• Tidak ada hasil yang ditemukan

integrasi sosial masyarakat suku bugis dan suku

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "integrasi sosial masyarakat suku bugis dan suku"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

Akibatnya suku Bugis menetap di wilayah Kecamatan Pasimasunggu Timur dan mulai berbaur dengan masyarakat suku Makassar. Melihat latar belakang yang terjadi di masyarakat, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul: Integrasi Sosial Suku Bugis dan Makassar di Kabupaten tersebut.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Definisi Operasional

Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian Muhsin, mahasiswa S1 Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin tahun 2015 berjudul “Integrasi Sosial (Orang Jawa dengan Suku Lain di Wonomulyo) Kabupaten Polewali Mandar”. Penelitian yang dilakukan oleh saudara Muhsin tentang integrasi sosial (suku Jawa dengan suku lain di Wonomulya) Kabupaten Polewali Mandar sedangkan saudara Muh.

Konsep Integrasi Sosial a. Pengertian Integrasi Sosial

Sehingga nilai-nilai baru yang ditanamkan dalam masyarakat akan menciptakan keselarasan untuk mencapai integrasi sosial. C.Bentuk-bentuk integrasi sosial. Hal ini akan memudahkan tercapainya kesepakatan, sehingga efektivitas dan efisiensi komunikasi akan mempengaruhi integrasi sosial.

Teori-Teori

Teori ini menitikberatkan pada kajian struktur makro (makro sosiologi), yaitu sistem sosial, melalui teori ini Parsons menunjukkan adanya pergeseran dari teori tindakan ke fungsionalisme struktural. Konstruksi teori fungsionalisme struktural Parsons sangat dipengaruhi oleh pemikiran Durkheim, Weber, Freud dan Pareto, dan yang terakhir inilah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori fungsionalisme struktural, khususnya gagasan Pareto tentang masyarakat. yang dilihatnya dalam hubungan yang sistemik (Ritzer, 2011: 280). . Konsepsi sistematis Pareto tentang masyarakat yang dipandangnya sebagai suatu sistem dalam keseimbangan, yaitu suatu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung, sedemikian rupa sehingga perubahan pada satu bagian dipandang menyebabkan perubahan pada bagian lain dari sistem tersebut, dipadukan dengan pandangan Comte, Durkheim dan Spencer, yang menganalogikan masyarakat dengan organisme, memainkan peran sentral dalam pengembangan teori fungsionalisme struktural Parsons (Ritzer.

Teori fungsionalisme struktural Parsons berfokus pada struktur masyarakat dan hubungan antara struktur-struktur berbeda yang saling mendukung menuju keseimbangan dinamis.Perhatian difokuskan pada cara menjaga ketertiban antara elemen-elemen yang berbeda. Robert Nisbet menyatakan: “Jelas bahwa fungsionalisme struktural adalah bangunan teoretis yang paling berpengaruh dalam ilmu-ilmu sosial abad ini” (dikutip dalam Turner dan Maryanski). Fungsionalisme struktural adalah pandangan luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan.

Ciri-ciri masyarakat solidaritas mekanis ditandai dengan adanya kesadaran kolektif yang di dalamnya mempunyai kesadaran untuk menghargai ketaatan karena nilai-nilai agama yang masih sangat tinggi. Berdasarkan analisis Durkheim, persoalan solidaritas berkaitan dengan sanksi yang diberikan kepada warga negara yang melanggar aturan-aturan dalam masyarakat. Bagi Durkhem, indikator paling jelas dari solidaritas mekanis adalah luasnya dan kerasnya undang-undang dalam masyarakat yang bersifat represif.

Kerangka Pikir

Dalam hal ini, norma adalah hal-hal yang seharusnya mempersatukan; integrasi fungsional terbentuk karena adanya fungsi-fungsi tertentu dalam masyarakat. Berdasarkan fakta di atas, integrasi sosial mempunyai bentuk dan faktor yang menyebabkan terjadinya integrasi sosial. Penelitian ini dirancang dengan desain penelitian deskriptif kualitatif karena peneliti ingin mendeskripsikan faktor penyebab dan bentuk integrasi sosial suku Bugis dan Makassar di Kecamatan Pasimasunggu Timur Kabupaten Kepulauan Selayar dengan gambaran yang akurat dan mendalam berdasarkan fakta. diperoleh di lapangan.

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir  INTEGRASI SOSIAL
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir INTEGRASI SOSIAL

Lokasi Penelitian

Informan Penelitian

Fokus Penelitian

Instrumen Penelitian

Jenis dan Sumber Data

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Analisis Data

Teknik pengaksahan Data

Kabupaten Kepulauan Selayar terdiri dari 2 wilayah pemerintahan yaitu wilayah daratan yang meliputi kecamatan Benteng, Bontoharu, Bontomanai, Buki, Bontomatene dan Bontosikuyu serta wilayah kepulauan yang meliputi Kecamatan Pasimasunggu, Pasimasunggu Timur, Takabonerate, Pasimarannu dan Pasilambe. kecamatan. Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan salah satu dari 24 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di ujung selatan Pulau Sulawesi dan membentang dari Utara hingga Selatan. Total terdapat 130 pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar, 7 diantaranya terkadang tidak terlihat (terendam) saat air pasang.

Dahulu wilayah kekuasaan Kepulauan Selayar pernah menjadi jalur perdagangan menuju pusat rempah-rempah di Kepulauan Maluku (Maluku). Tahun peringatannya diambil dari tahun masuknya agama Islam di Kabupaten Kepulauan Selayar yang dibawakan oleh Datuk Ribandang, yang menandai masuknya Raja Gantarang, Pangali Patta Radja yang kemudian diberi nama Sultan Alauddin, hadiah dari Datuk Ribandang. Ditinjau dari segi topografinya Kabupaten Kepulauan Selayar yang mempunyai luas sekitar 1.357,03 km² (luas) dan terdiri atas pulau-pulau besar dan kecil serta secara administratif terdiri atas 11 kecamatan, 81 desa dan 7 kelurahan [2] bervariasi dari datar hingga agak datar.

Tarian Padat di Pulau Selayar pada masa Hindia Belanda Potensi wisata yang ada di Kabupaten Kepulauan Selayar cukup banyak, antara lain wisata sejarah, wisata budaya, wisata alam, dan wisata bahari. Dalam rangkaian HUT Kepulauan Selayar, setiap tahunnya diadakan festival bertajuk Ekspedisi Pulau Takabonerate (TIE) di lokasi ini. Selain objek wisata bahari Taman Nasional Taka Bonerate, terdapat pula objek wisata yang tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Kepulauan Selayar.

Pulau Jampea

Pulau ini mempunyai 2 kecamatan antara lain Kecamatan Pasimasunggu dan Kecamatan Pasimasunggu Timur serta 10 desa antara lain Desa Bontosaile, Desa Maminasa, Desa Labuang Pamajang, Desa Kembang Ragi, Desa Lembang Baji, Desa Masungke, Tanamalala, Desa Bontomalling, Desa Bontobulaeng, dan Desa Bontobaru. Pulau Jampea merupakan pulau terbesar kedua di Kepulauan Selayar setelah Pulau Selayar dan merupakan satu-satunya pulau penghasil beras di Kabupaten Kepulauan Selayar. Rata-rata penduduk Pulau Jampea menguasai 3 bahasa yaitu Indonesia, Bugis, dan Selayar.

Mata pencaharian masyarakat pulau ini selain sebagai nelayan dan petani tambak juga merupakan penghasil padi dan penghasil kopra yang sudah terkenal sejak tahun 1918. Pulau Jampea juga dikenal dengan nama Benteng Jampea dimana pulau ini memiliki keindahan alam baik bawah laut maupun alam. kekayaan di negara. Hal yang menarik dari Pulau Jampea adalah mempunyai sebuah pelabuhan, yang menurut data penelitian, pelabuhan Pulau Jampea (Benteng Jampea) merupakan pelabuhan terpanjang kedua di Sulawesi Selatan.

Pulau Jampea juga bisa menikmati destinasi wisata berupa wisata pulau yang indah dengan penduduknya yang ramah. Jarak dan waktu tempuh Menurut perhitungan waktu tempuh melalui jalur laut dengan kapal feri dari pelabuhan penyeberangan Pattumbukang di desa Lantibogan kecamatan Bontosikuyu menuju pelabuhan penyeberangan Jampea di desa Kembang Ragi kecamatan Pasimasunggu memakan waktu sekitar 4 sampai 5 jam, sedangkan dari Lantibogan desa ke kota Benteng memakan waktu sekitar 1 sampai 2 jam perjalanan. Artinya waktu tempuh dari ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar menuju Pulau Jampea sekitar 5 hingga 6 jam.

Kecamatan Pasimasunggu Timur 1. Letak Geografis

  • Terjalin komunikasi yang baik antara suku Bugis dan suku Makassar Adanya komunikasi antara pihak satu dengan pihak lain maka akan
  • Saling mengenal satu sama lain
  • Adanya kerjasama
  • Adanya usaha untuk mengurangi perbedaan-perbedaan dalam masyarakat

Berbicara permasalahan kesehatan di Kecamatan Pasimasunggu Timur memang sangat memprihatinkan karena rumah sakit yang ada hanya satu dan peralatan kesehatan yang digunakan masih terbatas. Penelitian ini merupakan studi lapangan yang mengkaji integrasi sosial masyarakat suku Bugis dan Makassar di Kecamatan Pasimasunggu Timur, Kabupaten Kepulauan Selayar. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi penyebab terjadinya integrasi sosial pada suku Bugis dan Makassar serta bentuk-bentuk integrasi sosial yang terdapat pada suku Bugis dan Makassar di Kecamatan Pasimasunggu Timur Kabupaten Kepulauan Selayar.

Secara pribadi, komunikasi antar suku di Kabupaten Pasimasunggu Timur menggunakan pola komunikasi dengan bahasa yang berbeda atau bahasa yang sama. Misalnya seseorang yang berasal dari suku Bugis Sinjai dan tinggal di Kecamatan Pasimasunggu Timur pasti akan belajar berkomunikasi atau mempelajari bahasa tempat tinggalnya. Berdasarkan uraian di atas maka aspek yang ada pada masyarakat Kecamatan Pasimasunggu Timur adalah aspek kebahasaan karena bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Bugis dan Makassar sehingga sering terjadi komunikasi yang tidak efektif.

Berdasarkan wawancara di atas dapat dipahami bahwa masyarakat di Kecamatan Pasimasunggu Timur terdiri dari suku Bugis dan Makassar yang mempunyai adat istiadat dan bahasa yang berbeda. Seperti halnya di Kecamatan Pasimasunggu Timur, antara masyarakat etnis Bugis dan Makassar saling membantu, bekerja sama, menyelesaikan masalah bersama, bermusyawarah, duduk bersama dan berbagi hangatnya kebersamaan. Masyarakat di Kecamatan Pasimasunggu Timur saling menghormati satu sama lain walaupun pada dasarnya berbeda dalam adat istiadat, budaya dan lain sebagainya.

Tabel 4.1 Jumlah Sekolah di Kecamatan Pasimasunggu Timur
Tabel 4.1 Jumlah Sekolah di Kecamatan Pasimasunggu Timur

Pembahasan

Integrasi budaya

Kebudayaan dalam hal ini adalah kebudayaan bangsa Indonesia yang tertuang dalam konsensus dasar bangsa dan negara yaitu Pancasila. Begitu pula yang terjadi di Kecamatan Pasimasunggu Timur, masyarakat Bugis dan masyarakat Makassar hidup berdampingan karena rasa saudara sebangsa dan sebangsa sangat kuat dalam kehidupan bermasyarakat, terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai budaya Pancasila yang tidak dapat dipisahkan dari kelima sila tersebut menjadi rujukan dalam kehidupan sosial masyarakat Bugis dan Makassar di Kecamatan Pasimasunggu Timur.

Hal ini terlihat dari sikap masyarakat yang tidak memperhitungkan perbedaan suku dan budaya yang dapat menghambat proses integrasi di antara mereka. Masyarakat disini pada dasarnya mempunyai budaya yang berbeda karena terdapat dua suku yaitu suku bugis dan suku makassar. Makanya budayanya berbeda-beda, namun meski berbeda latar belakang budaya, justru mempererat hubungan kedua suku tersebut.”

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat di Kecamatan Pasimasunggu Timur, apapun latar belakangnya.

Integrasi kekerabatan

Integrasi ketaatan masyarakat pada pejabat pemerintahan

Hasil observasi berdasarkan wawancara pada beberapa masyarakat di kecamatan Pasimasunggu Timur, penulis menjelaskan hasil observasi bahwa bentuk integrasi sosial pada masyarakat lokal di kecamatan Pasimasunggu meliputi integrasi budaya. Bentuk integrasi lainnya adalah integrasi kekerabatan, misalnya perkawinan antara suku Bugis dan Makassar. Sedangkan jenis integrasi yang ketiga adalah integrasi ketaatan kepada pemerintah, misalnya ketika terjadi suatu peristiwa atau perselisihan di tengah masyarakat, misalnya terjadi perkelahian antar generasi muda, ketika pemerintah daerah turun tangan maka semua orang akan mengikuti keputusan yang diambil. yang diambil oleh pemerintah.

Selain itu, masyarakat desa tidak saling bergantung dan rata-rata bisa melakukan segala sesuatunya sendiri. Keterkaitan teori solidaritas dengan bentuk-bentuk integrasi sosial yang ditemukan peneliti adalah bentuk integrasi sosial yang pertama pada suku bugis dan makassar adalah integrasi budaya, budaya adalah adat istiadat dalam suatu masyarakat, unsur budaya dapat berupa unsur bahasa, adat istiadat. dan sebagainya. Perbedaan budaya antara masyarakat etnis Bugis dan Makassar di Kecamatan Pasimasunggu Timur tentunya akan menjadi penghambat terjadinya integrasi sosial pada masyarakat tersebut, namun karena adanya solidaritas atau kerjasama seperti yang dikemukakan Durkheim dalam teorinya.

Dengan adanya kerjasama dan solidaritas dari masing-masing suku maka integrasi sosial akan mudah terbentuk. Ketika suatu keputusan diambil oleh pemerintah demi kebaikan bersama, maka masyarakat harus menerima dan menaati peraturan yang diputuskan oleh masyarakat setempat untuk memudahkan integrasi ke dalam masyarakat. Berdasarkan latar belakang, kajian teori dan hasil analisis data, peneliti menyimpulkan bahwa integrasi terjadi karena: (1) terjalin komunikasi yang baik antara suku bugis dan makassar, (2) saling mengenal, (3) adanya kerjasama, (4) ) Terdapat upaya untuk mengurangi perbedaan yang ada di masyarakat.

Saran

Wawancara dengan kepala desa

Wawancara dengan masyarakat

Gambar

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir  INTEGRASI SOSIAL
Tabel 3.1 Informan Penelitian
Gambar : 4.2 Peta Pulau Jampea
Gambar 4.3 Peta Kecamatan Pasimasunggu Timur  2.  Kondisi pendidikan di Kecamatan Pasimasunggu Timur
+4

Referensi

Dokumen terkait

me©bvg I wµqvc`¸wji †Kv‡bv iƒcvšÍi Ki‡Z bv cvi‡j - AMªMwZ cÖ‡qvRb... welqe¯‘i mwVKZv _vK‡jI avivevwnKZvi Afve