• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMAN KEPADA QADA DAN QADAR

N/A
N/A
ari Indra Maulani

Academic year: 2024

Membagikan "IMAN KEPADA QADA DAN QADAR "

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

IMAN KEPADA QADA DAN QADAR

DISUSUN OLEH:

ARI INDRA MAULANI

(362310030)DESTIA NABILA N.

(362310116) FERI FERDIANTO (362310048)IMAM MUHAMMAD FAADHIL A . (362310033) DEVID JOHANSKA (362310096)

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS PELITA BANGSA

2023/2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah- Nyaterutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang mungkin sangat sederhana.

Shalawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat manusia di dunia dan akhirat.

Makalah ini berisi tentang Makna Iman Kepada Qada dan Qadar. Semoga makalah ini dapat digunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman dan juga berguna untuk menambah pengetahuan bagi para pembaca.Kami akui bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi

kesempurnaan makalah ini.

BEKASI, 29 OKTOBER 2023

PENULIS

i

(3)

DAFTAR ISI

Contents

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1 Latar belakang ... 1

Rumusan masalah ... 1

Tujuan Penulisan ... 1

Makna iman kepada qAda dan qadar ... 2

MENGIMANI TERHADAP TAKDIR BAIK DAN BURUK ... 5

BAB III ... 10 KESIMPULAN ... 10 Kesimpulan ... 10 Daftar Pustaka ... 11

(4)

ii

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Aspek agama Islam yang paling mendasar, dan bisa disebut pondasi dari setiap agama bila iman rusak, maka runtuhlah bangunan agama secara keseluruhan. Dalamagama Islam iman ini terbagi menjadi 6 yaitu: iman kepada Allah iman kepada Rasulullah Saw, iman kepada malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada hari akhir, kepada qada dan Qadar

Seperti yang kita ketahui kehidupan yang sedang kita jalani di dunia ini telah Allahtuliskan dalam kitab dalam kitab" lauhul Mahfudz "yang terjaga rahasianya dan tidak satupun makhluk Allah yang mengetahui isinya.

Semua kejadian yang telah terjadi adalah kehendak dan kuasa Allah SWT. Begitu pula dengan bencana-bencana yang akhir-akhir ini sering menimpa bangsa kita. Gempa, Tsunami, tanah longsor, banjir, Angin Ribut dan bencana-bencana lainnya yang telah melanda bangsakita adalah atas kehendak dan kuasa Allah SWT.

Beriman kepada Qada dan Qadar dalam kehidupan sehari-hari lebih populer dengan sebutan takdir beriman kepada Qada dan Qadar artinya percaya dan yakin bahwasanya Allah SWT memiliki kehendak keputusan dan ketetapan atas semua makhluk-Nya termasuk segala sesuatu meliputi semua kejadian yang menimpa seluruh makhluk hidup, termasuk manusia dan benda-benda yang ada di alam semesta. Orang yang benar-benar beriman kepada Qada dan Qadar akan senantiasa menjagaagar perilakunya baik dan berusaha menjauhi hal-hal yang buruk. Begitu juga sebaliknya.

Dalam makalah ini akan diuraikan mengenai persoalan qada dan qadar pembahasan makalah ini diharapkan kita semua bisa mendapatkan pemahaman yang bisa meningkatkankadar keimanan kita terhadap rukun iman yang telah ditetapkan khususnya iman kepada Qadadan Qadar.

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut.

1.Apa makna Iman kepada Qada dan Qadar

2.Bagaimana mengimani terhadap Takdir Baik dan Buruk 3.Bagaimana memahami takdir dan Doa dalam Bekerja

1.3 Tujuan Penulisan

Dari uraian latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka tujuan penulisanini sebagai berikut.

1.Untuk Memaparkan dan Mengkaji Lebih Dalam Tentang Iman Kepada Qada dan Qadar

1

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Makna iman kepada qAda dan qadar A.Iman kepada Qada

Menurut ilmu tauhid memiliki pengertian yaitu sesuatu yang sudah terjadi atau telah terjadi pada seseorang, artinya yaitu kejadian tersebut telah berlalu atau telah dilakukan. Secara umum qadha diartikan ketetapan Allah kepada setiap makhluk hidupnya yang bersifat Azali titik Azali artinya ketetapan itu sudah ada sebelum keberadaan atau kelahiran makhluk.

Misalnya Allah menentukan burung bisa terbang , ular berjalan tanpa kaki semuanya mengikuti ketentuan Allah. Qada juga diartikan sebagai ketentuan atau ketetapan yang akan terjadi pada waktu yang akan datang dan ketentuan itu hanya Allah yang membuat.

karena itu hanya Allah saja yang tahu.

Qada mengacu pada hukum, undang-undang, dan ketetapannya.Pengertian iman kepada Qada tercantum dalam beberapa ayat suci Al-quran misalnya:

a)Surah an-Nisa ayat 65 Qada berarti hukum atau keputusan

كّبَرَو ل نْوُنِمْؤُي ىّٰتَح كْوُمّكَحُي اَمْيِف رَج َش مُهَنْيَب ْمُث ّل اْوُدِجَي يِف مِهِسُفْنَا ْاًجَرَح اّمّم

سَت ْلَفاًمْيِل َ اْوُمّلَسُيَو

تْيَضَق "Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan

engkau(Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga)kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka

terhada

p putusan yang engkaube

rikan, dan mereka menerim

a dengan

sepenuhnya.."(QS. An-Nisa/4: 64)

b)Surah al-Hadid ayat 22 berarti mewujudkan atau menjadikan

ّّّ َا ب نِم صّم ِةَبْي ٍىِف ْْل َضْر لَو يِف مُكِسُفْنَا ْل يِف بٰتِك نّم لْبَق نَا اَرـْبّن َاَه ِاۗن ذ ٰكِل ىَلَع ّْلل ّٰاَمٌرْيِسَي صَا

"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanyatelah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya.

Sungguh,yang demikian itu mudah bagi Allah(QS. Al-Hadid/57: 22) c)Surah Ali Imran ayat 47 berarti kehendak

ْ قَضٰٰٓى اِذَا َشَاء مَا يَخْلُق ّللاٰ

ُ كَذٰلِك قَل َشَر يَمْسَسْنِي وّلَم وَلَد لِي يَكُوْن اَنّٰى رَبِ قَلَت

ۗي ۗب

فَيَكُوْن كُن لَه يَقُوْل فَاِنّمَا اَمْرًا

"Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya,

“Jadilah!”Maka jadilah sesuatu ituّ Inilah kemahakuasaan Allah, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Apa pun yang dikehendaki-Nya wujud pasti akan wujud tanpa seorang pun yangmampu menghalanginya."(QS. Ali-Imran/3: 47)

2

(7)

d)Surah al-Isra ayat 23 berarti perintah

كِلٰهُمَا اَو اَحَدُهُمَآٰ لْكِبَر عِنْدَك يَبْلُغَنّ اِمّا اِحْسٰنًا وَبِلْوَلِدَيْن اِيّاه ِلۗ ّٰٓ تَعْبُدُوْٰا َلّ رَبُك وَقَضٰى

وّل اُفٍ لّهُمَآٰ تَقُل فَلَ لّهُمَا وَقُل تَنْهَرْهُمَا

كَرِيْمًا قَوْلً "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia danhendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara

keduanya ataukedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlahengkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentakkeduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."(QS.

Al-Isra'/17: 23) B.Iman kepada Qadar

Qadar menurut ilmu tauhid, memiliki pengertian takdir di mana apabila diperluas pengertiannya yaitu sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah SWT Kepada hamba- hambanya baik bersifat perseorangan maupun golongan, baik tentang nasib perjalanan hidup atau tentang peraturan-peraturan yang ditetapkan.

Qadar dari segi bahasa berarti memutuskan suatu perkara atau juga diartikan sebagai ukuran atau ketetapan. Sedangkan secara istilah merupakan pengetahuan Allah SWT tentang segala makhluk-Nya dan alam semesta.

Qadar merupakan perwujudan atau realisasi dari Qada Allah SWT oleh karena itu baru dapat diketahui setelah sesuatu terjadi sehingga sering kita jumpai seseorang

mengatakan “ini memang sudah Takdirku”. Maka Allah berfirman dalam Quran Surah al- Ahzab Ayat 38.

َبْل مِن خَلَوْا لّذِين فِى ّللِّ سُنّة َه ّللُّ فَرَض فِيمَا حَرَج مِن لنّبِىِ عَلَى كَان مّاۚق ٱ ٱ ۖل ُۥ ٱ ٱ مّقْدُورًا قَدَرًا ّللِّ أَمْر وَكَانَٱ

"Tidak ada keberatan apa pun pada Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allahbaginya.

(Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku,"(QS. Al-Ahzab/

33:38)

Qadar dari segi bahasa berarti memutuskan suatu perkara Qadar Allah SWT padaseseorang berdasarkan Ketetapan Allah SWT bersama ikhtiar dan doanya. Seseorang yangtelah ditetapkan Allah dengan potensi kecerdasan rendah dapat berubah menjadi pandai Jikaia mau belajar keras dan berdoa dengan sungguh-sungguh seseorang yang ditetapkan Allahdengan rezeki secukupnya dapat berubah menjadi kaya Jika ia bekerja keras, hemat, danberdoa dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, Qadar yang sering disebut sebagai takdirseseorang dapat berubah jika ia berusaha dengan giat dan memohon dengan sungguh-sungguhsehingga Allah SWT mengabulkannya.

Pengertian iman kepada Qadar tercantum dalam beberapa ayat suci Al- Quranmisalnya:

a)Surah al-Anfal ayat 29 yang berarti kekuasaan atau kemampuan

سَيِاٰتِكُم عَنْكُم وّيُكَفِر فُرْقَانًا لّكُم يَجْعَل ّللاّٰ تَتّقُوا اِن اٰمَنُوْٰا لّذِيْن يٰٰاَيُهَا لْعَظِيْم لْفَضْل ذُو وّللاٰ

ُ لَكُم وَيَغْفِرْۗۗ

(8)

3

(9)

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akanmemberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamudan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memilikikarunia yang besar."(QS. Al-Anfal /8: 29)

b)Surah Ali Imran ayat 74 berarti mengatur atau menentukan sesuatu menurut batas- batasnya

ُّلْعَظِيْم لْفَضْل ذُو وّللاٰ

ُ ّشَاء مَن بِرَحْمَتِه يَخْتَصۗي

"Dia menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memilikikarunia yang besar." (QS. Ali 'Imran /3: 74)

c)Surah al-Hijr ayat 19 berarti ukuran

َ مّوْزُوْن شَيْء كُلِ مِن فِيْهَا وَاَن َتْنَا رَوَاسِي فِيْهَا وَ َلْقَيْنَا مَدَدْنٰهَا وَلَْرْضۢۗۗب

"Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung- gunung serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuranّ”(QSّ Al-Hijr /15:

19)

d)Surah al-Hijr ayat 4 berarti ketentuan atau kepastian

ٰٓمّعْلُوْم كِتَاب وَلَهَا ِلّ قَرْيَة مِن اَهْلَكْنَا وَمَا

"Dan Kami tidak membinasakan suatu negeri, melainkan sudah ada ketentuan yangditetapkan baginya."(QS. Al-Hijr /15: 4)

e)Surah al-Qamar ayat 49 berarti perwujudan kehendak Allah SWT terhadap semuamakhlukNya dalam bentuk-bentuk batasan tertentuٍّ

بِقَدَر خَلَقْنٰه شَيْء كُلّ اِنّا

"Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran."(QS. Al-Qamar /54: 49) Iman kepada qada dan qadar yaitu percaya dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi pada makhluknya. Setiap manusia, telah diciptakan dengan ketentuan-ketentuan dan telah di atur nasibnya sejak zaman azali.

Meski ada takdir Allah SWT, bukan berarti kita sebagai manusia bermalas-malasan menunggu nasib tanpa berusaha atau berikhtiar. Karena sebuah keberhasilan tidak akan tercapai tanpa adanya usaha

Jadi, usaha tetap harus dilakukan. Tetapi, bagaimanapun hasilnya, harus dapat diterimadengan lapang dada, Karena itu merupakan takdir Allah SWT.Iman Kepada Qada dan Qadar meliputi 4 prinsip. yaitu:

1)Iman Kepada Allah SWT yang Qadim (tidak berpermulaan) dan Dia mengetahuiperbuatan manusia sebelum mereka melakukannya.

2)Iman bahwa semua Qadar Allah SWT telah tertulis dalam Lauhul Mahfuzh. 3)Iman kepada adanya kehendak Allah SWT yang berlaku dan kekuasaan-Nya yangbersifat menyeluruh.

4)Iman bahwa Allah SWT adalah Sang Pencipta dan yang lain adalah makhluk-Nya

4

(10)

Qada dan Qadar biasa disebut dengan satu kata, “takdir”ّ Bagi manusia dan makhluklain, ada pandangan takdir baik dan buruk, tetapi dalam pandangan Allah SWT., semua takdiritu baik, karena keburukan tidak dinisbatkan kepada Allah SWT. Ilmu Allah SWT., kehendak-Nya, catatan-Nya, dan penciptaan- Nya semua itu adalah kebijaksanaan, keadilan, kasihsayang, dan kebaikan. Keburukan bukanlah sifat Allah SWT dan bukan pula pekerjaan-Nya.Perhatikan firman Allah Swt. Berikut;

“Sesungguhnya Allah Swtّ tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapimanusia Itulah yang berbuat zalim kepada dirinya sendiri” (Q.S.Yunus/10:44) Sebagai orang beriman, kita harus rela menerima segala ketentuan Allah Swt. atas dirikita.

Di dalam sebuah hadist Allah SWT. berfirman yang artinya:

”Siapa yang tidak rida dengan Qada’-Ku dan Qadar-Ku dan tidak sabar terhadap bencana-Ku yang aku timpakan atasnya, maka hendaklah mencari Tuhan selain Aku”ّ

(H.R. at-Tabrani)

Takdir Allah SWT merupakan iradah (kehendak) Allah SWT. Oleh sebab itu, takdirtidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Tatkala takdir sesuai dengan keinginan kita, hendaklah kita bersyukur karena hal itu merupakan nikmat yang diberikan Allah SWT. kepadakita. Ketika takdir yang kita alami tidak menyenangkan atau merupakan musibah, maka hendaklah kita terima dengan sabar dan ikhlas. Kita harus yakin bahwa dibalik musibah ituada hikmah yang terkadang kita belum mengetahuinya.

Allah SWT. Maha Mengetahui atas apa yang diperbuat-Nya.

2.2 MENGIMANI TERHADAP TAKDIR BAIK DAN BURUK

Banyak orang mengenal rukun iman tanpa mengetahui makna dan hikmah yang

terkandung dalam keenam rukun iman tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir.

Tidak semua orang yang mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir dan bagaimana mengimani takdir. Berikut sedikit ulasan mengenai iman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.

Takdir (qadar) adalah perkara yang telah diketahui dan ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah dituliskan oleh al-qalam (pena) dari segala sesuatu yang akan terjadi hingga akhir zaman. (Terj. Al Wajiiz fii ‘Aqidatis Salafish Shalih Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 95)

Allah telah menentukan segala perkara untuk makhluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya yang terdahulu (azali) dan ditentukan oleh hikmah-Nya. Tidak ada sesuatupun yang terjadi melainkan atas kehendak-Nya dan tidak ada sesuatupun yang keluar dari kehendak-Nya.

Maka, semua yang terjadi dalam kehidupan seorang hamba adalah berasal dari ilmu, kekuasaan dan kehendak Allah, namun tidak terlepas dari kehendak dan usaha hamba- Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

شَىْء كُلّ إِنّا بِقَدَر خَلَقْنَٰهُ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Qs. Al- Qamar:49)

5

(11)

“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Qs. Al-Furqan: 2)

“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (Qs. Al-Hijr: 21)

Mengimani takdir baik dan takdir buruk, merupakan salah satu rukun iman dan prinsip

‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ahّ Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga dia beriman kepada takdir, yaitu dia mengikrarkan dan meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu berlaku atas ketentuan (qadha’) dan takdir (qadar) Allahّ

A.Tingkatan Takdir

Beriman kepada takdir tidak akan sempurna kecuali dengan empat perkara yang disebut tingkatan takdir atau rukun-rukun takdir. Keempat perkara ini adalah pengantar untuk memahami masalah takdir. Barang siapa yang mengaku beriman kepada takdir, maka dia harus merealisasikan semua rukun-rukunnya, karena yang sebagian akan

bertalian dengan sebagian yang lain. Barang siapa yang mengakui semuanya, baik dengan lisan, keyakinan dan amal perbuatan, maka keimanannya kepada takdir telah sempurna.

Namun, barang siapa yang mengurangi salah satunya atau lebih, maka keimanannya kepada takdir telah rusak.

1.Tingkatan Pertama: al-‘Ilmu (Ilmu)

Yaitu, beriman bahwa Allah mengetahui dengan ilmu-Nya yang azali

mengenai apa-apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi, baik secara global maupun terperinci, di seluruh penjuru langit dan bumi serta di antara keduanya. Allah Maha Mengetahui semua yang diperbuat makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan, mengetahui rizki, ajal, amal, gerak, dan diam mereka, serta mengetahui siapa di antara mereka yang sengsara dan bahagia.

Allah Ta’ala telah berfirman,

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apasaja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapatdalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amatmudah bagi Allah.” (Qs. Al-Hajj: 70)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak adayang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Maha Mengetahui apa yangada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugurmelainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalamkegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkantelah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Al- An’aam: 59)

2.Tingkatan Kedua: al-Kitaabah (Penulisan)

Yaitu, mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menuliskan apa yang telah diketahui-Nya berupa ketentuan-ketentuan seluruh makhluk hidup di dalam al-Lauhul Mahfuzh. Suatu kitab yang tidak meninggalkan sedikit pun di dalamnya, semua yang terjadi, apa yang akan terjadi, dan segala yang telah terjadi hingga hari Kiamat, ditulis di sisi Allah Ta’ala dalam Ummul Kitabّ

Allah Ta’ala berfirman,

6

(12)

“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (LauhMahfuzh).” (Qs. Yaasiin: 12)

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) padadirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelumKami menciptakannya.” (Qs. Al-Hadiid: 22)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptak

an langit dan bumi.”

(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya, kitab al-Qadar (no. 2653), dari

‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, diriwayatkan pula oleh Tirmidzi (no. 2156), Imam Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 557)) 3.Tingkatan Ketiga: al-Iraadah dan Al Masyii-ah (Keinginan dan Kehendak)

Yaitu, bahwa segala sesuatu yang terjadi di langit dan di bumi adalah sesuai dengan keinginan dan kehendak (iraadah dan masyii-ah) Allah yang berputar di antara rahmat dan hikmah. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang

dikehendaki-Nya dengan rahmat-Nya, dan menyesatkan siapa yang dikehendaki- Nya dengan hikmah-Nya. Dia tidak boleh ditanya mengenai apa yang diperbuat- Nya karena kesempurnaan hikmah dan kekuasaan-Nya, tetapi kita, sebagai

makhluk-Nya yang akan ditanya tentang apa yang terjadi pada kita, sesuai dengan firman-Nya,

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yangakan ditanyai.” (Qs. Al-Anbiyaa’: 23)

Kehendak Allah itu pasti terlaksana, juga kekuasaan-Nya sempurna meliputi segala sesuatu. Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi, meskipun manusia berupaya untuk menghindarinya, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidakakan terjadi, meskipun seluruh makhluk berupaya untuk mewujudkannya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanyapetunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allahmenjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (Qs. Al-An’aam: 125)

4.Tingkatan Keempat: al-Khalq (Penciptaan)

Yaitu, bahwa Allah adalah Pencipta (Khaliq) segala sesuatu yang tidak ada pencipta selain-Nya, dan tidak ada rabb selain-Nya, dan segala sesuatu selain Allah adalah makhlukّ Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Allah mencipta

kan segala sesuatu dan Dia memelih

ara segala sesuatu.” (Qs. Az-Zumar: 62)

Meskipun Allah telah menentukan takdir atas seluruh hamba-Nya, bukan berarti bahwa hamba-Nya dibolehkan untuk meninggalkan usaha. Karena Allah telah memberikan qudrah (kemampuan) dan masyii-ah (keinginan) kepada hamba-

7

(13)

hamba-Nya untuk mengusahakan takdirnya. Allah juga memberikan akal kepada manusia, sebagai tanda kesempurnaan manusia dibandingkan dengan makhlukNya yang lain, agar manusia dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. Allah tidak menghisab hamba-Nya kecuali terhadap perbuatan-perbuatan

yangdilakukannya dengan kehendak dan usahanya sendiri. Manusialah yang benar- benar melakukan suatu amal perbuatan, yang baik dan yang buruk tanpa paksaan, sedangkan Allah-lah yang menciptakan perbuatan tersebut. Hal ini berdasarkan firman-Nya,

“Padahal Allah-lah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuatitu.”

(Qs. Ash-Shaaffaat: 96)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya, “Allah tidak membeban

i seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286)

Beriman kepada takdir akan mengantarkan kita kepada sebuah hikmah penciptaan yang mendalam, yaitu bahwasanya segala sesuatu telah ditentukan.

Sesuatu tidak akan menimpa kita kecuali telah Allah tentukan kejadiannya, demikian pula sebaliknya. Apabila kita telah faham dengan hikmah penciptaan ini, maka kita akan mengetahui dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu yang datang dalam kehidupan kita tidak lain merupakan ketentuan Allah atas diri kita. Sehingga ketika musibah datang menerpa perjalanan hidup kita, kita akan lebih bijak dalam memandang dan menyikapinya. Demikian pula ketika kita mendapat giliran memperoleh kebahagiaan, kita tidak akan lupa untuk mensyukuri nikmat Allah yang tiada henti.

Manusia memiliki keinginan dan kehendak, tetapi keinginan dan kehendaknya mengikuti keinginan dan kehendak Rabbnya. Golongan Ahlus Sunnah menetapkan dan meyakini bahwa segala yang telah ditentukan, ditetapkan dan diperbuat oleh Allah memiliki hikmah dan segala usaha yang dilakukan manusia akan membawa hasil atas kehendak Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, danmintalah pertolongan Allah dan janganlah sampai kamu lemah (semangat). Jikasesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ‘seandainya aku melakukanini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullahwa maa- syaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang

di

ke pasti dilakukan-Nya).’ Karena sesungguhnya (kata)

‘se itu akan mengawali perbuatan syaithan.”

(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2664))

Tidak ada seorang pun yang dapat bertindak untuk merubah apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Maka tidak ada seorang pun juga yang dapat mengurangi sesuatu dari ketentuan-Nya, juga tidak bisa menambahnya, untuk selamanya. Ini adalah perkara yang telah ditetapkan-Nya dan telah selesai penentuannya. Pena telah terangkat dan lembaran telah kering.

2.3 Memahami Takdir dan Doa dalam Bekerja

8

(14)

A.Macam-Macam Takdir

Sebagaimana takdir allah di bagi menjadi dua yaitu:

1.Takdir Mubram

Takdir yang tidak mungkin bisa diubah dan sudah pasti terjadi. Ketetapan ini mutlak keberlakuannya, dan tak ada peran manusia dalam penentuannya, seperti umur, ajal, kecelakaan, juga kebahagiaan.

2.Takdir Muallaq

Ketentuan Allah SWT yang bisa diubah atas kehendak-Nya dengan peran manusia dalam ikhtiar, dan doa. Bisa dikatakan Allah ingin mengetahui kesungguhan hamba-Nya dalam menjalani kehidupan.

Sesuai firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra'd ayat 11, yang mengingatkan bahwa usaha bisa mengubah kondisi seseorang atau kelompok.

ْاِنّ ّللاّٰ ل يُغَيِر مَا بِقَوْم حَتّٰى يُغَيِرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِم

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka."

Adapun ikhtiar perlu dibarengi dengan doa agar manusia tak merasa bahwa hanya usaha yang dibutuhkan untuk mengubah takdir, melainkan juga doa. Karena tanpa kehendak-Nya, takdirtak akan berubah. Allah juga mengatakan bahwa bila hamba-Nya memohon, maka ia akan mengabulkannya, kalam Allah dalam Surah Ghafir ayat 60:

ْادْعُوْنِيٰٓ اَسْتَجِب لَكُم Artinya: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang

kamuharapkan)."

Setelah usaha dan doa dilaksanakan, barulah seorang hamba bertawakal kepada-Nya.

Yangmana tawakal merupakan sikap menyerahkan diri atas segala sesuatu kepada Allah SWT setelah bersungguh-sungguh. Sesuai firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 159:

َفَاِذَا عَزَمْت فَتَوَكّل عَلَى ّللاِٰ اِنّ ّللاّٰ يُحِبُ لْمُتَوَكِلِيْنۗ Artinya: "Apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal."

Mengenai keterkaitan antara takdir dan usaha, doa, juga tawakal bisa disambungkan dengan ketetapan Allah SWT yang bisa diubah dengan kehendak-Nya, yakni perihal takdirmuallaq.

Seorang hamba perlu tekun berikhtiar dan doa, sebab usaha tanpa doa termasuk menyombongkan diri, dan seakan tak membutuhkan Allah. Sementara berdoa tanpa ikhtiar merupakan hal yang sia-sia. Sembari keduanya dilakukan seseorang harus bertawakal kepada- Nya dengan berserah diri dan membiarkan Allah memutuskan apa yang terbaik.

9

(15)

BAB III KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Dapat kami simpulkan bahwa iman kepada Qada dan Qadar yaitu sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah SWT Kepada hamba-hambanya baik bersifat perseorangan maupun golongan, baik tentang nasib perjalanan hidup atau tentang peraturan-peraturan yang ditetapkan. Mengimani terhadap takdir yang baik dan buruk itu perkara yang telah diketahui dan ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah dituliskan oleh al-qalam (pena) dari segala sesuatu yang akan terjadi hingga akhir zaman. Takdir dan doa dalam bekerja itu Seorang hamba yang perlu tekun berikhtiar dan doa, sebab usaha tanpa doa termasuk menyombongkan diri, dan seakan tak membutuhkan Allah. Sementara berdoa tanpa ikhtiar merupakan hal yang sia-sia. Sembari keduanya dilakukan seseorang harus bertawakal kepada- Nya dengan berserah diri dan membiarkan Allah memutuskan apa yang terbaik.

10

(16)

Daftar Pustaka

Ahmad, Muhammad. Tauhid Ilmu kalam. Bandung: Pustaka Setia, 1998.

As Shiddieqy, Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam, Semarang: PT Pustaka Rizki Putera, 2001.

Chirzin,Muhammad. Konsep dan Hikmah Akidah Islam. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1997.

Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996.

11

Referensi

Dokumen terkait

Pesan aqidah dalam program siaran siraman rohani Pengajian Islam dalam tinjauan rukun iman mencakup dua hal yakni terkait dengan keimanan kepada Allah dan

Oleh karena itu iman kepada takdir memberikan arti dimana kita wajib mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini, dalam kehidupan dan diri manusia, adalah menurut

maka untuk mencapai martabat insan kamil keimanan kita (dengan mengimani rukun iman) harus benar dan kokoh; peribadatan kita (dengan menjalankan rukun Islam)

Seseorang belumlah dikatakan beriman jika tidak mengimani takdir Allāh, sekalipun dia meyakini kelima rukun iman yang lain. Bahkan segenap amal

Pertama, kitab ringkas akidah islam yang berdasarkan ajaran ahlus sunnah wal jama‟ah tanpa mengaitkan perselisihan sektarian. Kedua, kitab ringkas mengenai halal

“Dengan memperingati Isra Mi’raj Kita Satukan Langkah Menuju Mardhotillah Berlandaskan Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”.. Eyang Weri Kelurahan

Iman yang mendalam dan kokoh dibangun atas: keimanan kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir, dan iman kepada takdir

Suhartono dan Nurfaizah Konsep Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Menurut Syaikh Abdul Qodir al-Jailani ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan