PENDAHULUAN
Latar Belakang Penelitian
Perubahan politik luar negeri Indonesia dengan sumber ideologi dalam negeri yaitu Islam telah dikaji oleh Sukma (2003), Perwita (2007) dan Alles (2016). Mengenai perubahan kebijakan luar negeri terkait isu nuklir Iran yang hanya menyebutkan faktor domestik, kajian Mietzer (2009), Gindarsah (2012), Murphy (2012). Kajian tentang konsistensi kebijakan luar negeri Indonesia dalam isu nuklir Iran belum banyak dilakukan.
Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini diberi judul Perubahan Kebijakan Luar Negeri Indonesia Terkait Isu Nuklir Iran di Dewan Keamanan PBB 2007-2008.
Rumusan Masalah
Belum diketahui seberapa besar tekanan internasional terhadap kebijakan luar negeri Indonesia untuk mendukung sanksi dan seberapa besar faktor domestik, seperti elemen masyarakat sipil, mempengaruhi kebijakan luar negeri. Penelitian ini berupaya untuk mengisi gap dalam kajian perubahan kebijakan luar negeri yang mengaitkan faktor internasional di satu sisi dengan faktor domestik di sisi lain dalam isu nuklir Iran periode 2007 hingga 2008.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
- Manfaat Praktis
- Manfaat Teoretis
Selain itu dapat memberikan kontribusi terhadap konsep keluaran politik luar negeri yang sifatnya kecil seperti adaptasi terhadap perubahan besar yaitu perubahan orientasi politik luar negeri.
TINJAUAN PUSTAKA
Perubahan Kebijakan Luar Negeri
Konsep yang diajukan oleh Holsti diketahui memperhitungkan perubahan kebijakan luar negeri yang bersifat radikal atau ekstensif. Ini menegaskan gagasan bahwa analisis perubahan kebijakan luar negeri setidaknya mencakup dua faktor ini. Hermann mengklasifikasikan empat tingkat perubahan kebijakan luar negeri, termasuk sejumlah indikator (Hermann.
Perubahan paling ekstrem dalam kebijakan luar negeri melibatkan perubahan orientasi semua aktor terhadap masalah dunia.
Isu Nuklir dalam Kebijakan Luar Negeri
Upaya lain untuk meningkatkan jaminan keamanan terhadap potensi proliferasi senjata nuklir, seperti kebijakan untuk meningkatkan kepercayaan negara non-nuklir, akan berhasil dalam jangka pendek. Model keamanan ini masih dianut oleh banyak kalangan meski sudah ada fenomena baru kepemilikan senjata nuklir. Fenomenanya, ada aktor negara yang dianggap tidak masuk akal dan agresif untuk menguasai senjata nuklir.
Norma terkait penguasaan senjata nuklir sebagai fungsi simbolik penting untuk membentuk dan mencerminkan identitas negara.
Kerangka Pemikiran
Tahapan perubahan kebijakan luar negeri sebagaimana terlihat dalam kerangka penelitian meminjam konsep dari Hermann (1990) yang menyatakan bahwa ada tujuh tahapan yang hasilnya berupa berbagai jenis perubahan kebijakan luar negeri. Analisis pemeringkatan dalam kerangka penelitian ini memeringkatkan negara (state) sehingga aktor penentu kebijakan luar negeri tidak lain adalah tindakan dari satu kesatuan negara. Sedangkan fokus penelitian berada pada tataran kebijakan pemerintah, meskipun terdapat dinamika aktor pemerintahan di kementerian luar negeri dan kantor kepresidenan.
Termasuk juga pertimbangan legislatif dan publik yang turut mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia.
METODE PENELITIAN
- Desain Penelitian
- Sumber Data
- Informan
- Dokumen dan Arsip
- Data Set
- Teknik Pengumpulan Data
- Wawancara
- Studi Pustaka
- Teknik Pengolahan dan Analisis Data
- Lokasi, Waktu dan Jadwal Penelitian
- Sistematika Penulisan
Selanjutnya bab ini membahas mengapa terjadi perubahan kebijakan luar negeri Indonesia terhadap isu nuklir Iran. Maret 2007 mengkritisi pemerintah Indonesia yang mendukung resolusi Dewan Keamanan PBB tentang isu nuklir Iran (detikcom, 30 Maret 2007). Tidak ada opini dan berita yang menentang kebijakan luar negeri Indonesia terkait isu nuklir Iran sebelum menduduki kursi tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
Beberapa kolom tentang analisis kritis terhadap kebijakan luar negeri Indonesia terkait isu nuklir Iran di Dewan Keamanan PBB telah dimuat di kolom opini.
GAMBARAN UMUM KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA
Kebijakan Luar Negeri Indonesia
- Landasan Kebijakan Luar Negeri Indoensia
- Kebijakan Luar Negeri Era Orde Lama sampai Orde Reformasi
- Kebijakan Luar Negeri Era Orde Lama
- Kebijakan Luar Negeri Era Orde Baru
- Kebijakan Luar Negeri Era B.J. Habibie
- Kebijakan Luar Negeri Era Abdurrahman Wahid
- Kebijakan Luar Negeri Era Megawati
- Kebijakan Luar Negeri Era Susilo Bambang
- Isu Nuklir Iran dan Kebijakan Luar Negeri Indonesia . 68
- Program Nuklir Iran Sebelum Revolusi Islam
- Program Nuklir Iran setelah Revolusi 1979 sampai
- Isu Nuklir di Dewan Keamanan PBB
Indonesia saat itu telah menunjukkan sikap bahwa isu nuklir Iran yang tengah menjadi sorotan dunia tidak akan dibawa ke Dewan Keamanan PBB (Leksono: 2007). Sebelumnya, Indonesia juga menegaskan bahwa isu nuklir Iran tidak diangkat di Dewan Keamanan PBB, sebagaimana dijelaskan Direktur Perlucutan Senjata Kementerian Luar Negeri, Hassan Kleib. Ketika resolusi pertama dikeluarkan terhadap tenaga nuklir Iran, Indonesia belum menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
Indonesia memanfaatkan posisinya sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk aktif menyelesaikan isu nuklir Iran (Jenie: 2018). Hizbut Tahrir, yang saat itu merupakan organisasi akar rumput, juga aktif mengkritik pemerintah terkait isu nuklir Iran di Dewan Keamanan PBB. Dengan kata lain, intelijen ini menjadi salah satu faktor dalam implementasi politik luar negeri, seperti saat Indonesia ikut serta dalam pengambilan keputusan isu nuklir Iran di Dewan Keamanan PBB.
Posisi Megawati juga mewakili sebagian elite Indonesia yang menilai posisi Indonesia di Dewan Keamanan PBB terkait program nuklir Iran tidak sejalan dengan kebijakan luar negeri Indonesia selama ini. Bahkan saat itu, pemerintah Indonesia mendukung program nuklir Iran, meski ada sanksi yang dijatuhkan oleh Dewan Keamanan PBB. Tak hanya itu, Kompas misalnya, mengadakan jajak pendapat untuk mengukur bagaimana pandangan publik terhadap kebijakan luar negeri Indonesia terkait isu nuklir Iran.
Karena dukungan sanksi terhadap Iran inilah faktor domestik berperan dalam mendorong perubahan kebijakan luar negeri Indonesia terkait isu nuklir Iran. Ekspektasi awal kebijakan luar negeri Indonesia sejalan dengan kebijakan sebelumnya terkait program nuklir Iran. Diketahui bahwa AS menginginkan agar resolusi Dewan Keamanan PBB tentang program nuklir Iran disahkan dengan suara bulat (Ginarsah, 2018; Basyar, 2018).
Di sini Indonesia harus berhadapan dengan Amerika Serikat sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan negara yang berkepentingan menghentikan program nuklir Iran yang diduga memproduksi senjata nuklir.
PERUBAHAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA TERHADAP
Kebijakan Luar Negeri Indonesia Terhadap Isu Nuklir Iran
Namun, Menlu Hassan juga menekankan bahwa fokus pada isu nuklir Iran harus diselesaikan melalui dialog. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam jumpa pers di Jakarta bersama Presiden Ahmadinejad pada 10 Mei 2006 menyatakan keyakinannya bahwa program nuklir Iran adalah untuk tujuan damai. Pandangan Indonesia inilah yang kemudian memunculkan sikap mendukung terhadap program nuklir Iran, terutama dari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
Dukungan Indonesia terhadap pengembangan nuklir Iran juga ditegaskan tidak terkait dengan agama (Media Indonesia, 7 Juni 2006). Dan menurut Hassan Wirajuda, Amerika Serikat tidak keberatan dengan sikap Indonesia yang mendukung pengembangan nuklir Iran. Yang juga menarik dalam kunjungan tersebut adalah pembahasan isu nuklir Iran antara Presiden Yudhoyono dan Presiden Ahmadinejad (Kementerian Luar Negeri: 2006).
Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda bahkan mengatakan isu nuklir Iran akan menjadi topik utama pertemuan bilateral kedua negara. Dukungan Indonesia terhadap program nuklir Iran terjadi ketika Gerakan Non Blok memiliki posisi yang sama dalam mendukung hak Iran untuk memiliki teknologi nuklir (Media Indonesia, 31 Mei 2006). Kebijakan abstain dikritik Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif yang menyatakan keraguan Indonesia terhadap program nuklir Iran untuk tujuan damai.
Pandangan kritis Barat yang kemudian memuncak dengan membawa isu nuklir Iran ke Dewan Keamanan PBB ini pada akhirnya membuat posisi Indonesia menghadapi Iran menjadi dilema. Namun, sebagaimana dijelaskan pada bagian selanjutnya, kepercayaan Indonesia terhadap program nuklir Iran tidak tergoyahkan.
Faktor Internasional dalam Resolusi 1747 dan Resolusi 1803
- Ambisi Nuklir Iran
- Ancaman Proliferasi Nuklir
- Peranan Dewan Keamanan PBB
- Isu Solidaritas Islam
- Tekanan Barat
Hal ini menunjukkan bahwa faktor ambisi nuklir Iran masih belum mereda ketika desakan Dewan Keamanan PBB dilakukan dengan empat resolusi. Ambisi nuklir Iran tidak terpengaruh oleh sanksi yang dijatuhkan oleh Resolusi 1747 dan dua resolusi sebelumnya. Kekhawatiran Barat tentang Iran, bersama dengan isu senjata nuklir Iran, telah menimbulkan kekhawatiran di Timur Tengah.
Resolusi ini memperkuat pendahulunya dengan mewajibkan semua negara untuk menolak masuk siapa pun yang mungkin terkait dengan program nuklir Iran. Dewan Keamanan PBB tampaknya masih mengendalikan tiga resolusi yang telah disahkan tentang masalah nuklir Iran, namun Iran belum membuat banyak kemajuan. Resolusi 1803 memuat sejumlah sanksi terhadap Iran selain sanksi tambahan terhadap individu dan institusi yang terlibat dalam program nuklir Iran.
Faktor penggerak umat Islam dunia untuk mendukung program nuklir Iran tidak sebesar tahun 2006 dan 2007. Sejak menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB pada 1 Januari 2007, Indonesia langsung memberikan kontribusi aktif, termasuk dalam menangani masalah nuklir Iran. Namun, media internasional seperti CNN dan AFP mengindikasikan bahwa pembicaraan antara kedua pemimpin tersebut terkait dengan isu nuklir Iran dan resolusi Dewan Keamanan PBB.
Tekanan Barat terhadap isu nuklir Iran juga dapat dipahami dari cara Amerika Serikat berusaha menghindari veto dari China dan Rusia. Amerika Serikat tidak hanya memobilisasi Dewan Keamanan PBB untuk denuklirisasi Iran, tetapi juga mengundang Uni Eropa untuk merundingkan penghentian program senjata nuklir.
Faktor Domestik dalam Resolusi 1747 dan Resolusi 1803
- Ormas Keagamaan
- Tokoh Masyarakat
- Partai Politik
- Peran Media Massa
Dan respon dalam negeri inilah yang mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia ketika resolusi 1803 masih mengenai isu nuklir Iran saat diputuskan. Demonstrasi mahasiswa menentang resolusi 1747 menunjukkan keterlibatan ulama dalam isu nuklir Iran. Begitu pula ketika kebijakan Indonesia di Dewan Keamanan PBB disahkan pada 2007 saat itu, para pimpinan partai politik di DPR mengambil posisi mendukung kebijakan pengembangan nuklir Iran.
Menurut Presiden PKS Tifatul Sembiring, 23 Maret 2007, Indonesia awalnya mendukung penggunaan tenaga nuklir Iran untuk tujuan damai, namun kini menyetujui sanksi dalam proses pengambilan keputusan di Dewan Keamanan PBB (detikcom, 26 Maret 2007). Media memang menyoroti isu nuklir Iran melalui pemberitaan, namun tidak memberikan opini yang mempertanyakan kebijakan luar negeri Iran terkait isu nuklir. Dari uraian faktor internasional dan domestik dalam perubahan kebijakan luar negeri Indonesia terkait isu nuklir Iran, terlihat bahwa pada tahun 2007 faktor internasional sangat berpengaruh terhadap kebijakan Indonesia di DK PBB untuk mendukung sanksi nuklir Iran.
Begitu juga dengan kebijakan luar negeri seperti yang dilakukan Indonesia untuk menghadapi isu nuklir Iran, yang disebut sebagai kebijakan luar negeri regulasi. Tahapan perubahan kebijakan Indonesia terkait isu nuklir Iran Dari analisis di atas, terlihat bahwa faktor internasional dan domestik berdampak pada perubahan kebijakan luar negeri Indonesia terkait isu nuklir Iran di Dewan Keamanan PBB 2007-2008. Dalam debat yang antara lain mengkritik kebijakan luar negeri terkait nuklir Iran, terdapat wacana bagi Indonesia untuk abstain ketimbang mendukungnya.
Pandangan pemerintah, politisi, dan publik menunjukkan bahwa sebelum Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, sikapnya condong ke Iran dalam mendukung pengembangan nuklir Iran. Namun, di kancah internasional, apalagi diplomasi global, seperti di Dewan Keamanan PBB, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan sebelumnya yang mendukung program nuklir Iran. Politisi melihat inkonsistensi kebijakan luar negeri dalam isu nuklir Iran dan kebijakan luar negeri lainnya yang lebih fundamental.
Menurut Gus Dur, dukungan sanksi terhadap Iran berbeda dengan posisi Indonesia yang mendukung moralitas program nuklir damai Iran.
Tahapan Perubahan Kebijakan Indonesia dalam Isu Nuklir Iran . 171
Simpulan
Saran
- Saran Praktis
- Saran Teoretis