• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Administrasi Pembangunan di Badan Tenaga Nuklir Nasional

N/A
N/A
Anggiana Rohandi

Academic year: 2024

Membagikan "Implementasi Administrasi Pembangunan di Badan Tenaga Nuklir Nasional"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Implementasi Administrasi Pembangunan di Badan Tenaga Nuklir Nasional Oleh

Anggiana Rohandi Yusuf I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kondisi birokrasi Indonesia di era awal reformasi bisa dikatakan belum berjalan baik, karena masih banyak ditemukan birokrat yang arogan dan belum memaknai arti pelayanan, praktik KKN yang masih banyak terjadi, dan mentalitas birokrat yang masih jauh dari harapan. Untuk melaksanakan fungsi birokrasi secara tepat, cepat, dan konsisten guna mewujudkan birokrasi yang akuntabel dan baik, maka pemerintah telah merumuskan sebuah peraturan untuk menjadi landasan dalam pelaksanaan reformasi birokrasi di Indonesia, yaitu Peraturan Presiden nomor 80 tahun 2011 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi Indonesia 2010-2025.

Reformasi birokrasi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai good governance dan melakukan pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek-aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan dan sumber daya manusia aparatur. Melalui reformasi birokrasi, dilakukan penataan terhadap sistem penyelangggaraan pemerintah yang efektif dan efisien. Reformasi birokrasi juga diharapkan bisa menjadi tulang punggung dalam perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara.[1]

Program reformasi birokrasi adalah salah satu wujud nyata dari pemerintah dalam upaya administrasi pembangunan di bidang penyelenggaraan birokrasi pemerintahan agar menjadi lebih baik. Tujuannya adalah untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional dengan karakteristik, berintegrasi, berkinerja tinggi, bebas dan bersih KKN, mampu melayani publik, netral, sejahtera, berdedikasi, dan memegang teguh nilai- nilai dasar dan kode etik aparatur negara.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sebagai salah satu lembaga pemerintah non kementerian yang melaksanakan tugas pemerintahan di

(2)

bidang penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan tenaga nuklir harus ikut serta mendukung program pemerintah tersebut.[2] Sebagai wujud dukungan, BATAN harus secara nyata ikut melaksanakan aturan undang – undang yang sudah di buat oleh Menpan sebagai instansi pembina program reformasi birokrasi di Indonesia.

B. Rumusan Masalah

“Bagaimana implementasi administrasi pembangunan di Badan Tenaga Nuklir Nasional?”

II. KERANGKA TEORI

Administrasi pembangunan merupakan segala usaha yang dilakukan oleh suatu negara/ pemerintah dalam rangka untuk bertumbuh, berkembang, serta juga berubah ke arah suatu keadaan yang dianggap lebih baik serta juga kemajuan pada aspek-aspek kehidupan berbangsa. Menurut Sondang P.

Siagian administrasi Pembangunan ini ialah suatu usaha atau juga rangkaian usaha pertumbuhan serta juga perubahan terencana yang dilakukan dengan secara sadar oleh suatu bangsa, negara serta juga pemerintah menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation-building).[3] Administrasi pembangunan berkembang karena adanya kebutuhan di negara-negara yang sedang membangun untuk mengembangkan lembaga-lembaga dan pranata- pranata sosial, politik, dan ekonominya agar pembangunan dapat berhasil.[4]

Administrasi pembangunan erat hubungannya dengan upaya dan kegiatan atau aktivitas pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah serta seluruh jajarannya. Selain dari pemerintah, upaya pembangunan juga sangat dipengaruhi oleh dunia usaha, cendekiawan, teoritis, khususnya pada bidang ekonomi, serta tentunya masyarakat secara keseluruhan.[5]

Dalam upaya penerapan pembangunan administrasi pemerintah mencanangkan program reformasi birokrasi. Visi dari reformasi birokrasi yang dibuat pemerintah adalah “Terwujudnya Pemerintahan Kelas Dunia”. Visi tersebut menjadi acuan dalam mewujudkan pemerintahan kelas dunia, yaitu pemerintahan yang profesional dan berintegritas tinggi yang mampu menyelenggarakan pelayanan prima kepada masyarakat dan manajemen

(3)

pemerintahan yang demokratis agar mampu menghadapi tantangan pada abad ke-21 melalui tata pemerintahan yang baik pada tahun 2025. Sasaran reformasi birokrasi yang dicanangkan pemerintah antara lain: (a) Terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme; (b) meningkatnya kualitas pelayanan publik kepada masyarakat; dan (c) meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi.[1]

III. ANALISIS

Dalam Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 yang ada pada lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2010 ada 8 area perubahan yang diharapkan bisa diterapkan di instansi instansi pemerintah.

8 perubahan tersebut antara lain meliputi: [1]

1. Organisasi, yaitu organisasi yang tepat fungsi dan tepat ukuran (right sizing).

2. Tatalaksana, yaitu sistem, proses dan prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien, terukur dan sesuai dengan prinsip-prinsip good governance.

3. Peraturan Perundangundangan, yaitu regulasi yang lebih tertib, tidak tumpang tindih dan kondusif.

4. Sumber daya manusia aparatur, yaitu SDM apatur yang berintegritas, netral, kompeten, capable, profesional, berkinerja tinggi dan sejahtera.

5. Pengawasan, yaitu meningkatnya penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN.

6. Akuntabilitas, yaitu meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi.

7. Pelayanan public, yaitu pelayanan prima sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat.

8. Pola pikir (mind set) dan Budaya Kerja (culture set) Aparatur, yaitu birokrasi dengan integritas dan kinerja yang tinggi.

Pelaksanaan reformasi birokrasi di BATAN mengacu pada program reformasi birokrasi nasional. 8 area perubahan, dilakukan di instansi BATAN antara lain:

1. Organisasi

Penyempurnaan organisasi sehingga dapat berfungsi dan tepat ukuran (right sizing) melalui restrukturisasi/penataan tugas dan fungsi unit kerja; dan

(4)

penguatan unit kerja yang menangani organisasi, tatalaksana, pelayanan publik, kepegawaian dan diklat dengan target penataan struktur organisasi yang berdampak terhadap pengurangan jumlah eselon I, eselon II, eselon III dan/atau eselon VI (20%). Pada penyusunan organisai baru mulai diterapkan tahun 2014. Pejabat fungsional ditempatkan langsung dibawah eselon II dan/atau pejabat fungsional madya dan utama dibawah eselon II sedangkan pejabat fungsional pertama dan muda dibawah eselon III.

2. Tatalaksana

Dalam pelaksanaannya meliputi:

a. Penyederhanaan sistem proses dan prosedur kerja dengan menerapkan e-governence berbasis web yang jelas, efektif, efisien, terukur, transparan menuju paperless dan sesuai dengan prinsip- prinsip good governance;

b. Mengembangkan sistem informasi terpadu pengelolaan sumber daya BATAN.

3. Peraturan Perundang-Undangan

Membenahi dan menyempurnakan/menyederhanakan peraturan melalui deregulasi dan regulasi yang lebih tertib, tidak tumpang tindih dan kondusif.

4. Sumber Daya Manusia Aparatur

Meningkatkan kualitas SDM aparatur BATAN yang berintegritas tinggi, netral, kompeten, capable, profesional, berkinerja tinggi dan sejahtera, melalui:

a. Penyempurnaan sistem perencanaan pegawai dan pengembangan karir pegawai (rekrutmen, promosi, rotasi, dan mutasi) menuju komposisi pendidikan SDM S3 : S2 : S1 yang mendukung kompetensi lembaga Penelitian sebesar 1 : 3 : 9 dengan jumlah optimum ± 2.700 pergawai;

b. Perencanaan pendidikan dan pelatihan pegawai berbasis kompetensi yang terintegrasi dengan pola karir dan pengembangan karir dengan target peningkatan SDM yang meniti karier jabatan fungsional menjasi ± 1.350 pegawai (50% dari seluruh pegawai);

c. Penyempurnaan persyaratan jabatan dan kualifikasi pegawai dalam bentuk analisis dan evaluasi jabatan, serta strategi penempatan sesuai kualifikasi dan persyaratannya menggunakan metode asesmen individu berbasis kompetensi;

(5)

d. Penerapan sistem nilaian kerja individu yang meliputi target kinerja, sistem pengukuran kinerja dan pemanfaatan hasil kinerja sebagai bahan untuk penyusunan sistem reward dan punishment

e. Penyempurnaan sistem informasi pegawai berbasis web yang lengkap dan muda di akses oleh pengguna untuk berbagai kepentingan;

f. Penerapan sistem penggajian dan bentuk jaminan kesejahteraan yang sepadan (equal pay for equal work);

g. Penerapan Nuclear Knowledge Management secara terintegrasi untuk mencegah terjadinya loss of nuclear knowedge di indonesia;

h. Pengembangan sistem informasi data kinerja pegawai BATAN.

5. Pengawasan

a. Menigkatkan tata kelola yang efesien dan efektif menuju terciptanya organisasi BATAN yang transparan, akuntabel, dan berwibawa;

b. Meningkatkan Pengawasan terhadap pengelolaan anggaran sehingga tercapai optimalisasi efektifitas dan efisiensi produktivitas Birokrasi BATAN;

c. Meningkatnya penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dengan menerapkan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dalam rangka mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

6. Akuntabilitas

a. Menyusun indukator keberhasilan tentang kepemimpinan, organisasi, manajemen SDM, dan manajemen proses;

b. Meningkatkan perencanaan kinerja yang berfokus pada pemangku kepentingan dan pelanggan, dan berorientasi pada hasil;

c. Meningkatkan peringkat LAKIP BATAN menjadi baik;

d. Melakukan sosialisasi dan pembinaan tentang pemahaman sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (SAKIP), serta pemanfaatan teknologi informasi dan pengkomunikasian informasi kinerja dalam rangka meningkatkan kapasitas akuntabilitas kinerja birokrasi BATAN;

7. Pelayanan Publik

a. Menyempurnakan Standar Pelayanan sebagai indikator peningkatan manajemen proses instansi melalui reviu dan penyempurnaan SOP secara berkala dan berkelanjutan;

(6)

b. Melaksanakan pelayanan prima sesuai dengan standar pelayanan untuk memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat.

8. Pola Pikir (Mind Set) dan Budaya Kerja (Culture Set)

a. Mengembakan budaya kerja yang efesien, nilai-nilai kerja dan perilaku yang positif melalui kegiatan pemberian/peningkatan motivasi, penerapan kode etik PNS BATAN dan pencontohan/keteladanan dari pimpinan BATAN;

b. Meningkatkan kualitas pengelolaan fasilitas nuklir dan hasil litbangyasa iptek nuklir yang dibutuhkan masyarakat.

c. Mendekatkan BATAN dengan masyarakat/industri melalui litbang yang berorientasi terhadap pengguna menuju rasio Riset Dasar : Riset Terapan : Diseminasi menjadi 20:70:10 dicapai secara bertahap dan melibatkan mitra dalam Jaringan Mitra strategis.

IV. KESIMPULAN

Penerapan reformasi birokrasi di BATAN yang meliputi perubahan di 8 area (organisasi, tatalaksana, peraturan perundang-undangan, sumber daya manusia aparatur, pengawasan, akuntabilitas, pelayanan public, dan pola piker/mindset) merupakan jawaban dari PP nomor 81 tahun 2010 tentang grand design reformasi birokrasi 2010 – 2025. Hal itu merupakan wujud nyata dari amanah pemerintah dalam hal administrasi pembangunan. Sejalan dengan apa yang disampaikan Bintoro Tjokroamidjojo dalam bukunya yang berjudul “Pengantar administrasi pembangunan” tentang empat (4) fungsi utama administrasi pembangunan yang meliputi: Kepemimpinan Administratif; Pendayagunaan Kelembagaan; Pendayagunaan Kepegawaian; Pendayagunaan Ketatalaksanaan.[6] Semua fungsi tersebut ada dalam program reformasi birokrasi yang diterapkan di BATAN.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Kementrian Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2010 Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025. Jakarta: Kementrian Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara, 2010.

(7)

[2] Badan Tenaga Muklir Nasional, RENSTRA BATAN. 2017.

[3] Afifuddin, Pengantar Administrasi Pembangunan (Konsep, Teori dan Implikasinya di Era Reformasi), Cetakan Ke. Bandung: Alfabeta, 2012.

[4] G. Kartasasmita, Administrasi Pembangunan: Perkembangan pemikiran dan praktiknya di Indonesia. Jakarta: LP3ES, 1997.

[5] Nidaa dan Rima Amalia, “Penerapan Good Governance Di Indonesia.”

Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2015.

[6] B. Tjokroamidjojo, Pengantar Administrasi Pembangunan. Jakarta, 1991.

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan uraian di atas, maka dapat diketahui bahwa salah satu bidang dalam reformasi birokrasi adalah peningkatan kinerja oleh pemerintah sebagai wujud tata kelola pemerintahan

REFORMASI BIROKRASI (Studi Deskriptif Implementasi Customer Relations Sebagai Fungsi Public Relations Badan Pertanahan Nasional Pati Dalam Menjalankan Standart

Melaksanakan manajemen perubahan dalam pelaksanaan reformasi birokrasi Badan Narkotika Nasional, yang berarti mengubah secara sistematis dan konsisten sistem dan

Terdapat 6 dokumen yang digunakan dalam Sistem akuntansi Penggajian ini, diantaranya Surat Persetujuan dari BKN, Surat Keputusan dari Kepala BATAN, Dokumen Pendukung Perubahan

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 2 ayat (6) Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 26 Tahun 2016

• Aset Tak Berwujud merupakan aset yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan barang atau jasa atau

Program Reformasi Birokrasi yang dilaksanakan oleh BKKBN berdasarkan pada area perubahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 adalah sebagai berikut:.. (1) Mental

Pembangunan zona integritas dilaksanakan untuk mengembangkan budaya birokrasi yang anti korupsi, efisien dan mampu memberikan layanan yang berkualitas Mengenai pemahaman teknis