(TARSANA) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN (Studi Kasus di Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan (S. Pd)
Disusun Oleh:
Ulfih Qori Khairunnisa NIM : 13311300
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT ILMU AL-QUR’AN JAKARTA 2017 M/1438 H
i
(TARSANA) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN (Studi Kasus di Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan (S. Pd)
Disusun Oleh:
Ulfih Qori Khairunnisa NIM : 13311300 Dosen Pembimbing
Dr. Akhmad Sodiq, M. Ag
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT ILMU AL-QUR’AN JAKARTA 2017 M/1438 H
ii
Skripsi berjudul “Implementasi Metode Tartil Sari’
Nagham (TARSANA) dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur‟an (Studi Kasus di Majlis Ta‟lim Nurul Iman Pondok Cabe)”. Disusun oleh Ulfih Qori Khairunnisa, NIM.
13311300, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur‟an Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Fakultas.
Jakarta, Juni 2017
Yang Mengesahkan, Dosen Pembimbing
Dr. Akhmad Sodiq, M. Ag NIP: 197107091998031001
iii
Skripsi dengan judul “Implementasi Metode Tartil Sari’
Nagham (TARSANA) dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur‟an (Studi Kasus di Majlis Ta‟lim Nurul Iman Pondok Cabe)” oleh Ulfih Qori Khairunnisa dengan NIM 13311300 telah diujikan pada sidang Munaqasyah Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta pada tanggal Agustus 2017. Skripsi ini diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).
Jakarta, 19 Agustus 2017 Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta
Dr. Hj. Umi Khusnul Khotimah, M.Ag
Sidang Munaqasyah
Ketua Sidang Sekretaris Sidang
Dr. Umi Khusnul Khotimah, M.Ag Wasmini
Penguji I Penguji II
Dr. Umi Khusnul Khotimah, M.Ag Sri Tuti Rahmawati, M.A Pembimbing
Dr. Akhmad Sodiq, M. Ag
iv
Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama : Ulfih Qori Khairunnisa Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 25 Maret 1993
NIM : 13311300
Jurusan/Prodi : Pendidikan Agama Islam/Strata 1 Judul Skripsi :Implementasi Metode Tartil Sari’
Nagham (TARSANA) dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur‟an (Studi Kasus di Majlis Ta‟lim Nurul Iman Pondok cabe)
Dosen Pembimbing : Dr. Akhmad Sodiq, M. Ag
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar benar hasil karya sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.
Jakarta, Juni 2017
Mahasiswi Ybs
Ulfih Qori Khairunnisa NIM. 13311300
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., yang telah mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan skripsi dengan judul “Implementasi Metode Tartil Sari’ Nagham (TARSANA) dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur‟an (Studi Kasus di Majlis Ta‟lim Nurul Iman Pondok cabe)” sebagai syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Islam Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur‟an Jakarta dapat terselesaikan. Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu dengan penuh kerendahan hati penulis ucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Huzaimah Tahido Yanggo, MA., selaku Rektor Institut Ilmu Al-Qur‟an Jakarta.
2. Ibu Dr. Hj. Umi Khusnul Khotimah, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur‟an Jakarta.
3. Ibu Dr. Esi Hairani, M.Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Institut Ilmu Al-Qur‟an Jakarta.
4. Bapak Dr. Akhmad Sodiq, M. Ag selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu untuk
vi penyusunan skripsi ini.
5. Segenap dosen pengajar IIQ terutama Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan, sehingga penulis mampu memahami banyak hal terkait ilmu-ilmu Al-Qur`an dan kependidikan.
6. Segenap instruktur tahfidz atas ilmu dan semangat yang telah diberikan kepada penulis semoga selalu dalam ridho Allah SWT.
7. Seluruh staf Fakultas Tarbiyah, terimakasih telah membantu apapun yang dibutuhkan penulis selama menjadi mahasiswa.
8. Seluruh staf perpustakaan IIQ Jakarta, perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah, terimakasih telah membantu penulis dalam mecari bahan yang diperlukan dalam penyusunan skripsi.
9. Bapak Hasan Mustofi Ibu Robiatul Adawiyah, selaku pimpinan dan guru pembimbing di Majlis Ta‟lim Nurul Iman yang telah banyak membantu dalam perizinan dan pelaksanaan penelitian ini.
vii
Budiani yang senantiasa memberikan do‟a tulus ikhlas tiada henti kepada anaknya. Adik-adikku tercinta, Ulfah Qori Khairunnisa, Ilyas Hafizh Fiddin, Azwa Nurul Aisyah yang selalu memberikan semangat kepada kakaknya.
11. Teman teman angkatan 2013 terkhusus untuk teman teman Fakultas Tarbiyah, dan teruntuk teman-teman dekatku, Novi Nur‟aeni, Syamsiah An-Najah, Musyaffa‟ah, Nur Lailatus Sa‟adah, Resthy Avisa, Ulfah Ahsanti, yang selalu memberikan bantuan kepada penulis, serta semua pihak yang telah banyak memberikan masukan dan arahan yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu demi terselesaikannya skripsi ini.
Semoga Allah SWT., membalas segala jasa dan amal baik kepada semua pihak yang telah membantu peneliti dengan balasan yang berlipat ganda. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, namun peneliti berharap dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.
Jakarta, Juni 2017 Ulfih Qori Khairunnisa
viii
HALAMAN JUDUL... i
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
PEDOMAN TRANSLITERASI ... xvi
ABSTRAK ... xx
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 5
C. Pembatasan Masalah ... 6
D. Perumusan Masalah ... 6
E. Tujuan Penelitian ... 6
F. Manfaat Penelitian ... 7
G. Penelitian Yang Relevan ... 7
H. Sistematika Penulisan ... 14
ix
A. Tinjauan Tentang Implementasi ... 16
B. Tinjauan Tentang Al-Qur‟an 1. Pengertian Al-Qur‟an... 17
2. Keistimewaan Al-Qur‟an ... 21
3. Nama-Nama Al-Qur‟an ... 23
4. Hikmah Al-Qur‟an ... 29
C. Tinjauan Tentang Pengajaran Al-Qur‟an 1. Pengertian Pengajaran Al-Qur‟an ... 33
2. Dasar Pengajaran Al-Qur‟an ... 35
3. Tujuan Pengajaran Al-Qur‟an ... 39
4. Metode Pengajaran Al-Qur‟an a. Pengertian Metode Pengajaran Al- Qur‟an ... 40
b. Macam-Macam Metode Pengajaran Al- Qur‟an ... 42
c. Faktor Pendorong dan Penghambat Metode Pengajaran Al-Qur‟an ... 44
D. Tinjauan Tentang Kemampuan Membaca Al- Qur‟an 1. Pengertian Kemampuan Membaca Al- Qur‟an ... 54
2. Indikator Kemampuan Membaca Al-Qur‟an .. 60
x
4. Keutamaan Membaca Al-Qur‟an ... 68
E. Tinjauan Tentang Metode Tartil Sari’ Nagham (TARSANA) 1. Pengertian Metode Tarsana ... 69
2. Petunjuk Penggunaan Tarsana ... 70
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 75
B. Metode Penelitian ... 75
C. Desain penelitian ... 76
D. Lokasi Penelitian ... 77
E. Subjek Penelitian ... 77
F. Teknik Pengumpulan Data ... 78
G. Instrumen Penelitian ... 82
H. Teknik Analisis Data ... 85
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Latar Belakang Objek Penelitian 1. Sejarah Singkat Majlis Ta‟lim Nurul Iman ... 86
2. Visi dan Misi Majlis Ta‟lim Nurul Iman ... 88
3. Struktur Kepengurusan Majlis Ta‟lim Nurul Iman ... 89
xi
5. Data Jama‟ah Majlis Ta‟lim Nurul Iman ... 91 6. Sarana dan Prasarana Majlis Ta‟lim Nurul
Iman ... 94 B. Paparan Data Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Membaca Al-Qur‟an di Majlis Ta‟lim Nurul Iman ... 96 2. Proses Pembelajaran Metode Tarsana dalam
Membaca Al-Qur‟an ... 97 3. Implementasi Metode Tartil, Sari, Nagham
(TARSANA) di Majlis Ta‟lim Nurul Iman ... 98 a. Tujuan Melaksanakan metode Tarsana di
Majlis Ta‟lim Nurul Iman ... 100 b. Konsep Metode Tarsana yang diterapkan
di Majlis Ta‟lim Nurul Iman ... 102 c. Kurikulum dan Materi dalam Metode
Tarsana yang diterapkan dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur‟an ... 103 d. Sistem Evaluasi dalam Implementasi
Metode Tarsana di Majlis Ta‟lim Nurul Iman ... 105
xii
Metode Tarsana ... 111 f. Faktor Penghambat dalam Implementasi
Metode Tarsana ... 114 g. Upaya mengatasai hambatan pada
implementasi Metode Tarsana ... 115 C. Pembahasan
1. Gambaran Umum Membaca Al-Qur‟an di
Majlis Ta‟lim Nurul Iman ... 117 2. Proses Pembelajaran Metode Tarsana dalam
Membaca Al-Qur‟an ... 118 3. Implementasi Metode Tartil, Sari, Nagham
(TARSANA) di Majlis Ta‟lim Nurul Iman a. Tujuan Melaksanakan metode Tarsana di
Majlis Ta‟lim Nurul Iman ... 119 b. Konsep Metode Tarsana yang diterapkan
di Majlis Ta‟lim Nurul Iman ... 120 c. Kurikulum dan Materi dalam Metode
Tarsana yang diterapkan dalam
meningkatkan kemampuan membaca
Al-Qur‟an ... 122
xiii
Metode Tarsana di Majlis Ta‟lim Nurul
Iman ... 123 e. Faktor Penunjang dalam Implementasi
Metode Tarsana ... 124 f. Faktor Penghambat dalam Implementasi
Metode Tarsana ... 126 g. Upaya mengatasai hambatan pada
implementasi Metode Tarsana ... 127
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 128 B. Saran ... 139
DAFTAR PUSTAKA ... 130 LAMPIRAN
BIOGRAFI PENELITI
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 (Kisi-Kisi Pedoman Wawancara) ... 81 Tabel 3.2 (Kisi-Kisi Pedoman Observasi) ... 82 Tabel 4.1 (Struktur Kepengurusan Majlis Ta‟lim Nurul Iman) . 88 Tabel 4.2 (Jadwal Kegiatan Majlis Ta‟lim Nurul Iman) ... 89 Tabel 4.3 (Data Ibu-ibu yang mengikuti bimbingan
membacaAl-Qur‟an dengan metode Tarsana) ... 90 Tabel 4.4 (Data Anak-anak yang mengikuti bimbingan
membaca Al-Qur‟an dengan metode Tarsana) ... 92 Tabel 4.5 (Fasilitas Majlis Ta‟lim Nurul Iman) ... 93 Tabel 4.6 (Data Hasil Evaluasi membaca Al-Qur‟an Ibu-Ibu
di Majlis Ta‟lim Nurul Iman) ... 107 Tabel 4.7 (Data Hasil Evaluasi membaca Al-Qur‟an Anak-
Anak di Majlis Ta‟lim Nurul Iman) ... 108
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian Lampiran 2 : Instrumen Wawancara
Lampiran 3 : Catatan Lapangan 1 Lampiran 4 : Catatan Lapangan 2 Lampiran 5 : Catatan Lapangan 3 Lampiran 6 : Catatan Lapangan 4 Lampiran 7 : Catatan Lapangan 5 Lampiran 8 : Catatan Lapangan 6 Lampiran 9 : Catatan Lapangan 7 Lampiran 10 : Catatan Lapangan 8 Lampiran 11 : Catatan Lapangan 9 Lampiran 12 : Catatan Lapangan 10 Lampiran 13 : Catatan Lapangan 11 Lampiran 14 : Catatan Lapangan 12 Lampiran 15 : Catatan Lapangan 13
Lampiran 16 : Dokumentasi Kegiatan Penelitian Lampiran 17 : Biografi Penulis
xvi
Transliterasi adalah penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Dalam penulisan skripsi di IIQ, transliterasi Arab-Latin mengacu pada pedoman berikut ini:
1. Konsonan
ا : a ط : th
ب : b ظ : zh
ت : t ع : „
ث : ts غ : gh
ج : j ف : f
ح : h ق : q
خ : kh ك : k
د : d ل : l
ذ : dz م : m
ر : r ن : n
ز : z و : w
س : s ه : h
xvii
ص : sh ي : y
ض : dh
2. Vocal
Vocal tunggal vocal panjang vocal rangkap Fathah : a ا : â ْْي…ْ َ : ai Kasrah : i ي : î ْْو… ْ َ : au Dhammah : u و : û
3. Kata sandang
a. Kata sandang yang diikuti alif lam (لا) qamariyah.
Kata sandang yang diikuti oleh alif lam (لا) qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya.
Contoh:
ةرقبنا : al-Baqarah تنيدمنا : al-Madînah
b. Kata sandang yang diikuti oleh alif-lam (لا) syamsiyah. Kata sandang yang diikuti oleh alif-lam (لا) syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya.
Contoh:
مجرنا : ar-Rajul ةديسنا : as-Sayyidah
xviii c. Syaddah (Tasydîd)
Syaddah (Tasydîd) dalam sistem aksara Arab digunakan lambang (
َّْ
), sedangkan untuk alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan cara menggandakan huruf yang bertanda tasydîd.Aturan ini berlaku secara umum, baik tasydîd yang berada di tengah kata, di akhir kata ataupun yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyah.
Contoh:
نْيِذَّلا َّنِإ : Inna al-ladzîna ِع كُّرلا و : wa ar-rukka’i d. Ta Marbûthah (ة)
Ta Marbûthah (ة)ْ apabila berdiri sendiri, waqaf atau diikuti oleh kata sifat (na’at), maka huruf tersebut dialih aksarakan menjadi huruf “h”.
Contoh:
ِْة دِئْف ْلْ ا : al- Af’idah
ُْت يِملآْسِ ْلْاُْت عِمب جْن ا : al-Jâmi’ah al- Islâmiyyah.
Sedangkan ta marbûthah (ة) yang diikuti atau disambungkan (di-washal) dengan kata benda (ism), maka dialih aksarakan menjadi huruf “t”.
xix
ت ب ِصب نٌْت هِمب ع : Âmilatun Nâshibah ى رْبُكْناْ ت ي ْلْ ا : al-Ayat al-Kubrâ.
e. Huruf Kapital
Sistem penulisan huruf Arab tidak mengenal huruf kapital, akan tetapi apabila telah dialih aksarakan maka berlaku ketentuan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, seperti penulisan awal kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri dan lain-lain.
Ketentuan yang berlaku pada EYD berlaku pula dalam alih aksara ini, seperti cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold) dan ketentuan lainnya.
Adapun untuk nama diri yang diawali dengan kata sandang, maka huruf yang ditulis kapital adalah awal nama diri, bukan kata sandangnya. Contoh:
„Ali Hasan al-„Âridh, al-„Asqallânî, al-Farmawî dan seterusnya. Khusus untuk penulisan kata Alqur‟an dan nama-nama surahnya menggunakan huruf capital. Contoh: Al-Qur‟an, Al-Baqarah, Al-Fâtihah dan seterusnya.
xx
Ulfih Qori Khairunnisa, NIM 13311300, Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al- Qur‟an (IIQ) Jakarta, dengan judul skripsi “Implementasi Metode Tartil Sari’ Nagham (TARSANA) dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur‟an (Studi Kasus di Majlis Ta‟lim Nurul Iman Pondok Cabe)”.
Latar belakang penelitian ini adalah tingginya angka buta aksara Al-Qur‟an di Indonesia yakni berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 terdapat sebanyak 54 persen umat Islam di Indonesia buta aksara Al-Qur‟an, untuk itu masyarakat membutuhkan metode yang memudahkan dalam belajar membaca Al-Qur‟an. Pada penelitian ini berfokus pada Metode Tarsana yakni merupakan metode cara mudah belajar membaca Al-Qur‟an dengan cepat. Metode Tarsana membekali para guru Al-Qur‟an untuk membangun sikap positif dan disiplin pada santri, serta mengenai bagaimana mengajarkan Al-Qur‟an yang mudah, menyenangkan, dan menyentuh hati. Metode Tarsana menekankan pada pembelajaran yang menyeimbangkan penggunanan otak kiri dan kanan. Melalui penelitian ini, penulis ingin mengetahui bagaimana implementasi Metode Tarsana dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur‟an para jam‟ah Majlis Ta‟lim Nurul Iman Pondok Cabe
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dalam bentuk studi kasus. Data diperoleh dari Majlis Ta‟lim Nurul Iman Pondok Cabe. Sedangkan pengumpulan data diperoleh dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumennya yaitu peneliti sendiri dan pedoman pengumpulan data. Keabsahan data dengan perpanjangan keikutsertaan peneliti, dan ketekunan pengamatan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis
xxi kesimpulan.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa implementasi Metode Tarsana menekankan pada konsep Tartil, Sari’, Nagham, yang dalam prosesnya menyeimbangkan penggunaan otak kanan dan kiri, dengan menggunakan irama lagu rast untuk memudahkan dalam memahami materi dalam 2 jilid Tarsana, serta menggunakan teknik pembelajaran yang bervariasi. Implementasi Metode Tarsana dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur‟an di Majlis Ta‟lim Nurul Iman dapat dikatakan berhasil karena terbukti dalam penelitian ini bahwa dalam waktu yang relatif singkat dengan menggunakan Metode Tarsana seluruh jama‟ah Majlis Ta‟lim Nurul Iman telah mencapai kemampuan membaca Al-Qur‟an dari yang awalnya buta aksara Al-Qur‟an.
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an yang dibaca oleh umat Islam berfungsi sebagai hidayah, yakni mengantarkan manusia menuju keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Allah SWT., memerintahkan kepada manusia agar memahami dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an, manusia juga diperintahkan untuk membaca dan menghafalnya secara baik dan benar dalam rangka beribadah kepada-Nya.1
Mempelajari Al-Qur’an adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Allah SWT., telah menjamin dalam Al-Qur’an tentang mudahnya mempelajari Al-Qur’an, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”. (QS Al-Qamar [54]: 17)
1Supian, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Praktis (Jakarta: Gaung Persada Press, 2012), Cet. ke- 1, h. 1.
Ayat ini diulang empat kali dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Qamar, untuk menegaskan jaminan Allah SWT., tentang mudahnya Al-Qur’an untuk dipelajari. Namun demikian, belum semua umat Islam mampu membaca Al- Qur’an. Fenomena riil yang terjadi di masyarakat Indonesia adalah masih banyak anak-anak, remaja, maupun orang tua yang belum dapat membaca Al-Qur’an dengan baik bahkan sama sekali belum pernah mempelajarinya. Hal ini berdasarkan hasil survei BPS (Badan Pusat Statistik) pada tahun 2015 menyebutkan 54 persen dari populasi umat Islam di Indonesia buta membaca Alquran2. Sementara itu hasil survei Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta tahun 2013 menyebutkan bahwa 65 persen umat Islam di Indonesia ternyata masih buta aksara Al-Qur’an.3
Keterbatasan ilmu untuk mempelajari Al-Qur’an juga semakin menambah permasalahan bagi umat Islam untuk mempelajari ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya.
Semangat untuk mempelajari Al-Quran secara dalam juga semakin menurun jika untuk membaca Al-Qur’an saja
2IlIiam Saputra, “Buta Aksara Al-Qur’an Muslim Indonesia”, http://www.jawapos.com/buta-aksara-al-quran-muslim-indonesia, diakses tanggal 30 Agustus 2017.
3Muhammad Amedz, “Buta Huruf Al-Qur’an di Indonesia Sungguh Menyedihkan”, http://www.kompasiana.com/buta-huruf-al-qur- an-di-indonesia-sungguh-menyedihkan, diakses tanggal 30 Agustus 2017.
masih mendapat kesulitan atau hambatan. Sehingga dapat membaca Al-Qur’an adalah syarat mutlak untuk mempelajari isi kandungannya. Untuk mempelajari Al- Qur’an biasanya orang terbatasi oleh waktu di tengah- tengah kesibukan yang beraneka ragam setiap harinya.
Sehingga orang cenderung mencari cara yang praktis dan cepat untuk dapat membaca Al-Quran.
Proses pengajaran Al-Qur’an saat ini telah mengalami banyak perkembangan dalam hal metode.
Metode pengajaran Al-Qur’an membahas mengenai cara kerja yang bersistem dalam rangka memudahkan pelaksanaan dan penerapan pengajaran Al-Qur’an guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam proses pengajaran membaca Al-Qur’an terdapat berbagai macam metode yang digunakan. Metode-Metode tersebut muncul dilatarbelakangi oleh kebutuhan masyarakat dalam pengentasan buta aksara Al-Quran.
Salah satu metode yang masih berusia baru adalah metode Tartil, Sari’, Nagham (TARSANA). Metode ini lahir pada tahun 2006 di Ngawi. Metode ini telah terbukti keunggulannya di beberapa tempat di Ngawi dan kota-kota sekitarnya yaitu hanya dalam waktu 7 jam sudah bisa membaca Al-Qur’an dan 3 bulan bisa mengkhatamkan Al-
Qur’an 30 juz4. Metode ini juga cocok digunakan untuk semua kalangan, terbukti di Ngawi telah berhasil 2980 orang dari semua kalangan dan semua usia dari angkatan 1 sampai dengan angkatan ke-9 diikuti santri berusia 7 tahun sampai 83 tahun. Dengan keberhasilan metode Tartil, Sari’, Nagham (TARSANA) di Ngawi, metode ini kemudian banyak diminati oleh kota-kota lain di Indonesia.
Adapun dari hasil grand tour, penulis menemukan Majlis Ta’lim yang menggunakan metode Tartil, Sari’, Nagham (TARSANA) yaitu Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan pimpinan Majlis Ta’lim tersebut, beliau mengatakan bahwa metode Tartil, Sari’, Nagham (TARSANA) sangat membantu masyarakat sekitar mulai dari anak-anak hingga ibu-ibu dalam membaca Al-Qur’an, diantara peserta didik bahkan ada yang belum mengenal huruf hijaiyah, namun ketika diajarkan dengan menggunakan metode Tartil, Sari’, Nagham (TARSANA) dalam waktu singkat membawakan hasil yakni peserta tersebut menjadi mampu membaca Al- Quran dengan baik5.
4Sjamsudin Mustaqim, Bimbingan Belajar Membaca Al-Qur’an TARSANA, h. 0.
5Wawancara dengan Guru Taman Pendidikan Al-Qur’an Nurul Iman Pondok Cabe , Robiatul Adawiyah, Ciputat, 21 Januari 2017.
Dengan demikian penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Implementasi Metode Tartil, Sari’, Nagham (TARSANA) dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an (Studi Kasus di Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe)”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Kesibukan yang menyita waktu menjadi faktor terhambatnya belajar membaca Al-Quran.
2. Banyaknya remaja, orang tua yang buta aksara Al- Qur’an.
3. Peran Majlis Ta’lim dalam pengentasan buta aksara Al- Qur’an perlu mendapatkan perhatian.
4. Kompetensi guru Al-Qur’an dalam membimbing peserta didik berbeda-beda.
5. Penggunaan metode praktis membaca Al-Qur’an Tartil Sari’ Nagham (TARSANA) di Majlis Ta’lim Nurul Iman tergolong masih baru.
C. Pembatasan Masalah
Untuk mencegah agar permasalahan yang diteliti tidak meluas, maka penulis membatasi masalah penelitian pada point 5 yaitu mengenai implementasi Metode Tartil, Sari’, Nagham (TARSANA) dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an. Hal ini dikarenakan peneliti ingin mengetahui lebih dalam mengenai proses pengajaran Al-Qur’an dengan menggunakan metode Tartil, Sari’, Nagham (TARSANA) di Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah diuraikan maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Implementasi Metode Tartil, Sari’, Nagham (TARSANA) dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an di Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi Metode Tartil, Sari’, Nagham (TARSANA)
dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an di Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe.
F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan metode pengajaran Al- Qur’an dalam meningkatkan kemampuan membaca Al- Qur’an.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe dalam upaya meningkatkan kualitas pengajaran dan sebagai bahan evaluasi pada pengajaran Al-Quran yang telah dilaksanakan.
G. Penelitian Yang Relevan
Sebagai bahan tinjauan dalam skripsi ini, penulis mempelajari beberapa skripsi yang pernah diangkat oleh beberapa penulis sebelumnya.
1. Penelitian yang dilakukan oleh Panut Parwanto pada tahun 2005 dengan judul “Pembelajaran Al-Qur’an
Melalui Qiro’ati di Taman Pendidikan Al-Qur’an Nurul Ummah Prenggan Kotagede Yogyakarta”, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an sudah berjalan dengan baik yaitu dengan rutinnya proses pembelajarn tiap hari, Alasan diterapkannya Qiro’ati adalah untuk memasyarakatkan Qir’oati di lingkungan sekitar PP.
Nurul Ummah.
Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah sama-sama meneliti mengenai metode membaca Al-Qur’an. Adapun perbedaannya adalah penelitian tersebut mengkaji tentang metode Qiro’ati dalam pembelajaran Al-Qur’an di TPA dan mengambil subyek penelitian di TPA Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta, sedangkan penelitian ini berfokus meneliti mengenai metode Tartil, Sari’ Nagham (TARSANA) dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an dan mengambil subyek penelitian di Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe. Keunggulan penelitian ini dibandingakan dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini membahas mengenai metode Tarsana yang
relatif masih baru yakni baru ditemukan tahun 2006 dan terus berkembang hingga saat ini.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Zen Fauzi, pada tahun 2006 dengan judul “Pendidikan Al-Qur’an melalui metode Al-Qiro’ah Al-Muyassaroh di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Plus Ali Maksum Yogyakarta”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an sudah berjalan dengan baik dengan menggunakan metode Al-Qiro’ah Al-Muyassaroh sebagai metode pembelajaran Al-Qur’an Yang bersifat praktis dan dinamis”.
Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah sama-sama meneliti mengenai metode membaca Al-Qur’an. Adapun perbedaannya adalah penelitian tersebut mengkaji tentang metode Al-Qiro’ah Al-Muyassaroh dalam pembelajaran Al-Qur’an di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Plus Ali Maksum Yogyakarta, sedangkan penelitian ini berfokus meneliti mengenai metode Tartil, Sari’ Nagham (TARSANA) dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an dan mengambil subyek penelitian di Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe. Keunggulan penelitian ini dibandingakan dengan penelitian sebelumnya adalah
penelitian ini membahas mengenai metode Tarsana yang relatif masih baru yakni baru ditemukan tahun 2006 dan terus berkembang hingga saat ini.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Nazid Wafaza, pada tahun 2008 dengan judul “Model Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Siswa Kelas Satu Sekolah Dasar (Study Kasus Di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta)”, Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran yang diterapkan adalah metode Iqro.
Kegiatan pembelajaran dilakukan intensif tiap tahun dengan tujuan memberi ketrampilan membaca Al- Qur’an. Pelaksanaannya diakukan setiap pagi, sebelum siswa melaksanakan pembelajaran inti sekolah, selain itu disebutkan juga faktor pendukung diantaranya tersedia guru yang memadai serta faktor penghambatnya yaitu waktu pembelajaran yang singkat dan terpotong masa liburan.
Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah sama-sama meneliti mengenai metode membaca Al-Qur’an. Adapun perbedaannya adalah Penelitian tersebut mengkaji tentang model pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan metode Iqro’ yang
diterapkan pada siswa kelas 1 di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, sedangkan penelitian ini berfokus meneliti mengenai metode Tartil, Sari’ Nagham (TARSANA) dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an dan mengambil subyek penelitian di Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe. Keunggulan penelitian ini dibandingakan dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini membahas mengenai metode Tarsana yang relatif masih baru yakni baru ditemukan tahun 2006 dan terus berkembang hingga saat ini.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Sukardi tahun 2009 dengan judul “Penerapan Metode Qiro’ati Pada Pembelajaran Membaca Al-Qur’an di Taman Pendidikan Al-Qur’an Mambaul Ulum Tanjung Anom Rakit Banjarnegara”. Hasil penelitian menjelaskan bahwa ada berbagai cara untuk menerapkan Qiro’ati dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an yang dilakukan dengan cara klasikal, individual, klasikal baca simak agar mempermudah santri untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah sama-sama meneliti mengenai metode
membaca Al-Qur’an. Adapun perbedaannya adalah Penelitian tersebut mengkaji tentang penerapan Metode Qiro’ati pada pembelajaran membaca Al-Qur’an di Taman Pendidikan Al-Qur’an Mambaul Ulum Tanjung Anom Rakit Banjarnegara sedangkan penelitian ini berfokus meneliti mengenai metode Tartil, Sari’ Nagham (TARSANA) dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an dan mengambil subyek penelitian di Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe. Keunggulan penelitian ini dibandingakan dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini membahas mengenai metode Tarsana yang relatif masih baru yakni baru ditemukan tahun 2006 dan terus berkembang hingga saat ini.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Faridhatul Husna tahun 2009 dengan judul “Implementasi Metode Qiro’ati Dalam Pembelajaran Membaca Al-Qur‟an di MI Al- Fatah Parakancanggah Banjarnegara”. Dalam skripsi ini mendeskripsikan agar siswa dapat membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai Ilmu Qiro’ati dan Ilmu Tajwid serta bacaan-bacaan sulit di Al-Qur’an.
Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah sama-sama meneliti mengenai metode
membaca Al-Qur’an. Adapun perbedaannya adalah Penelitian tersebut mengkaji tentang penerapan Metode Qiro’ati pada pembelajaran membaca Al-Qur’an dan subyek yang digunakan untuk tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI). sedangkan penelitian ini berfokus meneliti mengenai metode Tartil, Sari’ Nagham (TARSANA) dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an dan mengambil subyek penelitian di Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe. Keunggulan penelitian ini dibandingakan dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini membahas mengenai metode Tarsana yang relatif masih baru yakni baru ditemukan tahun 2006 dan terus berkembang hingga saat ini.
6. Penelitian yang dilakukan oleh Sungidah pada tahun 2011 dengan judul “Efektivitas Membaca Al- Qur’an Dengan Metode Tartil Sari’ Nagham (TARSANA) Pada Siswa Kelas V SD Negeri 2 Padas Kecamatan Kedungjati”. Skripsi ini menunjukkan bahwa pembelajaran membaca Al-Quran dengan metode Tartil Sari’ Nagham (TARSANA) sangat efektif dan memberikan kontribusi yang sangat bagus bagi siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 2 Padas. Dari hasil
pembelajaran menggunakan metode Tarsana yang telah mencapai prosentase keberhasilan kelas 87%, berarti telah mencapai ketuntasan kelas.
Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah sama-sama meneliti mengenai metode Tarsana.
Adapun perbedaannya adalah penelitian tersebut mengambil subyek penelitian di Sekolah Dasar Negeri 2 Padas, sedangkan penelitian ini mengambil subyek penelitian di Majlis Ta’lim Nurul Iman Pondok Cabe.
Keunggulan penelitian ini dibandingakan dengan penelitian tersebut adalah dalam penyajian hasil penelitiannya lebih menggambarkan secara detail mengenai proses pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Tarsana.
H. Sistematika Penulisan
Selanjutnya untuk memudahkan penyusunan skripsi ini, maka peneliti akan mengelompokkan ke dalam lima bab yang mempunyai keterkaitan sehingga tidak dapat dipisahkan. Untuk lebih jelasnya maka sistematika penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Yang meliputi latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI,
Yaitu bab yang menguraikan tentang kajian pustaka baik dari buku-buku ilmiah, maupun sumber-sumber lain yang mendukung penelitian ini.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN,
Yaitu bab yang menguraikan tentang desain penelitian, subjek penelitian, lokasi penelitian, metode pengumpulan data, dan metode analisis data.
BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN, Yaitu bab yang menguraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan dari data yang telah diperoleh.
BAB V PENUTUP,
Yaitu bab yang berisi simpulan hasil dan saran serta hasil penelitian
16
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Tentang Implementasi
Implementasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci. Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap sempurna. Menurut Nurdin Usman, implementasi adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan atau adanya mekanisme suatu sistem, implementasi bukan sekedar aktivitas, tapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan1. Sedangkan Guntur Setiawan berpendapat bahwa implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana,birokrasi yang efektif2.
Dari pengertian-pengertian diatas memperlihatkan bahwa kata implementasi bermuara pada mekanisme suatu sistem. Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat
1Nurdin Usman, Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum, (Jakarta: Grasindo, 2002), h. 70.
2Guntur Setiawan, Impelemtasi dalam Birokrasi Pembangunan, (Jakarta: Balai Pustaka, 2004), h. 39.
disimpulkan implementasi adalah suatu kegiatan yang terencana, bukan hanya suatu aktifitas dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma-norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. Oleh karena itu, impelementasi tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh objek berikutnya yaitu kurikulum. Implementasi kurikulum merupakan proses pelaksanaan ide, program atau aktivitas baru dengan harapan orang lain dapat menerima dan melakukan perubahan terhadap suatu pembelajaran dan memperoleh hasil yang diharapkan. Adapun dalam penelitian ini, Implementasi yang dimaksud adalah Implementasi Metode Tartil Sari‟ Nagham (TARSANA) dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur‟an di Majlis Ta‟lim Nurul Iman Pondok Cabe.
B. Tinjauan Tentang Al-Qur’an 1. Pengertian Al-Qur’an
Para ulama berbeda pendapat mengenai pengertian Al-Qur‟an. Diantaranya Al-Lihyani, ia berpendapat bahwa Al-Qur‟an merupakan akar kata dari qara‟a yang berarti membaca. Kemudian kata ini dijadikan sebagai nama firman Allah SWT., yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW3. Ia merujuk pada ayat berikut:
“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.”
(QS. Al-Qiyamah [75]: 17-18).
Qara‟a memiliki arti mengumpulkan dan menghimpun. Qira‟ah berarti merangkai huruf-huruf dan kata-kata satu dengan lainnya dalam satu ungkapan kata yang teratur. Al-Qur‟an asalnya sama dengan qira‟ah, yaitu akar kata dari qara‟a, qira‟atan wa qur‟anan.4
Berbeda dengan Az-Zujaj, ia berpendapat bahwa kata Al-Qur‟an merupakan kata sifat yang berasal dari kata dasar al-qar‟u yang artinya menghimpun. Kata sifat ini kemudian menjadi nama dari firman Allah SWT., yang diturunkan kepada nabi pilihan, yakni Muhammad
3Rofiul Wahyudi dan Ridhoul Wahidi, Rahasia Cepat Bisa Menghafal Al-Qur‟an Saat Sibuk Kuliah, (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2016), h. 2.
4Manna Al-Qathan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur‟an, (Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2012), h. 16.
SAW., karena kitab ini menghimpun ayat, surat, kisah, perintah dan larangan serta menjelaskan kitab-kitab yang datang sebelumnya.5 Sedangkan secara istilah, sebagaimana umum diketahui Al-Quran adalah wahyu Allah SWT., yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW., sebagai pedoman hidup seluruh umat manusia.6
Menurut Ali As-Shabuni dalam kitab At-Tibyan fi Ulumil Qur‟an, Al-Qur‟an menurut istilah adalah firman Allah SWT., yang mengandung mukjizat, diturunkan kepada Nabi dan Rasul akhir melalui perantara Malaikat Jibril As., tertulis dalam mushaf, dinukilkan kepada kita secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah, yang dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.7 Adapun menurut Subhi As-Shalih dalam Mabahits fi Ulum Al-Qur‟an dan Az-Zarqani dalam Manahil Al-Irfan Al-Qur‟an, bahwa Al-Qur‟an merupakan firman Allah SWT., sebagai mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., yang
5Rofiul Wahyudi dan Ridhoul Wahidi, Rahasia Cepat Bisa Menghafal Al-Qur‟an Saat Sibuk Kuliah, h. 2.
6Rizem Aizid, Tartil Al-Qur‟an Untuk Kecerdasan dan Kesehatanmu, (Yogyakarta: Diva Press, 2016), h. 18-19.
7Zaki Zamani dan M. Syukron Maksum, Metode Cepat Menghafal Al-Qur‟an, (Yogyakarta: Al-Barokah, 2014), h.13
dituliskan dalam mushaf dan dinukilkan kepada kita secara mutawatir dan membacanya bernilai ibadah.8
Al-Qur‟an yang dibaca oleh kaum muslimin berfungsi sebagai hidayah, yakni mengantarkan manusia menuju keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Allah SWT., memerintahkan kepada manusia agar memahami dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur‟an, manusia juga diperintahkan untuk membaca dan menghafalnya secara baik dan benar dalam rangka beribadah kepada- Nya.9
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian Al-Qur‟an secara istilah adalah wahyu Allah SWT., yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW., sebagai pedoman hidup seluruh umat manusia, diriwayatkan secara mutawatir, yang ditulis pada mushaf dari awal surat Al-Fatihah sampai surat An-Nas dan membacanya bernilai ibadah.
8Rofiul Wahyudi dan Ridhoul Wahidi, Rahasia Cepat Bisa Menghafal Al-Qur‟an Saat Sibuk Kuliah, h. 3
9Supian, Ilmu-Ilmu Al-Qur‟an Praktis (Tajwid, Tahfizh dan Adab Tilawah Al-qur‟an Al-Karim), (Jakarta: Gaung Persada Press, 2012), Cet.
ke-1, h. 1.
2. Keistimewaan-Keistimewaan Al-Qur’an
Al-Qur‟an memiliki keistimewaan mulia dibandingkan dengan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Diantara keistimewaannya adalah:
a. Memberikan pedoman dan petunjuk hidup secara keseluruhan dan kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Al-Qur‟an menjadi pegangan hidup bagi manusia baik yang menyangkut urusan dunia ataupun akhirat. Dalam Al-Qur‟an terdapat banyak ayat yang menjelaskan bagaimana hidup bermasyarakat, bagaimana berhubungan dengan komunitas masyarakat dan toleransi bergama.
b. Dapat mempengaruhi manusia yang membaca atau yang mendengar sehingga orang yang beriman menjadi bertambah imannya dan yang belum beriman banyak yang masuk Islam karenanya. Ketika orang yang beriman mendengar bacaan Al-Qur‟an hati mereka bergetar dan semakin menambah iman mereka. Al-Qur‟an memberikan pengaruh bagi jiwa yang haus akan kebenaran Islam. Misalnya, kisah masuk Islamnya Umar bin Al-Khathtab, orang yang paling ditakuti oleh semua kabilah. Namun berkat hidayah Allah SWT., melalui kalam-Nya, ia
bersimpuh di depan adiknya lalu menjadi pembela Islam.
c. Seruan atau petunjuk yang terdapat dalam kitab-kitab samawi terbatas pada saat kitab itu diturunkan, sedangkan petunjuk dan seruan Al-Qur‟an tidak terbatas pada saat diturunkan, namun mencakup semua kebutuhan umat manusia sampai pada hari kiamat kelak. Dengan kata lain, ketika penyampai risalah (Rasul) wafat, maka hukum yang ada di dalam kitab tersebut tidak lagi berlaku. Berbeda dengan Al- Qur‟an yang menjadi petunjuk kepada semua umat manusia sampai akhir zaman nanti.
d. Menyamakan manusia tanpa perbedaan kelas, golongan, dan lainnya. Hal yang menentukan perbedaan di mata Allah hanyalah ketakwaan. Allah SWT., tidak melihat kecantikan, ketampanan, bentuk tubuh ataupun jabatan. Tetapi, Allah SWT., hanya menilai dari sisi ketakwaannya. Ketika hidup di dunia, kita harus mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih kekal dan abadi, yakni kehidupan akhirat
dan sebaik-baik bekal menuju kesana adalah ketakwaan.10
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa keistimewaan Al-Qur‟an adalah sebagai petunjuk kepada semua umat manusia sampai akhir zaman nanti dan Al-Qur‟an juga mengajarkan agar kehidupan di dunia ini menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih abadi, yakni kehidupan akhirat. Dengan kata lain, harus ada keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
3. Nama-Nama Lain Al-Qur’an
Selain bernama Al-Qur‟an, kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., sebagaimana dipaparkan tadi juga memiliki sejumlah nama lain.
Berikut ini adalah beberapa nama-nama lain dari Al- Qur‟an:
a. Al-Kitab. Nama lain Al-Qur‟an yang pertama adalah Al-Kitab yang artinya buku. Dengan demikian, Al- Qur‟an adalah Al-Kitab bagi umat Islam. Nama lain ini diterangkan oleh Allah SWT., dalam sebuah firman-Nya:
10Rofiul Wahyudi dan Ridhoul Wahidi, Rahasia Cepat Bisa Menghafal Al-Qur‟an Saat Sibuk Kuliah, h. 10-11.
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al- Baqarah [2]: 2).
b. Al-Furqan. Nama lain Al-Qur‟an berikutnya adalah Al-Furqan, yang artinya pembeda antara benar dan salah. Nama ini diterangkan oleh Allah SWT., dalam sebuah firman-Nya berikut:
“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi
peringatan kepada seluruh alam”
(QS. Al-Furqan [25]: 1).
c. Adz-Dzikr. Nama ketiga dari Al-Qur‟an adalah Adz- Dzikr, yang artinya pemberi peringatan. Nama ini mengacu pada tujuan diturunkannya Al-Qur‟an, yang salah satunya adalah sebagai peringatan bagi hamba- hamba-Nya. Allah SWT., berfirman:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr [15]: 9).
d. Al-Mau‟idhah. Nama keempat Al-Qur‟an adalah Al- Mau‟idhah, yang artinya pelajaran atau nasihat. Nama ini mengacu pada fakta bahwa Al-Qur‟an diturunkan sebagai pelajaran atau nasihat bagi orang-orang yang beriman. Allah SWT., berfirman:
“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57).
e. Asy-Syifa. Nama kelima dari Al-Qur‟an adalah Asy- Syifa‟, yang artinya obat atau penyembuh. Dengan kata lain, nama Asy-Syifa‟ membenarkan bahwa Al-
Qur‟an adalah penyembuh atau obat bagi segala penyakit. Keterangan tentang nama ini juga tercantum dalam QS. Yunus [10] ayat 57.
f. Al-Hukm. Nama yang keenam dari Al-Qur‟an adalah Al-Hukm, yang artinya peraturan atau hukum. Nama ini menjadi bukti bahwa Al-Qur‟an mengandung hukum-hukum atau peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Allah SWT., untuk umat manusia.
Allah SWT., berfirman:
“Dan Demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab[776]. dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, Maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (QS. Ar-Ra‟d [13]: 37).
g. Al-Hikmah. Al-Qur‟an juga memiliki nama Al- Hikmah, yang artinya kebijaksanaan. Mengenai nama ini, Allah SWT., berfirman:
“Itulah sebagian Hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. dan janganlah kamu Mengadakan Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam Keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).”
(QS. Al-Isra‟ [17]: 39).
h. Al-Huda. Al-Qur‟an juga memiliki nama lain yang artinya petunjuk, yakni Al-Huda. Nama ini mengacu pada kandungan Al-Qur‟an yang senantiasa memberikan petunjuk bagi seluruh umat manusia dalam segala hal. Mengenai nama ini Allah SWT., berfirman:
“Sesungguhnya Kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), Kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, Maka ia tidak takut akan
pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.”
(QS. Al-Jin‟ [72]: 13).
i. At-Tanzil. Nama lain Al-Qur‟an ini memiliki arti yang diturunkan. Hal ini sebagaimana firman-Nya:
“Dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.”(QS. As-Syu‟ara [26]: 192).
j. Ar-Rahmah. Al-Qur‟an juga disebut dengan nama Ar- Rahmah, yang artinya karunia. Nama ini terdapat dalam firman Allah SWT., sebagai berikut:
“Dan Sesungguhnya Al qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An- Naml [27]: 77).
k. Ar-Ruh. Al-Qur‟an juga disebut dengan nama Ar-Ruh, yang artinya ruh.11 Adapun firman Allah SWT. yang menerangkan tentang nama ini adalah sebagai berikut:
11Rizem Aizid, Tartil Al-Qur‟an Untuk Kecerdasan dan Kesehatanmu, h. 23-29.
“Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi
petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(QS. As-Syura [42]: 52).
4. Hikmah Al-Qur’an
Al-Qur‟an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, yakni pada 17 malam bulam Ramadhan ketika beliau berumur 41 tahun sampai 9 Dzulhijjah pada haji wada‟
bertepatan 10 H. Ayat-ayat yang diturunkan tidak sekaligus, namun bertahap dan sesuai dengan kebutuhan.
Bahkan sering kali wahyu turun untuk menjawab
pertanyaan sahabat yang ditujukan kepada Nabi Muhammad atau untuk membenarkan tindakan nabi.
Disamping itu ada ayat yang diturunkan tanpa melalui latar belakang pertanyaan atau kejadian tertentu.
Misalnya, ayat tentang kiblat yang turun setelah hijrah sesudah kaum muslimin berkiblat ke Baitul Maqdis.
Adapun secara garis besar hikmah pewahyuan Al-Qur‟an secara berangsur-angsrur adalah:
a. Memantapkan dan mengukuhkan hati nabi. Ketika Nabi Muhammad SAW., melaksanakan dakwah, beliau sering berhadapan dengan penentang. Turunnya wahyu secara bertahap merupakan dorongan tersendiri baginya untuk tetap menyampaikan risalah Allah SWT., Sebagaimana firman Allah SWT., di bawah ini:
“Berkatalah orang-orang yang kafir:
"Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan
Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (QS. Al-Furqan [25]: 32).
b. Menentang dan melemahkan para penentang Al- Qur‟an. Ketika Nabi Muhammad SAW., berdakwah, beliau sering berhadapan dengan pertanyaan- pertanyaan di luar nalar manusia yang dilontarkan orang-orang musyrik untuk meemahkan Nabi Muhammad SAW. Turunnya wahyu secara bertahap tidak saja menjawab pertanyaan mereka, bahkan menantang mereka untuk membuat satu surat dari Al- Qur‟an. Ketika mereka tidak mampu membuat yang serupa dengan Al-Qur‟an. Al-Qur‟an juga menjadi mukjizat yang tidak tertandingi, sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah[31] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu
selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 23).
c. Memudahkan nabi dan para umatnya untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur‟an. Telah dimaklumi bahwa umat Islam pada masa Nabi banyak yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Turunnya wahyu secara bertahap tentu sangat menolong para sahabat untuk membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur‟an di kehidupan sehari-hari. Karena mereka hanya berpegang kepada daya ingat mereka. Di dada merekalah tersimpan Al-Qur‟an. Disamping itu alat tulis tidaklah mudah didapat. Dengan Demikian apabila Al-Qur‟an diturunkan sekaligus, tentu akan sulit untuk dihafalkan. Lebih-lebih untuk memahami dan menghayati isinya.Allah mencatat sifat mereka dalam Al-Qur‟an:
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya
kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu‟ah [62]: 2).
d. Agar mudah dimengerti dan dilaksanakan segala kandungan isinya. Sebab, siapa saja akan merasa berat atau enggan bila diberi perintah atau larangan sekaligus karena sangat berat untuk dilaksanakan.
Misalnya, tentang tahapan pelarangan meminum khamar.12
C. Tinjauan Tentang Pengajaran Al-Qur’an 1. Pengertian Pengajaran Al-Qur’an
Pengajaran adalah suatu kegiatan yang menyangkut pembinaan anak mengenai segi kognitif dan psikomotorik semata-mata, yakni supaya anak lebih banyak pengetahuannya, lebih cakap berpikir kritis, sistematis dan obyektif, serta terampil dalam mengerjakan sesuatu13. Pengajaran dapat diartikan sebagai tindakan mengajar atau mengajarkan yang berarti bahwa terjadi proses transformasi pengetahuan
12Rofiul Wahyudi dan Ridhoul Wahidi, Rahasia Cepat Bisa Menghafal Al-Qur‟an Saat Sibuk Kuliah, h. 4-7.
13Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Al-Qur‟an, (Bandung:
Rosdakarya, 1995), h. 33-34.
dari pendidik pada anak didik secara berkesinambungan dan berulang-ulang serta membutuhkan keseriusan dan berlatih setiap huruf-huruf dan bacaannya.
Adapun pengertian Al-Qur‟an adalah kalam Allah SWT., yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., dalam berbahasa arab yang diriwayatkan dengan jalan mutawattir, dimulai dengan surat Al-Fatihah diakhiri dengan surat An-Nas dan membacanya bernilai ibadah14. Dengan demikian maka pengertian pengajaran Al-Qur‟an adalah pemberian ilmu pengetahuan atau keterampilan membaca dari seorang pendidik kepada anak didik sehingga anak didik dapat memiliki pengetahuan dan pengertian dalam membaca. Atau dengan kata lain pengajaran Al-Qur‟an adalah kegiatan membimbing, melatih anak didik untuk membaca Al- Qur‟an dengan baik dimana hal tersebut membutuhkan waktu yang lama dan proses yang berulang-ulang.
14 M. Hasbi Ash-Shiddiq, Pengantar Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h. 188.
2. Dasar Pengajaran Al-Qur’an
a. Dasar yang bersumber dari Al-Qur’an
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.
Al-Ankabut [29]: 45).