TAHUN PELAJARAN 2018/2019
SKRIPSI
diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam
Oleh:
Vina Lestari NIM: 084 141 113
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
MARET 2019
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q. S. Al-Ahzab 33: 21)1
1 Al-Qur’an, 33: 21
Allah yang telah memberi jalan kelancaran dalam menyelesaikan skripsi ini saya persembahkan kepada:
1. Orangtua tercinta saya yaitu Bapak Moh. Aliman, Ayah Suroso Efendi dan Ibu Sunaini serta Adik saya Vio Ade Putri (puput) yang selalu menasihati, mendoakan, mengarahkan dan memotivasi saya, serta memberikan dukungan moril ataupun materil dan banyak lagi lainnya.
2. Kepada semua guru-guruku dan terkhusus Dosen IAIN Jember yang telah banyak mengajariku banyak hal hingga membuatku menjadi pribadi seperti yang sekarang ini.
3. Untuk teman-teman seperjuangan kelas PAI A3 Angkatan 2014 yang selalu memberikan motivasi dan semangat juang untuk lulus bersama-sama sehingga skripsi ini bisa rampung.
4. Untuk Almamaterku Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
6. Untuk Rekan dan Rekanita PAC IPNU-IPPNU Kec. AMBULU yang mengajarkan arti Belajar, Berjuan dan Bertaqwa
sayang), taufiq (pertolongan), serta hidayah (petunjuk) sehingga perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi sebagai salah satu syarat menyelesaikan progam sarjana strata satu (S1) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam Progam Studi Pendidikan Agama Islam dapat terselesaikan.
Selesainya skripsi ini tentu karena adanya dorongan semangat dan do’a serta rasa tanggung jawab dari sebuah tugas yang dipikul oleh peneliti. Namun bukan berarti bahwa selesainya skripsi ini akhir dari sebuah pencarian ilmu pengetahuan, akan tetapi ini adalah awal dari sebuah proses kehidupan untuk menjadi lebih baik yang harus dilalui dan berlanjut tiada akhir, dan karya ini juga tidak lepas dari partisipasi semua pihak yang turut membantu, baik dari segi materi maupun spiritual. Oleh karena itu, penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM selaku Rektor IAIN Jember yang telah memberikan fasilitas yang memadai selama kami menuntut ilmu di IAIN Jember.
2. Dr. H. Abdullah, S. Ag., M.H.I. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember yang telah memberikan bimbingan yang baik dan telah membantu mempermudah mahasiswa FTIK dalam menjalankan perkuliahan.
3. Dr. H. Mundir, M.Pd selaku Ketua Jurusan yang telah memberikan arahan selama perkuliahan.
5. Dr. H. Soekarno M. Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah membantu dalam penyelesaian dalam skripsi ini, selalu memberikan motivasi, dan menjadi teman untuk diskusi tentang skripsi.
6. Dosen IAIN Jember khususnya dosen Tarbiyah, terima kasih atas ilmu yang telah diberikan kepada kami, mudah-mudahan bermanfaat. Amin
7. Pembina Ekstrakurikuler Hizbul Wathan beserta guru-guru MA Muhammadiyah 1 Jember yang telah memberikan banyak bantuan, memberikan banyak informasi sehingga selesailah skripsi ini.
8. Serta semua pihak yang telah membantu atas terselesainya penyusunan skripsi ini, terima kasih atas do’a dan dukungannya.
Dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharap kritik dan saran kearah penyempurnaan skripsi ini. Mudah- mudahan skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada penulis dan kepada para pembaca. Amin
Jember, 24 Januari 2019
Penulis
2018/2019.
Pendidikan secara umum dipahami sebagai proses pendewasaan sosial manusia menuju terciptanya manusia seutuhnya, meliputi adanya keseimbangan aspek-aspek kemanusiaan yang selaras dan serasi baik lahir maupun batin. Di zaman milenial ini pemerintah mementingkan pendidikan karakter, oleh sebab itu kurikulum di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Jember yang digunakan adalah K13. Di Indonesia ini ada organisasi masyarakat yang sudah luar biasa berperan memajukan bangsa ini salah satu diantaranya adalah organisasi Muhammadiyah.
Di dalam kaidah pendidikan Muhammadiyah menetapkan kepanduan Hizbul Wathan sebagai salah satu ekstrakurikuler wajib sekolah Muhammadiyah yang mengimplementasikan pendidikan karakter islami artinya dalam melaksanakan metode kepanduan adalah untuk menanamkan aqidah Islam dan membentuk karakter mulia.
Fokus penelitian yang diteliti dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana implementasi pendidikan karakter religius pada kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Jember tahun pelajaran 2018/2019?, 2) Bagaimana implementasi pendidikan karakter mandiri pada kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Jember tahun pelajaran 2018/2019?, 3) Bagaimana implementasi pendidikan karakter tanggung jawab pada kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Jember tahun pelajaran 2018/2019.
Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan interaktif Miles and Huberman, yakni reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik dengan mengecek kembali data-data yang diperoleh peneliti kepada semua sumber yang ada dan mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda sehingga data tersebut akurat.
Penelitian ini memperoleh kesimpulan: 1) implementasi pendidikan karakter religius pada kegiatan hizbul wathan di MA Muhammadiyah 1 Jember tahun pelajaran 2018/2019 meliputi: sholat berjamaah, membiasakan membaca Al-Qur’an dan membaca do’a sebelum dan sesudah kegiatan. 2) implementasi pendidikan karakter mandiri pada kegiatan hizbul wathan di MA Muhammadiyah 1 Jember tahun pelajaran 2018/2019 meliputi: perkemahan sabtu-minggu, menabung, dan melaksanakan perintah tanpa disuruh. 3) implementasi pendidikan karakter tanggung jawab pada kegiatan hizbul wathan di MA Muhammadiyah 1 Jember tahun pelajaran 2018/2019 meliputi: membina ditingkat Athfal dan Pengenal dan menjadi panitia suatu kegiatan.
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
E. Definisi Istilah ... 9
F. Sistematika Pembahasan ... 10
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 12
A. Penelitian Terdahulu ... 12
B. Kajian Teori ... 15
BAB III METODE PENELITIAN ... 53
A. Pendekatan dan Jenis Penelitiaan ... 53
B. Lokasi Penelitian ... 54
F. Keabsahan Data ... 61
G. Tahapan-tahapan Penelitian ... 62
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 65
A. Gambaran Obyek Penelitian ... 65
B. Penyajian Data dan Analisis ... 75
C. Pembahasan Temuan ... 87
BAB V PENUTUP ... 94
A. Kesimpulan ... 94
B. Saran-saran ... 95
Daftar Pustaka ... 97 Pernyataan Keaslian
LAMPIRAN
1. Matrik Penelitian 2. Instrumen Penelitian 3. Jurnal Penelitian 4. Foto Kegiatan 5. Denah
6. Surat izin penelitian 7. Surat selesai penelitian 8. Biodata
A. Latar Belakang
Pendidikan secara umum dipahami sebagai proses pendewasaan sosial manusia menuju pada tataran yang semestinya, yaitu terciptanya manusia seutuhnya, meliputi adanya keseimbangan aspek-aspek kemanusiaan yang selaras dan serasi baik lahir maupun batin. Di dalamnya terkandung makna yang berkaitan dengan tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi menuju Insan Kamil.1
Investasi dalam bidang pendidikan sangat diperlukan dalam upaya menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan dapat meningkatkan taraf hidup dan memungkinkan seseorang untuk dapat meningkatkan kemampuannya secara terencana. Oleh sebab itu, untuk merencanakan dan mengembangkan karakter anak sangat dibutuhkan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya merupakan pendidikan formal yang didapat dari sekolah, melainkan pendidikan di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat sebagai upaya meningkatkan kualitas anak dalam ilmu pengetahuan, keterampilan dan karakternya.2 Pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat dan
1 Ahmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 1992),16.
2 Ridwan Abdullah dan muhammad kadri, Pendidikan Karakter “mengembangkan karakter anak yang islami”, (Jakarta: Bumi Aksara, 2016), 5.
berakhlak (berkarakter). Semua pendidikan yang ada di Indonesia baik sekolah swasta maupun Negeri tidak boleh bertentangan dengan Pendidikan Nasional. Dasar pendidikan Nasional adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.3
Dari rumusan tersebut terlihat bahwa pendidikan nasional mengemban misi yang tidak ringan, yaitu membangun manusia yang utuh dan paripurna yang memiliki nilai-nilai karakter yang agung di samping juga harus memiliki fondasi keimanan dan ketaqwaan yang tangguh. Oleh karena itu, pendidikan menjadi agent of change yang harus mampu melakukan perbaikan karakter bangsa. Pendidikan di Indonesia hingga sekarang ini masih menyisakan banyak persoalan, baik kurikulum, manajemen, maupun para pelaku dan pengguna pendidikan. SDM Indonesia masih belum mencerminkan cita-cita pendidikan yang diharapkan. Masih banyak ditemukan kasus, seperti siswa yang mencontek ketika sedang ujian, bermalas-malasan, terlalu banyak bermain, hura-hura, tawuran, mempraktikkan pergaulan bebas, meggunakan narkoba, dan melakukan tindak kriminal. Di sisi lain, masih ditemukan pula guru yang melakukan kecurangan-kecurangan dalam sertifikasi dan penyelenggaraan ujian nasional (UN). Atas dasar inilah, pendidikan di
3 Sekretaris Negara RI, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Indonesia perlu direkontruksikan agar dapat menghasilkan lulusan yang lebih berkualitas serta dapat menghasilkan lulusan yang memiliki karakter mulia.4
Oleh karena itu Fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini dirasa cukup mendesak untuk adanya pengaktualisasian kembali pendidikan karakter.
Terdapat di dalam Perpres No 87 Tahun 2017 Bab 1 Pasal 1 dijelaskan bahwa:
Penguatan Pendidikan Karakter yang selanjutnya disingkat PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).5
Karakter (akhlak) dalam Islam memiliki hubungan yang sangat erat dengan Akidah dan Syari’ah, bahkan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Akidah sebagai sistem keyakinan bermuatan elemen- elemen dasar Iman, yaitu meggambarkan sumber dan hakikat keberadaan agama. Syari’ah sebagai sistem hukum berisi peraturan yang menggambarkan fungsi agama. Sementara itu, akhlak sebagai sistem nilai etika menggambarkan arah dan tujuan yang hendak dicapai oleh agama. Oleh karena itu ketiga kerangka dasar islam tersebut harus berintegrasi dan bersinergi dalam diri seorang muslim. Integrasi ketiga komponen tersebut dalam ajaran islam ibarat pohon. Akarnya adalah akidah; batang, dahan, dan daunnya adalah syari’ah; sedangkan buahnya adalah akhlak (karakter).6
Untuk membangun manusia yang memiliki nilai-nilai karakter mulia, seperti dirumuskan dalam tujuan pendidikan nasional tersebut, dibutuhkan
4 Marzuki, Pendidikan Karakter Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2017), 4
5 Sekretariat Negara RI. Perpres No 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter
6 Marzuki, Pendidikan Karakter Islam, 14-15
sistem pendidikan yang memiliki materi komprehensif (kaffah) serta ditopang oleh pengelolaan dan pelaksanaan yang benar. Terkait dengan ini, pendidikan islam memiliki tujuan yang seiring dengan tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan karakter islami adalah semua muatan yang terdapat dalam pendidikan karakter yang terdapat dalam peraturan yang dikeluarkan oleh Sistem Pendidikan Nasional, hanya saja muatan religius diberikan porsi lebih dalam pembahasannya dan penekanan dalam karakter Islami ini dengan memperluas cakupan pada nilai (Akidah) Ketuhanan, dengan memperbanyak nilai atau amalan berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
Pendidikan karakter islami dapat diambil dari teladan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW maka dari itu Rasulullah SAW disebut sebagai pendidik karakter islami.7
Penanaman nilai-nilai karakter di Lembaga dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler, Hizbul Wathan adalah salah satu Organisasi Otonom Persyarikatan Muhammadiyah yang merupakan nama barisan Pandu Muhammadiyah. Hizbul Wathan berazazkan: 1) Agama islam dengan maksud:
(a) memasukkan pelajaran agama islam dalam Undang-undang dan Perjanjian Hizbul Wathan dan syarat mencapai kenaikan tingkat kelas; (b) memperdalam dan meresapkan jiwa islam dan latihan kepanduan dan memajukan amal ibadah sehari-hari; 2) ilmu jiwa, yang dipakai dalam kegiatan belajar dan bermain; 3) kemerdekaan dalam bekerja dan latihan. Tujuan dan maksud Hizbul Wathan adalah membimbing anak-anak dan pemuda supaya kelak
7 Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri, Pendidikan Karakter: Mengembangkan Karakter
Anak Yang Islami, 22
menjadi orang islam yang berarti.8 Keberadaan Hizbul Wathan di sekolah- sekolah Muhammadiyah tentunya akan lebih memudahkan penanaman nilai- nilai Islam terhadap siswa.
Hizbul Wathan “Pembela Tanah Air” dengan maksud sebagai landasan dan pedoman untuk memperjuangkan bangsa dan tanah air. Hizbul Wathan lebih dikenal dengan kepanduan yang sama dengan PRAMUKA. Jika dalam pramuka semua anggota berasal dari berbagai agama, sedangkan di Hizbul Wathan hanya yang berasal dari agama islam kalangan Muhammadiyah.
Hizbul Wathan adalah gerakan kepanduan yang didirikan oleh KH.
Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tahun 1918 yang mulanya bernama Padventer Muhammadiyah. Sejarah menunjukkan bahwa Hizbul Wathan termasuk pelopor kepanduan di Indonesia sebelum PRAMUKA didirikan.9 Keberadaan Hizbul Wathan di sekolah-sekolah Muhammadiyah tentunya akan lebih memudahkan penanaman nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan melalui kegiatan di luar jam pelajaran. Madrasah Aliyah Muhammadiyah 01 Jember sebagai sekolah Muhammadiyah tentu saja terdapat Hizbul Wathan sebagai ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 01 Jember memiliki berbagai kegiatan yang menarik, menyenangkan, serta menerapkan nilai-nilai karakter Islami yang sesuai dengan visi dan misi sekolah untuk mewujudkan peserta didik berkarakter
8 Moeslimin, Kebangkitan HW dan Sejarah Gerakan Kepanduan di Indonesia (Surabaya: Kwartir Wilayah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan cetakan ke-2, 2017), 32
9 Muhammad Dzikron, Ketrampilan Kepanduan Hizbul Wathan (Yogyakarta: Pusat Penggadaan HW, 2012), 10
Islami.10 Meski demikian seperti yang penulis amati di sana masih terdapat beberapa siswa yang memiliki perilaku yang kurang terpuji seperti, malas belajar, kurang berminat terhadap kegiatan ekstrakurikuler, tidak disiplin dalam melaksanakan shalat, kurang menghormati teman, berbicara kurang sopan terhadap teman bahkan guru, dan lain-lain, maka dengan adanya ekstrakurikuler HW ini diharapkan dapat menanamkan karakter Islami kepada siswa sebagai bekal dalam keseharian mereka, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
Dari latar belakang yang dipaparkan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti judul tentang bagaimana Implementasi Pendidikan Karakter Islami Pada Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 01 Jember Tahun Pelajaran 2018/2019.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan Latar Belakang Masalah tersebut di atas, fokus penelitiannya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Implementasi pendidikan karakter Religius pada kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di MA Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2018/2019 ?
2. Bagaimana Implementasi pendidikan karakter Mandiri pada kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di MA Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2018/2019 ?
10 Hasil observasi di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 01 Jember 06 Juli 2018.
3. Bagaimana Implementasi pendidikan karakter Tanggung jawab pada kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di MA Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2018/2019 ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1. Untuk mendeskripsikan Implementasi pendidikan karakter Religius pada kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di MA Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2018/2019
2. Untuk mendeskripsikan Implementasi pendidikan karakter Mandiri pada kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di MA Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2018/2019
3. Untuk mendeskripsikan Implementasi pendidikan karakter Tanggung jawab pada kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan di MA Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2018/2019
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan membawa manfaat dan kegunaan baik secara teoritis maupun praktis untuk semua pihak diantaranya :
1. Manfaat Teoritis
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan untuk menambah wawasan dan khasanah ilmu pengetahuan tentang implementasi pendidikan karakter islami pada anak.
2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti
1) Sebagai media untuk mengasah keterampilan dalam bidang penelitian dan menambah wawasan serta khazanah keilmuan tentang pendidikan karakter islami pada kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan
2) Penelitian ini diharapkan dapat menjadi penelitian ilmiyah yang memenuhi syarat-syarat sebagai tugas akhir untuk mendapatkan gelar Sarjana Strata Satu (SI).
b. Bagi IAIN Jember
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan kajian untuk melengkapi kepustakaan yang berkaitan dengan implementasi pembentukan karakter islami.
c. Bagi Lembaga Sekolah
Penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana evaluasi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam mengelola pendidikan khususnya di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 01 Jember Tahun Pelajaran 2018/2019
d. Bagi Masyarakat
1. Sebagai informasi dan pengetahuan mengenai pendidikan karakter islami.
2. Agar masyarakat dapat mengikuti karakter islami yang telah diajarkan
E. Definisi Istilah
Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalah pahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti.11
Adapun definisi istilah dari judul “Implementasi Pendidikan Karakter Islami Pada Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 01 Jember Tahun Pelajaran 2018/2019” adalah:
1. Implementasi
Implementasi dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana proses pelaksanaan Pendidikan Karakter Islami Pada Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan MA Muhammadiyah 01 Wuluhan.
2. Pendidikan Karakter Islami
Pendidikan karakter islami dalam penelitian ini Merupakan proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan melalui pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action) dengan memperluas cakupan pada nilai Ketuhanan, dengan memperbanyak nilai atau amalan berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
3. Kegiatan Ekstrakulikuler Hizbul Wathan
Yang dimaksud ektrakurikuler Hizbul Wathan pada penelitian ini adalah kegiatan tambahan berupa kepanduan dalam organisasi
11 Tim penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, 45
Muhammadiyah yang berciri khas islam yang mendorong dan mewadahi semangat pemuda untuk dididik kedisplinan, ketrampilan, kecerdasan dan membentuk jiwa akhlaqul karimah di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 01 Jember.
Jadi yang dimaksud dengan implementasi pendidikan karakter islami pada kegiatan ektrakurikuler di MA Muhammadiyah 01 Jember dalam skripsi ini adalah proses pelaksanaan pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dengan melalui kegiatan Hizbul Wathan yang meliputi:
perencanaan, pelaksanaa, dan evaluasi.
F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan yang akan digambarkan dalam penelitian ini secara menyeluruh yakni terdiri dari beberapa bab, dalam bab-bab ini akan dijelaskan secara terperinci dan pembahasannya lebih lengkap dan terarah sehingga memudahkan dalam memahami isinya. Maka disusunlah sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I membahas tentang pendahuluan yang merupakan dasar dalam penelitian yang terdiri dari sub-sub bab yaitu latar belakang, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, serta sistematika penelitian.
BAB II membahas tentang kajian kepustakaan, dalam bab ini terdiri dari penelitian terdahulu dan kajian teori.
BAB III membahas tentang metode penelitian, dalam bab ini membahas tentang pendekatan dan jenis penelitian yang dilakukan, lokasi penelitian,
subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data dan tahap-tahap penelitian yang dilaksanakan.
BAB IV membahas tentang penyajian data dan analisis yang di dalamnya berisikan gambaran objek penelitian, penyajian data dan analisis, serta pembahasan temuan dalam penelitian yang dilakukan.
BAB V yakni penutup, kesimpulan dan saran. Dalam bab terakhir ini ditarik kesimpulan yang ada setelah proses di bab-bab sebelumnya yang kemudian menjadi sebuah hasil atau analisa dari permasalahan yang diteliti.
Kemudian dilanjutkan dengan saran-saran untuk pihak-pihak yang terkait di dalam penelitian ini secara khusus ataupun pihak-pihak yang membutuhkan secara umum.
A. Kajian Kepustakaan 1. Penelitian Terdahulu
Pada bagian ini peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasannya, baik penelitian yang sudah terpublikasikan atau belum terpublikasikan (skripsi, tesis, disertasi dan sebagainya). Dengan langkah ini, maka akan dapat dilihat sapai mana orisinalitas dan posisi penelitian yang hendak dilakukan.12 Beberapa penelitian terdahulu yang sudah pernah dilakukan sebelumnya terkait dengan penelitian ini antara lain:
a. Penelitian yang dilakukan oleh Intan Yulia Putri dengan judul
“Implementasi Pendidikan Karakter Di Madrasah Ibtida’iyah Negeri Arjasa Kabupaten Jember Tahun Pelajaran 2017/2018”.
Dalam penelitian Intan Yulia Putri dengan yang dilakukan oleh peneliti sama-sama tentang implementasi pendidikan karakter.
Perbedaannya adalah pembentukan dalam penelitian intan yulia putri terfokus pada karakter berbasis agama dan budaya. Sedangkan peneliti terfokus pada karakter islami. Lokasi penelitiannya di Madrasah Ibtida’iyah atau setara dengan Sekolah Dasar, sedangkan peneliti adalah pada jenjang Madrasah Aliyah atau Setara dengan Sekolah
12 Tim Penyusun. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah., 45
Menengah Atas. Selain itu, persamaan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan metode kualitatif deskriptif. Kesimpulan dari penelitian diatas adalah Implementasi Pendidikan Karakter Di Madrasah Ibtida’iyah Negeri Arjasa melalui beberapa tahapan antara lain : perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
b. Penelitian yang dilakukan oleh ifaful Nafisah yang berjudul
“Implementasi Pendidikan Karakter Satri Melalui Manfaat Pengelolaan Koperasi Pesantren Annuriah Kaliwining-Rambipuji- Jember Tahun Pelajaran 2015/2016”.
Fokus pada penelitian ini adalah bagaimana implementasi pendidikan karakter santri, aspek pembentukan kepribadian santri, aspek moral santri melalui manfaat pengelolan koperasi pesantren di pondok Pesantren Annuriah Kaliwining-Rambipuji-Jember Tahun Pelajaran 2015/2016. Sedangkan fokus penelitian saya adalah bagaimana implementasi pendidikan karakter islami pada kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan. Selain itu, persamaan penelitiannya adalah sama-sama menggunakan metode kualitatif deskriptif.
Kesimpulan dari penelitian diatas adalah Implementasi Pendidikan Karakter Satri Melalui Manfaat Pengelolaan Koperasi Pesantren Annuriah Kaliwining-Rambipuji dilakukan untuk membina rasa tanggung jawab, disiplin dan jujur.
c. Penelitian yang dilakukan oleh Zulfa Allailiyah yang bejudul
“Implementasi Ekstrakurikuler Pramuka Dalam Membangun Karakter Siswa di Madrasah Ibtida’iyah ma’arif 01 KH. Shiddiq Jember Tahun Pelajaran 2016/2017”.
Persamaan penelitian adalah sama-sama menggunakan metode kualitatif deskriptif Hasil kesimpulan dari penelitian ini meliputi:
Pertama, implementasi progam kegiatan peserta didik pramuka siaga dalam membangun karakter siswa meliputi: sholat berjamaah ketika perkemahan, berdoa bersama sebelum dan sesudah kegiatan pramuka, serta menjalankan setiap tugas dengan baik. Kedua, implementasi progam kegiatan peserta didik pramuka penggalang dalam membangun karakter siswa meliput: Sholat berjamaah, berdoa bersama sebelum dan sesudah kegiatan pramuka, menghafal lima macam do’a harian dan lima macam surat-surat pendek ketika latihan rutin mingguan. Adapun Perbedaan penelitian yang akan saya lakukan adalah penelitian yang dilakukan Zulfa Allailiyah adalah peserta didik pada Tingkat Siaga dan Penggalang sedangkan penelitian saya pada tingkat Penghela pada Hizbul Wathan atau setara dengan Madrasah Aliyah/ SMA. Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang karakter.
Tabel 2.1
Persamaan Dan Perbedaan Penelitian
No Nama Judul Persamaan Perbedaan
1 2 3 4 5
1. Intan Yulia Putri. (2017)
Implementasi Pendidikan Karakter di
a. Jenis penelitian yang digunakan adalah
Menginginkan informasi pendidikan
Madrasah
Ibtida’iyah Negeri Arjasa Kabupaten Jember Tahun Pelajaran 2017/2018
pendekatan kualitatif deskriptif b. Sama-sama
meneliti tentang Implementasi pendidikan karakter
karakter islami pada kegiatan ekstrakulikuler hizbul wathan
2. Ifaful Nafisah.
(2016)
Implementasi Pendidikan Karakter Satri Melalui Manfaat Pengelolaan
Koperasi Pesantren Annuriah
Kaliwining-
Rambipuji-Jember Tahun Pelajaran 2015/2016
a. Jenis penelitian yang digunakan adalah
pendekatan kualitatif deskriptif b. Sama-sama
meneliti tentang Implementasi pendidikan karakter
Peneliti terdahulu implementasi melalui pengelolaan
koperasi pesantren sedangkan pada penelitian sekarang melalui
ektrakulikuler hizbul wathan 3. Zulfa
Allailiyah.
(2017)
Implementasi Ekstrakurikuler Pramuka dalam membangun karakter siswa di Madrasah
Ibtida’iyah ma’arif 01 KH. Shiddiq Jember Tahun Pelajaran 2016/2017
a. Menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif b. Sama-sama
meneliti tentang ekstrakurikuler
Penelitian
terdahulu meneliti tingkat siaga dan penggalang
sedangkan peneliti tingkat penghela atau setara dengan MA(Madrasah Aliyah)
2. Kajian Teori
Kajian teori berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai perspektif dalam melakukan penelitian. Pembahasan teori secara lebih luas akan semakin memperdalam wawasan peneliti dalam mengkaji permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.13
13 Tim Penyusun. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah., 46
1. Hakikat Pendidikan Karakter Islami a. Konsep dan Pengertian Pendidikan
Pendidikan dalam literatur pendidikan Islam mempunyai banyak istilah beberapa istilah yang sering digunakan adalah rabba- yurabbi (mendidik), ‘allama-yuallimu (memberi ilmu), addaba- yuaddibu (memberikan teladan dalam akhlak), dan darrasa- yudarrisu (memberikan pengetahuan). Dalam hal ini peneliti mengambil salah satu istilah rabba-yurabbi yang terdapat dalam al- qur’an sebagai berikut:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.14 QS. Al-Isra’ (17): 24
Isim fa’il dari rabba-yurabbi adalah murabbi. Kata murabbi sendiri lebih berorientasi pada pemeliharaan, baik pemeliharaan yang bersifat jasmani maupun rohani. Oleh sebab itu, dalam hal ini proses pemeliharaan bisa dikaitkan dengan pemeliharaan Allah terhadap makhluk-Nya. Pemeliharaan tersebut terlihat juga dalam pemeliharaan orang tua dalam membesarkan anaknya mulai dari lahir sampai dewasa. Orang tua memberikan pelayanan secara penuh agar anaknya tumbuh dengan fisik yang sehat, memiliki
14 Al-Qur’an, 17: 24
kepribadian dan akhlak yang terpuji. Orang tua memelihara anak dengan menyediakan makanan agar anak menjadi sehat, menyediakan pakaian agar anak dapat menutup aurat, dan menghindarkan segala bahaya agar anak merasa aman.15
Pendidikan yang diberikan oleh pendidik sebagai murabbi haruslah sejalan dengan sifat Allah SWT tersebut. Pendidik kapasitasnya sebagai murabbi seharusnya memiliki kebiasaan dan tingkah laku yang baik, serta mampu menyesuaikan diri dengan anak didiknya. Pendidik harus dapat menjadi figur bagi anak didiknya yang memainkan peranan yang baik agar mereka dapat mengambil contoh dan suri tauladan, serta menjadi pelindung agar mereka merasa aman.16
Berdasarkan pengertian mendidik yang telah disampaikan, dapat dinyatakan bahwa seorang pendidik dalam konsep islam adalah orang yang dapat mengarahkan manusia kejalan kebenaran yang sesuai dengan Al-qur’an dan As-sunnah Rasulullah SAW.
Jadi, definisi mendidik dalam konsep islam adalah proses ketika pendidikan tersebut dapat mengangkat derajat manusia (peserta didik) menuju kedudukan yang lebih mulia, baik di dunia maupun di akhirat. Pengertian ini sejalan dengan pendidikan yang disampaikan oleh Imam Al-Ghozali sebagai berikut:
15 Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri, Pendidikan Karakter: Mengembangkan karakter
anak yang Islami., 8
16 Ibid., 9-10.
“Mendidik adalah menyempurnakan, membersihkan, mensucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT karena tujuan pendidikan islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya”.
Jika dilihat dari sudut pandang tersebut, tugas pendidik dalam konsep islam menjadi sangat berat, artinya, pendidik harus mampu membawa manusia (peserta didik) menjadi manusia yang dapat melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari sesuai dengan Al- Qur’an dan sunnah Rosulullah SAW, menjadi manusia yang mempunyai ilmu pengetahuan, serta memiliki sikap dan akhlak yang baik. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, seorang pendidik terlebih dahulu harus mempunyai kemampuan, serta menguasai sikap dan ilmu pengetahuan yang baik. Kemampuan utama yang dibutuhkan oleh pendidik adalah harus mampu memberikan pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah kepada peserta didik.17 Hal tersebut sesuai dengan sabda Rosulullah SAW berikut:
ُهَمَّلَعَو َنآْرُقْلا َمَّلَعَت ْنَم ْمُكُرْيَخ
“Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an kemudian mengajarkannya.”18 (HR. Bukhari)
Maksud dari sabda Rasulullah SAW adalah, bahwa ini sifat- sifat orang mukmin yang mengikuti dan meneladani rasul. Mereka menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain.
17 Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri, Pendidikan Karakter: Mengembangkan karakter anak yang Islami, 12
18 Al-Bukhari. Shahih Al-Bukhari. (Beirut: Dar Ibnu Katsir Yamamah, 1987) 115
Prinsip diatas mengajarkan kepada orang tua maupun guru bahwa untuk menjadi seorang pendidik harus memiliki beberapa kriteria berikut:
1) Kemampuan Pedagogis
Adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pendidik dalam hal mentransfer ilmu kepada pesrta didik.
Kemampuan ini mencakup pemahaman terhadap sifat peserta didik dari segala aspek, seperti fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.
2) Kemampuan Pribadi
Kemapuan pribadi terkait dengan kepribadian pendidik yang harus dapat menjadi teladan bagi peserta didiknya atau sifat uswah hasanah dala konsep islam. Pensisik seharusnya dapat menjadi teladan, baik dari cara berfikir (pengetahuan akademik) maupun akhlaknya (sikap dan perilaku).
3) Kemampuan Sosial
Kemampuan sosial yang perlu dimiliki oleh seorang pendidik mencakup kopetensi dalam bersosialisasi dengan orang lain, terutama dalam berkomunikasi. Pendidik adalah figur yang diharapkan dapat menjadi teladan yang bukan saja kepada peserta didik, melainkan juga pada lingkungan, baik sekolah maupun lingkungan rumah.
4) Kemampuan Akademik
Kemampuan yang sangat penting bagi seorang pendidik adalah kemampuan akademik. Kemampuan akademik adalah penguasaan seorang pendidik terhadap materi yang akan diajarkan kepada peserta didik. Kemampuan-kemapuan tersebut selaras dengan konsep islam yang menuntut setiap muslim untuk terus menuntut ilmu tanpa mengenal waktu dan usia. Konsep belajar sepanjang hayat dan memperbaki diri secara terus menerus merupakan konsep yang dianut dalam islam. Seorang pendidik dituntut untuk menambah ilmu pengetahuan dan terus berusaha untuk menjadi orang yang lebih berkualitas, baik akhlak maupun pengetahuannya. Kedudukan sebagai seorang pendidik sangat istimewa di dalam ajaran islam karena pendidik adalah sosok yang memberikan ilmu dan membina akhlak pesrta didik.19
b. Konsep dan Pengertian Karakter Islami
Secara bahasa karakter berasal dari bahasa latin “kharakter”
“Kharassein”, “kharax”, dalam bahasa inggris: “character” dan Indonesia “karakter”. Yunani “character dari charassein” artinya membuat tajam, membuat dalam. Jika dalam kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang
19 Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri, Pendidikan Karakter: Mengembangkan karakter anak yang Islami, 13
dengan yang lain. Ciri pribadi meliputi hal-hal seperti prilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecendrungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran.20
Karakter dipengaruhi oleh hereditas, Perilaku seorang anak sering kali tidak jauh dari perilaku ayah atau ibunya. Dalam bahasa Jawa dikenal istilah “Kacang ora ninggal lanjaran” (Pohon kacang panjang tidak pernah meninggalkan kayu atau bambu tempatnya melilit dan menjalar). Kecuali itu lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam ikut membentuk karakter.21
Pendidikan karakter dalam islam atau akhlak Islami pada prinsipnya didasarkan pada dua sumber pokok ajaran Islam yaitu Al-qur’an dan Sunnah Nabi. Dengan demikian, baik dan buruk dalam karakter islam memiliki ukuran yang standar, yaitu baik dan buruk menurut Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, bukan baik dan buruk menurut ukuran atau pemikiran manusia pada umumya. Jika ukurannya adalah manusia, baik dan buruk itu bisa berbeda-beda.
Bisa saja suatu sikap atau perbuatan seseorang dinilai benar dan baik oleh seseorang, tetapi dinilai sebalikya oleh orang lain. Begitu sebaliknya, sikap dan perilaku seseorang dinilai buruk oleh seseorang, padahal yang lain bisa saja menilainya baik. Kedua sumber pokok tersebut (Al-qu’an dan Sunnah Nabi) diakui oleh semua umat islam sebagai dalil naqli yang tidak diragukan
20 Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung:PT Rosadakarya, 2013), 11
21 Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, 42-43
otoritasnya.melalui kedua sumber inilah dapat dipahami dan diyakini bahwa sifat-sifat sabar, qanaah, tawakkal, syukur, pemaaf, ikhlas, dermawan, dan pemurah termasuk sifat-sifat yang baik dan mulia. Sebaliknya, dengan kedua sumber tersebut dapat dipahami pula bahwa sifat syirik, kufur, nifak, ujub, iri hati, su’udzhan, takabur, dan hasad merupakan sifat-sifat tercela. Akal manusia tidak akan mampu untuk menentukan semua nilai kebaikan yang ditentukan oleh Al-qur’an dan sunnah atau sebaliknya. Oleh karena itu, akal manusia tidak bisa dijadikan sebagai standar utama penentuan nilai-nilai karakter dalam islam. 22
Karakter (akhlak) dalam Islam memiliki hubungan yang sangat erat dengan aqidah dan syariah, bahkan merupakan satu- kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Aqidah sebagai sistem keyakinan bermuatan elemen-elemen dasar iman, yaitu menggambarkan sumber dan hakikat keberadaan agama. Syariah sebagai sistem hukum berisi peraturan yang menggambarkan fungsi agama. Sementra itu, akhlak sebagai sistem nilai etika menggambarkan arah dan tujuan yang hendak dicapai oleh agama.
Oleh karena itu, ketiga kerangka dasar Islam tersebut harus terintegrasi dan bersinergi dalam diri seorang muslim. Integrasi ketiga komponen tersebut dalam ajaran Islam ibarat sebuah pohon.
22 Marzuki, Pendidikan Karakter Islami, (Jakarta: AMZAH, 2017), 30
Akarnya adalah aqidah, batang, dahan dan daunnya adalah syariah sedangkan buahnya adalah akhlak (karakter).23
Pendidikan karakter merupakan inti dari pendidikan Islam.
Oleh karena itu, kajian pendidikan karakter Islam tidak bisa dilepaskan dari kajian pendidikan Islam pada umumnya. Pendidikan karakter Islam sebenarnya menjadi tanggung jawab setiap umat Islam yang dimulai dari tanggung jawab terhadap dirinya lalu keluarganya. Para guru (ustadz) dan para da’i memiliki tanggung jawab untuk pembinann karakter umat Islam melalui pendidikan Islam, baik di institusi formal maupun nonformal, sementara orang tua (pemimpin keluarga) memiliki tanggung jawab pendidikan karakter dalam keluarga.
Sebagai seorang muslim terkadang belum tentu berkepribadian muslim, maksutnya adalah seperti yang digambarkan oleh Al-Qur’an tentang tujuan dikirimkannya rasul terakhir yaiti Nabi Muhammad SAW kepada umatnya yaitu menjadi rahmat bagi seluruh alam. Maka seseorang yang telah mengaku muslim seharusnya memiliki kepribadian sosok yang selalu dapat memberi rahmat dan kebahagiaan kepada siapapun dilingkungannya. Taat dalam menjalankan ajaran agama, tawadhu’, suka membantu dan sebagainya. Di dalam semua sisi kehidupan manusia menerapkan nilai-nilai islami seperti halnya dalam
23 Marzuki, Pendidikan Karakter Islami, 20
berpakaain seorang muslim harus menutup auratnya begitu juga dalam hal ibadah. Di dalam hal sosial muslim juga bersedekah/
zakat. Jadi semua aspek kehidupan manusia harus disentuh dengan nilai-nilai keislaman meliputi IPOLEKSOSBUD, Idiologi, Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya.
Karakter Islami adalah semua muatan yang terdapat dalam pendidikan karakter yang terdapat dalam peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Indonesia, hanya saja muatan religius diberikan porsi lebih dalam pembahasannya dan penekanan dalam karakter Islami ini dengan memperluas cakupan pada nilai Ketuhanan, dengan memperbanyak nilai atau amalan berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Karena pendidikan karakter juga memiliki relevansi dengan penguatan nilai karakter yang diajarkan oleh agama Islam, yang di dalamnya terdapat ajaran atau amalan yang mengajarkan manusia untuk menjalankan ajaran agama serta berbuat kebajikan kepada semua manusia.
Sehingga yang dimaksud dengan pendidikan karakter islami adalah proses mengembangkan kemampuan dan pembentukan watak islami berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.24
c. Macam – macam Karakter Islami
Secara umum, karakter islami dalam pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah dan dirumah sesuai dengan atribut karakter yang
24 Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri, Pendidikan Karakter: Mengembangkan karakter
anak yang Islami, 22
dikemukakan dalam hadits Rasulullah SAW. Akan tetapi, beberapa hal khusus perlu diperhatikan dalam mengembangkan karakter anak sesuai dengan ajaran Rasulullah.
Beberapa atribut karakter yang dinyatakan dalam Al-qur’an dan hadits diringkas pada tabel berikut25 :
Atribut Karakter dalam Al-qur’an dan Hadits Karakter Utama Karakter Dalam Berinteraksi
Dengan Orang Lan
Karakter Untuk Sukses
Jujur
Sabar
Adil
Ikhlas
Amanah dan menepati janji
Bertanggung jawab
Menjaga lisan
Mengendalikan diri
Menjauhi prasangka dan pergunjingan
Lemah lembut
Berbuat baik kepada orang lain
Mencintai sesama muslim
Menjalin silaturahmi
Malu berbuat jahat
Hemat
Hidup sederhana
Bersedekah
Tidak sombong
Berupaya dengan sungguh- sungguh
Bersukur
Secara lebih jelas, atribut karakter yang dinyatakan dalam Al- qur’an dan hadits dijabarkan sebagai berikut:
1. Jujur
Sikap jujur adalah salah satu atribut karakter yang dituntut untuk dimiliki oleh seorang muslim. Ancaman bagi orang yang berdusta dan curang dinyatakan dalam beberapa ayat dalam Al-qur’an berikut.
25 Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri, Pendidikan Karakter: Mengembangkan karakter anak yang Islami,77-89
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta”.26 QS. Al-Baqarah (2): 10
Rasulullah melarang umatnya untuk berbohong, bahkan ketika bersenda gurau. Beliau menjamin bahwa seorang muslim yang jujur akan memperoleh sebuah rumah di tengah surga sebagaimana hadits berikut.
Dari Abu Umamah RA, Rasulullah SAW bersabda,
“Saya menjamin sebuah rumah tepi surga bagi orang meninggalkan debat sekalipun ia benar, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang tidak berbohong sekalipun hanya bergurau, dan rumah di atas surga bagi orang yang mulia akhlaknya ” (HR. Abu Daud)27
2. Sabar
Sabar merupakan salah satu ciri dari orang yang beriman. Allah menyatakan bahwa sifat sabar ini akan membawa keuntungan dan menjadi penolong bagi seorang mukmin. Ayat berikut menyatakan bahwa sifat-sifat yang baik hanya dimiliki oleh orang sabar.
26 Al-Qur’an, 2:10
27 Abu Daud. Sunan Abu Dawud. (Beirut: Dal Al-Kutub, 1966), 67
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar” 28 QS.
Fussilat (41): 35
Keterangan dalam ayat Al-Qur’an tersebut sejalan dengan hadits Rasulullah SAW berikut.
“Tidak ada kemelaratan yang lebuh parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada kesendirian yang lebih terisolasi dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berfikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar.”
(HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani) 3. Adil
Sifat adil yang universal dikemukakan dalam Al-Qur’an dan merupakan pedoman bagi orang yang beriman dalam membuat keputusan. Surat Al-Maidah ayat 8 menyatakan dengan jelas bahwa setiap orang yang beriman tidak boleh berpihak dalam membuat keputusan untuk sebuah perkara. Jika hal ini diterapkan oleh para hakim makan masyarakat akan memperoleh rasa aman yang merupakan kebutuhan untuk hidup lebih baik.
28 Al-Qur’an, 41: 35
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.29 QS. Al-Maidah (5): 8
4. Ikhlas
Ikhlas merupakan dasar dari sebuah tindakan tanpa pamrih yang hendaknya melandasi apapun yang kita lakukan. Al-Qur’an menyatakan bahwa seorang muslim yang lebih baik agamanya adalah orang yang ikhlas sebagaimana ayat berikut:
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika
29 Al-Qur’an, 5: 8
ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketauhilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan”.30 QS. An- nisa’ (4): 135
5. Amanah Dan Menepati Janji
Orang yang beriman (mukmin) adalah orang yang memelihara amanah dan menepati janji, sebagaimana ayat berikut.
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”.31 QS. Al-Mu’minun (23): 8
Pada hakikatnya seseorang yang tidak dapat menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya bukanlah seorang mukmin. Hal tersebut sejalan dengan prinsip bahwa islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
Rasulullah SAW menyuruh umatnya untuk menunaikan amanah dan melarang untuk berbuat khianat, sebagaimana hadits berikut:
Al-Quraisyi berkata, “telah menceritakan kepadaku bapakku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, tunaikanlah amanah kepada orang yang memberimu amanah, dan janganlah
30 Al-Qur’an, 4: 135
31 Al-Qur’an, 23: 8
kamu berkhianat kepada orang yang telah mengkhianati dirimu” (HR. Ahmad)32
6. Bertanggung jawab
Sifat bertanggung jawab harus dimiliki oleh setiap muslim, Rasulullah SAW memberikan beberapa pesan khusus untuk para pemimpin terutama terkait dengan tanggung jawab dalam melayani kebutuhan masyarakat yang dipimpinnya. Berikut hadits yang ditujukan untuk para pemimpin.
Abu maryam al azdy r.a berkata kepada mu’awiyah. rasulullah saw berkata, “Barang siapa yang Allah ‘azza wajalla serahkan kepadanya sebagian urusan orang muslim kemudian ia menutup diri dari melayani kebutuhan mereka dan keperluan mereka, maka Allah menutup diri darinya dan tidak melayani kebutuhannya, serta keperluannya.”, kemudian Mu’awiyah mengangkat seorang untuk melayani segala hajat kebutuhan orang-orang (rakyat). (HR. Abu Daud, attirmidzy)33
Karakter Islami adalah semua muatan yang terdapat dalam pendidikan karakter yang terdapat dalam peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Indonesia, hanya saja muatan religius diberikan porsi lebih dalam pembahasannya dan penekanan dalam karakter Islami ini dengan memperluas cakupan pada nilai Ketuhanan, dengan memperbanyak nilai atau amalan berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Berikut peneliti hanya mengambil 3 karakter islami :
32 Imam Nawawi, Shohih Muslim. (Beirut: Dar Ihya At-Taurat Al-Arabi, 1329), 88
33 At-Tirmidzi. Sunan At-Tirmidzi. (Beirut: Dar Ihya’ At-tarats Al-Arabi), 87
1) Religius
Salah satu karakter yang penting diajarkan adalah karakter religius. Manusia yang berkarakter adalah manusia yang religius.
Karakter religius sendiri termasuk dalam 18 karakter bangsa yang direncanakan oleh Kementrian Pendidikan Nasional. Kemendiknas mengartikan bahwa karakter religius sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.34
Religius adalah dasar yang diturunkan dari ajaran agama.
Sebab, dengan dasar ini, semua kegiatan pendidikan menjadi bermakna.35 Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang di anutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam menghadapi perubahan zaman.
Sementara itu, Karakter religius adalah karakter manusia yang selalu menyandarkan segala aspek kehidupannya kepada agama.Ia menjadikan agama sebagai penuntun dan panutan dalam setiap tutur kata, sikap, dan perbuatannya, taat menjalankan perintah tuhannya dan menjauhi larangannya. Karakter religius sangat penting, hal itu merujuk pada pancasila, yaitu menyatakan
34 Kemendiknas, Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa (Jakarta : Balitbang, 2010), 9
35 Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam., (Jakarta: Amzah, 2011), 49.
bahwa manusia indonesia harus menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan konsekuensi melaksanakan segala ajaran agamanya. Dalam Islam seluruh aspek kehidupan harus berlandaskan dan bersesuaian dengan ajaran Islam36
Dari pernyataan diatas dapat di ambil kesimpulan bahwa agama adalah hal yang paling mendasar yang dijadikan sebagai landasan dalam pendidikan. Karena agama memberikan dan mengarahkan fitrah manusia untuk memenuhi kebutuhan batin, menuntun kepada kebahagaian dan menunjukan kebenaran
Dalam hal ini, agama mencakup totalitas tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang dilandasi dengan iman kepada Allah, sehingga seluruh tingkah lakunya berlandaskan keimanan dan akan membentuk karakter religius yang terbiasa dalam pribadinya sehari-hari. Sumber karakter religius ini merupakan ajaran agama islam yang didalamnya terdapat dua sumber nilai yaitu nilai illahiyyah yang berhubungan dengan Allah SWT dan nilai insanniyah yang berhubungan dengan manusia.
Tujuan Hizbul Wathan dalam membentuk karakter religius dilakukan melalui beberapa prinsip kepanduan antara lain: a) pengamalan aqidah islamiyah, b) pembentukan dan pembinaan akhlak mulia menurut ajaran islam, c) pengamalan kode kehormatan pandu. Dengan prinsip kepanduan itu diharapkan dapat
36 Alivermana Wiguna, Isu-Isu Kontemporer Pendidikan Islam (Yogyakarta: Deepublish, 2014), 161
membentuk setiap siswa agar menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, memiliki akhlak mulia, mempunyai jiwa patriotik, taat terhadap hukum, dan disiplin. Pencapaian tujuan tersebut diharapkan berhasil membentuk kader bangsa sekaligus kader pembangunan di Indonesia yang berkepribadian.
Sasaran Hizbul Wathan dalam membentuk karakter religius adalah beribadah/sholat berjamaah, membaca qur’an, berdoa waktu mulai dan selesai pelajaran, mengucap salam bila bertemu (guru, teman), menolong orang lain.
Ayat Al-Quran yang menyuruh kita untuk taat beribadah Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Hasyr ayat 18 :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” 37 QS. Al-Hashr (59): 18
Dari ayat tersebut sudah sangat jelas bahwa sebagai seorang muslim kita harus bertaqwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan cara melaksanakan Ibadah sholat.
37 Al-Qur’an, 59: 18
2) Mandiri (melaksanakan tugas tanpa membantah)
Mandiri merupakan salah satu nilai karakter mulia, berdasarkan konsep karakter mulia mandiri bermakna mampu berdiri sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Agar nilai- nilai karakter mulia (mandiri) tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik, baik di dalam maupun di luar sekolah, perlu dijabarkan dalam sikap dan perilaku nyata yang bisa dilakukan mereka dan sekaligus menjadi indikator setiap nilai dari semua nilai karakter mulia tersebut. Indikator dari nilai mandiri yaitu: a) bekerja keras dalam belajar, b) melakukan pekerjaan atau tugas secara mandiri, c) tidak mau bergantung kepada orang lain.38
Mandiri (independent) juga bermakna mampu memenuhi kebutuhan diri sendiri dengan upaya sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain.39
Maksudin mendefinisikan mandiri secara lebih luas, yaitu sikap hidup dan kepribadian merdeka yang dimiliki seseorang, disiplin tinggi, hemat, menghargai waktu, ulet, wirausaha, kerja keras dan memiliki cinta kebangsaan yang tinggi tanpa kehilangan orientasi nilai-nilai kemanusiaan universal dan hubungan antar peradaban bangsa-bangsa40
38 Marzuki, Pendidikan Karakter Islam, 102
39 Muchlas Samani dan Hariyanto, Pendidikan Karakter: Konsep dan Model, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 131
40 Maksudin, Pendidikan Karakter Non-Dikotomik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), 54
Secara sederhana, yang dimaksud dengan mandiri di sini adalah suatu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas dan apa-apa yang menjadi tanggung jawabnya. Demikian orang yang mandiri dapat menguasai kehidupannya sendiri dan dapat menangani kehidupan yang dihadapi.
Sasaran Hizbul Wathan di MA Muhammadiyah 1 Jember dalam membentuk karakter mandiri adalah Melaksanakan tugas tanpa membantah dan belajar tanpa disuruh. Seperti yang sudah di wacanakan di dalam Undang-Undang Pandu HW yang ke-7 “Pandu Hizbul Wathan itu, melaksanakan perintah tanpa membantah”
Di dalam al-quran surat Al-Mukminun ayat 62 menjelaskan:
“kami tiada membebani seseorang yang disetujui sesuai dengan kesanggupannya , dan pada sisi kami ada buku yang berbicara benar, dan mereka telah dianiaya.” 41 QS. Al- Mu’minun (23): 62
Dari ayat tersebut menjelaskan tentang individu tidak akan mendapatkan beban atas kemampuannya sendiri tetapi Allah Maha Tahu dengan tidak memberi beban individu melebihi batas kemampuan individu itu sendiri. Karena itu individu dituntut untuk
41 Al-Qur’an, 23: 62
mandiri dalam menyelesaikan dan pekerjaannya tanpa bergantung kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda :
“bermain-mainlah dengan anakmu selama seminggu, didiklah selama seminggu, temanilah ia selama seminggu, setelah itu suruhlah ia mandiri.”42 (HR. Bukhari)
Dari hadits ini menunjukkan bahwa orang tua memiliki andil yang besar dalam mendidik kemandirian anak. Ada usaha upayanya yang harus dilakukan orang tua agar anak tumbuh mandiri. Di dalam islam itu sendiri, secara garis besar ada beberapa bidang meteri pendidikann islam seperti aqidah, ibadah, dan akhlak.
3) Bertanggung Jawab
Tanggungjawab merupakan kewajiban untuk menanggung segala sesuatu atas semua perbuatan yang telah dilakukannya, seseorang dapat dikatakan bertanggungjawab apabila dirinya dengan sadar mengambil suatu keputusan, dan menjalani keputusan tersebut serta mau menghadapi atau menerima konsekuensi apapun atas tindakan yang dilakukannya. Tanggungjawab secara harfiah dapat diartikan sebagai “keadaan wajib menanggung segala sesuatunya jika terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan,
42 Al-Bukhari. Shohih Bukhari, 45