Integrasi Keislaman Tiap Kepercayaan dan
Nilai-Nilai Luhur dari Kepercayaan Tersebut
Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama 2022 Kelompok 13
Mata Kuliah Perkembangan Kepercayaan di Sulawesi Selatan
Pengertian Integrasi
Integrasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti pembaruan hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat. Jika disandingkan dengan kata kebudayaan, integrasi memiliki makna penyesuaian antara unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga mencapai suatu keasrian fungsi dalam kehidupan masyarakat.
Jika dikaitkan dengan judul pembahasan kali ini, yaitu;
Integrasi Keislaman Tiap Kepercayaan. Maka pokok pembahasan akan berfokus kepada adaptasi serta perpaduan antara kebudayaan kepercayaan yang ada di
Sulawesi Selatan dengan Agama Islam yang banyak membawa budaya Timur Tengah khususnya Arab.
Towani Tolotang dan Islam
Tolotang adalah salah satu kepercayaan yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.
Sebelum agama-agama “impor” memasuki Indonesia, ajaran Tolotang telah tersebar di wilayah Wajo. Akan tetapi, pada abad ke-16 ketika Raja Wajo mulai memeluk Islam, sebagian penganut
Tolotang enggan untuk menanggalkan keimanannya sebagai penganut agama leluhur tersebut. Setelah beberapa saat menetap di wilayah Wajo, para penganut Tolotang
memutuskan untuk berpindah ke daerah Sidenreng Rappang hingga saat ini.
Pada masa orde lama, pemerintah mulai meresmikan beberapa agama untuk dianut oleh masyarakat Indonesia. Namun, para penganut kepercayaan-kepercayaan lokal seperti Tolotang
diberikan kebijakan untuk berafiliasi dengan Agama Hindu agar bisa mendapatkan hak-hak warga negara pada umumnya. Meskipun begitu, dalam praktiknya mereka tetap saja berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan Towani Tolotang yang telah diwarisi secara
turun temurun. Bagi mereka, meninggalkan Tolotang sama saja mengkhianati leluhur.
Lanjutan
Setelah abad ke-16, masyarakat Bugis menjadi masyarakat yang mayoritas menganut agama Islam. Bahkan, tak jarang seseorang yang beragama Islam merasa sangat marah apabila dikategorikan sebagai bukan Muslim, meskipun ia tidak melaksanakan ajaran agama Islam. Di
sisi lain, meskipun banyak masyarakat Bugis yang telah memeluk Islam sebagian besar juga masih mempertahankan adat. Aktivitas Towani Tolotang, bagi orang Islam lebih dianggap sebagai ritual adat. Adat merupakan warisan nenek moyang yang diakui masih memiliki nilai yang luhur sehingga masih dipertahankan. Contohnya; pemberian sajen pada orang yang telah
meninggal. Dalam persepsi Islam, hal ini merupakan tindakan yang bukan Islam, melainkan hanya sebatas praktik adat.
Para penganut Towani Tolotang berhasil berbaur dengan kultur Bugis yang sangat identik dengan Islam menjadikan mereka mendapatkan ruang dalam pergaulan sosial. Nilai-nilai kebugisan pun dapat menyatukan Towani Tolotang dan Muslim di tengah berbagai bentuk
perdebatan mengenai status keagamaan masing-masing.
Aluk Todolo dan Islam
Sebelum masyarakat Toraja mengenal agama, mereka memiliki suatu kepercayaan yang dikenal dengan nama Aluk Todolo atau Alukta. Istilah ini baru populer setelah masuknya agama lain di Tana Toraja untuk membedakan keyakinan semula dengan keyakinan yang
datang kemudian. Pada akhir tahun 1950-an banyak penganut agama Aluk Todolo yang dipaksa pindah ke agama lain, karena tidak ada yang melindungi agama Aluk Todolo. Dari
peristiwa tersebut, banyak pengikut Alukta yang ketakutan dan pindah agama karena diancam. Kemudian pada tahun 1969, Alukta dimasukkan menjadi penganut agama Hindu di
bawah naungan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha. Mulai saat itulah Agama Aluk Todolo di Tana Toraja disebut sebagai Agama Hindu dan ditambhakan ujungnya dengan Alukta,
sehingga menjadi Hindu Alukta.
Secara demografis, umat Islam di Tana Toraja berada pada kondisi minoritas. Masyarakat muslim yang tinggal di Toraja merupakan para pendatang yang berasal dari Kabupaten Enrekang dan sebagian lagi adalah masyarakt keturunan Bugis yang sangat kental dengan keislamannya. Sebagian kecil di antara para pendatang tersebut kemudian menikah dengan
penduduk lokal yang masih memeluk kepercayaan Aluk Todolo kemudian masuk Islam.
Lanjutan
Masyarakat Tana Toraja pada umumnya adalah masyarakat yang dikenal sangat menjunjung tinggi adat istiadat yang diturunkan nenek moyang mereka. Pada umumnya masyarakat Tana Toraja masih memelihara sebagian besar tradisi adat dan budaya secara kuat dewasa
ini, walaupun pada umumnya mereka telah memeluk agama menjadi muslim, kristen dan katolik, masyarakat Tana Toraja masih memelihara sistem dan tradisi dari nenek moyang
mereka yang bersumber dari ajaran Aluk Todolo.
Adapun bentuk-bentuk ajaran Alukta yang masih dipegang kuat oleh masyarakat adalah;
1. Rambu Tuka’adalah pesta tradisi adat yang diselenggarakan dalam rangka mensyukuri sesuatu yang bernilai kebaikan.
2. Rambu Solo’ adalah ritual sebelum memakamkan jenazah khususnya yang berasal dari keluarga bangsawan. Semakin besar pesta dan hewan yang dikorbankan maka semakin
tinggi pula strata sosial dan kebangsawanan orang yang meninggal.
3. Ma’beting adalah ungkapan kasih sayang kepada orang yang meninggal dunia dan menangisinya dengan ratapan yang berlebihan dengan harapan agar kasih sayang yang
diungkapkan dapat dibuktikan dengan tangisan melalui ratapan tersebut.
4. Pamalian Toraya adalah pemahaman yang mengandung larangan untuk melakukan sesuatu karena sebab tertentu.
Ammatoa Kajang dan Islam
Masyarakat Kajang memiliki hukum adat yang mengatur seluruh aspek kehidupan mereka, hukum adat tersebut
disebut dengan Sarak. Seiring dengan bersentuhannya masyarakat Kajang dengan Agama Islam, hampir semua upacara keagamaan dan syiar Islam yang dilakukan oleh
masyarakat didasarkan pada Sarak.
Menurut hasil penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2023, Pendidikan Islam yang masuk ke dalam masyarakat
Kajang diterima dengan baik oleh masyarakat karena Islam itu sendiri banyak mengajarkan aspek perbaikan
akhlak, Hal ini sejalan dengan Sarak yang dimiliki oleh Suku Kajang. Oleh karenanya Pendidikan Islam lebih gampang diterima karena selaras dan mampu menyatu
dengan kebudayaan yang ada.
Lanjutan
Masyarakat Kajang mengenal Pasang Ri Kajang (Pesan) Tuntunan Budaya setempat yang diajarkan secara turun temurun melalui lisan. Terdapat 8 Pesan (Pasang Ri Kajang) yang selaras dengan nilai-nilai
Islam. Pasang tersebut adalah;
1. Appilajara ko a’geng nu mate artinya tuntutlah ilmu sampai kamu mati 2. Loho artinya dilarang berduaan dengan lawan jenis
3. La’busu artinya berada pada jalan yang lurus atau benar dan bisa juga diartikan sebagai kejujuran 4. Pakatangkasa kalengnu artinya kita harus bersih secara rohaniah dan lahiriah
5. Pakaballo artinya kita harus bersikap disiplin, tekun dan ikhlas
6. Patuntung manuntungi, manuntungi kalambasanna na kamase-maseanna, lambusu’, gattang, sa’bara nappiso’na artinya manusia yang telah menghayati dan melaksanakan apa yang
dituntutnya, yakni kejujuran, kesabaran, ketegasan dan kepasrahan dalam hidupnya 7. Pakaballo niaknu, pakaballo batenu anjama artinya dalam melakukan sesuatu hal yang harus
diperhatikan adalah niat. Karena niat yang baik akan mengantarkan kita pada jalan yang baik.
8. Sipainga, nasipakala’biriartinya kita selaku manusia saling mengingatkan satu sama lain dan saling menghargai sesama manusia.