• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identitas Kebudayaan Daerah Mandar

N/A
N/A
Irwan Syamsir

Academic year: 2025

Membagikan " Identitas Kebudayaan Daerah Mandar"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

MITOS HANTU LAUT DI MANDAR M. IRWAN

Kemahsyuran tradisi lisan selalu menjadi wacana yang terus dibicarakan untuk mengungkap identitas kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia. Meskipun tradisi lisan sebagaimana sifatnya cukup lentur karena produksinya melalui verbal yakni disebar dari mulut ke mulut saja, namun, telah berhasil mengidentifikasi cara hidup di setiap kolektif masyarkat tertentu. Produksi tradisi lisanlah yang kemudian melahirkan mantra, lagu daerah, dan juga cerita rakyat. Menariknya adalah masyarakat sudah bisa dilihat daya ungkapnya atau kepekaannya dalam menyampaikan hal di sekitar, sehingga bisa dibilang mereka sudah punya pengetahuan puitik karena selalu menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang metaforis, penuh pengandaian, dan imajinasi yang liar. Misalnya ketika kita mendengar cerita rakyat, selalu kita temukan hal yang tidak rasional atau tidak masuk akal karena sering bertentangan dengan apa yang umum terjadi. Seperti tokoh manusia yang terbang, raksasa, serta hewan hewan yang bisa berbicara sehingga cerita cerita seperti demikian, dianggap sebagai mitos karena kebenarannya tak bisa dibuktikan. Namun patut kita akui, bahwa justru cerita cerita mitos tersebut digemari oleh anak anak setiap orang tua bercerita di tengah malam suntuk sebagai pengantar tidur. Bahkan, karena seringnya diceritakan dan diteruskan dari generasi ke generasi, cerita cerita itu tak pernah terlupa dan menjadi satu wujud identitas budaya. Fakta inilah yang bisa kita sebut sebagai kemahsyuran tradisi lisan kita.

Tanah Mandar, adalah satu wilayah sekaligus nama suku yang ada di provinsi Sulawesi Barat. Sebagai etnis besar, kolektif Mandar berada di tiga tempat, yang bisa kita bagi menjadi tiga, yakni pegunungan, pesisir, dan kota. Dua yang kita sebut yakni pegunungan dan pesisir adalah adalah tempat di mana lahirnya tradisi lisan yang di awal penulisjelaskan seperti cerita rakyat, lagu lagu daerah, mantra dan sebagainya.

Cerita rakyat, salah satu yang paling banyak ditemukan jejaknya dari para penutur yang masih hidup. Meski para penutur sudah bisa dihitung jari dan terbata bata menceritakannya, namun, dengan segala upaya perekaman atas jejak cerita cerita tersebut masih bisa penulis lakukan dengan melakukan komunikasi intens dengan penutur yang ada di daerah. Hal inilah yang memantik penulis untuk melakukan pendokumentasian cerita rakyat, disamping karena penutur yang sudah langka dan umurnya sudah sepuh, juga dianggap penting untuk generasi hari ini yang bisa dibilang krisis identitas karena orang tua mereka pun tidak lagi melakukan pewarisan atas cerita cerita rakyat di Mandar.

Cerita rakyat di pesisir Mandar, yang palig populer adalah cerita cerita mengenai hantu laut, karena disamping, laut memang sering dimitoskan sebagai tempat yang paling banyak misteri, maka wajar cerita akan hantu laut akan lahir di sekitar masyrakat pesisir. Salah satu yang paling akrab dengan penulis adalah cerita tentang Kawao. Kawao adalah gurita hantu yang ditakuti oleh nelayan Mandar karena bisa menenggelamkan perahu dan menghilangkan nelayan di laut. Kawao dimitoskan tinggal di segitiga bermuda, atau di palung paling menyeramkan bagi nelayan Mandar. Begitulah cerita yang sering terdengar di sekitar masyarakat pesisir dan menjadi mitos yang paling populer namun menyeramkan setiap kali masyarakat pesisir menceritakannya. Hal inilah yang membuat penulis bersemangat untuk membawanya ke pertunjukan teater agar tak hanya menjadi mitos dan cerita lepas namun justru bisa dihadirkan dalam pertunjukan teater modern.

(2)

Sebagai masyarakat yang berasal dari pesisir Mandar, penulis merasa bertanggung jawab untuk mengidentifikasi cerita rakyat di sekitar pesisir yang bisa diperdengarkan lagi ke masyarakat hari ini. Ada begitu banyak cerita rakyat di pesisir yang juga tumbuh dari tradisi lisan dan jejaknya masih banyak kita dengar dari para masyarakat. Sayangnya, jejak tersebut hanyalah jadi tuturan lisan yang hanya tinggal di mulut dan pikiran mereka, terlebih kini tidak diajarkan lagi karena seperti di awal, masyarakat terlanjur larut dalam modernitas sehingga melupakan kebudayaannya. Merasa bahwa cerita rakyat dari pesisir sangatlah penting untuk generasi hari ini, itulah yang menjadi landasan utama penulis untuk mengambil satu cerita yang sekiranya dapat menjadi alarm yang mengingatkan bahwa betapa berharganya cerita rakyat. Modernitas, yang tak bisa dinafikan, menjadi tantangan bagi penulis untuk bisa menghadirkan cerita rakyat dalam bentuk yang lebih akrab dengan masyarakat hari ini.

Cerita rakyat di pesisir Mandar, yang palig populer adalah cerita cerita mengenai hantu laut, karena disamping, laut memang sering dimitoskan sebagai tempat yang paling banyak misteri, maka wajar cerita akan hantu laut akan lahir di sekitar masyrakat pesisir. Salah satu yang paling akrab dengan penulis adalah cerita tentang Kawao. Kawao adalah gurita hantu yang ditakuti oleh nelayan Mandar karena bisa menenggelamkan perahu dan menghilangkan nelayan di laut. Kawao dimitoskan tinggal di segitiga bermuda, atau di palung paling menyeramkan bagi nelayan Mandar. Begitulah cerita yang sering terdengar di sekitar masyarakat pesisir dan menjadi mitos yang paling populer namun menyeramkan setiap kali masyarakat pesisir menceritakannya. Hal inilah yang membuat penulis bersemangat untuk membawanya ke pertunjukan teater agar tak hanya menjadi mitos dan cerita lepas namun justru bisa dihadirkan dalam pertunjukan teater modern.

Pertunjukan teater modern adalah salah satu jenis kesenian yang cukup diminati oleh banyak orang. Berbagai tema telah dihadirkan dalam pertunjukan teater dan menjadi daya tarik tersendiri untuk melihat bagaimana persoalan di sekitar dapat disaksikan di atas panggung melalui komposisi yang diperankan oleh aktor dan adegan yang disusun apik oleh penulis naskah dan sutradara.

Berdasar permasahan akan terancam punahnya tradisi lisan terutama cerita rakyat di Mandar, penulis pun memutuskan untuk mengambil salah satu cerita rakyat yang ada di pesisir sebagai cerita yang akan didekonstruksi dalam pertunjukan teater modern untuk membawa sudut pandang baru dan berbagai perspektif yang bisa dihadirkan nantinya.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap fungsi pelaku dalam cerita rakyat ”Madege Mataram” dan mengungkap motif cerita dalam cerita rakyat ”Madege Mataram”. Metode

inti tradisi lisan ( folklore ) merupakan sesuatu yang menjadi bagian dari identitas dari suatu. komunitas yang dikomunikasikan secara lisan berupa ideologi,

Cerita rakyat adalah salah satu bentuk folklor dan salah satu bentuk karya sastra yang hidup ditengah masyarakat. Cerita Dewi Rengganis dalam Tradisi Lisan menerangkan

Dialek ngapak, ungkapan tradisional serta cerita prosa rakyat merupakan bagian dari folklor lisan yang sekaligus merupakan bagian kebudayaan Banyumas yang mempunyai

Cerita rakyat adalah cerita zaman dahulu yang hidup di masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun atau secara lisan dan berkembang dalam masyarakat.. Legenda merupakan cerita

Bagi masyarakat pemilik cerita rakyat daerah dalam konteks menumbuhkan sikap kepemilikan terhadap budaya dan tradisi lisan; hasil analisis dapat dijadikan media

Keberadaan cerita Panji dalam masyarakat dan kebudayaan Bali tersimpan di berbagai ranah, baik dalam teks-teks cerita rakyat, sastra kidung dan geguritan (macapat),

Penulis menggunakan data ini, berupa foto- foto tentang tradisi Ruwatan Bulan Purnama, hasil wawancara atau cerita lisan dari narasumber, adapun narasumber tersebut adalah