SURAT KETERANGAN
MELAKUKAN KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL 371/A.01/TL-FTSP/Itenas/VIII/2023
Yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama : Dr. M. Rangga Sururi, S.T., M.T.
Jabatan : Ketua Program Studi Teknik Lingkungan Itenas
NPP : 40909
Menerangkan bahwa,
Nama : Gina Salsabila
NRP : 25-2019-014
Email : [email protected]
Telah melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat sebagai berikut:
Nama Kegiatan : Uji dan Analisis Kualitas Air Sungai Peruntukan Air Baku Air Minum di Laboratorium Pengendalian Kualitas Lingkungan (LPKL) Perumda Tirtawening Kota Bandung
Tempat : Kota Bandung
Waktu : 1 Juli 2022-15 Agustus 2022 Sumber Dana : Mandiri
Demikian surat keterangan ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Bandung, 22 Agustus 2023
Ketua Program Studi Teknik Lingkungan Itenas,
( Dr. M. Rangga Sururi, S.T., M.T. ) NPP. 40909
KOTA BANDUNG
LAPORAN PRAKTIK KERJA
Oleh :
GINA SALSABILA 252019014
PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL BANDUNG
2023
ii Institut Teknologi Nasional
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan karunia – Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Praktik Kerja ini.
Penulis banyak mendapat bimbingan dan petunjuk dari berbagai pihak, dalam penyusunan laporan praktik kerja ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu, yaitu:
(1) Ibu Dr. Ir. Rachmawati Sugihhartati Dj., M.Env.Stud., selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing atau memberikan arahan kepada saya dalam penyusunan laporan praktik kerja ini;
(2) Teh Mina Hafidzoh, selaku pembimbing lapangan yang telah membantu dalam rangkaian kegiatan praktik kerja di laboratorium;
(3) Pihak LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung yang telah membantu dalam rangkaian kegiatan praktik kerja di laboratorium dan pemberian data yang diperlukan dalam penyusunan laporan praktik kerja ini;
(4) Orang tua dan keluarga saya yang telah memberikan bantuan berupa dukungan material dan moral; dan
(5) Teman-teman saya, yaitu Raka, Yudit, Anisa, Novi, Fahda, dan Salma yang telah banyak membantu dan menemani saya dalam menyelesaikan laporan praktik kerja ini.
Akhir kata, penulis berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Penulis berharap semoga laporan praktik kerja ini bermanfaat.
Bandung, 11 Agustus 2023
Gina Salsabila
iii Institut Teknologi Nasional
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Maksud dan Tujuan... 3
1.3 Ruang Lingkup Kegiatan ... 3
1.4 Tahapan Pelaksanaan Praktik Kerja... 4
1.5 Data, Jenis Data, dan Metode ... 8
1.6 Sistematika Penulisan ... 8
BAB 2 GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI ... 14
2.1 Sejarah dan Status LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung ... 14
2.2 Visi dan Misi LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung ... 16
2.3 Struktur Organisasi LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung ... 18
2.4 Aspek Kegiatan LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung ... 21
2.4.1 Ruang Lingkup Pelayanan ... 21
2.4.2 Ruang Lingkup Pengujian ... 23
2.5 Lokasi Sungai... 38
2.5.1 Sungai Citarum ... 38
2.5.1.1 Kondisi Geografis ... 39
2.5.1.2 Kondisi Topografi ... 40
iv Institut Teknologi Nasional
2.5.1.3 Kondisi Geologi... 40
2.5.1.4 Kondisi Hidrologi Sungai Citarum ... 40
2.5.1.5 Pemanfaatan ... 41
2.5.1.6 Kondisi Kualitas Air Sungai ... 41
2.5.2 Sungai Cimanggu ... 42
2.5.3 Sungai Ciwayang ... 42
2.5.4 Sungai Cigugur ... 42
2.5.5 Sungai Citonjong ... 43
2.5.5.1 Kondisi Geografis dan Geologis ... 43
2.5.5.2 Pemanfaatan dan Kualitas Air ... 44
2.5.6 Sungai Cibogo ... 44
2.5.6.1 Kondisi Geografis, Topografi, dan Pemanfaatan ... 44
2.5.6.2 Kondisi Geologis ... 44
2.5.6.3 Kondisi Kualitas Air Sungai ... 44
BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA ... 46
3.1 Air Minum ... 46
3.2 Air Baku ... 46
3.3 Air Sungai sebagai Sumber Air Baku Air Minum ... 48
3.3.1 Kuantitas Air Sungai ... 49
3.3.2 Kualitas Air Sungai ... 50
3.3.3 Kontinuitas Air Sungai ... 55
3.4 Uji Kualitas Air Sungai ... 55
3.4.1 Parameter Fisika ... 56
3.4.1.1 Temperatur ... 56
3.4.1.2 TSS ... 58
v Institut Teknologi Nasional
3.4.2 Parameter Kimia ... 67
3.4.2.1 Kimia Organik ... 67
3.4.2.1.1 DO ... 68
3.4.2.2 Kimia Anorganik ... 74
3.4.2.2.1 Derajat Keasaman (pH)... 75
3.4.3 Parameter Mikrobiologi ... 82
3.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Parameter-Parameter di Sungai ... 97
3.5.1 Keterkaitan TSS, Suhu, dan DO di dalam Air Sungai ... 97
3.5.2 Keterkaitan pH, Alkalinitas, CO2, Ammonium, dan Logam di dalam Air Sungai ... 97
3.5.3 Pengaruh Temperatur, pH, DO, BOD, dan COD terhadap Total Coliform ... 97
3.5.4 Intensitas Cahaya Matahari ... 98
3.5.5 Proses Fotosintesis ... 98
3.5.6 Pertanian atau Proses Batuan dan Tanah ... 98
3.5.7 Kegiatan Domestik ... 98
3.5.8 Kegiatan Rumah Sakit ... 99
3.5.9 Limbah Industri ... 100
3.5.10 Peternakan ... 100
3.6 Alternatif Pengolahan Air Permukaan Sebagai Air Baku Air Minum . 100 BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 104
4.1 Evaluasi Ruang Lingkup Pengujian ... 104
4.2 Analisis Hasil Pengujian Sampel Air Sungai... 105
4.2.1 Parameter Temperatur, pH, dan DO ... 105
4.2.2 Parameter TSS ... 110
vi Institut Teknologi Nasional
4.2.3 Parameter Total Coliform ... 117
4.3 Hasil Uji dan Analisis Kualitas Air Sungai ... 125
BAB 5 PENUTUP ... 127
5.1 Kesimpulan ... 127
5.2 Saran ... 127
DAFTAR PUSTAKA ... 129
LAMPIRAN ... 140
LAMPIRAN A: Proses Pengujian Parameter Temperatur, pH, dan DO ... 141
LAMPIRAN B: Proses Pengujian Parameter TSS ... 143
LAMPIRAN C: Proses Pengujian Parameter Total Coliform ... 146
LAMPIRAN D: Surat Permohonan Izin Kesediaan Tempat Praktik Kerja ... 148
LAMPIRAN E: Surat Penerimaan Praktik Kerja ... 149
LAMPIRAN F: Penilaian Pembimbing Di Lapangan ... 150
LAMPIRAN G: Dokumentasi Bersama Pembimbing, Para Analis, dan Teman-Teman ... 151
LAMPIRAN H: Daftar Hadir Bimbingan Praktik Kerja... 153
LAMPIRAN I: Notulensi ... 154
vi Institut Teknologi Nasional
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Data, Jenis Data, dan Metode yang Diperlukan ... 9
Tabel 3. 1 Ketersediaan Air Permukaan di Indonesia ... 49
Tabel 3. 2 Baku Mutu Air Sungai dan Sejenisnya ... 52
Tabel 3. 3 Indeks MPN dan Batas Kepercayaan 95% untuk Kombinasi Hasil Positif pada Lima Tabung per Pengenceran (10 mL; 1,0 mL; 0,1 mL) ... 84
Tabel 4. 1 Hasil Uji Parameter Temperatur, pH, dan DO ... 105
Tabel 4. 2 Proses Pengujian Parameter Temperatur, pH, dan DO ... 106
Tabel 4. 3 Proses Pengujian Parameter TSS ... 111
Tabel 4. 4 Hasil Uji Parameter TSS ... 113
Tabel 4. 5 Proses Pengujian Parameter Total Coliform ... 119
Tabel 4. 6 Hasil Uji Penduga ... 122
Tabel 4. 7 Hasil Uji Konfirmasi ... 122
Tabel 4. 8 Hasil Uji Parameter Total Coliform ... 123
Tabel 4. 9 Hasil Uji dan Analisis Kualitas Air Sungai Peruntukan Air Baku Air Minum ... 125
vii Institut Teknologi Nasional
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1 Diagram Alir Tahapan Pelaksanaan Praktik Kerja ... 5
Gambar 2.1 Logo PERUMDA Tirtawening Kota Bandung... 15
Gambar 2.2 Logo LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung ... 16
Gambar 2.3 Lokasi LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung ... 17
Gambar 2.4 Struktur Organisasi LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung ... 20
Gambar 2.5 Ruang Uji Parameter Fisika untuk Air Kotor ... 25
Gambar 2.6 Ruang Uji Parameter Fisika untuk Air Bersih ... 26
Gambar 2.7 Ruang Gravimetri ... 27
Gambar 2.8 Ruang Volumetri ... 28
Gambar 2.9 Ruang Spektrofotometri 1... 28
Gambar 2.10 Ruang Spektrofotometri 2... 29
Gambar 2.11 Ruang Asam di Ruang Spektofotometri 2 ... 29
Gambar 2.12 Ruang Uji COD ... 30
Gambar 2.13 Spektrofotometer UV-Vis 1 dan 2 ... 31
Gambar 2.14 Spektrofotometer UV-Vis 3 ... 31
Gambar 2.15 Ruang AAS ... 32
Gambar 2.16 Ruang Preparasi untuk Pembuatan Media dan Penyimpanan Bahan... 33
Gambar 2.17 Ruang Preparasi bagian Waterbath ... 33
Gambar 2.18 Ruang Preparasi untuk Sterilisasi Alat dan Bahan ... 34
Gambar 2.19 Ruang Autoklaf dan Cuci ... 34
Gambar 2.20 Ruang Inkubator ... 35
Gambar 2.21 Ruang Steril ... 36
Gambar 2.22 Lokasi Bagian Hulu Sungai Citarum ... 39
Gambar 2.23 Lokasi Bagian Hulu Sungai Citarum ... 39
Gambar 2.24 Sungai Ciwayang ... 43
Gambar 2.25 Sungai Cigugur ... 43
viii Institut Teknologi Nasional
Gambar 3.1 Peta Pembagian Water District di Indonesia ... 51
Gambar 3.2 Termometer Air Raksa ... 57
Gambar 3.3 Desikator ... 60
Gambar 3.4 Oven ... 61
Gambar 3.5 Neraca Analitik Digital ... 62
Gambar 3.6 Pipet Volumetrik ... 62
Gambar 3.7 Gelas Ukur ... 63
Gambar 3.8 Cawan Petri ... 63
Gambar 3.9 Penjepit Kayu... 64
Gambar 3.10 Proses Penyaringan pada Uji TSS ... 64
Gambar 3.11 DO Meter ... 72
Gambar 3.12 Prinsip Kerja Sensor Amperometrik ... 73
Gambar 3.13 pH Meter ... 77
Gambar 3.14 Bagian-Bagian pada Elektrode Kombinasi ... 78
Gambar 3.15 Botol Semprot ... 79
Gambar 3.16 Autoklaf ... 88
Gambar 3.17 Inkubator ... 89
Gambar 3.18 Tabung Reaksi ... 89
Gambar 3.19 Kawat Ose ... 90
Gambar 3.20 Bunsen ... 91
Gambar 3.21 Botol Mikro ... 91
Gambar 3.22 Kriteria Penentuan Bakteri Coliform dalam Media Lauryl Tryptose Broth ... 93
Gambar 3.23 Kriteria Penentuan Bakteri Coliform dalam Media BGLB ... 95
Gambar 3.24 Skema Alternatif Pengolahan Air Permukaan Sebagai Air Baku Air Minum ... 100
Gambar 4. 1 Diagram Perbandingan Temperatur, pH, dan DO antara Sungai Citarum dan Cimanggu ... 108
Gambar 4. 2 Sungai Citarum ... 109
Gambar 4. 3 Sungai Cimanggu... 110
Gambar 4. 4 Diagram Perbandingan Konsentrasi TSS ... 115
ix Institut Teknologi Nasional
Gambar 4. 5 Lokasi Bagian Tengah dan Hilir Sungai Ciwayang ... 115
Gambar 4. 6 Lokasi Bagian Tengah Sungai Cigugur ... 116
Gambar 4. 7 Lokasi Bagian Hulu dan Hilir Sungai Citonjong ... 117
Gambar 4. 8 Diagram Perbandingan Konsentrasi Total Coliform ... 123
Gambar 4. 9 Lokasi Sungai dekat PT Jatayutex ... 124
1 Institut Teknologi Nasional
1. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Hasil survei kualitas air minum yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa hanya 17% rumah tangga di Indonesia yang mendapatkan akses air minum yang aman (Kemkes, 2021). Hampir 70%
dari 20.000 sumber air minum rumah tangga di Indonesia, tercemar limbah tinja sehingga menyebabkan penyakit diare (UNICEF, 2022). Krisis air ini disebabkan oleh terbatasnya pasokan air, kualitas air yang buruk, kontinuitas air yang tidak tersedia terus-menerus, perubahan iklim yang signifikan, dan daya tampung serta daya dukung sumber air yang masih rendah. Sumber air baku yang dapat digunakan untuk kebutuhan air minum terdiri dari mata air, air permukaan (sungai, danau, dan waduk), air tanah (sumur gali dan sumur bor), dan air hujan. Akan tetapi, terdapat permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia mengenai sumber air baku untuk air minum, seperti keberadaan mata air yang sudah berkurang akibat pembangunan, padahal kualitas mata air lebih baik dibandingkan sumber air lainnya. Selain itu, air tanah memiliki kandungan besi dan mangan yang lebih tinggi daripada sumber lainnya dan pemakaiannya pun mulai dikurangi karena penurunan muka tanah.
Sementara itu, air hujan tidak terserap oleh tanah karena banyaknya pembangunan. Selain itu, keberadaan air hujan sangat tergantung pada musim.
Oleh karena itu, saat ini air permukaan menjadi pilihan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk dijadikan sumber air baku karena kuantitas air permukaan masih tersedia dalam jumlah yang banyak, daripada ketiga sumber air baku yang lain. Akan tetapi, kualitas dan kontinuitas air permukaan tidak selamanya dalam jumlah yang banyak dan tersedia secara terus-menerus. Air permukaan akan tersedia lebih banyak pada saat musim hujan, sedangkan pada musim kemarau, debit air permukaan akan menurun. Selain itu, kualitas air permukaan sangat buruk dibandingkan dengan sumber air lainnya. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya limbah cair domestik dan industri, serta
Institut Teknologi Nasional
adanya sampah di dalam air permukaan (Djoko, 2016). Berdasarkan data dari World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia pada tahun 2020, 82% sungai di Indonesia dalam keadaan rusak dan 52 sungai di Indonesia dalam keadaan tercemar. Beberapa sungai yang tercemar berada di Pulau Jawa, seperti Sungai Ciliwung dan Sungai Citarum, yang banyak tercemar oleh sampah di bantaran sungai (Haryanto, 2020).
PDAM memiliki peran dalam menyediakan air minum untuk masyarakat. Air baku air minum yang banyak digunakan oleh PDAM adalah air permukaan, terutama air sungai. Akan tetapi, kualitas air sungai masih sangat buruk maka sebagai contoh, PDAM Kota Bandung melakukan upaya dalam mengurangi permasalahan kualitas sumber air baku peruntukan air minum tersebut. PDAM Kota Bandung melaksanakan kegiatan pemantauan lingkungan, terutama air, dengan melakukan pengujian di laboratorium terhadap lebih dari 400 sampel dalam satu bulan, melalui uji parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi, yang terdapat pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Proses dalam pengujian di Laboratorium Pengendalian Kualitas Lingkungan (LPKL) PDAM Kota Bandung terdiri dari survei pendahuluan; perencanaan pemantauan dan audit yang disusun berdasarkan kondisi aktual; sampling oleh petugas khusus sebagai Petugas Pengambil Contoh (PPC); dan pengujian sampel di laboratorium sesuai parameter yang diinginkan oleh pelanggan.
Hasil uji dianalisis dengan membandingkannya terhadap baku mutu (LPKL, 2017a).
Studi uji dan analisis kualitas air sungai peruntukan air baku air minum di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung ini, perlu dilaksanakan untuk mengetahui kualitas air sungai, yang akan dijadikan air baku air minum sehingga dapat dianalisis penyebab kualitas air yang buruk dan ditentukan alternatif untuk memperbaikinya. Uji kualitas air sungai tersebut dilaksanakan dengan uji parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi pada air sungai yang menjadi sampel di LPKL Perumda Tirtawening, yaitu Sungai Citarum,
Institut Teknologi Nasional
Cimanggu, Ciwayang, Cigugur, Citonjong, dan Cibogo. Hasil uji kualitas air sungai tersebut dianalisis dengan membandingkan hasil uji terhadap baku mutu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 (Lampiran VI peruntukan air baku air minum kelas 1).
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktik kerja ini adalah memastikan bahwa air baku sesuai dengan peruntukannya sebagai air minum. Tujuan dari pelaksanaan praktik kerja ini, yaitu:
1. Melakukan uji kualitas air sungai untuk beberapa parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung;
2. Menganalisis hasil perbandingan kualitas air sungai yang telah diuji dengan baku mutu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 (kelas 1); dan
3. Memberikan rekomendasi mengenai alternatif pengolahan air sungai berdasarkan hasil uji kualitas air sungai tersebut.
1.3 Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup dalam studi ini meliputi:
1. Data sekunder yang digunakan, yaitu data lokasi enam sungai yang airnya diuji, yaitu Sungai Citarum, Cimanggu, Ciwayang, Cigugur, Citonjong, dan Cibogo;
2. Pengujian kualitas air sungai pada sampel air eksternal (sampel yang berasal dari luar Perumda Tirtawening Kota Bandung) dengan uji parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi, yang terdiri dari parameter temperatur, pH, Dissolved Oxygen (DO), Total Suspended Solid (TSS), dan total coliform;
3. Data primer didapatkan melalui uji kualitas air sungai secara langsung yang dilaksanakan pada bulan Juli dan Agustus tahun 2022, di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung;
Institut Teknologi Nasional
4. Pengolahan data hasil uji kualitas air sungai untuk parameter TSS dilakukan dengan menggunakan persamaan matematika yang mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 6989.3:2019; dan coliform melalui tabel Most Probably Number (MPN) atau persamaan matematika yang mengacu pada metode American Public Health Association (APHA) 9221;
dan
5. Analisis hasil uji kualitas air sungai dilakukan dengan membandingkan hasil uji terhadap baku mutu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021.
1.4 Tahapan Pelaksanaan Praktik Kerja
Rangkaian sistematis dalam pelaksanaan praktik kerja ini ditunjukkan melalui bagan perencanaan pada Gambar 1.1.
Tahapan pelaksanaan praktik kerja berdasarkan diagram alir tersebut diuraikan sebagai berikut.
• Studi Pustaka
Tahapan studi pustaka adalah tahapan mencari dan mempelajari literatur- literatur yang berkaitan dengan uji kualitas air sungai, pengolahan data, dan analisis, seperti SNI untuk uji setiap parameter yang digunakan di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung, Standard Methods dari APHA, dan PP Nomor 22 Tahun 2021. Literatur-literatur tersebut digunakan sebagai rujukan atau acuan, standar, dan peraturan.
• Uji Kualitas Air Sungai
Tahapan uji kualitas air sungai merupakan tahapan mengukur dan mengetahui kondisi air sungai yang telah di-sampling (pengambilan contoh uji) oleh PPC. Uji kualitas air sungai dilakukan secara langsung di laboratorium melalui pengukuran parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi menggunakan peralatan instrumentasi, dan mengacu pada metode uji yang berlaku secara nasional serta internasional, seperti SNI, Standard Methods dari APHA, dan United States Environmental Protection Agency (US.EPA).
Institut Teknologi Nasional
Gambar 1.1 Diagram Alir Tahapan Pelaksanaan Praktik Kerja
Sumber : Hasil Perencanaan, 2022
Institut Teknologi Nasional
Hasil uji kualitas air sungai ini adalah data primer yang digunakan dalam tahapan pengolahan data untuk dianalisis.
• Pengumpulan Data
Tahapan pengumpulan data merupakan tahapan mengumpulkan informasi yang digunakan dalam pengolahan data. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder.
a. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan secara langsung dari hasil uji kualitas air sungai di LPKL. Data primer yang didapatkan adalah konsentrasi dari parameter yang diuji, yaitu temperatur, pH, DO, TSS, dan total coliform.
b. Data Sekunder
Data sekunder yang digunakan dalam studi ini adalah data lokasi sungai yang airnya akan diuji di LPKL. Lokasi sungai berada di Provinsi Jawa Barat. Data tersebut diperoleh dari laporan lokasi sampling bagian teknik atau analis di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung.
• Kelengkapan Data
Tahapan kelengkapan data merupakan tahapan untuk memastikan bahwa data, baik data primer maupun data sekunder yang telah diperoleh dan dikumpulkan, telah lengkap sesuai dengan kebutuhan dalam studi ini.
Apabila data sudah lengkap, maka dapat dilanjutkan ke tahap pengolahan data. Akan tetapi, apabila data yang dikumpulkan tidak lengkap, maka tahapan pengumpulan data dilakukan kembali.
• Pengolahan Data
Tahapan pengolahan data merupakan tahapan mengolah data primer dan sekunder menjadi informasi yang dapat digunakan pada tahap analisis.
Pengolahan data pada studi ini terdiri dari perhitungan konsentrasi TSS dan
Institut Teknologi Nasional
total coliform dari hasil uji, serta pembuatan grafik dari hasil uji seluruh parameter yang telah dilakukan.
a. Perhitungan Konsentrasi TSS dan Total Coliform
Hasil uji parameter temperatur, pH, dan DO, berupa hasil akhir yang menunjukkan konsentrasi parameter-parameter tersebut, yang terkandung di dalam air sungai. Akan tetapi, hasil uji dari parameter TSS dan total coliform, berupa data yang harus diolah untuk mendapatkan konsentrasi parameter-parameter tersebut.
Data dari uji kualitas air sungai untuk parameter TSS terdiri dari berat awal (W0), berat akhir (W1), dan volume sampel. Konsentrasi TSS dapat diketahui melalui perhitungan menggunakan persamaan matematika dengan data tersebut dan mengacu pada SNI 6989.3:2019.
Data dari uji kualitas air sungai untuk parameter total coliform adalah data banyaknya tabung yang mengindikasikan adanya mikroba di dalam sampel. Konsentrasi total coliform dapat diketahui berdasarkan tabel MPN atau persamaan matematika yang mengacu pada metode APHA 9221.
b. Pembuatan Grafik Hasil Uji Kualitas Air Sungai
Hasil uji kualitas air sungai dan pengolahan data melalui perhitungan yang telah dilakukan, diolah kembali dengan mengubah bentuk data tersebut menjadi grafik. Grafik yang digunakan adalah diagram batang dengan sumbu x menunjukkan lokasi sungai yang airnya diuji dan sumbu y menunjukkan konsentrasi dari setiap parameter yang diuji. Grafik pada studi ini dibuat untuk setiap parameter yang diuji. Hasil pengolahan data berupa grafik batang ini akan menunjukkan perbedaan konsentrasi temperatur, pH, DO, TSS, dan total coliform dari beberapa sungai di Provinsi Jawa Barat.
Institut Teknologi Nasional
• Analisis
Tahapan analisis merupakan tahapan mengamati dan mengidentifikasi hasil pengolahan data. Analisis dilakukan melalui proses membandingkan hasil uji kualitas air sungai untuk setiap parameter dengan PP Nomor 22 Tahun 2021. Dari hasil perbandingan tersebut dapat dianalisis mengenai faktor- faktor yang memengaruhi hasil uji kualitas air sungai tersebut.
• Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan diperoleh dari hasil analisis. Kesimpulan dari uji dan analisis kualitas air sungai ini berisi perbedaan kualitas air beberapa sungai di Provinsi Jawa Barat, serta penentuan penggunaan air sungai tersebut sebagai sumber air baku air minum berdasarkan kualitasnya. Kesimpulan tersebut akan menghasilkan saran berupa alternatif untuk menanggulangi ketidaksesuaian hasil uji kualitas air sungai tersebut dengan baku mutu.
1.5 Data, Jenis Data, dan Metode
Data, jenis data, dan metode yang diperlukan ditunjukkan melalui Tabel 1.1.
1.6 Sistematika Penulisan
Laporan praktik kerja ini terdiri dari 5 bab pembahasan yang disusun secara sistematis. Sistematika pembahasan pada laporan ini adalah sebagai berikut.
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini berisi gambaran mengenai analisis dan uji kualitas air sungai peruntukan air baku air minum di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung.
Bab ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu latar belakang, maksud dan tujuan, ruang lingkup kegiatan, tahapan pelaksanaan praktik kerja, data, jenis data, dan metode, serta sistematika penulisan.
Institut Teknologi Nasional
Tabel 1.1 Data, Jenis Data, dan Metode yang Diperlukan
No. Data yang
Diperlukan Kegunaan Data Jenis
Data Sumber Data Metode
Pengumpulan Metode Pengujian Metode Pengolahan Metode Analisis 1 Literatur mengenai
sistem air baku dan parameter yang diuji (fisika, kimia, dan mikrobiologi)
Studi pustaka, uji kualitas air sungai, pengolahan data, dan analisis kualitas air sungai
Sekunder Modul Sistem Informasi Sumber Daya Air BPSDM Kementerian PU Tahun 2017, Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater APHA Tahun 2017, dan SNI
Tinjauan pustaka
2 Parameter yang diuji
Metode uji kualitas air sungai yang digunakan
Sekunder • SNI, yaitu:
- SNI 06-6989.23- 2005 (suhu) - SNI 6989.11:2019
(pH)
• Metode potensiometri untuk parameter temperatur, pH, dan DO
Institut Teknologi Nasional No. Data yang
Diperlukan Kegunaan Data Jenis
Data Sumber Data Metode
Pengumpulan Metode Pengujian Metode Pengolahan Metode Analisis - SNI 06-6989.14-
2004 (oksigen terlarut)
- SNI 6989.3:2019 (TSS)
• Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater APHA, yaitu Standard Methods APHA 9221 (total coliform)
• Metode
gravimetri untuk parameter TSS
• Metode MPN untuk parameter total coliform
3 Kualitas air sungai (beberapa sungai di Provinsi Jawa Barat) pada bulan
Pengolahan data dan analisis kualitas air sungai
Primer Surat tugas dan catatan hasil pengujian
Melakukan pengujian secara
Institut Teknologi Nasional No. Data yang
Diperlukan Kegunaan Data Jenis
Data Sumber Data Metode
Pengumpulan Metode Pengujian Metode Pengolahan Metode Analisis Juli dan Agustus
2022
peruntukan air baku air minum
langsung dan studi dokumen 4 Lokasi sungai yang
airnya diuji di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung
Pengolahan data dan analisis kualitas air sungai
Sekunder Laporan lokasi sampling bulanan
Studi dokumen
5 • Hasil uji kualitas air sungai parameter temperatur, pH, dan DO
• Berat awal (W0), berat akhir (W1), dan volume sampel pada uji TSS
Pengolahan data dan untuk mengetahui konsentrasi parameter TSS dan total coliform
Primer Surat tugas dan catatan hasil pengujian
• Pembuatan grafik batang untuk setiap parameter
• Perhitungan melalui persamaan
matematika yang mengacu pada SNI 6989.3:2019 untuk TSS
Institut Teknologi Nasional No. Data yang
Diperlukan Kegunaan Data Jenis
Data Sumber Data Metode
Pengumpulan Metode Pengujian Metode Pengolahan Metode Analisis
• Banyaknya tabung yang mengindikasikan adanya mikroba pada uji total coliform
• Perhitungan banyaknya total coliform melalui tabel MPN atau persamaan matematika yang mengacu pada Standard Methods APHA 9221 6 Grafik hasil uji
kualitas air sungai dan konsentrasi setiap parameter yang diuji
Analisis kualitas air sungai peruntukan air baku air minum
Primer Hasil pengolahan data Metode komparatif
dan identifikasi hasil uji
Sumber : Hasil Perencanaan, 2022
Institut Teknologi Nasional
BAB 2 GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI
Bab ini mencakup informasi umum mengenai LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung, yang meliputi lingkup pekerjaan dan pelayanan di LPKL.
BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini memberikan penjelasan mengenai teori – teori dan hasil penelitian dari peraturan, artikel, jurnal, dan buku yang berhubungan dengan studi praktik kerja, serta digunakan sebagai acuan dalam studi uji dan analisis kualitas air sungai peruntukan air baku air minum di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung ini.
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi data hasil uji kualitas air sungai yang telah dilakukan melalui pengolahan data pada grafik serta analisis dan pembahasan mengenai perbandingan hasil uji kualitas air sungai tersebut dengan baku mutu pada PP Nomor 22 Tahun 2021.
BAB 5 PENUTUP
Bab ini berupa kesimpulan mengenai hasil uji dan analisis kualitas air sungai peruntukan air baku air minum di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung dan saran mengenai proses pengujian, serta alternatif untuk menanggulangi ketidaksesuaian hasil uji kualitas air sungai tersebut dengan baku mutu.
14 Institut Teknologi Nasional
2. BAB 2
GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI
2.1 Sejarah dan Status LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung
Kota Bandung merupakan kota yang awalnya dirancang hanya untuk 200.000 penduduk. Akan tetapi, jumlah penduduk dan arus urbanisasi yang berkembang di Kota Bandung, menyebabkan kepadatan penduduk mencapai hingga 10.899 jiwa/km2. Perumahan dan sarana penunjang, seperti air minum pun meningkat seiring dengan bertambahnya kepadatan penduduk di Kota Bandung.
Kebutuhan tersebut mengakibatkan didirikannya PDAM Kota Bandung.
PDAM Kota Bandung didirikan sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Kotamadya Bandung Nomor 7/PD/1974 jo. Perda Nomor 22/1981 jo. Perda Nomor 08/1987. Status perusahaan dan perkembangan didirikannya PDAM Kota Bandung diuraikan sebagai berikut (Tirtawening, 2022).
• Tahun 1916 – 1928: Stadsgemente Water Leiding Bandung
• Tahun 1928 – 1943: Technische Ambtenaar
• Tahun 1943 – 1945: Sui Doko
• Tahun 1945 – 1954: Perusahaan Air
• Tahun 1953 – 1965: Dinas Perusahaan Bagian B (DPB)
• Tahun 1965 – 1974: Dinas Teknik Penyehatan (DTP)
• Tahun 1974 – 1987: PDAM Kota Bandung
PDAM Kota Bandung sebagai BUMD berdasarkan Peraturan Daerah Kotamadya Bandung Nomor 7/PD/1974 disahkan oleh Gubernur Jawa Barat pada tanggal 31 Oktober 1974.
• Tahun 1987 – 2009: Pengelolaan Air Kotor
Pengelolaan air kotor masuk ke dalam PDAM Kota Bandung berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 1987.
• Tahun 2009 – 2020: Perusahaan Daerah Air Minum Tirtawening Kota Bandung
Institut Teknologi Nasional
PDAM Kota Bandung berganti nama menjadi Perusahaan Daerah Air Minum Tirtawening Kota Bandung pada tanggal 7 November 2009 dan disahkan oleh Walikota Bandung melalui Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 15 Tahun 2009 tentang Perusahaan Daerah Air Minum.
• Tahun 2020 – sekarang: Perumda Tirtawening Kota Bandung
Logo dari Perumda Tirtawening Kota Bandung ditunjukkan melalui Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Logo PERUMDA Tirtawening Kota Bandung
Sumber: Tirtawening, 2022
PDAM Kota Bandung memiliki tugas untuk melayani penyediaan air minum dari sisi kuantitas air yang didistribusikan kepada pelanggan, menjaga, serta memperbaiki kualitas air minum secara fisika, kimia, dan mikrobiologi sehingga air minum aman digunakan oleh masyarakat. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) memperketat perlindungan terhadap konsumen;
dan kementerian kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, sehingga PDAM Kota Bandung meningkatkan kegiatan monitoring kualitas air baku dan air produksi, baik dari banyaknya contoh uji yang diambil maupun dari banyaknya parameter yang diuji. Oleh karena itu, PDAM Kota Bandung melakukan monitoring dengan melakukan pengujian contoh uji di laboratorium terhadap lebih dari 400 sampel dalam satu bulan dengan jumlah parameter yang telah ditetapkan dalam peraturan tersebut. Pada tahun 2003, dibentuklah Pilot Project Unit Bisnis Laboratorium dengan nama LPKL yang memberikan jasa pengujian kualitas air dan udara. LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung berada di Jalan Atlas Raya No. 6, Kelurahan Babakan Surabaya,
Institut Teknologi Nasional
Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung (LPKL, 2017b). Lokasi tersebut ditunjukkan melalui Gambar 2.3. Logo dari LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung ditunjukkan melalui Gambar 2.2.
Gambar 2.2 Logo LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung
Sumber: LPKL, 2017
LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung telah terakreditasi dengan ketersediaan sarana, prasarana, dan personil yang memadai. Maksud dan tujuan didirikannya LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung, yaitu: (LPKL, 2017b)
• Penghematan struktur organisasi laboratorium PDAM;
• Penghematan anggaran laboratorium;
• PDAM dapat memiliki laboratorium yang kompeten dalam melaksanakan pengujian internal; dan
• PDAM dapat memiliki pendapatan tambahan dari pemanfaatan laboratorium PDAM.
2.2 Visi dan Misi LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung
LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung merupakan laboratorium yang bergerak dalam monitoring kualitas lingkungan, penelitian dan pengujian, serta konsultasi lingkungan. LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung memiliki visi dan misi yang diuraikan sebagai berikut (LPKL, 2017b).
Institut Teknologi Nasional
Gambar 2.3 Lokasi LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung
Sumber: Badan Informasi Geospasial, 2023
Institut Teknologi Nasional
• Visi
Visi dari LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung adalah menjadi laboratorium terbaik, unggul, aman, dan terjangkau oleh kemampuan masyarakat, khususnya di Kota Bandung.
• Misi
Misi dari LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung, yaitu: (LPKL, 2017b) 1. Memberikan pelayanan secara terpadu kepada masyarakat;
2. Senantiasa melengkapi sarana dan prasarana laboratorium dan alat penunjangnya, serta meningkatkan profesionalisme karyawan dalam memberikan layanan kepada masyarakat;
3. Membudayakan sikap peka dan tanggap terhadap kebutuhan konsumen, serta menciptakan suasana lingkungan laboratorium yang nyaman; dan 4. Menyelenggarakan pelayanan pemeriksaan laboratorium, dengan mendayagunakan berbagai potensi, dan pengelolaan secara efektif serta efisien.
2.3 Struktur Organisasi LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung
Struktur organisasi LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung ditunjukkan melalui Gambar 2.4.
Deskripsi pekerjaan berdasarkan struktur organisasi diuraikan sebagai berikut.
• Kepala Unit
Kepala unit LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung bertanggung jawab atas seluruh kegiatan pilot proyek. Kepala unit melaksanakan tugas dan wewenangnya dibantu oleh kepala seksi pemasaran, keuangan dan umum, mutu, dan teknik (LPKL, 2017b).
• Kepala Seksi Pemasaran
Kepala bidang pemasaran memiliki tugas dan wewenang dalam membantu kepada unit LPKL, dan bertanggung jawab terhadap kegiatan pengembangan wilayah pemasaran LPKL melalui promosi dan koordinasi
Institut Teknologi Nasional
dengan instansi, konsultan lingkungan, serta pelaku usaha yang menggunakan jasa pengujian laboratorium. Kepala seksi pemasaran dibantu oleh penyelia pelayanan pelanggan dan anggota bidang pemasaran. Penyelia pelayanan pelanggan bertugas sebagai pengawas dalam bidang pemasaran (LPKL, 2017b).
• Kepala Seksi Keuangan dan Umum
Kepala bidang keuangan dan umum memiliki tugas dan wewenang dalam menyusun rencana kerja dan anggaran, menyelenggarakan kegiatan pengadaan barang dan jasa, dan bertanggung jawab terhadap pemeliharaan dan perbaikan bangunan, kendaraan operasional, serta sarana penunjang LPKL. Kepala seksi keuangan dan umum dibantu oleh penyelia umum serta anggota bidang keuangan dan umum. Penyelia umum bertugas sebagai pengawas dalam bidang keuangan dan umum (LPKL, 2017b).
• Kepala Seksi Mutu
Kepala bidang mutu bertanggung jawab terhadap kegiatan pengendalian sistem mutu, sesuai dengan dokumen sistem mutu yang telah ditetapkan, melalui pelaksanaan audit secara berkala. Kepala seksi mutu dibantu oleh penyelia Pusat Pembinaan Pelatihan dan Sertifikasi Mandiri (P3SMM) dan penyelia Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lindung Lingkungan (K3LL) (LPKL, 2017b).
• Kepala Seksi Teknik
Kepala bidang teknik bertanggung jawab terhadap kegiatan pengujian contoh uji dari pelanggan, baik contoh uji internal maupun eksternal, dan bertanggung jawab terhadap kegiatan pemeliharaan, perbaikan, serta kalibrasi alat uji. Kepala seksi teknik dibantu oleh penyelia pengolahan data;
pengambil contoh uji (PCU) air dan internal; udara emisi; udara ambien;
dan penyelia pengujian (LPKL, 2017b). Saya melaksanakan praktik kerja di bawah kepala seksi teknik dan penyelia pengujian sampel air.
Institut Teknologi Nasional
Gambar 2.4 Struktur Organisasi LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung
Sumber: LPKL, 2017 Keterangan: = Pelaksanaan Praktik Kerja
Institut Teknologi Nasional
2.4 Aspek Kegiatan LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung
Aspek kegiatan di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung terbagi menjadi ruang lingkup pelayanan dan pengujian yang diuraikan sebagai berikut.
2.4.1 Ruang Lingkup Pelayanan
Lingkup pekerjaan yang disediakan oleh LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung, terdiri dari penyediaan jasa konsultasi terhadap perencanaan monitoring dan audit kesehatan lingkungan, pengujian, serta konsultasi mengenai hasil uji yang telah dilakukan. Ruang lingkup pelayanan tersebut diuraikan sebagai berikut (LPKL, 2017b).
1) Survei Pendahuluan
Pada survei pendahuluan, pelanggan mendapatkan masukan dari pihak LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung, mengenai kegiatan monitoring kualitas lingkungan dan audit kesehatan lingkungan yang direncanakan, dengan mempertimbangkan peraturan pemerintah yang berlaku, dan sasaran kegiatan monitoring, serta kondisi yang diharapkan oleh pelanggan (LPKL, 2017b).
2) Perencanaan Monitoring dan Audit
Perencanaan audit kesehatan lingkungan dan monitoring kualitas lingkungan, disusun berdasarkan kondisi aktual di lapangan, sehingga dapat ditentukan jumlah dan jenis contoh uji yang diambil, parameter uji yang harus diperiksa, dan frekuensi sampling yang harus dilakukan. Perencanaan monitoring dan audit tersebut diperlukan untuk menentukan estimasi biaya, jumlah personil, dan waktu pelaksanaan sampling (LPKL, 2017b).
3) Pengambilan Contoh Uji (Sampling)
Pengambilan contoh uji dilakukan oleh petugas khusus yang telah memiliki sertifikat sebagai PPC. PPC mengambil contoh uji menggunakan peralatan dan bahan kimia penunjang, sehingga contoh uji tidak terkontaminasi, atau mengalami perubahan selama proses sampling, dari lokasi sampling sampai ke laboratorium. Contoh uji air biasanya diambil di 3 titik, yaitu upstream
Institut Teknologi Nasional
(hulu), tengah, dan downstream (hilir). Pengambilan contoh uji dilakukan dengan mengacu pada SNI yang berlaku. Ruang lingkup pengambilan contoh uji yang dilakukan oleh LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung, berasal dari pelanggan dan mitra di Provinsi Jawa Barat, seperti daerah Bandung; Cianjur; Majalengka; Cirebon; dan Pangandaran, serta dari luar Provinsi Jawa Barat, seperti daerah Jawa Tengah (LPKL, 2017b).
4) Pengujian Contoh Uji
Pengujian contoh uji dilaksanakan di lapangan untuk parameter tertentu.
Setelah itu, pengujian dilaksanakan di laboratorium, menggunakan peralatan instrumentasi dan metode uji yang berlaku, secara nasional dan internasional, seperti SNI, standard methods, dan U.S. EPA, sehingga hasil pengujian memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Pengujian contoh uji air dilakukan melalui pengukuran parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi (LPKL, 2017b).
5) Konsultasi Hasil Pengujian
Hasil pengujian contoh uji disusun dalam sebuah sertifikat hasil uji, dengan mencantumkan nilai ambang batas. Hasil pengujian contoh uji dianalisis, dengan membandingkan hasil uji terhadap baku mutu yang telah ditetapkan.
Apabila beberapa, atau semua parameter yang diuji tersebut tidak memenuhi baku mutunya, maka penyebabnya dianalisis berdasarkan kondisi eksisting, atau faktor lainnya. Setelah itu, didapatkan penjelasan mengenai faktor- faktor yang menyebabkan hasil uji tersebut tidak sesuai dengan baku mutunya (LPKL, 2017b).
6) Konsultasi Perbaikan Hasil Uji
Pihak LPKL akan memberikan beberapa alternatif, untuk memperbaiki ketidaksesuaian kualitas contoh uji, dari hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap konsultasi hasil pengujian (LPKL, 2017b).
Institut Teknologi Nasional
7) Penelitian dan Evaluasi
Pengujian dan evaluasi dapat dilakukan terhadap kualitas air minum dan air buangan (limbah), sehingga pihak LPKL dapat memberikan alternatif perencanaan desain proses baru, atau perbaikan desain proses yang sudah ada beserta estimasi biayanya (LPKL, 2017b).
8) Pelatihan
Pihak LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung dapat memberikan pelatihan bagi operator, dan pihak-pihak yang akan melaksanakan kegiatan monitoring terbatas di lingkungannya, seperti pengambilan contoh uji; dan pengujian contoh uji untuk parameter tertentu, yang harus diuji di lapangan (LPKL, 2017b).
2.4.2 Ruang Lingkup Pengujian
Ruang lingkup pengujian di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung, dikelompokkan menjadi bagian monitoring kualitas air, udara, dan audit kesehatan lingkungan. Ruang lingkup pengujian tersebut diuraikan sebagai berikut (LPKL, 2017b).
1) Monitoring Kualitas Air
Monitoring kualitas air merupakan kegiatan pemantauan terhadap contoh uji air, yang telah di-sampling dari pelanggan dan mitra, melalui pengujian contoh uji, baik di lapangan maupun di laboratorium. Contoh uji air yang di-sampling oleh PPC berasal dari beberapa sumber yang diuraikan sebagai berikut (LPKL, 2017b).
• Badan Air
Kelompok badan air memiliki kode nomor order BDG. Contoh uji tersebut berasal dari sungai, mata air, danau, dan sumur pompa dalam atau dangkal (LPKL, 2017b).
Institut Teknologi Nasional
• Inlet dan Outlet dari Pengolahan Air
Kelompok inlet dan outlet dari kegiatan pengolahan air memiliki kode nomor order AM atau AB. Contoh uji tersebut berasal dari PDAM, Air Minum dalam Kemasan (AMDK), dan air minum isi ulang (LPKL, 2017b).
• Inlet dan Outlet dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
Kelompok inlet dan outlet dari kegiatan pada IPAL memiliki kode nomor order LC. Contoh uji tersebut berasal dari air limbah domestik, industri, rumah sakit, hotel, dan restoran (LPKL, 2017b).
Pengujian contoh uji air dilakukan dengan pengukuran parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi. Akan tetapi, hanya beberapa parameter yang diuji dari seluruh parameter yang terdapat pada PP Nomor 22 Tahun 2021. Hal tersebut disebabkan oleh karena belum tersedianya peralatan laboratorium yang sesuai dengan SNI, standard methods, dan U.S. EPA untuk pengujian parameter tertentu; serta masih adanya penelitian yang harus dilakukan oleh para analis, mengenai metode uji yang akan digunakan pada pengukuran beberapa parameter. Parameter – parameter yang diuji di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung diuraikan sebagai berikut (LPKL, 2017b).
1. Parameter Fisika
Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021 pada lampiran VI, parameter fisika terdiri dari temperatur, TDS, TSS, dan warna. Ruang uji untuk parameter fisika di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung dibagi menjadi 3 ruangan, yaitu ruang uji parameter fisika untuk air kotor (AK), fisika untuk air bersih (AB), dan gravimetri.
• Ruang Uji Parameter Fisika untuk Air Kotor (AK)
Ruang uji parameter fisika AK merupakan ruang pengujian untuk mengukur parameter fisika pada contoh uji air kotor, yang berasal dari badan air, serta inlet dan outlet dari IPAL. Parameter yang diuji pada ruangan tersebut adalah temperatur, daya hantar listrik (DHL),
Institut Teknologi Nasional
kekeruhan, dan bau. Selain itu, di ruangan ini, diuji pula parameter kimia, yaitu DO dan derajat keasaman (pH). Alat yang tersedia di ruangan ini adalah pH meter dan turbidimeter. Hasil uji parameter fisika langsung didapatkan melalui alat ukur digital. Ruang uji parameter fisika untuk air kotor tersebut ditunjukkan melalui Gambar 2.5.
Gambar 2.5 Ruang Uji Parameter Fisika untuk Air Kotor
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
• Ruang Uji Parameter Fisika untuk Air Bersih (AB)
Ruang uji parameter fisika AB merupakan ruang pengujian untuk mengukur parameter fisika pada contoh uji air bersih, yang berasal dari PDAM, AMDK, dan air minum isi ulang. Parameter yang diuji pada ruangan tersebut adalah DHL dan kekeruhan. Pada ruang uji parameter fisika AB ini, dilakukan juga pengujian parameter kimia anorganik, yaitu pH dan DO. Alat yang tersedia di ruangan ini adalah pH meter, turbidimeter, dan DO meter. Hasil uji langsung didapatkan melalui alat ukur digital tersebut. Ruang uji parameter fisika untuk air bersih tersebut ditunjukkan melalui Gambar 2.6.
Institut Teknologi Nasional
Gambar 2.6 Ruang Uji Parameter Fisika untuk Air Bersih
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
• Ruang Gravimetri
Ruang gravimetri merupakan ruang pengujian untuk mengukur parameter warna, TDS, dan TSS pada contoh uji air. Hasil uji parameter warna didapatkan secara langsung, melalui pengamatan dan membandingkan warna contoh uji air dengan warna larutan baku.
Hasil uji parameter TDS didapatkan secara langsung melalui alat ukur TDS meter. Pengujian parameter TSS dengan metode gravimetri, memerlukan waktu selama 1,5 jam. Ruang gravimetri berada di lantai 2 LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung. Alat yang tersedia di ruangan ini adalah TDS meter, timbangan analitik, oven, dan alat vakum. Ruang uji gravimetri tersebut ditunjukkan melalui Gambar 2.7.
2. Parameter Kimia
Parameter kimia dibedakan menjadi kimia organik dan anorganik.
Parameter kimia organik yang diuji di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung adalah COD, detergen sebagai methylene blue active substances (MBAS), fenol, zat organik (KMnO4), dan DO; sedangkan parameter kimia anorganik yang diuji adalah pH, kesadahan total (CaCO3), klorida (Cl-), sulfat (SO42-), klorin bebas, ammonia (NH3), nitrat (NO3-), nitrit (NO2-), krom heksavalen (Cr-(VI)), belerang sebagai
Institut Teknologi Nasional
Gambar 2.7 Ruang Gravimetri
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
H2S, fluorida (F-), besi (Fe), mangan (Mn), barium (Ba), tembaga (Cu), seng (Zn), nikel (Ni), dan kobalt (Co) (LPKL, 2017b). Ruang uji parameter kimia di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung terdiri dari beberapa ruangan yang diuraikan sebagai berikut.
• Ruang Volumetri
Ruang volumetri merupakan ruang uji untuk mengukur parameter klorida (Cl-), kesadahan total (CaCO3), dan zat organik (KMnO4).
Pengujian parameter-parameter tersebut membutuhkan waktu selama
± 20 menit dengan metode volumetri atau titrimetri. Alat utama yang digunakan di ruangan ini adalah alat titrasi atau buret. Ruang volumetri tersebut ditunjukkan melalui Gambar 2.8.
• Ruang Spektrofotometri 1
Ruang spektrofotometri 1 merupakan ruang uji untuk mengukur parameter ammonia (NH3), nitrat (NO3-), nitrit (NO2-), krom heksavalen (Cr-(VI)), belerang sebagai H2S, dan fluorida (F-). Ruang spektrofotometri 1 ini adalah ruang untuk melakukan penambahan bahan kimia ke dalam sampel, sesuai dengan SNI yang berlaku, dan sebagai tempat pengukuran parameter fluorida (F-). Alat yang terdapat di ruangan ini adalah spektrofotometer Hach DR3900 untuk
Institut Teknologi Nasional
Gambar 2.8 Ruang Volumetri
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
mengukur kandungan fluorida (F-) pada contoh uji air; sedangkan alat spektrofotometer UV-Vis dan komputer, yang digunakan untuk mengukur parameter lainnya, terdapat di ruang instrumen.
Pengukuran parameter ammonia membutuhkan waktu ± 30 menit, krom heksavalen selama ± 15 menit, nitrit selama ± 12 menit, belerang sebagai H2S selama 20 menit, serta nitrat dan fluorida selama ± 2 menit. Ruang spektrofotometri 1 ditunjukkan melalui Gambar 2.9.
Gambar 2.9 Ruang Spektrofotometri 1
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
• Ruang Spektrofotometri 2
Ruang spektrofotometri 2 merupakan ruang uji untuk mengukur parameter detergen sebagai MBAS, fenol, sulfat (SO42-), dan klorin bebas. Ruang spektrofotometri 2 ini adalah ruang untuk melakukan penambahan bahan kimia ke dalam sampel, sesuai dengan SNI yang
Institut Teknologi Nasional
berlaku. Alat spektrofotometer UV-Vis dan komputer, yang digunakan untuk mengukur parameter-parameter tersebut, terdapat di ruang instrumen. Pengukuran sulfat (SO42-) membutuhkan waktu selama 5 menit dan klorin bebas selama 2 menit. Ruang spektrofotometri 2 ditunjukkan melalui Gambar 2.10.
Gambar 2.10 Ruang Spektrofotometri 2
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
Penambahan bahan kimia ke dalam sampel, pada pengukuran parameter detergen sebagai MBAS, dilakukan di dalam ruang asam yang terdapat pada ruang spektrofotometri 2. Ruang asam tersebut ditunjukkan melalui Gambar 2.11.
Gambar 2.11 Ruang Asam di Ruang Spektofotometri 2
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
• Ruang Uji COD
Ruang uji COD merupakan ruang uji untuk mengukur parameter COD dan BOD. Akan tetapi, pengukuran parameter BOD saat ini tidak
Institut Teknologi Nasional
dilakukan karena dari pihak LPKL belum melakukan uji tersebut. Hal tersebut disebabkan oleh waktu pengujian yang lama, dan contoh uji yang biasanya berjumlah sangat banyak. Ruang uji COD ini adalah ruang untuk melakukan penambahan bahan kimia ke dalam sampel, dan proses refluks sesuai dengan SNI yang berlaku. Alat yang terdapat di ruangan ini adalah alat refluks; sedangkan alat spektrofotometer UV-Vis dan komputer yang digunakan untuk mengukur parameter COD, terdapat di ruang instrumen. Selain itu, di ruang uji COD ini juga terdapat ruang asam, yang digunakan untuk proses pembuatan bahan kimia, serta proses destruksi untuk pengukuran parameter logam. Pengujian parameter COD memerlukan waktu selama 2,5 jam.
Ruang uji COD tersebut ditunjukkan melalui Gambar 2.12.
Gambar 2.12 Ruang Uji COD
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
• Ruang Instrumen
Ruang instrumen merupakan ruang pengukuran parameter COD, detergen sebagai MBAS, fenol, sulfat (SO42-), ammonia (NH3), nitrat (NO3-), nitrit (NO2-), krom heksavalen (Cr-(VI)), dan belerang sebagai H2S menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis dan komputer.
Terdapat 3 alat spektrofotometer UV-Vis dan komputer di ruangan ini. Spektrofotometer UV-Vis 1 digunakan untuk mengukur parameter ammonia (NH3), nitrat (NO3-), nitrit (NO2-), krom heksavalen (Cr-(VI)), dan belerang sebagai H2S. Spektrofotometer
Institut Teknologi Nasional
UV-Vis 2 digunakan untuk mengukur parameter detergen sebagai MBAS, fenol, dan sulfat (SO42-). Alat spektrofotometer UV-Vis 1 dan 2 pada ruang instrumen tersebut ditunjukkan melalui Gambar 2.13.
Gambar 2.13 Spektrofotometer UV-Vis 1 dan 2
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
Selain itu, di ruang instrumen juga terdapat alat spektrofotometer UV- Vis 3 dan komputer, yang digunakan untuk mengukur parameter COD. Alat spektrofotometer UV-Vis 3 di ruang instrumen tersebut ditunjukkan melalui Gambar 2.14.
Gambar 2.14 Spektrofotometer UV-Vis 3
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
• Ruang Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)
Ruang AAS merupakan ruang yang digunakan untuk pengujian contoh uji air, dengan pengukuran parameter logam, yaitu besi (Fe), mangan (Mn), barium (Ba), tembaga (Cu), seng (Zn), nikel (Ni), dan kobalt (Co). Hasil uji parameter-parameter tersebut langsung didapatkan melalui alat ukur yang digunakan. Alat yang digunakan untuk mengukur parameter-parameter tersebut adalah alat AAS. Alat
Institut Teknologi Nasional
tersebut terhubung dengan komputer dan gas. Ruang AAS ditunjukkan melalui Gambar 2.15.
Gambar 2.15 Ruang AAS
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
3. Parameter Mikrobiologi
Parameter mikrobiologi merupakan parameter yang wajib diuji karena dampaknya dapat berbahaya dan mengakibatkan penyakit infeksi, mengingat berdasarkan World Health Organization (WHO) dan APHA, kualitas air ditentukan oleh kehadiran dan jumlah bakteri di dalamnya (Widiyanti, 2017). Parameter mikrobiologi yang diukur di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung, terdiri dari coliform, fecal coliform, dan Escherichia coli. Pengujian parameter-parameter tersebut memerlukan waktu selama 3 hari. Ruang uji parameter mikrobiologi terdiri dari 4 bagian, yaitu ruang preparasi; ruang autoklaf dan cuci; ruang inkubator; dan ruang steril. Peruntukan ruang – ruang tersebut diuraikan sebagai berikut.
• Ruang Preparasi
Ruang preparasi merupakan ruang yang digunakan untuk membuat media yang diperlukan dalam pengujian parameter mikrobiologi, penyimpanan bahan, dan sterilisasi alat. Alat yang terdapat pada ruang ini adalah chiller, waterbath, magnetic stirrer, dan oven. Ruang preparasi bagian pembuatan media dan penyimpanan bahan ditunjukkan melalui Gambar 2.16.
Institut Teknologi Nasional
Gambar 2.16 Ruang Preparasi untuk Pembuatan Media dan Penyimpanan Bahan
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
Ruang preparasi bagian penstabilan suhu pada media dan bahan yang digunakan ditunjukkan melalui Gambar 2.17.
Gambar 2.17 Ruang Preparasi bagian Waterbath
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
Ruang preparasi bagian sterilisasi alat menggunakan oven ditunjukkan melalui Gambar 2.18.
Institut Teknologi Nasional
Gambar 2.18 Ruang Preparasi untuk Sterilisasi Alat dan Bahan
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
• Ruang Autoklaf dan Cuci
Ruang autoklaf dan cuci merupakan ruang yang digunakan untuk proses sterilisasi media, yang akan digunakan dalam pengujian menggunakan autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit (APHA, 1992). Selain itu, ruang ini juga digunakan sebagai tempat untuk membersihkan alat – alat, yang telah selesai digunakan dalam pengujian. Ruang autoklaf dan cuci tersebut ditunjukkan melalui Gambar 2.19.
Gambar 2.19 Ruang Autoklaf dan Cuci
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
• Ruang Inkubator
Ruang inkubator merupakan ruangan yang berisi beberapa inkubator, yang berfungsi untuk mempertahankan suhu dan kelembaban media
Institut Teknologi Nasional
yang sudah ditanam pada contoh uji, sehingga mikroba pada media dapat tumbuh dengan baik (Permadi, 2015). Ruang inkubator tersebut ditunjukkan melalui Gambar 2.20.
Gambar 2.20 Ruang Inkubator
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
• Ruang Steril
Ruang steril merupakan ruang untuk proses inokulasi dari contoh uji ke dalam media yang telah dibuat, dan proses inokulasi mikroba, yang telah tumbuh pada suatu media ke dalam media yang baru. Ruang steril harus terjaga kebersihannya agar tidak terjadi kontaminasi saat pengujian, yang akan mempengaruhi hasil uji. Ruang steril tersebut ditunjukkan melalui Gambar 2.21.
2) Monitoring Kualitas Udara
Monitoring kualitas udara merupakan kegiatan pemantauan terhadap contoh uji udara, yang telah di-sampling dari pelanggan dan mitra melalui pengujian contoh uji, baik di lapangan maupun di laboratorium. Contoh uji udara yang di-sampling oleh PPC, berasal dari beberapa sumber sebagai berikut (LPKL, 2017b).
• Udara Ambien
Contoh uji udara ambien berasal dari kawasan industri, jalan raya, pemukiman, terminal, dan tempat parkir (LPKL, 2017b).
Institut Teknologi Nasional
Gambar 2.21 Ruang Steril
Sumber: Hasil Observasi Ruang Uji LPKL, 2022
• Ruang Kerja
Contoh uji udara ruang kerja dapat berasal dari ruang pencelupan, pemintalan, electro plating, pengecatan, perawatan, operasi, dan pengolahan makanan (LPKL, 2017b).
• Gas Emisi
Contoh uji gas emisi berasal dari cerobong boiler, insinerator, dan genset (LPKL, 2017b).
Pengujian contoh uji udara dilakukan melalui pengukuran parameter fisika, kimia, dan bakteriologi. Parameter – parameter yang diuji di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung diuraikan sebagai berikut (LPKL, 2017b).
1. Parameter Fisika
Pengujian contoh uji udara dilakukan melalui pengukuran parameter fisika yang terdiri dari suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan angin, arah angin, kebisingan, debu, opasitas, dan partikulat (LPKL, 2017b).
2. Parameter Kimia
Pengujian contoh uji udara dilakukan melalui pengukuran parameter kimia yang terdiri dari nitrit (NOx), sulfida (SOx), hidrogen sulfida (H2S),
Institut Teknologi Nasional
amoniak (NH3), karbon monoksida (CO), hidroflorida (HF), klor (Cl), timbal (Pb), dan merkuri (Hg) (LPKL, 2017b).
3. Parameter Bakteriologi
Pengujian contoh uji udara dilakukan melalui pengukuran parameter bakteriologi yang terdiri dari total kuman dan Legionella (LPKL, 2017b).
3) Audit Kesehatan Lingkungan
Audit kesehatan lingkungan merupakan kegiatan evaluasi kesehatan suatu objek, sehingga permasalahan yang ada dapat diidentifikasi, dan upaya – upaya pencegahannya dapat dilakukan. Kegiatan pengujian untuk audit kesehatan lingkungan, umumnya dilakukan di ruang uji mikrobiologi.
Contoh uji yang di-sampling oleh PPC, berasal dari beberapa sumber sebagai berikut (LPKL, 2017b).
• Alat Masak dan Makan
Contoh uji alat masak dan makan dapat berasal dari catering industri, dapur restoran, dapur hotel, instalasi gizi, rumah sakit, dan asrama (LPKL, 2017b).
• Penjamah Makanan
Contoh uji penjamah makanan dapat berasal dari penjamah makanan di catering industri, dapur restoran, dapur hotel, instalasi gizi, rumah sakit, dan asrama (LPKL, 2017b).
• Makanan Siap Saji dan Bahan Baku
Contoh uji makanan siap saji dan bahan baku, berasal dari catering industri, dapur restoran, dapur hotel, instalasi gizi, rumah sakit, dan asrama (LPKL, 2017b).
Pengujian contoh uji untuk audit kesehatan lingkungan, dilakukan melalui pengukuran parameter kimia dan bakteriologi. Parameter – parameter yang diuji di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung diuraikan sebagai berikut (LPKL, 2017b).
Institut Teknologi Nasional
1. Parameter Kimia
Pengujian contoh uji dilakukan melalui pengukuran parameter kimia yang terdiri dari borak, zat pewarna, formalin, dan arsen (As) (LPKL, 2017b).
2. Parameter Bakteriologi
Pengujian contoh uji dilakukan melalui pengukuran parameter bakteriologi yang terdiri dari total bakteri, Escherichia coli, coliform, Salmonella, Shigella (LPKL, 2017b).
2.5 Lokasi Sungai
Beberapa lokasi sungai yang diuji kualitas airnya di LPKL Perumda Tirtawening Kota Bandung adalah Sungai Citarum, Cimanggu, Ciwayang, Cigugur, Citonjong, dan Cibogo, yang diuraikan sebagai berikut.
2.5.1 Sungai Citarum
Sungai Citarum berawal dari mata air yang terletak di Gunung Wayang, Kabupaten Bandung, yaitu Situ Cisanti, mengalir ke tengah Provinsi Jawa Barat, dan berakhir di Laut Jawa di Muara Gembong (BBWS, 2014). Sampel air diambil di titik hulu dan hilir Sungai Ciratum. Sungai Citarum adalah sungai terpanjang di Jawa Barat. Lokasi bagian hulu Sungai Citarum ditunjukkan melalui Gambar 2.22.
Lokasi bagian hilir Sungai Citarum ditunjukkan melalui Gambar 2.23. Sungai Citarum memiliki panjang mencapai 3.332,97 km dan luas sebesar ±12.000 km2. Daerah aliran sungai (DAS) Citarum, terdiri dari DAS Citarum, Cipunegara, Cilamaya, Cilalanang, dan Ciasem (Diskominfo, 2020).
Institut Teknologi Nasional
Gambar 2.22 Lokasi Bagian Hulu Sungai Citarum
Sumber: Google Earth, 2022
Gambar 2.23 Lokasi Bagian Hulu Sungai Citarum
Sumber: Google Earth, 2022
2.5.1.1 Kondisi Geografis
Wilayah Sungai Citarum terletak pada titik koordinat 106˚51’36”S- 107˚ 51’ BT dan 7˚19’-6˚24’ LS. Bagian hulu Sungai Citarum terletak pada titik koordinat 7˚12’31”S 107 ˚ 39’28”E dan bagian hilir terletak pada titik 6˚02’31”S 107˚ 17’11”E. Batas wilayah Sungai Citarum diuraikan sebagai berikut (BBWS, 2014).
1. Wilayah Utara : Laut Jawa
2. Wilayah Selatan : Sebagian Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung
3. Wilayah Timur : Kabupaten Garut, sebagian Kabupaten Indramayu, dan sebagian Kabupaten Sumedang