• Tidak ada hasil yang ditemukan

Institutional Repository Universitas Islam Sumatera Utara: PENGARUH KOMUNIKASI KELOMPOK TERHADAP KESADARAN MENGGUNAKAN HIJAB PADA IBU-IBU PERWIRITAN MARINDAL 1 KELURAHAN HARJOSARI II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Institutional Repository Universitas Islam Sumatera Utara: PENGARUH KOMUNIKASI KELOMPOK TERHADAP KESADARAN MENGGUNAKAN HIJAB PADA IBU-IBU PERWIRITAN MARINDAL 1 KELURAHAN HARJOSARI II"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Secara umum defenisi komunikasi adalah proses penyampaian pesan atau informasi dari seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa verbal maupun non verbal. Tujuannya adalah untuk mempengaruhi orang lain agar orang lain bertindak, berperilaku, sebagaimana yang diinginkan oleh seorang komunikator. Berkomunikasi merupakan suatu hal yang sangat penting, karena dengan komunikasi seseorang bisa mengenal dirinya juga mengenal diri orang lain.

Komunikasi kelompok merupakan salah satu perwujudan bentuk dari komunikasi. Kelompok sering digunakan sebagai sarana berinteraksi sesama anggota kelompok yang homogen maupun heterogen. Walaupun secara umum dalam kelompok ada perbedaan baik latar belakang pendidikan, sosial ekonomi, kultural, namun perbedaan-perbedaan itu menjadi sebuah ikatan emosional sehingga antara sesama anggota kelompok ada rasa memiliki satu dengan yang lain.

Komunikasi kelompok dapat dikategorikan atas dua jenis yaitu komunikasi kelompok kecil dan komunikasi kelompok besar. Besar kecilnya kelompok bukan hanya tergantung pada jumlah orang yang berada di dalamnya tapi juga tergantung pada ikatan psikologis maupun interaksi sesama anggota kelompok.

(2)

Dalam kegiatan sehari-hari banyak fenomena-fenomena sosial yang kita hadapi baik secara sadar ataupun tidak. Fenomena ini berlangsung secara terus menerus dan ada kecenderungan menjadi suatu kebiasaan. Fenomena yang dimaksud dalam konteks penelitian ini adalah penggunaan hijab dikalangan ibu- ibu khususnya anggota perwiritan. Menggunakan hijab bagi wanita di dalam agama islam merupakan suatu kewajiban. Hal ini dijelaskan pada Al-Qur’an dalam surah Al-Ahzab ayat 59 yang berbunyi “katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin,’hendaklah mereka menggunakan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali,sehinggan mereka tidak diganggu”.1

Namun dalam realitanya, hal tersebut belum mampu dijalankan oleh semua wanita muslim sebagaimana di perintahkan Allah SWT dalam Al-qur’an hal ini di latar belakangi berbagai alasan dan argumen ada yang beralasan belum siap secara batin,ada yang beralasan menimbulkan kesan orang alim, dan ada juga yang berargumen masih ada perbedaan pendapat diantara ulama mengenai hal tersebut. Namun dari seluruh alasan yang dikemukakan menunjukkan bahwa masih ada diantara kaum wanita muslim belum memahami bahwa perintah menggunakan hijab tersebut merupakan suatu kewajiban dalam agama dan juga terlihat bahwa dengan argumen yang di kemukakan belum timbul adanya kesadaran tentang kewajiban menjalankan perintah Allah SWT.

1Al-Qur’an, Surat Al-Ahzab Ayat 59, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al- Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Depag. RI.1989)hlm.678

(3)

Agar terbangun sebuah kesadaran untuk menjalakan perintah Allah SWT tersebut. Agar wanita tampil sesuai syariah adalah dengan mengikuti perwiritan khususnya bagi ibu-ibu. Perwiritan merupakan salah satu bentuk komunikasi kelompok kecil yang biasanya dilakukan oleh ibu-ibu yang berada pada satu lingkungannya, baik lingkungan tempat tinggal ataupun satu tempat kerja. Secara umum, perwiritan biasanya dilakukan sekali atau dua kali dalam seminggu atau dua kali dalam satu bulan. Biasanya kegiatan ini diisi dengan tausiah setelah selesai kegiatan membaca surah yasin, tahlil dan lain sebagainya. Biasanya pesan yang di sampaikan oleh ustad/ustazah terkait dengan hukum-hukum islam termasuk didalamnya kajian tentang kewajiban seorang wanita sesuai hukum syariah.Perwiritan ini biasanya dihadiri oleh para ibu-ibu yang terdiri dari beragam usia, latar beakang pendidikan, maupun pekerjaan. Tausiah yang disampaikan biasanya berdurasi 60 menit dan dalam prosesnya dilakukan tanya jawab antara jamaah dengan ustad/ustazah.

Bertitik tolak dari fenomena diatas penulis mencoba meneliti permasalahan penggunaan hijab tersebut untuk mengetahui adakah pengaruh terhadap kesadaran ibu-ibu anggota perwiritan untuk menggunakan hijab setelah mendengar ceramah dan mengetahui tentang hukum islam, khususnya yang berada di marindal 1 kelurahan harjosari II. Dari penelitiann ini nantinya diharapkan diperoleh hasil yang menggambarkan tentang kesadaran ibu-ibu menggunakan hijab selama mengikuti perwiritan.

(4)

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah adakah pengaruh komunikasi kelompok terhadap kesadaran menggunakan hijab pada ibu-ibu perwiritan marindal 1 Kelurahan Harjosari II.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan judul skripsi di atas, maka skripsi ini memiliki tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui apakah komunikasi kelompok berpengaruh terhadap kesadaran menggunakan hijab pada ibu-ibu perwiritan marindal 1Kelurahan Harjosari II.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Teoritis, penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang hijab sebagai kajian hukum Islam, juga untuk menambah wawasan tentang komunikasi kelompok yang digunakan untuk menyampaikan hal yang berpengaruh baik untuk perkembangan zaman.

1.4.2 Praktis, penelitian ini dimaksud untuk menjadi tugas akhir peneliti untuk mendapatkan gelar S1 S.Ikom pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Ilmu Komunikasi.

(5)

1.5 Kerangka Teori

1.5.1 Komunikasi kelompok

Komunikasi kelompok adalah suatu bidang studi, penelitian dan terapan yang tidak menitikberatkan perhatiannya pada proses kelompok secara umum, tetapi pada tingkah laku individu dalam diskusi kelompok secara umum, tetapi pada tingkah laku individu dalam diskusi kelompok tatap muka yang kecil.

Kita dapat mengajukan bertubi-tubi pertanyaan yang berhubungan dengan komunikasi kelompok dan jawabannya akan membantu kita memahami lebih baik batas-batas dan atribut-atribut komunikasi kelompok.2

Komunikasi kelompok bersifat langsung dan tatap muka. Komunikasi organisasional tidak perlu langsung, dan seringkali memang tidak. Komunikasi kelompok agak kurang dipengaruhi emosi dan lebih cenderung melibatkan pengaruh antar pribadi sebagai kebaikan dari pemuasan sasaran-sasaran organisasi yang rasional.3

Di dalam sebuah kelompok, komunikasi merupakan salah satu syarat yang harus terjadi di dalamnya. Tanpa adanya komunikasi, sebuah kelompok tidak akan berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Sebuah kelompok juga tidak bisa dipisahkan dari komunikasi antar anggotanya.

2 Alvin A. Goldberg, komunikasi kelompok proses-proses diskusi dan penerapannya, (jakarta:

penerbit universitas indonesia,1985) hlm.6

3 Alvin A. Goldberg, komunikasi kelompok proses-proses diskusi dan penerapannya, (jakarta:

penerbit universitas indonesia,1985) hlm. 10

(6)

Ada banyak manfaat entah itu positif ataupun negatif jika individu bergabung dalam suatu kelompok, diantaranya adalah penyelesaian masalah, berbagi ilmu pengetahuan, sebagai status sosial, bahkan proses pembentukan kepribadian atau konsep diri.

1.5.2 Teori S-O-R

Teori S-O-R merupakan singkatan dari stimulus, organisme, respon dari hosland, janis, dan kelley pada tahun 1953. Dalam teori ini, sikap-sikap, opini, perilaku, kognitif, dan afektif masuk menjadi komponen-komponen didalam teori yang objeknya ialah manusia.4 Dengan model teori ini, efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap stimulus khusus. Sehingga didalam penyampaian pesan diharapkan akan tercapai kesesuaian antara pesan dan reaksi yang tercipta dari komunikan.

Didalam teori ini, jenis dan kelley menyatakan bahwa yang menjadi unsur- unsur didalamnya ialah:

1.5.2.1 Pesan(stimulus)

Pesan ialah lambang-lambang baik verbal atau non verbal yang memiliki makna tertentu.

1.5.2.2 Komunikan(organisme)

Komunikan adalah objek atau orang-orang menjadi sasaran dalam menerima pesan tertentu.

4 B.AUBREY FISHER, Teori-Teori Komunikasi,(bandung,PT. Remaja Rosddakarya,1990).

(7)

1.5.2.3 Efek(respon)

Efek adalah respon atau reaksi yang terjadi setelah terjadinya penyampaian pesan yang dilakukan.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori S-O-R ini sebagai pedoman untuk melakukan penelitian. Karena didalam perwiritan akan terjadi penyampaian pesan yang disampaikan oleh komunikator(ustad/ustazah) dalam menggunakan hijab yang baik dan benar kepada komunikan(ibu-ibu perwiritan) yang pada akhirnya akan memberikan efek, respon atau reaksi positif (kesadaran menggunakan hijab atas dasar dari hati) atau negatif(menggunakan hijab hanya karena untuk melengkapi pakaian ketika pergi ke perwiritan saja) dari komunikan itu sendiri.

1.5.3 Teori pemikiran kelompok

Teori ini telah dikemukakan oleh Irving L. Janis yang menyatakan bahwa terdapat adanya suatu kerangka atau model berpikir dalam suatu kelompok yang bersifat kohesif atau saling terpadu. Hal ini disebabkan oleh adanya situasi dimana suatu kelompok tersebut telah mengambil keputusan dalam kebijakan salah yang disebabkan oleh suatu tekanan, maka akan mengakibatkan turunnya efisiensi mental setiap individu dalam kelompok tersebut, sehingga terjadilah konflik dalam suatu kelompok karena perbedaan pendapat.

groupthink merupakan proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, dimana anggota-anggota berusaha

(8)

mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya tidak efektif lagi.5

kelompok yang menilai tingkat kohesivitas yang tinggi akan membawa anggotanya semakin erat. Namun kohesivitas yang tinggi juga akan berbahaya karena akan mengganggu pengambilan keputusan dalam kelompok karena energi interistik anggota berupa gengsi dan pangkuan harga diri yang terlalu tinggi.

Dari sini groupthink ini juga bisa menjadi hal yang baik ketika kita menggunakan nya pada hal yang tepat. Sebagai contoh kedalam hal berpakaian atau lebih spesifik untuk wanita muslimah. Di dalam satu perwiritan mewajibkan ibu-ibu untuk menggunakan hijab pada saat menghadiri perwiritan, dikarenakan acara atau kegiatan tersebut berbasis agama islam yang notabennya wanita muslim dianjurkan untuk mengguna

kan hijab. tetapi ada sebagian ibu-ibu yang dirumah maupun ketika berpergian, jarang atau bahkan tidak menggunakan hijab, terpaksa menggunakan hijab nya karena dalam aturan harus menggunakan hijab, jadi terdapat unsur keterpaksaan untuk mengikuti aturan. Hal inilah yang membuat teori groupthink ini tidak selalu mendapatkan hasil yang negatif, tetapi bisa menjadi positif di dalam hal-hal tertentu atau kasus-kasus tertentu.

Menurut penulis hal inilah yang memperkuat alasan penulis untuk menggunakan teori dari Irving L. Janis ini sebagai landasan untuk memperkuat kegiatan penelitian yang dilakukan oleh penulis.

5 Daryanto, Muljo Rahardjo. Teori Komunikasi. Penerbit Gava Media Malang,2015.

(9)

1.6 Kerangka Konsep

1.7 Operasionalisasi Variabel

1.7.1 Variabel bebas (komunikasi kelompok)

Variabel Bebas (X) adalah Komunikasi Kelompok didefinisikan sebagai proses penyampaian pesan dari dua atau beberapa orang yang terkait untuk mencapai tujuan tertentu secara bersama-sama. Variabel ini diukur melalui beberapa indikator berikut :

Variabel bebas (Komunikasi kelompok)

Variabel antara

-Usia

-Pendidikan -Pekerjaan

Variabel terikat (Kesadaran menggunkan

hijab) -Kognitif -Afektif -Behavioral -kompetensi komunikator

-daya tarik

-frekuensi penyampaian pesan

(10)

1.7.1.1 Kompetensi Komunikator

Dalam penelitian ini, yang berperan menjadi seorang komunikator adalah ustad/ustazah. Dalam hal ini kompetensi komunikator ialah penguasaan materi yang akan dibahasnya. Misal seorang ustad/ustazah menyampaikan ceramah mengenai hijab, berarti ustad/ustazah tersebut harus menguasai materi atau pembahasan tentang hijab,tidak serta merta hanya menjelaskan, agar pesan yang disampaikan bisa mendapatkan feedback dari komunikan (ibu-ibu).

1.7.1.2 Daya tarik

Seorang komunikator harus memiliki daya tarik tersendiri, entah itu dari cara berpakaian yang rapih, mudah beradaptasi dengan setiap kalangan, ataupun cara bicara dengan menggunakan tata bahasa yang baik. Dengan hal itu, komunikator (ustad/ustazah) akan mendapat kepercayan dari komunikan (ibu-ibu) yang akhirnya pesan akan tersampaikan dan mendapat feedback dari komunikan (ibu-ibu).

1.7.1.3 Frekuensi penyampaian pesan

Didalam perwiridan yang dilaksanakan, frekuensi penyampaian pesan atau berapa kali perwiridan dilakukan dalam sebulan. Dalam hal ini seberapa sering frekuensi tausiah yang dilakukan.

(11)

1.7.2 Variabel antara

variabel terikat dapat didefenisikan sebagai variabel yang menghubungkan antara variabel bebas dan variabel terikat. Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel terikat ialah:

1.7.2.1 Pendidikan

Latar belakang Pendidikan dari ibu-ibu perwiritan secara tidak langsung akan mempengaruhi kesadaran menggunakan hijab pada ibu-ibu perwiritan.

Dalam hal ini ibu-ibu yang lulus dari sekolah swasta yang berbasis islam atau pesantren akan lebih mengerti tentang hukum menggunakan hijab tersebut.

1.7.2.2 Pekerjaan

Lingkungan pekerjaan tentunya memiliki andil dalam mempengaruhi kesadaran akan menggunakan hijab. disaat teman-teman kerja yang lain banyak menggunakan hijab, maka akan timbul rasa malu dan tidak nyaman yang akhirnya memaksa individu(bagi ibu-ibu perwiritan yang bekerja) menggunakan hijab.

1.7.2.3 Usia

Dalam hal usia, biasanya semakin umur bertambah maka kesadaran akan menggunakan hijab semakin tinggi.

(12)

1.7.3 Variabel Terkait (Y) kesadaran menggunakan hijab

Variabel Terikat (Y) adalah kesadaran menggunakan hijab pada ibu-ibu perwiritan didefinisikan sebagai dorongan yang muncul dari luar maupun dari dalam diri yang mampu mempengaruhi dan mengarahkan ibu-ibu sehingga melakukan perubahan pada penampilan. Variabel ini diukur melalui indikator sebagai berikut :

1.7.3.1 Kognitif

Dalam hal ini kognitif mempengaruhi kesadaran menggunakan hijab pada ibu-ibu perwiritan, karena apa yang dipercayai oleh masing-masing anggota berbeda dengan kelompok. Kemungkinan setiap anggota memiliki pandangan tersendiri mengenai fungsi dari hijab itu sendiri.

1.7.3.2 Afektif

Sikap afektif juga berkaitan dalam mempengaruhi kesadaran akan menggunakan hijab, karena perasaan atau hatinya tenang ketika individu tersebut menggunakan hijab.

1.7.3.3 Behavioral

perubahan dari perilaku yang berubah karena dipengaruhi oleh lingkungan, juga mempengaruhi akan kesadaran menggunakan hijab. Dengan kata lain individu tersebut muncul kesadaran menggunakan hijab karena terbiasa dengan lingkungan yang memang kesehariannya menggunakan hijab yang akhirnya membuat individu tersebut nyaman menggunakan hijab.

(13)

1.8 Defenisi operasional

Adapun defenisi dari operasional adalah suatu konsep yang bersifat abstrak guna memudahkan pengukuran sebuah variabel. Operasional juga dapat diartikan sebagai suatu pedoman saat melakukan kegiatan dalam penelitian.

1.9 Hipotesis

Hipotesis penelitian adalah sebuah pernyataan yang masih diduga-duga atau belum terbukti kebenarannya. Dan untuk membuktikan kebenarannya, dibutuhkan penelitian.6 Hipotesis sering juga disebut statement of theory in testable form atau tentative statements about reality (champion, 1981: 125) 7

Adapun hipotesis Ho dan Ha ialah

Ho = bahwa komunikasi kelompok tidak berpengaruh terhadap kesadaran menggunakan hijab pada ibu-ibu perwiritan Marindal 1 Kelurahan Harjosari II.

Ha = bahwa komunikasi kelompok dapat berpengaruh terhadap kesadaran menggunakan hijab pada ibu-ibu perwiritan Marindal 1 Kelurahan Harjosari II.

6 Syahrum dan salim: Metodologi Penelitian Kuantitatif.(Bandung: Citapustaka Media, 2012) h.98

7 Dr.JALALUDDIN dan DR.SUBANDY: metode penelitian komunikasi.(bandung:simbiosa rekatama media,2016)h.54.

(14)

1.10 Metodelogi Penelitian

Dalam hal ini Metode merupakan cara atau jalan untuk mencapai tujuan.

Metode ini bukan metode tertutup atau jalan rahasia karena dalam masa penelitian ilmiah orang lain bisa menggunakan cara yang kita lakukan agar kebenaran yang diungkapkan bisa diuji. Karena itu penelitian ilmiah merupakan penelitian yang mengkaji (mengumpulkan, menguji, dan memverifikasi data penelitian) pokok masalah yang di teliti, bukan meneliti lokasi penelitian.8

1.10.1 Metode penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitaif yang dimana penelitian deskriptif kuantitaif adalah metode yang bertujuan untuk membuat gambar atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif yang menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran pada data tersebut serta penampilan dan hasilnya9. Metode pengumpulan data bisa menggunakan survey, observasi, atau wawancara. Sampel data pada teknik deskriptif lebih objektif dan terstruktur yang dapat berupa grafik, tabel dan matriks, laporan, dan angka yang dapat diukur nilainya.

1.11 Lokasi penelitian

Lokasi penelitian di lakukan di perwiritan Al-Qomar yang berada di Marindal 1 Kelurahan Harjosari II.

8 Dr.JALALUDDIN dan DR.SUBANDY: metode penelitian komunikasi.(bandung:simbiosa rekatama media,2016)hlm.45.

9 Dr.JALALUDDIN dan DR.SUBANDY: metode penelitian komunikasi.(bandung:simbiosa rekatama media,2016)h.45.

(15)

1.12 Waktu Penelitian

Adapun waktu penelitian yang dilakukan adalah selama 3 bulan, terhitung dari bulan januari, februari, maret 2023.

1.13 Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dalam pengertian lain Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. 10Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek atau subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh obyek atau subyek itu.

Dalam hal ini, yang menjadi populasi dalam penelitian ini ialah Ibu-ibu perwiritan Al-Qomar yang berjumlah 60 anggota perwiritan.

1.14 Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi objek penelitian dalam kata lain sampel ialah contoh dalam penempatan atau pengambilan sampel dari populasi mempunyai aturan, yaitu sampel ialah representatif (mewakili) terhadap populasinya.11

10 Syahrum dan salim: Metodologi Penelitian Kuantitatif.(Bandung: Citapustaka Media, 2012) hlm.113.

11 Syahrum dan salim: Metodologi Penelitian Kuantitatif.(Bandung: Citapustaka Media, 2012) hlm.113.

(16)

Dalam penelitian ini, yang dijadikan sebagai sampel penelitian ialah sebagian (30-50%) dari seluruh ibu-ibu anggota perwiritan Al-Qomar di Marindal 1 Kelurahan Harjosari II.

1.15 Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis ialah membuat kuisioner yang dibagikan kepada ibu-ibu anggota perwiritan Al-Qomar Marindal 1 kelurahan Harjosari II untuk di isi agar mendapatkan hasil untuk selanjutnya data akan diolah menggunakan aplikasi SPSS versi 26.

1.16 Teknik analisis data

Teknik pengumpulan yang digunakan adalah teknik analisis tabel tunggal yaitu suatu analisis yang dilakukan dengan membagikan variabel penelitian ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi dan presentase. Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisis data yang terdiri dari dua kolom, sejumlah frekuensi dan presentase untuk setiap kategori. Singarimbun, 2011:228.

(17)

1.17 Sistematika Penulisan BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini di uraikan tentang: latar belakang masalah, Rumusan masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kerangka Teori, Kerangka Konsep dan Defenisi Operasional, Hipotesa, Metode Penelitian, dan Sistematika penulisan.

BAB II : URAIAN TEORITIS

Dalam bab ini di uraikan mencakup tentang pengertian komunikasi, komunikasi kelompok, pengertian hijab, sejarah hijab, pengaruh komunikasi kelompok terhadap kesadaran menggunakan hijab.

BAB III : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan tentang meninjau langsung lokasi penelitian di marindal 1 kelurahan Harjosari II.

BAB IV : HASIL PENELITIAN

Bab ini akan dikemukakan penyajian data dan pengujian data.

BAB V : PENUTUP

Dalam bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran yang diperoleh dari hasil penelitian.

(18)

18 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengaruh Komunikasi Kelompok

2.1.1. Pengaruh

Pengaruh adalah daya yang timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, perbuatan atau kepercayaan seseorang (KBBI, 1994 : 64) Lazarsfeld membagi teori pengaruh ini menjadi dua macam yaitu, teori efek terbatas dan teori efek tidak langsung. Teori tersebut menunjukkan kesimpulan penting tentang peran media di masyarakat. Teori efek terbatas adalah teori yang menyatakan bahwa media memiliki efek yang minim dan terbatas karena efek tersebut dikurangi oleh beragam variabel antara (intervening variable) (stanley, 2010 : 177).

Kegiatan dakwah dapat memberikan efek atau pengaruh kepada mad’u untuk menjalankan perintah Allah sesuai yang diajarkan oleh agama islam.

Dakwah ditujukan untuk mempengaruhi 3 aspek perubahan diri dari mitra dakwah, yaitu aspek pengetahuan (knowledge), aspek sikapnya (attitude), dan aspek perilaku (behavioral). Efek kognitif bersangkutan dengan perubahan dengan apa yang diketahui, dipersepsi atau dipahami khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, kepercayaan, keterampilan atau informasi. Efek afektif timbul apabila aada perubahan pada apa yang dirasakan, dibenci atau disenangi oleh khalayak, termasuk dengan segala yang berhubungan dengan emosi, sikap serta nilai. Efek behaavioral, ialah yang merujuk pada perilaku nyata yang dapat

(19)

diamati, yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku (Aziz, 2012 : 455). Ketika sudah mencapai tahap efek behavioral, maka muncul kecenderungan untuk mengimitasi apa yang audience anggap sesuai dengan diri audience.

Proses mengimitasi atau taqlid muncul karena motif dan alasan tertentu pada diri audience. Dalam hal ini ini, mengimitasi setiap audiens memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda-beda, sehingga motif yang muncul berbeda-beda pula pada masing-masing individu.

2.1.2 Komunikasi

Istilah komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu communis yaitu membangun kebersamaan atara dua orang atau lebih. Komunikasi juga berasal dari akar kata dalam bahasa Latin yaitu communico yang berarti membagi.

Defenisi singkat dibuat oleh Halord D. Lasswel bahwa cara yang tepat untuk menerangkan suatu tindakan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui metode atau cara apa, kepada siapa dan apa pengaruhnya.12

Dalam buku ilmu komunikasi suatu pengantar dari deddy mulyana istilah pertama (communis) paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa sutu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Akan tetapi defenisi-defenisi kontemporer menyarankan bahwa komunikasi

12 Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, Cet ke 4(jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm.18

(20)

merujuk pada cara berbagai hal-hal tersebut, seperti dalam kalimat “kita berbagi pikiran”, “kita mendiskusikan makna” dan kita mengirimkan pesan.13

Dari perspektif agama, secara gampang kita bisa menjawab bahwa Tuhan-lah yang mengajari kita berkomunikasi, dengan menggunakan akal dan kemampuan berbahasa yang di anugrahkannya kepada kita. Dalam Al-Qur’an disebutkan “Tuhan yang maha pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, yang mengajarinya pandai berbicara” (Ar-Rahman: 1- 4).14

Terdapat beberapa defenisi komunikasi dari para ahli, sebagai berikut:

a. Carl I. Hovland, komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan ( biasanya lambang-lambang verbal untuk mengubah perilaku orang lain (komunikate).

b. Raymond S. Ross, Komunikasi (intensional) adalah suatu proses menyortir, memilih dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pemikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator.

d. Gerald R. Miller, Komunikasi terjadi ketika suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada penerimadengan niat yang disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima

13 Deddy Mulyana,Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar,(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2017), hlm.46

14 Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000) hlm.

3

(21)

c. Harold Lasswell, Cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut “who says what in witch channel to whom with whta effect? Atau siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana?”15

Harold D. Lasswell menambahkan terdapat lima komponen yang harus ada dalam berkomunikasi agar dapat berjalan dengan baik yaitu:

1. Komunikator (source) adalah pihak yang menyampaikan pesan.

2. Pesan (message) adalah isi atau maksud yang disampaikan oleh satu pihak kepda pihak lain.

3. Saluran/ media (channel) adalah media dimana pesan yang disampaikan kepada komunikan.

4. Komuniakan (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain.

5. Umpan balik (effect) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disa,paikannya. 16

15 Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (bandung: Remaja Rosdakarya, 2000) hlm.

62 16

Onong Uchjana Effendy, Ilmu Teori, Filsafat Komunikasi, (Bandung, PT. Citra Aditya Bakti, 2004) hlm. 12

(22)

2.1.3 Komunikasi Kelompok

Komunikasi kelompok adalah suatu bidang studi, penelitian dan terapan yang tidak menitikberatkan perhatiannya pada proses kelompok secara umum, tetapi pada tingkah laku individu dalam diskusi kelompok tatap muka yang kecil17.

Michael burgoon dalam Wiryanto (2005:52) mendefenisikan komunikasi kelompok ialah sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui,seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat.18

Dalam hal ini, komunikasi kelompok terbagi menjadi dua, yaitu komunikasi kelompok kecil dan komunikasi kelompok besar, dimana dapat diuraikan sebagai berikut:

2.1.3.1 Komunikasi Kelompok Kecil

Menurut Shawn dalam Arni (1989:182) Komunikasi kelompok kecil ialah suatu kumpulan individu yang dapat mempengaruhi satu sama lain, berinteraksi untuk beberapa tujuan, mengambil peran, terikat satu sama lain, memperoleh beberapa kepuasan kepuasan satu sama lain, berinteraksi untuk beberapa tujuan, mengambil peran, terikat satu sama lain dan berkomunikasi tatap

17 Alvin.A.Goldberg, komunikasi kelompok,(jakarta, PENERBIT UNIVERSITAS INDONESIA, 1985) hlm.6

18 Laela novrianti dan achmadi, 2021, PENGARUH KOMUNIKASI KELOMPOK KADER POSYANDU DAN KOMUNITAS IBU-IBU TERKAIT ISU DIHARAMKANNYA VAKSIN MEALES RUBELLA, jurnal ilmu komunikasi, Vol 1 No.1

(23)

muka. Jika salah satu dari komponen ini hilang individu yang terlibat tidaklah berkomunikasi dalam kelompok kecil.19

Adapun tujuan dari dilakukannya komunikasi kelompok kecil yang kemukakan oleh Arni (1989: 182-183) bahwa komunikasi kelompok kecil dibagi menjadi dua yaitu tujuan personal dan tujuan yang memiliki hubungan dengan pekerjaan, yaitu sebagai berikut:

1. Tujuan personal

Alasan orang untuk mengikuti kelompok dapat dibedakan atas empat kategori utama yaitu untuk hubungan sosial, penyaluran, kelompok terapi dan belajar.

2. Tujuan yang berhubungan dengan pekerjaan a. Pembuatan keputusan

Orang –orang yang berkumpul bersama-sama dalam kelompok untuk membuat keputusan mengenai sesuatu. Mendiskusikan alternatif dengan orang lain membantuorang memutuskan mana pilihan terbaik untuk kelompok.

b. Pemecahan masalah

Masalah yang mereka usahakan menyelesaikan mencakup bagaimana menyempurnakan produksi, bagaimana menyempurnakan hubungan yang kurang baik.

19Laela novrianti dan achmadi, 2021, PENGARUH KOMUNIKASI KELOMPOK KADER POSYANDU DAN KOMUNITAS IBU-IBU TERKAIT ISU DIHARAMKANNYA VAKSIN MEALES RUBELLA, jurnal ilmu komunikasi, Vol 1 No.1

(24)

2.1.3.1Komunikasi kelompok besar

Menurut jurnal komunikasi (2015:365) komunikasi kelompok besar (large group communication) adalah komunikasi yang di tujukan kepada lefeksi komunikan dan prosesnya berlangsung secara linier20.

2.1.2.2Unsur-unsur komunikasi kelompok

Menurut teori Cartwight dalam jurnal komunikasi (2016:3) unsur-unsur komunikasi kelompok adalah:

1. Pelaku komunikasi dalam komunikasi kelompok

2. Pesan-pesan yang dipertukarkan dalam komunikasi kelompok 3. Interaksi yang terjadi didalam proses komunikasi kelompok 4. Kohevitas yang terjadi didalam proses komunikasi kelompok 5. Norma kelompok yang diterapkan.

2.1.3.3Faktor yang mendasari orang melakukan komunikasi kelompok

Rosmawaty (2010:86) berpendapat bahwa komunikasi kelompok yang dikemukakan oleh seseorang dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Faktor imitasi (meniru) 2. Faktor sugesti

3. Faktor simpati 4. Media komunikasi

20Laela novrianti dan achmadi, 2021, PENGARUH KOMUNIKASI KELOMPOK KADER POSYANDU DAN KOMUNITAS IBU-IBU TERKAIT ISU DIHARAMKANNYA VAKSIN MEALES RUBELLA, jurnal ilmu komunikasi, Vol 1 No.1

(25)

2.2 Kesadaran

2.2.1 Defenisi Kesadaran

menurut teori Chalmers (1995a & 1995b) dalam jurnal psikologi (2005;81) menggolongkan permasalahan mudah (easy problems) dan permaslahan sukar (hard problem). Permasalahan mudah kesadaran brkaitan dengan masalah yang secara langsung dapat dipecahkan oleh metode baku ilmu pengetahuan kognitif. 21Permasalahan kesadaran yang tergolong mudah itu antara lain adalah (a) bagaimana seseorang melakukan pembedaan stimulus sensoris dan bereaksi secara tepat terhadap stimulus tersebut,

(b) bagaimana otak memadukan informasi yang berasal dari berbagai sumber berbeda dan kemudian menggunakan informasi tersebut untuk mengendalikan perilaku,

(c) bagaimana seseorang mampu melaporkan kondisi internalnya sendiri,

(d) bagaimana kemampuan satu sistem untuk mengakses kondisi internalnya sendiri,

(e) bagaimana soal pemusatan perhatian,

(g) bagaimana membedakan antara kondisi bangun dengan tidur.

21 Yusuf ratu agung, 2013, MENINGKATKAN KESADARAN PERILAKU SEHAT BERBASIS KOMUNITAS, jurnal psikoislamika, Vol 10 No.2.

(26)

Gejala-gejala kesadaran semacam itu dapat dijelaskan oleh mekanisme komputasional dan neural. Meskipun gejala kesadaran diatas bukan masalah sepele, kemajuan psikologi kognitif dan neurosains diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan tersebut (Chalmers, 1995a & 1995b).

Permasalahan yang sukar ( the hard problem) menyangkut permasalahan pengalaman. Chalmers ( 1995b) menggambarkan kesadaran sebagai berikut. Otak manusia secara relatif dapat dipahami dari sisi objektif. Misalnya, ketika kita membaca tulisan pada halaman ini maka akan terjadi pemrosesan informasi:

photon mengenai retina, sinyal listrik mengalir ke syaraf optik dan ke beberapa bagian otak. Sesudah selesai membaca kita mungkin akan tersenyum, mengerinyitkan dahi tanda bingung atau melontarkan komentar. Akan tetapi disamping hal-hal objektif tersebut terdapat juga aspek subjektif. 22

Pada saat kita membaca halaman ini maka kita menyadari bahwa kita sedang membaca halaman ini, secara langsung kita mengalami gambaran- gambaran dan kata-kata sebagai bagian dari kehidupan mental pribadi. Chalmers (1995b) memberikan contoh lain yaitu, kita mempunyai kesan yang hidup terhadap bunga-bunga berwarna maupun langit yang cemerlang; ketika kita menghirup bau yang sama, mungkin sejumlah gambaran akan muncul dalam pikiran kita dan sejumlah emosi akan kita rasakan. Pengalaman-pengalaman tersebut secara bersama membentuk kesadaran, the subjective, inner life of the mind.

22 Dicky Hastjarjo,2005, SEKILAS TENTANG KESADARAN (CONSCIOUSNESS), jurnal psikologi, Vol 13 No.2.

(27)

Menurut teori yontef dalam jurnal psikoislamika (2013:26) kesadaran merupakan salah satu bentuk pengalaman, didalamnya terdapat kewaspadaan terhadap peristiwa penting yang dialami diri individu dalam interaksinya dengan lingkungan (yontef,1993). Pengalama individu merupakan hubungan timbal balik antara eksistensi diri sendiri (being in touch with one’s own exsintence), pemahaman terhadap apa yang dilakukannya (what is), bagaimana dia melakukan hal tersebut (how) dan pemahaman terhadap berbagai macam alternatif yang dipilihnya (chooses) serta memahami pilihannya untuk menjadi dirinya (yontef, 1993).23

Konsep kesadaran lebih jauh disampaikan Neisser (dalam Natsoulas, 1981) bahwa individu yang mempunyai kesadaran adalah individu yang mempunyai aspek aktivitas mental yang mengalami perubahan dengan belajar dan mengembangkan kemampuannya untuk sadar terhadap objek, peristiwa dan situasi. Kesadaran dapat dipahami melalui siklus pengalaman yang dimulai dari adanya sensai, pengenalan dan memberikan label terhadap pengalaman tersebut selanjutnya memberikan pemaknaan, pengambilan keputusan untuk merespon dan mengambil tindakan terkait pengalaman tersebut dan membuat kontak secara Sadar dengan situasi yang terjadi, kemudian menyelesaikan dan bersiap untuk menghadapi pengalaman lainnya (joyce & sill, 2001).

Kesadaran terbentuk dari beberapa aspek diantaranya adalah : kontak, mengindera, meraskan, pembentukan figur, dan keutuhan (lartner, 2000). Kontak

23 Yusuf Ratu Agung, 2013, MENINGKATKAN KESADARAN PERILAKU SEHAT BERBASIS KOMUNITAS, jurnal psikoislamika, Vol 10 No.2.

(28)

merupakan pertemuan dari perbedaan-perbedaan yang ada. Kontak berasal dari sudut pandang pengalaman orang lain yang berbeda tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan. Mengindera merupakan kesadaran alami yang dapat dirasakan melalui pancaindera kita. Merasakan meliputi sesuatu yang terjadi secara emosional dan fisiologis dari diri kita. Pembentukan figur adalah cara kesadaran dibentuk dan dikembangkan, merupakan penajaman dari kontak, yakni cara bekerja kita dengan lingkungan untuk membentuk sebuah solusi. Dan keutuhan, yaitu kemampuan seseorang untuk menyimpulkan sesuatu dengan menyatukan bagian-bagian secara bersama-sama, dengan kata lain sesuatu hal dapat dimengerti jika dilihat dengan keseluruhan (lartner, 2000).

Dapat disimpulkan bahwa kesadaran adalah menunjukkan dimana suatu kondisi individu tahu terhadap apa yang ia lakukan atau ia perbuat sehingga memberikan reflek atau respon terhadap rangsangan.

2.3 pengertian hijab

Hijab atau Jilbab berasal dari bahasa arab “al jilbaab” yang memiliki arti baju kurung yang panjang, atau sejenis jubah.24 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hijab atau jilbab berarti “baju kurung yang longgar, dilengkapi dengan kerudung yang menutupi kepala, sebagian muka dan dada”.25hijab atau jilbab adalah sejenis pakaian longgar yang dapat menutupi bagian kepala,muka dan dada. Hijjab atau jilbab adalah pakaian yang menutup lapang dan dapat menutup

24 Ahwan Warson Munawir, kamus Arab-Indonesia Al-Munawir, (Yogyakarta Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak,t.th), hlm. 215

25Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,(jakarta, Balai Pustaka, 1990), cet.3 hlm. 363

(29)

aurat, yang berasal dari kata “jalbab” berarti menarik maksudnya karena badan wanita menarik pandangan dan perhatian umum maka hendaklah ditutup. Di sisi lain, dikatakan bahwa hijab atau jilbab adalah semacam selendang yang melekat pada wanita diatas pakaian-pakaiannya, demikianlah pendapat yang paling kuat.

Hijab biasanya digunakan pada saat seorang wanita akan keluar dari rumah.26 Adapun pendapat lain tentang jilbab adalah Kata jilbab berasal dari bahasa Arab “Jalaba” yang berarti menutup sesuatu dengan sesuatu yang lain sehingga tidak dapat dilihat auratnya. Para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang pengertian jilbab. Sebagian ulama berpendapat bahwa jilbab itu mirip rida' (sorban). Ada juga yang mengatakan kerudung yang lebih besar dari khimar (selendang). Sebagian lagi mengartikan dengan gina', yaitu penutup muka atau kerudung lebar. Muhammad Said Al-Asymawi menyimpulkan bahwa jilbab adalah gaun longgar yang menutupi sekujur tubuh perempuan27.

Beberapa ulama memberikan definisi hijab atau jilbab, dan pada intinya bersumber pada al-Qur’an surat Al-Ahzab: 59, masing-masing mempunyai interpretasi dalam menggunakan bahasa dan pendapat yang berbeda-beda, akan tetapi jika di kaji lebih dalam akan memberikan satu makna yang sama sebagaimana pendapat berikut ini:

26 Syaikh Sa’ad Yusuf Abdul Aziz, 101 Wasiat Rasul Untuk wanita, (jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2009), hlm. 554

27 Yulcin Mahmud, 2020, JILBAB SEBAGAI GAYA HIDUP WANITA DI KALANGAN MAHASISWI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS SAM RATULANGI, jurnal Holistik, Vol 13 No.3.

(30)

1) Mulhandy Ibn. Haj, mengatakan bahwa “Jilbab adalah pakaian yang lapang dan dapat menutup aurat wanita, kecuali muka dan telapak tangan sampai pergelangan tangan saja yang ditampakkan.

2) Fuad Mohd. Fachruddin, mengatakan bahwa “Jilbab berasal dari kata jalaba yang berarti menari, maka karena badan wanita merupakan pandangan dan perhatian umum hendaklah ditutup.

3) Ibnu Faris dalam bukunya Misbakhul Munir; “Jilbab adalah sesuatu yang dapat menutupi dalam bentuk kain dan sebagainya.

Dari ketiga pendapat di atas jilbab dapat di artikan sebagai pakaian atau kain dimana berfungsi untuk menutup aurat wanita terkecuali muka dan telapak tangan. Adapun mengenai mode busana muslim, tidaklah ada ketentuan yang pasti dari nash al-Qur’an atau alHadits, yang mana diserahkan kepada pribadi masing- masing sesuai dengan selera dan seni budaya serta keadaan lingkungan, asalkan memenuhi syarat atau fungsi tertutupnya aurat dapat terpenuhi secara sempurna.

Dari sini telah jelas bahwa busana perhiasan manusia yang sangat mendasar, sebagai perwujudan dari sifat kemanusiaan yang memiliki rasa malu, keindahan dan untuk menjaga diri dari gangguan yang mengenai tubuh manusia itu sendiri. Bagaimanapun terbelakangnya budaya, perasaan dan pikiran manusia, usaha untuk selalu menutup tubuh itu akan selalu ada sekalipun dalam bentuk yang sangat minim dan terbatas. Sesuai dengan kemampuan budaya rasa dan akal manusia. Namun demikian, tidak bisa dikatakan bahwa manusia itu sama sekali

(31)

tidak ada usaha untuk tidak mengenakan busana, hanya saja perkembangan budaya manusialah yang akan menentukan hal ini.

Dalam jurnal holistik (2020:1) hijab adalah braket pakaian longgar yang dilengkapi dengan kerudung yang menutupi kepala dan bagian dada. hijab menggambarkan kepatuhan seorang wanita muslim terhadap ajaran islam, karena islam memang mengharuskan wanita untuk menutupi dari kepala hingga bagian dada seorang wanita. Dalam kehidupan sosial, beberapa orang menganggap bahwa seorang wanitamusli yang berhijab harus dapat mempertahankan perilaku dan bahasanya agar tetap baik dan sopan seperti halnya kesucian kerudung atau hijab yang di kenakannya.28

Menurut fadwa El-Guindi, hijab dipandang sebagai sebuah fenomena sosial yang kaya makna dan penuh nuansa. Dalam ranah sosial religious, hijab berfungsi sebagai bahasa yang menyampaikan pesan sosial dan budaya. Pada awal kemunculannya, jilbab merupakan penegasan dan pembentukan identitas keberagaman seorang wanita.

Dalam jurnal studi islam,Vol. XII, No.2,2017 Jilbab atau hijab dianggap sebagai sebuah identitas bagi wanita muslim meskipun sempat menuai kontroversi. Karena selalu ada saja perdebatan dalam memaknai hijab. jika yang dimaksud jilbab sebagai penutup kepala perempuan, maka dari itu jilbab sudah menjadi wacana dalam code Bilalama (3000 SM) kemudian berlanjut dalam code Hamurabi (2000 SM) dan code asyiria (1500 SM). Pada waktu ada debat tentang

28Yulcin Mahmud, 2020, JILBAB SEBAGAI GAYA HIDUP WANITA DI KALANGAN MAHASISWI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS SAM RATULANGI, jurnal Holistik, Vol 13 No.3.

(32)

hijab atau jilbab di Prancis tahun 1989, Maxime Radison seorang ahli islamologi terkemuka dari Prancis mengingatkan bahwa di asyiria ada larangan berjilbab atas nama kebenaran (Muhammad, 2002:29).29

2.3.1 Sejarah Hijab

Berkaitan dengan diperintahkannya hijab, para ahli menyatakan bahwa kaum wanita pada zaman Pra-islam dulu biasa berjalan didepan kaum laki-laki dengan leher dan dada terbuka serta lengan telanjang. Mereka biasa mletakkan kerudung mereka di belakang pundak dengan membiarkan dadanya terbuka hal ini acapkali mendatangkan keinginan dari kau laki-laki untuk menggodanya, karena mereka terkesima dengan keindahan tubuh dan rambutnya. Kemudian Allah memerintahkan kepada wanita untuk menutupkan kain kerudungnyapada bagian yang biasa mereka perlihatkan untuk menjaga diri mereka dari kejahatan laki-laki hidung belang (as-sabuni, tt: 336).

Setelah Islam datang, maka hukum syariatpun turun berturut-turut, termasuk hukum tentang wanita dengan dasarnya adalah Kitabullah mengenai kewajiban berjilbab dan berkerudung bagi wanita mukminat itu. Allah telah berfirman dalam al-Qur’an surat Al-Ahzab: 59

Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk

29 Ratna Wijayanti,2017,JILBAB SEBAGAI ETIKA BUSANA MUSLIMAH DALAM PERSPEKTIF AL- Qur’an, jurnal studi islam, Vol XII, No.2.

(33)

dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Ahzab : 59) 30

Perintah dalam surah Al-Ahzab: 59 tersebut sudah jelas merupakan salah satu ajaran yang berlaku untuk istri-istri nabi tapi dengan adanya kias yang gamblang, berlaku juga untuk semua kaum muslimat. Perintahnya seolah-olah memang khusus untuk mereka sebagai penghargaan dan syarat bahwa mereka seharusnya menjadi pelopor ketaatan yang paling dulu mengindahkan ajaran tersebut. Mereka diperintahkan supaya tidak memperlihatkan perhiasan anggota tubuhnya di depan orang lain, sehingga wanita itu wajib menutup seluruh tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangannya.

Ketentuan penggunaan hijab sudah di kenal di beberapa kota tua, seperti Mesopotamia, Babylonia, dan asyiria. Perempuan terhormat harus menggunakan hijab di ruang publik. Sebaliknya budak perempuan dilarang menggunakannya.

Dalam perkembangan selanjutnya, hijab menjadi simbol kelas menengah atas masyarakat kawasan tersebut.

Adapun syarat-syarat yang harus diperhatikan dalam menutup aurat adalah sebagai berikut:

1) Busana (jilbab) yang menutup seluruh tubuhnya selain yang dikecualikan.

2) Busana yang tidak menyerupai pakaian laki-laki dan tidak menyerupai pakaian-pakaian wanita kafir yang tidak Islam.

30Al-Qur’an, Surat Al-Ahzab Ayat 59, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Depag. RI.1989)hlm.678

(34)

3) Tidak menampakkan rambutnya walaupun sedikit dan tidak pula lehernya.

4) Busana yang bukan untuk perhiasan kecantikan atau tidak berbentuk pakaian aneh menarik perhatian.

5) Busana yang tidak menempatkan betis atau kakinya atau celana panjang yang membentuk kakinya.

6) Tidak sempit (longgar) sehingga tampak bentuk tubuhnya.

7) Tidak tipis sehingga terlihat bentuk atau lekuk tubuhnya.

Dari uraian di atas maka jelas bagi kaum muslimin tentang tata cara berbusana menurut ajaran Islam. Di dalam melaksanakan aturan-aturan tersebut yaitu dalam rangka menjunjung tinggi aturan-aturan tersebut kaum wanita seringkali mengalami kesulitan-kesulitan baik dipengaruhi oleh keadaan lingkungan ataupun hal-hal lain yang dikehendaki Islam. Karenanya, di dalam mengenakan busana yang dikehendaki Islam maka model taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah merupakan di dalam menyadarkan dan memotivasi diri ke arah berbusana secara sempurna dan bertanggung jawab.

2.3.2. Manfaat Berhijab

Beberapa manfaat yang terdapat dalam berhijab ialah sebagai berikut:

1) Sebagai pertanda wanita baik-baik

Dengan berhijab, akan memberikan kepada wanita muslimah hal-hal yang baik dan mencegah dari hal-hal yang buruk, karena Allah SWT lebih

(35)

mengetahui man hal-hal yang bermanfaat bagi hambanya dan mana yang dapat membahayakan diri hambanya.

2) Menutupi aurat wanita muslimah

Terdapat batasan aurat bagi wanita muslimah yang wajib ditutupi adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan sampai pergelangan tangan. Wanita itu adalah aurat yang harus ditutupi dan jilbab adalah sebagai alat penutup nya dan juga sebagai pertanda taqwa terhadap Allah SWT.

3) Menjaga rasa malu

Rasa malu menjadi salah satu modal untuk kehidupan manusia, seseorang yang tidak memiliki rasa malu, ia tidak akan mulia. Rasa malu termasuk budi pekerti dalam islam, fitrah dan juga termasuk cabang iman. Dalam hal ini hijab ialah salah satu sarana untuk menjaga kaum wanita muslimah dari rasa malu.

4) Untuk mewujudkan akhlak yang baik

Hijab dapat mendeskripsikan atau mewujudkan akhlak yang baik dari seorang wanita muslimah. Mengapa demikian, karena hijab dapat menutupi bagian-bagian tubuh atau yang termasuk dalam kategori aurat dalam islam yang bisa saja memicu atau membuat mata lelaki tertuju padanya.

(36)

5) Menjaga kesucian wanita

Hijab yang sesuai dengan aturan atau kriteria yang ditentukan dalam islam menjadikan para wanita muslimah yang beriman berada didalam kesopanan dan kesucian. Hijab atau jilbab akan menjauhan seorang wanita muslimah dari akibat yang tidak baik, fitnah dan kerusakan.

2.4 Pengertian Tentang Ibu-Ibu

Menurut kamus besar bahasa indonesia “ibu” berarti wanita yang telah melahirkan seorang anak. Wanita atau ibu ialah pengurus generasi keluarga dan bangsa sehingga keberadaan wanita yang sehat jasmani dan rohani serta sosial sangat diperlukan. Wanita atau ibu ialah makhluk bio-psiko-sosial-cultural dan spiritual yang utuh dan unik, mempunyai kebutuhan dasar yang bermacam-macam sesuai dengan tingkat perkembangannya.31

2.4.1 Peran Ibu

Menurut effendy dalam bukunya (2004) peran seorang ibu ada tiga macam, yaitu:

1. Sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, dan sebagai slaah satu kelompok dari peranan sosial. Karena secara khusus kebutuhan efektifdan sosial tidak dipenuhi oleh ayah. Maka berkembang suatu hubungan persahabatan antara ibu dan anak-anak ibu jauh lebih bersifat tradisional

31 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kamus besar bahasa indonesiapusat bahasa, (jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008). Hlm.38

(37)

terhadap pengasuh anak (seperti misalnya dengan suatu penekanan yang lebih besar dari pada kehormatan, kepatuhan, kebersihan dan kedisiplinan).

2. Mengurus rumah tangga. Di dalam keluarga ibu sebagai pengurus rumah tangga. Seperti pengaturan keuangan biaya keluar dan masuk, sampai dengan urusan seperti memasak, mengurus anak, mencuci baju dan lain sebagainya yang memang biasa dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga.

3. Sebagai anggota masyarakat dari lingkungan tempat tinggalnya. Didalam kelompok bermasyarakat, ibu-ibu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar tempat tinggalnya dalam rangka menjalin atau mewujudkan hubungan yang romantis dan harmonis melalui acara atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan, seperti arisan, ibu-ibu PKK dan perwiritan.32

2.5 pengertian pengajian atau perwiritan

Pengajian berasal dari kata kaji. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kaji berarti pelajaran (terutama dalam agama islam), penyelidikan (dengan pikiran) dan terdapat awalan pe- dan akhiran –an sehingga membentuk kata pengajian (Poerwadarminta, 2007:507). Pengajian atau majelis ta’lim kadang juga disebut sebagai perkumpulan kajian keislaman. pegajian atau majelis ta’lim adalah salah satu sarana pendidikan dalam islam. kajian rutin atau majelis ta’lim lebih kita kenal dengan istilah pengajian-pengajian atau perwiritan. Umumnya berisi ceramah dan atau khutbah-khutbah keagamaan islam33. tetapi dalam perkembangannya kajian rutin sering juga digunakan sebagai wahana diskusi

32 Effendy, dasar-dasar kesehatan masyarakat,(jakarta: EGC,2004) hlm.10

33 Hendriani, MOTIVASI IBU-IBU MAJELIS TA’LIM NURUL BAHARI DALAM PEMBINAAN AKHLAK JAMAAH DIKAMPUNG BAHARI KELURAHAN SUMBER JAYA KECAMATAN KAMPUNG MELAYU (skripsi: IAIN bengkulu,2004) .

(38)

ilmiah, sosiologis, politik, hukum, dan seterusnya. Ini sangat terlihat pada masjid- masjid di lingkungan perguruan tinggi ( Muliawan, 2015: 303 ).

Pengajian atau perwiritan dapat pula diartikan sebagai kajian, yaitu mengkaji atau menggali ilmu dari Al-quran yag diadakan secara continue atau berkelanjutan. Selain itu, pengajian ini dapat berupa pemberian wawasan tentang islam dari ustadz atau mubaligh kepada pendengar atau mustami’ yang bersifat tatap muka. Pengajian juga disebut dakwah, yaitu amar ma’ruf nahi munkar.

Pengajian tidak hanya dilaksanakan dengan tatap muka saja tetapi dapat dilakukan melalui media massa seperti acara pengajian di televisi yang disiarkan secara langsung dan secara interaktif, sehingga pendengar atau penonton di rumah bisa menanyakan masalah tentang dirinya kepada narasumber secara langsung dan mendapat tanggapan dari narasumber (Lestari, 2009: 11 ).

Pengajian secara istilah adalah lembaga pendidikan nonformal Islam yang memiliki kurikulum sendiri, dilaksanakan secara berkala dan teratur, dan diikuti oleh jamaah yang relative banyak dan bertujuan untuk membina dan mengembangkan hubungan yang santun dan serasi antara manusia dan Allah SWT, manusia dan sesamanya, dan manusi dan lingkungannya dalam rangka membina masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT (Rukiati, 2006: 132).

Sedangkan menurut Supiana dalam Khoiriyah menjelaskan bahwa pengajian atau perwiritan ialah proses memperoleh pengetahuan Islam yang bersifat teologis-normatif yang bersumber pada Al-Quran dan Hadits yang

(39)

dipahami berdasarkan salah satu pemahaman tokoh mazhab atau aliran tertentu (Khoiriyah, 2013: 9).

Jadi, bisa kita simpulkan bahwa pengajian atauperwiritan adalah salah satu sarana pendidikan yang digunakan oleh orang-orang untuk belajar Agama Islam dan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung dan dapat dilakukan di tempat formal maupun non formal.

2.5.1.Unsur-Unsur Pengajian

Menurut Achmad dalam Saerozi (2013: 35) menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan Agama Islam perlu diperhatikan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Sama halnya dengan kajian rutin yang juga harus memiliki unsur-unsur di dalamnya. Diantara unsurunsur tersebut meliputi:

1) Da’I (Pelaku Dakwah)

Menurut Saerozi (2013: 35) da’i sering juga disebut sebagai mubaligh (orang yang menyampaikan ajaran Islam). dai adalah subjek atau orang yang melaksanakan dakwah baik secara lisan maupun tulisan ataupun perbuatan, baik secara individu maupun kelompok, baik perseorangan maupun secara organisasi ataupun lembaga. Da’i sebagai komunikator dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu dai secara umum dan dai secara khusus. Secara umum dai adalah setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan yng mukallaf baginya dakwah merupakan kewajiban yang melekat. Secara khusus dai berarti orang yang mengambil keahlian khusus dalam bidang Agama Islam yang dikenal dengan panggilan ulama/mubaligh/ustadz. Dai juga mempunyai syarat-syarat untuk

(40)

pelaksanaan dakwah. Syarat-syarat tersebut diataranya adalah; persyaratan jasmani, dimana seorang dai harus memiliki jasmani yang sehat dan akal yang sehat, kemudian seorang dai harus memenuhi persyaratan 13 rohani, dimana persyaratan rohani seorang dai pada dasarnya mencakup masalah sifat, sikap, dan kemampuan diri dari dai tersebut, kemudian persyaratan ilmu pengetahuan, dimana seorang dai harus memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni.

2) Mad’u (Penerima Dakwah)

Mad’u adalah manusia yang menjadi sasaran dakwah atau manusia penerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, baik manusia yang beragama Islam maupun tidak, atau dengan kata lain manusia secara keseluruhan (Saerozi, 2013: 36). Menurut Arifin dalam Saerozi (2013: 37) mad’u digolongkan menjadi beberapa golongan misalnya profesi, ekonomi, dan seterusnya. Penggolongan mad’u tersebut antara lain sebagai berikut :

a) Sosiologis, masyarakat terasing, peDesaan, perkotaan, kota kecil serta masyarakat di daerah marginal dari kota besar.

b) Struktur kelembagaan, ada golongan priyayi, abangan, dan santri, terutama pada masyarakat Jawa.

c) Tingkatan usia, ada golongan anak-anak, remaja, dan golongan orangtua.

d) Profesi, dari golongan petani, pedagang, seniman, buruh, dan pegawai negeri.

e) Tingkatan sosial ekonomi, ada golongan kaya, menengah, dan miskin.

f) Jenis kelamin, ada golongan pria dan wanita.

g) Khusus ada masyarakat tunasusila, tunawisma, tunakarya, narapidana, dan sebagainya.

(41)

2.6 Penelitian Terdahulu

Dalam hal ini, peneliti mengkaji penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Dengan demikian mendapatkan rujukan pendukung dan memberikan gambaran awal mengenai kajian terkait pembahasan dalam penelitian ini. Berikut ini peneliti telah menemukan hasil penelitian terdahulu.

Penelitian yang dilakukan oleh AFIFATUL HANIFA dengan judul

“hubungan antara motivasi memakai jilbab dengan perilaku sosial siswi di SMP N 30 Semarang tahun ajaran 2014/2015” dalam penelitian ini Kajiannya dilatar belakangi dengan kurangnya motivasi seorang wanita muslimah untuk memakai jilbab khususnya siswi di lingkungan SMP N 23 Semarang. Maka dari itulah penulis mengangkat judul tersebut, terutama motivasi memakai jilbab dengan perilaku sosial, tidak menutup kemungkinan para siswi memakai jilbab hanya di lingkungan sekolah saja, mungkin juga faktor teman, mode atau tren yang terjadi, bahkan juga ada yang terpaksa dalam pemakaian jilbab. Pada dasarnya seorang umat Islam harus dan wajib mematuhi perintah dan menjauhi larangan Tuhannya, terutama seorang wanita muslimah wajib menutup auratnya karena aurat seorang wanita adalah seluruh anggota tubuh kecuali telapak tangan dan wajah saja.

Dalam hal ini diharapkan seorang muslimah memakai jilbab dan mempunyai perilaku sosial yang baik pula. 34

34 Afifatul hanifa”hubungan antara motivasi memakai jilbab dengan perilaku sosial siswi di SMP N 30 Semarang tahun ajaran 2014/2015” skripsi 27 november 2015 Diakses Melalui Google Scholer.

(42)

Dari sini penulis menyadari bahwa kasus menggunakan hijab yang seberanya bisa jadi digunakan hanya untuk tren, mengikuti teman dan lainn sebagainya bukan hanya berlaku di kalangan remaja saja, tetapi juga bisa terjadi di kalangan ibu-ibu. dengan ini, penulis menjadikan ibu-ibu anggota perwiritan unutk menjadi sampel dalam mengembangkan kajian ini.

Referensi

Dokumen terkait

Komunikasi kelompok adalah komunikasi tatap muka yang dilakukan tiga atau lebih individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki seperti berbagai informasi,

mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga

Michael Burgoon (dalam Fajar, 2009:66) juga mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah

Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang

Komunikasi kelompok adalah proses interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga

Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang

Michael Burgoon dan Michael Ruffner dalam buku Human Communication, A Revision of Approaching Speech memberi batasan komunikasi kelompok sebagai interaksi tatap muka dari tiga

Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui,