PENDAHULUAN
Rumusan Masalah dan Batasan Masalah
Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian
Penelitian Terdahulu
2. Tesis Fadilatul Ilmi “Perilaku Lajang di Desa Gunung Sahlian Kecamatan Gunung Sahilan Kabupaten Kampar Dikaji Menurut Syariat Islam”.9 Penelitian ini mengkaji tentang sifat laki-laki di Desa Gunung Salihan dengan membingkai permasalahan bagaimana laki-laki berperilaku di Desa Gunung Sahillan . Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif, studi literatur dan dokumentasi, subjek penelitiannya adalah toko tradisional, laki-laki serta ayah dan ibu laki-laki, dan subjek penelitiannya adalah perilaku lajang, penelitian ini menimbulkan pertanyaan tentang Apakah perilaku lajang diperbolehkan dalam Islam, hasil kesimpulan penelitian ini mengungkapkan bahwa perilaku laki-laki di Desa Gunung Sahillan bertentangan dengan syariat Islam. 9 Tesis Fadlatul Ilmi “Perilaku Selibat di Desa Gunung Sahlian Kecamatan Gunung Sahilan Kabupaten Kampar Ditinjau Menurut Hukum Islam”, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Riau (2019).
3. Hukum Melawan Selibat merupakan jurnal yang ditulis oleh Febri Dwineddy Putra dengan penelitian yang berjudul Tabattul (Lajang) Dalam Perspektif Hukum Islam.10 Penelitian ini membahas tentang rumusan permasalahan mengenai dampak selibat terhadap diri sendiri dan terhadap diri sendiri. pandangan masyarakat menurut hukum Islam. Bersamaan dengan itu, penulis membahas tentang penyebab selibat di Desa Karang Agung pada usia 30 tahun ke atas dan ulasan hukum Islam terkait fenomena tersebut. Bedanya dengan penelitian penulis, penelitian Febri Dwineddy Putra berbicara tentang dampak kehidupan lajang terhadap diri sendiri dan pandangan masyarakat.
Sedangkan penelitian penulis membahas tentang faktor/penyebab fenomena melajang yang terjadi pada masyarakat di Desa Karang Agung dan gambaran hukum Islam mengenai fenomena tersebut.
Metode Penelitian
Dari beberapa penelitian diatas memang pernah ada pembahasan mengenai perilaku lajang, namun pada penelitian kali ini akan membahas tentang fenomena lajang yang membuat seseorang menunda pernikahan, hal ini masih sangat jarang dibahas karena ada beberapa faktor yang menyebabkannya. bahwa mereka menikah. lajang di masyarakat desa Karang Agung kecamatan Tanjung Sakti Pumu kabupaten Lahat. 2020 sampai dengan 25 Desember 2020 dan penelitian ini dilakukan di Desa Karang Agung Kecamatan Tanjung Sakti Pumu Kabupaten Lahat. Berdasarkan data yang diperoleh penulis pada saat observasi awal di desa Karang Agung pada tanggal 24 Juni 2020, jumlah penduduk bujangan dari kalangan remaja hingga dewasa yaitu dengan umur 17 sampai dengan 50 tahun berjumlah 87 orang, dan kategori bujangan yang Sedangkan orang dewasa berusia di atas 30 mencapai 40 orang.
Penulis telah melakukan penelitian dengan mengamati langsung segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan fenomena selibat pada masyarakat di desa Karang Agung kecamatan Tanjung Sakti Pumu kabupaten Lahat menurut syariat Islam secara langsung dan tidak langsung. Dokumentasi adalah proses pengumpulan dan perolehan data tertulis berupa catatan, buku, dokumen atau arsip milik desa Karang Agung atau tulisan lain yang berkaitan dengan topik penelitian ini. Kemudian data yang diperoleh dari penelitian tersebut dianalisis, teknik analisis data penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dan menjelaskan tinjauan hukum dan solusi terkait fenomena selibat dalam masyarakat di Desa Karang Agung Kecamatan Tanjung Sakti Pumu Kabupaten Lahat menurut Islam. hukum. .
Selain itu berdasarkan penjelasan makna data yang disajikan dalam bentuk esai dan uraian tinjauan hukum, serta solusi mengenai terjadinya lajang pada masyarakat di Desa Karang Agung.
Sistematika Penulisan
Bab ini merupakan bab terakhir, dalam bab ini penulis membentangkan kesimpulan dari semua pembahasan sebelumnya dan sekaligus menjawab permasalahan pokok yang dikemukakan sebelumnya, kemudian penulis memberikan saran.
KAJIAN TEORI
Perilaku Membujang
- Dasar Hukum Larangan Membujang
Jomblo menurut bahasa arabnya yaitu Tabattul yang artinya memutuskan untuk tidak menikah.5 Jomblo berarti menjadi orang yang tidak ingin menikah. Namun masih terdapat kelompok masyarakat yang menghina dan merendahkan institusi perkawinan atau berpura-pura menyesalinya. Dalam salah satu sabdanya, pernikahan merupakan salah satu sunnahnya, dan bagi yang tidak menunaikan sunnah tersebut maka tidak termasuk dalam umat Nabi Muhammad SAW.
Ajaran Islam sangat menggalakkan penganutnya berkahwin bagi mereka yang sanggup melakukannya. Dan juga telah dijelaskan dalam Surah An-nur ayat 32, Allah SWT memerintahkan supaya berkahwin dengan mereka yang masih bujang dan yang layak untuk dinikahi. Dan nikahkanlah orang-orang yang masih bujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (berkahwin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan.
Berdasarkan ayat Al-Qur’an di atas, yang diperintahkan Allah kepada umatnya yaitu anjuran menikah antara laki-laki dan perempuan yang mampu menikah. Jadi pada dasarnya Allah telah menciptakan makhluk-makhluk tersebut berpasang-pasangan. 11 Namun seiring berkembangnya zaman, masih banyak manusia yang masih lama hidup membujang, padahal dari segi usia seharusnya mereka sudah menikah, hal ini terjadi karena beberapa faktor yang ada. membuat mereka lebih memilih untuk hidup melajang. Menurut sabda Rasulullah s.a.v.s. diatas terlihat beliau menganjurkan generasi muda yang masih lajang untuk segera menikah, karena dengan menikah dapat meningkatkan kualitas keimanannya dan terhindar dari perbuatan maksiat.
Berdasarkan hadis di atas, Nabi membolehkan perkawinan mempunyai berbagai kriteria yang dikehendaki, misalnya berupa kekayaan, kepurbakalaan, garis keturunan, dan agama. Sebab jika seseorang menikah dengan rasa simpati terhadap pasangannya, maka hal ini akan berdampak positif bagi keberlangsungan rumah tangga. Misalnya dari segi harta, jika seorang sekutu kurang mampu sedangkan sekutunya mempunyai kesesuaian yang cukup, maka hal itu menutupi kekurangan-kekurangan sekutunya.
Lebih-lebih lagi apabila seseorang itu melihat dari segi kecantikan, maka ini akan menimbulkan rasa selesa terhadap pasangannya supaya dia tidak berasa bosan. Begitu juga apabila seseorang itu memilih pasangannya kerana faktor agamanya yang baik, maka ini akan menjadikan kelangsungan perkahwinan mereka bahagia dan aman seperti yang dianjurkan dalam agama Islam itu sendiri.
Pernikahan dan Hukum Pernikahan
Sebelum lebih jauh menguraikan mengenai daerah penelitian ini, penulis akan menguraikan tentang sejarah desa Karang Agung kecamatan Tanjung Sakti Pumu kabupaten Lahat yang menjadi objek atau daerah penelitian yang dipilih. Dari catatan sejarah yang ada, penulis dapat menyimpulkan bahwa Desa Karang Agung merupakan perpaduan antara tiga desa yang awalnya dipimpin oleh empat orang bersaudara dan menjadi cikal bakal masyarakat dari dahulu hingga saat ini. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan lembaga BP4 Kecamatan Tanjung Sakti mengenai satu-satunya permasalahan yang terjadi di desa Karang Agung, menurut mereka belum pernah ada sosialisasi mengenai bahayanya hidup membujang dan akibat yang ditimbulkan jika menunda. pernikahan bagi masyarakat. di Kabupaten Tanjung Sakti, karena aktivitas kantor KUA baru aktif sekitar dua tahun, namun upaya sosialisasinya kepada masyarakat akan mendapat perhatian lebih di kemudian hari.
Desa Karang Agung memiliki luas 250 hektar dengan jumlah penduduk 1.140 jiwa dengan jumlah 280 KK. Sedangkan jumlah keluarga miskin (Gakin) sebanyak 43 keluarga dengan persentase 48% dari jumlah keluarga di Desa Karang Agung. Desa Karang Agung merupakan desa yang mempunyai lahan perkebunan yang lebih luas dari sawah, lahan perkebunan ini terletak di sepanjang perbukitan yang berjejer.
Iklim Desa Karang Agung sama seperti desa-desa lain di wilayah Indonesia yang beriklim kering dan hujan. Masyarakat yang tinggal di Desa Karang Agung Kecamatan Tanjung Sakti Pumu 100% beragama Islam, sebagian masyarakatnya menganut syariat agama Islam dan mempunyai tempat ibadah untuk menunjang masyarakat dalam menjalankan agamanya. Semakin tinggi pendidikannya maka kesejahteraan ekonominya akan semakin meningkat dibandingkan dengan masyarakat yang berpendidikan rendah.9 Masyarakat di Desa Karang Agung Kecamatan Tanjung Sakti Pumu rata-rata berpendidikan Sekolah Menengah Atas (SMP) ke bawah.
Daftar Nama Wisudawan Desa Karang Agung Kecamatan Tanjung Sakti PUMU yang belum menikah, berusia 30 tahun ke atas. Fenomena melajang masih sering terjadi pada masyarakat di Desa Karang Agung Kecamatan Tanjung Sakti Pumu Kabupaten Lahat, generasi muda yang seharusnya sudah cukup umur untuk menikah namun masih lajang sebaiknya menikah karena pernikahan itu kuat dan kokoh sebuah perjanjian. hidup bersama secara utuh, sah antara laki-laki dan perempuan, membentuk keluarga kekal, santun, penuh kasih sayang, damai dan bahagia. Faktor-Faktor Yang Menjadikan Seseorang Melajang di Desa Karang Agung Fenomena melajang yang terjadi di Desa Karang Agung sudah banyak diketahui masyarakat dimana generasi muda di desa ini menikah di usia yang sudah dewasa bahkan ada yang memilih untuk tetap melajang meski sudah tua lho. harus menikah.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan pihak BP4 Kabupaten Tanjung Sakti mengenai permasalahan jomblo yang terjadi di desa Karang Agung, menurut mereka tidak pernah ada sosialisasi tentang bahaya jomblo dan dampak yang ditimbulkan jika menunda pernikahan. masyarakat. di Kecamatan Tanjung Sakti, mengingat kegiatan kantor KUA baru aktif sekitar 2 tahun, namun kedepannya upaya sosialisasi ke masyarakat akan lebih diperhatikan8. Informasi tersebut penulis dapatkan di lapangan yaitu dengan mewawancarai beberapa pemuda di Desa Karang Agung Kec. Berdasarkan analisa penulis dan hasil penelitian yang penulis lakukan di lapangan, terlihat jelas bahwa para pemuda dan pemudi yang melajang di Desa Karang Agung bukan karena kesibukannya menuntut ilmu dan menyebarkan agama Islam. seperti para ulama sebelumnya, namun oleh karena itu berdasarkan analisa penulis dan referensi dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah serta pendapat para ulama, maka penulis menyimpulkan bahwa hukum selibat bagi remaja putra dan putri yang masih lajang di masa lajang. desa Karang Agung adalah Makruh (sesuatu yang dibenci artinya lebih dianjurkan menikah) karena perkawinan akan lebih mulia bagi mereka terhindar dari keburukan dan menjadi ladang pahala bagi mereka dengan terjalinnya perkawinan SAKINAH yaitu kita melihat kekurangan pasangan kita tapi kita mampu menjaga lidah kita untuk tidak mengkritiknya, MAWADDAH itulah.
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan mengenai Tinjauan Hukum Islam terhadap fenomena selibat pada masyarakat di Desa Karang Agung Kecamatan Tanjung Sakti Pumu, maka dapat diambil kesimpulan pada bab terakhir ini. Ulasan hukum Islam tentang selibat di Desa Karang Agung Kecamatan Tanjung Sakti Pumu Kabupaten Lahat berdasarkan hasil penelitian lapangan penulis dan analisa penulis mengacu pada dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah. serta pendapat peneliti, penulis menyimpulkan bahwa hukum selibat bagi remaja putra dan putri. Kepala desa, tokoh agama dan masyarakat yang lebih mengetahui masalah agama, khususnya pernikahan, hendaknya memberikan sosialisasi tentang pentingnya pernikahan. Para pendidik agama di Desa Karang Agung hendaknya lebih berhati-hati dalam memberikan nasehat kepada desa-desa untuk mencermati permasalahan yang ada.