• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Acara Perdata Khusus

N/A
N/A
Ghayana Aditya

Academic year: 2024

Membagikan " Hukum Acara Perdata Khusus"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Hukum Acara Perdata Khusus Buku Wajib :

 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata;

Kewenangan dalam penagdilan niaga adalah suatu kewenangan absolut (berdasarkan jenis perkara) yang ditangani biasanya adalah kasus-kasus yang berkaitan dengan Perbankan, asuransi, Pasar Modal, dan sebagainya.

Karakteristik :

1. Memiliki kompetensi absoulut;

2. Kedudukan kantor pengadilan ini tidak ada di seluruh Indonesia dan hanya terdapat di kota-kota besar;

3. Pembuktian di pengadilan niaga memakai sistem pembuktian sederhana;

4. Upaya hukum di pengadilan niaga hanya ada kasasi tidak ada banding kecuali di bidang kepailitan ada tambahan peninjauan kembali;

Tahapan pemeriksaan perkara yang ditangani di Pengadilan Niaga :

1. Pemanggilan; (paling lambat 7 hari setelah permohonan termasuk lampiran permohonan kepailitan)

2. Pemeriksaan persidangan;

 Kelengkapan administrasi;

 Tidak ditawarkan perdamaian;

 Didengarkan keterangan para pemohon dan buktinya.

3. Putusan;

4. Pengurusan dan pemberesan;

5. Hal lain yang terkait dengan kepailitan.

Jika tidak diatur dalam KUHD ataupun Undang-Undang HAKI ataupun juga maka diatur di Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata.  Lex Specialis

1) Jika didalam sidang pertama pemohon tidak hadir maka perkara dinyatakan gugur;

2) Jika pemohon tidak pernah datang di persidangan meskipun telah dipanggil secara patut, Pengadilan melanjutkan pemeriksaan dan mengambil keputusan;

3) Dalam hal keterangan termohon berisi penyangkalan, maka harus pula disertai bukti- bukti yang dimilikinya;

(2)

4) Apabila permohonan pernyataan pailit dan permohonan PKPU diajukan secara bersamaan, permohonan PKPU harus diputus terlebih dahulu.

Penyelesaian Hubungan Industrial

Di PHI tidak dikenal banding, Upaya hukum nya langsung banding dan peninjauan kembali Dalam PHI dikenal 4 jenis sengketa yaitu :

 Hak, dibagi menjadi dua :

1) Heteronom  Perundang-undangan

2) Otonom  PK (Perjanjian Kerja), PKB (Perjanjian Kerja Bersama)

Perselisihan hak ialah perselisihan yang timbul karena tidak dipenuhinya hak, akibat adanya perbedaan pelaksanaan atau penafsiran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan. Hal yang dimaksud dalam perselisihan ini adalah hak normative, contohnya adalah hal yang sudah ditetapkan dalam perjanjian kerja maupun perjanjian kerja bersama.

 Kepentingan  perselisihan yang timbul dalam hubungan kerja karena adanya ketidaksesuaian pendapat mengenai klausula-klausula yang terdapat dalam perjanjian kerja atau perjanjian kerja bersama dan lain-lain.

 PHK  perselisihan yang timbul karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pengakhiran hubungan kerja yang dilakukan oleh salah satu pihak.

 Antar Serikat Pekerja  perselisihan antar serikat pekerja dalam satu Perusahaan karena ada perbedaan paham mengenai keanggotaan Perusahaan.

Didalam PHI dikenal cara Bipartit yaitu salah satu cara dalam penyelesaian sengketa hubungan industrial yang hukumnya wajib dilakukan selain melakukan cara lainnya. Jika perundingan bipartit harus risalah bipartit.

Konflik HI melalui bipartite memiliki dua hasil yaitu :

 Kesepakatan  Risalah perundingan  Perjanjian Bersama (Disahkan di PHI agar memiliki kekuatan eksekutorial)  PK/PKB

 Tidak adanya kesepakatan  Risalah Perundingan (Mediasi, Arbitrase, Konsiliasi (kepentingan, antar SP, PHK, hak)  jika tidak sepakat maka akan dilanjutkan ke PHI selain penyelesaian secara arbitrase (Karena putusan arbitrase bersifat mengikat dan final)

(3)

Penyelesaian di luar pengadilan

(4)

 Mediasi  bisa diajukan terhadap kasus yang berkaitan dengan perselisihan hak, kepentingan, PHK dan antar Serikat Pekerja

Mediasi adalah lembaga penyelesaian perselisihan hak, kepentingan, PHK, dan antar SP melalui musyawarah yang ditengahi oleh seorang mediator yang netral.

 Konsiliasi  bisa diajukan terhadap kasus yang berkaitan dengan Perselisihan Kepentingan dan Serikat Pekerja.

Penyelesaian melalui musyawarah yang ditengahi oleh seorang konsiliator dimana yang membedakan dengan mediator adalah konsiliator bersifat aktif dalam penyelesaian perselisihan

 Arbitrase  bisa diajukan terhadap kasus yang berkaitan dengan Perselisihan SP, PHK, Kepentingan.

Penyelesaian melalui kesepakatan tertulis dari para pihak yang berselisih untuk menyerahkan penyelesaian perselisihan kepada arbiter yang putusannya bersifat mengikat para pihak dan bersifat final

Alur Persidangan PHI

Alur pembuktian dalam Pengadilan Hubungan Industrial

Pembuktian termasuk dalam Lex Generalis karena diatur dalam HIR yang terdiri dari

 Surat (paling kuat karena sifat pembuktiannya mencari kebenaran formil);

 Otentik

 Didepan pejabat berwenang

 Dibuat oleh pejabat berwenang

 Dibawah tangan

 Saksi;

 Persangkalan;

 Pengakuan;

 Sumpah;

Kesimpulan  yang m+embuat kesimpulan adalah penggugat dan tergugat Musyawarah Hakim  Vonis (Putusan)

Upaya Hukum  Kasasi

(5)

Tahapan Acara di Pengadilan Agama

Referensi

Dokumen terkait

Produk pengadilan diakhiri dengan putusan ( vonnis ) Putusan mengikat para pihak yang bersengketa saja Putusan harus mempunyai alasan yang kuat dan tepat.. Buku ke IV

MERUPAKAN UPAYA PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN BANTUAN PIHAK KETIGA (ARBITER) YANG BERWENANG UNTUK MEMUTUSKAN DAN. SEMUA PUTUSAN ARBITRASE INI BERSIFAT TETAP DAN MENGIKAT PARA

Non Litigasi , h.. 1) Asas kesepakatan artinya kesepakatan para pihak untuk menunjuk seorang atau beberapa oramg arbiter. 2) Asas musyawarah yaitu setiap perselisihan

bentuk dokumen elektronik, bila salah satu pihak melanggar kesepakatan tersebut atau wanprestasi dari salah satu pihak, maka pihak yang dirugikan dapat mengugat ke

Penyelesaian Perselisihan hubungan industrial melalui mediasi dan konsiliasi,terdapat pula penyelesaian melalui arbitrase. Apabila arbitrase dipilih sebagai lembaga penyelesaian

Perbedaannya terletak, apabila seseorang mengajukan gugatan sudah barang tentu minimal 2 orang ( dua pihak ) yang saling berselisih (konflik atau bersengketa), sedangkan

bentuk dokumen elektronik, bila salah satu pihak melanggar kesepakatan tersebut atau wanprestasi dari salah satu pihak, maka pihak yang dirugikan dapat mengugat ke

Arbiter Hubungan Industrial yang selanjutnya disebut arbiter adalah seseorang atau lebih yang dipilih oleh para pihak yang berselisih dari daftar arbiter yang ditetapkan oleh Menteri