• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Impact of Financial Performance on the Health of Sharia Banks in Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "The Impact of Financial Performance on the Health of Sharia Banks in Indonesia"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP TINGKAT KESEHATAN BANK PADA BANK UMUM SYARIAH

Alvidhea Melfianti (20131112065)

Program Studi Akuntansi, Indonesia banking School Indonesia

Email: [email protected]

Abstract

The purpose of this research is to examine and analyze the influence of the financial performance by using ratio of ROA, NPF, BOPO and Growth Asset to bank health level at sharia bank in Indonesia. The sample in this research determined by using purposive sampling method. Data is obtained from secondary data of annual report of 11 sharia commercial banks registered at Bank Indonesia in 2013-2016. The analysis technique used in this research is logistic regression analysis. The results of this study indicate that the NPF has a significant effect on Bank Soundness. While ROA, BOPO and Growth Asset has no significant effect on bank soundness in sharia banks in Indonesia.

Keyword: Bank Health Level/Bank Soundness, logistic regression, ROA, NPF, BOPO, Growth

I. PENDAHULUAN

Peran bank di jaman modern ini sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat diseluruh negara karena jasa dan produk perbankan yang digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat 2 jenis bank, yaitu Bank konvensional dan Bank syariah.

Bank syariah mulai dilirik oleh bankir di Indonesia adalah saat Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1997-1998. Krisis yang terjadi pada 1997- 1998 mengakibatkan ketidakstabilan industri perbankan di Indonesia. Dampak yang ditimbulkan bagi industri perbankan pada saat itu adalah ditutupnya 16 bank umum setelah terjadi rush besar-besaran oleh nasabah bank tersebut sehingga perbankan kehilangan likuiditasnya. Lalu krisis yang terjadi tahun 2008, bank umum syariah menunjukkan ketahanannya menghadapi krisis yang terjadi membuat bank umum syariah mulai berkembang. Perkembangan bank umum syariah dapat dilihat pada tabel 1.1.

(2)

Tabel 1.1

Perkembangan Bank Umum Syariah

1998 2003 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

BUS 1 2 3 5 6 11 11 11 11 12 12 13

UUS - 8 26 27 25 23 24 24 23 22 22 21

BPRS 76 84 114 131 138 150 158 155 160 163 163 166 Sumber: Statistik Perbankan Syariah Mei 2017, www.ojk.go.id

Berkembangnya perbankan syariah perlu diimbangi dengan adanya peningkatan inovasi dalam produk, jasa dan aktivitas. Semakin meningkatnya inovasi dalam produk, jasa dan aktivitas pada perbankan syariah nantinya akan berpengaruh pada peningkatan kompleksitas usaha dan profil risiko pada bank syariah, untuk itu bank syariah perlu mengidentifikasi permasalahan yang mungkin timbul dari operasional bank. Untuk itu diperlukan adanya penilaian tingkat kesehatan bank.

Bank Indonesia menerbitkan peraturan baru mengenai tata pelaksanaan penilaian tingkat kesehatan bank, yaitu Peraturan Bank Indonesia Nomor:

13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, dimana bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara self assesment berlaku sejak 1 Januari 2012, yaitu metode Risk Based Bank Rating yang meliputi aspek Risiko, GCG, Rentabilitas (Earning), dan Capital. Parameter pengukuran kesehatan bank sebelum Risk Based Bank Rating adalah metode CAMELS (Capital,Asset Quality, Management, Earning, Liquidity dan Sensitivity of Risk).

Risk Based Bank Rating merupakan penyempurnaan dari metode CAMELS dan dengan sistem penilaian RBBR ini, diharapkan bank mampu mengidentifikasi masalah sejak dini, melakukan tindak lanjut perbaikan yang sesuai dan lebih cepat.

Penilaian kesehatan bank dilakukan setiap periode. Dalam setiap periode penilaian ditentukan suatu bank apakah bank itu sehat ataupun tidak. Bank wajib memelihara dan memperbaiki tingkat kesehatannya dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko dalam melaksanakan kegiatan usahanya termasuk melakukan penilaian sendiri (self assessment) secara berkala terhadap tingkat kesehatannya dan mengambil langkah-langkah perbaikan secara efektif.

Tingkat kesehatan bank merupakan hasil penilaian atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu bank.

Puspitadewi (2010) menyatakan bahwa masyarakat pada umumnya akan mempertimbangkan kinerja suatu bank dalam mendukung keputusannya dalam berinvestasi. Kepercayaan masyarakat terhadap suatu bank juga dipengaruhi oleh kinerja bank tersebut. Karena pada dasarnya penilaian masyarakat dilihat dari ukuran tersirat seperti fasilitas, pelayanan dan tingkat keuntungan. Sehingga sebagai lembaga yang dalam kegiatanya menggunakan dana dari masyarakat bank dituntut untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya.

(3)

Kinerja keuangan dapat dianalisa dengan menggunakan rasio keuangan.

Dalam penelitian ini rasio keuangan yang digunakan adalah rasio profitabilitas yang diproksikan dengan Return On Asset (ROA), rasio efisiensi yang diproksikan dengan Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), rasio kualitas aset yang diproksikan dengan Non Performing Finance (NPF) dan rasio pertumbuhan yang diproksikan dengan Growth Asset.

Penelitian yang dilakukan Rizky dan Rohman (2013) dan Ratna (2014) menyimpulkan bahwa ROA memberikan pengaruh tidak signifikan terhadap tingkat kesehatan bank. Sedangkan penelitian Woelan (2013) dan Handayani (2016), menyimpulkan bahwa ROA berpengaruh signifikan terhadap tingkat kesehatan bank.

Penelitian Yulius dan Fung (2012) menunjukkan bahwa BOPO tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Tingkat Kesehatan Bank. Penelitian Ratna (2014) menunjukkan hal sebaliknya, bahwa BOPO berpengaruh terhadap tingkat kesehatan bank.

Penelitian Ratna (2014) menunjukkan bahwa NPF berpengaruh signifikan pada tingat kesehatan bank. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Rizky dan Rohman (2013) menyatakan bahwa NPF tidak berpengaruh signifikan pada tingat kesehatan bank.

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Pengertian Bank dan Bank Umum Syariah

Menurut Undang-undang No. 21 Tahun 2008. “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk Simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.” Definisi Bank secara umum adalah Lembaga Keuangan yang menghimpun dana masyarakat yang kelebihan dana dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat dalam bentuk pinjaman atau kredit kepada masyarakat yang membutuhkan dana dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Sedangkan pengertian Bank Syariah, menurut General Secretariat Of Organisation Of Islamic Conference (OIC) pengertian bank Islam atau yang sekarang disebut dengan bank syariah menyatakan bahwa “bank Islam merupakan sebuah lembaga keuangan di mana peraturan dan prosedurnya harus menaati komitmen dari prinsip-prinsip syari’ah Islam dan dilarang menerima dan memberi bunga atas segala transaksi yang dijalankan”. Berdasarkan Undang-undang No. 21 Tahun 2008, “Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut

(4)

jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah”.

2.1.2 Kinerja Keuangan

Irham Fahmi (2012:2) menyatakan kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan – aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar seperti dalam membuat suatu laporan keuangan yang telah memenuhi standar atau ketentuan dalam SAK (Standar Akuntansi Keuangan) atau GAAP (generally accepted accounting principle) dan lainnya. Menurut Rudianto (2013:189) kinerja keuangan adalah hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh manajemen perusahaan dalam menjalankan fungsinya mengelola aset perusahaan secara efektif selama periode tertentu.

2.1.3 Tingkat Kesehatan Bank

Tingkat Kesehatan Bank adalah hasil penilaian kondisi Bank yang dilakukan terhadap risiko dan kinerja Bank. Krisis keuangan global yang terjadi di tahun 1997 dan 2008 memberikan gambaran bahwa inovasi dalam produk, jasa dan aktivitas perbankan yang tidak diimbangi dengan penerapan manajemen risiko yang memadai dapat menimbulkan berbagai permasalahan mendasar pada Bank maupun terhadap sistem keuangan secara keseluruhan sehingga pentingnya penyempurnaan metode penilaian kesehatan bank dan sistem ketahanan.

Berdasarkan peraturan Bank Indonesia No 13/1/PBI/2011 atau peraturan Otoritas Jasa Keuangan No 4/POJK.03/2016, metode penilaian kesehatan bank yang sebelumnya menggunakan metode Capital, Asset, Management, Earning, Liquidity dan Sensitivity to Market Risk (CAMELS) berganti menjadi pendekatan berdasarkan risiko (Risk-based Bank rating).

2.2 Pengembangan Hipotesis

2.2.1 Pengaruh ROA Terhadap Tingkat Kesehatan Bank

ROA menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam menghasilkan income dari pengelolaan aset yang dimiliki. Dimana rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi pengelolaan aset yang dilakukan oleh bank yang bersangkutan.

Semakin tinggi ROA maka semakin rendah probabilitas bank mengalami kebangkrutan (Ratna, 2014: 40). Semakin tinggi nilai ROA, semakin efektif pula pengelolaan asset perusahaan, sehingga kemungkinan bank akan gagal akan semakin kecil (Almalia dan Herdingtyas, 2005: 3). Maka hipotesis yang akan diuji adalah:

H1 : ROA berpengaruh terhadap Tingkat Kesehatan Bank

(5)

2.2.2 Pengaruh NPF Terhadap Tingkat Kesehatan Bank

Penilaian kualitas aset bertujuan untuk mengetahui kemungkinan diterimanya kembali dana yang ditanam dalam suatu investasi atau pembiayaan.

Kualitas aset biasa diukur dengan rasio NPL atau NPF (untuk bank syariah).

Sugiyanto, dkk (2002) menyatakan bahwa kebangkrutan suatu bank secara nyata tergantung oleh kualitas aset suatu bank. Rizky (2013) menyatakan bahwa Rasio NPL menunjukan tingginya angka kredit macet pada bank, semakin besar NPL menunjukan semakin tinggi risiko kredit yang harus dihadapi bank, sehingga semakin besar bank menghadap kondisi bermasalah. Maka hipotesis yang akan diuji adalah:

H2 : NPF berpengaruh terhadap Tingkat Kesehatan Bank 2.2.3 Pengaruh BOPO Terhadap Tingkat Kesehatan Bank

Semakin besar nilai rasio BOPO menandakan kinerja manajemen yang kurang efisien dalam menggunakan sumber daya yang ada di perusahaan. Bank yang kegiatan usaha tidak efisien akan mengakibatkan ketidakmampuan bersaing dalam mengelola dan menyalurkan dana ke masyarakat. Menurut Rizky (2013) Semakin besar rasio ini berarti semakin tidak efisien biaya operasional yang dikeluarkan oleh bank dan bank dalam kondisi bermasalah semakin besar.

hipotesis yang akan diuji adalah:

H3 : BOPO berpengaruh terhadap Tingkat Kesehatan Bank

2.2.4 Pengaruh Growth Asset Terhadap Tingkat Kesehatan Bank

Rizky (2013) menyatakan Bank dengan kualitas aset yang baik dapat dikatakan bahwa bank dapat terhindar dari prediksi kondisi bermasalah.

Peningkatan asset yang diikuti peningkatan hasil operasi akan semakin menambah kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan. Dengan meningkatnya kepercayaan pihak luar (kreditor) terhadap perusahaan, maka proporsi hutang semakin lebih besar daripada modal sendiri. Gunsel (2007) menyatakan bahwa aset bank yang semakin besar akan berpengaruh negatif terhadap kondisi bermasalah pada bank. Berdasarkan penjelasan tersebut. hipotesis yang akan diuji adalah:

H4 : Growth asset berpengaruh terhadap Tingkat Kesehatan Bank

(6)

2.3 Kerangka Pemikiran

III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sampel Penelitian

Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank Umum Syariah yang terdaftar di Bank Indonesia dengan menggunakan rentang waktu tahun 2013-2016 sebagai periode penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah annual report yang telah di audit tahun 2013-2016 secara lengkap dan dapat diakses melalui website perbankan. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan maka jumlah observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 44.

3.2

Definisi Operasional Variabel 3.2.1 Variabel Dependen

Dalam penelitian ini yang merupakan variabel dependennya adalah Tingkat Kesehatan Bank(Y). Tingkat kesehatan bank merupakan hasil penilaian atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi suatu bank pada periode tertentu sesuai dengan standar peraturan yang berlaku. Variabel dependen yang digunakan merupakan variabel ordinal.

Tabel 3.1

Kategori Peringkat Tingkat Kesehatan Bank Rating Bank Peringkat Kategori Peringkat

Sangat Sehat(SS) 1 Kualitas kesehatan sangat sehat

Sehat(S) 2 Kualitas kesehatan sehat

Cukup Sehat(CS) 3 Kualitas kesehatan cukup sehat Kurang Sehat(KS) 4 Kualitas kesehatan kurang sehat Tidak Sehat(TS) 5 Kualitas kesehatan tidak sehat Sumber Tabel: POJK

3.2.2 Variabel Independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan yang diukur dengan rasio keuangan yang diproksikan dengan:

(7)

a. Return on Asset

ROA digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh laba secara keseluruhan dari total aktiva yang dimiliki. Rumus yang digunakan adalah :

b. Non Performing Finance (NPF)

Non Performing Financing adalah rasio yang digunakan untuk mengukur pembiayaan bermasalah yang dihadapi oleh bank. Rumus yang digunakan adalah:

c. Biaya Operasional Pendapatan Operasional

Digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Rumus yang digunakan adalah :

d. Growth

Rasio Pertumbuhan merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan posisi ekonominya di tengah pertumbuhan perokonomian dan sektor usahanya.

Pertumbuhan yang digunakan disini adalah pertumbuhan aset.

Rumus yang digunakan adalah:

x100%

3.3 Metode Analisis

Dalam penelitian ini digunakan model regresi logistik ordinal. Karena variabel dependen dalam penelitian ini merupakan variabel non metrik, yaitu yang diukur dengan skala nominal atau ordinal. Persamaan regresi yang digunakan adalah sebagai berikut:

TKS = α +β1Х12Х23Х34Х4+e Keterangan : TKS : Tingkat Kesehatan Bank

α : konstanta

β1β2β3β4 : koefisien regresi

Х1 : ROA, Х2 : NPF. Х3 : BOPO, Х4 : Growth Asset e : Standar error

(8)

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Statistik Deskriptif

Tabel 4.1 Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Tingkat Kesehatan Bank 44 1 5 1.84 1.010

Return On Asset 44 -20.13 3.61 -.1564 3.84274

Non Performing Finance 44 .00 4.93 2.7252 1.57529

Biaya Operasional

Pendapatan Operasional 44 67.79 192.60 98.2143 21.59175

Growth Asset 44 -28.83 89.33 16.1070 20.95764

Valid N (listwise) 44

Sumber: output SPSS

Variabel ROA mempunyai nilai minimum -20.13%, dan nilai maksimum ROA sebesar 3.61% dengan Rata-rata ROA bank umum syariah pada periode 2013-2015 adalah -0.1564 dari total aset perusahaan. Rata-rata ROA Bank Umum Syariah dapat dikatakan kurang baik karena kurang dari 0,5% dari ketentuan Bank Indonesia.

Variabel NPF mempunyai nilai minimum 0.00%, dan nilai maksimum NPF sebesar 4.93% dengan Rata-rata NPF bank umum syariah pada periode 2013- 2015 adalah 2.7252. Rata-rata NPF dapat dibilang baik karena kurang dari 5%.

Variabel BOPO mempunyai nilai minimum 67.79%, dan nilai maksimum BOPO sebesar 192.60% dengan Rata-rata BOPO bank umum syariah pada periode 2013-2015 adalah 98.2143. Bank umum syariah masih kurang maksimal dalam mengelola BOPO sehingga masih banyak bank umum syariah yang melebihi ketentuan yang ditetapkan, terbukti dari rata-rata BOPO yang lebih dari 85%.

Variabel Growth asset mempunyai nilai minimum -28.83%, dan nilai maksimum Growth asset sebesar 89.33% dengan Rata-rata Growth asset bank umum syariah pada periode 2013-2015 adalah 16.1070. Nilai growth asset yang negatif menunjukkan kurang efektifnya pengelolaan dari bank umum syariah sehingga terjadi penurunan aktiva yang dimiliki bank Umum syariah.

4.2 Uji Signifikansi

4.2.1 Uji Model Fitting Information

Tabel 4.2

Model Fitting Information

Model -2 Log

Likelihood Chi-

Square df Sig.

Intercept Only 94.845

Final 60.865 33.979 4 .000

Sumber: output SPSS

Model Fitting Information menerangkan apakah dengan memasukan variabel independen dalam model akan memberikan kontribusi pada model

(9)

(Yamin dan Kurniawan, 2014: 65). Nilai signifikasi 0.000 yang kurang dari 0.05 menunjukkan bahwa model dengan penambahan variabel lebih baik dalam memprediksi terhadap tingkat kesehatan bank atau model dapat dikatakan fi dengan data.

4.2.2 Goodness Of Fit Test

Tabel 4.3 Goodness-of-Fit

Chi-Square df Sig.

Pearson 75.852 125 1.000

Deviance 60.865 125 1.000

Sumber: output SPSS

Uji Goodness of Fit menunjukkan uji kesesuaian model dengan data empiris, dimana hipotesis nol adalah data hasil prediksi model sesuai dengan data empiris. Tabel 4.3 menunjukkan besarnya nilai statistik Chi- Square sebesar 75.852 (Pearson) signifikansi 1.000 dan 60.865 (Deviance) signifikansi 1.000, dimana p-value >0.05 sehingga membuat hasil dari Goodness of Fit adalah model fit dengan data. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi yang dihipotesiskan antara seluruh variabel independen terhadap variabel tingkat kesehatan bank mampu menjelaskan data.

4.2.3 Pseudo R-Square

Tabel 4.4 Pseudo R-Square Cox and Snell .538

Nagelkerke .609

McFadden .358

Sumber: Output SPSS

Pseudo R-Square digunakan untuk menjelaskan variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen. Tingkat variabilitas tersebut ditunjukkan oleh besarnya nilai McFadden. Tabel 4.4 menunjukkan nilai McFadden sebesar 35.8%, Nilai ini mengandung arti bahwa variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 35.8% sedangkan sisanya 64.2% dijelaskan oleh variabel lain diluar model penelitian.

4.2.4 Test of Parallel Lines

Tabel 4.5 Test of Parallel Linesa

Model -2 Log Likelihood Chi-Square Df Sig.

Null Hypothesis 60.865

General 49.965b 10.900c 8 .207

Sumber: Output SPSS

(10)

Test of parallel lines digunakan untuk menguji asumsi bahwa setiap kategori memiliki parameter yang sama atau hubungan antara variabel independen dengan logit adalah sama untuk persamaan logit (Yamin dan Kurniawan, 2014: 87). Tabel 4.5 menunjukkan hasil P-value 0.207 (P > α 5%) yang artinya model yang dihasilkan memiliki parameter yang sama atau hubungan antar variabel independen dengan link function adalah sama untuk semua persamaan sehingga pemilihan link function telah sesuai dan tidak perlu dilakukan permodelan kembali.

4.3 Uji Hipotesis

Tabel 4.8 Parameter Estimates

Estimate Std. Error Wald df Sig.

Threshold [TKB = 1] 6.250 3.833 2.658 1 .103

[TKB = 2] 7.565 3.882 3.797 1 .051

[TKB = 3] 13.004 4.997 6.772 1 .009

Location ROA .051 .172 .088 1 .767

NPF 1.174 .376 9.727 1 .002

BOPO .037 .037 1.021 1 .312

GA -.044 .028 2.532 1 .112

Sumber: Output SPSS

Dari tabel 4.5 maka dapat dituliskan persamaan di bawah ini:

1. Logit (P1) = 6.250 + 0.051ROA + 1.174NPF+ 0.037BOPO - 0.044GA 2. Logit (P1+P2) = 7.565 + 0.051ROA + 1.174NPF+ 0.037BOPO -

0.044GA

3. Logit (P1+P2+P3) = 13.004 + 0.051ROA + 1.174NPF+ 0.037BOPO - 0.044GA

Keterangan:

P1 : probabilitas tidak baik P2 : probabilitas kurang baik P3 : probabilitas cukup baik

Regresi ordinal logit ini membandingkan beberapa kelompok dengan satu kelompok. Dalam penelitian ini, perbandingan kelompok dilakukan pada variabel dependen dengan peringkat ordinal yang memiliki satu kelompok referensi sebagai pembanding dasar, yaitu Sangat Sehat = 1, Sehat = 2, Cukup Sehat = 3, Kurang Sehat = 4 dan Tidak Sehat = 5 dengan Sangat Sehat sebagai pembanding dasar atau referensi kategori.

Dari tabel 4.5 dan persamaan diatas dapat dijelaskan:

1. ROA terhadap Tingkat Kesehatan Bank

Jika variabel lain dianggap konstan, maka kenaikan 1 unit ROA akan menaikkan Odds Ratio (EXP 0.051) = 1,052323 kategori peringkat kesehatan bank. Artinya variabel ROA mempunyai

(11)

probabilitas resiko tidak sehat sebesar 1,052323 kali dibanding predikat cukup sehat dan kurang sehat terhadap tingkat kesehatan bank.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa ROA tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesehatan bank Bank Umum Syariah. Nilai koefisien ROA sebesar 0.051 dengan nilai signifikansi sebesar 0.767 yang lebih besar dari 0,05 (p > α5%).

2. NPF terhadap Tingkat Kesehatan Bank

Jika variabel lain dianggap konstan, maka kenaikan 1 unit NPF akan menaikkan Odds Ratio (exp 1.174) = 3,234906 peringkat kesehatan bank. Artinya variabel NPF mempunyai probabilitas resiko tidak sehat sebesar 3,234906 kali dibanding predikat cukup sehat dan kurang sehat terhadap tingkat kesehatan bank.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa NPF memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesehatan bank Bank Umum Syariah. Nilai koefisien NPF sebesar 1,174 dengan nilai signifikansi sebesar 0,002 yang lebih besar dari 0,005 (p < 0,05). NPF sama seperti NPL pada bank konvensional. NPF berkaitan dengan risiko kredit karena mencerminkan pembiayaan bermasalah yang dihadapi oleh bank syariah terhadap total pembiayaan yang diberikan kepada debitur.

Sehingga semakin tinggi rasio ini maka akan semakin semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar (Almilia, 2007; 13).

3. BOPO terhadap Tingkat Kesehatan Bank

Jika variabel lain dianggap konstan, maka kenaikan 1 unit NPF akan menaikkan Odds Ratio (exp 0.037) = 1,037693 peringkat kesehatan bank. Artinya variabel BOPO mempunyai probabilitas resiko tidak sehat sebesar 1,037693 kali dibanding predikat cukup sehat dan kurang sehat terhadap tingkat kesehatan bank.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa BOPO tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesehatan bank Bank Umum Syariah. Nilai koefisien BOPO sebesar 0.037 dengan nilai signifikansi sebesar 0,312 yang lebih besar dari 0,05 (p > α5%).

4. Growth Asset terhadap Tingkat Kesehatan Bank

Jika variabel lain dianggap konstan, maka kenaikkan 1 unit GA akan menurunkan Odds Ratio (exp -0.044) = 0,956954 peringkat kesehatan bank. Artinya variabel Growth Asset mempunyai probabilitas resiko tidak sehat sebesar 0,956954 kali dibanding predikat cukup sehat dan kurang sehat terhadap tingkat kesehatan bank.

(12)

Hasil pengujian menunjukkan bahwa Growth Asset tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesehatan bank Bank Umum Syariah. Nilai koefisien Growth Asset sebesar -0.044 dengan nilai signifikansi sebesar 0,112 yang lebih besar dari 0,05 (p > α5%).

V. PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis statistik dan pembahasan maka kesimpulan dari penelitian ini sebagai berikut:

Return On Assets (ROA) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kesehatan bank periode 2013-2016. Artinya adalah tingkat kesehatan bank syariah tidak mempunyai pengaruh dari Return On Asset karena kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan total aset yang dimiliki perusahaan belum dapat digunakan untuk memprediksi kondisi bermasalah bank.

Non Performing Financing (NPF) memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kesehatan bank periode 2013-2016 Artinya adalah semakin tinggi rasio NPF menunjukkan bahwa bank tersebut tidak profesional dalam pengelolaan pembiayaannya sekaligus memberikan indikasi bahwa tingkat risiko atas pemberian pembiayaan pada bank tersebut cukup tinggi searah dengan tingginya NPF yang dihadapi bank.

Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kesehatan bank periode 2013-2016.

Artinya adalah tingkat kesehatan bank tidak disebabkan oleh BOPO.

Growth Asset tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kesehatan bank umum syariah periode 2013-2016. Artinya adalah pertumbuhan aset tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat kesehatan bank.

Karena kepemilikan aset dapat digunakan untuk kebijakan lain untuk aktivitas perusahaan

Keterbatasan yang terdapat dalam penelitian ini diantaranya adalah variabel penelitian hanya menganalisis rasio ROA, NPF, BOPO, Growth Asset. Sampel yang digunakan terbatas hanya 11 bank umum syariah. Tahun pengamatan hanya selama 4 tahun (2013-2016).

Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan dapat menggunakan variabel - variabel tambahan yang dapat digunakan sebagai faktor-faktor mempengaruhi tingkat kesehatan bank. Hendaknya menambahkan sampel yang lebih besar sehingga akan lebih mewakili bank-bank umum lainnya yang terdaftar di Bank Indonesia dan memperpanjang periode pengamatan sehingga dapat mengetahui perkembangan bank-bank umum yang menjadi obyek penelitian.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Antonio, M. S. (2003). Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press.

Aryati, T., & Balafif, S. (2007). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kesehatan Bank Dengan Regresi Logit. Journal The WINNERS , Vol. 8, No. 2, 111-125.

Bestari, A. R., & Rohman, A. (2013). Pengaruh Rasio Camel Dan Ukuran Bank Terhadap Prediksi Kondisi Bermasalah Pada Sektor Perbankan (Studi Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2007 – 2011).

Diponegoro Journal Of Accounting , Vol 2, No. 3, 1-9.

Festiani, E. R. (2014). Analisis Pengaruh Rasio CAR, NPF, BOPO, ROA, Dan FDR Terhadap Tingkat Kesehatan Bank Umum Syariah Di Indonesia.

Handayani, S. (2016). Analisis Pengaruh Rasio Camel Yang Dimoderasi Oleh Size Terhadap Tingkat Kesehatan Bank Daerah (Studi Pada Pd. Bank Daerah Provinsi Jawa Timur Yang Terdaftar Di Bank Indonesia). Jurnal Penelitian Ekonomi dan Akuntansi , Vol I, No.2, 95-110.

Harahap, S. S. (2015). Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Harahap, S. S., Wiroso, & Yusuf, M. (2010). Akuntansi Perbankan Syariah. Jakarta:

LPFE Usakti.

Ikatan Bankir Indonesia. (2016). Manajemen Kesehatan Bank Berbasis Risiko. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Kasmir, D. (2016). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 8/POJK.03/2014 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Syariah Dan Unit Usaha Syariah. (2014). Dipetik Maret 2017, dari Otoritas Jasa Keuangan:

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 6/POJK.03/2015 tentang Transparansi Dan Publikasi Laporan Bank. (2015). Dipetik Maret 2017, dari Otoritas Jasa Keuangan.

Priyatno, D. (2009). 5 Jam Belajar Olah Data Dengan SPSS 17. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Qhairunnisa, N. A. (2014). Analisis Pengaruh Rasio Camels Terhadap Prediksi Kondisi Bermasalah Pada Bank Umum Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2007-2012. Artikel Jurnal .

Rivai, V., & Arifin, A. (2010). Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep dan Aplikasi.

Jakarta: Bumi Aksara.

(14)

Sarjono, H., & Julianita, W. (2011). SPSS vs LISREL: Sebuah Pengantar, Aplikasi untuk Riset. Jakarta: Salemba Empat.

Sekaran, U. (2009). Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Jakarta: Salemba Empat.

Setiawan, A., Sumani, & Singgih, M. (2015). Analisis Rasio Keuangan Sebagai Prediktor Kesulitan Keuangan pada Bank yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Artikel Ilmiah Mahasiswa , 1-8.

Soebroto, N. W. (2013). Analisis Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Tingkat Kesehatan Bank Di Indonesia Periode 2007 – 2011.

Statistik Perbankan Syariah. (2017). Dipetik Agustus 2017, dari Otoritas Jasa Keuangan.

Sujarweni, V. W. (2017). Analisis Laporan Keuangan: Teori, Aplikasi & Hasil Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tahun 2004 tentang Perihal Tingkat Kesehatan Bank. (2004). Dipetik Maret 2017, dari Bank Indonesia.

Susanto, Y. K., & Njit, T. F. (2012). Penentu Kesehatan Perbankan. Jurnal Bisnis dan Akuntansi , Vol 14, No. 2, 105-116.

Wahana Komputer. (2012). Solusi Praktis dan Mudah Menguasai SPSS 20 Untuk Pengolahan Data. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Yamin, S., & Kurniawan, H. (2014). SPSS Complete: Teknik Analisis Terlengkap dengan Software SPSS. Jakarta: Salemba Infotek.

Yulianto, A., & Sulistyowati, W. A. (2012). Analisis Camels Dalam Memprediksi Tingkat Kesehatan Bank Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2009 – 2011. Media Ekonomi & Teknologi Informasi , Vol. 19, No. 1, 35-49.

www.bjbsyariah.co.id/laporan/

www.maybanksyariah.co.id/maybank-annual-report/flip/0 www.bankmuamalat.co.id/hubungan-investor/laporan-tahunan www.bankvictoriasyariah.co.id/page/sub/tahunan

www.bcasyariah.co.id/laporan-keuangan/tahunan/2016-2/

www.bnisyariah.co.id/laporan-laporan www.brisyariah.co.id/?q=laporan-tahunan www.megasyariah.co.id/

www.syariahbukopin.co.id/id/laporan

www.syariahmandiri.co.id/category/investor-relation/laporan-tahunan/

www.paninbanksyariah.co.id/index.php/mtentangkami/laporantahunan

(15)

LAMPIRAN

No Nama Bank Syariah Tahun

Tingkat Kesehatan

Bank

ROA NPF BOPO Growth

Asset

1. Bank Muamalat Indonesia

2013 1 0,27% 3,46% 93,86% 21,41%

2014 3 0,17% 4,85% 97,33% 16,20%

2015 3 0,20% 4,20% 97,36% -8,44%

2016 3 0,22% 1,40% 97,76% -2,42%

2 Bank Syariah Mandiri

2013 1 1,53% 2,29% 86,46% 17,95%

2014 3 -0,04% 4,29% 100,60% 4,67%

2015 2 0,56% 4,05% 94,78% 5,10%

2016 1 0,59% 3,13% 94,12% 12,03%

3 Bank Syariah Mega Indonesia

2013 1 2,33% 1,45% 86,09% 11,73%

2014 2 0,29% 1,81% 97,61% -22,77%

2015 3 0,30% 3,16% 99,51% -21,08%

2016 1 2,63% 2,81% 88,16% 10,35%

4 Bank Syariah Bukopin

2013 3 0,69% 3,68% 92,29% 20,10%

2014 2 0,27% 3,34% 96,77% 18,82%

2015 1 0,79% 2,74% 91,99% 12,92%

2016 1 0,76% 2,72% 91,76% 20,46%

5 BRI Syariah

2013 1 1,15% 3,26% 90,42% 23,51%

2014 3 0,08% 3,65% 99,77% 16,90%

2015 1 0,76% 3,89% 93,79% 19,12%

2016 1 0,95% 3,19% 91,33% 14,27%

6 Bank Panin Syariah

2013 1 1,03% 0,77% 81,31% 89,33%

2014 1 1,99% 0,29% 82,58% 53,15%

2015 2 1,14% 1,94% 89,29% 14,95%

2016 2 0,37% 1,86% 96,17% 22,76%

7 B.P.D Jawa Barat Banten Syariah

2013 1 0,91% 1,16% 85,76% 10,80%

2014 2 0,69% 3,93% 96,94% 29,72%

2015 3 0,25% 4,45% 98,78% 5,69%

2016 3 -8,09% 4,92% 122,77% 15,55%

8 BCA Syariah

2013 1 1,00% 0,00% 90,20% 27,42%

2014 1 0,80% 0,10% 92,90% 46,68%

2015 1 1,00% 0,50% 92,50% 45,25%

2016 1 1,10% 0,20% 92,20% 14,85%

9 BNI Syariah

2013 1 1,37% 1,13% 88,11% 38,17%

2014 1 1,27% 1,04% 89,80% 32,52%

2015 1 1,43% 1,46% 89,63% 18,09%

(16)

10 Bank Victoria Syariah

2013 3 0,50% 3,31% 91,95% 41,21%

2014 5 -1,87% 4,75% 143,31% 8,78%

2015 3 -2,36% 4,82% 119,19% -4,19%

2016 1 -2,19% 4,35% 131,34% 17,83%

11 Bank Maybank Syariah Indonesia

2013 1 2,87% 0,00% 67,79% 11,51%

2014 1 3,61% 4,29% 69,60% 6,50%

2015 3 -20,13% 4,93% 192,60% -28,83%

2016 3 -9,51% 4,60% 160,28% -22,87%

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil pengujian terhadap rasio NPF (Non Performing Financing) tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kinerja Bank Panin Syariah sebelum dan

This study aims to determine the criteria effect of the Commissioners Board and the Sharia Supervisory Board on financial performance with Good Corporate Governance as

This research was limited to the financing scope of mudharabah, musharakah and murabahah ; and the shari’ah monetary policy instrument only on the Indonesia Bank

Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa variabel kesehatan bank yaitu Non Performing Financing (NPF), Financing to Deposit Ratio (FDR), Beban

Variable Indicator Measurement Dependent variable Rate of return ROA Return on Assets Net profit after tax/ Total assets Risk of financing NPF Non-Performing Financing

Analysis of financial performance mapping of Islamic commercial banks BUS Bus name ROA FDR BOPO CAR NPF Aceh Sharia Very high Low Very low Higher than stipulation Very good BTPN

METODE PENELITIAN Objek dari penelitian ini adalah Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan OJK pada tahun 2014-2016.Operasional variabel adalah suatu

So for VECM results on Islamic Banking model, Total Financing, Non- Performing Financing NPF and Shariah of Certificate Bank Indonesia SBIS had a significant influence on Industrial