• Tidak ada hasil yang ditemukan

Informants in this study amounted to 28 people includes principals, student representatives , representatives means infrastructures and high school students in class XI PGRI 1 Padang.

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Informants in this study amounted to 28 people includes principals, student representatives , representatives means infrastructures and high school students in class XI PGRI 1 Padang."

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTATION OF SANCTIONS WEIGHT IN IMPROVING STUDENT DISCIPLINE CLASS XI (CLASS XI STUDENT CASE STUDY IN

PGRI SMA 1 PADANG) Oleh:

Resi Adriani, 1 \ Drs. Wahyu Pramono, M.Si, 2 Elvawati, M.Si

ABSTRACT

Discipline is one of the components that determine the process of achieving educational goals in school, with the students' self -discipline is expected there will be a conducive atmosphere for teaching and learning in schools.The objectives in this study were) to describe the implementation of sanctions weight class XI student at SMA 1 Padang PGRI 2)To Know the weight of sanctions limiting factor in high. The theory used in this study is the social exchange theory pioneered by George C. Homans. This study used a qualitative approach with descriptive type.

Informants in this study amounted to 28 people includes principals, student representatives , representatives means infrastructures and high school students in class XI PGRI 1 Padang. Methods of data collection by :1) interview 2) observation 3) documentation . And data analysis techniques are used by Miles and Huberman ( 1992:20), namely the stage: 1) Collection of data 2) data reduction 3) presenting data 4) drawdown kesimpulan.Unit the analysis of data in this study is an individual.

The results showed that , in the high school weight Sanctions PGRI 1 Padang was first communicated to the student at the time of the MOS ( Student Orientation ) and the parent / walimurid students during school committee meetings . The process of implementation of the weight of sanctions implemented if a student violates school rules and student name are recorded by the teacher on duty and sanctioned in accordance school predefined weights . The process of implementation of sanctions weights through some tahab 1) socialization sanctions weights 2) the implementation of sanctions weights 3) accumulation of sanctions weight 4) criteria weights sanctions . Factors that inhibit the implementation of sanctions weights are 1) the lack of participation of teachers 2) the absence of sanctions recapitulation weights and 3) students who are difficult to be disciplined .

Key words: Perception, Students, Teaching Style.

(2)

PENDAHULUAN

Kedisiplinan merupakan salah satu komponen yang ikut menentukan proses pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Dengan adanya disiplin dalam diri siswa diharapkan akan timbul suasana yang kondusif selama proses belajar mengajar di sekolah. Suatu keadaan yang menunjukkan suasana tertib dan teratur yang dihasilkan oleh orang-orang yang berada dibawah naungan organisasi, karena peraturan- peraturan yang berlaku dihormati dan ditaati, keadaan yang demikian disebut dengan kedisiplinan (Hadari, Nawawi, 1993)

Sekolah sebagai suatu organisasi yang didalamnya terdapat struktur aturan-aturan dan ketentuan bagi anggotanya mempunyai hak serta kewajiban dalam menjaga dan menegakkan disiplin di sekolah. Pihak yang paling utama dalam menegakkan disiplin sekolah adalah guru dan kepala sekolah. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar tetapi lebih dari itu, guru juga sebagai pendidik salah satunya mendidik siswa untuk lebih menegakkan disiplin.

Sebagai salah satu lembaga pendidikan formal yaitu sekolah SMA PGRI 1 Padang, dimana telah mengeluarkan peraturan dan tatatertib peraturan sekolah berupa sanksi bobot.

Sekolah menetapkan sanksi bobot atas setiap pelanggaran yang dilakukan siswanya dalam upanya menegakkan disiplin sekolah. Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan saya selama melakukan PL (Praktek Lapanggan Kependidikan) di SMA PGRI 1 Padang pada bulan Agustus-Januari 2013 saya mengamati dan melakukan tanya jawab langsung dengan guru BK (Bimbingan Konseling) bahwa sistem bobot belum berjalan efektif di SMA PGRI 1 Padang. Pada grafik dibawah ini dapat terlihat tingkat pelangaran

sistem bobot yang dilakukan oleh siswa SMA PGRI 1 Padang pada tahun pelajaran 2012/2013.

Tingkat Pelangaran Sistem Bobot Berdasarkan Kelas Tahun 2012/2013

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul ” Pelaksanaan Sanksi Bobot Dalam Meningkatkan Disiplin Siswa Kelas XI (Studi Kasus Siswa Kelas XI SMA PGRI 1 Padang )

Penelitian ini mengunakan teori pertukaran sosial (Social Exchange Theory) yang dipelopori oleh George C. Homans (1961-1974) dan para ahli ke dua yang menyempurnakan teori pertukaran sosial yaitu Peter, M.Blau (1964-1987). Pemikiran George C.Homans Dalam bukunya bertajuk Social Behavior: Its Elementary Forms . George C.Homans lebih menekankan pada tingkatan mikro, dan Peter M.Blau lebih menekankan pada tingkatan makro. Individu dalam masyarakat berinteraksi antara satu sama lain untuk mendapatkan ganjaran atau faedah tertentu. Di samping mendapat ganjaran atau faedah mereka juga coba mengelak daripada memperoleh sesuatu yang tidak baik dalam interaksi tersebut.

Oleh sebab itu, dalam interaksi antara individu masing-masing merencanakan strategi untuk mendapat ganjaran atau faedah dan juga merencanakan strategi bagi mengelak memperolehi sesuatu yang tidak baik termasuk hukuman (punishment) dari pada interaksi tersebut .

Asas Teori Pertukaran Sosial yaitu, Individu yang berinteraksi secara rasional mencoba memaksimalkan faedah atau ganjaran yang diperoleh atau bakal diperoleh dalam interaksi tersebut. Pertukaran sosial dalam interaksi beroperasi dalam lingkungan norma budaya. Yang mana ganjaran

(3)

(reward) diutamakan daripada hukuman (punishment). Dalam teori pertukaran sosial terdapat unsur kuasa (power) atau perasaan berkuasa (a sense of power).

dikalangan individu-individu yang berinteraksi atau yang berhubungan.

Pihak yang kurang berminat (least interested) dalam perhubungan lazimnya mempunyai kuasa dalam perhubungan tersebut (Homans, 1992:51)

Proposisi yang perlu diperhatikan dalam teori Exchange a. Makin tinggi ganjaran atau

(reward) yang diperoleh atau yang akan diperoleh maka akan semakin besar kemungkinan sesuatu tingkah laku akan diulangi lagi.

b. Dan demikian juga sebaliknya jika hukuman (punishment) yang diperoleh seseorang maka akan kecil juga kemungkinan tingkah laku serupa akan diulangi lagi (Homans, 1992:92)

Alasan peneliti memakai teori pertukaran sosial, karena setiap orang ingin mendapatkan ganjaran (reward) daripada mendapatkan hukuman (punishment). Sama hal nya pemberian hukuman pada siswa yang melanggar peraturan dan tata tertib yang berlaku berfungsi untuk mendidik siswa.

Hukuman perlu diterapkan agar sipelaku tidak mengulanggi sikap atau tingkah laku siswa yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah.Disiplin adalah suatu keadaan yang menunjukkan suasana tertib dan teratur yang dihasilkan oleh orang-orang yang berada di bawah naungan organisasi, karena peraturan-peraturan yang berlaku dihormati dan ditaati secara bertanggung jawab

Sanksi bobot merupakan bentuk sanksi yang diberikan berupa bobot kepada setiap siswa yang melangar peraturan dan tata tertip sekolah, sesuai dengan ketentuan yang telah di tetapkan di sekolah (Suwarno, 1992: 15 ).

Sistem poin adalah suatu sistem alternatif yang dapat di berlakukan di sekolah sebagai upaya untuk menegakkan disiplin sekolah, dalam memberlakukan sistem ini siswa seolah-olah gelanggang permainan di sekolah. Setiap poin pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh para siswa di kumpulkan sampai batas tertentu sampai 1 semester. Sanksi bobot adalah salah satu bentuk pembinaan pada disiplin siswa yang dilakukan oleh guru dan kepala sekolah untuk melakukan bimbingan, pengawasan, arahan supaya siswa melaksanakan disiplin sekolah sesuai aturan yang berlaku. Jika siswa yang melanggar sudah sampai batas maksimal siswa tersebut di keluarkan dari sekolah. Sistem poin (bobot) sebenarnya merupakan pengabungan teori dalam teori PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Afektif dan Menyenangkan). Ada enam ciri-ciri yang mengilhami berlakunya system bobot poin sebagai berikut :

1) Hukuman itu harus jelas dan terang 2) Hukuman harus konsisten

3) Hukuman di berikan dalam waktu secepatnya

4) Bentuk hukuman sebaiknya melibatkan siswa

5) Member hukuman harus objektif 6) Hukuman sebaiknya tidak bersifat

fisik (Charles, 1987: 99 ) a. Fungsi Sanksi Bobot

1) Sebagai dasar bagi para guru dan pelaksana pendidikan lainnya dalam rangka menegakkan tata tertip sekolah

2) Sebagai pedoman bagi guru dalam menentukan nilai kepribadian siswa yang mencakup, kelakuan, kerajinan dan kerapian.Sebagai pedoman bagi para siswa untuk berbuat baik, bertindak dan bertingkah laku sesuai tata tertip sekolah

3) Sebagai sarana kontrol bagi orang tua atau wali selama mereka berada di sekolah

(4)

4) Berada dalam lingkungan sekolah ( Roestiyah, 2001: 65 )

1. Konsep Pelaksanaan Sanksi Bobot Pelaksanaan adalah proses, cara, dan perbuatan melaksanakan suatu peraturan yang ada dalam suatu organisasi (Wayan, 2002:42).

Pelaksanaan merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh suatu badan atau wadah secara terencana, teratur dan terarah guna mencapai tujuan yang diharapkan .

Proses pelaksanaan sanksi bobot pada penelitian ini di awali jika siswa melakukan pelanggaran dan kemudian siswa yang melakukan pelanggaran di pangil oleh guru yang menemukan dan dijatuhi sanksi sesuai dengan jenis pelangaran yang dilakukan sesuai dengan peraturan sanksi yang ada di dalam buku profil sekolah SMA PGRI 1 Padang.

METODE PENELITIAN

Pendekatan pada penelitian ini adalah kualitatif yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati. Tipe penelitian ini adalah deskriptif karena penelitian ini berusaha mendeskrisikan fenomena- fenomena soial yang ada baik alamiah maupun buatan tangan manusia (Sugiono, 2007:99) penelitian ini mendeskripsikan tentang pelaksanaan sanksi bobot sebagai alat meningkatkan disiplin siswa di SMA PGRI 1 Padang.

Informan Penelitian

Informan penelitian adalah orang- orang yang memberikan informasi mengenai data-data dan situasi latar penelitian (Maleong, 2000: 90) Pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sengaja dan sesuai dengan data yang dibutuhkan dan relevan dengan penelitian. Maka informan dalam penelitian ini adalah guru, siswa dan kepala sekolah di SMA PGRI 1 Padang. Kriteria informan pada penelitian ini adalah:

1. Siswa Kelas XI di SMA PGRI I Padang yang sudah melakukan pelanggaran mencapai bobot sebesar 50%

2. Guru yang memberikan sanksi bobot terhadap siswa yang melakukan pelanggaran.

Yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI, kepala sekolah, dan guru yang ada di SMA PGRI 1 Padang. Dengan jumlah 28 Orang, 1 kepala sekolah, 1 wakil kesiswaan, 10 guru bidang studi, dan 18 orang siswa kelas XI di SMA PGRI 1 Padang.

Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data penelitian ini digunakan teknik observasi partisipasi terbatas, wawancara mendalam, dan dokumentasi.

1. Metode observasi

Observasi (observation) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan cara mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlansung. Observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Yang di observasi pada penelitian ini adalah bagaimana cara personil SMA PGRI 1 Padang dalam meninggkatkan disiplin siswa melalui peraturan sanksi bobot dan mengamati para siswa yang melakukan pelanggaran sanksi bobot.

2. Metode Wawancara

Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Untuk itu penulis mencoba mengunakan teknik wawancara mendalam, wawancara mendalam adalah pelaksanaan wawancara dilakukan

(5)

secara berulang-ulang guna mendapatkan informasi yang di inginkan atas masalah yang diteliti (Sugiyono, 2007:72). Penelitian dilakukan di SMA PGRI 1 Padang berlansung pada tangal 27Oktober –19Desember tahun 2013 kepada siswa, guru, kepala sekolah, dan waka kesiswaan. Wawancara dengan kepala sekolah berlansung diruangan kepala sekolah, dengan guru di ruangan majelis guru, waka kesiswaan di ruangan serba guna SMA PGRI sumatera barat, dan dengan para siswa berlansung saat jam istirahat di kantin dan di kelas.

3. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, dan sebagainya, dokumen ini digunakan untuk mencari dokumen penting yang berkaitan dengan penelitian ini.

Yang menjadi data dokumentasi pada penelitian ini adalah profil sekolah SMA PGRI 1 Padang, Data siswa SMA PGRI 1 Padang, Dan bentuk peraturan sanksi bobot yang ada di SMA PGRI 1 Padang.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Proses Pelaksanaan sanksi bobot Pemberian sanksi bobot di SMA PGRI 1 Padang dilakukan oleh semua personil yang ada di SMA PGRI 1 Padang. Baik itu kepala sekolah, wakil, guru piket dan guru BK(Bimbingan Konseling), wali kelas, maupun guru yang menemukan pelanggaran kerjasama yang dilakukan oleh semua pihak sekolah ini dimaksudkan agar peraturan yang telah dibuat diharapkan berjalan dengan baik.

1. Sosialisasi sanksi bobot

Sanksi bobot di

sosialisasikan kepada siswa pada saat baru masuk ke SMA PGRI 1

Padang atau pada saat MOS (Masa orientasi Siswa) melalui pengarahan dari kepala sekolah.

Selain pada saat MOS sosialisasi juga diberikan pada saat belajar di dalam kelas yang biasanya disampaikan oleh guru yang mengajar, dan sosilisasi sanksi bobot ini juga disampaikan pada saat upacara bendera oleh pembina upacara.

2. Pelaksanaan sanksi bobot

Secara khusus sanksi bobot dilaksanakan oleh pembina OSIS, akan tetapi ini secara umum ini tangung jawab semua pihak yang berada di SMA PGRI 1 Padang, baik itu kepala sekolah, wakil, guru piket, dan yang menemukan pelanggaran.

3. Pengakumulasian sanksi bobot

Proses pengakuamulasian bobot atau perhitungan bobot yang telah diperoleh siswa dilakukan oleh wali kelas, perhitungan dilakukan 1 kali dalam 1 semester setelah pengakumulasian dilakukan maka ketentuan selanjutnya akan dijalankan, sesuai dengan rentangan semua bobot yang ada pada peraturan sanksi bobot. Apabila siswa tersebut harus dibina oleh wali kelas, membuat surat perjanjian atau siswa tersebut telah mencapai bobot 100 maka akan diambil keputusan sesuai peraturan yang berlaku.

Dalam pelaksanaan sanksi bobot ini setiap pelanggaran yang dilakukan oleh siswa akan diberikan bobot sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Berdasarkan klasifikasi pelanggaran tersebut berada pada tingkat pelanggaran sering dilakukan oleh siswa adalah pelanggaran seperti, terlambat datang kesekolah, cabut pada jam pelajaran, pelanggaran atribut sekolah. Pelanggran ini mempunyai frekuensi sebanyak 3 hingga 2 orang perharinya.

(6)

Berdasarkan data yang diperoleh dari wakil kesiswaan selama 1 semester ini 2013/2014 terdapat 13 jenis pelanggaran yang dilakukan siswa kelas XI dari yang ringan sampai pada pelanggaran berat tahap pembuatan surat perjanjian, yang terdiri dari berbagai jenis pelanggaran terhadap disiplin sekolah dari 13 kasus ada 9 kasus yang mencapai bobot 50-100 dan ada 2 diantaranya kasus yang diakibatkan oleh kenakalan siswa yang berjudi dan sudah ber

4. Kriteria sanksi bobot

Siswa yang memiliki disiplin tinggi merupakan siswa yang diharapkan mampu memiliki kesadaran, ketaatan, kepatuhan, dan tanggung jawab terhadap peraturan yang berlaku di sekolah. Keberhasilan dari pencapaian disiplin siswa tidak hanya semata-mata tidak adanya pelanggaran yang dilakukan oleh siswa, namun begitu pihak sekolah menemukan adanya pelanggaran maka pihak sekolah seharusnya memberikan sanksi yang sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan oleh siswa. kali-kali dinasehati tapi tidak jera juga. Kriteria pemberian sanksi bobot di SMA PGRI 1 Padang terhadap siswa yang melakukan berbagai macam pelanggaran di sekolah ataupun di luar sekolah.

a. Hal pertama yang dilakukan oleh personil sekolah ketika melihat siswa yang melakukan pelanggaran adalah dengan memberikan nasehat kepada siswa.

b. Dan pemberian hukuman kepada siswa adalah dengan mmenyuruh membersihkan perkaranmgan sekolah, membawa pot bunga.

c. Apabila siswa tersebut tidak mengalami perubahan dan masih sering melakukan pelanggaran maka akan dilakukan pemanggilan orang tua yang

dilakukan sebanyak 4 kali dengan ketentuan kriteria sebagai berikut:

1. Mencapai poin 30 dilakukan pemanggilan pertama (I) terhadap orang tua dan membuat surat perjanjian I

2. Mencapai poin 50 dilakukan pemanggilan kedua (II) terhadap orang tua dan membuat surat perjanjian ke II

3. Mencapai poin 80 diakukan pemanggilan ketiga (III) terhadap orang tua dan membuat surat perjanjian diatas matrai 6000

4. Mencapai poin 100 dilakukan pemanggilan ke empat(

IV)terhadap orang tua untuk menjemput dan mengembalikan siswa yang bersangkutan terhadap orang tua. Pelaksanaan pemanggilaorang tua kesekolah dilakukan oleh guru BK (Bimbingan Konseling),saat berada disekolah tersebut orang tua didampingi oleh siswa yang melakukanpelanggaran,

kemudian guruBK menceritakan kepada orang tuasiswa mengenai kondisi kedisiplinan siswa yang bersangkutankemuanmemngelua rkan surat perjanijian beserta isi pelanggan dan bobot yang telah di dapat siswa yang bersangkutan.

B. Faktor Penghambat Sanksi Bobot Sanksi bobot kurang berjalan efektif dikarenakan oleh beberapa faktor seperti dari siswa sendiri, guru, dan personil sekolah di SMA PGRI 1 Padang. Yang menjadi faktor penghambat berjalannya sanksi bobot di SMA PGRI 1 Padang ini adalah : 1. Kurangnya Partisipasi Guru

Keberhasilan siswa dalam mendisiplinkan diri serta peningkatan mutu sekolah tidak hanya menjadi tangung jawab kepala sekolah akan tetapi menjadi

(7)

tangung jawab bersama semua personil sekolah. Kinerja guru menjadi salah satu unsur dalam upaya peningkatan mutu sekolah, kinerja tersebut meliputi etos kerja dan kedisiplinan. Apabila semua guru dalam sebuah sekolah telah memiliki mutu disiplin tinggi maka sekolah tersebut telah berhasil dalam meningkatkan kwalitas sekolahnya.

2. Ada Sebagian Guru Yang Tidak Merekapitulasi Sanksi Bobot

Rekapitulasi bobot adalah penghitungan sanksi bobot siswa selama 1 semester, hasil dari rekapitulasi sanksi bobot ini sangat penting dalam menentukan seberapa banyak bobot yang diperoleh siswa, namun dalam hal ini ada juga dari beberapa guru yang tidak memberikan hasil rekapitulasi pelanggaran kepada wakil kesiswaan, yang menyebabkan data pelanggaran tersebut hilang begitu saja

3. Siswa Yang Memiliki Tingkat Disiplin Rendah

Sekolah sebagai miniatur masyarakat menampung bermacam- macam siswa dengan latar belakang kepribadian yang berbeda. Mereka heterogen sebab di antara mereka ada yang miskin, ada yang kaya, yang patuh, dan suka menentang, inilah yang dimaksud dengan perbedaan individu antara siswa.

Sesuai dengan asas perbedaan individual diatas maka bisa digolongkan kedalam siswa yang aman dan yang dikatakan dengan siswa yang bermasalah. Seorang siswa dikategoriokan sebagai anak yang bermasalah apabila ia menunjukan gejala-gejala penyimpangan dari perilaku yang lazim dilakukan oleh ank-anak pada umumnya, penyimpangan pada anak ada yang sederhana dan ada juga yang ekstrim.Penyimpangan perilaku

yang sederhana adalah seperti mengantuk dan suka menyendiri, sedangkan penyimpangan yang ekstrim misalnya sering membolos, memeras teman-teman, atupun tidak sopan terhadap guru. Kepatuhan terhadap peraturan tidakbisa dipaksakan oleh siapapun, rasa patuh terhadap

disiplin tidak akan terasa sulit jika dilaksanakan dengan senang hati tampa paksaan dari pihak manapun.

(8)

KESIMPULAN

Jadi pelaksanaan sanksi bobot di SMA PGRI 1 Padang dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Sanksi bobot diterapkan di SMA PGRI 1 Padang sebagai alat untuk meningkatkan disiplin siswa 2. Dari hasil penelitian yang telah

dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa sanksi bobot memiliki proses pelaksanaanya mulai dari sosilisasi sanksi bobot, pelaksanaan sanksi bobot dan pengakumulasian sanksi bobot 3. Dan dari hasil penelitian yang

dilakukan dapat disimpulkan yang menjadi kendala atau faktor penyebab kurang efektifnya sanksi bobot di SMA PGPadang adalah karena faktor ada sebagian guru yang tidak memakai sistem sanksi bobot dalam memberikan hukuman, ada sebagian guru yang tidak menyerahkan rekapitulasi hasil pelanggaran siswa, dan siswa yang memiliki tingkat disiplin rendah.

DAFTAR PUSTAKA

George, C. homans. 1992 .Sosiologi Berparadigma Ganda. Jakarta: Cv Rajawali

Hadari, Nawawi. 1993. Administrasi Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung Maleong, Laxy. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Rosda Karya Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Referensi

Dokumen terkait

Under visible-light irradiation, all the WO3/ FeIII composite nanofibers exhibit higher photocatalytic activity on degradation of MO than pure WO3nanofibers, suggesting that grafting