• Tidak ada hasil yang ditemukan

Instansi: Kementerian Agama

N/A
N/A
exacta 13

Academic year: 2024

Membagikan "Instansi: Kementerian Agama"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Nama Lengkap : Nanang Nabhar Fakhri Auliya NIP : 199005312023211017

Jabatan : Asisten Ahli - Dosen Matematika Instansi : Kementerian Agama

Rangkuman Agenda I

ASN perlu memiliki sikap dan tindakan yang konkret dalam memperkuat kemampuan bela negara. Beberapa sikap dan tindakan yang dapat dilakukan oleh ASN antara lain adalah memiliki kesadaran bela negara yang tinggi, menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, meningkatkan kemampuan dan kompetensi, menghindari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta meningkatkan kemampuan dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman. Dengan memiliki sikap dan tindakan yang konkret tersebut, ASN dapat menjadi agen perubahan yang positif bagi masyarakat dan bangsa Indonesia serta membantu memperkuat kemampuan bela negara.

ASN memiliki tanggung jawab untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa serta menjaga keutuhan NKRI. Untuk itu, ASN perlu menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan lainnya, seperti kepentingan pribadi atau kelompok. Langkah konkret yang dapat dilakukan oleh ASN antara lain adalah memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menghargai keanekaragaman budaya dan agama di Indonesia, serta menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan. Dengan demikian, ASN dapat menjadi agen perubahan yang positif bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.

Dalam konteks bela negara bagi ASN, analisis isu kontemporer dapat membantu ASN untuk memahami isu-isu strategis yang sedang dihadapi oleh negara dan masyarakat, seperti isu terorisme, radikalisme, dan konflik sosial.

Dengan memahami isu-isu ini, ASN dapat mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut dan membangun kesadaran bela negara di kalangan masyarakat. Selain itu, analisis isu juga dapat membantu ASN untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menganalisis isu-isu kontemporer yang relevan dengan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai PNS. Dengan demikian, analisis isu kontemporer dapat menjadi alat yang efektif bagi ASN untuk membangun kesadaran bela negara dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Kesiapsiagaan Bela Negara adalah suatu kondisi siap siaga yang dimiliki oleh seseorang baik secara fisik, mental, maupun sosial untuk menghadapi berbagai ancaman multidimensional yang bisa saja terjadi di masa yang akan datang.

Kesiapsiagaan Bela Negara juga meliputi kesiapan untuk mengabdikan diri secara total kepada negara dan bangsa serta didasari oleh nilai-nilai dasar negara seperti cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, yakin Pancasila sebagai ideologi negara, dan kerelaan berkorban demi bangsa dan negara. Dalam Pelatihan

(2)

Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil, kesiapsiagaan bela negara menjadi titik awal langkah pengabdian yang didasari oleh nilai-nilai dasar negara.

Keterkaitan antara Modul 1, Modul 2, dan Modul 3 dijelaskan sebagai tiga modul yang saling terkait dan saling melengkapi dalam membangun kesiapsiagaan bela negara. Modul 1 membahas tentang dasar-dasar kesiapsiagaan bela negara, Modul 2 membahas tentang kemampuan awal bela negara, dan Modul 3 membahas tentang kemampuan lanjutan bela negara. Ketiga modul ini membantu peserta Pelatihan Dasar CPNS untuk memahami dan mengembangkan kesiapsiagaan bela negara secara komprehensif.

Kesehatan jasmani dan mental dijelaskan sebagai kondisi fisik dan psikis yang prima yang harus dimiliki oleh setiap Warga Negara untuk dapat menghadapi berbagai ancaman multidimensional yang bisa saja terjadi di masa yang akan datang. Kesiapsiagaan jasmani dan mental dijelaskan sebagai kemampuan untuk menghadapi berbagai ancaman dengan kondisi fisik dan psikis yang prima. Etika, etiket, dan moral dijelaskan sebagai nilai-nilai yang harus dimiliki oleh setiap Warga Negara untuk dapat menghadapi berbagai ancaman dengan sikap yang benar dan tepat. Kearifan lokal dijelaskan sebagai nilai-nilai jati diri bangsa yang luhur dan terhormat yang harus dipegang teguh oleh setiap Warga Negara.

Selanjutnya dengan begitu banyak kearifan lokal yang ada di Indonesia maka hal ini terdapat hubungan antara kesiapsiagaan bela negara dengan kearifan lokal, yaitu bahwa kearifan lokal dapat menjadi bagian dari kesiapsiagaan bela negara.

Dalam membangun kesiapsiagaan bela negara, penting untuk memahami nilai-nilai lokal yang ada di masyarakat setempat. Kearifan lokal dapat menjadi sumber daya yang berharga dalam membangun kesiapsiagaan bela negara karena dapat membantu masyarakat setempat dalam menghadapi berbagai ancaman yang mungkin terjadi di lingkungan sekitar mereka. Selain itu, memahami kearifan lokal juga dapat membantu membangun rasa nasionalisme dan kebangsaan yang kuat di kalangan masyarakat setempat. Oleh karena itu, kearifan lokal dapat menjadi bagian penting dari upaya membangun kesiapsiagaan bela negara.

Kegiatan kesiapsiagaan bela negara bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam memahami kerangka bela negara, dasar-dasar kesiapsiagaan bela negara, menyusun rencana aksi bela negara, dan melakukan kegiatan kesiapsiagaan bela negara sebagai kemampuan awal bela negara. Kegiatan ini meliputi berbagai aspek seperti baris berbaris dan upacara, keprotokolan, kewaspadaan diri, membangun tim, dan Caraka Malam dan Api Semangat Bela Negara. Dengan melakukan kegiatan kesiapsiagaan bela negara dengan baik, peserta dapat membentuk sikap disiplin, kebersamaan, solidaritas, mental dan fisik yang tangguh, rasa kecintaan pada bangsa dan patriotisme, serta melatih jiwa leadership dalam memimpin diri sendiri maupun kelompok. Kegiatan kesiapsiagaan bela negara mencakup beberapa hal, antara lain:

1. Baris berbaris dan upacara: Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kedisiplinan dan kekompakan peserta dalam melaksanakan tugas-tugas bela negara.

Peserta akan dilatih untuk melakukan gerakan-gerakan baris berbaris dan upacara dengan baik dan benar

(3)

2. Keprotokolan: Kegiatan ini bertujuan untuk melatih peserta dalam mengenal dan memahami protokol negara serta tata cara penyelenggaraan upacara kenegaraan. Peserta akan dilatih untuk menjadi seorang yang mampu mengatur dan melaksanakan protokol negara dengan baik

3. Kewaspadaan diri: Kegiatan ini bertujuan untuk melatih peserta dalam mengenali ancaman dan bahaya yang mungkin terjadi di sekitar lingkungan kerja atau tempat tinggal. Peserta akan dilatih untuk menjadi seorang yang waspada dan siap menghadapi situasi darurat

4. Membangun tim: Kegiatan ini bertujuan untuk melatih peserta dalam membangun kerja sama dan kekompakan dalam sebuah tim. Peserta akan dilatih untuk menjadi seorang yang mampu bekerja sama dengan baik dalam sebuah tim

5. Caraka Malam dan Api Semangat Bela Negara: Kegiatan ini bertujuan untuk melatih peserta dalam menghadapi situasi darurat pada malam hari. Peserta akan dilatih untuk menjadi seorang yang mampu bertindak cepat dan tepat dalam situasi darurat pada malam hari. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk membangkitkan semangat bela negara pada peserta

Agenda 2

Nilai-nilai Dasar ASN

1. Berorientasi Pelayanan

Pengertian pelayanan publik menjelaskan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah atau lembaga publik lainnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pelayanan publik harus dilakukan dengan cara yang baik, cepat, dan efektif. Untuk memberikan pelayanan publik yang baik, diperlukan budaya pelayanan prima. Budaya pelayanan prima dijelaskan sebagai sikap dan perilaku yang baik dalam memberikan pelayanan publik.

Budaya pelayanan prima harus dimiliki oleh seluruh pegawai publik.

ASN (Aparatur Sipil Negara) dijelaskan sebagai pelayan publik yang harus mampu memberikan pelayanan yang baik dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. ASN harus memiliki kompetensi dan integritas yang baik dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan publik. Oleh karena itu, ASN harus memahami pengertian pelayanan publik dan membangun budaya pelayanan prima agar dapat memberikan pelayanan publik yang baik dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Berorientasi pelayanan adalah konsep yang sangat penting dalam pelaksanaan tugas pelayanan publik. Konsep ini mengacu pada sikap dan perilaku yang berfokus pada kebutuhan masyarakat dalam memberikan pelayanan publik. ASN harus memahami dan memenuhi kebutuhan masyarakat, serta memberikan pelayanan yang ramah, cekatan, solutif, dan dapat diandalkan. ASN juga harus melakukan perbaikan tiada henti untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.

(4)

Pentingnya berorientasi pelayanan terletak pada upaya untuk meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik. ASN harus memahami bahwa tugas pelayanan publik sangat erat kaitannya dengan pegawai ASN, sehingga sangatlah penting untuk memastikan bahwa ASN mengedepankan nilai Berorientasi Pelayanan dalam pelaksanaan tugasnya.

ASN harus berkomitmen memberikan pelayanan prima demi kepuasan masyarakat. Dalam konteks ini, ASN harus memahami bahwa kepuasan masyarakat adalah tujuan utama dari pelayanan publik.

Prinsip-prinsip berorientasi pelayanan menjadi panduan dalam memberikan pelayanan publik yang baik dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Prinsip-prinsip tersebut antara lain menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama, memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan akurat, memberikan pelayanan yang ramah, sopan, dan santun, memberikan pelayanan yang mudah diakses dan mudah dipahami, serta memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada seluruh masyarakat.

Prinsip-prinsip ini harus diimplementasikan oleh ASN dalam pelaksanaan tugasnya sebagai pelayan publik.

Pelayanan publik di Indonesia masih memiliki banyak kekurangan.

Birokrasi yang rumit, kurangnya keterbukaan informasi, dan masih banyak lagi.

Hal ini menyebabkan masyarakat merasa tidak puas dengan pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah. Hal ini menjadikan tantangan yang dihadapi oleh pelayanan publik di Indonesia sangatlah kompleks. Beberapa tantangan tersebut antara lain adalah meningkatkan kualitas pelayanan publik, meningkatkan efektivitas birokrasi, dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan. Untuk itu mental melayani sangatlah penting dalam memberikan pelayanan publik yang baik. ASN harus memiliki sikap yang baik, seperti ramah, sopan, dan sabar dalam melayani masyarakat. ASN juga harus memiliki kemampuan untuk memahami kebutuhan masyarakat dan memberikan solusi yang tepat. Dengan memiliki keutamaan mental melayani yang baik, ASN dapat memberikan pelayanan publik yang lebih baik dan memuaskan masyarakat.

2. Akuntabel

Potret layanan publik di Indonesia masih terdapat berbagai masalah, seperti birokrasi yang rumit, korupsi, dan pelayanan yang tidak memuaskan. Hal ini menjadi tantangan bagi PNS dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, CPNS perlu memahami tantangan yang dihadapi dalam memberikan pelayanan publik yang baik.

Tantangan layanan publik di Indonesia meliputi masalah birokrasi yang rumit, korupsi, dan pelayanan yang tidak memuaskan. Hal ini menjadi tantangan bagi PNS dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, CPNS perlu memahami tantangan yang dihadapi dalam memberikan pelayanan publik yang baik. Selain itu, CPNS juga perlu memahami pentingnya mental melayani, yaitu sikap dan perilaku yang

(5)

harus dimiliki oleh PNS dalam memberikan pelayanan publik yang baik. Dalam modul ini, CPNS akan mempelajari tentang keutamaan mental melayani, seperti kesediaan untuk membantu, kesabaran, dan kejujuran.

Keutamaan mental melayani menjadi penting dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

CPNS perlu memahami bahwa pelayanan publik bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan bagi masyarakat. Oleh karena itu, CPNS perlu memiliki sikap dan perilaku yang baik, seperti kesediaan untuk membantu, kesabaran, dan kejujuran. Dalam modul ini, CPNS akan mempelajari tentang keutamaan mental melayani dan bagaimana cara menerapkannya dalam memberikan pelayanan publik yang baik.

Akuntabilitas adalah prinsip dasar bagi organisasi yang berlaku pada setiap level/unit organisasi sebagai suatu kewajiban jabatan dalam memberikan pertanggungjawaban laporan kegiatan kepada atasannya. Dalam hal ini, akuntabilitas meliputi hubungan antara individu/kelompok/institusi dengan negara dan masyarakat. Pemberi kewenangan bertanggungjawab memberikan arahan yang memadai, bimbingan, dan mengalokasikan sumber daya sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dilain sisi, individu/kelompok/institusi bertanggungjawab untuk memenuhi semua kewajibannya.

Aspek-aspek akuntabilitas meliputi transparansi dan akses informasi, praktek kecurangan dan perilaku korupsi, penggunaan sumber daya milik negara, dan penyimpanan serta penggunaan data dan informasi pemerintah.

CPNS akan mempelajari bagaimana cara menerapkan konsep akuntabilitas secara menyeluruh dalam organisasi pemerintahan, termasuk dalam hal transparansi dan akses informasi, praktek kecurangan dan perilaku korupsi, penggunaan sumber daya milik negara, dan penyimpanan serta penggunaan data dan informasi pemerintah.

Pentingnya akuntabilitas dalam organisasi pemerintahan adalah untuk memastikan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan oleh PNS dapat dipertanggungjawabkan secara transparan dan akuntabel. Hal ini akan membantu meningkatkan kualitas pelayanan publik dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Tingkatannya meliputi akuntabilitas individu, akuntabilitas kelompok, dan akuntabilitas institusi.

Perilaku akuntabel adalah perilaku yang mencerminkan kewajiban seseorang untuk bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan yang diambil dalam melaksanakan tugasnya. Perilaku akuntabel meliputi kemampuan untuk melaksanakan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, cermat, disiplin, dan berintegritas tinggi. Selain itu, perilaku akuntabel juga mencakup kemampuan untuk menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif, dan efisien serta tidak menyalahgunakan kewenangan jabatan.

PNS yang memiliki perilaku akuntabel akan mampu memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya dengan baik, sehingga dapat memberikan pelayanan

(6)

publik yang berkualitas dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Selain itu, perilaku akuntabel juga dapat membantu mencegah terjadinya tindakan korupsi dan penyalahgunaan wewenang di lingkungan kerja.

Untuk dapat memiliki perilaku akuntabel, PNS perlu memahami konsep akuntabilitas dan panduan perilaku akuntabel yang telah ditetapkan. PNS juga perlu membangun pola pikir antikorupsi dan menghindari konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya. Dalam hal ini, PNS perlu mengikuti mekanisme akuntabilitas yang telah ditetapkan dan melaporkan kinerjanya secara transparan dan akuntabel kepada atasan dan stakeholders lainnya.

Dalam konteks organisasi pemerintah, akuntabel berarti bahwa setiap PNS harus bertanggung jawab atas tugas dan kewajibannya secara transparan dan akuntabel. Hal ini mencakup kemampuan untuk melaksanakan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, cermat, disiplin, dan berintegritas tinggi. Selain itu, PNS juga harus menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif, dan efisien serta tidak menyalahgunakan kewenangan jabatan.

PNS yang akuntabel harus memahami konsep akuntabilitas dan panduan perilaku akuntabel yang telah ditetapkan. PNS juga harus membangun pola pikir antikorupsi dan menghindari konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya.

Dalam hal ini, PNS perlu mengikuti mekanisme akuntabilitas yang telah ditetapkan dan melaporkan kinerjanya secara transparan dan akuntabel kepada atasan dan stakeholders lainnya.

Selain itu, dalam konteks organisasi pemerintah, akuntabilitas juga mencakup transparansi dan akses informasi, praktek kecurangan dan perilaku korupsi, penggunaan sumber daya milik negara, dan penyimpanan serta penggunaan data dan informasi pemerintah. Oleh karena itu, PNS harus memastikan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan secara transparan dan akuntabel, sehingga dapat memberikan pelayanan publik yang berkualitas dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

3. Kompeten

Tantangan lingkungan strategis meliputi isu-isu utama terkait yaitu Vuca dan disrupsi teknologi. Vuca merupakan singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity, yang menggambarkan lingkungan bisnis yang tidak stabil, tidak pasti, kompleks, dan ambigu. Sementara itu, disrupsi teknologi merujuk pada perubahan yang signifikan dalam teknologi yang dapat mengganggu atau mengubah cara kerja organisasi dan masyarakat secara keseluruhan.

Kedua tantangan ini berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan termasuk penyesuaian pekerjaan ASN. Oleh karena itu, modul ini bertujuan untuk membekali CPNS dengan pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya mewujudkan ASN yang profesional dan kompeten. Dalam modul ini, CPNS akan mempelajari faktor kritikal yang menuntut perubahan mindset dan pendekatan

(7)

dalam penyesuaian pengelolaan aparatur, serta kompetensi dan karakteristik baru, sejalan pula dengan tuntutan nilai dasar ASN BerAkhlak. Dengan demikian, CPNS diharapkan dapat menghadapi tantangan lingkungan strategis dengan lebih siap dan responsif.

Kebijakan pembangunan aparatur yaitu berbasis merit. Seluruh aspek pengelolaan ASN harus memenuhi kesesuaian kualifikasi, kompetensi, dan kinerja, dan tidak boleh ada perlakuan diskriminatif, seperti karena hubungan agama, kesukuan atau aspek-aspek primodial lainnya yang bersifat subyektif.

Dalam tahap pembangunan Aparatur Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, kebijakan ini akan ditekankan pada aspek wujud birokrasi berkelas dunia dengan dicirikan SMART ASN. Diharapkan setiap ASN termasuk Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) memiliki pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya mewujudkan ASN yang profesional dan kompeten.

Pengembangan kompetensi dalam Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap menjadi dasar dalam proses pengembangan kompetensi dalam lingkungan pekerjaan. Dalam hal terdapat keterbatasan kesempatan pengembangan kompetensi, prioritas diberikan dengan memperhatikan hasil penilaian kinerja PPPK yang bersangkutan. Pelaksanaan pengembangan kompetensi dilakukan paling lama 24 jam pelajaran dalam 1 tahun masa perjanjian kerja. Pelaksanaan pengembangan kompetensi dikecualikan bagi PPPK yang melaksanakan tugas sebagai JPT Utama tertentu dan JPT Madya tertentu. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengembangan kompetensi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Lembaga Administrasi Negara.

Perilaku kompeten merupakan perilaku yang mencerminkan kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

Perilaku kompeten meliputi kemampuan untuk berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, bekerja sama dalam tim, mengambil inisiatif, dan beradaptasi dengan perubahan. Dalam Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil, peserta latsar CPNS diharapkan dapat memahami dan menerapkan perilaku kompeten dalam lingkungan kerja. Hal ini penting untuk menciptakan ASN yang profesional dan kompeten serta mampu menghadapi tantangan lingkungan strategis yang semakin kompleks.

4. Harmonis

Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman bangsa dan budaya. Terdapat lebih dari 300 kelompok etnis yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, masing-masing dengan bahasa, adat istiadat, dan kepercayaan yang berbeda-beda. Selain itu, Indonesia juga memiliki keanekaragaman budaya yang sangat kaya, seperti seni tari, musik, dan kerajinan tangan.

Keanekaragaman ini menjadi kekayaan yang sangat berharga bagi Indonesia, namun juga menjadi tantangan dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, penting bagi setiap pegawai ASN untuk memahami dan menghargai keanekaragaman bangsa dan budaya di Indonesia serta mampu

(8)

menciptakan suasana harmonis dalam lingkungan bekerja dan memberikan layanan yang baik kepada masyarakat.

Untuk mewujudkan suasana harmonis dalam lingkungan bekerja dan memberikan layanan yang baik kepada masyarakat, setiap pegawai ASN harus memiliki sikap dan perilaku yang baik. Sikap dan perilaku yang baik antara lain adalah menghargai perbedaan, tidak diskriminatif, tidak korupsi, transparan, akuntabel, dan memuaskan publik. Selain itu, pegawai ASN juga harus mampu mengatasi permasalahan keberagaman dan menjadi unsur perekat bangsa dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan memiliki sikap dan perilaku yang baik serta mampu mengatasi permasalahan keberagaman, pegawai ASN dapat menciptakan suasana harmonis dalam lingkungan bekerja dan memberikan layanan yang baik kepada masyarakat.

5. Loyal

Loyalitas adalah suatu sikap atau perilaku yang menunjukkan kesetiaan dan ketaatan seseorang terhadap suatu hal atau orang. Dalam konteks organisasi pemerintah, loyalitas diartikan sebagai kesetiaan dan ketaatan terhadap aturan dan pemerintah yang sah. Sebagai seorang pegawai negeri sipil, perilaku loyal harus tercermin dalam tindakan dan sikap yang memegang teguh ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta menjaga nama baik sesama ASN, pimpinan instansi, dan negara. Selain itu, perilaku loyal juga harus menjaga rahasia jabatan dan negara.

Perilaku loyal dalam konteks organisasi pemerintah juga dapat diwujudkan melalui komitmen pada sumpah atau janji sebagai wujud loyalitas PNS, penegakkan disiplin sebagai wujud loyalitas PNS, pelaksanaan fungsi ASN sebagai wujud loyalitas PNS, serta aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai wujud loyalitas PNS. Dalam hal ini, seorang pegawai negeri sipil harus memiliki kesadaran bela negara yang tinggi dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan sehari-hari. Dengan perilaku loyal yang baik, seorang pegawai negeri sipil dapat memberikan kontribusi positif bagi organisasi pemerintah dan masyarakat secara umum.

Loyal dalam konteks organisasi pemerintah adalah sikap atau perilaku yang menunjukkan kesetiaan dan ketaatan terhadap aturan dan pemerintah yang sah. Sebagai seorang pegawai negeri sipil, perilaku loyal harus tercermin dalam tindakan dan sikap yang memegang teguh ideologi Pancasila, Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta menjaga nama baik sesama ASN, pimpinan instansi, dan negara. Perilaku loyal juga dapat diwujudkan melalui komitmen pada sumpah atau janji, penegakkan disiplin, pelaksanaan fungsi ASN, serta aktualisasi nilai-nilai Pancasila. Dengan perilaku loyal yang baik, seorang pegawai negeri sipil dapat memberikan kontribusi positif bagi organisasi pemerintah dan masyarakat secara umum.

6. Adaptif

(9)

Adaptif sebagai nilai dan budaya ASN merupakan kampanye untuk membangun karakter adaptif pada diri ASN sebagai individu yang menggerakkan organisasi untuk mencapai tujuannya. Budaya adaptif dalam pemerintahan merupakan budaya organisasi di mana ASN memiliki kemampuan menerima perubahan, termasuk penyelarasan organisasi yang berkelanjutan dengan tingkat kepercayaan, perilaku tanggung jawab, unsur kepemimpinan, dan lainnya. ASN yang adaptif memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lingkungan dan tuntutan tugas yang semakin kompleks.

Perilaku adaptif dalam konteks organisasi pemerintah meliputi kemampuan untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan masalah, mampu berkomunikasi dengan baik, dan memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam tim. ASN yang adaptif juga memiliki kemampuan untuk mengambil inisiatif dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya, serta mampu menghadapi tantangan dan perubahan dengan sikap yang positif.

Dalam konteks organisasi pemerintah, adaptif juga berarti memiliki kemampuan untuk mengikuti perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat, serta mampu mengintegrasikan teknologi dan informasi tersebut dalam pelaksanaan tugas. Selain itu, adaptif juga berarti memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan kebijakan dan regulasi yang terjadi di lingkungan kerja, serta mampu mengambil tindakan yang tepat dalam menghadapi perubahan tersebut. Dengan demikian, ASN yang adaptif dapat membantu organisasi pemerintah untuk tetap relevan dan efektif dalam menjalankan tugasnya.

7. Kolaboratif

Konsep kolaborasi pemerintahan (collaborative governance) adalah suatu pendekatan dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kebijakan publik yang melibatkan partisipasi aktif dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta. Kolaborasi pemerintahan bertujuan untuk menciptakan kebijakan yang lebih efektif, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dalam konsep kolaborasi pemerintahan, pemerintah berperan sebagai fasilitator dan koordinator dalam mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Praktik kolaborasi pemerintah meliputi panduan perilaku kolaboratif, hasil penelitian praktik kolaborasi pemerintah, serta studi kasus praktik kolaborasi pemerintah. Panduan perilaku kolaboratif memberikan arahan tentang bagaimana cara berkolaborasi yang efektif dan efisien antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Panduan ini mencakup prinsip-prinsip kolaborasi, seperti transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi aktif dari semua pihak yang terlibat. Hasil penelitian praktik kolaborasi pemerintah memberikan gambaran tentang praktik kolaborasi yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup.

Studi kasus praktik kolaborasi pemerintah memberikan contoh-contoh nyata

(10)

tentang kolaborasi pemerintah yang berhasil dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Aspek normatif kolaborasi pemerintah mencakup ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kolaborasi pemerintah. Beberapa ketentuan tersebut antara lain terdapat pada Pasal 34 ayat (4) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan yang mengatur tentang penyelenggaraan pemerintahan yang melibatkan kewenangan lintas badan dan/atau pejabat pemerintahan dilaksanakan melalui kerja sama antar-badan dan/atau pejabat pemerintahan yang terlibat, kecuali ditentukan lain dalam ketentuan peraturan perundang- undangan. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi pemerintah diatur dalam peraturan perundang-undangan dan harus dilakukan secara terstruktur dan terkoordinasi.

Agenda III

Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI 1. SMART ASN

Literasi digital adalah kemampuan individu untuk menggunakan teknologi digital secara efektif dan efisien dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mencakup kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi yang diperoleh dari media digital. Literasi digital juga mencakup kemampuan untuk menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak TIK serta sistem operasi digital dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi literasi digital dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti pelatihan dan pengembangan kurikulum literasi digital di sekolah, penyediaan akses internet yang terjangkau dan mudah diakses, serta kampanye kesadaran literasi digital di masyarakat.

Pilar literasi digital terdiri dari empat area kompetensi, yaitu kecakapan digital, budaya digital, etika digital, dan keamanan digital. Kecakapan digital mencakup kemampuan teknis dalam menggunakan perangkat digital dan aplikasi. Budaya digital mencakup pemahaman tentang norma dan nilai yang berlaku dalam dunia digital. Etika digital mencakup pemahaman tentang hak dan kewajiban dalam berinteraksi di dunia digital. Keamanan digital mencakup pemahaman tentang cara menjaga keamanan dan privasi data di dunia digital.

Pilar literasi digital ini dapat diimplementasikan melalui berbagai program dan kurikulum literasi digital yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan afektif masyarakat dalam menguasai teknologi digital.

Implementasi literasi digital adalah kemampuan individu untuk memahami, menggunakan, dan mengevaluasi informasi yang ditemukan di dunia digital. Hal ini meliputi kemampuan untuk menggunakan teknologi digital, memahami etika digital, mengelola informasi secara efektif, dan memahami risiko keamanan digital. Implementasi literasi digital sangat penting dalam era digital saat ini, di mana teknologi digital semakin canggih dan informasi semakin mudah diakses. Dengan memiliki literasi digital yang baik, individu dapat

(11)

memanfaatkan teknologi digital secara efektif dan aman, serta menghindari risiko keamanan digital seperti penipuan online dan pencurian identitas.

Implementasi literasi digital dapat diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan, implementasi literasi digital dapat membantu siswa untuk memahami dan menggunakan teknologi digital dalam pembelajaran, serta memahami etika digital dan risiko keamanan digital. Dalam pekerjaan, implementasi literasi digital dapat membantu karyawan untuk menggunakan teknologi digital secara efektif dan aman, serta memahami risiko keamanan digital dalam pekerjaan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, implementasi literasi digital dapat membantu individu untuk menggunakan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari, seperti melakukan transaksi online dan berkomunikasi melalui media sosial, serta memahami etika digital dan risiko keamanan digital yang terkait.

2. Manajeman ASN

Konsep Sistem Merit dalam Pengelolaan ASN adalah suatu konsepsi dalam manajemen sumber daya manusia yang menggambarkan diterapkannya obyektifitas dalam keseluruhan proses pengelolaan ASN. Sistem merit pada dasarnya mengacu pada pertimbangan kemampuan dan prestasi individu dalam melaksanakan pekerjaannya, baik dalam hal kompetensi maupun kinerja. Dalam penerapannya, sistem merit memberikan penghargaan dan pengakuan atas kinerja yang tinggi, sementara bagi pegawai yang memiliki kinerja buruk, sistem merit memberikan bantuan untuk meningkatkan kinerjanya.

Mekanisme pengelolaan ASN pada dasarnya adalah kebijakan dan praktek dalam mengelola aspek manusia atau sumber daya manusia dalam organisasi. Mekanisme ini meliputi manajemen PNS dan PPPK, pengelolaan jabatan pimpinan tinggi, organisasi, sistem informasi ASN, dan penyelesaian sengketa. Dalam pengelolaan ASN, penting untuk memperhatikan aspek-aspek seperti perekrutan, penempatan, pengembangan karir, penilaian kinerja, penghargaan, dan sanksi. Selain itu, pengelolaan ASN juga harus memperhatikan prinsip-prinsip seperti transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi.

Dalam pengelolaan ASN, jaminan sistem merit pada semua aspek pengelolaan pegawai akan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran dan kinerja. Dengan menerapkan sistem merit, pegawai akan merasa dihargai dan diakui atas kinerjanya yang tinggi, sementara bad performers akan mengetahui dimana kelemahan mereka dan diberikan bantuan dari organisasi untuk meningkatkan kinerja. Dalam hal ini, sistem merit dapat menjadi alat yang efektif dalam meningkatkan kinerja pegawai dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif.

Keterkaitan antar Agenda

(12)

Pentingnya peran Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam memperkuat kemampuan bela negara, nilai-nilai dasar ASN, serta kedudukan dan peran PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saling terkait dan memiliki pengaruh yang signifikan. Berikut adalah keterkaitan-keterkaitan tersebut:

1. Kontribusi terhadap Kemampuan Bela Negara:

a. Patriotisme dan Nasionalisme: Sebagai bagian dari masyarakat, ASN diharapkan memiliki tingkat patriotisme dan nasionalisme yang tinggi terhadap NKRI. Hal ini akan mendorong mereka untuk berkontribusi secara aktif dalam upaya bela negara, baik dalam situasi normal maupun darurat.

b. Kemampuan Administrasi dan Logistik: Dalam situasi darurat atau konflik, aparat seperti polisi, petugas kesehatan, petugas administrasi, dan sejenisnya diperlukan untuk menjaga kelancaran administrasi dan pelayanan publik. Kemampuan administrasi yang baik akan berkontribusi pada kelangsungan negara.

2. Penerapan Nilai-Nilai Dasar ASN:

a. Integritas Tinggi: ASN yang memiliki integritas tinggi akan menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan menjauhi tindakan korupsi. Ini akan berdampak positif pada kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, yang pada akhirnya memperkuat ketahanan negara.

b. Bekerja untuk Kepentingan Bersama: Nilai ini penting dalam konteks bela negara, di mana setiap individu ASN berkomitmen untuk bekerja demi kepentingan nasional, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.

3. Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI:

a. Pilar Pemerintahan: ASN, atau PNS, merupakan pilar pemerintahan yang mendukung pelaksanaan fungsi negara. Mereka terlibat dalam berbagai bidang seperti administrasi, keamanan, kesehatan, dan pendidikan, yang semuanya penting dalam mempertahankan kedaulatan negara.

b. Implementasi Kebijakan Negara: PNS berperan dalam mengimplementasikan berbagai kebijakan negara di tingkat pemerintahan daerah maupun pusat. Keberhasilan implementasi kebijakan ini akan berdampak pada stabilitas dan perkembangan negara.

Dengan demikian, Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) memiliki peran yang sangat penting dalam memperkuat kemampuan bela negara dan menjaga keutuhan NKRI. Melalui penerapan nilai-nilai dasar ASN, seperti integritas dan bekerja untuk kepentingan bersama, serta melalui kontribusi mereka dalam berbagai bidang administrasi dan pemerintahan, mereka secara aktif mendukung fungsi-fungsi kritis negara dalam situasi normal maupun dalam keadaan darurat.

Referensi

Dokumen terkait

Bela Negara adalah suatu tekad, sikap dan tindakan warga Negara yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berlanjut dengan dilandasi kecintaan pada tanah air Indonesia.

1 tahun 1988, bela Negara adalah tekad, sikap, dan tindakan warga negara yang teratur, meyeluruh, terpadu, dan berkelanjutan yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air,

Dalam perceraian ASN ini memang sedikit agak rumit dalam melakukan persyaratannya dikarenakan untuk menjaga nama baik bagi pengabdi Negara (ASN). Di Kabupaten

Cinta tanah air atau bela negara adalah tekad, sikap, dan tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu, dan berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air,

Keprihatinan terhadap kondisi bangsa, telah menggugah Menteri Agama untuk mengajak seluruh Apara- tur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kemenag yang merupakan bagian dari

Motif mahasiswa melakukan kegiatan olahraga workout from home yaitu ingin menjaga kebugaran, ingin menjaga kesehatan, ingin mendapatkan tubuh yang ideal, ingin

Mengatasi anemia, Meningkatkan daya tahan tubuh, Menjaga kesehatan mata, Meningkatkan vitalitas pria, Menjaga kesehatan tulang, Mengobati luka, Memperlancar ASI, Cegah

TUJUAN BELA NEGARA SASARAN MENGUATNYA RASA CINTA TANAH AIR MENGUATNYA KESADARAN BERBANGSA DAN BERNEGARA BELA NEGARA SECARA PSIKIS BELA NEGARA SECARA FISIK KEMAMPUAN: