• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Agraria dan Masyarakat di Indonesia

N/A
N/A
Asyrofth @

Academic year: 2024

Membagikan " Hukum Agraria dan Masyarakat di Indonesia"

Copied!
418
0
0

Teks penuh

Seri Sosio-Legal ini adalah publikasi dari hasil-hasil penelitian interdisiplin maupun karya ilmiah lain yang bertemakan hukum dan kaitannya dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan dan lingkungan hidup dalam pembangunan di Indonesia. Dalam sambutan ini, saya merasa terhormat untuk memaparkan sejumlah gagasan lama dan baru perihal kajian sosio-legal terhadap penguasaan tanah dalam perubahan yang terjadi di Indonesia. Namun kini, secara bertahap, domain akademik kami bergeser dari telaahan hukum Hindia-Belanda dan Indonesia modern menuju kajian sosio- legal yang lebih bersifat umum dan komparatif, khususnya berkenaan dengan studi-studi ‘law, governance and development’ (LGD).

Pertama-tama, gagasan bahwa seorang yuris harus melakukan studi sosio-legal empiris dengan turun ke masyarakat lokal. Sekarang ini, di Indonesia pascareformasi terbuka ruang lebih lebar dan luas untuk menghidupkan kembali penelitian-penelitian empirik sosio-legal. Adalah karena alasan-alasan yang dikemukan di atas, maka studi sosio-legal yang interdisipliner layak lebih diperhatikan, dihargai dan dicakupkan ke dalam kurikulum pendidikan hukum nasional di Indonesia.

Gagasan bahwa pembuat undang-undang dan pengelola negara harus dipersalahkan dalam hal perundang-undangan tidak efektif dalam penegakan maupun implementasinya, bahkan menindas serta mengabaikan kepentingan wigati masyarakat, termasuk ke dalamnya hak-hak masyarakat lokal, masih mengilhami banyak tulisan sarjana sosio-legal Indonesia.

Daftar isi

Bappeda Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BPHTB Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan BPN Badan Pertanahan Nasional.

Daftar singkatan

PAP Proyek Administrasi Pertanahan PBB Pajak Bumi dan Bangunan Pemda Pemerintah Daerah Perda Peraturan Daerah.

Bernegara hukum dan berbagi kuasa dalam urusan agraria di Indonesia: Sebuah pengantar

Secara generik, penguasaan atas tanah dan kekayaan alam masuk ke dalam cakupan yang luas dari hukum agraria. UUD 1945 sebelum di-amandemen tidak banyak memuat pengaturan yang menjamin hak-hak substantif rakyat atas tanah dan kekayaan alam. Kendati begitu, Hak Menguasai Negara atas tanah dan kekayaan alam semestinya tidak bertentangan dengan otonomi masyarakat hukum adat untuk mengatur diri dan lingkungannya.

Persoalan paling gayut ialah seberapa pentingnya desentralisasi tatkala kita membahas implikasi konsep negara hukum dalam penguasaan tanah dan kekayaan alam. Beberapa pemerintah daerah menggunakan peluang ini untuk membuat Peraturan Daerah (Perda) terkait pengakuan atas keberadaan masyarakat hukum adat dan hak-haknya atas tanah dan kekayaan alam. Tujuannya adalah memberikan kepastian hukum atas penguasaan pada tanah dan kekayaan alam (tenure security, sering pula disebut kepastian tenurial).

Ada persoalan historis yang perlu diselesaikan terkait pelaksanaan kuasa negara atas tanah dan kekayaan alam.

Rakyat Indonesia dan tanahnya: Perkembangan Doktrin Domein di masa kolonial dan pengaruhnya

Hal ini karena adanya interpretasi sempit mengenai hak ulayat masyarakat hukum adat (beschikkingsrecht) yang sebaliknya memunculkan tafsiran sangat luas atas lingkup Hak Menguasai Negara atas tanah. Bilamana klaim negara (Doktrin Domein de facto di atas) diinterpretasikan secara sempit, yaitu domein negara hanya mencakup tanah-tanah yang tidak dimanfaatkan, maka lingkup hak ulayat masyarakat hukum adat menjadi sangat luas. Pemerintah Kolonial (dalam hal ini Baud) mengakui bahwa pemberian hak atas tanah kepada pengusaha perkebunan besar telah menyangkut tanah yang di atasnya terhadap hak ulayat masyarakat setempat.

Mereka berargumen bahwa rencana tersebut merupakan ancaman bagi masyarakat bumiputera pemegang hak-hak atas tanah. Ketentuan Pasal 1 menyebutkan bahwa semua hak masyarakat bumiputera atas tanah yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah (Kitab Undang-Undang) [Pasal 62 RR yang kemudian menjadi Pasal 51 IS] harus dipertahankan. Menurut panitia tersebut hak ulayat masyarakat hukum adat (melalui kepala-kepala adat) bertentangan dengan hak penguasaan absolut pemerintah yang pada prinsipnya tidak mengakui adan- ya hak masyarakat atas tanah.

Menurut mereka, di sini pula hak-hak masyarakat bumiputera harus diakui, khususnya hak-hak yang berasal dari hak ulayat masyarakat hukum adat. Van Vollenhoven berpendapat bahwa penerapan Doktrin Domein yang dilakukan secara sepadan sesungguhnya tidak harus menjadi kendala bagi pengakuan hak ulayat ataupun hak-hak masyarakat bumiputera atas tanah. Ini disebabkan tidak adanya kesetaraan antara hak masyarakat bumiputera dengan hak-hak atas tanah berdasarkan BW.

Ia menyebut satu hak masyarakat bumiputera yang paling penting, yaitu beschikkingsrecht yang dalam tulisan ini disepadankan dengan hak ulayat masyarakat hukum adat. Pada abad ke-20, semua hak-hak masyarakat bumiputera atas tanah dikelompokkan oleh Mazhab Leiden sebagai ‘beschikkingsrecht’ (hak ulayat masyarakat hukum adat). Kleintjes juga menggambarkan hak ulayat sebagai hak masyarakat bumiputera yang paling luas cakupannya (Kleintjes II.

Karena ekspresi terkuat dari hak ulayat justru tampak pada tanah yang tidak dibudidayakan (woeste gronden). Hak ulayat masyarakat hukum adat, dengan beberapa pengecualian (misalnya di Aceh, penguasaaan sawah di Bali dan Lombok) muncul di mana saja di kawasan luar Jawa dan Madura. Dalam pertimbangan selanjutnya, Komisi menyatakan bahwa Doktrin Domein menghasilkan penafsiran hak ulayat yang terlalu sempit sedemikian sehingga menafikan hak masyarakat atas tanah yang tidak dibudidayakan (woeste landen) dan hutan (kecuali dalam hal pemerintah memberikan izin membuka hutan atau mengumpulkan hasil hutan).

Ketentuan Pasal 3 ini merupakan suatu pembatasan dan sekaligus pengakuan terhadap hak ulayat masyarakat hukum adat.

Hutan adat di “persimpangan jalan”: Kedudukan hutan adat di Sumatra Barat pada era desentralisasi

Dalam pengertian umum, hutan adat merupakan hutan yang berada di sekitar dan dikuasai oleh suatu masyarakat hukum adat tertentu. 41 tahun 1999 menyatakan bahwa hutan adat adalah hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat. Pernyataan yang tidak mengakui status hukum hutan adat sebagai hutan masyarakat hukum adat ini diperkuat lagi dengan Penjelasan Pasal 5 ayat (1) UU No.

41 tahun 1999 yang menyatakan hutan adat yaitu hutan negara yang diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat hukum adat (rechtsgemeenschap). Apabila dalam perkembangannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan tidak ada lagi, maka hak pengelolaan hutan adat kembali kepada pemerintah (pusat). Berkaitan dengan hak atas tanah, hukum adat tidak hanya mengenal hak ulayat (tanah ulayat) tetapi juga mengenal hak-hak milik baik yang bersifat invidual maupun komunal (Sudiyat 1981).

41 tahun 1999 terhadap hutan adat tidak sinkron dengan ketentuan yang berlaku dalam UUPA dan hukum adat itu sendiri. Kecuali itu, kita juga dapat memahami bahwa dalam konsepsi masyarakat hukum adat Minangkabau, tidak semua hutan adat sama dengan hutan. 41 tahun 1999 lebih mengutamakan pada masih adanya masyarakat hukum adat yang menguasai hutan adat tersebut bukan pada ulayatnya (hutan ulayat).

41 tahun 1999 menyatakan hutan adat ditetapkan sepanjang menurut kenyataannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan masih ada dan diakui keberadaannya. Pertanyaan berikutnya, apakah PP ini mengatur tentang masyarakat hukum adat atau mengatur tentang hutan adat. 41 tahun 1999 terhadap hutan adat dan hak masyarakat hukum adat lihat pula tulisan Moniaga dalam buku ini (catatan penyunting).

41 tahun 1999 akan mengatur tentang masyarakat hukum adat harus menyebut secara eksplisit hutan adat di samping hutan negara dan hutan milik. Ada masyarakat hukum adat yang memandang bahwa hutan adat merupakan bagian hak ulayat yang sekaligus berkedudukan sebagai harta kekayaan mereka.

Reformasi hukum periferal: Kepastian tenurial dan hutan kemasyarakatan di Lampung

Tiga tahun sebelum berakhirnya rezim Soeharto, Kementerian Kehutanan mengeluarkan sebuah keputusan menteri mengenai hutan kemasyarakatan. Pertanyaannya adalah apakah perkembangan peraturan tentang hutan kemasyarakatan memberikan lebih banyak kepastian tenurial masyarakat secara hukum atas kawasan hutan. Izin hutan kemasyarakatan pada hakikatnya adalah izin memanfatkan kawasan hutan, termasuk memanfaatkan tanah di kawasan tersebut.

Hal ini disebabkan pandangan bahwa hutan kemasyarakatan dilaksanakan dalam kawasan hutan yang merupakan tanah yang dikuasai negara sehingga harus bebas dari hak-hak keperdataan warga negara. Selain itu, Keputusan Menteri itu juga memperlakukan izin hutan kemasyarakatan laksana konsesi hutan berskala kecil tetapi. Sebagaimana disebutkan di bagian sebelumnya, Keputusan ini melarang dikeluarkannya izin hutan kemasyarakatan di dalam kawasan hutan konservasi.

Andaikan Kementerian Kehutanan telah menetapkan areal tersebut, apakah hutan kemasyarakatan dapat dilaksanakan secara efektif, khususnya dalam menangani konflik di kawasan hutan. Dengan argumen yang berbeda, kedua kelompok ini memandang hutan kemasyarakatan sebagai solusi untuk mengklaim kawasan hutan yang mereka inginkan. 41 tahun 1999 kawasan hutan bukan selalu hutan negara adalah persoalan penting untuk kepastian penyelenggaraan hutan kemasyarakatan.

41 tahun 1999 menyatakan hutan kemasyarakatan sebagai hutan negara namun peraturan lebih rendah menyebutkannya berada dalam kawasan hutan. Oleh sebab itu, penting mengklarifikasi dimanakah hutan kemasyarakatan itu berada: di dalam hutan negara atau kawasan hutan. 41 tahun 1999, jika hutan kemasyarakatan berada dalam kawasan hutan maka terbuka peluang lebar bagi masyarakat memperoleh hak-hak privat atas tanah menurut UUPA.

Hutan kemasyarakatan dapat digunakan sebagai langkah pertama untuk memverifikasi kembali keberadaan klaim-klaim masyarakat atas kawasan-kawasan hutan yang telah ditunjuk. Izin hutan kemasyarakatan telah memungkinkan masyarakat memanfaatkan tanah dan sumber dalam dalam (kawasan) hutan tersebut.

Antara hukum negara dan realitas sosial politik di tataran kabupaten:Perjuangan mempertahankan

Di dalam UUD 1945 sebelum amandemen, istilah yang digunakan dan yang secara sepintas setara dengan masyarakat hukum adat adalah volksgemeenschappen. 5 tahun 1999 memberikan kewenangan kepada pemerintah provinsi dan kabupaten untuk menetapkan status masyarakat hukum adat setempat. Namun pedoman tentang proses identifikasi dan legalisasi masyarakat hukum adat masih kurang memadai dan jelas.

Tanah dan sumber daya alam di Indonesia merupakan sumber kehidupan bagi sebagian besar anggota-anggota masyarakat hukum adat. Pasal-pasal khusus tentang masyarakat hukum adat adalah Pasal 18B ayat (2) yang menyatakan: “Negara mengakui dan. IX/MPR-RI/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang menyentuh hak-hak masyarakat hukum adat terhadap tanah dan/.

Pengakuan keberadaan hak-hak masyarakat hukum adat pada tanah dan sumber daya alam juga menghadapi persoalan ketika akan dilakukan di kawasan yang dikenal sebagai kawasan hutan. Perkembangan hukum mengenai masyarakat hukum adat dan hak-hak mereka bertambah rumit dengan disahkannya UU No. Tumpang-tindih tanah ulayat masyarakat hukum adat dengan kawasan hutan negara cenderung membawa kerugian terhadap kehidupan sehari-hari penduduk desa.

Orang-orang Baduy atau Kanekes adalah salah satu kelompok masyarakat hukum adat yang terkenal di Kabupaten Lebak (Sucipto dkk. Anggota-anggota berbagai masyarakat hukum adat yang lahannya tumpang-tindih dengan klaim negara akhirnya menghadapi berbagai masalah. Kasus ini melengkapi gambaran menyeluruh mengenai kenyataan hukum dan administratif pemerintahan berkenaan dengan hak ulayat masyarakat hukum adat di Lebak.

Sesuai peraturan perundang-undangan, masalah hak ulayat masyarakat hukum adat dapat diselesaikan oleh pemerintah daerah terutama di tingkat kabupaten. 5 tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat; dan Keputusan Menteri Kehutanan No.32/.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang mengangkat tema Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif Terhadap Perilaku Transgender di Indonesia, sumber data yang diambil berupa buku-buku atau karya tulis

kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia,

Tujuan dari penyuluhan hukum ini adalah memberikan pemahaman dasar kepada masyarakat berkenaan dengan hak-hak dasar masyarakat terkait lingkungan hidup, tugas dan

Penyusunan seri Buku Saku Status Merkuri pada Sektor Pertambangan Emas Skala Kecil di Indonesia ini merupakan kali pertama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan selaku

Dalam konteks demikian masyarakat Indonesia masih dalam taraf masyarakat yang “takut” pada (aparat penegak) hukum dan belum dapat dikategorikan sebagai masyarakat yang

Praktik omnibus law dapat mengancam sektor agraria dan lingkungan hidup, aturan tersebut tidak adanya peran serta masyarakat dan masyarakat hukum adat dalam

Dani Amran Hakim, Politik Hukum Lingkungan Hidup di Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Fiat Justisia Jurnal

Tidak ada jaminan apapun terhadap hak masyarakat hukum adat sebagai bagian dari Warga Negara Indonesia.3 Keterkaitan dengan penataan aset didalam legalisasi atau pendaftaran sertifikat