Alhamdulillah Rabb al-Alamin, segala puji peneliti panjatkan kehadirat Rabbi Ilahi, atas limpahan taufiq, bimbingan dan inayah-Nya, penelitian berjudul “Pendidikan Islam Berwawasan Lingkungan Pada Pondok Pesantren Al-Imdad Islam Bantul Yogyakarta pesantren Sumber Pendidikan Mental Keagamaan Allah (SPMAA) Lamongan Jawa Timur” yang dapat peneliti selesaikan Pertama, Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia sehingga keberadaannya sangat mengakar dan berpengaruh di masyarakat. Selain dua penghargaan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup juga berupaya mendorong pengetahuan, kepedulian, kesadaran dan partisipasi aktif warga pesantren dalam upaya pelestarian lingkungan melalui pengembangan program pesantren ramah lingkungan karena empat alasan.
Berangkat dari latar belakang di atas, penelitian ini mengkaji praktik pendidikan Islam berorientasi lingkungan di Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, Yogyakarta dan Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Keagamaan Islam (SPMAA) Lamongan, Jawa Timur. Kedua pesantren tersebut dipilih karena berperan sebagai pionir dalam pengembangan pesantren ramah lingkungan melalui program pendidikan Islam ramah lingkungan dengan ciri khasnya masing-masing.
Tujuan dan Kegunaan Hasil Penelitian
Bagaimana Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul Yogyakarta dan Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Keagamaan Islam (SPMAA) Lamongan Jawa Timur melaksanakan pendidikan berwawasan lingkungan. Kendala dan tantangan apa saja yang dihadapi kedua pondok pesantren tersebut dalam penerapan pendidikan ramah lingkungan?
Kontribusi Penelitian
Sistematika Pembahasan
Tinjauan Pustaka
- Perubahan Perilaku Melalui Metode Modelling (Pemodelan)
- Jenis dan Pendekatan Penelitian
- Subjek Penelitian
- Metode Pengumpulan Data
Bahri Ghazali, Pendidikan di Pondok Pesantren Ramah Lingkungan: Kasus Pondok Pesantren An-Nuqayyah Guluk-guluk, Sumenep, Madura, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2001). Pendidikan ramah lingkungan bertujuan untuk mengintegrasikan prinsip, nilai dan praktik pembangunan berkelanjutan ke dalam seluruh aspek pendidikan dan pembelajaran. Strategi pendidikan ramah lingkungan yang diterapkan di pesantren dalam penelitian ini akan dijelaskan menggunakan lima tingkat perubahan perilaku yang dikemukakan oleh Doppelt.
Peneliti memilih kedua pesantren ini karena kepeloporannya dalam merancang dan menerapkan Pendidikan Berwawasan Lingkungan. Metode wawancara akan digunakan untuk mengumpulkan informasi dari informan terkait pendidikan ramah lingkungan di Pondok Pesantren Al-Imdad di Dusun Kauman Wijirejo, Pandak, Bantul, Yogyakarta dan SPMAA di Lamongan.
Metode Analisa Data
Jenjang Pendidikan Pesantren Al-Imdad
Jenjang pendidikan formal yang ditawarkan pesantren ini meliputi jenjang pendidikan Madresah Tsanawiyah (tingkat SMP) dan Madresah Aliyah (tingkat SMA). Dalam sejarahnya jenjang pendidikan aliyah pertama kali didirikan oleh Al-Imdad dan baru kemudian setelah muncul tuntutan masyarakat terhadap pendirian Madrasah Tsanawiyah, Al-Imdad mendirikan jenjang pendidikan Madresah Tsanawiyah yang disebut MTs Al-Falah. .
Madrasah Aliyah Unggulan Al-Imdad
Oleh karena itu, di tengah keterbatasan sumber daya, pondok pesantren ini tetap melakukan pembangunan fisik meski bertahap untuk memenuhi kebutuhan penyediaan ruang kelas bagi santri. 1. Visi yang dibangun Madrasah Aliyah Unggulan Al-Imdad adalah mendidik peserta didik agar SELALU menjadi peserta didik yang artinya mandiri—religius—nasionalis—berpengalaman—dapat dipercaya—. Madrasah Aliyah Unggulan Al-Imdad mempunyai misi : 1) Membekali peserta didik menjadi manusia mandiri yang memiliki keterampilan dan pengetahuan umum serta keislaman dalam berbagai bidang.
Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut, Madrasah Unggul Al-Imdad Aliyah juga menyelenggarakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler bagi siswa. Untuk terlaksananya proses belajar mengajar yang memadai, Madresah Aliyah Unggulan Al-Imdad juga menyediakan sarana prasarana fisik sekolah yang meliputi: (1) ruang kelas; (2) Kepala Madrasah; (3) Ruang guru; (4) Kamar Administratif; (5) Ruang Sholat; (6) Ruang MCK; (7) UKS; (8) Perpustakaan; (9) Gudang; (10) Sarana olah raga; (11) Tempat pengolahan sampah terpadu. Untuk menunjang proses belajar mengajar yang ideal, MA Ungulan Al-Imdad berusaha menambah jumlah guru dan pegawai setiap tahunnya.
Madrasah Tsanawiyah Al-Falah
16 Amad Shodikul Wahdi, S.Pd.I Al Qur'an Hadits Leraar 17 Kholid Zamroni, S.Pd.I Methode Leraar 33 18 Muhamad Muslimin, S.Pd.I Jurisprudentie Leraar 19 Yusra Wibawa, S.Pd.I SKI Leraar 20 Muhammad Indra, S.Pd.I NU Leraar 21 Ahmad Fikri Aji Pamilu, S.Pd.I Al Qur'an Hadits Leraar 22 Candra Dewi Sustyawati,. 24 Siti Azizatul Masruroh, S.Pd.I Leraar van Aqidah Akhlak 25 Amalia Hidayati, S.Pd Wiskundeleraar 26 Rita Kurnia Rahmawati, S.Pd Leraar Indonesische taal 27 Isna Latifatut Toyyibah, S.Pd BK Leraar.
Pendidikan Non Formal (Life Skills)
Program Bina Lingkungan Pesantren Al-Imdad a. Pengolahan Sampah
Sampah yang terkumpul dan sampah kemudian dipisahkan berdasarkan spesifikasi sampah organik dan anorganik. Alat pengurai ini dibuat dari bahan-bahan yang tersedia di desa/pasar tradisional seperti bawang merah, pisang, tempe, dan nanas yang dilarutkan dalam larutan gula atau molase. Cairan yang telah disimpan selama 2 minggu tersebut kemudian dilarutkan dalam air dan ditaburkan pada sampah yang akan diolah menjadi kompos.
Dibutuhkan waktu sekitar 20-25 hari agar sampah terurai menjadi kompos, yang siap digunakan untuk pupuk atau dikemas untuk dipasarkan. Kegiatan pembuatan pupuk organik ini biasanya digunakan di lingkungan pesantren sendiri untuk menanam sayuran dan bunga untuk penghijauan di asrama atau cottage. Al-Imdad meliputi: bibit tanaman keras jati, sengon dan mahoni; bibit tanaman buah-buahan yaitu : pepaya, jambu biji, rambutan, mangga, kelengkeng dan lain-lain.
Tanaman sayuran antara lain cabai merah, terong, gambas, kacang panjang dan berbagai jenis tanaman obat. Sedangkan untuk polibag, beberapa tanaman khususnya bibit sayuran menggunakan plastik bekas yang tidak layak untuk dijual. Sedangkan blibis berfungsi sebagai predator sisa makanan, karena limbah ini akan menimbulkan bau yang tidak sedap jika difermentasi menjadi pupuk.
Pertanian berupaya untuk memenuhi kebutuhan sayuran internal Pondok Pesantren, dan Pondok Pesantren Sampah juga melaksanakan kegiatan produksi sayuran organik. Sayuran yang ditanam saat ini adalah terong, cabai, tomat, kacang panjang, bayam dan gambas. Namun tidak semua sampah anorganik dapat dijual ke pengepul sehingga diperlukan penanganan khusus.
Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Lamongan a. Sejarah Berdirinya Pesantren SPMAA Lamongan
Selain tiga proyek besar yang menjadi nilai-nilai dasar yang menggerakkan seluruh kegiatan di lingkungan SPMAA, SPMAA juga mempunyai visi yaitu: “Bersama para pihak, mengembalikan nilai-nilai, hak asasi manusia, bumi, alam dan isinya untuk asal muasalnya”.5 Visi ini mengandung makna bahwa semua manusia berkewajiban memulihkan keseimbangan antara kedudukan Tuhan, manusia, dan alam. 6. Hal inilah yang menyebabkan manusia merusak alam, dan keseimbangan hubungan antara manusia, alam dan Tuhan juga rusak. Menjadikan tiga proyek besar kemanusiaan sebagai arah kehidupan manusia dan kebijakan global bagi para pengambil keputusan dunia;
Dengan visi dan misinya, SPMAA mempunyai tiga program utama SPMAA, yaitu: Pertama, Pendidikan dan Perumahan Islami. Melalui tingkat sekolah ini, SPMAA mengajarkan kecintaan terhadap lingkungan, dengan mewajibkan setiap siswanya menanam dan merawat bunga, serta memberi makan ikan, kucing, dan merpati setiap hari. Bahkan, mereka tidak boleh makan atau minum sampai mereka sudah memberi makan dan minum semua hewan peliharaannya, baik hewan maupun tumbuhan.
Kedua lembaga di atas memiliki keunikan, yaitu infrastrukturnya dibangun di atas kolam ikan dan terdapat gubuk besar untuk balai yang terbuat dari bambu. Sedangkan gubuk bambu menjadi bukti kecintaan terhadap lingkungan, karena bambu tidak mudah mati dan aman dari gempa. Kolam ikan mendekatkan siswa dengan alam dengan mengadakan upacara nasional di kolam tersebut.
Selain itu, mereka diajarkan dengan tambak untuk mencintai makhluk Tuhan yang lain dengan mewajibkan siswanya memberi makan ikan sebelum sarapan. Apabila mereka telah menjadi orang-orang yang berguna di masyarakat, mereka akan diberi gelar “alumni” dari kegiatan Asrama SPMAA 9 yang diikuti oleh seluruh mahasiswa yang tinggal di sana. Implementasi pendidikan sadar lingkungan di Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul Yogyakarta dan Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Kerohanian Agama Islam.
Implementasi Pendidikan Berwawasan Lingkungan Pesantren Al-Imdad Bantul Yogyakarta dan Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah
- Model Peran Individu
- Fasilitas Sarana dan Prasarana dan Pengoperasiannya
- Tata Kelola
- Budaya Pesantren
Salah satu santri di Al-Imdad menjelaskan, dirinya terkadang termotivasi untuk melakukan perilaku ramah lingkungan karena ingin ditiru oleh santri dan ustadz lain. Di Madrasah Al-Imdad dan SPMAA Amongan, banyak siswa yang diwawancarai mengakui bahwa ustadz (musyrif) adalah sahabat dan pembimbingnya bahkan ada yang menyamakannya dengan orang tuanya. Di Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul dan SPMAA Lamongan, kedekatan santri dan ustadz (musyrif) nampaknya memberikan pengaruh yang kuat terhadap efektivitas individual modeling.
Pondok Pesantren Al-Imdad menjadi teladan bagi pihak lain dalam upayanya menciptakan fasilitas Pondok Pesantren yang ramah lingkungan. a) menciptakan energi sendiri dengan 150 panel surya, enam pemanas surya, dan generator angin;. Menariknya, para santri dan ustadz Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul dan SPMAA Lamongan bertanggung jawab atas pengoperasian sarana prasarana pesantren tersebut. Pondok Pesantren Al-Imdad dan SPMAA memastikan bahwa dampak ekologi, sosial dan ekonomi dari fasilitas dan operasionalnya (baik positif maupun negatif) terlihat jelas bagi santri dan orang lain.
Selain mentransparankan fasilitas hijau, Pondok Pesantren Al-Imdad juga berupaya mentransparankan kegiatannya kepada para santri. Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul dan SPMAA Lamongan menggunakan struktur tata kelola Pondok Pesantren sebagai sarana untuk mencontohkan keadilan sosial dan partisipasi masyarakat. Pondok Pesantren Al-Imdad mempunyai struktur tata kelola sekolah formal selain struktur tata kelola pesantren yang berbentuk yayasan.
Dengan mengedepankan keakraban antara santri dan ustadz, Al-Imdad dapat meningkatkan efektifitas keteladanan PBL antara ustadz dan santri. Selain itu, Al-Imdad dapat menggunakan struktur tata kelolanya untuk mencontohkan keberlanjutan bagi siswa dengan membuka pertemuan guru kepada siswa dan menemukan cara untuk memberikan siswa kekuatan pengambilan keputusan yang berarti. Dimana Al-Imdad dan SPMAA mendekati PBL dari sudut pandang yang berbeda, Al-Imdad secara khusus menggunakan.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
Oleh karena itu, alih-alih memikirkan pendidikan ramah lingkungan yang mungkin merupakan ide mewah, mereka bisa bertahan dan hanya membiayai biaya operasional pesantren saja sudah menjadi beban tersendiri. Carson, Rachel, Silent Spring, (diterjemahkan dari Silent Spring), Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Dhofier, Zamakhsary, Tradisi Pesantren: Kajian Pandangan Hidup Kyai dan Visi Masa Depan Indonesia, (edisi revisi), LP3ES, Jakarta, 2011.
Hassan, Arba'at et.al., “Tingkat kesadaran lingkungan dalam konsep pembangunan berkelanjutan di kalangan siswa SMA,”. McMillan, “Mengajar Melalui Pemodelan: Pengalaman Empat Sekolah dalam Pendidikan Keberlanjutan,” Jurnal Pendidikan Lingkungan, 2006, Vol. Kementerian Lingkungan Hidup, “Ringkasan Kegiatan Kalpataru Penerima Program Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, Deputi IV, KLH, Jakarta, 2011.
Kementerian Lingkungan Hidup, “Program Eco Pesantren”, KLH Jakarta di http://www.menlh.go.id/ecopesantren diakses 20 Juni 2009. Kurniadi, Permukiman dan nilai budaya pesantren dalam konteks perencanaan wilayah di Sidosermo, Surabaya, (Skripsi Magister (S2) Institut Teknologi Surabaya (ITS), Surabaya, 2008). Margono, S., Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006) Moloeng, Lexy J., Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, .2007).
Nomura, “Perspektif pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan: sejarah perkembangan pendidikan lingkungan hidup di Indonesia”, dalam International Journal of Education Development 29 (2009). Peran Pondok Pesantren Dalam Pendidikan dan Pelestarian Lingkungan” di http://www.menlh.go.id/tiga-peran-pesantren-dalam-pendidikan-dan- .. melestarikan-lingkungan/#sthash.JN0XzUSO.dpuf diakses 25 September 2018.