HUBUNGAN ANTAR UMAT BERAGAMA
PENGERTIAN HUBUNGAN ANTAR UMAT BERAGAMA
Dosen Pengampu : Dr. Zulkarnaen, M.Ag
Disusun Oleh :
Rio Irwansyah (0402213021) Nurainun Br Barasa (0402212017)
PRODI STUDI AGAMA-AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
T.A 2022/2023
ii
KATA PENGANTAR
Alhamdulilah puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah- Nya karena kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Adapun dalam penulisan makalah ini, materi yang akan dibahas adalah “Pengertian Hubungan Antar Umat Beragama”
Kami menyadari sepenuhnya bahwa di dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun demi penulisan makalah ini.
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampuh matakuliah Hubungan Antar Umat Beragama Ayahanda Dr. Zulkarnaen, M.Ag. yang telah memberikan arahan nya kepada kami dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menambah wawasan kita dalam mempelajari “Hubungan Antar Umat Beragama”
serta dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Medan,4 Maret 2023
Penulis
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
BAB II PEMBAHASAN ... 2
A. Hubungan ... 2
B. Umat ... 2
C. Agama ... 4
D. Hubungan Antar Umat Beragama ... 5
BAB III PENUTUP ... 8
A. Kesimpulan... 8
B. Saran ... 8
DAFTAR PUSTAKA ... 9
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar BelakangAgama adalah sebuah fenomena yang sangat kaya sekaligus sangat kompleks. Ia memiliki dimensi : ritual, doktrinal, etika, sosial, dan ekpriensial. Sehingga wacana tentang agama dan kehidupan beragama selalu akan muncul baik dalam forum ilmiah maupun percakapan populer.1 Beragam terdapat mengenai hal ini muncul, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, yang pada akhirnya mempengaruhi model pendekatan yang dilakukan oleh para pemikir (filosof).
Emile Durkheim, seorang sosiolog asal Perancis, melihat keterikatan manusia dengan agama dari sudut pandang sosiologis, dimana dia mengatakan bahwa dalam setiap kebudayaan, masyarakat telah merancang sistem kepercayaan mereka sendiri sebagai susuatu yang logis dalam merespon fenomena alam yang mereka temukan.2 Sementara Sigmund Freud, melihat persoalan agama dari sisi psikologis, dia mengatakan bahwa agama adalah gangguan obsesi internal manusia secara universal.
Pemaparan dia atas, semakin menguatkan argumen kebutuhan manusia akan agama. Kebutuhan ini, merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Agama merupakan ruh bagi tata kehidupan manusia. Agama wahyu, turun dan ada, dan ini merupakan kepedulian Tuhan akan kebutuhan manusia, sebagai pegangan dalam menjalani hidup dan kehidupan, pemahaman terhadap agama banyak mengalami pergeseran. Agama pada akhirnya banyak ditarik ke dalam wilayah politik. Keberadaan agama yang tidak bisa lepas dari kehidupan, membuat manusia yang mempunyai ambisi kekuasaan, terkadang memanfaatkannya sebagai legitimasi dalam melanggengkan kekuasannya. Dengan adanya berbagai macam agama yang ada di dunia ini, tentunya masing-masing agama memiliki umat atau pemeluknya dan tentunya akan pasti tercipta hubungan antar umat beragama.3Lantas, apakah sebenarnya pengertian hubungan antar umat beragama itu? Hal inilah yang menjadi rumusan masalah pada makalah ini yang jawaban dari pertanyaan tersebutlah yang menjadi tujuan penulisan makalah ini.
1 Ridwan Lubis, Agama dalam Perbincangan Sosiologi, (Bandung, Cita Pusaka Media Perintis, 2010), h.1
2 Pals, Daniel L, Dekonstruksi Kebenaran kritik Tujuh teori Agama,(Yogyakarta : InRiCisod, 2001 ) h 158
3 Nunung Nursa’adah, Hubungan Antar Umat Beragama Di Kota Cirebon Kajian Atas Pembentukan Budaya Toleransi Pada Alumni Sekolah Cinta Perdamaian 2014-2016,( YAQZHAN,Volume 4, Nomor 1, Juni 2018),h.26
2
BAB II PEMBAHASAN
A. HubunganHubungan (bahasa Inggris : relationship) adalah kesinambungan interaksi antara dua orang atau lebih yang memudahkan proses pengenalan satu akan yang lain. Hubungan terjadi dalam setiap proses kehidupan manusia. Hubungan dapat dibedakan menjadi hubungan dengan teman sebaya, orang tua, keluarga, dan lingkungan sosial. Secara garis besar, hubungan terbagi menjadi hubungan positif dan negatif.
Hubungan positif terjadi apabila kedua pihak yang berinteraksi merasa saling diuntungkan satu sama lain dan ditandai dengan adanya timbal balik yang serasi.
Sedangkan, hubungan yang negatif terjadi apabila suatu pihak merasa sangat diuntungkan dan pihak yang lain merasa dirugikan.
Dalam hal ini, tidak ada keselarasan timbal balik antara pihak yang berinteraksi.
Lebih lanjut, hubungan dapat menentukan tingkat kedekatan dan kenyamanan antara pihak yang berinteraksi. Semakin dekat pihak-pihak tersebut, hubungan tersebut akan dibawa kepada tingkatan yang lebih tinggi.
Hubungan Juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang terjadi apabila dua orang atau hal atau keadaan saling mempengaruhi dan saling bergantung antara satu dengan yang lainnya. Dalam pandangan lain hubungan adalah suatu kegiatan tertentu yang membawa akibat kepada kegiatan yang lain. Selain itu arti kata hubungan dapat juga dikatakan sebagai suatu proses, cara atau arahan yang menentukan atau menggambarkan suatu obyek tertentu yang membawa dampak atau pengaruh terhadap obyek lainnya.
B. Umat
Jika dilihat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) maka kata umat memiliki dua pengertian. Pertama, umat dalam arti penganut atau pemeluk suatu agama;
pengikut Nabi-Islam-dalam konteks ini maka tak heran kiranya jika kita sering mendengar kalimat “umat beragama”, “umat kristen”, “umat islam” dan lain sebagainya. Kedua, umat dalam arti makhluk manusia, dalam konteks ini maka yang disebut umat itu adalah yang terdiri atau terbentuk dari sekumpulan manusia.4
4 Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Nasional, 2008) h. 1586
3 Al-Miraz Muhsin „Ali Ushfur berpendapat bahwa kata “umat” memiliki tidak kurang dari sembilan makna; yaitu golongan atau keturunan, agama, bilangan tahun, kaum, pemimpin yang dicontoh, pemimpin-pemimpin dari ahlu al-bait secara khusus, bangsa-bangsa yang telah lalu, orang-orang kafir secara khusus, dan penciptaan.
Adapun Syaikh Mustafa al-Maraghi menafsirkan kata umat menjadi lima makna yaitu;
millah (agama), al-jama‟ah (kelompok), az-zaman (waktu), alimam (pemimpin), dan al-umam al-ma‟rufah (umat-umat yang sudah dikenalyahudi, nasrani).5
Didalam Al-Qur’an sendiri ada beberapa ayat yang di dalamnya terdapat kata ummat seperti :
Artinya: Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan- keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
Dalam ayat di atas, pada susunan kalimat kaana an-nasu ummataw wahidah…
menurut „Ali ash-Shabuni di dalamnya terdapat ijaz(penyingkatan). Artinya dalam susunan kalimat tersebut ada beberapa kalimat yang dibuang atau setidaknya tidak disebutkan, menurut ash-Shabuni barangkali asalnya adalah kaana an-nasu ummataw wahidah „ala al-imani mutamassikiina bi alhaq fakhtalafuu… (Manusia itu adalah umat yang satu di atas keimanan, berpegang teguh kepada hak lalu kemudian mereka berselisih…).
5 Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Cairo: Dar al-Fikr) Cet. 3, jld. 1, h. 121.
4 Hal ini selaras dengan apa yang dikutip oleh Ibn Katsir yakni riwayat Ibn Jarir dari Ibn Abbas bahwasannya antara Nuh dan Adam itu berselang sepuluh generasi, semuanya berpegang kepada syariat Allah Swt, barulah setelah itu terjadi perselisihan hingga Allah Swt mengutus para Nabi untuk memberi peringatan dan kabar gembira kepada mereka.6 C. Agama
Agama merupakan suatu hal yang harus di ketahui makna yang terkandung di dalamnya,dan agama tersebut berpijak kepada suatu kodrat kejiwaan yang berupa keyakinan, sehingga dengan demikian, kuat atau rapuhnya Agama bergantung kepada sejauhmana keyakinan itu tertanam dalam jiwa.7
Oleh karena itu, dengan mengetahui makna yang terkandung di dalam agama, makaorang yang beragama tersebut dapat merasakan kelembutan dan ketenangan yang dapat kita ambil dari ajaran agama tersebut.Sehingga dalam mengemukakan definisi dari agama, maka di perlukan suatu pemikiran yang cermat, sebab perkaran ini bukan perkara yang mudah dan gampang untuk dilakukan.8
Agama dari Bahasa Sansekerta yang terdiri dari kata “A” tidak dan “gama”
kacau.Agama adalah peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan serta mengantar mereka hidup dalam keteraturan dan ketertiban.9
Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia. Kepercayaan kepada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu. Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan gaib.
Pengakuan terhadap adanya kewajibankewajiban yang diyakini bersumber dari kekuatan gaib.Selain itu, kata agama berasal dari bahasa sanskerta "A" berarti tidak;
"GAMA" berarti kacau.Sehingga agama berarti tidak kacau.Atau dapat diartikan suatu peraturan yang bertujuan untuk mencapai kehidupan manusia ke arah dan tujuan tertentu.
Dilihat dari sudut pandang kebudayaan, agama dapat berarti sebagai hasil dari
6Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1,( Jakarta : Pustaka Imam Asy-Syafi'i, 2008),h.410
7 Joesef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, (Jakarta, Pustaka al-Husna, 1983), h.16.
8 Ahmad Asir, Agama Dan Fungsinya Dalam Kehidupan Umat Manusia,( Jurnal Penelitian Dan Pemikiran Keislaman,Volume 1, Nomor 1, Februari 2014), h.51
9 Ahmad Asir, Agama Dan Fungsinya Dalam Kehidupan Umat Manusia,h.52
5 suatu kebudayaan, dengan kata lain agama diciptakan oleh manusia dengan akal budinya serta dengan adanya kemajuan dan perkembangan budaya tersebut serta peradabanya.
Bentuk penyembahan Tuhan terhadap umatnya seperti pujian, tarian, mantra, nyanyian dan yang lainya, itu termasuk unsur kebudayaan.10
Sehingga pada sudut pandang dari pengertian Agama yang ini semakin maju peradaban manusia maka agama juga akan mengalami kemajuanya. sedangkan jika dilihat dari sudut pandang sosiologi, agama adalah salah satu tindakan pada suatu sistem kemasyarakatan (sosial) yang terdapat pada diri seseorang tentang kepercayaan terhadap kekuatan tertentu (magis atau spiritual) serta berfungsi untuk perlindungan dirinya dan orang lain.
D. Hubungan Antar Umat Beragama
Hubungan antar umat beragama atau akrab di sebut kerukunan antar umat beragama adalah suatu kondisi sosial ketika semua golongan agama bisa hidup bersama tanpa menguarangi hak dasar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban agamanya.
Masing-masing pemeluk agama yang baik haruslah hidup rukun dan damai. Karena itu kerukunan antar umat beragama tidak mungkin akan lahir dari sikap fanatisme buta dan sikap tidak peduli atas hak keberagaman dan perasaan orang lain.
Tetapi dalam hal ini tidak diartikan bahwa kerukunan hidup antar umat beragama memberi ruang untuk mencampurkan unsur-unsur tertentu dari agama yang berbeda , sebab hal tersebut akan merusak nilai agama itu sendiri.
Hubungan antar umat beragama itu sendiri juga bisa diartikan dengan toleransi antar umat beragama. Dalam toleransi itu sendiri pada dasarnya masyarakat harus bersikap lapang dada dan menerima perbedaan antar umat beragama.
Selain itu masyarakat juga harus saling menghormati satu sama lainnya misalnya dalam hal beribadah, antar pemeluk agama yang satu dengan lainnya tidak saling mengganggu.11
Hubungan antar umat beragama adalah suatu bentuk hubungan yang harmonis dalam dinamika pergaulan hidup bermasyarakat yang saling menguatkan yang di ikat oleh
10 Moqsith Ghazali. Argumen Pluralisme Agama. (Jakarta, Kata Kita:2009).h.29.
11Wahyuddin, Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinngi,(Jakarta PT. Gramedia Widiasarana Indonesia,2009),h. 32.
6 sikap pengendalian hidup dalam wujud:
1. Saling hormat menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.
2. Saling hormat menghormati dan berkerjasama intern pemeluk agama, antar berbagai golongan agama dan umatumat beragama dengan pemerintah yang sama-sama bertanggung jawab membangun bangsa dan Negara.
3. Saling tenggang rasa dan toleransi dengan tidak memaksa agama kepada orang lain.
Dengan demikian hubungan antar umat beragama merupakan salah satu tongkat utama dalam memelihara hubungan suasana yang baik, damai, tidak bertengkar, tidak gerak, bersatu hati dan bersepakat antar umat beragama yang berbeda-beda agama untuk hidup rukun.12
Memahami pengertian hubungan antar umat beragama, tampaknya peraturan bersama diatas mengingatkan kepada bangsa Indonesia bahwa kondisi kerukunan antar umat beragama bukan hanya tercapainya suasana batin yang penuh toleransi antar umat beragama, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mereka bisa saling berkerjasama membagun kehidupan umat beragama yang harmonis itu bukan sebuah hal yang ringan.
Semua ini haarus berjalan dengan hatihati mengingat agama sangat melibatkan aspek emosi umat, sehingga sebagai mereka lebih cenderung dengan kebenaran dari pada mencari kebenaran. Meskipun sudah banyak sejumlah pedoman telah digulirkan, pada umumnya masih sering terjadi gesekan-gesekan dalam menyiarkan agama dan pembangunan rumah ibadah.13
Menurut Durkheim, hubungan adalah proses interaksi antar umat beragama, yang membentuk ikatan-ikatan sosial yang tidak individualis dan menjadi satu kesatuan yang utuh dibawah peran tokoh agama, tokoh masyarakat maupun masyarakat yang mempunyai sistem serta memiliki bagianbagian peran tersendiri yaitu seperti pada umumnya yang terjadi dilingkup masyarakat lain. Durkheim mengatakan bahwa penghapusan diskriminasi menuju kemerdekan berkeyakinan membutuhkan beberapa
12 Alo Liliweri, Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2001),h.255
13 Hasbullah Mursyid, Kompilasi Kebijakan Peraturan Perundang-undangan Kerukunan Antar Umat Beragama, (Jakarta, Puslitbang Kehidupan Beragama, 2008),h. 5
7 prasyarat, antara lain pengakuan dan penghormatan atas pluralisme,merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan kerukunan.14
Dari pengertian kerukunan umat beragama adalah hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling mengerti, saling menghargai satu sama lain tanpa terjadinya benturan dan konflik agama. Maka kita harus berupaya untuk mewujudkan Hubungan antar umat beragama dapat berjalan secara harmonis, sehingga bangsa ini dapat melangsungkan kehidupannya dengan baik.
14 Musahadi, Mediasi dan Konflik di Indonesia,(Semarang, WMC,2007),h.57
8
BAB III PENUTUP
A. KesimpulanHubungan antar umat beragama atau akrab di sebut kerukunan antar umat beragama adalah suatu kondisi sosial ketika semua golongan agama bisa hidup bersama tanpa menguarangi hak dasar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Masing-masing pemeluk agama yang baik haruslah hidup rukun dan damai.
Karena itu kerukunan antar umat beragama tidak mungkin akan lahir dari sikap fanatisme buta dan sikap tidak peduli atas hak keberagaman dan perasaan orang lain.
Dari pengertian kerukunan umat beragama adalah hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling mengerti, saling menghargai satu sama lain tanpa terjadinya benturan dan konflik agama. Maka kita harus berupaya untuk mewujudkan Hubungan antar umat beragama dapat berjalan secara harmonis, sehingga bangsa ini dapat melangsungkan kehidupannya dengan baik .
B. Saran
Tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan dari makalah yang kami buat ini, maka dari itu mohon kiranya para pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun agar kedepannya penulis dapat memperbaiki tulisannya yang berikutnya.
9
DAFTAR PUSTAKA
al-Maraghi, M. (n.d.). Tafsir al-Maraghi. Cairo: Dar al-Fikr.
Asir, A. (2014). Agama Dan Fungsinya Dalam Kehidupan Umat Manusia. Jurnal Penelitian Dan Pemikiran Keislaman, 51.
Ghazali, M. (2009). Argumen Pluralisme Agama. Jakarta: Kata Kita.
Liliweri, A. (2001). Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Lubis, R. (2010). Agama dalam Perbincangan Sosiologi. Bandung: Cita Pusaka Media Perintis.
Mursyid, H. (2008). Kompilasi Kebijakan Peraturan Perundang-undangan Kerukunan Antar Umat Beragama. Jakarta: Puslitbang Kehidupan Beragama.
Musahadi. (2007). Mediasi dan Konflik di Indonesia. Semarang: WMC.
Nursa’adah, N. (2018). Hubungan Antar Umat Beragama Di Kota Cirebon Kajian Atas Pembentukan Budaya Toleransi Pada Alumni Sekolah Cinta Perdamaian 2014-2016.
YAQZHAN, 26.
Pals, D. L. (2001). Dekonstruksi Kebenaran kritik Tujuh teori Agama. Yogyakarta: InRiCisod.
Sou’yb, J. (1983). Agama-agama Besar di Dunia. Jakarta: Pustaka al-Husna.
Syaikh, A. b. (2008). Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi'i.
Tim, P. P. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Nasional.
Wahyuddin. (2009). Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinngi. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.