• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU "

Copied!
99
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Identifikasi Masalah

Batasan Masalah

Rumusan Masalah

Sehingga di Pondok Pesantren Harsallakum Al-Qur'an akan terbentuk karakter santri yang religius, jujur, toleran, mandiri dan disiplin. Wisuda Anak MTs di Pondok Pesantren Harsallakum Al-Qur'an No Tahun Pelajaran Tingkat Kelulusan. 35 Sumber data Pesantren Al-Qur'an Harsallakum Kota Bengkulu bersama Umi Lina pada tanggal 4 November 2020.

Saya juga sependapat dengan ustadz eko sebagai guru senior di pondok pesantren Al-Qur'an Harsallakum. Terkadang ustadz yang mengajar di Pondok Pesantren Al-Qur'an Harsallakum kewalahan dalam mendidik santrinya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kegiatan sosialisasi di Pondok Pesantren Harsallakum Al-Qur'an sangat banyak.

Terkadang para ustadz yang mengajar di Panti Asuhan Islam Al-Qur'an Harsallakum kewalahan dalam mendidik santrinya. Strategi pembentukan karakter religius, jujur, toleran, mandiri dan disiplin santri di Pondok Pesantren Harsallakum Al-Qur'an.

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

Sistematika Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, penulis akan membahas permasalahan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Bab ini merupakan dasar yang digunakan dalam penyusunan penelitian yang berkaitan dengan kajian teori, hasil penelitian sebelumnya.

LANDASAN TEORI

Pengertian karakter

Pendidikan karakter adalah upaya sadar untuk mengembangkan karakter yang baik berdasarkan kebajikan inti secara objektif untuk individu dan masyarakat. Menurut Philips, sebagaimana dikutip Syarbini, karakter adalah seperangkat nilai yang mengarah pada suatu sistem yang mendasari pikiran, perasaan, sikap, dan perilaku yang ditunjukkan seseorang. Definisi tersebut sejalan dengan penjelasan Thomas Lickona yang menekankan bahwa pendidikan karakter yang baik tidak hanya menyangkut aspek-aspek saja.

7 Amirullah Syarbini, Buku Pintar Pendidikan Karakter; Panduan lengkap pendidikan karakter anak di sekolah, madrasah dan rumah tangga, (Jakarta: As@-Prima Pustaka, 2012), hlm. Menurut Robin Sirait, pendidikan karakter adalah suatu proses yang dilakukan oleh manusia untuk mengembangkan kepribadian seseorang sesuai dengan nilai-nilai untuk memperoleh peningkatan potensi yang ada dalam diri manusia berupa akhlak atau etika seperti nilai-nilai religius, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kemandirian, saling menghargai dan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan nyata sehingga emosional dan intelektual dapat mencapai kedewasaan untuk menjadi manusia yang sempurna (manusia). 8 Robin Sirait, Implementasi Pendidikan Karakter di SMP ISLAM SITI HAJAR MEDAN, At – Tazakki Vol 1, No 2 (2017) Hal.

Dalam kerangka pendidikan Islam, pendidikan karakter adalah pendidikan tentang landasan moral dan keutamaan budi pekerti, sifat-sifat yang harus dimiliki anak dan membentuk kebiasaan sejak dini. Berdasarkan penjelasan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah sifat yang mantap, mantap dan istimewa yang melekat pada diri seseorang untuk membuatnya bertingkah laku dan bertindak secara otomatis, tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan dan tanpa perlu berpikir. atau penyaringan awal.

Tujuan Pendidikan Karakter

Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan karakter sangat urgen untuk diterapkan di lembaga pendidikan negara Indonesia. Menurut Amirullah Syarbini, pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab guru saja, tetapi juga seluruh pemangku kepentingan pendidikan harus dilibatkan dalam mengembangkan pendidikan karakter ini, bahkan pengambil kebijakan pun harus menjadi panutan terdepan. Doni berpendapat dengan menempatkan pendidikan karakter dalam kerangka dinamika proses pembentukan individu maka para pendidik seperti guru, orang tua, staf sekolah, masyarakat dan lainnya diharapkan semakin menyadari pentingnya pendidikan karakter sebagai sarana untuk membentuk perilaku. pedoman, memperkaya nilai-nilai individu dengan memberi tempat pada figur-figur teladan bagi peserta didik dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi proses pertumbuhan dalam hal kenyamanan dan keamanan, yang membantu suasana pengembangan diri satu sama lain dalam segala dimensinya.

12 Amirullah Syarbini, Buku Pintar Pendidikan Karakter; Panduan lengkap pendidikan karakter anak di sekolah, madrasah dan rumah, (Jakarta: As@-Prima Pustaka, 2012), hlm. Tujuan ini mengandung arti bahwa tujuan pendidikan karakter adalah untuk mengimbangi berbagai perilaku negatif anak menjadi positif. Tujuan pendidikan karakter adalah membentuk bangsa yang teguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, toleran, gotong royong, berjiwa patriotik, bangsa yang berkembang secara dinamis, berorientasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dijiwai oleh iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berdasarkan tentang Pancasila.

13 Novan Ardy Wiyani, Pendidikan karakter dasar di sekolah dasar; Konsep, Praktek dan Strategi, (Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hal. 14 Amirullah Syarbini, Buku Pintar Pendidikan Karakter; Panduan lengkap pendidikan karakter anak di sekolah, madrasah dan rumah tangga, (Jakarta: As@-Prima Pustaka, 2012), hlm.

Urgensi Pendidikan Karakter

Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter

3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dengan diri sendiri. 7 Sikap dan perilaku mandiri yang tidak mudah bergantung pada orang lain untuk melakukan tugas. 8 Cara berpikir, bersikap dan bertindak yang demokratis yang menghargai hak dan kewajiban diri sendiri dan orang lain.

12 Menghargai prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat serta mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, serta mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain. 14 Cinta damai Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, serta mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.

17 Peduli Sosial \Sikap dan tindakan yang selalu ingin membantu orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Sedangkan menurut Mustari, jujur ​​adalah perilaku yang dilandasi upaya menjadikan diri sebagai pribadi yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan. tindakan, dan bekerja baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Toleransi memungkinkan anak menghargai perbedaan kualitas pada orang lain; membuka diri terhadap pandangan dan keyakinan baru serta menghormati orang lain tanpa memandang suku, jenis kelamin, penampilan, budaya, agama, keyakinan, kemampuan atau orientasi seksual.

Dengan toleransi, ia akan memperlakukan orang lain dengan kebaikan dan pengertian, menolak permusuhan, kekejaman, intoleransi, dan menghormati orang lain atas dasar orang lain. Karakter toleransi dapat digambarkan sebagai sikap dan tindakan yang berbeda agama, suku, etnis, menghargai pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dengan dirinya sendiri. Pembinaan karakter mandiri adalah upaya sadar untuk membentuk watak, akhlak, budi pekerti, dan pola pikir individu agar hidupnya tidak bergantung pada bantuan orang lain dalam menyelesaikan segala tugasnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemerdekaan adalah keadaan mampu berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain. Kata bendanya adalah independent yang artinya benda atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Melalui kegiatan sehari-hari siswa, nilai-nilai karakter mandiri dapat langsung dipelajari dan diterapkan agar siswa terbiasa dan belajar mengerjakan serta menyelesaikan tugasnya secara mandiri, tanpa perlu bantuan orang lain terutama orang tuanya.

Strategi pembentukan karakter

Asrama Islam Al-Qur'an Harsallakum berada di lingkungan Yayasan Riyadhus Shalihin dengan akta notaris no. Di Asrama Harsalakum Al-Qur'an terdapat kegiatan yaitu mengajarkan santri untuk belajar berbicara maju.

Penelitian Relevan

Kerangka pikir

Metode tersebut dapat membantu menerapkan karakter pada siswa dengan mengajarkan topik-topik yang bersifat religius dan umum. Oleh karena itu strategi yang digunakan dalam pembentukan karakter sangatlah penting, demikian juga dengan strategi yang diterapkan pada siswa di.

METODOLOGI PENELITIAN

  • Tempat dan waktu Penelitian
  • Sumber Data
  • Fokus Penelitian instrumen penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
    • Observasi
    • Wawancara
    • Dokumentasi
  • Uji Keabsahan Data
    • Perpanjangan Pengamatan
    • Ketekunan Pengamatan
    • Tiangulasi
  • Teknik Analisi Data
    • Reduksi Data
    • Penyajian Data
    • Kesimpulan

Di Pondok Pesantren Harsalakum Al-Qur'an, santri wajib shalat 5 waktu di masjid sebagai sarana untuk membiasakan santri67.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian

  • Strategi peembentukan karakter santri di pondok pesantren Al-
  • Faktor pendukung dan penghambat strategi pembentukan karakter

Tujuan kami sebagai pengurus pondok pesantren Harsallakum Al-Qur'an adalah agar santri takut dan tidak mengulangi perbuatan tersebut untuk kedua kalinya. Di pondok pesantren Al-Qur'an Harsallakum, baik ustadz maupun ustaz harus mendidik santrinya dengan baik dan benar. Melalui materi pembelajaran, Ustadz dan Ustaza yang mengajar di Pondok Pesantren Al-Qur'an Harsallakum dapat menanamkan karakter religius, jujur, toleransi, mandiri dan disiplin kepada santri.

Dengan strategi pembelajaran pondok pesantren Al-Qur'an Harsallakum, santri dapat membentuk karakter yang religius, jujur, toleran, mandiri dan disiplin. Faktor Pendukung dan Penghambat Strategi Pembentukan Karakter Santri di Pondok Pesantren Harsallakum Al-Qur'an Kota Bengkulu Santri di Pesantren Harsallakum Al-Qur'an Kota Bengkulu a. Faktor penghambat dalam penerapan strategi pembentukan karakter di pondok pesantren Al-Qur'an Harsallakum adalah anak itu sendiri.

Karena banyak santri di pondok pesantren Harsallakum Al-Qur'an yang masih dipaksa oleh orang tuanya sehingga ustad kewalahan untuk membentuk karakter santri tersebut.

Pembahasan Hasil Penelitian

  • Pembiasaan dalam akhlak
  • Pembiasaan ustad memotivasi santri dalam kegiatan ibadah
  • Faktor pendukung dan penghambat strategi pembentukan karakter
  • Faktor pendukung

Al-Jarjani mendefinisikan salam sebagai menyelamatkan seseorang dari musibah, baik di dunia maupun di akhirat (tajrud an-nafsi'an al-mihnati fi adh-dharain). Salam juga merupakan doa yang berisi permohonan kepada Allah agar orang yang disapa mendapat keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Di asrama “Al-Qur’an Harsallakum” sudah menjadi kebiasaan untuk bertegur sapa, senyum dan sapa tidak hanya kepada guru atau orang yang dituakan di sekolah, tetapi juga di antara teman-teman di sekolah, memupuk rasa kebersamaan dan mempererat silaturahmi.

Rasa percaya diri tidak terbentuk dalam waktu singkat, namun rasa percaya diri terbentuk dengan melalui berbagai percobaan dan terkadang belajar dari pengalaman. Demikian pula melalui muhadhoroh, siswa dapat membentuk rasa percaya dirinya, meskipun rasa percaya diri siswa tidak terbentuk hanya dalam satu kali percobaan, tetapi muhadhoroh merupakan program yang berkesinambungan, sehingga jika pada percobaan pertama rasa percaya diri siswa tidak terbentuk, pada percobaan selanjutnya dapat terbentuk rasa percaya diri siswa. Tujuan pelaksanaan muhadhoroh dan kultus ini adalah untuk membangun keberanian dan meningkatkan rasa percaya diri santri yang teruji ketika berbicara di depan orang banyak, dan juga untuk mengimplementasikan ilmu yang mereka dapatkan kepada masyarakat sehingga ilmu yang diperoleh menjadi milik santri. menjadi berkah.

Dzikir dan sholat berjamaah merupakan kegiatan yang dilakukan setiap selesai sholat ashar dan subuh. Berdoa bersama diharapkan agar siswa terbiasa mengawali harinya dengan aktivitas yang berbeda-beda dengan mengharap ridho Allah SWT. Dan juga di sekolah, berdoa bersama sebelum dan sesudah kelas merupakan salah satu bentuk penanaman karakter pada siswa.

Padahal kegiatan sholat berjamaah banyak mengandung nilai-nilai positif yang akan besar pengaruhnya bagi kepribadian siswa. Berdasarkan keutamaan dzikir dan doa, hal ini sesuai dengan teori Thorndike bahwa perilaku belajar manusia ditentukan oleh stimulus yang ada di lingkungannya sehingga menimbulkan respon refleks. Tetapi berdoa bersama, duduk diam, dan saling menghormati ketika siswa berdoa bersama menempatkan semua siswa pada level yang sama; santri dan hamba Allah yang mengharapkan ridho dan pertolongan-Nya.

Pesantren Al-Qur'an Harsallakum memiliki program-program yang bertujuan untuk membangun karakter anak. Dengan menggunakan empat strategi tersebut, pengajaran ustadz di Pondok Pesantren Harsallakum Al-Qur'an dapat membentuk karakter religius, jujur, toleran, mandiri dan disiplin pada diri santri. Agar santri Pondok Pesantren Harsallakum Al-Qur'an dibiasakan sholat lima waktu, sedangkan melalui materi pembelajaran di sekolah, santri Pondok Pesantren Harsallakum Al-Qur'an dimotivasi oleh ustadnya agar siswa menjadi jujur, menjadi anak yang jujur, menjadi mandiri, menjadi anak yang beragama dan beradab.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini bertujuan agar setiap perkataan dan perbuatan santri di Pondok Pesantren sesuai dengan nilai-nilai akhlak yang diajarkan dalam Islam.1 Namun demikian menurut Asifuddin, Ustadz