Sementara itu, orang dewasa cenderung memiliki orientasi belajar yang berfokus pada penyelesaian masalah-masalah kehidupan (problem-centered orientasi). Sebab, pembelajaran orang dewasa seolah menjadi sebuah kebutuhan untuk menghadapi permasalahan kehidupan. Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Musa (2015:30) bahwa dalam konsep diri orang dewasa menganggap dirinya mampu hidup mandiri.
PENDAHULUAN
Untuk mengetahui langkah-langkah penerapan penerapan balok di TK Cipta Mulia Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat. Untuk mengetahui hasil pelaksanaan permainan balok di TK Cipta Mulia Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat.
KAJIAN TEORI
- Tahap-tahap Perkembangan Kreativitas
- Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kreativitas
- Ciri-ciri Kreativitas
- Metode Pengembangan Kreativitas
- Fungsi Pengembangan Kreativitas untuk Anak Usia Dini
- Fungsi dan Tujuan Alat Permainan Edukatif
- Syarat Alat Permainan Edukatif
- Prosedur Pembuatan Alat Permainan Edukatif
- Kriteria / Indikator Hasil Belajar
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Tentang Pendidikan Anak Usia Dini disebutkan dalam Pasal 28 ayat 1 yang berbunyi: 'Pendidikan prasekolah diberikan kepada anak sejak lahir sampai dengan umur enam tahun dan tidak boleh diberikan kepada anak usia dini. syarat untuk mengikuti pendidikan dasar. . Lebih lanjut pada Bab 1 Pasal 1 ayat 14 ditegaskan bahwa pendidikan anak usia dini adalah upaya pembinaan yang menyasar anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun dan dilakukan dengan memberikan rangsangan pendidikan untuk mendorong pertumbuhan jasmani dan rohani anak serta perkembangannya sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang. sudah siap berangkat ke sekolah. pendidikan lanjutan (Departemen Pendidikan Nasional, USPN. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini adalah membantu meletakkan dasar bagi pengembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan anak untuk mampu beradaptasi dengan lingkungannya serta untuk tumbuh kembangnya. dalam fase-fase selanjutnya.
Dan fungsi pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan keterampilan serta membentuk watak dan peradaban bangsa secara bermartabat, sehingga mampu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kegiatan belajar pada anak usia dini pada hakikatnya merupakan pengembangan kurikulum konkrit berupa serangkaian rencana yang mencakup sejumlah pengalaman belajar melalui bermain. Untuk mencapai tujuan kurikulum diperlukan strategi pembelajaran anak usia dini yang fokus pada: (1) tujuan yang mengarah pada tugas perkembangan pada setiap rentang usia anak; (2) materi yang disampaikan harus mengacu dan konsisten dengan karakteristik dan kebutuhan tingkat perkembangan anak (DAP = Developmentally Appropriate Practice); (3) metode yang dipilih harus bervariasi tergantung pada tujuan kegiatan pembelajaran dan harus melibatkan anak secara aktif, kreatif dan menyenangkan; (4) media dan lingkungan bermain yang digunakan harus aman, nyaman dan menarik bagi anak serta memberikan waktu yang cukup untuk penemuan; (5) Penilaian yang paling baik dan dianjurkan yang dapat dilakukan adalah serangkaian penilaian melalui observasi partisipatif terhadap segala sesuatu yang dilihat, didengar, dan dilakukan anak (Fungsi Program Pembelajaran Bredekamp.
Berdasarkan Undang-Undang Pendidikan Nasional jelas terlihat bahwa pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti, pelengkap dan/atau pelengkap pendidikan formal untuk menunjang pendidikan sepanjang hayat, sepanjang hayat tentunya dimulai dari pendidikan anak usia dini. Menurut Kurikulum Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini, terdapat tahapan pengembangan kreativitas yang dinyatakan dalam indikator aspek fisik motorik halus. Dari pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam perkembangan dan penggunaannya, tidak semua alat bantu bermain yang digunakan anak pada anak usia dini dirancang khusus untuk mengembangkan aspek tumbuh kembang anak.
Secara epistomologis, pembelajaran anak usia dini hendaknya memanfaatkan konsep belajar melalui bermain, belajar melalui tindakan, dan belajar melalui stimulasi.
PEMBAHASAN
Pada dasarnya setiap orang mempunyai kecenderungan untuk berbakat dalam berkreasi dan mempunyai kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif, walaupun setiap orang mempunyai bidang dan tingkatan yang berbeda-beda sesuai dengan potensinya masing-masing. Pendidikan anak usia dini memberikan upaya untuk merangsang, membimbing, membina dan memberikan kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak. Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang dilaksanakan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia delapan tahun.
Anak usia dini berada pada masa emas sepanjang rentang usia perkembangan manusia, menurut Hainstock dalam Nuraini Sujiono yang mengatakan bahwa masa ini merupakan masa yang sensitif; Pada masa ini, anak sangat mudah menerima rangsangan dari lingkungannya. Disediakan juga potongan agak melengkung, berbentuk silinder dan setengah balok, namun panjangnya sama sesuai dengan ukuran balok dasar (Diknas 2003, Permainan Edukasi untuk kelompok bermain). Anak secara alami belajar berorganisasi sesuai pasangannya dan anak juga belajar berorganisasi dengan rapi ketika anak sudah selesai bermain balok.
Anak belajar menyusun balok-balok dengan ukuran berbeda-beda sehingga menjadi bentuk yang sesuai dengan imajinasi dan daya kreatifnya. Anak-anak akan belajar banyak tentang pola yang akan mengasah kreativitasnya dalam menciptakan bentuk-bentuk kreatif berdasarkan ukuran balok yang tersedia.
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembelajaran anak melalui permainan tradisional pada anak usia dini 5-6 tahun di Kober Geger Sunten, untuk mengetahui tingkat kemampuan motorik besar anak melalui permainan tradisional dalam pembelajarannya yaitu mengemudi. faktor dan faktor penghambat dalam mengenalkan permainan tradisional pada anak usia dini, serta mengenalkan kembali dan melestarikan budaya daerah melalui permainan tradisional pada anak usia dini. Namun permainan tradisional tersebut masih jarang dimainkan oleh tutor dan orang tua sebagai media pembelajaran anak karena adanya faktor penghambat seperti kurangnya pemahaman tutor dan orang tua tentang manfaat permainan tradisional, kurangnya peralatan permainan dan tempat yang kurang sesuai. untuk bermain permainan tradisional. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk layanan pendidikan bagi anak usia dini yang menitikberatkan pada peletakan landasan pertumbuhan dan perkembangan melalui 9 aspek kecerdasan anak, yaitu kecerdasan linguistik, logika matematika, kecerdasan visual.
Ada banyak cara untuk memberikan stimulasi pada anak usia dini, salah satunya melalui pendekatan berbasis alam seperti permainan tradisional. Permainan tradisional untuk anak mengandung nilai-nilai edukasi yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan 9 kecerdasan anak. Nilai edukasi permainan tradisional terkandung dalam permainan, gerak, lirik dan lagunya.
Misalnya pada pendidikan anak usia dini, seorang anak dituntut untuk bisa membaca dan berhitung dibandingkan bermain. Oleh karena itu permainan tradisional sebagai produk budaya nasional harus diteliti, dikembangkan bahkan dilestarikan agar tidak hilang.
LANDASAN TEORI
Pembelajaran anak usia dini memiliki dua jenis model, yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru dan pembelajaran yang berpusat pada anak. Permainan tradisional merupakan salah satu jenis permainan yang ada pada suatu daerah tertentu dan didasarkan pada budaya dan tradisi daerah. Permainan tradisional biasanya dimainkan oleh masyarakat di daerah tertentu dengan aturan dan konsep tradisional pada zaman dahulu.
Permainan tradisional merupakan suatu proses melakukan kegiatan yang menyenangkan bagi anak dengan menggunakan alat sederhana yang sesuai dengan keadaan dan merupakan warisan budaya lokal yang diturunkan dari nenek moyang (Larasati, 2010). Permainan tradisional juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan menyenangkan yang dilakukan sesuai tradisi dan menimbulkan rasa puas pada pelakunya. Permainan tradisional merupakan salah satu unsur budaya Indonesia yang tersebar luas di seluruh nusantara dan pada dasarnya memberikan kesempatan lebih besar kepada pemainnya untuk bermain secara berkelompok, dimainkan oleh minimal dua orang dengan menggunakan alat dan bahan yang sangat sederhana, mudah didapat. Di lingkungan, permainan tradisional sebagai bagian dari kegiatan bermain mempunyai manfaat bagi perkembangan fisik dan mental anak (Kurniati, 2006).
Dalam hal ini guru harus mampu merencanakan peningkatan kemampuan motorik kasar anak dengan gambaran realistis tentang jenis-jenis permainan tradisional, cara memainkan permainan tradisional. Pendamping juga harus mampu meningkatkan kemampuan motorik kasar anak melalui permainan tradisional dengan menyiapkan ruang dan alat.
Pendahuluan
Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang mengalami perkembangan yang sangat pesat karena kebutuhan masyarakat dunia. Faktanya, di beberapa negara, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa kedua setelah bahasa nasional, sedangkan di negara lain, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa nasional berdasarkan suku dan bangsa penduduknya, dan bahasa Inggris dianggap sebagai satu-satunya alat pemersatu. negara. Pertama, yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu, misalnya Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat (Inner Circle Countries).
Tiga negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa asing (Expanding Circle Countries) antara lain Indonesia, Rusia, dan China. Selain menjadi bahasa internasional yang dipelajari hampir di setiap negara di dunia, bahasa Inggris juga menjadi jembatan sumber belajar ilmu pengetahuan karena banyak ilmu pengetahuan yang bersumber dari buku-buku yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantarnya. Saat ini perangkat elektronik seperti komputer, handphone, media sosial dan perangkat elektronik lainnya menggunakan bahasa Inggris.
Di Indonesia, bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang diajarkan di sekolah-sekolah formal seperti SD, SMP, SMA bahkan universitas. Sedangkan pada pendidikan nonformal sudah banyak yang memperkenalkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran yang dipelajari, seperti di lembaga pendidikan bahkan di pesantren.
Kajian Teoritis 1. Pemahaman
Oleh karena itu, orang menciptakan simbol-simbol tertulis untuk menggambarkan bahasa lisannya.Komunikasi tertulis melibatkan dua keterampilan, yaitu menulis dan membaca. Pemahaman membaca di sini dapat dilihat sebagai kunci pembuka gudang ilmu, karena dengan memahami suatu bacaan seseorang akan memperoleh lebih banyak informasi dan pengetahuan. Dalam kehidupan masyarakat modern yang kompleks, kemampuan membaca dan memahami seseorang sangat diperlukan baik secara pendidikan, ekonomi, dan sosial.
Teks naratif pada dasarnya adalah teks yang menceritakan tentang sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, namun hanya dibuat-buat oleh penulisnya. Teks naratif pada umumnya bersifat fiksi, namun ada juga teks naratif yang bersifat faktual yaitu menceritakan kejadian nyata. Ada beberapa jenis teks naratif yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti dongeng, legenda, cerita misteri, cerita horor, roman, dan cerita pendek.
Teks naratif terdiri dari tiga bagian utama: (1) Orientasi, yaitu bagian di mana pengarang menggambarkan dunia cerita, bagian di mana dan kapan peristiwa berlangsung dan tokoh-tokohnya diperkenalkan; (2) Komplikasi yaitu bagian dimana tokoh protagonis menemui hambatan dalam mencapai tujuannya, bagian dimana komplikasi mulai timbul dan (3) Resolusi yaitu bagian dimana permasalahan yang dihadapi tokoh protagonis terselesaikan. Bagian ini mempunyai dua kecenderungan yaitu mengakhiri cerita dengan kebahagiaan (happy ending) dan/atau mengakhiri cerita dengan kesedihan (sad ending), namun ada pula teks naratif yang membuat pembaca/pendengar mengetahui akhir cerita.
Pembahasan 1. Metode Penelitian
- Instrumen Penelitian
- Populasi
- Sample
- Pengolahan Data Menggunakan SPSS
Alat pengumpulan data digunakan untuk mengungkap data variabel dalam penelitian ini yaitu penggunaan teknik scanning dalam memahami teks narasi. Penulis menggunakan tes berupa tes tertulis untuk memperoleh skor berdasarkan hasil pemahaman siswa dalam membaca teks narasi dengan menggunakan teknik scanning. Indikator membaca pemahaman teks narasi adalah: menemukan gagasan utama, mengidentifikasi, memahami kosa kata dan menarik kesimpulan. Namun dalam penelitian ini penulis hanya menggunakan beberapa indikator yaitu: menemukan gagasan pokok, mengidentifikasi dan memahami kosa kata dari teks narasi.
Langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tes dimana guru melakukan tes dengan memberikan pertanyaan kepada siswa. Tes ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman awal siswa PONPES Miftahul Huda Cimahi sebelum diberikan perlakuan. Perlakuan tersebut bertujuan untuk mengembangkan pemahaman siswa terhadap keterampilan membaca terhadap teks narasi dengan menggunakan teknik scanning dalam pembelajaran di kelas.
Crowl (1996:15) mengemukakan bahwa, “Populasi adalah kelompok yang terdiri dari semua orang yang kepadanya peneliti ingin menerapkan temuan penelitiannya.” Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh santri Miftahul Huda Cimahi. Crowl (1996:15) menyatakan bahwa: “sampel adalah himpunan bagian dari orang-orang yang digunakan untuk mewakili populasi.” Sampel dalam penelitian ini adalah 30 siswi kelas 3 DTU.
Kesimpulan
20 tahun, karena siswa di kelas ini secara umum dapat memahami operasi (logis), namun masih kesulitan menerapkan kecerdasannya pada ide-ide abstrak. Mengingat kondisi siswa kelas 3 DTU pada umumnya sama yaitu mampu mengorganisasikan cara berpikirnya, maka lokasi pesantren yang akan dilakukan penelitian dapat dipilih secara sewenang-wenang.
Daftar Pustaka