1
IMPLEMENTASI METODE DISKUSI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI FIQIH DI
KELAS X MA NW SELAPARANG KECAMATAN KEDIRI KABUPATEN LOMBOK BARAT
TAHUN AJARAN 2010/2011
SKRIPSI
Oleh
IKHLAS ABDUL MAJID 151. 071. 044
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
2011
2
IMPLEMENTASI METODE DISKUSI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI FIQIH DI
KELAS X MA NW SELAPARANG KECAMATAN KEDIRI KABUPATEN LOMBOK BARAT
TAHUN AJARAN 2010/2011
SKRIPSI
Oleh :
IKHLAS ABDUL MAJID 151. 071. 044
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
2011
vi
\
Motto :
Artinya : Ajaklah mereka kejalan Tuhan Mu dengan penuh hikmah (dengan cara yang baik) dan berilah mereka pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik pula.
QS. An-Nahal Ayat 125 (Depag RI, 1992 : 78)
vii
PERSEMBAHAN Karya tulis ini kupersembahkan kepada mereka orang-orang yang terdekat dihatiku, sebagai bukti kebaktianku atas tetesan keringat, doa, kesabaran dan segala nasihat-nasihatnya.
Yang tercinta dan tersayang:
1. Ayahanda (Abdul Majid) dan Ibundaku tercinta (Thalha Al-Gadry) yang telah melahirkan, membesarkan dan memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan dan menjadi orang yang terdidik, tiada kasih setulus kasihmu. Terimalah setitik bukti dari sebuah kesuksesan yang dapat ananda raih dari perjuangan dan pengorbanan. Hanya do’a yang dapat ananda panjatkan semoga pengorbananmu mendapat imbalan dan diridhoi Allah SWT.
2. Buat ”Abah” (Pembimbing I) (Drs. H.Baehaqi. M.Pd) Pembimbing II (Ahmad Sulhan, S.Ag, M.Pd) yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Buat Bapak H.Dr.Musyari,M.Pd, dan semua teman-teman Pondok Masjid Al-Mujahidin, yang selalu bersama dalam suka dan Duka serta selalu ada dalam nuansa kebersamaan
4. Kakak-kakakku tercinta (Ibu Uga, Mama Habeb, dan bpk Faiz) dan serta semua keluarga ku, trimakasih atas dukungan dan motivasi baik secara moril dan sprituil atas keberhasilanku dalam menyelesaikan studyku.
5. Sahabat-Sahabatku Tercinta, (Abang Mujib, Ovan, Irham, Mashur, Muhammad, S.Pd.i,), serta rekan-rekan seperjuanganku khususnya PAI angakatan 2007 yang telah membantu dalam kelancaran penulisan skripsi ini
6. Untuk sebuah nama yang selalu ada dalam hatiku yang senantiasa mencurahkan ketulusan cinta, kasih sayangnya dan kesabarannya.
7. Almamaterku tercinta IAIN Mataram.
“Semoga Bingkisan Akhir Studiku Ini Sebagai Titik Awal Pengabdianku
Untuk
Keluarga, Masyarakat, Bangsa Dan
Negaraku”
viii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil ‘Alamin segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan nikmat sehat dan kesempatan yang telah diberikannya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, guna memenuhi syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Mataram.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan atas junjungan Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya, yang telah membimbing dan menuntun manusia dari kekejian menuju Akhlakul Karimah sehingga manusia dapat membedakan yang hak dan yang batil.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa ada bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:
1. Ayahan dan dan Ibunda tercinta yang selalu berjuang dalam menjalani tugas sebagai orang tua yang sekaligus menjadi penopang kehidupan dalam keluarga dan kepada kakak-kakak tersayang yang senantiasa memotivasi dan membiayai studyku dengan harapan agar bisa meraih kesuksesan.
2. Drs. H. Baehaqi, M.Pd, selaku pembimbing pertama dan Ahmad Sulhan, S.Ag, M.Pd, selaku pembimbing kedua yang telah banyak memberikan bimbingan dalam penulisan skripsi ini.
3. Bapak dan Ibu Dosen yang telah memberikan ilmu pengetahuan dengan tulus selama penulis mengikuti perkuliahan di IAIN Mataram, serta karyawan dan karyawati yang telah memberikan bantuan kepada penulis
ix
4. Dr. H. Nashuddin, M.Pd. selaku Rektor IAIN Mataram yang telah melakukan berbagai kebijakan yang meringankan mahasiswa dalam urusan perkuliahan di IAIN Mataram.
5. Dr. Muhammad, M.Pd, MS selaku Dekan IAIN Mataram, dan Pembantu Dekan, beserta staf-stafnya yang telah banyak memberikan bantuan selama berada di lingkungan kampus IAIN Mataram.
6. Abdul Hafiz SS, M.Pd selaku Kepala MA NW Selaparang yang menerima penulis untuk meneliti di lokasi tersebut sehingga skripsi bisa terselesaikan dengan lancar.
7. Kepada segenap keluarga besar di Sumba dan di Dompu yang selalu memotivasi dan selalu ada dalam setiap kelalaian penulis dalam menyelesaikan karya ini.
Penulis sadar bahwa dalam kapasitas sebagai mahasiswa masih banyak kekurangan-kekurangan, sehingga penulis sangat mengharapkan adanya respon, kritik dan saran yang konstruktif bagi penyempurnaan skripsi ini.
Akhirnya kepada Allah SWT jualah penulis serahkan, semoga jasa baik Bapak Ibu dapat diterima sebagai amal baik di sisi Allah SWT dan mudah- mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin
Mataram, September 2011
Penulis
x DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ...
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN NOTA DINAS ...iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
KATA PENGANTAR ...viii
DAFTAR ISI ... x
BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian ... 1
B. Fokus Penelitian ... 8
C. Tujuan dan Manfaat ... 8
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitaian ... 10
E. Telaah Pustaka ... 11
F. Kerangka Teoritik... 13
1. Metode Diskusi ... 14
a. Pengertian Metode Diskusi ... 14
b. Jenis-jenis Metode Diskusi ... 14
c. Kelebihan dan Kekurangan Metode Diskusi ... 17
xi
2. Motivasi ... 17
a. Pengertian Motivasi ... 17
b. Fungsi Motivasi Dalam Proses Belajar Mengajar ... 19
c. Macam-macam Motivasi ... 21
d. Bentuk-bentuk Motivasi ... 23
3. Pembelajaran Bidang Studi Fiqih ... 25
a. Pengertian Fiqih ... 25
b. Ruang Lingkup dan Tujuan Pembelajaran Fiqih di MA ... 26
c. Materi Pembelajaran Fiqih Kelas X MA ... 26
G. Metode Penelitaian ... 27
1. Pendekatan Penelitian... 27
2. Kehadiran Peneliti ... 30
3. Lokasi Penelitian ... 31
4. Sumber Data ... 32
5. Prosedur Pengumpulan Data ... 33
6. Teknik Analisis Data ... 38
7. Validitas Data ... 41
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Gambaran Umum MA NW Selaparang ... 45
1. Sejarah Singkat Berdirinya MA NW Selaparang ... 45
2. Letak Geografis MA NW Selaparang ... 46
3. Sarana dan Prasarana MA NW Selaparang ... 46
4. Keadaan Guru dan Pegawai MA NW Selaparang ... 48
5. Keadaan Siswa MA NW Selaparang ... 50
6. Struktur Organisasi MA NW Selaparang... 51
xii
B. Implementasi Metode Diskusi Kelompok dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Bidang Studi Fiqih Siswa Kelas X MA NW Selaparang Kecamatan Kediri Lombok Barat Tahun Pelajaran 2010/2011 ... 53 C. Motivasi Belajar Siswa pada Bidang Studi Fiqih Siswa Kelas
X MA NW Selaparang Kecamatan Kediri Lombok Barat Tahun Pelajaran 2010/2011... 57 BAB III PEMBAHASAN
A. Implementasi Metode Diskusi Kelompok dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Bidang Studi Fiqih Siswa Kelas X MA NW Selaparang Kecamatan Kediri Lombok Barat Tahun Pelajaran 2010/2011 ... 60 B. Motivasi Belajar Siswa pada Bidang Studi Fiqih Siswa Kelas
X MA NW Selaparang Kecamatan Kediri Lombok Barat Tahun Pelajaran 2010/2011 ... 64 BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ... 67 B. Saran-saran ... 68 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
13 ABSTRAK
Mata pelajaran Fiqih, tidak akan mampu mengembangkan sikap siswa yang sesuai dengan norma-norma agama, karena proses pembelajaran hanya diarahkan agar anak bisa menguasai dan menghafal materi pelajaran, dan lain sebagainya. Gejala-gejala semacam ini merupakan gejala umum dari hasil proses pendidikan di Indonesia yang belum bisa berjalan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan. Adapun yang menjadi ruang lingkup dalam penelitian ini meliputi implementasi metode diskusi dalam meningkatkan motivasi belajar siswa agar mengantar siswa kepada kemandirian dan menjadi siswa yang bertanggung jawab dalam segala hal terutama dalam pendidikan. disimpulkan juga bahwa motivasi belajar siswa setelah implemenasi metode diskusi pada bidang studi fiqih siswa kelas X MA NW Selaparang Kec. Kediri Kab. Lombok Barat mengalami peningkatan. Mereka lebih termotivasi dalam belajar secara berkelompok, karena adanya pertukaran pendapat langsung dari teman- teman sekelas mereka. Dan dari hasil wawancara secara random atau acak, para siswa juga lebih menyukai pelajaran fiqih apabila dalam kegiatan belajar di dalam kelas dilaksanakan dengan metode diskusi.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia adalah masalah lemahnya proses pendidikan. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika anak didik lulus dari sekolah, mereka hanya pintar secara teoritis, tetapi mereka miskin akan aplikasi.
Mata pelajaran Fiqih, tidak akan mampu mengembangkan sikap siswa yang sesuai dengan norma-norma agama, karena proses pembelajaran hanya diarahkan agar anak bisa menguasai dan menghafal materi pelajaran, dan lain sebagainya. Gejala-gejala semacam ini merupakan gejala umum dari hasil proses pendidikan di Indonesia yang belum bisa berjalan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan. Akibatnya, proses pembelajaran belum bisa berjalan secara efektif. Pendidikan di sekolah terlalu menjejali otak anak dengan berbagai bahan ajar yang harus dihafal; pendidikan di Indonesia tidak diarahkan untuk membangun dan mengembangkan karakter serta potensi yang dimiliki peserta didik, dengan kata lain proses pendidikan di Indonesia tidak pernah diarahkan untuk membentuk manusia yang cerdas, memiliki
1
2
kemampuan untuk memecahkan masalah hidup, serta tidak diarahkan untuk membentuk manusia yang kreatif dan inovatif.
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.1
Sebagaimana yang tercantum dalam undang-undang tersebut bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang terencana, hal ini berarti bahwa proses pendidikan disekolah bukanlah proses yang dilaksanakan secara asal-asalan dan untung-untungan, akan tetapi merupakan suatu proses yang memiliki tujuan. Sehingga, segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa diarahkan pada pencapaian terhadap suatu tujuan yang ingin dicapai.
Adapun proses pendidikan yang terencana itu diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, hal ini berarti pendidikan tidak boleh mengesampingkan proses belajar. Pendidikan tidak semata-mata berusaha untuk mencapai hasil belajar, akan tetapi bagaimana memperoleh hasil atau proses belajar yang terjadi pada diri anak. Dengan demikian, dalam pendidikan antara proses dan hasil belajar harus berjalan secara seimbang. Pendidikan yang hanya mementingkan salah satu diantaranya tidak akan dapat membentuk manusia yang berkembang secara utuh.
1 Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, ( Bandung, Remaja Rosdakarya, 2007), h, 195
3
Kemudian, suasana belajar dan pembelajaran itu diarahkan agar peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya, ini berarti proses pendidikan itu harus berorientasi kepada siswa. Karena pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi anak didik.
Adapun akhir dari proses pendidikan adalah agar anak memiliki kekuatan spiritual, kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Hal ini mengandung arti proses pendidikan berujung kepada pembentukan sikap, pengembangan kecerdasan atau intelektual, serta pengembangan keterampilan anak sesuai dengan kebutuhan. Ketiga aspek inilah yang menjadi arah dan tujuan pendidikan yang harus diupayakan.
Dengan demikian, ketika memberikan pelajaran Fiqh, maka seharusnya seorang guru yang memegang mata pelajaran tersebut berpikir bagaimana pelajaran Fiqh tersebut dapat membentuk anak yang memiliki sikap, kecerdasan, keterampilan sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dipaparkan dalam UU SISDIKNAS, demikian juga dengan mata pelajaran yang lainnya.
Adapun motivasi belajar adalah perubahan tingkahlaku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi dari hasil praktek dan penguatan yang dilandasi dengan tujuan untuk mencapai tujuan tertentu.2
Jadi metode diskusi dengan motivasi belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi, karena motivasi belajar siswa dapat timbul oleh faktor
2 Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukuranya,, Analisis di Bidang Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara 2008),h.23.
4
ekstrinsik tidak hanya faktor intrinsiknya. Faktor ekstrensik dalam hal ini maksudnya adalah lingkungan belajar yang kondusif, kegiatan belajar yang menarik. Bagi siswa, cendrung kegitan belajar yang menurutnya menarik yaitu salah satunya implementasi metode diskusi. Karena dengan implementasi metode ini siswa lebih optimis dalam belajar, disebabkan cenderung terjadinya persaingan antar siswa/kelompok sehingga membuat siswa termotivasi dalam belajar.
Untuk mencapai motivasi belajar dan mutu pendidikan yang dimaksud, maka diperlukan upaya perbaikan dan pembenahan proses belajar mengajar secara terus menerus baik dalam segi materi, metode maupun evaluasi harus dilakukan oleh semua pihak terutama oleh guru. Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II Pasal 3 yang berbunyi:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU RI No.20 Tahun 2003)3
Dalam kegiatan proses belajar mengajar, guru memiliki peranan penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Peranan guru dipengaruhi oleh penguasaan ilmu yang mereka miliki, caranya memberikan pengajaran dan upaya memotivasi minat belajar siswa. Begitu pula dengan diri siswa, dimana siswa memiliki latar belakang individual yang berbeda-beda,
3 UU RI.No 20 Th 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bandung :Citra Ambara,2003),h.7.
5
tidak semua siswa dapat menangkap bahan ajar dengan cepat, tidak semua rajin, tidak semua mampu melakukan penyesuaian dengan situasi di lingkungan mereka belajar.
Oleh karena itu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan diperlukan metode yang baik, tepat dan sesuai dengan kebutuhan materi yang akan diajarkan. Dan jika dilaksanakan dengan langkah-langkah yang baik, maka hasilnya pun juga baik dan terarah. Metode diskusi merupakan metode yang cendrung memotivasi belajar siswa agar aktivitas berada pada siswa yaitu melatih siswa untuk mampu menggunakan pengetahuanya untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi atau untuk menjawab suatu pertanyaan dan mampu mengemukakan pendapat atau idenya sendiri dalam memecahkan masalah, Terutama permasalah dibidang studi Fiqih.
Fiqih merupakan ilmu tentang faham atau pendapat para ulama yang sangat perlu bahkan wajib dipelajari oleh umat muslim yang hidup pada masa taqlik yaitu seperti umat muslim pada saat ini. Pada umumnya dengan ilmu fiqih siswa akan dapat memahami tentang semua aturan-aturan yang berlaku dalam islam. Dan ilmu fiqih bagi umat manusia pada dasarnya sifatnya fungsional sekali sehingga belajar tanpa mempelajari ilmu fiqih, maka kehidupan manusia akan keliru bahkan akan menyimpang dari syari’at.
Sedangkan metode diskusi dalam pembelajaran, Zuhairani dkk, berpendapat adalah sebagai berikut :
Metode diskusi ialah suatu metode didalam mempelajari bahan atau menyampaikan bahan dengan jalan mendiskusikanya, sehingga berakibat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkahlaku peserta didik.
Metode ini dimaksud untuk merangsang peserta didik berfikir dan
6
mengeluarkan pendapat sendiri, serta ikut menyumbangkan pikiran dalam satu masalah bersama yang terkandung banyak kemungkinan- kemungkinan jawaban.4
Menurut Roestiyah, diskusi merupakan salah satu tehnik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang Guru di sekolah. Didalam diskusi ini proses interaksi dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dan dapat terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja.5
Tujuan dari penggunaan metode diskusi ini, agar siswa terdidik untuk berkreasi, berpartisipasi dan mampu memberikan solusi dalam pemecahan masalah, semangat dan motivasi dalam mengikuti pelajaran tetap tumbuh dan pada akhirnya usaha dan kerja kerasnya melahirkan hasil atau motivasi belajar yang memuaskan. Sebab anak didik adalah mahluk yang memiliki kreatifitas dan serba aktif yang menuntut agar dalam pendidikan anak benar-benar dibimbing dan diarahkan agar ia dengan sendirinya juga menampakkan kreatifitasnya. Di dalam proses belajar mengajar anak harus diperhatikan dan diposisikan sesuai dengan kemampuannya, serta pendidikan hendaknya lebih bersifat menolong berkembangnya pikiran kritis, tidak hanya berupa pemberian materi pelajaran yang tidak memenuhi kepada apa yang dibutuhkan anak.6
Disinilah peran dan tanggung jawab guru (khususnya guru bidang studi fiqih) dalam membimbing dan mengarahkan siswanya serta mengetahui keadaan siswa dengan kepekaan untuk memperkirakan kebutuhan siswanya.
4 Zuhairi dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), h.89.
5 Roestiyah, Strategi Belajar Mnegajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2008),h 5.
6 Imam Barnadib, Dasar-Dasar Pendidikan Perbandingan (Yogyakarta: Institut Press, IKIP Yogyakarta, 1988) hal. 29-30
7
Disamping itu, dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar guru juga di tuntut untuk menciptakan kondisi-kondisi kelas yang menyenangkan (kondusif) yang dapat mendorong siswa untuk melakukan kegiatan belajar dengan sungguh-sungguh, baik itu di lingkungan yang bersifat formal maupun secara luas belajar agama di lingkungan non formal secara mandiri.
Berdasarkan hasil observasi awal, di kelas X MA NW Selaparang- Kediri pada bidang studi Fiqih, penerapan metode diskusi dalam proses belajar mengajar lebih banyak digunakan, namun dalam implementasinya belum terlihat hasil yang maksimal. Hanya beberapa orang siswa saja yang aktif dalam kelas sementara siswa yang lain tidak memperhatikan, ada yang tidur, bermain, memukul-mukul meja. Dampak lain ialah peserta didik kurang bersemangat untuk berkompetisi dalam menyumbangkan pikiran dan pendapat tentang materi yang di diskusikan, siswa merasa bosan untuk mengikuti proses belajar mengajar, dan pada akhirnya berimplikasi pada rendahnya motivasi belajar siswa.7
Bertitik tolak dari pemikiran di atas dan mengingat betapa pentingnya penguasaan terhadap penggunaan metode diskusi oleh guru yang mengajar, maka penulis merasa tertarik sekali untuk menjadikannya sebagai topik permasalahan dalam penelitian. Topik yang dimaksud yaitu: “Implementasi Metode Diskusi dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Bidang Studi Fiqih di Kelas X MA NW Selaparang Kecamatan Kediri Lombok Barat Tahun Pelajaran 2010/2011”.
7 Observasi awal, tanggal 13 Mei 2011
8 B. Fokus Penelitian
Berdasarkan konteks yang penulis kemukakan diatas, maka yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana implementasi metode diskusi dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada bidang studi fiqih kelas X MA NW Selaparang-Kediri Lombok Barat Tahun Pelajaran 2010/2011?
2. Bagaimana motivasi belajar siswa pada bidang studi Fiqih kelas X MA NW Selaparang-Kediri Tahun Pelajaran 2010/2011?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui implementasi metode diskusi dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada bidang studi fiqih kelas X MA NW Selaparang-Kediri Lombok Barat Tahun Pelajaran 2010/2011?
b. Untuk mengetahui motivasi belajar siswa pada bidang studi Fiqih kelas X MA NW Selaparang-Kediri Tahun Pelajaran 2010/2011?
2. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini penulis berharap akan mempunyai suatu Manfaat yaitu antara lain:
9 a. Manfaat Teoritis
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah dan cakrawala ilmu pengetahuan terutama tentang upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode diskusi pada bidang studi fiqih kelas X MA NW Selaparang-Kediri Tahun Pelajaran 2010/2011. Di samping itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi para pengemban pendidikan dan memperkaya hasil penelitian yang telah ada dan dapat memberi gambaran mengenai motivasi belajar siswa pada bidang studi fiqih.
b. Manfaat Praktis
Adapun manfaat praktisnya yaitu antara lain:
1. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi guru maupun kepala sekolah agar lebih berperan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.
2. Dapat dijadikan bahan informasi yang berguna bagi peneliti berikutnya latar tentang permasalahan belajar lebih lanjut.
3. Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi gelar strata satu (S1) IAIN fakultas tarbiyah
10 D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
1. Ruang Lingkup Penelitian
Untuk memperjelas arah penelitian ini, maka perlu dibatasi ruang lingkup masalah yang akan diteliti sehingga pembahasan yang disampaikan menjadi lebih terukur dan tajam.
Adapun yang menjadi ruang lingkup dalam penelitian ini meliputi implementasi metode diskusi dalam meningkatkan motivasi belajar siswa agar mengantar siswa kepada kemandirian dan menjadi siswa yang bertanggung jawab dalam segala hal terutama dalam pendidikan.
2. Setting Penelitian
Agar memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian dan tidak menyebabkan ruang lingkup penelitian membias, maka dalam penelitian ini, peneliti memilih lokasi untuk dijadikan lokasi penelitian yaitu di MA NW Selaparang Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat.
Adapun alasan peneliti memilih lokasi penelitian di Madrasah Nahdlatul Wathan Selaparang Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat adalah sebagai berikut :
a. Secara geografis Madrasah NW Selaparang Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat yang terletak di jantung Kecamatan Kediri sangat strategis dan mudah dijangkau oleh transportasi, karena lokasi Madrasahnya di pinggir jalan, serta lokasi MA NW Selaparang dikelilingi oleh pemukiman masyarakat
11
b. MA NW Selaparang Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu lembaga formal (swasta) dimana pembenahan terhadap mutu pendidikan merupakan salah satu langkah untuk tercapainya suatu cita-cita bangsa yang menjadikan anak didik yang beriman, berilmu, cakep, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab.
c. MA NW Selaparang Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat berdasarkan observasi awal merupakan salah satu lembaga pendidikan yang lebih cenderung menggunakan metode diskusi dalam proses belajar mengajar.
E. Telaah Pustaka
Penelitian masalah peningkatan motivasi belajar dengan implementasi metode diskusi dalam pada bidang studi fiqih sebenarnya sudah pernah diteliti sebelumnya oleh beberapa orang diantaranya adalah:
1. Yuli Andriana (2006) dengan judul “Upaya peningkatan motivasi belajar dengan penggunaan metode tanyajawab Pada Bidang Studi Pendidikan Agama Islam kelas II di MAN 1 Kediri Lombok Barat”.
Beberapa pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini dapat disimpulkan yaitu bahwa metode tanyajawab dilakukan dengan cara guru memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa kemudian siswa menjawab dengan aktif. Serta upaya yang dilakukan guru dalam peningkatan motivasi belajar siswa kelas II, dengan penerapan metode
12
tanya jawab ini guru berusaha mengembangkan minat dan keinginan siswa dalam belajar dengan cara mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa sedangkan giliran menjawab diberikan secara merata, tidak terpusat pada murid tertentu saja, hasil ini berdasarkan analisis data.
2. Syamsul Rizal (2004) dengan judul:”Upaya Guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada bidang studi pendidikan Agama Islam di SMA NW Kopang Lombok Tengah”.
Beberapa pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini dapat disimpulkan yaitu bentuk motivasi yang diterapakan di SMA NW Kopang Lombok Tengah, dilakukan dengan pemberian angka, pemberian pujian, pemberian hadiah, pemberian hukuman, mengetahui hasil belajar, ulangan pemberian tugas. Selain dengan pemberian motivasi belajar siswa, ini juga siswa bisa memacu diri untuk belajar sendiri, baik di sekolah maupun di rumah mereka sendiri. Adapun kendala-kendala yang dihadapi guru dalam pemberian motivasi belajar siswa adalah kurangnya motivasi yang berasal dari siswa itu sendiri sehingga upaya yang diberikan oleh guru adalah memberikan penghargaan terhadap siswa yang rajin belajar, memberikan pujian, memberikan penilaian dan memberikan suasana belajar yang kondusif.
Dilihat dari penelitian-penelitian sebelumnya secara redaksional keduanya memiliki perbedaan namun pada hakekatnya memiliki tujuan yang sama yaitu bagaimana upaya meningkatkan motivasi belajar siswa agar lebih baik dan sesuai dengan yang diharapkan.
13
Adapun perbedaan penelitian-penelitian yang sebelumnya dengan penelitian yang akan peneliti lakukan sekarang yaitu penelitian sebelumnya mengangkat masalah peningkatan motivasi belajar dengan penggunaan metode tanya jawab Pada bidang studi Pendidikan Agama Islam dan Upaya Guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada bidang studi pendidikan Agama Islam di SMA NW Kopang Lombok Tengah”.
Sedangkan penelitian yang akan dilakukan sekarang ini adalah Implementasi Metode Diskusi dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Mata Bidang Studi Fiqih Kelas X Madrasah Aliyah NW Selaparang Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat Tahun Pelajaran 2010/2011.
Atau dengan kata lain, penelitian ini lebih dikonsentrasikan kepada penerapan metode diskusi dalam upaya peningkatan motivasi belajar siswa.
F. Kerangka Teoretik
Sebelum lebih jauh membahas pengertian metode diskusi, terlebih dahulu peneliti akan menjelaskan pengertian metode itu sendiri. “Secara umum metode diatikan sebagai cara melakukan sesuatu. Secara khusus, metode dapat diartikan sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai tekhnik dan sumberdaya terkait lainnya agar terhadi proses pembelajaran pada diri pembelajar.”8
8 Abdorrrakhman Ginting, Esensi Praktis Belajar Dan Pembelajaran (Bandung, Humaniora, 2008), h,42
14 1. Metode Diskusi
a. Pengertian Metode Diskusi
“Metode diskusi adalah suatu cara penyajian pembelajaran dengan memberi kesempatan pada para siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, atau berbagai alternative pemecahan atas suatu masalah”.9
Ahli lain menyatakan bahwa metode diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru disekolah. Didalam diskusi ini proses intraksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja.10
Berdasarkan definisi diatas bahwa yang dimaksud metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran yang melibatkan guru. Dalam hal ini guru memberikan kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah secara aktif antara dua atau lebih individu terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, guna mengumpulan pendapat, membuat keputusan atau alternative guna memecahkan permasalahan untuk membuat keputusan.
b. Jenis-Jenis Metode Diskusi
Adapun jenis-jenis metode diskusi adalah 1) Kelompok studi besar (whole group) 2) Kelompok kecil (sundicate group)
3) Kelompok penggagasan (brain storming group)
9 Hasibuan, Proses Belajar Mengajar (Bandung, Remaja Karya,1988), h,20
10 Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta, PT. Renika Cipta , 2008) h. 5
15 4) Debat informasi (informal debate) 5) Sejawat (colloquim) ”.11
Untuk lebih jelasnya jenis-jenis metode diskusi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Kelompok Studi Besar (whole group)
Kelompok studi besar yang dimaksud ialah “kelas merupakan satu kelompok diskusi. Whole group yang ideal apabila jumlah anggota tidak lebih dari 15 orang.”12
Hasil belajar yang diharapkan ialah agar segenap individu membandingkan persepsinya yang berbeda-beda tentang bahan pelajaran, berpikir kritis, analitis dan rasionalis, sehingga hasil yang diharapkan adalah para siswa mampu menyumbangkan ide-ide atau gagasan yang cemerlang saat suasana diskusi atau diluar kelas.
2) Kelompok kecil (sundicate group)
Suatu kelompok (kelas) dibagi menjadi beberapa kelompok kecil terdiri dari 3 sampai 6 anggota. Masing- masing kelompok kecil melaksanakan tugas tertentu. Guru menjelaskan secara garis besarnya problema kepada kelas, ia menggambarkan aspek-aspek masalah, kemudian tiap- tiap kelompok diberi tugas untuk mempelajari suatu aspek tertentu. Guru menyediakan referensi atau sumber-sumber informasi lain.13
Jenis diskusi ini diharapkan setiap sindikat bersidang sendiri-sendiri atau membaca bahan, berdiskusi, dan menyusun
11 Hasibuan, Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Pengajaran Mikro, h.20-21
12 Ibid, h, 20
13 Ibid, h 21
16
laporan berupa kesimpulan sindikat. Tiap laporan dibawa kesidang pleno untuk didiskusikan lebih lanjut.
3) Kelompok penggagasan (brain storming)
“Kelompok menyumbangkan ide-ide baru, dan kelompok atau peserta diskusi yang lain mendengarkan ide-ide atau gagasan dari kelompok lain dalam memecahkan persoalan yang disajikan oleh guru.”14
Hasil belajar yang diharapkan ialah agar anggota kelompok belajar menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan rasa percaya diri dalam mengembangkan ide-ide yang ditemukannya yang dianggap benar.
4) Debat informasi (informal debate)
“Kelas dibagi menjadi 2 tim yang agak sama besarnya dan mendiskusikan subyek yang cocok untuk doperdebatkan tanpa memperhatikan peraturan perdebatan formal. Bahan yang cocok untuk diperdebatkan ialah yang bersifat problematic, bukan yang bersifat factual”.15
Hasil belajar yang diharapkan ialah agar anggota kelompok belajar memiliki rasa percaya diri dalam mengembangkan ide- ide yang ditemukannya yang dianggap benar dan akurat.
14 Ibid, h 22
15 Ibid, h, 23
17 5) Sejawat (colloquim)
“Seseorang atau beberapa orang manusia sumber menjawab pertanyaan dari audience. Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa mengiterviu manusia sumber, selanjutnya mengundang pertanyaan lain atau tambahan dari siswa lainnnya.”16
Hasil belajar yang diharapkan ialah para siswa akan memproleh pengetahun dari tangan pertama.
c. Kelebihan dan Kekurangan Metode Diskusi
Metode diskusi yang diterapkan sebagai metode pembelajaran memiliki berbagai keunggulan dan kekurangan.
“Kelebihan metode diskusi adalah adanya kebebasan siswa untuk mengeluarkan segala pengetahuan yang dimilikinya. Sedangkan kekurangannya adalah terlalu meluasnya materi yang dibahas dan akan semakin banyaknya waktu yang diperlukan. Hal ini tentu tidak efisien dengan alokasi waktu pembelajaran yang biasanya tidak terlalu banyak.”17
2. Motivasi Belajar
a. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah suatu yang tak kalah pentingnya dalam menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam belajar, hak ini di
16 Ibid, h, 24
17 Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta, Rineka Cipta, 2006), h, 50
18
sebabkan karena motivasi merupakan daya penggerak yang datang dari dalam maupun dari luar individu yang belajar
Untuk lebih jelasnya tentang pengertian dari motivasi berikut ini akan di kutip beberapa pendapat para ahli sebagai berikut:
Siagian menjelaskan bahwa dari segi taksonomi, motivasi berasal dari kata movere dalam bahasa latin yang artinya bergerak. Kata motiv di artikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Selanjutnya di jelaskan bahwa motiv adalah keadaan kejiwaan yang mendorong mengaktifkan atau menggerakkan dan motiv itulah yang mengarahkan dan menyalurkan perilaku sikap dan tindak tanduk seseorang yang selalu di kaitkan dengan pencapaian tujuan,baik tujuan organisasi maupun tujuan pribadi. Motif dapat di artikan sebagai suatu kondisi intren. Berawal dari kata motif itu, maka motivasi dapat di artikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.18
Menurut Mc. Donalld, dan Hamalik “motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang di tandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.”19
Dari pengertian yang di kemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting:
1) Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia.
2) Motivasi ditandai dengan munculnya rasa “feeling afeksi”
seseorang.
3) Motivasi akan dirangsang karena ada tujuan.
18 Sardiman , Intraksi Dan Motivasi Belajar Mengajar , (Jakarta, Raja grafindo,2006), h.73
19 Hamalik, Psikologi Belajar Dan Mengajar, (Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2002), h 173.
19
Dari tiga elemen diatas maka dapat dikatakan bahwa motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan suatu perubahan enegi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaaan dan juga emosi, umtuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Semua ini didorong karena adanya tujuan kebutuhan dana keinginan.
Dari pengertian yang dikemukakan oleh para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa, motivasi adalah segala sesuatu yang menggerakkan seseorang untuk melakukan suatu tindakan untuk mencapai tujuan. Secara umum motivasi mengandung tiga pengertian pokok yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan. Ini sejalan dengan pendapat siagian bahwa “ bagaimana motivasi didefinisikan, terdapat tiga komponen utama yaitu kebutuhan, doronga dan tujuan”.
a. Fungsi Motivasi dalam proses belajar
Motivasi dianggap penting dalam proses belajar dan pembelajaran. Karena “motivasi akan membuat siswa lebih terangsang dalam melakukan tugasnya. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi makin tepat motivasi yang diberikan pada siswa, maka baik dan akan makin berhasil dalam prose belajar mengajar”.20
Sehubungan hal tersebut, ada 3 fungsi motivasi:
a) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau monitoring melepaskan energi. Motivasi dalam hal
20 Sardiman, Intraksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, h,84
20
merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b) Menentukan arah perbuatan, yakni kearah yang dicapai.
Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dari kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.
c) Menyelesaikan perbuatan, yakni menentukan perbuatan- perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.21
Dalam kegiatan belajar mengajar, pasti ditemukan anak yang malas belajar, maka hal ini menjadi tugas seseorang untuk melakukan arahan dan mendorong para siswa dan fungsi-fungsi motivasi merupakan langkah yang akurat untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif bagi siswa.
Selanjutnya Hamalik menjelaskan fungsi motivasi adalah sebagai berikut:
a. Mendorong timbulnys tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar.
b. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mecapai tujuan yang dinginkan.
c. Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar dan kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu perbuatan22
Kegiatan merupakan kunci dari motivasi dalam setiap perbuatan untuk belajar dengan adanya pendorong maka siswa ada hasrat untuk belajar dengan tekun dan penuh dengan konsentrasi.
Tujuannya adalah mencari suatu yang telah dingin ketahui dan dimengerti cepat tercapai , dengan demikian tujuan pendidikan pun akan tercapai.
21 Ibid, h.85
22 Hamalik, Psikologi Belaja rdan Mengajar,h.175
21 b. Macam-Macam Motivasi
“Menurut Djamarah dalam membicarakan macam-macam motivasi dibahas dari dari dua sudut pandang yakni yang berasal dari dalam diri pribadi seseorang yang disebut“ motivasi intrinsik”
dan motivasi yang berasal dari luar disebut“ motivasi ekstrinsik”
keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut”.23 a. Motivasi intrinsik
“Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu”.24
Motivasi intrinsik sangat dibutuhkan terutama bagi siswa sebagai pelaku belajar, karena siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan selalu berkembang dan maju serta menginginkan dirinya sudah mencapai tujuan belajar.
Sebaliknya siswa yang tidak memiliki motivasi intrinsik akan sangat sulit dalam melakukan aktivitas belajar.
Dalam motivasi ini siswa telah memiliki keinginan tersendiri untuk melakukan kegiatan-kegiatan diluar sekolah atau jam belajar. Jadi motivasi intrinsik muncul karena kesadaran dengan tujuan esensial. Siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang terdidik,
23 Djamarah, Psikologi Anak, h.115
24 Sardiman, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, h.89
22
yang berpengetahuan ahli dalam bidang tertentu. Untuk memiliki atau mendapat semua itu tidak ada cara yang lebih cepat kecuali belajar.
b. Motivasi ekstrinsik
“Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar”.25
Menurut Hamalik motivasi ekstrinsik adalah “motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar seperti angka ijazah, tingkatan, hadiah, medali, pertentangan dan persaingan yang bersifat negative adalah ejekan dan hukuman. Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak diperlukan atau tidak baik digunakan dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik diperlukan agar siswa ingin selalu belajar. Berbagai macam cara yang dilakukan oleh guru agar siswa termotivasi untuk belajar.
Guru yang berhasil adalah guru yang bisa membangkitkan minat siswa dalam belajar dan memanfaatkan motivasi ekstrinsik dalam berbagai bentuk. 26
Dalam hal ini motivasi ektrinsik dapat berubah menjadi motivasi intrinsik yaitu pada saat siswa menyadari pentingnya belajar, dan ia belajar sungguh-sungguh tanpa disuruh orang lain. Oleh karena itu seorang guru harus dapat menggunakan motivasi ekstrinsik dengan tepat dan benar untuk menunjang proses belajar mengajar. Dengan demikian dapat difahami bahwa motivasi ekstrinsik tidak dapat dipisahkan dalam proses intraksi belajar mengajar. Guru sebagai motivator berperan mendorong siswa agar giat belajar, usaha ini bisa dilakukan
25 Sardiman, Intraksi dan Motivasi Belajar Mengajar, h.90-91
26 Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar , h.162
23
oleh guru dengan memanfaatkan bentuk-bentuk motivasi disekolah atau bentuk motivasi lainnya, yang penting apa saja yang dilakukan dapat membangkitkan gairah belajar.
Djamarah menjelaskan ada enam hal yang dapat dilakukan oleh guru yaitu:
1) Membangkitkan dorongan belajar
2) Menjelaskan secara kongkrit kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir belajar.
3) Memberikan pengajaran terhadap prestasi yang dicapai siswa sehingga dapat merangsang untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik dikemudian hari
4) Membentuk kebiasaan belajar
5) Membantu kesulitan belajar siswa secara individual maupun kelompok
6) Menggunakan metode yang bervariasi.27
Guru bertanggung jawab supaya pembelajaran berhasil dengan baik dan oleh karena itu guru berkewajiban membangkitkan motivasi ekstrinsik pada diri siswa.
Diharapkan kepada siswa untuk timbul kesadaran belajar. Guru berupaya untuk mendorong dan merangsang agar tumbuh motivasi sendiri dalam diri siswa.
c. Bentuk-Bentuk Motivasi
Dalam kegiatan belajar mengajar motivasi intrinsik dan ektrinsik sangat diperlukan. Motivasi dapat membangkitkan aktifitas dan inisiatif yang dapat mengarahkan siswa dalam proses belajar mengajar. Untuk itulah guru memanfaatkan
27 Djamarah, Pskologi Anak,……… h. 38.
24
motivasi untuk mendorong dan membangkitkan minat siswa agar lebih bergairah dalam belajar.
Dalam hal ini seorang guru harus memperhatikan bentuk atau cara memotivasi siswa dalam membangkitkan gairah belajarnya. Berkaitan dengan hal tersebut, maka perlu diketahui cara-cara pemberian motivasi dan harus disesuaikan dengan kondisi siswa.
Ada beberapa bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar disekolah, antara lain:
1) Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai symbol dan nilai kegiatan belajar.
2) Hadiah
Hadiah memberikan sesuatu kepadaorang lain sebagai penghargaan atau kenanngan ( cindra mata)”.
3) Saingan dan kompetisi
Saingan dan kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa.
4) Memberi ulangan
Para siswa akan giat belajar apabila mengetahui akan ulangan. Oleh karena memberi ulangan juga merupakan sarana motivasi, tetapi yang harus diingat oleg guru aalah jang terlalu sering karena bias membosankan. Dalam hal ini guru ditinjau untuk berisifat terbuka, kalau ulangan harus diberitahukan kepada siswa.
5) Hukuman
Hukuman sebagai penguatan negative. Tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijaksana merupakan alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan alat hukuman yang mendidik.28
28 Sardiman, Intraksi dan Motivasi Belajar,….. h.92.
25 3. Bidang Studi Fiqih
Mata pelajaran Fiqih sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik demi mendukung kemampuan seseorang dalam hal hukum islam. Fiqih berfungsi sebagai landasan seorang muslim apabila akan melakukan praktek ibadah. Oleh karena itulah mata pelajaran Fiqih penting mendapat perhatian yang besar bagi seoarang anak di usia dini, agar kedepannya dia akan terbiasa menjalankan kehidupan sesuai dengan hukum islam yang ada.
a. Pengertian fiqih.
Fiqih atau fiqh adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Tuhannya.
Beberapa ulama fiqih seperti Hanifah mendefinisikan bahwa fiqih merupakan pengetahuan seorang muslim tentang kewajiban dan haknya sebagai hamba Allah. Fiqih membahas tentang cara bagaimana cara tentang beribadah, tentang prinsip Rukun Islam dan hubungan antar manusia sesuai dengan dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur'an dan SunnahDalam bahasa Arab, secara harfiah fiqih berarti pemahaman yang mendalam terhadap suatu hal. Beberapa ulama memberikan penguraian bahwa arti fiqih secara terminologi yaitu fiqih merupakan suatu ilmu yang mendalami hukum Islam yang diperoleh melalui dalil di Al- Qur'an dan Sunnah. Selain itu fiqih merupakan ilmu yang juga membahas hukum syar'iyyah dan hubungannya dengan kehidupan manusia sehari-hari, baik itu dalam ibadah maupun dalam muamalah.29
Jadi pembelajaran fiqih adalah upaya membelajarkan siswa untuk belajar tentang hukum syar'iyyah dan hubungannya dengan
29 http;//www.mediamuslim.net
26
kehidupan manusia sehari-hari, baik itu dalam ibadah maupun dalam muamalah.
b. Ruang lingkup dan tujuan pembelajaran fiqih di MA 1) Ruang lingkup pembelajaran Piqih Madrasah Aliyah
lingkup Fikih di Madrasah Aliyah (MA) meliputi keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara:
Hubungan manusia dengan Allah SWT.
Hubungan manusia dengan sesama manusia, dan
Hubungan manusia dengan alam (selain manusia) dan lingkungan.
Adapun ruang lingkup mata pelajaran Fikih di Madrasah Aliyah terfokus pada aspek:
Fikih Ibadah
Fikih Muamalah
Fikih Jinayah
Fikih Siyasah
2) Tujuan pembelajaran Fiqih Madrasah Aliyah
Pembelajaran Fikih di Madrasah Aliyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:
Mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam secara terperinci dan menyeluruh, baik berupa dalil naqli dan aqli. Pengetahuan dan pemahaman tersebut diharapkan menjadi pedoman hidup dalam kehidupan dan sosial.
Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar. Pengalaman tersebut diharapkan menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum Islam, disiplin dan tanggungjawab sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
c. Materi pembelajaran fiqih kelas X MA
Adapun materi pembelajaran yang dipelajari oleh siswa kelas X MA secara garis besarnya adalah ada enam bab yaitu bab tentang :
1) Syujud syukur dan sujud tilawah
Bagian-bagian pembahasan dari bab ini adalah :
Ketentuan sujud syuskur
Ketentuan syujud tilawah
27 2) Puasa
Ketentuan puasa
Macam-macam puasa
Mempraktikkan puasa 3) Zakat
Zakat fitrah dan zakat mal
Orang yang berhak menerima zakat
Mempraktikan zakat fitrah dan zakat mal 4) Infak harta diluar zakat
Sedekah
Hibah
Hadiah
Mempraktikkan shadaqah, hibah dan hadiah 5) Haji dan umrah
Haji
Umrah
6) Makanan haram dan halal dalam islam
Makanan dan minuman halal
Manfaat makanan dan minuman halal
Makanan dan minuman haram
Binatang halal dan haram.30 G. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Metodologi penelitian adalah metode atau cara yang peneliti gunakan dalam kegiatan penelitian. Dan metode penelitian secara umum diartikan “ sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.31 Oleh karena itu Untuk memperoleh hasil yang relevan, metode sangatlah penting. Suatu karya ilmiah atau penelitian ilmiah tanpa didasari oleh suatu metode ilmiah tentunya tidak akan memperoleh hasil yang memuaskan.
30 T Ibarahim & Darsono, Buku Kurikulum Mata Pelajaran Fiqih kelas X MTs, (Solo:
PT. Tiga serangkai pustaka mandiri.2009)
31 Sigiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bamdung: CV. Alpabeta,2009), h. 3.
28
Adapun pendekatan yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif atau penelitian deskriptif.
“penelitian deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu”.32
Untuk lebih menyempurnakan pemahaman tentang pendekatan kualitatif ini, penulis mengutip pendapat para ahli tentang penelitian kualitatif yaitu “metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci.33 Sehingga penelitian deskriptif cendrung tidak perlu mencari dan menerangkan saling hubungan dan menguji hipotesis. Dari definisi yang dikemukakan oleh para ahli sudah nampak jelas bahwa pendekatan kualitatif ini bertujuan untuk memperoleh data deskriftif yang bersumber pada ucapan atau tulisan dari perilaku yang diamati melalui pengamatan pada diri manusia sebgai objek penelitian.
Jadi penelitian dengan pendekatan kualitatif ini, memperoleh keterangan-keterangan atau informasi mengenai peningkatan motivasi belajar siswa dengan penggunaan metode diskusi pada bidang studi fiqih kelas X MA NW Selaparang-kediri Kab. Lombok Barat dengan pertimbangan bahwa metode kualitatif lebih mudah disesuaikan apabila berhadapan kenyataan ganda, menyajikan secara langsung tentang hubungan antara peneliti dengan responden, serta lebih peka dan lebih
32 Riyanto Yatim. Metodologi Penelitian Pendidikan. (Surabaya: Cetekan Kedua SIC, 2001), H.23.
33 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, ……….h.15.
29
dapat menyesuaikan diri dengan pengaruh dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat.
Peneliti melakukan penelitian dengan pendekatan kualitatif, sesungguhnya untuk mendapatkan informasi yang sebanyak-banyaknya atau secara rinci tentang bagaimana penerapan metode diskusi dalam peningkatan motivasi belajar siswa Pada studi fiqih kelas X MA NW Selaparang-Kediri Kab. Lombok Barat yang bersumber pada ucapan, tulisan dan perilaku dari manusia sebagai objek penelitian.
Kaitannya dengan hal ini, maka peneliti berusaha memahami dan mendeskripsikan mengenai penerapan metode diskusi dalam peningkatan motivasi belajar siswa pada bidang studi fiqih kelas X MA NW Selaparang-Keadiri Kab. Lombok Barat.
Dengan demikian, penelitian kualitatif berusaha untuk mempelajari suatu masalah dengan kerangka induktif, yaitu berusaha mendapatkan kesimpulan tentang suatu masalah yang sedang dipelajari berdasarkan berbagai informasi yang berkaitan dengan masalah tersebut, dimana informasi yang dikumpulkan lebih banyak berkaitan dengan realitas internal yang terletak dalam manusia (pendapat, keyakinan) dan dirumuskan secara interpretative subyektif. Oleh karena itu untuk memahami fenomena secara utuh dalam kaitannya dengan konteksnya, maka peneliti kualitatif harus terjun sendiri sebagai instrumen dan sekaligus pengumpul data. Peneliti merupakan “key instrumen.
30 2. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti maksudnya adalah peran dan upaya peneliti dalam memperoleh data atau informasi. Dalam penelitian kualitatif kehadiran peneliti mutlak diperlukan, karena peneliti berfungsi sebagai instrumen kunci dan sekaligus pengumpul data yang berusaha berinteraksi langsung dengan subjek penelitian secara alamiah.
Untuk memperoleh data peneliti mengadakan pengamatan dan melibatkan diri dengan subjek sehingga dapat terjalin hubungan yang akrab dan bekerja sama dengan subjek sehingga dapat terjalin hubungan yang akrab dan bekerja sama serta saling bertukar nformasi yang sebanyak-banyaknya. Kehadiran peneliti di lapangan bukan bertujuan untuk mempengaruhi subjek penelitian melainkan hanya untuk mencari imformasi yang terkait dengan data implementasi metode diskusi atau dengan sesuai focus masalah yang peneliti angkat. Oleh karena itu, peneliti berfungsi sebagai perencana, pelaksana data, penganalisis, penafsir (interpretasi) data dan pada akhirnya terjadi pelopor hasil penelitian.
Adapun data-data yang peneliti maksudkan dalam penelitian ini adalah data-data yang berhubungan dengan peningkatan motivasi belajar siswa dengan penggunaan metode diskusi pada bidang studi fiqih kelas X MA NW Selaparang-Kediri Kab. Lombok Barat tahun pelajaran 2010/2011.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka hal-hal yang dilakukan oleh peneliti dilapangan meliputi:
31
1. Melakukan observasi tentang objek penelitian
2. Mengadakan wawancara secara langsung dengan pihak-pihak terkait 3. Di samping mengadakan observasi dan wawancara, peneliti juga
melakukan pencatatan data-data yang berkaitan dengan penggunaan metode diskusi di kelas X MA NW Selaparang-Kediri Kab. Lombok Barat. Upaya peneliti untuk menghindari kesalah fahaman dari semua pihak dilapangan, maka terlebih dahulu diperoleh izin penelitian tersebut, maka proses penelitian sesuai dengan prosedur yang berlaku, selanjutnya peneliti dapat melakukan penelitian di lapangan untuk mencari data yang akurat. Sebab dengan kedekatan responden dengan peneliti dapat memudahkan peneliti untuk menggali data yang valid, dimana responden sendiri tidak merasa terganggu dan dipengaruhi oleh peneliti. Tetapi pemberian data itu merupakan kewajiban.
3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat di mana peneliti mengadakan penelitian. Lokasi penelitian ini dilakukan di MA NW Selaparang Kec.
Kediri Lombok Barat. Adapun alasan pemilihan lokasi penelitian ini adalah karena MA NW Selaparang Kec. Kediri Lombok Barat merupakan salah satu dari beberapa lembaga pendidikan yang menerapkan metode Diskusi. Selain itu juga kemampuan siswanya yang beragam sehingga menjadi daya tarik tersendiri dalam penelitian lapangan.
Di samping itu juga di MA NW Selaparang Kec. Kediri Lombok Barat juga memiliki tanaga edukatif (tenaga pendidik) yang rata-rata strata
32
satu (S1) sehingga sangat memungkinkan bagi seorang guru dalam menggunakan berbagai metode dan pendekatan belajar di sekolah secara optimal. MA NW Selaparang Kec. Kediri Lombok Barat merupakan madrasah yang masih sederhana apabila dilihat dari sarana dan prasarana , tetapi merupakan madrasah yang memiliki potensi untuk mencetak siswa yang memiliki kemampuan intelektual dan relegius mampu bersaing secara local, nasional, maupun internasional.
4. Sumber Data
Sumber data atau informan maksudnya adalah darimana data atau informasi itu diperoleh. Dalam hal ini lofland dan lofland dalam moleong mengemukakan bahwa “sumber data utama penelitian kualitatif kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain- lain. Berkaitan dengan hal ini jenis datanya dibagi kedalam kata-kata dan tindakan-tindakan sumber data tertulis, foto dan statistic.34
Dengan demikian yang menjadi sumber data primer pada penelitian ini adalah guru bidang studi fiqih dan siswa kelas X MA NW Selaparang- Kediri dan yang menjadi sumber data skunder adalah kepala sekolah MA NW Selaparang-Kediri. Sedangkan data yang dikumpulkan adalah data tentang penggunaan metode diskusi dalam peningkatkan motivasi belajar siswa kelas X pada Bidang Studi fiqih kelas X MA NW Selaparang-Kediri Kab. Lombok Barat Tahun Pelajaran 2010/2011. Dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tekait dengan fokus penelitian yang peneliti
34 Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002), H.
112.
33
angkat, peneliti juga berusaha mendapatkan data atau informasi dan dokument-dokument yang relevan.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian, metode sangat diperlukan guna memperoleh data atau informasi. Ada beberapa metode dalam pengumpulan data dalam suatu penelitian yaitu observasi (pengamatan), interview (wawancara) dan dokumentasi.
Namun dalam penelitian ini penulis hanya menggunakan beberapa metode saja yang dengannya dapat membantupeneliti dalam memperoleh data atau informasi yang diharapkan. Metode-metode tersebut adalah:
1. Metode observasi
Metode observasi merupakan suatu teknik penyelidikan yang dijalankan secara sistematis dan sengaja di adakan dengan menggunakan alat indra (terutama mata) terhadap kejadian-kejadian yang langsung di tangkap pada waktu kejadian itu terjadi. Untuk memperoleh gambaran tentang metode ini, penulis mengutip pendapat- pendapat beberapa ahli sebagai berikut:
Menurut Hadi dalam Sugiono bahwa observasi adalah suatu roses yang kompleks, yang tersusun dari proses biologis dan psikologis.
Yang penting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.
Sedangkan menurut sugiyono observasi adalah “teknik pengumpulan data yang tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam lainnya”.35
35 Sugiyono, Metologi Penelitian Pendidikan, h.203
34
Jadi yang dimaksud dengan metode observasi dalam pengumpulan data adalah suatu pengamatan yang di lakukan dengan menggunakan indra baik secara langsung maupun secara tidak langsug terhadap fakta-fakta, gejala-gejala yang di butuhkan oleh peneliti.
Menurut Sugiyono observasi dilihat dari segi proses pelaksanaan ada dua jenis observasi yaitu:
1. Observasi berperan serta (participant observation)
Dalam observasi ini peneliti terlibat langsung dengan kegiatan sehari-hari orang yang diteliti yang digunakan sebagai sumber data.
2. Observasi nonpartisipant
Dalam peneliti ini peneliti hanya sebagai pengamat independent dan tidak terlibat secara langsung.36
Teknik pengumpulan data dengan observasi di gunakan apabila penelitia berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala- gejala alam, dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.
Sugiuono juga membedakan observasi menjadi dua apabila di lihat dari segi instrumentasi yang di gunakan yaitu:
1. Observasi terstruktur
Merupakan observasi yang telah di rancang secara sistematis, tentang apa yang akan di amati, kapan dan dimana tempatnya.
2. Observasi tidak terstruktur
Merupakan observasi yang tidak di persiapkan secara sistematis tentang apa yang akan di observasi.37
Dalam Kaitannya dengan penelitian ini, maka data yang di jaring dengan metode observasi ini adalah penggunaan metode diskusi dalam peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajran fiqih
36 Ibid, H.204
37 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif, (Bandung: Afabeta, 2009),h.146
35
kelas X MA NW Selaparang-Kediri Kab. Lombok Barat Tahun Pelajaran 2010/2011.
2. Metode interview (wawancara)
Interview sering disebut dengan wawancara atau questioner lisan. Metode wawancara adalah “teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui percakapan dan saling bertatap muka dengan orang yang memberikan keterangan kepada peneliti “wawancara ini di pakai untuk melengkapi data yang di peroleh melalui observasi.
Sedangkan menurut Sugiyono “interview (wawancara) merupakan tehnik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti. dan juga apabila peneliti ingin hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondenya kecil”38.
Jadi sebenarnya wawancara ini merupakan dialog yang akan dilakukan oleh pewancara untuk memperoleh informasi dari yang diwawancarai.
Menurut pendapat Sugiyono wawancara dapat di lakukan dengan dua cara yaitu di lakukan dengan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telephone.
38 Ibid, hal.194
36 1. Wawancara terstruktur
Di gunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan di peroleh.
2. Wawancara tidak terstruktur
Merupakan wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunkan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.39
Oleh karena itu, mengacu kepada pendapat sugiyono di atas, maka dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kedua jenis wawancara tersebut. Peneliti menggunakan wawancara terstruktur maksudnya supaya dalam proses pengumpulan data melalui wawancara ini dapat mencapai sasaran penelitian, dan peneliti juga menggunakan wawancara tidak terstruktur dimaksudkan untuk mendapatkan data sebanyak-banyaknya melalui suatu komunikasi yang tidak terikat, maka dari itu peneliti dituntut agar lebih cermat memilih informasi yang terkait dengan inti permasalahan yang di angkat.
Adapun data yang ingin di peroleh adalah data yang benar- benar menjelaskan tentang penggunaan diskusi kelompok yang di lakukan oleh guru bidang studi fiqih dan siswa dalam peningkatan motivasi belajar siswa melalui penggunaan metode diskusi pada pembelajaran fiqih kelas X MA NW Selaparang-Kediri Kab. Lombok Barat Tahun Pelajaran 2010/2011.
39 Ibid, h.138-140.
37 3. Metode dokumentasi
Dokumentasi adalah “sebagai laporan tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri atas penjelasan dan pikiran terhadap peristiwa dan di tulis dengan sengaja untuk menyimpan dan meneruskan keterangan mengenai peristiwa tersebut”40
Definisi lain tentang metode dokumentasi yaitu “penyelidikan terhadap benda-benda tertulis seperti buku-buku majalah, dokumen, peraturan-peraturan dan sebagainya”41.
Jadi metode dokumentasi dalam pengumpulan data adalah ciri yang di tempuh peneliti untuk mengumpulkan data sebanyak- banyaknya dari berbagai media cetak yang dapat di jadikan referensi penunjuk dalam penelitian.
Dokumentasi ini di maksudkan untuk melengkapi data-data yang di peroleh melalui observasi dan interview dan untuk mengetahui gambaran umum sekolah, keadaan prasarana, guru dan siswa. Adapun data yang ingin di peroleh melalui dokumentasi ini adalah untuk mengumpulkan data tertulis yang dapat memberikan keterangan yang di butuhkan penulis yakni data tentang gambaran umum lokasi penelitian seperti keadaan guru, keadaan siswa, dan keadaan sarana dan prasarana MA NW Selaparang-Kediri Kab. Lombok Barat. Dokumen
40 Winarno Surah madi, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Dan Tehnik (Bandung: Tarsito, 1994)h.188
41 Suharsimi Arikonto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rhineka Cipta, 1998), h.131.
38
digunakan untuk keperluan penelitian, karena alasan-alasan yang dapat di pertanggung jawabkan, yaitu sebagai berikut :
a. Dokumen digunakan karena merupakan sumber yang stabil, kaya dan mendorong.
b. Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian.
c. Dokumentasi sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks lahir dan berada dalam konteks.
d. Dokumen relative murah dan tidak sukar di peroleh tetapi harus dicari dan ditemukan.
e. Dokumen tidak bersifat reaktif sehingga tidak sukar ditemukan dengan teknik pengajian isi.
f. Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diteliti.42 6. Teknik Analisis Data
Menurut Patton Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar.
Dengan kata lain memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan antara dimensi-dimensi uraian.43
Bogdan dan biklen mengatakan bahwa analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data memilih-milihnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.44
42 Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h.161.
43 Ibid., h. 103.
44 Ibid., h. 248.