TIROANG KABUPATEN PINRANG
OLEH
QUR’ANI NIM : 18.2400.108
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PAREPARE
2022
ii
IMPLEMENTASI ETIKA BISNIS ISLAM PADA USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR DI KECAMATAN
TIROANG KABUPATEN PINRANG
OLEH
QUR’ANI NIM : 18.2400.108
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) pada Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut
Agama Islam Negeri Parepare
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PAREPARE
2022
iii
IMPLEMENTASI ETIKA BISNIS ISLAM PADA USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR DI KECAMATAN
TIROANG KABUPATEN PINRANG
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)
Program Studi Ekonomi Syariah
Disusun dan Diajukan oleh QUR’ANI
NIM: 18.2400.108
Kepada
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PAREPARE
2022
iv
v
i
KATA PENGANTAR ِٰاللّ ِىْؽِت ًْم حْطنر ِىْي ِم حْطنر ٍِ
ِءاَيِثََْلأْر ِف َطْشَأ َٗهَع ُوَلاحْؽنر َٔ ُجَلاحْصنر َٔ ٍَْيًَِناَعْنر ِّب َض ِللهِ ُسًَْحْنر ٍَْيِهَؼ ْطًُْنر َٔ
سْعَت احْيَأ ٍَْيِعًَْجَأِِٓثْحَص َٔ ِِّنَر َٗهَع َٔ
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah Swt berkat limpahan rahmat, hidayah-Nya, dan taufik-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan ini sebagai salah satu syarat agar dapat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) pada Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare. Tidak lupa pula kirimakan sholawat serta salam kepada junjungan Nabiullah Muhammad Saw. Nabi yang menjadi panutan bagi umat Islam.
Teristimewa penulis hanturkan sebagai tanda terima kasih yang mendalam kepada orang tua, ibunda Rahmatiah Ali dan ayahanda Abd.Hamidm yang selalu mendo‟akan setiap hari, tiada henti-hentinya memberikan curahan kasih sayang sepanjang waktu, pengorbanan yang tiada terhitung dan sumber motivasi terbesar.
Penulis persembahkan sepenuh hati tugas akhir ini untuk kalian, sebagai tanda ucapan syukur telah membesarkan dan merawat penulis dengan baik.
Penulis telah menerima banyak bimbingan dan bantuan dari bapak Dr.
Muhammad Kamal Zubair, M.Ag. selaku pembimbing utama dan bapak Dr. Andi Bahri, S, M.E., M.Fil. I. selaku pembimbing pendamping, yang senantiasa bersedia memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis, ucapan terima kasih yang tulus untuk keduanya.
Selanjutnya penulis juga menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Hannani, M.Ag. sebagai Rektor IAIN Parepare yang telah bekerja keras mengelola pendidikan IAIN Parepare.
2. Ibu Dr. Muzdalifah Muhammadun, M.Ag. sebagai “Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam atas pengabdiannya dalam menciptakan suasana pendidikan yang positif bagi mahasiswa.
3. Ibu Umaima S.Sy., M.E.I sebagai Ketua program studi Ekonomi Syariah yang telah meluangkan waktu dalam mendidik penulis selama studi di IAIN Parepare.
4. Seluruh Bapak dan ibu dosen serta staf pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah meluangkan
ii
iii
iv ABSTRAK
Qur‟ani. Implementasi Etika Bisnis Islam Pada Usaha Ayam Ras Petelur di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang. (dibimbing oleh Muhammad Kamal Zubair dan Andi Bahri)
Etika bisnis adalah etika yang menyangkut tata pergaulan di dalam kegiatan- kegiatan bisnis. Sebagaimana diketahui bahwa bisnis dalam pandangan Islam tidak hanya menyangkut permasalahan laba dan rugi, melainkan harus mengandung nilai- nilai kebaikan. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui bentuk- bentuk implementasi etika bisnis Islam, untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat implementasi etika bisnis Islam pada usaha peternakan ayam ras petelut di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi non-partisipan, wawancara dan dokumentasi. Analisis data diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain. Kemudian disusun sistematis sehingga mudah dipahami dan menjabarkan dalam bentuk kutipan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Bentuk implementasi etika bisnis Islam yang dilakukan oleh para pemilik usaha peternakan ayam ras petelur yaitu interaksi, tindakan dan evaluasi. Interaksi yang dimaksud adalah interaksi antara individu dan individu lain, kelompok dan kelompok lain, interaksi antara sesama pengusaha ayam petelur dan interaksi antara pemilik usaha peternakan ayam petelur dengan masyarakat sekitar mengenai usaha yang dijalankan. Adapun tindakan yang dimaksud yaitu langkah atau kebijakan yang dilakukan oleh pemilik usaha peternakan ayam petelur dalam menjalankan usahanya dengan mencegah adanya limbah atau kotoran ayam agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat. 2) Yang menjadi faktor pendukung pada implementasi etika bisnis Islam pada usaha peternakan ayam ras petelur yaitu sikap jujur dan bertanggung jawab. Sedangkan faktor penghambat implementasi etika bisnis Islam pada usaha peternakan ayam ras petelur yaitu pendidikan dan budaya atau kebiasaan.
Kata kunci: Implementasi, Etika Bisnis Islam, Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur
v
DAFTAR ISI Halaman
PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING ... Error! Bookmark not defined.
PENGESAHAN KOMISI PENGUJI ... iv
KATA PENGANTAR ... i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii
ABSTRAK ... iv
DAFTAR ISI... ...vii
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
PEDOMAN TRANSLITERASI ...x
BAB I ...1
PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Kegunaan Penelitian ... 7
BAB II A...8
TINJAUAN PUSTAKA...8
A. Tinjauan Penelitian Relevan ... 8
B. Tinjauan Teori ... 13
C. Kerangka Konseptual ... 39
D. Kerangka Pikir... 42
BAB III N ... 45
METODE PENELITIAN ... 45
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 45
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 46
C. Fokus Penelitian ... 46
D. Jenis dan Sumber Data ... 46
vi
E. Teknik Pengumpulan dan pengolahan data ... 47
F. Uji Keabsahan Data ... 49
G. Teknik Analisis Data ... 51
BAB IV N ... 53
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 53
A. Hasil Penelitian ... 53
B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 54
1. Bentuk Implementasi Etika Bisnis Islam pada Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang ... 54
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Etika Bisnis Islam pada Usaha Peternakan Ayam Ras petelur di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang... 72
BAB V PP ... 81
PENUTUP ... 81
A. Simpulan ... 81
B. Saran ... 82 DAFTAR PUSTAKA ... I LAMPIRAN-LAMPIRAN ... IV
vii
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Tabel Halaman
1.1 Penelitian Relevan 11-13
viii
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Gambar Halaman
2.1 Bagan Kerangka
Pikir
44
ix
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Lampiran Halaman
1 Surat izin penelitian dari IAIN Parepare
VI
2 Surat Izin Penelitain dari Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
VII
3 Surat Keterangan Persetujuan Izin Meneliti dari Kecamatan Suppa
VIII
4 Instrumen Penelitian IX
5 Gambaran Umum Lokasi Penelitian XVIII
6 Surat Keterangan Wawancara XX
7 Dokumentasi XXXV
8 Biodata Penulis XLIII
x
PEDOMAN TRANSLITERASI A. Transliterasi
1. Konsonan
Fonem konsonan bahasa Arab yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, dalam transliterasi ini sebagian dilambangkan dengan huruf dan sebagian dilambangkan dengan tanda, dan sebagian lain lagi dilambangkan dengan huruf dan tanda.
Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf Latin : Huruf
Arab Nama Huruf Latin Nama
ر alif tidak dilambangkan tidak dilambangkan
ب ba B Be
خ ta T Te
ز ŝa Ŝ es (dengan titik di atas)
ج jim J Je
ح ha ḥ ha (dengan titik di bawah)
خ kha Kh ka dan ha
ز dal D De
ش żal Ż zet (dengan titik di atas)
ض ra R Er
ظ zai Z Zet
غ sin S Es
ؾ syin Sy es dan ye
ص şad Ş es (dengan titik di bawah)
ض dad ḍ de (dengan titik di bawah)
ط ta ṭ te (dengan titik di bawah)
ظ za ẓ zet (dengan titik di
xi
bawah)
ع „ain „ koma terbalik ke atas
غ gain G Ge
ف fa F Ef
ق qaf Q Qi
ن kaf K Ka
ل lam L El
و mim M Em
ٌ nun N En
ٔ wau W We
ـْ ha H Ha
ء hamzah ‟ Apostrof
ٖ ya Y Ye
Hamzah (ء) yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apapun. Jika ia terletak di tengah atau di akhir, maka ditulis dengan tanda („).
2. Vokal
a. Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri atas vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut :
Tanda Nama Huruf Latin Nama
َر fathah A A
ِر kasrah I I
ُر dammah U U
xii
b. Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu :
Tanda Nama Huruf Latin Nama
ْيَـ fathah dan yá‟ A a dan i َْٕـ fathah dan wau Au a dan u Contoh :
َفْيَك : kaifa َل َْْٕ : ḥaula 3. Maddah
Maddah atau vocal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:
Harakat dan
Huruf Nama Huruf dan
Tanda Nama
َٗـ | اَـ fathah dan alif dan yá‟ Ā a dan garis di atas ِْٗـ kasrah dan yá‟ Î i dan garis di atas ُْٕـ dammah dan wau Û u dan garis di atas Contoh :
َخاَي : māta
َٗي َض : ramā َمْيِل : qīla ُخ ًَُْٕي : yamūtu 4. Tā‟ Marbutah
Transliterasi untuk tā‟ marbutah ada dua, yaitu:
a. tā‟ marbutah yang hidup atau mendapat harakat fathah, kasrah, dan dammah, transliterasinya adalah [t].
b. tāmarbǔtah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah[h].
xiii
Kalau pada kata yang berakhir dengan tāmarbûtah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka tāmarbûtah itu ditransliterasikan dengan ha (h).
Contoh :
ِححَُْجنر ُحَض ْٔ َض : rauḍah al-jannah atau rauḍatul jannah
ُحَه ِضافْنَر ُحَُْيِسًَْنَر : al-madīnah al-fāḍilah atau al-madīnatul fāḍilah ُحًَْك ِحْنَر : al-hikmah
5. Syaddah (Tasydid)
Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda tasydid (ـّـ ), dalam transliterasi ini dilambangkan dengan perulangan huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah.
Contoh :
اَُّت َض : Rabbanā اَُْيّجََ : Najjainā كَحْنر : al-haqq جرْنر : al-hajj َىِّعَُ : nu‟ima ُٔسَع : „aduwwun
Jika huruf ber-tasydid di akhir sebuah kata dan didahului oleh huruf kasrah ( ِّٗـ), maka ia ditransliterasi seperti huruf maddah menjadi (î).
ِّيِهَع : „Ali (bukan „Aliyy atau „Aly)
يِت َطَع : „Arabi (bukan „Arabiyy atau „Araby)
6. Kata Sandang
Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf لا (alif lam ma‟arifah). Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang
ditransliterasi seperti biasa, al-, baik ketika ia diikuti oleh huruf
xiv
syamsiyah maupun huruf qamariyah. Kata sandang tidak mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya. Kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar (-).
Contoh :
ُػًْحْشَنر : al-syamsu (bukan asy-syamsu) ُحَن َعْن حْعنَر : al-zalzalah (bukan az-zalzalah) ُحَفَؽْهَفْنَر : al-falsafah
ُزَلاِثْنَر : al-bilādu 7. Hamzah
Aturan translaiterasi huruf hamzah menjadi apostrof (‟) hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Namun, bila hamzah terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab ia berupa alif.
Contoh :
ٌَ ْٔ ُطُيْاَذ : ta‟muruna ُع ْٕحُْنَر : al-nau‟
ءْيَش : syai‟un ُخ ْطِيُأ : umirtu
8. Kata Arab yang lazim digunakan dalam Bahasa Indonesia
Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata, istilah atau kalimat yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia. Kata, istilah atau kalimat yang sudah lazim dan menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia, atau sering ditulis dalam tulisan bahasa Indonesia, atau lazim digunakan dalam dunia akademik tertentu, tidak lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas. Misalnya, kata Al-Qur‟an (dari Qur‟an), Sunnah, alhamdulillah, dan munaqasyah. Namun, bila kata-kata tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian kosa kata Arab, maka harus ditransliterasi secara
xv utuh.
Contoh :
Fī ẓilāl al-qur‟an
Al-Sunnah qabl al-tadwin
Al-ibārat bi „umum al-lafẓ lā bi khusus al-sabab 9. Lafz al-jalalah (ﷲ)
Kata “Allah” yang didahului partikel seperti huruf jarr dan huruf lainnya atau berkedudukan sebagai mudaf ilaih (frasa nominal), ditransliterasi tanpa huruf hamzah.
Contoh :
ِاللاُُْيِز : dīnullah ِللهاِت : billah
Adapun ta‟ marbutah di akhir kata yang disandarkan kepada lafẓ al- jalālah, ditransliterasi dengan huruf [t].
Contoh :
ِالل ِحًَْم َض ٗف ىُْ : hum fī rahmatillāh 10. Huruf Kapital
Walau sistem tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital (All Caps), dalam transliterasinya huruf-huruf tersebut dikenal ketentuan tentang penggunaan huruf kapital berdasarkan pedoman ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf kapital, misalnya, digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri (orang, tempat, bulan) dan huruf pertama pada permulaan kalimat. Bila nama diri didahului oleh kata sandang (al-), maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Jika terletak pada awal kalimat, maka huruf A dari kata sandang tersebut menggunakan huruf kapital (Al-).
Contoh:
Wa mā Muhammadun illā rasūl
xvi
Inna awwala baitin wudi‟a linnāsi lalladhī bi Bakkata mubārakan Syahru Ramadan al-ladhī unzila fih al-Qur‟an
Nasir al-Din al-Tusī Abū Nasr al-Farabi Al-Gazali
Al-Munqiz min al-Dalal
Jika nama resmi seseorang menggunakan kata Ibnu (anak dari) dan Abu (bapak dari) sebagai nama kedua terakhirnya, maka kedua nama terakhir itu harus disebutkan sebagai nama akhir dalam daftar pustaka atau daftar referensi.
Contoh :
Abū al-Walid Muhammad ibnu Rusyd, ditulis menjadi: Ibnu Rusyd, Abū al- Walīd
Muhammad (bukan: Rusyd, Abū al-Walid Muhammad Ibnu)
Naṣr Ḥamīd Abū Zaid, ditulis menjadi: Abū Zaid, Naṣr Ḥamīd (bukan: Zaid, Naṣr Ḥamīd Abū)
B. Singkatan
Beberapa singkatan yang dibakukan adalah : swt. : subḥānahū wa ta‟āla
saw. : ṣhallallāhu „alaihi wa sallam a.s. : „alaihi al-sallām
H : Hijrah
M : Masehi
SM : Sebelum Masehi
l. : Lahir tahun (untuk tahun yang masih hidup saja) w. : Wafat tahun
QS …./…. : QS al-Baqarah/2:187 atau QS Ibrahīm/…, ayat 4 HR : Hadis Riwayat
xvii Beberapa singkatan dalam bahasa Arab:
ص = ّحفص
ٌاكي ٌٔست
= وز
ىهؼٔ حيهع الل ٗهص
= ىعهص
حعثط
= ط
طشاَ ٌٔست
=
ٌز
ِطذآ/اْطذآ ٗنإ
= دنر
ءعج
= ج
Beberapa singkatan yang digunakan secara khusus dalam teks referens perlu dijelaskan kepanjangannya, diantaranya sebagai berikut:
ed. :
et al. :
Cet. : Terj. :
Vol. :
No. :
Editor (atau, eds. [dari kata editors] jika lebih dari satu orang editor).
Karena dalam bahasa Indonesia kata “editor” berlaku baik untuk satu atau lebih editor, maka ia bisa saja tetap disingkat ed. (tanpa s).
“Dan lain-lain” atau “dan kawan-kawan” (singkatan dari et alia).
Ditulis dengan huruf miring. Alternatifnya, digunakan singkatan dkk.
(“dan kawan-kawan”) yang ditulis dengan huruf biasa/tegak.
Cetakan. Keterangan frekuensi cetakan buku atau literatur sejenis.
Terjemahan (oleh). Singkatan ini juga digunakan untuk penulisan karya terjemahan yang tidak menyebutkan nama pengarannya.
Volume. Dipakai untuk menunjukkan jumlah jilid sebuah buku atau ensiklopedia dalam bahasa Inggris. Untuk buku-buku berbahasa Arab biasanya digunakan kata juz.
Nomor. Digunakan untuk menunjukkan jumlah nomor karya ilmiah berkala seperti jurnal, majalah, dan sebagainya.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan perekonomian di Indonesia ini telah berkembang dengan baik.
Salah satunya ditunjukan dengan kegiatan bisnis yang dapat dilakukan oleh setiap lapisan masyarakat di mana kegiatan bisnis dan juga lahan bisnis yang tidak terbatas jika usaha tersebut semakin berkembang dengan pesat. Kegiatan usaha atau di kenal dengan bisnis adalah suatu kegiatan individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Secara umum kegiatan ini ada dalam masyarakat dan ada dalam industri.1
Ada beberapa jenis kegiatan usaha yang yang meliputi pertanian, peternakan, agrobisnis, produksi, konstruksi, distribusi, transportasi, komunikasi, usaha jasa dan pemerintah yang bergerak dalam bidang membuat dan memasarkan barang dan jasa konsumen. Sebagai pelaku usaha dalam menjalankan usahanya juga harus memperhatikan etika yang ada. Di dalam ajaran Islam banyak aturan yang harus diterapkan oleh seseorang yang akan menjalankan usahanya. Dengan aturan-aturan tersebut akan memudahkan seseorang dalam menjalankan bisnisnya yang menguntungkan dan tetap di jalan Allah SWT.2
Islam memerintahkan kepada setiap pelaku usaha muslim, baik secara individual maupun secara bersama-sama, ialah bekerja di bidang yang dihalalkan oleh Allah SWT. Tidak melampaui apa yang diharamkan-Nya. Meskipun ruang lingkup
1Buchari Alma, et. el, Manajemen Bisnis Syariah, (Bandung: Alvabeta, 2014), h. 112.
2Muhammad, Paradigma Metodologi dan Aplikasi Ekonomi Syariah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), h. 109.
yang halal itu luas, tetapi sebagian besar manusia sering dikalahkan oleh ketamakan dan kerakusan.3
Bisnis sering digunakan manusia guna untuk mendapatkan pendapatan dan pemasukan disektor umum maupun rumah tangga. Adanya peluang yang besar juga merupakan faktor yang mendukung orang-orang untuk memulai bisnis. Semakin banyaknya permintaan terhadap suatu barang, banyak pelaku bisnis yang melakukan tindakan diluar norma dan melanggar hukum, semata-mata dikarenakan hanya untuk menambah pundi-pundi kekayaan dan tidak memperdulikan aspek hukum dan norma yang berlaku. Oleh karena itu, etika dalam menjalankan bisnis harus ditegakkan agar tidak ada pihak dirugikan satu sama lain.4 Kegiatan bisnis yang banyak diminati oleh para pelaku bisnis yaitu bisnis dalam sektor agraris meliputi pertanian, perkebunan, dan peternakan. Namun yang memiliki prospek yang baik dan mudah yaitu bisnis bidang peternakan.5 Peternakan merupakan kegiatan memelihara hewan ternak untuk dibudidayakan dan mendapatkan keuntungan dari kegiatan tersebut. Peternakan terbagi menjadi tiga yaitu ternak besar di antaranya sapi (perah/potong), kerbau, kuda dan ternak kecil diantaranya berupa kambing, domba, serta ternak unggas seperti (ayam, bebek, itik dan puyuh). Bisnis peternakan ayam merupakan bisnis yang sudah banyak dikembangkan oleh beberapa masyarakat yang memiliki banyak kecukupan modal dan keahlian. Bisnis peternakan yang banyak dibudidayakan oleh para peternak adalah ayam ras petelur dan pedaging karena mudah diternakan,
3Jusmaliani, Bisnis Berbasis Syariah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 23.
4Ririn Dianawati, Dampak Sosial dan Ekonomi Terhadap Usaha Peterbakan Ayam Petelur Ditinjau Dari Etika Bisnis Islam (Studi Kasus Di Desa Sendang Agung, Kecamatan Sendang Agung,Lampung Tengah) (Skripsi: IAIN Metro, 2017), h.1.
5Siska Maulina Saputri, Usaha Peternakan Ayam Di Tengah Pemukiman Masyarakat Ditinjau Dari Etika Bisnis Islam (Studi Kasus di Desa Sembarsari Bantul Metro Selatan) (Skripsi: IAIN Metro, 2018), h.1.
pertumbuhannya pun relatif singkat. Bisnis tersebut memiliki prospek yang baik melihat tingginya permintaan pasar serta memiliki nilai gizi yang tinggi dan harganya pun terjangkau. Namun dalam mendirikan bisnis peternakan seorang pebisnis tentunya harus memperhatikan kondisi lingkungan bisnis dalam menjalankan bisnisnya.6
Etika bisnis adalah etika yang menyangkut tata pergaulan didalam kegiatan- kegiatan bisnis. Sebagaimana diketahui bahwa bisnis dalam pandangan Islam tidak hanya menyangkut permasalahan laba dan rugi, melainkan harus mengandung nilai kebaikan. Manusia cenderung memiliki sifat yang cenderung tidak pernah merasa puas terhadap apa yang diperoleh sehingga ia selalu merasa kurang dan terus mencari.
Banyak umat manusia yang bekerja dengan keras untuk mengejar tercapainya kehidupan yang layak.7
Usaha ternak ayam merupakan sub sektor utama penghasil telur di Indonesia, seiring dengan berkembangnya teknologi, usaha ternak menjadi sorotan dibanyak kalangan dan menjadi inti permasalahan di setiap media sosial, sebab kehadiran usaha ternak mampu memberikan dampak terhadap kehidupan di Indonesia, salah satu dampak positif yaitu peternakan mampu menyediakan kebutuhan akan konsumen seperti produk segar maupun olahan yang berasal dari telur ayam, di sisi lain ada
6Siska Maulina Usaha Peternakan Ayam di Tengah Pemukiman Masyarakat Ditinjau Dari Etika Bisnis Islam ( Studi Kasus di Desa Sumbersari Bantul Metro Selatan) (Skripsi: IAIN Metro, 2018), h.2.
7Ulfa Indriana, Dampak Daur Ulang Limbah Aluminium Terhadap Lingkungan Ditinjau Dari Etika Bisnis Islam (Studi Kasus di Dusun IV Desa Siraman Kecamatan Pekalongan Lampung Timur) (Skripsi: IAIN Metro, 2019), h.4.
dampak negatif yang ditimbulkan yaitu limbah peternakan yang tidak dimanfaatkan sehingga mencemari lingkungan seperti bau dan kotoran.8
Kontribusi peternakan unggas dalam menyumbang swasembada protein hewani terutama dalam pemenuhan kebutuhan makanan cukup tinggi. Peternakan unggas juga berperan sebagai sumber pendapatan, membuka kesempatan kerja , dan sebagai sumber protein hewani. Peternakan unggas menjadi usaha paling diminati karena selain pemeliharaan lebih mudah, perputaran investasi lebih cepat. Salah satu ternak unggas yang dipelihara oleh peternak yang ada di Indonesia adalah ayam petelur.9 Ayam petelur merupakan segala jenis bangsa ayam yang mampu menghasilkan telur untuk memenuhi kebutuhan akan protein manusia. Mengingat bahwa betapa pentingnya penyediaan telur ayam sehingga banyak peternak membangun sebuah usaha peternakan ayam petelur. Namun di lain sisi banyak peternak yang akhirnya gulung tikar sebab sebagian dari peternakan tidak memahami bagaimana manajemen beternak yang baik, efisien dan menguntungkan.
Peternakan ayam ras petelur di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang sudah menjadi salah salah satu usaha atau bisnis yang populer dikalangan masyarakat karena telur ayam ras merupakan makanan pokok. Dalam usaha tidak jauh dari persaingan antara sesama pedagang ayam ras petelur. Dalam usaha peternakan ayam ras di desa memang kadang menjadi tumpuan ekonomi dalam keluarga dan kadang juga dilakukan di tengah pemukiman warga dan dampaknya pun juga dirasakan
8Muhammad Rijal Pemungkas, Sri Rahayu, Kelayakan Usaha Budidaya Ayam Petelur (Analisis Biaya Manfaat dan BEP pada UD KR Farm, Cilacap), (Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap: ekonomi pembangunan, manajemen, 2020), h.41.
9Muhammad Rijal Pemungkas, Sri Rahayu, Kelayakan Usaha Budidaya Ayam Petelur (Analisis Biaya Manfaat dan BEP pada UD KR Farm, Cilacap), (Skripsi: Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap, 2020), h.42.
penduduk yang ada disekitarnya. Akibat bau yang menyengat pada kotoran yang terdapat dikandang ayam tersebut meyebabkan masyarakat kurang mendukung pada usaha peternakan ayam tersebut.10
Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti bahwa di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang terdapat empat pengusaha ayam ras petelur yaitu usaha peternakan ayam petelur yang dimiliki oleh bapak H.Basri, pak Ridwan Ali, pak Sudirman, dan ibu Hj. Nurdiana. Usaha ayam petelur yang dikelola oleh bapak H.Basri ini memiliki ayam sebanyak 2600 ekor dan ini menghasilkan telur untuk setiap harinya sekitar 2000 butir telur dengan luas kandang 1.500m.Untuk mengelola usaha ini pak H.Basri dibantu oleh dua orang karyawan. Kemudian usaha ayam ras petelur yang dikelola oleh bapak Ridwan Ali memiliki ayam sebanyak 4000 ekor dan ini menghasilkan telur setiap harinya sebanyak 74 rak dengan luas kandang 8x56 meter. Adapun usaha ternak ayam petelur yang dikelola oleh bapak Sudirman ini memiliki ayam sebanyak 2700 ekor dan menghasilkan telur setiap harinya sebanyak 55 rak dengan luas kandang 6x20 meter. Dan adapun usaha ternak ayam petelur yang dikelola oleh ibu Hj.Nurdiana ini memiliki ayam sebanyak 4000 ekor dan menghasilkan telur setiap harinya sebanyak 75 rak dengan luas kandang 8x40 meter.
Dalam mengelola usaha ini ibu Hj. Nurdiana dibantu oleh dua karyawan.11
Peternakan ayam petelur yang dikelola oleh bapak H.Basri, pak Ridwan Ali, bapak Sudirman dan ibu Hj.Nurdiana ini berada di tengah pemukiman sedangkan bisnis peternakan yang didirikan tepat tengah pemukiman masyarakat sudah pasti banyak dampak yang akan ditimbulkan dari limbah hasil peternakan tersebut baik dampak negatif maupun dampak positif. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh
10Hasil Observasi di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang pada Tahun 2022
11Hasil Observasi di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang pada Tahun 2022
peternakan tersebut seperti bau limbah kotoran dari ayam, debu yang bertebaran, lalat yang timbul pasca musim hujan dan penyakit yang ditimbulkan dari ayam tersebut misalnya flu burung. Dampak tersebut tentunya dapat mengganggu kesehatan yang akan berimbas terhadap lingkungan sekitar peternakan khususnya masyarakat setempat. Sedangkan dampak positifnya yaitu memudahkan masyarakat dalam mencari pupuk dan mencari kebutuhan akan telur karena harga telur lebih murah dibandingkan harga di warung.12
Usaha ini sangat menguntungkan dan memiliki prospek yang sangat bagus, namun dari segi lingkungan sekitar memberikan dampak yang kurang baik yaitu dengan bau yang ditimbulkan, dimana tempat usaha ini berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat, hal ini tentu sangat mengganggu lingkungan masyarakat.
Untuk mengatasi dampak negatif yang terjadi maka diperlukan pemahaman mengenai etika bisnis Islam bagi pelaku usaha supaya dapat meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan. Maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Etika Bisnis Islam Pada Usaha Ayam Ras Petelur di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut di atas, dapat dirumusakan permasalahan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana bentuk implementasi etika bisnis Islam pada usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang?
2. Apa faktor pendukung dan penghambat implementasi etika bisnis Islam pada usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang?
12Hasil Observasi di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang pada Tahun 2022.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis bentuk implementasi etika bisnis Islam pada Usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis faktor pendukung dan penghambat implementasi etika bisnis Islam pada usaha ayam ras petelur di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang
D. Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi sumber referensi teoritis untuk penelitian sejenis di masa mendatang sehingga dapat menghasilkan penelitian yang lebih konkrit dan mendalam dengan teori yang terdapat di dalam penelitian ini.
2. Kegunaan Praktis
a) Bagi peneliti, diharapkan mampu menjadi acuan untuk penerapan etika bisnis islam ke depannya.
b) Bagi pembaca, semoga hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukam yang bermanfaat dan sekaligus memberikan sumbangsi bagi ilmu pengetahuan.
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Penelitian Relevan
Berdasarkan penelurusan, peneliti menemukan beberapa karya tulis ilmiah yang secara umum berkaitan dengan penelitian peneliti, sebagai bahan rujukan dalam mengembangkan materi dalam penelitian yang dibuat oleh peneliti. Karya tulis ilmiah yang dapat peneliti temukan antara lain berjudul:
Pertama, skripsi yang berjudul “Usaha Peternakan Ayam Di Tengah Pemukiman Masyarakat Ditinjau Dari Etika Bisnis (studi kasus di desa Sumbersari Bantul Metro Selatan)” diteliti oleh Siska Maulina Saputri jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) METRO.
Hasil penelitian menjelaskan bahwa peternakan ayam milik bapak Bukhori yang berada di desa Sumbersari Bantul Metro Selatan belum sesuai dengan prinsip-prinsip etika bisnis Islam dalam melakukan bisnisnya karena masyarakat sekitar usaha peternakan merasa terganggu dengan adanya limbah yang dihasilkan dari usaha peternakan tersebut berupa limbah kotoran ayam13.
Kedua, skripsi yang berjudul “Dampak Daur Ulang Limbah Alumunium Terhadap Lingkungan Ditinjau Dari Etika Bisnis Islam (studi kasus di Dusun IV Desa Siraman Kecamatan Pekalongan Lampung Timur)” diteliti oleh Ulfah Indriana
13 Siska Maulina Saputri, Usaha Peternakan Ayam di Tengah Pemukiman Masyarakat Ditinjau Dari Etika Bisnis Islam ( Studi Kasus di Desa Sumbersari Bantul Metro Selatan) (Skripsi:
IAIN Metro:, 2018),h.vi.
jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) METRO. Hasil penelitian menjelaskan bahwa usaha daur ulang limbah alumunium milik ibu Munwaroh selama ini belum adanya upaya dari warga sekitar terhadap limbah yang dihasilkan dari usaha daur ulang limbah alumunium yang dapat mencemari lingkungan sekitar dan belum sesuai dengan prinsip-prinsip etika bisnis islam14.
Ketiga skripsi yang berjudul “Tinjauan Etika Bisnis Islam Terhadap Kegiatan Usaha Budidaya Ikan Lele Desa Sukadamai Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan” diteliti oleh Luluk Masyrukah Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) METRO. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kegiatan usaha budidaya ikan lele di Desa Sukadamai Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan belum menerapkan prinsip-prinsip etika bisnis islam yaitu prinsip tauhid, keseimbangan, kehendak bebas dan tanggung jawab yaitu berupa bau kurang sedap dari bangkai ayam potong serta limbah air kolam yang di buang ke aliran irigasi warga sehingga berdampak terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Usaha budidaya ikan lele ini juga tidaklah sesuai dengan fatwa MUI tentang hukum heawan ternak yang diberi pakan dari barang najis, yaitu bangkai ayam potong sebagai pakan ikan lele15.
14Ulfa Indriana, Dampak Daur Ulang Limbah Aluminium Terhadap Lingkungan Ditinjau Dari Etika Bisnis Islam (Studi Kasus di Dusun IV Desa Siraman Kecamatan Pekalongan Lampung Timur) (Skripsi: IAIN Metro, 2019),h.vi.
15Luluk Masyrukah, Tinjauan Etika Bisnis Islam Terhadap Kegiatan Ikan Lele Desa Sukadamai Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan (Skripsi: IAIN Metro, 2018),h.vi.
Keempat skripsi yang berjudul “Dampak Sosial dan Ekonomi Terhadap Usaha Peternakan Ayam Petelur Ditinjau Dari Etika Bisnis Islam (studi kasus di desa Sendang Agung, Kecamatan Sendang Agung Lampung Tengah)” diteliti oleh Ririn Dianawati jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) METRO. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dari respon masyarakat akibat adanya usaha peternakan ayam petelur yaitu apatis, reaktif, kontra: Dampak sosial masyarakat akibat adanya usaha peternakan ayam petelur yaitu dampak negatif seperti bau kotoran ayam dan banyaknya lalat. Dampak positifnya seperti medapatkan kontribusi dari pemilik usaha peternakan ayam petelur karena dibutuhkan tenaganya, dan juga warga dengan mudah mendapatkan telur dan daging ayam dengan harga yang murah. Upaya yang dilakukan dalam menanggulangi pencemaran lingkungan yaitu pemilik usaha berupaya mengobat lalat dan menjual limbah kotoran ayam agar tidak mengganggu masyarakat sekitar, dari aparat setempat tidak ada uapaya yang dilakukan untuk menanggulangi pencemaran lingkungan.16
Kelima skripsi yang berjudul “Perilaku Pedagang di Pasar Tradisional Petepamus Makassar Dalam Perspektif Etika Bisnis Islam” diteliti oleh Dyan Arrum Rahmadani jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa para pedagang di pasar tradisional Petepamus Makassar tidak mengetahui etika bisnis islam, akan tetapi dalam melaksanakan transaksi jual beli mereka menggunakan
16Ririn Dianawati, Dampak Sosial dan Ekonomi Terhadap Usaha Peternakan Ayam Petelur Ditinjau Dari Etika Bisnis Islam (Studi Kasus di Desa Sendang Agung, Kecamatan Sendang Agung, Lampung Tengah) (Skripsi: IAIN Metro 2018), h.vi.
atauran sesuai dengan etika bisnis islam, dilihat dari tidak melupakan ibadah shalat wajib, berdo‟a dan bersedekah, adil atau seimbang dalam menimbang atau menakar dan tidak menyembunyikan cacat, memberikan kebebasan kepada penjual baru dan tidak memaksa pembeli, menepati janji dan bertanggung jawab atas kualitas barang, bersikap ramah tamah dalam melayani dan bermurah hati.17
Perbedaan dan persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian saat ini!
No Penelitian Terdahulu Perbedaan Persamaan
1 Usaha peternakan ayam di tengah pemukiman masyarakat ditunjau dari etika bisnis (Studi kasus di desa Sumbersari bantul metro Selatan)
*Penelitian terdahulu fokus objeknya yaitu peternakan ayam di tengah pemukiman.
*Penelitian saat ini fokus objeknya yaitu implementasi etika bisnis Islam pada usaha ayam petelur.
Meneliti mengenai etika bisnis pada usaha peternakan ayam
2 Dampak daur ulang limbah
aluminium terhadap
lingkungan ditunjau dari etika
*Penelitian terdahulu fokus objeknya mengenai daur ulang
Meneliti mengenai etika bisnis Islam
17Dyan Arrum Rahmadani, Perilaku Pedagang di Pasar Tradisional Petepamus Makassar Dalam Perpektif Etika Bisnis Islam (Skripsi: UINAM, 2017),h.vi.
bisnis Islam limbah aluminium.
*Penelitian saat ini fokus objeknya mengenai usaha ayam petelur.
3 Tinjauan etika bisnis Islam terhadap kegiatan usaha ikan lele di Desa Sukadamai Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan
*Penelitian terdahulu fokus objeknya mengenai kegiatan usaha ikan lele.
*Penelitian saat ini fokus objeknya mengenai usaha ayam petelur.
Menelitia
mengenai etika bisnis Islam.
4 Dampak sosial dan ekonomi terhadap usaha peternakan ayam petelur ditinjau dari etika bisnis Islam (Studi kasus di Desa Sandang Agung Kecamatan Sendang Agung Lampung Tengah)
*Penelitian
terdahulu fokus objeknya yaitu dampak sosial dan ekonomi terhadap usaha ayam petelur.
*Penelitian saat ini fokus objeknya yaitu
Meneliti mengenaietika bisnis Islam pada
usaha ayam
petelur.
penerapan etika bisnis Islam pada usaha ayam petelur.
5 Perilaku pedagang di pasar tradisional Peterpamus Makassar dalam perspektif etika bisnis Islam
*Penelitian terdahulu fokus objeknya yaitu perilaku pedagang di pasar tradisional.
*Penelitiaan saat ini fokus objeknya yaitu usaha ayam petelur.
Meneliti mengenai etika bisnis Islam.
Dari beberapa judul skripsi yang telah dicantumkan, peneliti ingin menguatkan penelitian dari Siska Maulina Saputri dan Ririn Dianawati terkait pemberian pemahaman mengenai etika bisnis bagi pelaku usaha agar dapat meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan.
B. Tinjauan Teori 1. Implementasi
a. Pengertian Implementasi
Implementasi secara sederhana dapat diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan. Sebagaimana yang ada di dalam kamus besar bahasa Indonesia, implementasi berarti penerapan. Implementasi menurut Meter dan Horn, menjelaskan bahwa: implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-
individu/pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.18
Menurut Nurdin Usman, implementasi bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan atau adanya mekanisme atau sistem. Implementasi bukan hanya sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mrncapai tujuan kegiatan.19 Berbeda dengan Suparno, As. Mengemukakan bahwa implementasi adalah “put something into effect” (penerapan sesuatu yang memberikan efek atau dampak).20
Pengertian pengertian di atas memperlihatkan bahwa kata implementasi bermuara pada aktivitas, adanya aksi tindakan atau mekanisme suatu sistem.
Ungkapan kemanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. Dari pengertian diatas, implementasi dapat diartikan sebegai penerapan atau operasionalisasi suatu aktivitas guna mencapai suatu tujuan atau sasaran.21
Unsur-unsur implementasi meliputi:
1) Adanya program yang dilaksanakan.
2) Adanya kelompok target, yaitu masyarakat yang menjadi sasaran dan diharapkan akan menerima manfaat dari program tersebut.
18Muhammad Ali, Kebijakan Pendidikan Menengah Dalam Perspektif Governance Di Indonesia (Malang: UB Press, 2017), h. 61.
19Nurdin Usman, Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), h.6.
20Suparni, As, Membangun Kompetensi Dasar Belajar (Jakarta: Direktur Jendral Pendidikan Tinggi, 2010), h. 12.
21Arinda Firdianti, Implentasi Manajemen Berbasis Sekolah Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa (Yogyakarta: Cv. Gre Publishing, 2018), h.19.
3) Adanya pelaksanaan, baik organisasi atau perorangan yang bertanggungjawab dalam pengelolaan, pelaksanaan maupun pengawasan dari proses penerapan tersebut.22
2. Etika Bisnis Islam a. Pengertian Etika Bisnis Islam
Etika berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti adat kebiasaan yang merupakan bagian dari filsafat. Menurut Webster Dictionary, etika ialah ilmu tentang tingkah laku manusia, prinsip-prinsip yang disistematisasi tentang tindakan moral yang benar. Perbedaan akhlak dan etika ialah bahwa etika merupakan cabang dari filsafat yang bertitik tolak dari akal-akal pikiran, sedangkan akhlak ialah suatu ilmu pengetahuan yang mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk, berdasarkan ajaran Allah SWT dan Rasulullah SAW.23 Etika secara terminologi berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos yang artinya sikap, akhlak dan perasaan. Kata kedua adalah bisnis, bisnis merupakan sebuah tindakan ekonomi guna untuk menghasilkan produk untuk didistribusikan kepada konsumen untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan tujuan mendapatkan hasil yang banyak.24
Etika dipahami juga sebagai suatu perbedaan standar (standard of conduct) yang mengarahkan individu untuk membuat keputusan. Etika merupakan studi mengenai perbuatan yang salah dan benar dan pilihan moral yang dilakukan oleh seseorang. Keputusan etik ialah suatu hal yang benar mengenai perilaku standar.etika
22Slichin Abdul Wahab, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press, 2008), h. 45.
23Buchari Alma, Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah (Bandung, Alfabeta, 2016), h .377.
24Faisal Badroen, Etika Bisnis Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), h. 6.
bisnis kadang-kadang disebut pula dengan etika manajemen, yaitu penerapan standar moral ke dalam kegiatan bisnis.25
Secara terminologis, etika merupakan studi sistematis tentang tabiat konsep nilai, baik, buruk, benar, salah dan lain sebagainya dan prinsip-prinsip umum yang membenarkan kita untuk mengaplikasikan atas apa saja. Etika dapat dimaknai sebagai dasar moralitas seseorang dan di saat bersamaan juga sebagai filusufnya dalam berperilaku.26 Etika memiliki perang penting dalam dunia bisnis ketika masyarakat memahami kegiatan bisnis tujuan utamanya memperoleh keuntungan sebanyak- banyaknya. Etika dalam Islam bertujuan mengajarkan manusia untuk menjalin kerja sama, tolong menolong dan menjauhkan diri dari sikap iri, dengki, dan dendam serta hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat Islam.27
Terkait dengan etika, perlu memahami moral. Moral berasal dari bahasa latin“mores” yang artinya tindakan manusia yang sesuai dengan ukuran yang diterima oleh umum. Dalam bahasa Indonesia, moral dipahami sebagai susila, yaitu perilaku yang sesuai dengan pandangan umum, yaakni baik dan wajar, yang meliputi satuan social dan lingkungan tertentu. Dengan demikian ada kesamaan antara etika dan moral, namun ada pula perbedaannya yaitu etika lebih banyak bersifat teori dan moral lebih banyak bersifat praktis, etika merupakan tingkah laku manusia secara umum (universal) sedangkan moral bersifat lokal, lebih khusus. Istilah etika dan moral sering digunakan secara bergantian. Ini mungkin karena kata “greek ethos”dimana “ethis”berasal dari kata latin “mores” dimana “morals” diturunkan keduanya artinya kebiasaan (habit) atau adat (custom).
25Buchari Alma, Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah, h. 378.
26Faisal. Badroen,et.al.eds, Etika Bisnis dalam Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), h.4-5.
27Yusuf Qordhawi, Orma dan Etika Ekonomi Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), h. 5.
Sebenarnya inti dari pelanggaran etika dan moral yang dilakukan oleh seseorang dapat dikembalikan kepada kata hatinya. Jika ada tersirat dalam hatinya bahwa perbuatan yang ia lakukan kurang baik, maka jika ia lakukan juga, maka dia sudah melakukan pelanggran baik yang bersifat pelanggaran etika ataupun moral.
Dunia bisnis yang baik yang ingin mendapat ridho Allah SWT. Haruslah menjunjung nilai-nilai etika dan moral ini sehingga usaha dan hasil dari usaha yang ia lakukan merupakan hasil yang bersih dan mendapat berkah baik di dunia maupun di akhirat.28
Etika bisnis dapat dipahami sebagai aturan main yang tidak mengikat karena bukan hukum, perlu diperhatikan dengan baik karena menjadi batasan bagi aktivitas bisnis yang dijalankan. Etika bisnis sangat penting mengingat dunia bisnis tidak lepas dari elemen-elemen lainnya. Keberadaan bisnis pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.29Kajian etika bisnis terkadang meruju kepada managementethics atau organizatonal ethics. Ketika bisnis dapat berarti pemikiran atau refleksi tentang moralitas dalam ekonomi dan bisnis.30
Bisnis adalah sebuah aktivitas yang mengarah pada peningkatan nilai tambah melalui proses penyerahan jasa, perdagangan atau pengolahan barang (produksi).
Dalam termilogi bahasan ini, pembiayaan merupakan pendanaan, baik aktif maupun pasif, yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan kepada nasabah.31 Bisnis dengan berbagai bentuknya ternyata tanpa disadari terjadi dan menyelimuti aktivitas dan kegiatan kita setiap hari. Kata “Bisnis” dalam bahasa Indonesia diserap dari kata
“Business” dari bahasa Inggris yang berarti kesibukan. Kesibukan secara khusus
28Buchari Alma, Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah, h. 378.
29Buchari Alma, Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah, h. 379.
30Badroen, Faisal, dkk, Etika Bisnis Dalam Islam , (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h.61.
31Muhammad, Etika Bisnis Islami (Yogyakarta: Akademi Manajemen Perusahaan Ykpn,2002), h. 38-40.
berhubungan dengan orientasi profit atau keuntungan. Bisnis juga dapat diartikan sebagai suatu lembaga yang menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat.32
Bisnis adalah bagian dari kegiatan ekonomi yang berarti usaha. Bisnis merupakan aspek penting dalam kehidupan yang pasti semua orang mengenalnya, karena itu ada sebuah adigium, bisnis adalah bisnis. Jadi bisnis merupakan segala bentuk kegiatan yang dilakukan dalam produksi, menyalurkan, memasarkan barang dan jasa yang diperlukan oleh manusia, baik dengan cara berdagang maupun bentuk lain dan tidak hanya mengejar laba.33 Bisnis dapat didefinisikan sebagai pertukaran barang, jasa atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat. Ada yang mengartikan, bisnis sebagai suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan distribusi atau penjualan barang dan jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh profit (keuntungan). Barang yang dimaksud adalah suatu produk yang secara fisik memiliki wujud aktivitas-aktivitas yang memberi manfaat kepada pelaku bisnis lainnya.34
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa setiap pelaku bisnis akan melakukan aktivitas bisnisnya dalam bentuk: pertama, memproduksi dan atau mendistribusikan barang atau jasa: kedua, mencari profit (Kuntungan); dan ketiga mencoba memuasakan keinginan konsumen.
Etika bisnis Islam merupakan suatu proses dan upaya untuk mengetahui hal- hal yang benar dan yang salah yang selanjutnya tentu melakukan hal yang benar berkenan dengan produk, pelayanan perusahaan dengan pihak yang berkepentingan
32Abdul Aziz, Etika Bisnis Perspektif Islam, (Bandung: Alfabeta, 2013), h. 28.
33Abdul Aziz, Etika Bisnis Perspektif Islam, h. 31.
34Veithzal Rivai dkk,Etika Binsis Islam, h. 11.
dengan tuntutan perusahaan. Mempelajari kualitas moral kebijaksanaan organisasi, konsep umum dan standar untuk perilaku moral dalam bisnis, berperilaku penuh tanggung jawab dan moral. Artinya, etika bisnis Islami merupakan suatu kebiasaan atau budaya moral yang berkaitan dengan kegiatan bisnis suatu perusahaan.35 Dengam kata lain, maka prinsip pengetahuan akan etika bisnis islam mutlak harus dimiliki oleh setiap individu yang melakukan kegiatan ekonomi baik itu seorang pebisnis atau pedagang yang melakukan aktivitas ekonomi. Terutama para pedagang dipasar tradisional yang melakukan transaksi jual beli. Di mana Rasulullah SAW, datang dengan membawa misi memperbaiki moral dan etika kehidupan manusia. Hal ini tergambar dalam hadist Rasulullah SAW, ِِق َلَْخَ ْلْا َِحِلاَص َِمِّمَتُ ِلْ ُِتْثِعُب اَمَّنِإ (sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak).36
Menurut Muslich etika bisnis Islam adalah sikap yang digunakan sebagai acuan dalam menjalankan bisnis yang dilandaskan kepada nilai-nilai keislaman.
Pembisnis yang menerapkan etika bisnis Islam dalam operasionalnya akan mendapatkan timbal balik yang baik karena nilai keislaman yang diterapkan akan menjadi sebuah kepercayaan untuk konsumennya, dengan itu secara tidak langsung akan menaikan pendapatan dari usahanya tersebut. Etika bisnis Islam bertujuan untuk mengajarkan manusia menjalin kerja sama, tolong menolong, dan menjauhkan diri dari sikap dengki dan dendam serta hal-hal yang tidak sesuai dengan syari‟ah. Etika bisnis dalam Islam juga berfungsi sebagai controling (pengatur) terhadap aktivitas ekonomi, karena secara filosofi etika mendasarkan diri pada nalar ilmu dan agama untuk menilai. Landasan penilaian ini dalam praktek kehidupan masyarakat sering
35Abdul Aziz,M.Ag, Etika Bisnis Perspektif Islam (1 Bandung, Alfabeta, 2013), h.20.
36Dyan Arrum Rahmadani, Perilaku Pedagang di Pasar Tradisional Petepamus Makassar Dalam Perpektif Etika Bisnis Islam (Skripsi: UINAM, 2017), h.6.
kita temukan bahwa secara agama terdapat nilai mengenai hal-hal baik, buruk, jahat, seperti pihak yang menzalimi dan terzalimi.37
Menurut Mustaq Ahmad etika bisnis Islam adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral atau akhlak yang bertujuan untuk mendidik moralitas manusia dalam perdagangan meliputi baik perdagangan barang maupun perdagangan jasa yang mengacu pada Al-Qur‟an dan Hadist.38
Menurut Muhammad Djakfar, etika bisnis Islam adalah norma-norma etika yang berbasis Al-Qur‟an dan Hadist yang harus dijadikan acuan oleh siapapun dalam aktivitas bisnis.39 Dengan kata lain bagaimanapun bisnis yang berbasis kitab suci dan sunnah Rasulullah SAW, sebagaimana halnya etika bisnis modern, tidak cukup di dilihat secara partialistik semata, tetapi perlu dilihat juga dalam fungsinya secara utuh (Holistik). Dalam arti etika bisnis Islam perlu diposisikan sebagai komoditas akademik yang bisa melahirkan sebuah cabang keilmuan, sekaligus sebagai tuntunan para pelaku bisnis dalam melakukan aktivitas sehari-hari.40
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa etika bisnis Islam yaitu akhlak dalam menjalankan suatu bisnis sesuai dengan nilai-nilai islam yang berbasis pada Al-Qur‟an dan Hadist. Nilai etik, moral, susila atau akhlak adalah nilai-nilai yang mendorong manusia menjadi pribadi yang utuh.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengertian etika bisnis Islami tersebut selanjutnya dijadikan sebagai kerangka praktis yang secara fungsional akan membentuk suatu kesadaran beragama dalam melakukan setiap kegiatan ekonomi.
37Muslich, Etika Bisnis Islam, (Jakarta: Ekonisia, 2004), h. 29.
38Mustaq Ahmad, Etika Bisnis dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), h. 152.
39Muhammad Djakfar, Etika Bisnis Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008), h. 84.
40Muhammad Djakfar, Etika Bisnis Islam, h. 85.
Berikut ini akan diungkapkan nilai-nilai etika syariah yang dapat mendorong bertumbuhnya dan suksesnya bisnis, yaitu:
a. Konsep Ihsan
Ihsan adalah usaha individu untuk bersungguh-sungguh dalam bekerja, tanpa kenal menyerah, memiliki dedikasi penuh menuju otpimalisasi.
Ihsan ini tidak sama dengan perfeksionisme. Ihsan adalah optimalisme.
Perfeksionalisme tidak dianjurkan, karena ini tidak mungkin dicapai oleh manusia. Kesempurnaan itu adalah sifat Allah SWT. Kita hanya mungkin mendekatinya, tidak mungkin sampai sempurna.
Jadi kaum muslimin harus mengerjakan setiap pekerjaannya sebaik mungkin, semaksimal mungkin. Jika kita shalat maka salatlah seakan-akan kita melihat Allah SWT. Jika tidak bisa melihat Allah SWT,. Maka Allah SWT melihat kita. Inilah contoh begaimana seorang muslim harus mengerjakan segala sesuatu sebaik mungkin, tidak ada alasan lain.
b. Itqan
Itqan artinya membuat sesuatu dengan teliti dan teratur. Jadi harus bisa menjaga kualitas produk yang dihasilkan, adakan penelitian dan pengawasan kualitas sehingga hasilnya maksimal. Allah SWT. Telah menjanjikan bahwa siapa saja yang bersungguh-sungguh maka dia akan menunjukkan jalan kepadanya dalam mencapai nilai yang setinggi- tingginya.
c. Konsep hemat
Umat muslim harus hemat dengan harta, tapi tidak kikir dan tidak menggunakannya kecuali untuk sesuatu yang benar-benar bermanfaat.
Dengan berhenti ini, maka kita dapat menghemat sumber-sumber alam, kita menyimpan dan menabung. Dana tabungan ini akan dapat digunakan sebagai sumber investasi lebih lanjut, yang pada gilirannya digunakan untuk produksi. Lingkaran ini akan menghasilkan tambahan harta bagi sesesorang. Dan harta ini sangat berguna sebagai dukungan ketaqwaan kepada Allah SWT dan mengarahkan kita kehidupan beragama yang lebih bermakna.
d. Kejujuran dan keadilan
Ini adalah konsep yang membuat ketenangan hati bagi orang yang melaksanakannya. Kejujuran yang ada pada diri seseorang membuat orang lain senang berteman dan berhubungan dengannya. Dalam binis, pemupukan relasi sangat mutlak diperlukan, sebab relasi ini akan sangat membantu kemajuan bisnis dalam jangka panjang. sedangkan keadilan perlu diterapkan, misalnya terhadap pegawai, ada aturan yang jelas dalam pemberian upah, dengan prinsip keadilan itu tidak membeda-bedakan manusia yang satu dengan lainnya.
e. Kerja Keras
Rasulullah Saw. Sangat terkenal dengan pelaksanaan konsep ini. Kita mengetahui bagaimana Rasulullah SAW. Masa kecilnya telah mulai bekerja keras menggembalakan domba orang-orang Makah, dan beliau menerima upah dari gembalan itu. Setelah umur 12 tahun beliau mulai berdagang bersama kafilahnya dari satu kota ke kota lainnya. Sangat dianjurkan kerja keras itu dilakukan sejak pagi hari. Setelah shalat subuh, janganlah tidur kembali, namun carilah rizki dari Rabb-mu. Simbol “tali
dan dampak” adalah lambang kerja keras, yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam menyuruh umatnya bekerja keras, jangan hanya berpangku tangan, dan minta belas kasihan orang lain.41
b.Ruang Lingkup Etika Bisnis Islam
Ruang lingup etika bisnis Islam dikelompokkan menjadi 5 bagian penting yaitu:
1.Konsepsi Islam dan nilai-nilai di dalamnya.
2. Konsep dasar etika bisnis secara umum dan landasan teori yang membentuknya.
3. Akhlak Islami sebagai fondasi dasar peletakan etika bisnis islam dan masalah- masalah yang terkandung didalamnya perspektif Al-Qur‟an dan Al-Hadist.
4. Internalisasi akhlak Islam dan bisnis, yang difokuskan pada perilaku produsen, konsumen, distributor bagi perusahaan, pelaku pasar, etika perbankan.
5. Lembaga yang mengatasi persengketahan (ash-shulh dan at-tahkim).42 c.Prinsip-prinsip Etika Bisnis Islam
Untuk membangun kultur bisnis yang sehat, idealnya dimulai dari perumusan etika yang akan digunakan sebagi norma perilaku sebelum aturan (hukum) perilaku dibuat dan laksanakan, atau aturan (norma) etika tersebut di wujudkan dalam bentuk aturan hukum. Sebagai kontrol terhadap individu pelaku dalam bisnis yaitu melalui penerapan kebiasaan atau budaya moral atas pemahaman dan penghayatan nilai-nilai dalam prinsip moral sebagai inti kekuatan suatu perusahaan dengan mengutamakan kejujuran, bertanggung jawab,disiplin, berperilaku tanpa diskriminasi. Etika bisnis hanya bisa berperan dalam suatu komunitas moral,
41Buchari Alma, Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah , h. 387.
42Abdul Aziz, Etika Bisnis Perspektif Islam, Implementasi Etika Islami untuk Dunia usaha, h.
47.
tidak merupakankomitmen individu saja, tetapi tercantum dalam suatu kerangka sosial. Etika bisnis dalam jangka panjang, tidak berfokus pada keuntungan jangka pendek saja. Etika bisnis akan meningkatkan kepuasan pegawai yang merupakan stakeholders yang penting untuk diperhatikan.43
Etika bisnis membawa pelaku bisnis untuk masuk dalam bisnis internasional. Karenanya, harus:
1. Pengelolaan bisnis secara profesinal;
2. Berdasarkan keahlian dan ketrampilan khusus;
3. Mempunyai komitmen moral yang tinggi;
4. Menjalankan usahanya berdasarkan profesi/keahlian.
Karena itu, etika bisnis secara umum Suarny Amran, harus berdasarkan prinsip- prinsip sebagai berikut:
1. Prinsip Otonomi; yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan keselarasan tentang apa yang baik untuk dilakukan dan bertanggung jawab secara moral atas keputusan yang diambil.
2. Prinsip kejujuran; dalam hal ini kejujuran adalah kunci keberhasilan suatu bisnis, kejujuran dalam pelaksanaan kontol terhadap konsumen, dalam hubungan kerja, dan sebagainya.
3. Prinsip keadilan bahwa setiap orang dalam berbisnis diperlakukan sesuai dengan haknya masing-masing dan tidak ada yang boleh dirugikan.
4. Prinsip saling menguntungkan; juga dalam bisnis yang kompetitif
5. Prinsip integritas moral; ini merupakan dasar dalam berbisnis, harus menjaga nama baik perusahaan tetap dipercaya dan merupakan perusahaan terbaik.44
43Abdul Aziz, M.Ag, Etika Bisnis Perspektif Islam (Bandung, Alfabeta, 2013), h. 36.
44Abdul Aziz, M.Ag, Etika Bisnis Perspektif Islam, h. 37.
Demikan pula dalam Islam, etika bisnis Islami harus berdasarkan pada prinsip-prinsip dasar yang berlandaskan pada al-Qur‟an dan al-Hadist, sehingga dapat diukur dengan aspek dasarnya meliputi:45
1. Barometer ketaqwaan seseorang, Allah SWT berfirman (QS. AL-Baqarah, 2:
188)
اَذ َلا َٔ
ُك ُٕه يَر ر ىُكـَنر َٕ
يَت ىُكَُ
ناِت سُذ َٔ ِمِطاَث ُٕن
آَِت ر نر َٗنِر اَرِن ِواحْکـُح ُٕهُک
ي ِطَف ر اًم
ٍِّي يَر ِ لااِت ِغاحُْنر ِلر َٕ
ََر َٔ ِى ث ىُرـ عَذ ًَُٕه ٌَ
Terjemahnya:
“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (jangankah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memaksa sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”46
2. Mendatangkan keberkahan. Allah SWT berfirman (QS. Al-A‟raf, 7: 96)
طُمْنر َمَْْر حٌَْر َْٕن َٔ
ر ٖ ك َطَت ْىِْٓيَهَع اَُْحَرَفَن ر َْٕمحْذر َٔ ر َُُْٕي اًَحْؽنر ٍَِّي ٍد
ِض ْضَ ْلار َٔ ِء
ن َٔ
َْصَذَاَف ر ُْٕتحْصَك ٍِْك ْىُٓ
ٌ ُْٕثِؽْكَي ر َُْٕاَك اًَِت
ََ
Terjemahnya:
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”47
3. Berbisnis merupakan sarana ibadah kepada Allah SWT. Banyak ayat yang menggambarkan bahwa aktivitas bisnis merupakan sarana ibadah, bahkan perintah dari Allah SWT. Diantaranya adalah (QS.At-Taubah, 9: 105):
45Abdul Aziz, h. 39.
46Departeman Agama RI Al-Hikmah,”Al-Qur‟an dan Terjemahnya”. (CV Penerbit Diponegoro), h. 29.
47Departeman Agama RI Al-Hikmah,”Al-Qur‟an dan Terjemahnya”, h. 163.
ُٰاللّ ٖ َطَيَؽَف ر ُْٕهًَْعر ِمُل َٔ
ُّن ُْٕؼ َض َٔ ْىُكَهًََع ٌَ ُُِْٕي ْؤًُْنر َٔ
نِر ٌَ ْٔ ز َطُرَؼ َٔ
ع ٗ ِىِه
نر َٔ ِةْيَغْنر ٌَ ُْٕهًَْعَذ ْىُرُُْك اًَِت ْىُكُئِّثَُُيَف ِجَزآَحْش
Terjemahnya:
“Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang maha mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”48 Dalam pelaksanaan etika bisnis ada beberapa prinsip yang harus dianut oleh pelaku etika bisnis. Maka prinsip-prinsip dapat dirinci dengan kategori yang akan di jelaskan sebagai berikut:
1. Prinsip Tauhid
Konsep Tauhid (dimensi vertikal) berarti Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa menetapkan batas-batas tertentu atas perilaku manusia sebagai khalifah, untuk memberikan manfaat pada individu tanpa mengorbankan hak-hak individu lainnya.49 Dari konsep tauhid mengintegrasikan aspek religius, dengan aspek-aspek lainnya, seperti ekonomi, akan mendorong manusia ke dalam suatu keutuhan yang selaras, konsisten dalam dirinya, dan selalu merasa diawasi oleh Tuhan. Dalam konsep ini akan menimbulkan perasaan dalam diri manusia bahwa ia akan merasa direkam segala aktivitas kehidupannya, termasuk dalam aktivitas ekonomi. Karena Allah SWT mempunyai sifat Raqib (Maha Mengawasi) atas seluruh gerak langkah aktivitas kehidupan makhluk ciptannya.50
48Departeman Agama RI Al-Hikmah,”Al-Qur‟an dan Terjemahnya”, h. 203.
49Faisal Badroen, Etika Bisnis dalam Islam, (Jakarta: Prenada Media Group, 2006), h. 89.
50Muhammad Djakfar, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2007), h. 13.