• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Hukum Waris Islam - Universitas Islam Sultan Agung Semarang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF Hukum Waris Islam - Universitas Islam Sultan Agung Semarang"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

Kerabat yang menyebabkan seorang ahli waris menerima harta warisan adalah mereka yang berjenis kelamin laki-laki dan kuat jasmani. Al-Nisa': 7 dan 127 yaitu ahli waris laki-laki dan perempuan, termasuk anak, masing-masing berhak menerima warisan menurut bagian yang ditentukan;

AHLI WARIS DAN BAGIAN-BAGIANNYA

Ahli waris terdiri dari janda, ibu dan saudara kandung (saudara laki-laki, ayah atau ibu). Ahli waris terdiri dari janda, ibu dan dua saudara kandung atau lebih (saudara laki-laki, ayah atau ibu).

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN HUKUM KEWARISAN ISLAM

Di antara pasal-pasal yang dapat memasukkan kesetaraan gender dalam Kompendium Hukum Islam (KHI) adalah: Pasal 1 huruf (f) yang sangat penting. Kumpulan Hukum Islam (KHI) Pasal 77 sampai 79 tentang hak dan kewajiban serta kedudukan suami istri.

PERKEMBANGAN HUKUM KEWARISAN

Dalam Kompendium Hukum Islam (KHI), rumusan ketentuan hukum waris sedikit banyak sesuai atau berkompromi dengan hukum adat. Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam (IHK) menyebutkan pada ayat (1) “Harta warisan anak angkat dibagi berdasarkan pasal 176 sampai 193 di atas, sedangkan bagi orang tua angkat tidak dibagi.” Pasal 176 Kompendium Hukum Islam (KHI) mengatur besarnya bagian antara anak laki-laki dan anak perempuan dalam pembagian warisan.

Pasal-pasal Kumpulan Hukum Islam tentang pemeliharaan keutuhan harta warisan yang merupakan bagian dari anak di bawah umur oleh walinya adalah: (b) perwalian berlangsung sampai anak itu berumur 21 tahun (Pasal 107 KHI), walinya adalah sedapat-dapatnya dari keluarga anak (ayat 4 Pasal 107 KHI), perwalian meliputi harta benda anak (ayat 2 Pasal 107 KHI), wali bertanggung jawab atas harta benda orang yang berada di bawah pengawasannya (ayat tiga KHI). Pasal 110 KHI). ),. Namun Kompilasi Hukum Islam (KHI) tidak memberikan patokan yang jelas kapan hibah kepada anak dianggap sebagai warisan. Kumpulan Hukum Islam (KHI) ternyata memilih pendapat yang membolehkan penarikan kasuistik jika terjadi pemberian antara orang tua dan anak.

TRANSFORMASI HUKUM ISLAM KE DALAM HUKUM NASIONAL

Peranan putusan pengadilan agama (case law) di sini adalah sebagai media untuk mentransformasikan aturan-aturan yang timbul dari ajaran Islam dan peraturan perundang-undangan menjadi bagian dari sistem hukum nasional. Dengan demikian, tidak akan ada lagi dualisme antara hukum Islam dan hukum nasional, karena hal ini akan sepenuhnya tercermin dalam hukum perkara. Transformasi hukum Islam menjadi peraturan perundang-undangan nasional, selain peraturan perundang-undangan itu sendiri, juga banyak mentransformasikan asas-asas hukum Islam yang dimasukkan ke dalam hukum nasional.

Contohnya adalah kerjasama Mahkamah Agung dan Kementerian Agama dalam penyusunan Kompendium Hukum Islam (KHI). Dengan cara ini para ulama mentransformasikan hukum Islam (fiqh) dengan hukum yang sudah ada dalam bentuk hukum adat. Yurisprudensi Mahkamah Agung tersebut di atas berbeda dengan norma hukum yang sah dalam Al-Qur'an dan Kompendium Hukum Islam (KHI) yang menentukan bagian ahli waris pada al-furud al-muqaddara (bagian yang ditentukan). dengan kepastian).

WUJUD DAN PERTIMBANGAN HUKUM DALAM PUTUSAN IJTIHAD

Mengingat, berdasarkan hasil pemeriksaan di Pengadilan Agama, diputuskan bahwa saudara laki-laki ahli waris mendapat bagian warisan bersama dengan anak perempuan ahli waris. Artinya saudara laki-laki ahli waris tidak berjilbab atau tertutup oleh anak perempuan ahli waris. Pengadilan Agama Tinggi Mataram menuntut agar harta warisan ahli waris dibagi kepada ahli waris yang terdiri dari anak perempuan dan saudara laki-laki ahli waris.

Berbeda dengan penafsiran di atas, Ibnu Abbas sahabat Rasullah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kata “walad” (anak) pada ayat di atas mencakup laki-laki dan perempuan. Sejalan dengan pengertian tersebut, menurut mereka, kata “walad” dalam surat an-Nisa’ ayat 176 juga mencakup laki-laki dan perempuan. Dalam pandangan ini, baik anak laki-laki maupun anak perempuan masing-masing melindungi (menguntungkan) saudara kandung ahli warisnya untuk mendapatkan atau mewarisi harta warisan ahli waris.

BAB VII

METODE IJTIHAD HAKIM PERADILAN AGAMA TENTANG

Putusan MA di atas pada kasus pertama tampaknya bertentangan dengan Kompendium Hukum Islam (KHI) yang menyatakan demikian. Metode ijtihad hakim pengadilan agama dalam memutus perkara pada kedudukan di atas tidak lepas dari metode “maqashid al-syari’ah”. Dalam hal ini hakim pengadilan agama melakukan ijtihad untuk memberikan tafsir dan penafsiran terhadap nash dan Kumpulan Hukum Islam (KH) dalam upaya mengembangkan nash (tahrij al-ahkam 'ala nash al-qanun) agar tertata dengan baik. untuk mencapai maqashid al-syari'ah, yaitu keadilan (aspek filosofis) dan kemanfaatan (aspek sosiologis).

Menimbang bahwa putusan Mahkamah Agung dalam perkara kedudukan di atas nampaknya merupakan penyimpangan terhadap norma hukum yang terdapat dalam Al-Quran, as-Sunnah dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), yang dapat dikagumi oleh putri ahli waris. saudara laki-laki atau perempuan kandung. Ahli waris dan anak-anak non-Muslim. Ahli waris yang beragama Islam tetap menerima warisan dengan wasiat wajib, maka metode istinbat hukum yang digunakan Mahkamah Agung adalah penerapan maqashid al-syari'ah dengan gaya penalaran ta'lili dengan menggunakan metode istihsan. Dalam Al-Qur'an dan Sunnah, serta dalam Kompilasi Hukum Islam, itulah kaidah atau norma hukum. Kedua ijtihad tersebut dapat berjalan dengan baik apabila dalam hal ini hakim Pengadilan Agama juga dapat memahami maqashid al-syari’ah dengan baik.

PERAN IJTIHAD HAKIM PERADILAN AGAMA

HUKUM ISLAM UNTUK MENGANTISIPASI PERKEMBANGAN

KEHIDUPAN KELUARGA MUSLIM DI INDONESIA

Dari sudut pandang sosiologi, Pengadilan Agama bukanlah suatu lembaga yang seratus persen otonom dalam masyarakat, namun hadir bersama-sama dengan berbagai lembaga lain yang dibutuhkan masyarakat. Dalam konteks makro, Peradilan Agama dimasukkan bersama dengan sistem sosial dan dinamikanya dalam hukum yang ada. Sehubungan dengan konsep di atas, maka apa yang dihasilkan oleh Pengadilan Agama (dalam bentuk putusan) selalu merupakan keluaran dari hasil pertukaran tersebut di atas.

Undang-undang dalam pelaksanaannya (penerapannya) di peradilan agama mengalami “reinterpretasi etik” sebelum muncul sebagai suatu putusan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Pengadilan Agama bukanlah badan yang sepenuhnya independen, namun terus mengalami pertukaran dengan lingkungan yang lebih besar. Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa Peradilan Agama merupakan “lembaga yang dinamis”, sebagai lembaga yang menata kembali masyarakat, yang menafsirkan teks-teks hukum (Kompilasi Hukum Islam) dalam konteks masyarakat dan perubahannya.

KAIDAH HUKUM YANG DAPAT DIAMBIL DARI IJTIHAD HAKIM PERADILAN AGAMA

Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) Bab II tentang ahli waris, Pasal 174 mengatur: (1) golongan ahli waris terdiri atas (a) menurut golongan darah: golongan laki-laki terdiri atas bapak, anak, paman, dan kakek. Kaidah hukum yang dapat diambil dari ijtihad hakim pengadilan agama mengenai perkembangan hukum Islam tentang waris dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) adalah bahwa kata ‘aulat’ mencakup baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Putusan ijtihad hakim Pengadilan Agama tentang perkembangan hukum waris Islam dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dapat dimasukkan ke dalam hukum nasional.

Dengan demikian, terdapat refleksi sinergi yang tercermin dalam pembentukan hukum Islam dan penerapannya (penerapan atau keputusan) hukum, yang memadukan lahirnya pemahaman agama (yang dimiliki umat Islam) dengan pemahaman nasional (yang dimiliki umat Islam). masyarakat umum atau seluruh bangsa). Selain kontribusi melalui ijtihad hakim pengadilan agama mengenai perkembangan hukum waris Islam dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) terhadap peraturan perundang-undangan nasional, kontribusi tersebut secara umum dapat berupa kontribusi berupa prinsip-prinsip hukum Islam yang mendasari suatu aturan hukum. Dalam kasus seperti ini, hakim dapat menerapkan prinsip-prinsip atau kaidah-kaidah hukum Islam yang diyakini dapat memberikan rasa keadilan bagi para pencari keadilan.

KOMPILASI HUKUM ISLAM BUKU II

HUKUM KEWARISAN

AHLI WARIS

Pasal 175 (1) Kewajiban ahli waris terhadap ahli waris adalah: mengurus dan menyelesaikan penguburan jenazah; melunasi utang-utang berupa pengobatan, pemeliharaan, termasuk kewajiban ahli waris dan penagih utang; membagi harta warisan kepada ahli waris yang sah. Para ahli waris dapat bersepakat untuk berdamai dalam pembagian harta warisan, setelah masing-masing mengetahui bagiannya. Bagi ahli waris yang belum dewasa atau yang tidak mampu memenuhi hak dan kewajibannya, diangkat seorang wali berdasarkan keputusan hakim atas usul anggota keluarga.

Para ahli waris baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri dapat mengajukan permohonan kepada ahli waris yang lain untuk membagi harta warisan. Jika ada di antara ahli waris yang tidak menyetujui permintaan tersebut, yang bersangkutan dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Agama untuk membagi warisan. Apabila ahli waris tidak meninggalkan ahli waris sama sekali dan tidak diketahui ahli warisnya atau tidak, maka penguasaan harta tersebut diserahkan kepada Baitul Mal dengan keputusan Pengadilan Agama untuk kepentingan agama Islam dan kesejahteraan umum.

AUL DAN RAD

Bagi ahli waris yang mempunyai lebih dari seorang isteri, maka setiap isteri berhak mendapat bahagian utama rumah bersama suaminya, manakala seluruh bahagian ahli waris adalah hak ahli waris. Jika dalam pusaka antara ahli waris Xhavil furud menunjukkan bahawa pengangkanya lebih kecil daripada penyebutnya, sedangkan tidak ada waris asaba, maka pembahagian harta pusaka dilakukan mengikut hak setiap ahli waris manakala bahagian yang selebihnya dibahagikan sama rata antara mereka. .

WASIAT

Wasiat dalam bentuk hasil objek atau penggunaan objek mesti diberikan untuk tempoh masa tertentu. Jika anda menderma harta dalam bentuk harta tak alih, jika atas sebab yang sah ia mengecut atau mengalami kerosakan yang berlaku sebelum kematian pewasiat, waris wasiat hanya akan menerima harta yang tinggal. Sekiranya wasiat melebihi satu pertiga daripada harta pusaka dan ahli waris tidak bersetuju, wasiat hanya akan dilaksanakan sehingga satu pertiga daripada harta pusaka.

Sekiranya wasiat bertujuan untuk pelbagai aktiviti yang baik sedangkan harta wasiat tidak mencukupi, waris boleh menentukan aktiviti mana yang diutamakan. Pada masa perang, anggota angkatan tentera dan mereka yang merupakan sebahagian daripada angkatan tentera dan berada di zon pertempuran atau di tempat yang dikelilingi oleh musuh, boleh membuat wasiat di hadapan seorang komander kanan dengan kehadiran dua orang. untuk memberi keterangan. Mereka yang melakukan perjalanan melalui laut boleh membuat wasiat di hadapan nakhoda atau nakhoda kapal, dan jika pegawai itu tidak ada, hendaklah dibuat di hadapan seseorang yang menggantikannya, di hadapan dua orang saksi.

HIBAH

Tidak diperkenankan wasiat bagi orang yang memberikan perawatan kepada seseorang dan bagi orang yang memberikan bimbingan rohani pada saat sakit dan menjelang ajalnya, kecuali sudah jelas dan ditentukan bahwa jasa itu akan mendapat imbalan.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis, maka dapat disimpulkan bahwa sistem ahli waris pengganti dalam kedua hukum kewarisan, hukum kewarisan Islam dan hukum kewarisan

Putusan Hakim tersebut, jika dirujuk berdasarkan Pasal 185 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam bahwa: (1) ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada si pewaris, maka

Penelitian ini ditulis berdasarkan latar belakang yang terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam sebagaimana termuat dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada buku II hukum kewarisan,

30 Menurut Kompilasi Hukum Islam ahli waris adalah sebagaimana di atur dalam Buku II Hukum Kewarisan , BAB I ketentuan umum , dalam Pasal 171 huruf (c) : “Ahli Waris

2, 2017, Indah Sari, Pengaturan Pembagian Hak Kewarisan Kepada Ahli Waris Dalam Hukum Waris Islam Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam KHI.. Jurnal Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas

Kajian komparasi antara lain dilakukan dengan menggali nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat yaitu terhadap hukum agama dengan maksud untuk mempelajari konsep/sistem hukum yang

Seseorang yang berprilaku secara khusus adalah karena diperintahkan hukum, atau karena tindakan hukum atau dari pejabat.17 Indonesia yang memiliki budaya hukum kolektif- komunal

25.000 belum termasuk ongkos kirim Jurnal Hukum Terbit Perdana Maret 1992 dengan nama MAJALAH HUKUM KALIGAWE Nomor ISSN 0854-3941 Mulai Maret 1999 berubah nama menjadi JURNAL HUKUM