Jurnal Mirai Management, 8(2), 2023 | 326
Jurnal Mirai Management
ISSN : 2598-8301 (Online)
Implementasi Persetujuan Bangunan Dan Gedung (PBG) Berbasis Web (SIMBG) Di Kecamatan Ampek Angkek
Mira Susanti1, Roni Ekha Putera2
1,2 Institut Teknologi Bisnis Haji Agus Salim Bukittinggi
Abstrak
This research focuses on the implementation of a web-based Building Permit (BP) system in Kecamatan Ampek Angkek, Agam Regency. The study adopts a qualitative research design with a descriptive analysis approach to explore the realities and phenomena associated with the web-based system. The research aims to understand the challenges and obstacles faced during the implementation of the system and proposes effective strategies for improvement.
Several key hurdles have been identified, including limited internet access, a shortage of certified building design experts, the need for qualified and skilled staff, compliance issues among users, insufficient funding, and the absence of local regulations for building approvals.
To address these challenges, the study suggests the following recommendations. Firstly, thorough preparation and planning are essential in developing the web-based system to meet the specific needs and challenges of the region. Secondly, ensuring the availability of robust ICT infrastructure and secure hardware and software is crucial for efficient system performance. Thirdly, obtaining support and cooperation from all stakeholders, including public awareness campaigns, will promote active participation and engagement in the new system. Investing in human resource development and training is recommended to equip staff with the necessary skills to manage and utilize the web-based system effectively. Moreover, fostering a comprehensive understanding of existing regulations and requirements is vital to facilitate smooth and streamlined building permit processes. Additionally, expediting the issuance of local regulations governing Building Permit approvals is proposed to provide clear guidelines and enhance the system's effectiveness. Finally, if necessary, engaging the services of permit consultants can offer a practical solution to aid applicants in navigating the complex permit procedures.
Keywords: Implementation, PBG, SIMBG, Kecamatan Ampek Angkek
Copyright (c) 2023 Mira Susanti Corresponding author :
Email Address : [email protected] PENDAHULUAN
Sebagai tindak lanjut dari pasal 24 dan pasal 185 huruf b UU Cipta Kerja Nomor 11 tahun 2020 membuat terjadinya beberapa perubahan mengenai peraturan pelaksana yang terkait langsung dengan perizinan diantaranya dihapusnya kebijakan Pemerintah tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB), dan diganti dengan istilah baru yaitu Persetujuan Bangunan dan Gedung (PBG), dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang peraturan pelaksanaan undang-undang nomor 28 tahun 2002 tentang bangunan gedung dan mencabut pp no. 36 tahun 2005 tentang peraturan pelaksanaan undang-undang
nomor 28 tahun 2002 tentang bangunan gedung, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) meluncurkan layanan berbasis web Sistem Informasi Bangunan Gedung (SIMBG) pada tanggal 30 Juli 2021 untuk memberikan layanan kemudahan masyarakat dalam memperoleh Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi Bangunan (SLF) secara online, diharapkan dapat mendukung upaya peningkatan kemudahan dalam pengurusan perizinan, kejelasan prosedur layanan dan mempersingkat birokrasi.
Diluncurkannya layanan berbasis web (SIMBG), maka pemerintah daerah kabupaten atau Kota diharuskan menggunakan aplikasi berbasis web tersebut dalam pelayanan Persetujuan Bangunan Gedung untuk mendukung upaya dalam kemudahan birokrasi, transparansi, dan peningkatan layanan publik menjadi lebih baik. Setiap masyarakat yang membutuhkan perizinan Bangunan dan Gedung dapat mengajukannya secara online melalui aplikasi SIMBG, dengan prosedur yang jelas, tepat, dan waktu serta ketentuan persyaratn dokumen-dokumen tekhnis yang standar di seluruh wilayah Republik Indonesia.
Ketentuan tentang Retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) tersebut dikelola oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi dan Kabupaten atau Kota, yang dituangkan dalam peraturan Daerah (Perda). Untuk Pemerintah Daerah Kabupaten/kota yang belum membuat perda tentang Retribusi PBG, diberi kelonggaran hingga tanggal 05 Januari 2024 yang dituangkan dalam Pesan Edaran Bersama( SEB) No SE- 1/ MK. 07/ 2022; No 973/ 1030/ SJ;
No 06/ SE/ Meter/ 2022; serta No 399/ A. 1/ 2022 Mengenai Percepatan Penerapan Retribusi Persetujuan Bangunan Gedung. SEB ini dikeluarkan pada 25 Februari 2022 yang ditandatangani oleh empat menteri, meliputi Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Keuangan (Menkeu), Menteri PUPR, dan Menteri Investasi/Kepala BKPM.(V.A.R.Barao et al., 2022)
Selama Proses Penerbitan Peraturan Daerah tentang retribusi Persetujuan Bangunan Gedung belum ada, maka Pemda masih bisa menggunakan Perda Izin Mendirikan Bangunan sebagai landasan pungutan seiring memberikan pelayanan PBG yang dihitung secara manual dan diunggah hasilnya ke dalam SIMBG. Kebijakan ini bertujuan sebagai upaya percepatan implementasi penerbitan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang menjadi pengganti IMB.
Namun bagaimana Pemda mampu mengimplementasikan kebijakan baru ini, yang tentu saja akan berimplikasi pada perubahan peraturan daerah yang ada. Karena untuk menindaklanjuti kebijakan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah terkendala oleh proses politik dan masalah waktu dalam proses legislasi. Belum lagi masalah kesiapan infrastruktur jaringan teknologi informasi dalam rangka digitalisasi perizinan yang belum merata di setiap daerah. Seperti halnya Kabupaten Agam hingga sampai saat ini belum menerbitkan Perda/Perkada tentang PBG tersebut, sehingga untuk penetapan retribusi PBG masih dilakukan secara manual dengan menggunakan penetapan Izin Mendirikan Bangunan yaitu Perbup Agam Nomor 03 Tahun 2012.
Dari 38 Provinsi yang telah mengajukan Persetujuan Bangunan Gedung, terdapat 159.520 usulan jumlah PBG dari 418 daerah. Yang sudah diterbitkan sejumlah 78.555.
Sedangkan Peraturan Daerah dari 418 daerah yang melakukan penyusunan baru sejumlah 62 peraturan daerah yang telah terbit. Hal ini tentu saja menjadi tanda tanya karena PBG yang ekspetasinya di harapkan mampu memberikan kemudahan dalam pengurusan perizinan, kejelasan prosedur layanan dan mempersingkat birokrasi. Namun realitanya justru penerbitan perizinan Persetujuan Bangunan Gedung justru mengalami penurunan. Apakah sebenarnya kendala/hambatan dalam pengurusan PBG tersebut.
Ampek Angkek merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Agam yang perkembangan pembangunan propertinya sangat signifikan, memiliki potensi besar untuk
penyerapan retribusi Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Agam, di karenakan geografis wilayahnya berbatasan dengan Kota Wisata Bukittinggi, banyak masyarakat kota yang mencari suasana dan lingkungan aman serta nyaman diluar kota namun tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke kota sebagai pusat kegiatan dan penghidupan sehari hari. Hal ini dapat dilihat dari pesatnya pertumbuhan properti di Kecamatan tersebut.
Dilihat perkembangan pembangunan rumah atau properti di Kecamatan Ampek Angkek saat ini memang masih berjalan, tetapi hal tersebut merupakan hasil dari penerbitan perizinan sejak zaman IMB atau sebelum terbitnya PBG. Itu pun jumlah pembangunannya tergolong sedikit. Ditambah dengan faktor pandemi covid 19. Tidak hanya pengembang/bidang bisnis, hambatan tertinggi berada pada masyarakat umum yang ingin membangun rumah tempat tinggal secara mandiri pun kesulitan dalam hal pengurusan perizinannya, dikarenakan tidak semua masyarakat paham terhadap tekhnologi dan standarisasi spesifikasi dokumen rencana tekhnis bangunan yang ditetapkan, karena biasanya masyarakat membangun rumah secara sederhana dengan menggunakan tekhnisi/tukang kampung yang tidak memiliki sertifikat bangunan. Bahkan gambar/denah bangunan juga dirancang secara sederhana dan manual tanpa aspek standarisasi dan spesifikasi yang ada
Setelah melakukan observasi awal pada DPMPTSP Kabupaten Agam dan Kantor Camat Ampek Angkek, dapat dikatakan persoalan ini yang sering terjadi pada masyarakat yang belum paham tentang aturan bangunan gedung. Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat baik di tingkat Kecamatan maupun Nagari juga menjadi salah satu persoalan yang sampai saat ini masih belum dapat terselesaikan. Kurang pahamnya masyarakat dalam penggunaan website ini, telah ditindak lanjuti oleh pihak dari DPMPST dan pihak kecamatan dengan cara menugaskan petugas untuk membantu masyarakat dalam hal penginputan data permohonan hingga penerbitan PBG. Yang terpenting bagi pemehon adalah melengkapai dokumen-dokumen yang dibutuhkan oleh system aplikasi SIMBG nantinya. Tidak hanya itu keterbatasan Sumber Daya Manusia dari segi pembelajaran, pelatihan serta kemampuan pada bidang teknologi turut mempengaruhi proses pelayanan PBG menggunakan SIMBG..
Hal umum yang sering dijumpai di masyarakat, mengapa banyak yang tidak membuat Perizinan Bangunan Gedung mereka pada saat ingin membangun adalah kurangnya tingkat kesadaran akan pentingnya perizinan PBG itu sendiri. Permasalahan tersebut sudah banyak diteliti dengan berbagai fokus penelitian sehingga menciptakan kebaruan dalam penelitian.
Beberapa penelitian juga meneliti tentang implementasi perizinan Persetujuan Bangunan pada beberapa Kota yang ada di Indonesia seperti yang dilakukan oleh Kindangen, Ronaldo Ruland Gosal, Ronny Pangemanan, 2018 (Kindangen et al., 2018) dalam jurnalnya yang berjudul Implementasi Kebijakan Pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Manado mengatakan keterbatasan sumber daya manusia dan fasilitas fisik yang dimiliki, tidak terlaksananya pengawasan di lapangan atas bangunan yang tidak mempunyai izin mendirikan bangunan, serta masih terdapatnya ketidak patuhan warga dalam mengurus izin mendirikan bangunan serta tidak berjalannya koordinasi antar instansi sehingga implementasi kebijakan dalam hal pemberian perizinan mendirikan bangunan oleh Tubuh Pelayanan Perizinan Terpadu di Kota Manado tidak berjalan sesuai dengan tujuan kebijakan baik dilihat dari sisi organisasi, interpretasi dan aplikasi. Kedua, Junaidi dalam penelitiannya mengenai “Efektivitas Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Melalui Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG) Pada Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Merauke”. Di dalam penelitiannya Junaidi meneliti efektifitas, factor penghambat dan upaya yang harus dilakukan dalam meningkatkan pelayanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) melalui Sistem Informasi Bangunan Gedung. Ketiga Aries Syafrizal dan L. Syaidiman Marto STIA Bala Putra Dewa Palembang (2022) membahas sejauh mana masing-masing unsur yang mempengaruhi proses implementasi kebijakan PBG dikota Palembang.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis kendala atau hambatan dalam proses pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) menggunakan aplikasi Sistem Informasi Bangunan Gedung (SIMBG) di Kabupaten Agam, khususnya di Kecamatan Ampek Angkek. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat, pemerintah daerah, dan stakeholder terkait dalam mengimplementasikan kebijakan baru terkait PBG serta memahami faktor-faktor apa saja yang menyebabkan penurunan jumlah penerbitan PBG di wilayah tersebut.
METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain analisis deskriptif.
Tujuannya adalah untuk menggambarkan dan meringkas berbagai kondisi, situasi, dan fenomena realitas terkait implementasi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) berbasis web (SIMBG) di Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam. Waktu penelitian berlangsung dari Mei hingga Juli 2023. Data primer yang digunakan adalah hasil wawancara langsung dengan responden/informan terkait. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari sumber yang telah ada, seperti dinas terkait, dokumentasi, dan lainnya.
Teknik analisis data yang akan digunakan adalah model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi pengumpulan data mentah, display data, reduksi data, hingga verifikasi dan kesimpulan data. Penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena penurunan permohonan perizinan di bidang bangunan dan gedung setelah terbitnya UU Cipta Kerja dan PP no. 16 Tahun 2021 yang mengubah sistem perizinan menjadi PBG di wilayah tersebut. Fokus penelitian difokuskan pada Kecamatan Ampek Angkek sebagai salah satu penyumbang retribusi perizinan di Kabupaten Agam.
HASIL DAN PEMBAHASAN
. Dari hasil pengamatan selama penelitian implementasi Perizinan Persetujuan Bangunan Gedung di Kecamatan Ampek Angkek, jika diukur menurut teori dari Edwars III, dapat disimpulkan :
Komunikasi
Komunikasi memainkan peran yang sangat penting. Komunikasi yang efektif antara pemilik bangunan, arsitek, insinyur, kontraktor, dan pihak otoritas terkait seperti badan pemeriksa bangunan dan pemerintah daerah harus terjalin dengan baik agar tujuan dan sasaran dapat berjalan dengan baik. Pada tahap perencanaan, arsitek dan insinyur perlu berkomunikasi dengan pemilik bangunan untuk memahami kebutuhan dan preferensi mereka. Kemudian, tim perencana harus berkomunikasi dengan badan pemeriksa dan pemerintah setempat untuk memastikan bahwa desain bangunan memenuhi persyaratan dan peraturan setempat. Selama tahap konstruksi, kontraktor dan tim pembangunan harus berkomunikasi dengan arsitek dan insinyur untuk memastikan bahwa bangunan dibangun sesuai dengan rencana dan spesifikasi yang telah disepakati. Mereka juga harus berkomunikasi dengan badan pemeriksa dan pemerintah setempat untuk memastikan bahwa bangunan memenuhi standar keselamatan dan peraturan setempat. Dalam proses persetujuan bangunan gedung, komunikasi yang buruk dapat menyebabkan penundaan, biaya tambahan, dan bahkan risiko keselamatan. Oleh karena itu, komunikasi yang efektif dan terbuka antara semua pihak yang terlibat sangat penting untuk menjamin bahwa bangunan dibangun dengan aman dan efisien.
Proses penyampaian Informasi Pemerintah terhadap masyarakat dan stakeholder terkait pun harus lebih ditingkatkan. Dengan mengadakan sosialisasi-sosialisasi dan pelatihan-pelatihan yang terkait dengan Perizinan Persetujuan Bangunan Gedung.
Sumber daya
Sumber daya manusia yang terlibat dalam persetujuan bangunan gedung memainkan peran krusial dalam memastikan bahwa kegiatan pembangunan berjalan sesuai rencana, aman, dan memenuhi persyaratan hukum. Penting bagi mereka untuk memiliki pengetahuan teknis yang memadai, keterampilan manajerial, dan pemahaman yang mendalam tentang regulasi dan peraturan yang berlaku. Keterlibatan masyarakat dan perhatian terhadap keberlanjutan juga menjadi aspek penting dalam proses ini agar penerapan system berjalan dengan baik. Proses perizinan dan pembangunan gedung memerlukan berbagai sumber daya manusia yang memiliki keahlian teknis dan keterampilan yang beragam. Tenaga ahli seperti arsitek, insinyur struktural, listrik, dan mekanikal, serta pengawas konstruksi, pengembang teknologi, dan petugas perizinan berperan penting dalam merancang, mengawasi, dan memastikan proses perizinan dan pembangunan gedung berjalan lancar. Mereka harus memiliki pengetahuan teknis yang mendalam, kepatuhan terhadap regulasi dan standar bangunan, serta keterampilan manajerial untuk mengelola proyek secara efisien.
Proses persetujuan dan perizinan gedung dapat menjadi kompleks dan melibatkan berbagai peraturan dan persyaratan yang harus dipahami dengan baik oleh semua pihak terlibat. Kesalahan atau kelambatan dalam proses persetujuan dapat menyebabkan penundaan dan peningkatan biaya pembangunan. Oleh karena itu, keterampilan, kompetensi, dan pengertian mendalam tentang aturan yang berlaku menjadi kunci dalam menghadapi proses ini. Selain itu, keterlibatan masyarakat juga menjadi aspek penting dalam proses pembangunan gedung. Partisipasi masyarakat membantu mengidentifikasi masalah dan potensi dampak proyek terhadap lingkungan sekitar. Selaras dengan semakin berfokusnya pada keberlanjutan, sumber daya manusia yang terlibat harus mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial dari proyek tersebut. Teknologi dan inovasi juga berperan dalam meningkatkan efisiensi dan akurasi proses perizinan dan pembangunan gedung. Penggunaan teknologi seperti Building Information Modeling (BIM) dan augmented reality membantu meningkatkan efisiensi dalam merancang dan mengawasi proyek. Secara keseluruhan, keberhasilan proses perizinan dan pembangunan gedung sangat tergantung pada kolaborasi dan koordinasi antara berbagai sumber daya manusia yang terlibat, termasuk tenaga ahli, pihak terkait, masyarakat, dan penerapan teknologi yang canggih dan inovatif.
Disposisi
Pengaturan disposisi yang baik sangat penting dalam proses perizinan persetujuan bangunan gedung. Mencakup proses dan peran dari berbagai pihak yang terlibat dalam memberikan persetujuan atau izin untuk membangun suatu gedung atau proyek konstruksi.
Proses disposisi dalam persetujuan bangunan dan gedung yang menggunakan platform berbasis web memberikan banyak keuntungan. Permohonan perizinan dapat diajukan secara online, mengurangi kunjungan fisik ke kantor pemerintah, dan mempercepat proses pengajuan dan pemrosesan permohonan. Sistem berbasis web dengan alur kerja otomatis memprioritaskan permohonan yang sesuai dan memberikan notifikasi untuk tahap-tahap berikutnya. Dalam proses disposisi, terdapat beberapa langkah yang harus diikuti, termasuk verifikasi kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pihak berwenang, seperti pemerintah daerah dan badan pengawas konstruksi, memiliki peran penting dalam memberikan persetujuan atau izin serta mengawasi proses konstruksi.
Agar proses perizinan berjalan lancar, pemahaman aturan dan persyaratan yang diperlukan sangat diperlukan. Hal ini termasuk pemahaman tentang zonasi dan tata ruang, standar keamanan bangunan, dan dampak lingkungan. Transparansi dan keterbukaan antara semua pihak terkait juga menjadi kunci untuk mencapai kesepakatan yang baik. Waktu dan biaya adalah aspek penting yang harus diperhatikan dalam proses disposisi. Penjadwalan yang tepat dan pengawasan yang baik dapat menghindari keterlambatan dalam pembangunan dan mengurangi biaya tambahan. Dengan melakukan disposisi yang efisien dan tepat waktu, proses perizinan dapat berjalan dengan lancar, memfasilitasi pembangunan yang aman, berkelanjutan, dan sesuai dengan ketentuan hukum. Keselarasan antara pemohon, pihak berwenang, dan semua pihak terkait menjadi kunci untuk mencapai tujuan tersebut.
Birokrasi
Pentingnya Struktur birokrasi dalam perizinan bangunan gedung mencakup penerapan Tekhnologi Informasi dan komunikasi (TIK) dalam menyederhanakan dan mempercepat proses persetujuan serta pengelolaan perizinan bangunan dan untuk memastikan bahwa bangunan dibangun dengan aman dan memenuhi persyaratan hukum dan regulasi setempat.
Dalam proses perizinan bangunan gedung, terdapat berbagai struktur birokrasi yang berperan penting. Badan pemeriksa dan pemerintah setempat bertanggung jawab memastikan bangunan memenuhi standar keselamatan dan peraturan setempat. DPMSTP &
Naker melibatkan berbagai badan pemerintah lainnya, seperti Dinas PUPR, Dinas Perkim, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Kebakaran, yang memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda dalam proses perizinan. Selain itu, kantor camat, kantor nagari, dan jorong juga menjadi bagian dari struktur birokrasi setempat yang memastikan semua persyaratan hukum dan regulasi telah dipenuhi. Satpol PP juga berperan sebagai penegak perda dan perkada untuk mengawasi bangunan gedung yang tidak memiliki izin yang berlaku.
Proses perizinan berbasis web memberikan efisiensi dalam pengajuan permohonan, mengurangi birokrasi dengan penggunaan teknologi otomatisasi, dan meningkatkan transparansi serta keterbukaan dalam proses persetujuan. Namun, ada beberapa tantangan, seperti infrastruktur dan konektivitas internet yang belum memadai di wilayah tertentu serta perlunya memperhatikan aspek keamanan data. Pelatihan dan literasi teknologi juga diperlukan bagi semua pihak yang terlibat untuk mengoptimalkan pemanfaatan platform berbasis web. Penerapan berbasis web harus diimbangi dengan upaya mengatasi tantangan teknis dan hukum untuk memastikan keberhasilan implementasi. Dengan memperhatikan semua aspek ini, proses perizinan berbasis web dapat memberikan manfaat yang signifikan dalam mempercepat dan mempermudah proses persetujuan bangunan dan gedung.
Hambatan/kendala dalam Implementasi Perizinan PBG berbasis web tersebut.
Implementasi perizinan PBG berbasis web (SIMBG) di Kecamatan Ampek Angkek menghadapi beberapa hambatan dan kendala yang perlu diatasi untuk mencapai keberhasilan dalam penerapan sistem ini. Salah satu hambatan utama adalah keterbatasan akses internet yang cepat dan stabil di beberapa daerah. Masih adanya wilayah yang belum memiliki akses internet yang memadai dapat menyulitkan pemohon dalam mengakses sistem perizinan secara efisien. Selain itu, ketersediaan tenaga ahli desain bangunan yang bersertifikat menjadi kendala lainnya. Sistem perizinan berbasis web memerlukan keahlian teknis dari tenaga ahli seperti arsitek dan insinyur yang memiliki lisensi. Ketersediaan tenaga ahli yang sesuai dengan rekomendasi pemerintah menjadi perhatian penting dalam memastikan proses perizinan berjalan dengan baik.
Tingkat kualifikasi dan kapasitas staf yang bertanggung jawab untuk memproses permohonan perizinan juga menjadi kendala. Staf harus memiliki kualifikasi dan kemampuan yang memadai untuk menggunakan sistem perizinan berbasis web secara efisien. Kendala lainnya adalah kepatuhan pengguna terhadap aturan dan persyaratan perizinan yang telah ditetapkan. Meskipun sistem perizinan berbasis web dirancang untuk memastikan kepatuhan, masih ada beberapa pengguna yang mungkin tidak mematuhi aturan dan persyaratan tersebut, yang dapat mempengaruhi efektivitas dan keberhasilan sistem ini.
Keterbatasan dana juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Implementasi perizinan PBG berbasis web memerlukan investasi dalam infrastruktur teknologi dan pelatihan staf. Keterbatasan dana dapat menyulitkan pengembangan sistem perizinan yang memadai. Selain itu, belum adanya Peraturan Bupati atau Peraturan Daerah yang mengatur tentang persetujuan bangunan gedung menjadi kendala lainnya. Keharmonisan antara sistem perizinan berbasis web dan peraturan yang berlaku sangat penting untuk menciptakan proses perizinan yang efisien dan sesuai dengan hukum. Kurangnya pemahaman dan kesadaran tentang manfaat dan potensi penggunaan sistem perizinan berbasis web juga menjadi tantangan. Peningkatan pemahaman dan sosialisasi tentang sistem ini diperlukan agar penggunaan sistem perizinan berbasis web menjadi lebih optimal. Dalam menghadapi berbagai hambatan dan kendala ini, kolaborasi antara pemerintah daerah, pihak terkait, dan masyarakat menjadi kunci untuk mencari solusi yang tepat. Upaya peningkatan infrastruktur teknologi, pelatihan staf, dan sosialisasi akan membantu mengatasi kendala dalam implementasi perizinan PBG berbasis web. Dengan adanya dukungan dan komitmen dari semua pihak terlibat, diharapkan sistem perizinan berbasis web dapat menjadi sarana yang efektif dan efisien dalam proses persetujuan bangunan gedung di Kecamatan Ampek Angkek..
SIMPULAN
Dari hasil pengamatan selama penelitian implementasi Perizinan Persetujuan Bangunan Gedung di Kecamatan Ampek dapat disimpulkan : Komunikasi yang tidak efektif antara pemilik bangunan, arsitek, insinyur, kontraktor, dan pihak otoritas terkait seperti badan pemeriksa bangunan dan pemerintah daerah tidak terjalin dengan baik sehingga tujuan dan sasaran tidak dapat berjalan dengan baik. Kurangnya pengetahuan teknis yang memadai, keterampilan manajerial, dan pemahaman yang mendalam tentang regulasi dan peraturan yang berlaku serta tidak berperannya Pihak Berwenang atau pemerintah daerah dan Badan Pengawas kontruksi sehingga pemantauan dan pengendalian dalam proses perizinan tidak berjalan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Sumber Daya Manusia yang terlibat pun tidak serius memperhatikan dampak lingkungan dan sosial dari proyek atau kegiatan tersebut. Disposisi yang tidak efisien dan tepat waktu serta kurangnya sosialisasi pemerintah tentang persetujuan bangunan gedung di Kabupaten Agam mengakibatkan tidak efektif dan efesiennya penerapan Implementasi Persetujuan Bangunan Gedung berbasis web di Kecamatan Ampek Angkek. Diperlukan pendekatan yang komprehensif dan dukungan yang kuat dari semua pihak untuk mensukseskan implementasi tersebut.
Untuk membuat implementasi perizinan bangunan gedung menjadi lebih efektif, diperlukan beberapa saran dan langkah strategis yang dapat diambil. Pertama, persiapan dan perencanaan yang matang dalam pengembangan sistem perizinan berbasis web harus menjadi prioritas. Hal ini melibatkan penelitian mendalam untuk memahami kebutuhan dan tantangan yang ada dalam proses perizinan, sehingga sistem yang dikembangkan dapat sesuai dengan kebutuhan dan dapat mengatasi kendala yang mungkin muncul.
Kedua, perlu dilakukan penyediaan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK), perangkat keras, dan perangkat lunak yang memadai dan aman. Infrastruktur yang handal
akan memastikan kelancaran akses dan penggunaan sistem perizinan berbasis web oleh semua pihak terkait.
Selanjutnya, dukungan dari semua stakeholder terkait dan masyarakat sangat penting untuk keberhasilan implementasi sistem perizinan berbasis web. Peningkatan kesadaran dan pemahaman tentang manfaat penggunaan sistem ini perlu dilakukan melalui sosialisasi dan edukasi agar semua pihak merasa terlibat dan berkontribusi dalam proses perizinan.
Ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dan pengetahuan yang cukup dalam pengembangan dan penggunaan sistem perizinan berbasis web juga harus diperhatikan. Pelatihan dan pengembangan SDM akan membantu memastikan bahwa sistem dapat dikelola dengan efisien dan optimal. Pemahaman yang menyeluruh tentang persyaratan dan regulasi yang berlaku juga penting. Pemilik bangunan harus memahami dengan baik persyaratan dan regulasi di wilayah setempat, sehingga proses perizinan dapat berjalan lancar dan menghindari risiko penolakan atau penundaan perizinan.
Selain itu, diperlukan langkah strategis dari pihak pemerintah, seperti mempercepat penerbitan regulasi tentang Persetujuan Bangunan Gedung di Wilayah Pemerintahan Kabupaten Agam. Regulasi yang jelas dan komprehensif akan memberikan pedoman yang lebih terstruktur dan mudah diikuti oleh pemohon. Terakhir, jika diperlukan, penggunaan jasa konsultan perizinan dapat menjadi pilihan terakhir yang praktis dan efisien untuk membantu pemohon dalam proses perizinan. Dengan menerapkan saran-saran ini, diharapkan proses perizinan bangunan gedung dapat berjalan lebih lancar, efisien, dan meminimalkan risiko penolakan atau penundaan. Selain itu, langkah-langkah ini akan berkontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah, yang pada gilirannya akan mempercepat perkembangan dan kemajuan Kabupaten Agam secara keseluruhan.
Referensi
Aryanto, U. (2018). Bab III - Metode Penelitian Metode Penelitian. Metode Penelitian, 2015, 32–
Candra, A. (2022). Analisis Persetujuan Bangunan Gedung (Pbg) Dengan Menggunakan 41.
Aplikasi Simbg Di Dinas Pupr Kabupaten Kuantan Singingi Tahun …. JURNAL PERANGKAT LUNAK. https://ejournal.unisi.ac.id/index.php/jupel/article/view/2408 Ii, B. A. B., & Teori, A. D. (1967). Implementasi Kebijkan Van Meter. Angewandte Chemie
International Edition, 6(11), 951–952., 5–24.
http://eprints.umm.ac.id/35898/3/jiptummpp-gdl-aanwidiast-47496-3-babii.pdf Kindangen, R. R., Gosal, R., & Pangemanan, S. (2018). Implementasi Kebijakan Pemberian Izin
Mendirikan Bangunan (IMB) Oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Manado.
Eksekutif Jurnal Jurusan Ilmu Pemerintahan, 1(1), 1–12.
Lingkungan, R., & Rumah, P. (2021). Scenario 2021 |. 354–359.
Muhammad. (2018). Birokrasi (Kajian Konep, Teori Menuju Good Governance). Unimal Press, 53(9), 1689–1699.
Oktaviani.J. (2018). Tinjauan Pustaka:Pengertian Implementasi. Sereal Untuk, 51(1), 51.
Presiden Republik Indonesia. (2021). Peraturan Pemerintah No 16 tahun 2021 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung. Presiden Republik Indonesia, 087169, 406. https://jdih.pu.go.id/detail- dokumen/2851/1
Teori-teori, P. (n.d.). Pengertian Birokrasi. 1–32.
Turhindayani, T. (2020). Analisis Implementasi Pengelolaan Barang Milik Daerah (Studi Pada Pemerintah Daerah Bangka Tengah). ABIS: Accounting and Business Information Systems Journal, 4(4). https://doi.org/10.22146/abis.v4i4.59322
V.A.R.Barao, R.C.Coata, J.A.Shibli, M.Bertolini, & J.G.S.Souza. (2022). No Title. Braz Dent J., 33(1), 1–12.
Wijaya, M. (2023). Persetujuan Bangunan Gedung ; Inovasi Kebijakan atau Involusi Kebijakan ? 4(1).