• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ilmu Gizi - Perpustakaan Poltekkes Malang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Ilmu Gizi - Perpustakaan Poltekkes Malang"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

Anemia pada remaja putri masih cukup tinggi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (2013), prevalensi anemia secara global berkisar antara 40-88%. Program pemberian suplementasi zat besi atau tablet suplemen darah kepada remaja putri diharapkan dapat membantu memutus siklus malnutrisi antargenerasi (WHO 2005). Keluarga dapat berperan aktif dalam memantau bagaimana remaja putri mengonsumsi tablet penambah darah di rumah saat menstruasi.

Kurangnya kesadaran remaja putri untuk mengonsumsi tablet penambah darah, serta kurangnya dukungan dari pihak luar untuk mengingatkan mereka agar mengonsumsi tablet. Tambah Darah menjadi salah satu penyebab rendahnya kepatuhan remaja putri dalam mengkonsumsi tablet Tambah Darah.

Pengetahuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi

Analisis adalah kemampuan menggunakan bahan atau suatu objek dalam komponen-komponennya, namun tetap dalam suatu struktur organisasi dan masih berkaitan satu sama lain. Sintesis mengacu pada kemampuan untuk menempatkan atau menghubungkan bagian-bagian menjadi satu kesatuan yang baru. Kandungan energi tubuh bergantung pada ukuran dan komposisi tubuh dan dapat dihitung berdasarkan kedua hal tersebut.

Sumber energi yang sangat terkonsentrasi adalah makanan sumber lemak, seperti lemak dan minyak, kacang-kacangan dan biji-bijian. Makanan sumber protein yang baik baik kuantitas maupun kualitasnya, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan, dan kerang.

Tabel 2.1. Nilai Energi Berbagai Bahan Makanan  Bahan Makanan  Nilai
Tabel 2.1. Nilai Energi Berbagai Bahan Makanan Bahan Makanan Nilai

Anemia

Pada tahap awal, simpanan zat besi menurun dalam bentuk feritin dan hemosiderin, dan penyerapan zat besi meningkat. Kapasitas pengikatan zat besi meningkat ketika simpanan zat besi di sumsum tulang dan hati menurun. Jika darah yang keluar saat haid banyak, berarti jumlah zat besi yang hilang dari tubuh juga cukup besar.

Kehilangan darah akibat schistosomiasis, infestasi cacing dan trauma dapat menyebabkan kekurangan zat besi dan anemia. Intensitas infeksi cacing tambang yang menyebabkan anemia defisiensi besi bervariasi tergantung spesies dan status zat besi suatu populasi. Penelitian pada atlet wanita menunjukkan bahwa kehilangan zat besi melalui keringat menurun seiring berjalannya waktu.

Sementara itu, daging dan pangan hewani sebagai sumber zat besi yang baik (zat besi heme) jarang dikonsumsi terutama oleh masyarakat pedesaan (Departemen Kesehatan 1998). Sayuran berdaun hijau memiliki kandungan zat besi yang tinggi sehingga jika dikonsumsi secara rutin akan meningkatkan cadangan zat besi dalam tubuh. Penyerapan zat besi dapat bervariasi antara 1-40 persen, tergantung faktor pendorong dan penghambat pola makan (WHO 2001).

Menurut FAO/WHO (2001), faktor-faktor yang mendorong penyerapan zat besi meliputi: Zat besi heme, ditemukan dalam daging, unggas, ikan dan makanan laut; Hal ini menggambarkan rendahnya asupan makanan sumber zat besi, khususnya makanan hewani (Bartley et al 2005). Upaya pencegahan dan pengendalian anemia dilakukan dengan memastikan kecukupan asupan zat besi dalam tubuh untuk meningkatkan pembentukan hemoglobin.

Penyerapan zat besi dapat dihambat oleh zat lain, seperti tanin, fosfor, serat, kalsium dan fitat. Pemberian TTD dalam dosis yang tepat dapat mencegah anemia dan meningkatkan cadangan zat besi dalam tubuh.

Tabel 2.4  Penggolongan anemia menurut kadar Hb
Tabel 2.4 Penggolongan anemia menurut kadar Hb

Jenis Penelitian

Waktu dan Tempat Penelitian

Populasi dan sampel 1. Populasi Penelitian

Hal ini berdasarkan asumsi peneliti bahwa ada siswi kelas 1 yang belum mengalami menstruasi, sedangkan siswi kelas 3 sedang bersiap untuk lulus.

Variabel Penelitian 1. Variabel terikat

Kuesioner sebelum dan sesudah tes. Rata-rata pengeluaran energi dalam 2 hari diperoleh dari konsumsi makanan dan minuman.

Tabel 3.1. Definisi Operasional Variabel Penelitian  No  Variabel  Definisi  Cara Ukur  Alat Ukur  Hasil
Tabel 3.1. Definisi Operasional Variabel Penelitian No Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil

Prosedur dan Intervensi Penelitian

Metode Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan yaitu

Data pengetahuan responden tentang anemia dan gizi seimbang diperoleh dengan pemberian pre-test dan post-test yang dilakukan sebelum dan sesudah penggunaan kartu sehat rheumatoid. Data konsumsi tablet penambah darah diperoleh dengan pengisian kartu sehat remaja langsung oleh responden dan diberitahukan kepada orang tua dan guru yang dilakukan secara rutin setiap minggu. Data antropometri berat badan (BB), tinggi badan (TB) dan lingkar lengan atas (LILA) diperoleh dengan pengukuran langsung menggunakan alat pedometer digital, microtoise dan pita ukur LILA.

Pengolahan dan Analisis Data

Bandingkan atau mengetahui pengaruh pemberian kartu sehat pada anak di bawah umur terhadap pengetahuan, konsumsi energi, konsumsi protein, konsumsi tablet suplemen darah (TTD), kadar hemoglobin dengan menggunakan uji Independent Paired t Test.

Gambaran Umum Responden

Selisih rata-rata skor pengetahuan sebelum dan sesudah menunjukkan peningkatan nilai pengetahuan sebesar 29,95. Hasil tersebut membuktikan bahwa terdapat pengaruh tingkat pengetahuan siswi antara sebelum dan sesudah menerima kartu Rematri setelah tiga bulan. Dapat disimpulkan bahwa pemberian kartu kesehatan remaja dapat meningkatkan tingkat pengetahuan remaja putri secara umum sebesar 29,95.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat pengetahuan tentang anemia sebelum dan sesudah menerima informasi gizi menggunakan leaflet. Pengeluaran energi ditentukan dengan membandingkan rata-rata pengeluaran energi selama 2 hari yang diperoleh dari makanan dan minuman yang dikumpulkan dengan metode recall 2x24 jam dan hasilnya dibandingkan dengan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dikoreksi berdasarkan kondisi tubuh. responden. berat. Berdasarkan tabel 4.3 terlihat rata-rata konsumsi energi sebelum intervensi sama tinggi dengan setelah perlakuan, yaitu karena diterbitkannya Kartu Rematri Sehat.

Selisih rata-rata konsumsi energi sebelum dan sesudahnya menunjukkan penurunan sebesar 84,51 kkal. Hasil uji statistik menunjukkan rata-rata konsumsi energi siswi SMP I Ngajum terdapat perbedaan konsumsi energi yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi (p=0,002). Hasil tersebut membuktikan bahwa terdapat dampak terhadap konsumsi energi antara sebelum dan sesudah penerbitan kartu Rematri setelah tiga bulan.

Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa pemberian konseling sederhana dengan media Kartu Rematri Sehat belum mampu meningkatkan pengeluaran energi siswi. Penurunan pengeluaran energi yang terjadi setelah mendapat pengobatan disebabkan oleh kebiasaan yang salah dari mayoritas responden +70% tidak pernah sarapan pagi. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sudikno dan Sandjaja (2016) tentang prevalensi dan faktor risiko anemia pada wanita usia subur pada rumah tangga miskin di Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis Provinsi Jawa Barat, dimana konsumsi energi sebagian besar responden berada pada kisaran kategori defisit (78,8%) .

Tabel 4.3. Rerata Konsumsi Energi Responden sebelum dan sesudah pemberian kartu  sehat rematri
Tabel 4.3. Rerata Konsumsi Energi Responden sebelum dan sesudah pemberian kartu sehat rematri

Konsumsi Protein

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dan recall yang dilakukan terhadap responden, dimana salah satu penyebab rendahnya konsumsi juga karena kebiasaan tidak sarapan pagi. Berdasarkan Tabel 4.4 terlihat rata-rata konsumsi protein sebelum intervensi adalah 22,59 ± 7,35 setelah perlakuan yaitu dengan pemberian kartu sehat Rematri. Selisih rerata skor asupan protein sebelum dan sesudah menunjukkan penurunan sebesar 7,56 gr.

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi protein siswa SMP I Ngajum menunjukkan adanya perbedaan konsumsi protein yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi (p=0,000). Hasil tersebut membuktikan bahwa terdapat pengaruh konsumsi protein antara sebelum dan sesudah pemberian Kartu Rematri setelah tiga bulan. Hasil tersebut juga membuktikan bahwa sekedar menerima penyuluhan melalui media Kartu Rematri Sehat tidak berpengaruh terhadap konsumsi protein siswi.

Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan konsumsi protein yang terjadi setelah diberikan perlakuan, hal ini disebabkan oleh jenis makanan yang dikonsumsi sebagian besar responden tidak sesuai dengan kecukupan gizi yang dianjurkan. Hal ini dapat diketahui berdasarkan hasil recall dimana sumber protein yang paling banyak terdapat pada komponen makanan sampingan hanya diartikan dalam bentuk lauk nabati (tahu dan tempe) dalam jumlah yang sangat sedikit. Hal ini sesuai dengan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 1999 yang menunjukkan bahwa secara nasional rata-rata konsumsi protein harian penduduk Indonesia adalah 48,7 gram per hari (Almatsier, 2009).

Konsumsi protein responden tergolong kurang dibandingkan dengan AKG yang rata-rata sebesar 50,97% atau 29,45 gram/hari. Hal serupa juga terjadi pada penelitian di Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis yang dilakukan oleh Sudikno dan Sandjaja (2016), dimana konsumsi protein sebagian besar responden masuk dalam kategori defisiensi (81,5%). Penurunan konsumsi protein ini sama dengan penelitian Silalahio, dkk (2015) tentang potensi pendidikan gizi dalam meningkatkan asupan gizi pada remaja putri anemia di kota Medan yang menyatakan bahwa asupan protein menurun.

Konsumsi Tablet Tambah Darah

Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan gizi yang disampaikan melalui metode ceramah tanya jawab dengan bantuan booklet dapat meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang anemia. Namun, tidak berpotensi meningkatkan asupan makanan protein, vitamin C, vitamin A, asam folat, zat besi, seng, dan tembaga. Pembagian pemberian tablet suplemen darah pada penderita rematik di SMPN 1 Ngaju sebelum dan sesudah pembagian kartu sehat kepada penderita rematik.

Minimnya kegiatan pemberian informasi yang bekerjasama dengan pihak sekolah menyebabkan pengetahuan dan kesadaran responden terhadap tablet suplemen darah kurang, sehingga banyak responden yang belum mengkonsumsi tablet suplemen darah yang dianjurkan pada awal penelitian yaitu 100% responden. dengan rata-rata konsumsi tablet suplemen darah hanya 0,25 tablet. Penggunaan kartu kesehatan remaja memudahkan responden dalam memantau konsumsi tablet suplemen darah dan memudahkan guru UKS dalam memantau dan memantau kepatuhan konsumsi tablet suplemen darah. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Permatasari dkk (2016) mengenai efektivitas program suplementasi zat besi pada remaja putri di Kota Bogor yaitu hanya 28,6% responden yang menggunakan tablet suplemen darah sesuai anjuran.

Hemoglobin

Berdasarkan tabel 4.7 terlihat rata-rata hemoglobin sebelum dilakukan intervensi adalah 13,26 ± 0,89 setelah diberikan pengobatan yaitu dengan pemberian Kartu Rematri Sehat. Selisih rerata jumlah hemoglobin sebelum dan sesudah menunjukkan peningkatan sebesar 0,19 mg/dl. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rerata hemoglobin siswa SMP I Ngajum terdapat perbedaan yang signifikan pada hemoglobin sebelum dan sesudah diberikan intervensi (p=0,003).

Hasil tersebut membuktikan bahwa pemberian penyuluhan dengan media Kartu Rematri Sehat berpengaruh terhadap kepatuhan konsumsi tablet suplemen darah siswi sehingga menyebabkan peningkatan kadar hemoglobin. Kepatuhan minum tablet suplemen darah dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor tenaga kesehatan dan faktor diri sendiri seperti kesadaran dalam penggunaan tablet Fe. Kepatuhan terhadap asupan suplemen zat besi atau pemberian tablet Fe sangat mempengaruhi perubahan kadar hemoglobin, dimana kadar hemoglobin normal maka status anemia juga akan normal, sehingga dapat mencegah dan mengatasi anemia defisiensi besi (Yuniarti, 2015).

Hal inilah yang mendorong mahasiswi untuk mengonsumsi tablet darah ekstra dan dapat meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Angkaita, (2003) juga menyatakan bahwa pemberian tablet suplemen darah seminggu sekali selama 12 minggu yang dikombinasikan dengan pemberian vitamin C dan protein hewani dapat meningkatkan kadar hemoglobin.

Tabel 4.7. Rerata Hemoglobin Responden sebelum dan   sesudah pemberian kartu sehat rematri
Tabel 4.7. Rerata Hemoglobin Responden sebelum dan sesudah pemberian kartu sehat rematri

Kesimpulan

Saran

Angkaita, Ida (2003) Perubahan kadar hemoglobin pada wanita usia subur di kota Surakarta sebelum dan sesudah pemberian tablet suplemen darah, vitamin V dan protein hewani. Cacing kremi, malaria dan kekurangan vitamin A berkontribusi terhadap anemia dan kekurangan zat besi pada ibu hamil di dataran Nepal. Karakteristik faktor yang mempengaruhi penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di desa Tangunan kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto.

Suplemen zat besi mingguan meningkatkan hemoglobin sama efektifnya dengan kombinasi mingguan dan harian pada remaja putri. Hubungan Kepatuhan Minum Tablet Fe Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri di MA Darul Imad Kecamatan Tatah Makmur Kabupaten Banjar.

Gambar

Tabel 2.1. Nilai Energi Berbagai Bahan Makanan  Bahan Makanan  Nilai
Tabel 2.2. Angka Kecukupan Protein menurut Kelompok Umur Dinyatakan  dalam Taraf Asupan Terjamin
Tabel 2.3. Nilai Protein Berbagai Bahan Makanan  Bahan Makanan  Nilai
Tabel 2.4  Penggolongan anemia menurut kadar Hb
+7

Referensi