Implementasi Kompetensi Sosial Guru Pendidikan Agama Islam Melalui Kegiatan Sosial Keagamaan di SMP Negeri 13 Bengkulu Tengah”. Ibu Nurlaili M.Pd.I selaku Ketua Jurusan Tarbiyah yang membantu penulis dalam menyelesaikan disertasi ini.
PENDAHULUAN
- Identifikasi Masalah
- Pembatasan Masalah
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Penelitian 1. Teoritis
- Sistematis Penulisan
Untuk itu peneliti tertarik dengan judul : “Implementasi Kompetensi Sosial Guru Pendidikan Agama Islam Melalui Kegiatan Sosial Keagamaan di SMPN 13 Bengkulu Tengah”. Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan maka tujuan penelitian ini adalah bagaimana implementasi kompetensi sosial guru pendidikan agama Islam melalui kegiatan sosial keagamaan di SMPN 13 Bengkulu Tengah.
KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI
Guru PAI
Pada dasarnya guru sebagai pendidik harus berusaha mencapai tujuan utama kelembagaan pendidik dan itu berlaku pada semua jenjang pendidikan, yaitu agar lulusannya menjadi warga negara yang baik berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta mempunyai semangat pembangunan.15 Guru adalah yang utama. pendamping siswa, generasi muda dan benih-benih kehidupan masa depan, dalam proses menjadi pemimpin.16 Guru sebagai pelaku utama dalam pelaksanaan program pendidikan di sekolah mempunyai peranan yang sangat strategis dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Al-Ghazali berkata: “Untuk itu hendaknya guru membatasi siswanya dalam memahami kecerdasan, tidak boleh memberikan pelajaran yang tidak dapat dicapai oleh kemampuan pikirannya, sehingga membuatnya menjauhinya dan mengurangi kemampuan berpikirnya.” .. g) Mengajar secara tuntas (tidak pelit ilmu). Guru merupakan penggerak utama/tenaga dalam menggerakkan massa dan membela bangsa Indonesia dari rongrongan penjajah.
Sejak berlakunya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang baru yaitu pada tahun 2003, dan juga Undang-undang tentang Guru dan Tutor, pengakuan terhadap status sosial guru sebagai suatu profesi semakin kuat. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Pembimbing Pasal 2 menyatakan bahwa “Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, menengah, dan anak usia dini pada jalur pendidikan formal, yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. e) Guru sebagai aktor sosial. Guru merupakan aktor sosial dan protagonis dalam proses rekayasa sosial atau inovasi di masyarakat. f) Guru sebagai pendamping.
Kegiatan Sosial Keagamaan
Dalam arti komprehensif, ibadah dalam Islam adalah cara hidup yang sempurna; Nilai ibadah yang sebenarnya terletak pada keterpaduan antara perilaku, perbuatan dan pikiran, antara tujuan dan instrumen, namun juga antara teori dan penerapan. Metode yang digunakan Islam dalam mendidik jiwa adalah dengan menjalin hubungan yang berkesinambungan antara jiwa dengan Allah pada setiap saat, dalam segala aktivitas, dan dalam setiap kesempatan berpikir, yang kesemuanya mempengaruhi tingkah laku, sikap dan mempengaruhi gaya hidup individu.
Penelitian Yang Relevan
Yandi Saputra (2014) med specialetitlen “Faktor Penyebab Menurunnya Aktivitas Sosial Keagamaan Remaja di Desa Tanjung Baru Kecamatan Air Nipis Kabupaten Bengkulu Selatan” Program Kualifikasi Sarjana Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Tadris , IAIN Bengkulu 2014. Disampaikan pada kende årsagerne til manglen på kegiatan sosial keagamaan hos unge di Desa Tanjung Baru, Kec. Nurul Fatimah (2017) med specialetitlen “Pendidikan Ahklak dalam Kegiatan Sosial dan Keagamaan di Pondok Pesantren Bagi Santri Ummul Quro MAN Purbalingga” Program Kualifikasi Strata I Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Purwokerto 2017.
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui Proses Kegiatan Santri Ummul Quro di MAN Purbalingga dan untuk mengetahui pendidikan akhlak serta mengembangkannya dalam proses kegiatan keagamaan santri Pondok Pesantren Ummul Quro MAN Purbalingga. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diatas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan pada setiap penelitian yang dilakukan terhadap penelitian Yandi Saputra dan Nurul Fatimah. Sedangkan yang membedakan penelitian tersebut adalah Yandi Saputra meneliti di masyarakat, Nurul Fatimah meneliti di Ummul Quro Di Man Purbalingga, sedangkan penelitian yang ingin peneliti teliti saat ini ada di sekolah-sekolah.
Kerangka Berfikir
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan, yaitu penelitian mendalam yang mencakup segala sesuatu yang terjadi di lapangan, dengan tujuan untuk melakukan penelitian mendalam mengenai latar belakang keadaan yang terjadi.25 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan serta tingkah laku yang dapat diamati pada orang (subyek) itu sendiri.26. Penelitian ini berupaya memahami kompetensi guru PAI melalui kegiatan sosial keagamaan di SMPN 13 Bengkulu Tengah. Data dalam penelitian ini berbentuk data deskriptif yaitu berupa ucapan, tingkah laku, dan tulisan yang diamati pada subjek.
Metode penelitian pada hakikatnya adalah cara ilmiah untuk memperoleh data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.27 Dalam setiap kegiatan ilmiah, metode digunakan agar kegiatan tersebut lebih terarah dan rasional.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Informan Penelitian
Instrumen Penelitian
Seorang guru harus mempunyai jiwa kasih sayang, kesabaran dan juga kecerdasan dalam mendidik peserta didiknya, selain itu seorang guru harus rendah hati, bijaksana dan pemaaf dalam menentukan kepuasan agar mempunyai kepribadian yang kuat terhadap tugas-tugas pendidikan.
Sumber Data
Sugiyono, Data primer merupakan sumber data yang memberikan data secara langsung kepada peneliti atau pengumpul data.30 Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi dan wawancara. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui pengumpulan data yang bersifat penyelidikan dokumenter (analisis dokumentasi) berupa penilaian terhadap dokumen pribadi, lembaga resmi, referensi atau peraturan (laporan literatur, tulisan, dan sebagainya) yang relevan dengan objek penelitian. riset.
Teknik Pengumpulan Data
Wawancara merupakan suatu cara memperoleh informasi dari informan dengan cara bertanya langsung kepada informan. 34 Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai tema penelitian. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang disusun secara sistematis dengan menggunakan pedoman wawancara untuk pengumpulan data. 35 Dalam hal ini yang diwawancarai adalah guru PAI SMPN 13 Bengkulu Tengah. Dokumentasi merupakan salah satu data yang diperoleh dari sumber non manusia, yaitu dokumen yang terdiri dari catatan harian, surat dan dokumen resmi 36 Dokumentasi dalam penelitian dimaksudkan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian.
Dokumentasi dalam penelitian ini meliputi buku, peraturan di SMPN 13 Bengkulu Tengah, visi misi, foto dan dokumen atau arsip lainnya.
Teknik Analisis Data
Langkah kedua, peneliti menyajikan data yang dirangkum berdasarkan fakta di lapangan, kemudian diinterpretasikan dengan teori yang berkaitan dengan topik penelitian.
Teknik Keabsahan Data
Pengujian kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh dari berbagai sumber. Misalnya untuk menguji kredibilitas data tentang perilaku siswa, maka pengumpulan dan pengujian data yang diperoleh dapat dilakukan terhadap guru, teman siswa, dan orang tuanya. Data tersebut dianalisis peneliti untuk diambil suatu kesimpulan kemudian diminta persetujuannya (member check) dengan ketiga sumber data tersebut.
Apabila teknik pengujian kredibilitas data menghasilkan data yang berbeda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut dengan sumber data terkait atau pihak lain untuk memastikan data mana yang dianggap benar. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara pada pagi hari, pada saat informan masih segar, tidak banyak masalah, sehingga memberikan data yang lebih valid sehingga lebih dapat dipercaya. Apabila hasil pengujian menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan berulang kali agar ditemukan keamanan data.
Deskripsi Wilayah SMP Negeri 13 Bengkulu Tengah 1. Sejarah Singkat SMP Negeri 13 Bengkulu Tengah
- VISI , MISI Dan Tujuan SMP Negeri 13 Bengkulu Tengah
- Kondisi Fisik SMP N 13 Bengkulu Tengah a. Situasi dan Kondisi Sekolah
- Keadaan Lingkungan Sekolah
- Fasilitas Ruang Belajar, Kantor Dan Sumber Belajar a. Ruang Belajar
- Sumber Daya Manusia SMP Negeri 13 Bengkulu Tengah
Mewujudkan generasi berilmu, beriman dan berkarakter sebagaimana tertuang dalam visi dan misi SMP Negeri 13 Bengkulu. 0811730097 SMP Negeri 13 Bengkulu Tengah terletak di lokasi sekolah yang strategis dan nyaman, berada di pinggir jalan raya dan mudah dijangkau oleh semua kendaraan. Ruang tunggu guru mempunyai ruangan yang cukup luas, dilengkapi dengan fasilitas penunjang kegiatan dan administrasi guru, antara lain kursi dan meja guru.
Ruang kelas di SMP Negeri 13 Bengkulu Tengah terdiri dari 20 kelas yang terdiri dari kelas VII.1-VII.8, VIII.1-VIII.6 serta XI.1 dan XI.6. Setiap kelas terdapat meja dan kursi yang menurut proses alokasinya ada kurang lebih 30 siswa untuk kelas 44. Meja siswa letaknya berhadapan dengan meja dan kursi guru dan 1 pasang meja dan kursi guru letaknya di depan kelas, untuk kelas VII B mempunyai 86 pasang meja siswa yang letaknya berhadapan dengan meja dan kursi guru serta 1 pasang meja dan kursi untuk meja dan kursi guru. guru yang berada di depan kelas. Untuk urutan tempat duduk di SMPN 13 Bengkulu Tengah, meja guru terletak di sebelah papan tulis, dan meja serta kursi diletakkan empat atau lima di belakang.
Deskripsi Hasil Penelitian
- Mengenai cara berinteraksi dengan sesama rekan guru. Adapun jawaban dari informan sebagai berikut:“
- Mengenai cara guru PAI dalam berkerja sama dengan sesame rekan gurudalam melakukan kegiatan sosial keagamaan menurut
- Peneliti juga menanyakan kepada informan mengenai cara guru PAI berkerja sama dengan orang tua murid bapak Hitamin
Peneliti juga menanyakan kepada informan tentang bagaimana guru PAI bekerja sama dengan orang tua Pak. Peneliti juga menanyakan apakah orang tua Nina aktif mengikuti kegiatan sosial keagamaan yang dilakukan guru PAI. Kesimpulan dari wawancara ini adalah orang tua siswa kurang aktif mengikuti kegiatan sosial keagamaan yang dikembangkan oleh guru PAI.
Peneliti menanyakan bagaimana guru PAI berkolaborasi dengan sesama guru dalam pelaksanaan kegiatan sosial keagamaan. Kendala yang mereka hadapi adalah anak kadang sering menyebalkan, sering ngobrol dengan temannya, sulit dikendalikan, sehingga ketika hendak melakukan kegiatan sosial keagamaan, guru lain harus ikut mengawasi anak. Peneliti juga melakukan wawancara kepada informan tentang peran aktif guru PAI dalam pelaksanaan kegiatan sosial keagamaan.
Pembahasan
Seseorang yang dikatakan guru tidak hanya menguasai materi pelajaran saja, tetapi seorang guru harus tampil dengan kepribadiannya dan segala ciri tingkat kematangannya. Dengan kata lain, seorang guru khususnya guru pendidikan agama Islam harus mempunyai kompetensi sosial untuk berinteraksi dengan orang lain, bekerjasama dan menjalin hubungan sosial. Kompetensi sosial yang dimaksud di sini adalah kemampuan seorang guru pendidikan agama Islam dalam berinteraksi dan beradaptasi dengan orang lain dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sosial, serta menyelesaikan kehidupan sosial di lingkungan tempatnya berada.
16 Tahun 2010 Seorang guru agama Islam harus mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial yang dihadapinya, antara lain siswa, teman sejawat, warga sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat. Untuk itu guru agama Islam harus mampu beradaptasi, bekerjasama dan bersikap dialogis dalam berkomunikasi serta menjalin hubungan yang harmonis dan sinergis dengan siswa guna mencapai tujuan pembelajaran. Pembahasan di atas erat kaitannya dengan kualifikasi pribadi guru, dimana guru khususnya guru agama harus mampu menampilkan dirinya kepada murid-muridnya dan lingkungannya sebagai pribadi yang berakhlak mulia.
PENUTUP
Saran
Berdasarkan kesimpulan dan implikasi diatas maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut: Meskipun guru PAI sudah melakukan hal tersebut. Pentingnya upaya guru pendidikan agama Islam SMP Negeri 13 Bengkulu Tengah dalam meningkatkan kompetensi sosialnya melalui pelatihan dan peningkatan yang intensif untuk membekali berbagai pengetahuan dan keterampilan yang mengarah pada penguasaan kompetensi sosial guru pendidikan agama Islam secara keseluruhan. Selain guru, perlu juga diselenggarakan pelatihan bagi orang tua siswa, sehingga mereka dapat memahami perannya sebagai penanggung jawab utama pendidikan.
Guru pendidikan agama Islam di SMP Negeri 13 Bengkulu Tengah dan pihak sekolah hendaknya meningkatkan kerjasama dengan orang tua siswa dan masyarakat sekitar, serta seluruh komponen terkait untuk mengatasi kesulitan belajar siswa guna meningkatkan mutu pendidikan di SMP Negeri 13 Bengkulu Tengah.