganggu dan penglihatan menjadi buram atau tampak berawan. Secara klinis kekeruhan pada lensa ini dapat menyebabkan penurunan tajam penglihatan yeng berat bahkan sampai kebutaan.(4,5) 2.1.1.2 Klasifikasi

Berdasarkan usia katarak dapat diklasifikasikan dalam:

1) Katarak Kongenital

Katarak yang sudah terlihat pada usia dibawah 1 tahun. Sepertiga kasus katarak kongenital adalah diturunkan, sepertiga akibat penyakit sistemik, dan sepertiga terakhir idiopatik.(2,4,5)

(19)

Katarak ini merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti akibat penanganan yang kurang tepat.

(4,5)

2) Katarak Juvenil

Katarak yang lembek dan terdapat pada orang muda yang awal terbentuknya direntang usia dibawah 9 tahun dan diatas 1 tahun yang biasanya merupakan lanjutan katarak kongenital.(4,5)

3) Katarak Senilis

Semua kekeruhan pada lensa yang terjadi pada usia lanjut, yaitu setelak 50 tahun.untuk penyebabnya adalah idiopatik.(4,5)

Katrarak senilis dibagi menjadi beberapa kategori:

A. Katarak senilis berdasarkan lokasinya dibedakan menjadi:

a) Katarak Nuklearis

Ditandai dengan kekeruhan pada bagian sentral serta perubahan warna lensa menjadi kuning atau cokelat secara progresif yang secara bertahap akan mengakibatkan turunnya tajam pengihatan. Derajat kekeruhan lensa dapat dinilai menggunakan slitlamp. Katarak ini sebagian besar terjadi bilateral namun dapat juga asimetris.

Ke khasan katarak ini lebih menggangu penglihatan jarak jauh dibanding penglihatan jarak dekat.(4,5,14)

b) Katarak Kortikal

Katarak ini berhubungan dengan proses oksidasi dan presipitasi protein pada serat pada lensa. Katarak ini biasanya bilateral, asimetris, dan memunculkan keluhan silau jika melihat

(20)

kearah sumber cahaya.tahapan penurunan penglihatan pada katarak ini bervariasi dari lambat hingga cepat.(4,5,14)

c) Katarak Subkapsuler

Katarak ini terjadi di subkapsuler anterior dan posterior. Pada pemeriksaan slitlamp dapat ditemukan kekeruhan seperti plak di korteks subkapsuler posterior. Keluhan katarak ini antara lain silau, penglihatan buruk pada tempat terang.

Kekhasan katarak ini lebih menggangu penglihatan jarak dekat dibanding penglihatan jarak jauh.(4,5,14)

B. Secara klinis katarak senilis dikategorikan menjadi 4 stadium:(4,5,14,15)

a) Insipient

Kekeruhan mulai dari tepi ekuator yang berbetuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior serta tampak vakuol di dalam korteks.

b) Imatur

Sebagian lensa keruh dan pada katarak ini akan ada bertambahnya volume lensa akibat peningkatan tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif.

c) Matur

Kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa, kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca menyeluruh.

d) Hipermatur

Katarak yang megalami proses degenerasi lanjut yang dapat menjadi keras atau lembek dan mencair.

(21)

Tabel 2. 1 Perbedaan Stadium Katarak Senilis

Insipient Imatur Matur Hipermatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif

Cairan lensa Normal Bertambah (air masuk)

Normal Berkurang (air+masa lensa

keluar)

Iris Normal Terdorong Normal Tremulans

Bilik mata depan Normal Dangkal Normal Dalam

Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka

Shadow test Negative Positif Negatif Pseudopos

penyulit - Glaukoma Uveitis+glaukoma

2.1.1.3 Patofisiologi

Lensa yang normal adalah struktur mata yang bersifat jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju dan mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior.

Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Disekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna, nampak seperti kristal salju pada jendela.(2–5,16)

Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah diluar lensa, misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalamui distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya

(22)

cahaya ke retina. Salah satu teori tentang katarak menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar.

Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.(2–

5,16)

Katarak biasanya terjadi bilateral, namun memiliki kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemik, seperti diabetes. Namun kebanyakan merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik ketika seseorang memasuki dekade ketujuh. Katarak dapat bersifat kongenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet B, obat-obatan, alkohol, merokok, diabetes, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu lama.(2,5,16–18)

2.1.1.4 Etiologi dan Faktor Risiko

Penyebab terjadinya katarak bermacam-macam.

Umumnya adalah usia lanjut (katarak senil), tetapi dapat terjadi secara kongenital akibat infeksi virus di masa pertumbuhan janin, genetik, dan gangguan perkembangan.

Dapat juga terjadi karena traumatik, terapi kortikosteroid metabolik, dan kelainan sistemik atau metabolik, seperti diabetes mellitus, galaktosemia, dan distrofi miotonik.

(23)

Rokok dan konsumsi alkohol meningkatkan resiko katarak.

(2,17–19)

2.1.1.5 Keluhan dan Gejala

Katarak dapat terjadi disalah satu atau kedua mata. Itu tidak bisamenyebar dari satu mata ke mata yang lain. Gejala umum yang sering dikeluhkan, yaitu:(4,5,19)

1) Penglihatan Kabur

Penglihatan penderita katarak saat melihat sesuatu tampak seperti terhalang sesuatu atau tampak berawan 2) Warna Tampak Pudar

Penglihatan penderita katarak saat melihat sesuatu tampak berwarna kuning atau cokelat yang umumnya pada penglihatan normal tampak memiliki aneka warna 3) Silau (Peningkatan Sensitifitas Terhadap Cahaya)

Penderita katarak umumnya mengeluhkan silau pada cahaya lampu ruangan biasa, dimana pada orang normal cahaya tidak membuat silau. Hal ini terjadi karena peningkatan sensitifitas mata penderita katarak terhadap cahaya

4) Melihat halo disekitar sinar,

5) Tidak bisa melihat dengan baik dimalam hari, 6) Penglihatan atau Visi Ganda.

2.1.1.6 Komplikasi

Bila katarak dibiarkan maka akan terjadi komplikasi berupa glaukoma dan uveitis. Glaukoma adalah peningkatan abnormal tekanan intraokuler yang menyebabkan atrofi saraf optik dan kebutaan bila tidak teratasi. Uveitis adalah peradangan pada uvea atau lapisan tengah mata. Kondisi ini ditandai dengan kemerahan pada satu atau kedua mata, disertai nyeri dan penglihatan kabur.(4,5,14,18,19)

(24)

2.1.1.7 Tatalaksana

Tatalaksana definitif untuk katarak saat ini adalah tindakan bedah. Tujuan tindakan bedah katarak adalah untuk mengoptimalkan fungsi penglihatan. Keputusan melakukan tindakan bedah tidak spesifik tergantung dari derajat tajam penglihatan, namun lebih pada berapa besar penurunan tersebut mengganggu aktivitas pasien. Beberapa jenis tindakan bedah katarak antara lain:(14)

A. Ekstraksi Katarak Intrakapsuler (EKIK)

EKIK adalah jenis operasi katarak dengan membuang lensa dan kapsul secara keseluruhann dan metode ini menggunakan alat sederhana dan hamper dapat dikerjakan pada berbagai kondisi.

B. Ekstraksi Katarak Ekstrakapsuler (EKEK) a) Konvensional

Jenis operasi katarak dengan membuang nukleus dan korteks lensa melalui lubang di kapsul anterior. EKEK meninggalkan kantong kapsul (capsular bag) sebagai tempat untuk menanamkan lensa intraokuler (LIO).

b) Small Incision Cataract Surgery (SICS)

Suatu teknik operasi dengan irisan sangat kecil (7-8 mm) dan hampir tidak memerlukan jahitan, teknik ini dinamai SICS

C. Fakoemulsifikasi

Teknik operasi fakoemulsifikasi menggunakan alat tip ultrasonik untuk memecah nucleus lensa dan selanjutnya pecahan nucleus dan korteks lensa diaspirasi melalui insisi yang sangat kecil. Dengan demikian, fakoemulsifikasi mempunyai kelebihan seperti penyembuhan luka yang cepat, perbaikan

(25)

penglihatan lebih baik, dan tidak menimbulkan astigmatisma pasca bedah

2.1.2 Kepuasan Pasien 2.1.2.1 Definisi Pasien

Pasien atau pesakit adalah seseorang yang menerima perawatan medis. Kata pasien dari bahasa Indonesia analog dengan kata patient dari Bahasa Inggris. Patient diturunkan dari bahasa Latin yaitu patiens yang memiliki kesamaan arti dengan kata kerja pati yang artinya

"menderita". Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pasien adalah orang sakit (yang dirawat dokter), penderita (sakit). Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2018 tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien menyebutkan bahwa pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter.(7,20)

2.1.2.2 Definisi Kepuasan Pasien

Kepuasan disini dapat diartikan dengan kesembuhan pasien dari sakit atau luka yang di deritanya. Hal ini lebih berkaitan dengan konsekuensi sifat pelayanan kesehatan itu sendiri, berkaitan pula dengan sasaran dan hasil pelayanan.

Kepuasan pasien dalam menilai mutu atau pelayanan yang baik, dan merupakan pengukuran penting yang mendasar bagi mutu pelayanan.(7–9)

Menurut Sabarguna, kepuasan pasien adalah merupakan nilai subyektif terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. Tapi walaupun subyektif tetap ada dasar obyektifnya, artinya walaupun penilaian itu dilandasi oleh pengalaman masa lalu, pendidikan, situasi psikis waktu itu

(26)

dan pengaruh lingkungan waktu itu, tetapi tetap akan didasari oleh kebenaran dan kenyataan obyektif yang ada.

(21)

Kepuasan adalah salah satu faktor kunci yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah atau keberhasilan bisnis yang hanya dapat dipertahankan melalui pemberian kualitas layanan yang baik sehingga meningkatkan kepuasan. Ketentuan yang diperbaiki ini memerlukan pemberian layanan yang efektif, alokasi biaya, dan strategi pengelolaan.(22–25)

Kepuasan pasien merupakan standar yang terkenal untuk mengevaluasi efektivitas pelayanan kesehatan yang diberikan di rumah sakit. Kepuasan pasien merupakan tolok ukur penting dimana pemberian layanan kesehatan menjadi tolak ukurnya. Saat ini, pendapat pasien dianggap sebagai faktor kunci dalam keputusan pengobatan dan pemberian layanan kesehatan. Oleh karena itu, evaluasi pemberian layanan kesehatan dari sudut pandang pasien mendapat perhatian yang lebih besar dan telah menjadi atribut inti dari setiap sistem kesehatan karena berfungsi sebagai indikator berharga untuk mengukur keberhasilan penyediaan layanan, khususnya di rumah sakit sektor publik.(22–25)

Berdasarkan pada beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan pasien merupakan nilai subyektif pasien terhadap pelayanan yang diberikan setelah membandingkan dari hasil pelayanan yang diberikan dengan harapannya. Pasien akan merasa puas jika pelayanan yang diberikan sesuai harapan pasien atau bahkan lebih dari apa yang diharapkan pasien.

(27)

2.1.2.3 Faktor-Faktor Kepuasan Pasien

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien meliputi demensi kepuasan itu sendiri yang terdiri atas:(8,9) a. Tangibles (bukti fisik)

Hal ini meliputi penampilan fasilitas fisik, peralatan, staff dan sarana komunikasi.

b. Reliability (kompeten/keandalan),

Hal ini meliputi performa yang tercerminkan saat dokter memberikan pelayanan, pengobatan , dan perawatan dengan cepat, tepat dan handal.

c. Responsiveness (ketanggapan komunikasi)

Hal ini meliputi ketanggapan dokter dalam menerima informasi keluhan pasien, menyampaikan informasi terkait keluhan pasien dengan jelas dan mudah dimengerti serta memberikan tindakan secara cepat dan tepat saat pasien membutuhkan.

d. Emphaty (empati)

Hal ini meliputi kemudahan dalam membangun hubungan komunikasi yang baik, perhatian pribadi dan memahami apa yang dibutuhkan pasien.

e. Assurance (jaminan)

Hal ini akan timbul saat kepercayaan dan keyakinan pasien bahwa dokter mampu memberikan pelayanan secara optimal sesua pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki.

2.1.2.4 Indikator Kepuasan Pasien

Kepuasan pasien dapat diukur dengan indikator berikut ini:(8,9,26)

a. Kepuasan terhadap akses layanan Kesehatan Dinyatakan oleh sikap dan pengetahuan tentang :

(28)

- Sejauh mana layanan kesehatan itu tersedia pada waktu dan tempat saat dibutuhkan.

- Kemudahan memperoleh layanan kesehatan, baik dalam keadaan biasa ataupun dalam keadaan gawat darurat.

- Sejauh mana pasien mengerti bagaimana sistem layanan kesehatan itu bekerja, keuntungan dan tersedianya layanan kesehatan.

b. Kepuasan terhadap mutu layanan kesehatan.

Dinyatakan oleh sikap terhadap:

- Kompetensi teknik dokter dan atau profesi layanan kesehatan lain yang berhubungan dengan pasien.

- Keluaran dari penyakit atau bagaimana perubahan yang dirasakan oleh pasien sebagai hasil dari layanan kesehatan.

c. Kepuasan terhadap proses layanan kesehatan, termasuk hubungan antar manusia.

Ditentukan dengan melakukan pengukuran :

- Sejauh mana ketersediaan layanan rumah sakit menurut penilaian pasien.

- Persepsi tentang perhatian dan kepedulian dokter dan atau profesi layanan kesehatan lain.

- Tingkat kepercayaan dan keyakinan terhadap dokter.

- Tingkat pengertian tentang kondisi atau diagnosis.

- Sejauh mana tingkat kesulitan untuk dapat mengerti nasehat dokter atau rencana pengobatan.

d. Kepuasan terhadap sistem layanan kesehatan.

Ditentukan oleh sikap terhadap :

- Fasilitas fisik dan lingkungan layanan kesehatan.

(29)

- Sistem perjanjian, termasuk menungu giliran, waktu tunggu,pemanfaatan waktu selama menunggu, sikap mau menolong atau kepedulian personel, mekanisme pemecahan masalah dan keluhanyang timbul.

- Lingkup dan sifat keuntungan layanan kesehatan yang ditawarkan

2.1.3 Komunikasi Terapeutik

2.1.3.1Definisi Komunikasi Terapeutik

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi dengan tujuan tertentu, yaitu tercapainya tujuan penyembuhan.

Komunikasi terapeutik dilakukan berdasarkan rencana yang dibuat khusus oleh praktisi profesional (dokter, perawat, bidan) dengan klien / pasien yang memerlukan bantuan, sedangkan komunikasi sosial dilakukan oleh siapa saja (audiens) yang memiliki kepentingan yang sama. Dalam komunikasi terapeutik terjadi pertukaran informasi yang berbeda (unequal share information).(10,27)

2.1.3.2Tujuan Komunikasi Terapeutik

Tujuan dari hubungan terapeutik diarahkan mencapai pemulihan pasien dan beberapa dimensi sebagai berikut:

(27,28)

 Aktualisasi diri, penerimaan diri dan harga diri

 Rasa identitas diri yang jelas dan peningkatan integritas

 Dapat mengembangkan hubungan yang hangat dan mandiri kemampuan untuk memberi dan menerima kasih saying

 Meningkatkan kinerja dan kemampuan untuk menanggapi permintaan dan mencapai tujuan yang realistis

(30)

Untuk mencapai tujuan dari hubungan terapeutik, berbagai aspek harus diperhatikan pengalaman hidup pasien harus diverifikasi. Seorang dokter menawarkan kesempatan pelanggan dapat mengekspresikan dan berbicara tentang pikiran dan perasaan mereka jelaskan area konflik melalui perilaku yang diamati dan dilaporkan dan kekhawatiran, (27,28)

2.1.3.3Teknik Komunikasi Terapeutik

ada beberapa Teknik komunikasi terapeutik diantaranya:

(10,28)

a. Mendengarkan

Mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian akan memunculkan rasa kepercayaan si pembicara terhadap si pendengar, dimana pembicara disini adalah pasien dan pembicara adalah dokter.

b. Perhatian/Memfokuskan

Merupakan teknik untuk memilih topik pembicaraan yang penting dan mengarah pada tercapainya tujuan yang dicari pada si pasien.

c. Klarifikasi

Merupakan teknik yang dilakukan jika si pendengar (dokter) merasa ragu, samar, atau kurang paham akan informasi yang diberikan pasien

d. Refleksi

Dapat berupa refleksi isi dengan cara memvalidasi informasi, refleksi perasaan dengan cara memberi respon terhadap isi pembicaraan.

e. Keterbukaan

Suatau teknik dimana dokter memberikan pertanyaan yang mendorong pasien untuk menceritakan keluhannya

(31)

secara terbuka dan sukarela tanpa ada yang ditutup- tutupi

2.1.3.4 Tahap-Tahap Komunikasi Terapeutik

Komunikasi terapeutik memiliki empat tahapan, agar komunkasi terapeutik berjalan dengan baik. Tahapan- tahapan tersebut yaitu:(10,28)

 Tahap Persiapan/Pra-interaksi

1) Mengumpulkan data tentang pasien,

2) Mengeksplorasi perasaan, fantasi,dan ketakutan diri, 3) Menganalisa kekuatan professional diri dan

keterbatasan,

4) Membuat rencana pertemuan dengan pasien (kegiatan, waktu, tempat).

 Tahap Perkenalan/Orientasi,

1) Dokter memberikan salam dan tersenyum pada pasien,

2) Dokter memperkenalkan diri dan menanyakan identitas pasien,

3) Dokter melakukan validasi

(kognitif,psikomotor,afektif) pada pertemuan berikutnya,

4) Dokter menentukan mengapa pasien mencari pertolongan,

5) Dokter menyediakan kepercayaan, penerimaan dan komunikasi terbuka,

6) Dokter membuat kontrak timbal balik,

7) Dokter mengeksplorasi perasaan, pikiran dan tindakan pasien,

8) Dokter mengidentifikasi masalah pasien, 9) Dokter mendefinisikan tujuan dengan pasien,

(32)

10) Dokter menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pengobatan,

11) Dokter menjelaskan kerahasiaan.

 Tahap Kerja

1) Dokter memberi kesempatan pasien untuk bertanya, 2) Dokter menanyakan keluhan utama/keluhan yang

berkaitan dengan kelancaran kegiatan pengobatan, 3) Dokter memulai kegiatan pengobatan dengan cara

yang baik,

4) Dokter melakukan kegiatan pengobatan sesuai rencana

 Tahap Terminasi.

1) Dokter menciptakan realitas perpisahan,

2) Dokter menyimpukan hasil kegiatan pengobatan:

evaluasi hasil dan proses,

3) Dokter mengeksplorasi perasaan penolakan, kehilangan, sedih, marah dan perilaku lain pada pasien

4) Dokter memberikan reinforcement positif

5) Dokter merencanakan tindak lanjut dengan pasien, 6) Dokter melakukan kontrak untuk pertemuan

selanjutnya (tempat, waktu, topik, 7) Dokter mengakhiri dengan baik.

(33)

2.2 Kerangka Teori

Gambar 2. 1 Kerangka Teori 2.3 Kerangka Konsep

Gambar 2. 2 Kerangka Konsep 2.4 Hipotesis Penelitian

H0 : tidak terdapat kepuasan pasien pada komunikasi terapeutik pasca oper asi katarak

H1 : terdapat kepuasan pasien pada komunikasi terapeutik pasca operasi k atarak

Faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien :

- tangibles - responsiveness - reliability - emphaty - assurance

Kepuasan Pasien

Tahapan komunikasi terapeutik :

- Prainteraksi - Orientasi - Kerja - Terminasi

Operasi Katarak

Komunikasi Terapeutik pada pasien

Komunikasi

Terapeutik pada pasien

Kepuasan Pasien

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.2 Ruang Lingkup Penelitian

3.1.1 Ruang Lingkup Keilmuan

Pada penelitian ini meliputi bidang keilmuan kesehatan mata 3.1.2 Ruang Lingkup Waktu dan Tempat

- Tempat : Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah

- Waktu : Penelitian akan dilakukan antara bulan April hingga Juni tahun 2024

3.3 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif korelasi, penelitian yang menjelaskan adanya hubungan antara variabel melalui pengujian hipotesis dan menggunakan rancangan pendekatan cross sectional.

3.4 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Penelitian

a. Populasi Target

Pasien yang menjalani operasi katarak b. Populasi Terjangkau

Pasien yang telah melakukan operasi katarak di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah bulan April - juni

3.3.2 Sampel Penelitian a. Kriteria Inklusi

- Bersedia menjadi responden

- Telah melakukan operasi katarak di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah selama april - juni

b. Kriteria Eksklusi

(35)

- Tidak dapat berkomunikasi/memiliki keterbatasan dalam komunikasi

- Tidak memiliki penyakit penyerta/komplikasi 3.3.3 Teknik Sampling

Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan purposive sampling. Pemilihan sample dengan menetapkan subjek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah responden memenuhi syarat 3.3.4 Estimasi Besar Sampel

n= N

N . d2+1

n= 60

60.(0,05)2+1 n= 60

0,15+1 n= 60

1,15 n=52.1

Jadi jumlah sampel pada penelitian ini adalah 53 sampel.

Keterangan:

n = jumlah anggota sampel

N = Jumlah populasi (pasien post operasi katarak bulan April – Juni)

d2 = presisi (0,05)

3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.4.1 Variabel Penelitian

- Variable Bebas : Komunikasi Terapeutik - Variable Terikat : Kepuasan Pasien 3.4.2 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang di definisikan tersebut, maka

(36)

definisi operasional dirumuskan untuk kepentingan akurasi, komunikasi, dan replikasi. Oleh sebab itu, untuk menghindari adanya kesalahan paham atau penafsiran, maka perlu adanya pembatasan ruang lingkup penelitian dan penjelasan beberapa istilah sebagai berikut:

Tabel 3. 1 Definisi Operasional

Jenis Variabel

Variabel Definisi Operasional

Indikator Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur Variebel

Terikat

Kepuasan Pasien

kepuasan pasien merupakan evaluasi atau penilaian setelah memakai suatu pelayanan, bahwa

pelayanan yang dipilih setidak- tidaknya memenuhi atau melebihi harapan

Tingkat kepuasan : 1.Daya Tanggap (responsivene ss)

2.Jaminan (assurance) 3.Kenyataan (tangible) 4.Empati (empathy) 5.Keandalan (reability )

Kuesioner Memiliki 23 pernyataan dengan jawaban : STP = 1 TP = 2 P = 3 P = 4 SP = 5

Puas = ≥ 77 Cukup puas = 39- 76 Tidak puas

= ≤ 38

Ordinal

Variebel Bebas

Komunik asi terapeutik

Komunikasi terapeutik adalah cara untuk memberikan informasi yang akurat dan memberikan penyembuhan maupun kenyamanan melalui interaksi yang diberikan kepada pasien.

Tahap komunikasi terapeutik : 1.Tahap prainteraksi.

2.Tahap orientasi.

3.Tahap kerja 4.Tahap terminasi

Kuesioner memiliki 24 pernyataan dengan jawaban : TP = 1 P = 2

Baik =

jika nilai akhir >

mean

Kurang Baik =

jika nilai akhir ≤ mean

Ordinal

(37)

3.6 Teknik Pengumpulan Data 3.5.1 Alat dan Bahan

Dari jenis datanya merupakan data primer karena diambil langsung dari responden. Dalam mendapatkan data dari responden dapat diperoleh dari teknik wawancara ke masing-masing responden. Dalam penelitian ini kuesioner yang digunakan antara lain terdiri atas:

a) Informed consent

b) Data primer merupakan data yang di peroleh dari wawancara yang dilakukan pada pasien pasca operasi katarak

c) Data sekunder merupakan data yang di peroleh dari rekam medik di Rumah Sakit Roemani yaitu nama, jenis kelamin, usia, alamat.

d) Kuesioner komunikasi terapeutik

Instrumen komunikasi terapeutik memiliki 24 pernyataan dengan skala likert pilihan ada dua jawaban yaitu tidak pernah

= 1, dan pernah= 2. Dimana hasil peryataan dibagi menjadi 2 kelas yaitu : baik = 2, dan tidak baik = 1, dimana nilai tertinggi yaitu 48 dan terendah 24. Sehingga didapatkan skor baik jika nilai akhir > mean, dan tidak baik jika nilai akhir ≤ mean.

Skala ukur yang digunakan dalam variabel ini adalah skala ordinal.

e) Kuesoiner kepuasan pasien

Instrumen tingkat kepuasan pasien memiliki 23 peryataan dengan skala likert pilihan jawaban ada 5 yaitu sangat tidak puas

= 1, tidak puas = 2, cukup puas = 3, puas = 4, sangat puas = 5, dimana hasil peryataan dibagi menjadi 3 kelas yaitu : puas = 3, cukup puas = 2, tidak puas = 1 dimana nilai tertinggi dari ke lima indikator yaitu 115 dan terendah 23. Sehingga didapatkan skor

(38)

puas = ≥ 77, cukup puas = 39-76, tidak puas = ≤ 38. Skala ukur yang digunakan dalam variabel ini adalah skala ordinal.

3.5.2 Uji Validitas dan Reliabilitas

Untuk mengetahui validitas suatu instrument (dalam hal ini kuesioner) dilakukan dengan cara melakukan korelasi antara skor masing-masing variabel dengan skor totalnya. Suatu variabel (pernyataan) dikatakan valid bila skor variabel tersebut berkorelasi secara signifikan dengan skor totalnya.

Reliabilitas artinya kesetabilan pengukuran, alat dikatakan reliabel jika jika di gunakan berulang-ulang nilai sama. Sedangkan pertanyaan dikatakan reliabel jika jawaban seseorang terdapat pertanyaan konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.

Dalam penelitian ini, peneliti tidak melakukan uji validitas dan Realibilitas peneliti menggunakan kuesioner yang baku yang sudah dilakukan uji validitas dan reabilitas.

3.7 Alur Penelitian

Kesimpulan Ethical clearence

Analisis Data

Permohonan perijinan tempat penelitian

Pengolahan data Kriteria inklusi dan eksklusi

Wawancara dengan sampel

(39)

Gambar 3. 1 Alur Penelitian

3.8 Pengolahan dan Analisis Data 3.7.1 Pengolahan Data

3.7.1.1 Editing

Editing merupakan kegiatan untuk memeriksa kelengkapan dan isian formulir kuesioner

3.7.1.2 Coding

Coding adalah kegiatan untuk mengkategorikan data yang berbentuk kalimat menjadi bilangan dan angka.

Tabel 3. 2 Coding

No. Variabel Kategori Coding

1. Komunikasi Terapeutik Kurang Baik Baik

1 2

2. Kepuasan Pasien Tidak Puas

Cukup puas Puas

1 2 3

3.7.1.3 Processing

Processing adalah kegiatan pemrosesan data. Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam program komputer.

3.7.1.4 Cleaning

Cleaning merupakan kegiatan mengoreksi kembali, data yang sudah dimasukkan dikoreksi kembali apakah ada kesalahan atau tidak

3.7.2 Analisis Data

Analisa data yang dilakukan meliputi analisa univariat dan bivariat diantaranya :

3.7.2.1 Analisa Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk mendeskripsikan atau menjelaskan karakteristik setiap variabel penelitian.

variabel bebas dalam penelitian ini adalah komunikasi

(40)

terapeutik, sedangkan variabel terikatnya adalah kepuasan pasien. Pada penelitian ini analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel.

3.7.2.2 Analisa Bivariat

Analisa bertujuannya untuk menganalisa dua variabel yang diduga berhubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Analisis ini akan menggunakan teknik statistic dengan uji korelasi spearman untuk menentukan hubungan antara dua variable

3.9 Jadwal Penelitian

Tabel 3. 3 Jadwal penelitian

N o

Tahun 2023

Kegiatan

Bulan Januar

i

Februar i

Mare t

Apri l

Mei Jun i 1. Penyusunan Pendahuluan Penelitian

2. Penyusunan Tinjauan Pustaka 3. Penyusunan Metode Penelitian 4. Ujian Proposal

5. Pengajuan Ethical Clearance 6. Pengumpulan Data

7. Pengolahan dan Analisis Data 8. Penyelesaian Skripsi

9. Presentasi Hasil Penelitian dan Penyusunan Artikel Ilmiah

3.10 Etika Penelitian

Sebelum dilakukan penelitian, peneltian ini akan diajukan Ethical Clearance dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Universitas Muhammadiyah Semarang

(41)

DAFTAR PUSTAKA

1. Ismandari F. Infodatin Situasi Gangguan Penglihatan. Kementrian Kesehatan RI Pusat Data dan Informasi [Internet]. 2018;11. Tersedia pada:

https://pusdatin.kemkes.go.id/download.php?

file=download/pusdatin/infodatin/infodatin-Gangguan-penglihatan-2018.pdf 2. James B, Bron A. Ophthalmology lecture notes. 11th editi. Wiley-Blaclwell;

2012.

3. Hartono, Hernowo AT, Sasongko MB. Anatomi Mata dan Fisiologi Penglihatan.

Buku Ilmu Kesehatan Mata. 2013;15–8.

4. Ilyas S, Mailangkay, Taim H, Saman RR, Simarmata M, Widodo PS. Ilmu penyakit mata untuk dokter dan mahasiswa kedokteran. Jakarta: Sagung Seto;

2010.

5. Haji SI, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. edisi ke-5. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2018.

6. Kupfer C. Bowman lecture. The conquest of cataract: a global challenge. Trans Ophthalmol Soc U K. 1985;104 ( Pt 1:1–10.

7. Widoningsih N. Pengaruh Persepsi Kualitas Jasa Pelayanan Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan di RSU Saras Husada Purworejo. Skripsi. 2008;

8. Peterson KM, Huisingh CE, Girkin C, Owsley C, Rhodes LA. Patient satisfaction with care in an urban tertiary referral academic glaucoma clinic in the us. Patient Prefer Adherence. 9 Mei 2018;12:775–81.

9. Sakti DH, Mahayana IT, Firdaus AT, Utami TP, Jati KDP, Wardhana FS, dkk.

Patients’ Satisfaction with Ophthalmology Clinic Services in a Public Teaching Hospital. Patient Prefer Adherence. 2022;16:723–35.

10. LM G. Komunikasi Kedokteran Konteks Teoritis dan Praktis. 1 ed. Depok:

Prenadamedia Group; 2018.

11. Desky KM, Basri S, Imran. Kedokteran Biomedis. Tingkat Kepuasan Pasien Setelah Operasi Katarak di Rumah Sakit dr Zainoel Abidin.

2017;2(November):34–44.

12. Wasfi EI, Pai P, Abd-Elsayed AA. Patient satisfaction with cataract surgery. Int Arch Med. 2008;1(1):22.

13. Shakil S, Kazi U, Qazi A, Muhammad Saleh memon, Memon F, Khan H, dkk.

Patient satisfaction after cataract surgery using visual functioning questionnaire.

Int J Res Med Sci. 27 November 2019;7:4651.

(42)

14. Astari P. Katarak: Klasifikasi, Tatalaksana, dan Komplikasi Operasi. Astari, Prilly. 2018;45(10):748–53.

15. Arifani AF, S ED. Lensa dan Katarak. Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung. 2018;(April):121.

16. Banta J, All E. Cataract / Anterior Segment. American Academy of Ophtalmology. 2019;35.

17. Takata T, Matsubara T, Nakamura-Hirota T, Fujii N. Negative charge at aspartate 151 is important for human lens αA-crystallin stability and chaperone function.

Exp Eye Res. Mei 2019;182:10–8.

18. Asbell PA, Dualan I, Mindel J, Brocks D, Ahmad M, Epstein S. Age-related cataract. Lancet. Februari 2005;365(9459):599–609.

19. Nizami AA, Gulani AC. Cataract. Dalam Treasure Island (FL); 2022.

20. INDONESIA MKR. Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien. Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien [Internet]. 2018;2(1):1–13. Tersedia pada:

http://link.springer.com/10.1007/978-3-319-76887- 8%0Ahttp://link.springer.com/10.1007/978-3-319-93594- 2%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/B978-0-12-409517-5.00007-

3%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.jff.2015.06.018%0Ahttp://dx.doi.org/10.1038/s4 1559-019-0877-3%0Aht

21. Sabarguna BS. Quality assurance pelayanan rumah sakit. Edisi Kedua Yogyakarta: Konsorsium Rumah Sakit Islam Jateng-DIY. 2004;

22. Prakash B. Patient satisfaction. J Cutan Aesthet Surg. 2010;3(3):151.

23. Manzoor F, Wei L, Hussain A, Asif M, Shah SIA. Patient satisfaction with health care services; an application of physician’s behavior as a moderator. Int J Environ Res Public Health. 2 September 2019;16(18).

24. Lemos P, Pinto A, Morais G, Pereira J, Loureiro R, Teixeira S, dkk. Patient satisfaction following day surgery. J Clin Anesth. Mei 2009;21(3):200–5.

25. Lyu H, Wick EC, Housman M, Julie ;, Freischlag A, Makary MA. Patient Satisfaction as a Possible Indicator of Quality Surgical Care. Vol. 148, JAMA Surg. 2013.

26. Cahyadi Suas Robi, Mudayana Ahmad Ahid. Hubungan Mutu Pelayanan dengan Kepuasan Pasien di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II.

27. Fong Ha J, Surg Anat D, Longnecker N. Doctor-Patient Communication: A Review.

(43)

28. Sari Ulya Alfrista. Hubungan Tingkat Pengetahuan Komunikasi Terapeutik Mahasiswa Profesi PSPDG UMY Terhadap Keterampilan Komunikasi Dengan Pasien di RSGM UMY. Yogyakarta; 2016.

(44)

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Informed Consent Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama (inisial) : Umur :

Alamat :

Menyatakan bersedia menjadi responden penelitian yang akan dilakukan oleh mahasiswa/i FAKULTAS Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang, yang bernama Muhammad Ibrahim Aziz dengan judul “Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Kepuasan Pasien Pasca Operasi Katarak”. Saya memahami bahwa peneliti ini tidak akan berakibat fatal dan merugikan, oleh karena itu saya bersedia menjadi responden pada penelitian.

Semarang, / /2024

Peneliti Responden

Muhammad Ibrahim Aziz ( )

(45)

LAMPIRAN 2 Kuesioner Komunikasi Terapeutik

Kuesioner Komunikasi Terapeutik Dokter Pasien

Petunjuk pengisian: berilah tanda chek list (√) pada kolom pernyataan dibawah ini Keterangan :

Tidak Pernah (TP) = 1 Pernah (P) = 2

No. Pertanyaan TP P

1. Membangun suatu hubungan (Builds a relationship) 1. Dokter memberi salam dan menunjukan simpati

pada pasien.

2. Dokter menggunakan kata-kata yang menunjukan kepedulian selama komunikasi dengan pasien.

3. Dokter menggunakan intonasi, kontak mata, dan sikap yang menunjukan kepedulian dan perhatian.

4. Dokter merespon dengan baik pernyataan pasien.

2. Membuka diskusi (Opens the discussion) 1. Dokter menanyakan keluhan pasien.

2. Dokter menggunakan kata-kata yang menunjukan rasa empati.

3. Mengumpulkan informasi (Gathers information)

1. Dokter menggunakan pertanyaan terbuka untuk menggali informasi.

2. Dokter menggunakan pertanyaan tertutup untuk menggali informasi.

3. Dokter tidak memotong pembicaraan ketika pasien sedang berbicara.

4. Dokter melakukan klarifikasi atas informasi yang disampaikan oleh pasein.

5. Dokter meringkas informasi yang disampaikan oleh pasien.

4. Memahami perspektif pasien (Understands the patient’s

(46)

perspective)

1. Dokter menanyakan riwayat kesehatan pasien.

2. Dokter menanyakan riwayat kesehatan keluarga pasien.

3. Dokter menumbuhkan rasa kepercayaan dan harapan sembuh kepada pasien.

5. Memberikan informasi (Shares information)

1. Dokter menjelaskan kepada pasien dengan menggunakan kalimat yang mudah dimengerti.

2. Dokter tidak menggunakan kata-kata medis.

3. Dokter memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya mengenai informasi yang diberikan.

6. Jangkauan persetujuan (if new/changed plan)

1. Dokter menggunakan pertanyaan terbuka untuk menggali informasi.

2. Dokter menanyakan persetujuan dilakukan perawatan/tindakan medis.

3. Dokter menanyakan kesanggupan pasien untuk mengikuti prosedur perawatan/ tindakan medis.

4. Dokter memberi kesempatan kepada pasien untuk mengemukakan pendapat mengenai rencana perawatan yang akan dijalaninya.

7. Penutup (Provides closure)

1. Dokter menanyakan kepada pasien apakah ada yang belum mengerti mengenai masalah kesehatannya.

2. Dokter meringkas dan menyimpulkan seluruh pembicaraan.

3. Dokter membuat kontrak untuk rencana perawatan selanjutnya.

4. Dokter mengingatkan kembali apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan pasien.

(47)

5. Dokter menutup pertemuan dengan salam.

(48)

LAMPIRAN 3 Kuesioner Kepuasan Pasien Kuesioner Kepuasan Pasien

Petunjuk pengisian: berilah tanda cek list (√) pada kolom pernyataan dibawah ini

Keterangan :

Sangat Tidak Puas (STP) = 1 Puas (P) = 4

Tidak Puas (TP) = 2 Sangat Puas (SP) = 5 Cukup Puas (CP) = 3

No. Pertanyaan STP TP CP P SP

1. Daya tanggap (responsiveness) 1. Dokter melayani dengan baik.

2. Dokter tanggap melayani pasien.

3. Dokter melakukan Tindakan secara cepat dan tepat.

4. Dokter melakukan Tindakan sesuai prosedur.

2. Jaminan (assurance)

1. Dokter mempunyai kemampuan dan pengetahuan mengenai diagnosa penyakit pasien dengan cukup baik sehingga mampu menjawab pertanyaan pasien secara meyakinkan

2. Dokter bersifat cekatan serta menghargai pasien.

3. Dokter melayani dengan sikap meyakinkan sehingga pasien merasa aman.

4. Dokter mempunyai catatan medis pasien,

(49)

3. Kenyataan (tangibles)

1. Bangunan rumah sakit terlihat indah dan bersih.

2. Rumah sakit memiliki ruang tunggu yang cukup, nyaman, wc dan air

3. Rumah sakit memiliki sarana cuci tangan air dan alkohol disetiap ruangan

4. Penampilan dokter rapih dan bersih

4. Empati (empathy)

1. Dokter memberikan waktu pelayanan yang cukup pada pasien 2. Dokter bersedia menjelaskan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pasien terkait kondisi kesehatan pasien.

3. Dokter memperhatikan sungguh- sungguh kepada pasien saat berkomunikasi

4. Dokter mendengarkan keluhan penyakit yang diderita serta mencoba memberi solusi dalam konsultasi

5. Dokter bersikap sopan dan ramah 5. 3. Dokter melakukan cuci tangan

sebelum melakukan tindakan kepada pasien

4. Dokter melakukan cuci tangan setelah terkena cairan tubuh

(50)

pasien

5. Dokter melakukan cuci tangan setelah bersentuhan dengan pasien 6. Dokter muda melakukan cuci

tangan setelah bersentuhan dengan lingkungan sekitar pasien

Gambar

Tabel 1. 1 Keaslian Penelitian
Tabel 2. 1 Perbedaan Stadium Katarak Senilis
Gambar 2. 1 Kerangka Teori  2.3 Kerangka Konsep
Gambar 2. 2 Kerangka Konsep 2.4 Hipotesis Penelitian
+3

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

diperoleh hasil hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien di Rumah Sakit lslam Kendal menghasilkan t = 0,225 yang artinya hubungan

Ho : Tidak terdapat hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan. kepuasan pasien di ruang rawat inap kelas III RSUD

Dengan ini saya bersedia menjadi responden pada penelitian dengan judul “ Hubungan pelayanan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kepuasan pasien lansia di

Lebih dari separoh perawat menggunakan komunikasi terapeutik dengan baik, dan sebagian besar tingkat kepuasan keluarga pasien terhadap komunikasi terapeutik

Hasil perhitungan pada Tabel 4 diketahui bahwa komunikasi terapeutik perawat pada pasien pre operasi kategori cukup dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap melati RSUD Subang..

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di RS William Booth Surabaya. Kesimpulan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien diruang rawat inap Rumah Sakit Islam Aisyiyah